Healthc. Public. Health 1. 64-75 . DOI: 10. Healthcare: Journal of Public Health ORIGINAL RESEARCH Open Access The Relationship Between Fast Food Consumption Behavior and The Frevalence Of Dysmenorhore In Adolescent Women At SMAN 3 Makassar Aisyah Ayu Safitrih1. Rusli2. Hasbunallah3. 1,2,3Program Studi Gizi. Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan. Universitas Negeri Makassar Abstract Background: The nutritional status of adolescents is greatly influenced by consuming a balanced diet. Objectives: This study aims to determine whether there is a relationship between fast food consumption behavior and the incidence of dysmenorrhea in young women at SMAN 3 Makassar. Methods: Correlation analytical research method with a Cross-Sectional approach with Systematic Random Sampling techniques. The population in this study were all female students of SMAN 3 Makassar. The sample in this study consisted of 85 female students. The data collection technique uses a questionnaire. The data analysis technique used was correlation analysis and the Spearman Rank test using the IBM SPSS 25 application. Results: Based on the Spearman rank test results, the relationship between fast food consumption behavior and the incidence of dysmenorrhea was obtained . -value: 0. Conclusion: The conclusion of this research shows that there is a significant relationship between fast food consumption behavior and the incidence of dysmenorrhea in young women at SMAN 3 Makassar Kata Kunci: Dysmenorrhea. Fast Food. Adolescent Women Hubungan Perilaku Konsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Foo. dengan Kejadian Dismenore Pada Remaja Putri di SMAN 3 Makassar Abstrak Latar Belakang: Status gizi remaja sangat dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan perilaku konsumsi makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMAN 3 Makassar. Metode: Metode penelitian analitik korelasi dengan pendekatan Cross-Sectional dengan teknik Systematic Random Sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi SMAN 3 Makassar. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 85 siswi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah analitik korelasi dan uji Rank Spearmen dengan menggunakan aplikasi IBM SPSS 25. Hasil: Berdasarkan hasil uji Rank Spearman antara perilaku konsumsi makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian dismenore di dapatkan . -value: 0,. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini, menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku konsumsi makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMAN 3 Makassar. Kata Kunci: Dismenore. Fast Food: Remaja Putri. *Correspondence: aisyahayusafitri680@gmail. Correspondence author: Aisyah Ayu Safitri Correspondence Author Affiliate: Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Makassar A 2022 The Author. Open Access. This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License . ttp://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/), which permits unrest-ricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Page 65 from 75 PENDAHULUAN Status gizi remaja sangat dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang seimbang. Remaja membutuhkan lebih banyak protein dan energi dari pada orang dewasa. Remaja juga membutuhkan lebih banyak vitamin dan mineral untuk metabolisme dan pembentukan selsel darah merah, remaja putri membutuhkan zat besi yang lebih tinggi saat menarche. Oleh karena itu, makanan yang dikonsumsi remaja putri selama menstruasi tidak boleh berdampak pada gangguan menstruasi, seperti perubahan pada siklus menstruasi, perubahan jumlah darah menstruasi, atau gangguan yang terkait dengan menstruasi, seperti dismenore (Irmawati et al. , 2. Menurut World Health Organization berdasarkan data tahun 2020 sebanyak 1. %) wanita di dunia mengalami dismenore, tahun 2021 sebanyak 50% dan di tahun 2022 sebanyak 16 % wanita yang mengalami dismenore. Indonesia sendiri prevalensi remaja putri yang mengalami dismenore sebanyak 75% (WHO, 2. 30%-60% remaja putri yang mengalami dismenore primer, 7% - 15% remaja putri tidak pergi ke sekolah (Oktorika, 2. Berdasarkan profil kesehatan provinsi Sulawesi Selatan, angka kejadian dismenore cukup tinggi yaitu tingkat nyeri ringan sebesar 57,7%, nyeri sedang 38,5%, dan nyeri berat sebesar 3,8%, prevalensi dismenore pada remaja putri diamati dibeberapa wilayah kota makassar, dari 997 remaja putri 935 kasus . ,8%) dipastikan mengalami dismenore primer. Hal ini menunjukkan banyaknya remaja putri yang mengalami dismenore (Dinkes Sulsel, 2. Berdasarkan hasil observasi langsung yang dilakukan di SMAN 3 Makassar dengan melakukan pengisian kuesioner dan wawancara kepada 40 siswi di antaranya 29 mengalami dismenore sedang dan 11 mengalami dismenore berat. Hasil survei wawancara beberapa mengalami nyeri yang sangat disaat menstruasi dan beberapa yang mengatakan sebelum menstruasi berlangsung sudah merasakan nyeri dibawah perut. Banyaknya remaja putri saat ini yang mengalami dismenore, salah satu faktornya adalah kebiasaan mengonsumsi fast food (Permatasari et al. , 2. Staf guru mengungkapkan bahwa rasa nyeri saat haid . sering dialami oleh remaja putri saat ini, dengan menstruasi yang terjadi setiap bulan. Hal ini menyebabkan 2-3 siswi sering kali tidak dapat hadir ke sekolah karena mengalami nyeri yang cukup parah. Selain itu, ada juga beberapa remaja putri yang merasakan sakit saat berada di sekolah, sehingga mereka harus izin untuk pulang. Hasil observasi langsung di SMAN 3 Makassar mengenai hubungan antara perilaku konsumsi makanan cepat saji . ast foo. dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Observasi dilakukan melalui wawancara langsung dengan beberapa siswi, yang mengungkapkan bahwa konsumsi makanan cepat saji sering kali dipengaruhi oleh pergaulan teman sebaya. Ketika para remaja menghabiskan waktu bersama teman-temannya di luar rumah, seperti saat melakukan kegiatan kerja kelompok, mereka cenderung memilih makanan cepat saji. Keputusan ini dipengaruhi oleh rasa penasaran dan keinginan untuk mengikuti tren, yang mendorong mereka untuk memilih makanan cepat saji. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan di SMAN 3 Makassar dengan salah satu staf guru mengatakan bahwa tidak terdapat ketentuan disekolah untuk menjual makanan. Oleh karena itu di kantin sekolah ini, para pedagang bebas menjual berbagai makanan sehingga para siswi cenderung mengonsumsi makanan instan seperti mie dengan harga yang relative murah dan enak. Beberapa siswi lainnya menyatakan bahwa di tengah kehidupan yang serba cepat dan padat, baik dari aktivitas sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, maupun tuntutan sosial lainnya, makanan cepat saji . ast foo. dianggap sebagai solusi praktis. Makanan ini memudahkan remaja saat ini karena bisa diperoleh dan dikonsumsi dengan cepat, sesuai dengan kesibukan harian mereka. Selain itu, fast food relatif murah dan rasanya yang enak membuat banyak remaja cenderung mengonsumsinya setiap hari. Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Page 66 from 75 Siswi yang tidak sarapan di rumah cenderung memilih makan di kantin sekolah, yang menawarkan berbagai pilihan makanan cepat saji yang populer di kalangan remaja saat ini. Selain itu, mereka juga sering memesan makanan dari luar untuk dinikmati bersama teman Ae teman setelah jam sekolah berakhir. Makanan cepat saji juga memiliki tempat yang estetik, yang menarik minat mereka untuk mengunjungi lokasi tersebut. Kesadaran remaja saat ini mengenai pola makan sehat masih rendah. Makanan cepat saji, seperti pizza, hamburger, dan fried chicken, sangat digemari di kalangan remaja. Makanan ini tidak hanya populer di kalangan remaja, tetapi juga disukai oleh berbagai usia karena penyajiannya yang cepat, rasa yang enak, kemudahan mendapatkan di pasar, serta variasi sesuai selera dan daya beli. Namun, kandungan gizi dari fast food sering kali tidak memenuhi kebutuhan nutrisi yang optimal dan dapat berdampak negatif pada kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi remaja. Selain itu, belum ada penelitian yang mengkaji hubungan antara konsumsi fast food dan kejadian dismenore, khususnya di SMAN 3 Makassar, oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan penelitian guna mengetahui apakah terdapat hubungan antara kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dengan kejadian dismenore di SMAN 3 Makassar, mengingat remaja perempuan akan mengalami menstruasi dan berisiko mengalami gangguan dismenore. METODE Study Design and Participants Penelitian ini menggunakan analitik korelasi dengan metode pendekatan crosectional dengan pengambilan data dilakukan pada saat yang bersamaan. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh remaja putri di SMAN 3 Makassar, dengan jumlah remaja putri yaitu sebanyak 578 remaja putri, besarnya sampel pada penelitian ini adalah 85 orang yang ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dalam menentukan sampel, dan penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak sistematis (Systematic Random Samplin. dimana pengambilan sampel dilakukan dengan cara membagi anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel, sampel yang diambil dengan membuat daftar elemen secara acak antara 1 sampai dengan banyaknya anggota populasi kemudian dibagi dengan jumlah sampel yang diinginkan. Hasilnya sebagai interval adalah X, maka yang terkena sampel adalah setiap kelipatan dari X tersebut. Adapun cara pengambilan sampel yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: N . umlah populas. = 578 orang n (Sampe. = yang diinginkan 85 I . = 578 : 85 = 7 . Maka anggota populasi yang terkena sampel adalah setiap elemen yang mempunyai nomor kelipatan 7, misalnya No. 7, 14, 21, 28 dan seterusnya sampai mencapai jumlah 85 anggota sampel. Research Instruments Instrumen yang digunakan yaitu formulir persetujuan responden, formulir ini berisikan penjelasan terkait tujuan penelitian yang akan dilakukan untuk mendapatkan persetujuan menjadi responden. Data setiap varibel dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan menggunakan dua kuesioner yaitu, kuesioner perilaku mengonsumsi makanan siap saji . ast foo. menggunakan instrument baku yang telah dimodifikasi, validitas dan realibitas oleh peneliti terdahulu yang merujuk pada tahap pengembangan kuesioner food frequency questionnaire (FFQ) yang menggunakan skala Likert, dan kuesioner mengenai kejadian dismenore yang menggunakan skala guttman. Data Analysis Page 67 from 75 Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Teknik analisis data yang digunakan uji deskriftif untuk mengetahui distribusi frekuensi setiap variabel. Uji rank spermen untuk mengetahui hubungan kedua variabel, arah korelasi kedua variabel, serta kekuatan variabel dengan mengunakan aplikasi IBM SPSS 25. HASIL Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh informasi mengnenai karakterisrik responden yaitu usia dan kelas responden yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Distribusi Frekunsi Responden Berdasarkan Karakteristik Kategori Usia 15-16 tahun 17-18 tahun Total Kelas XII Total Jumlah Sampel Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan Tabel 1. hasil distribusi frekuensi responden berdasarkan usia menunjukkan dari 85 total responden dengan usia 15-16 tahun berjumlah 43 orang yaitu sebanyak 50,6%, responden dengan usia 17-18 tahun. Hasil distribusi responden berdasarkan kelas menunjukkan dari 85 total responden yang duduk dikelas X berjumlah 26 orang yaitu sebanyak 30,5, dikelas XI berjumlah 28 orang yaitu sebanyak 32,9 dan dikelas XII sebanyak 31 orang sebanyak 36,4. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Konsumsi (Fast Foo. Konsumsi fast food Rendah Sedang Tinggi Total Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan Tabel 2 hasil distribusi frekuensi responden berdasarkan perilaku konsumsi fast food menunjukkan dari 85 total responden dengan kategori perilaku rendah berjumlah 8 orang yaitu sebanyak 9,4%. Responden dengan perilaku sedang berjumlah 61 orang yaitu sebanyak 71,8%. Responden dengan perilaku tinggi berjumlah 16 orang yaitu sebanyak 18,8%. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Kejadian Dismenore Tingkat kejadian dismenore Dismenore sedang Dismenore berat Total Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan Tabel 3 hasil distribusi frekuensi responden berdasarkan kejadian dismenore menunjukkan dari 85 total responden dengan kategori sedang berjumlah 62 orang yaitu sebanyak 72,9%. Responden dengan kategori kejadian berat berjumlah 23 orang yaitu sebanyak 27,1. Page 68 from 75 Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Tabel 4. Hubungan perilaku konsumsi makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMAN 3 Makassar Perilaku konsumsi fast Kejadian Dismenore Dismenore sedang Total Dismenore Berat Rendah Sedang Tinggi Total p-value= *0,022 r= 0,248 Arah Korelasi= ( ) *Uji Korelasi Rank Sperman Berdasarkan Tabel 4. menunjukkan bahwa responden yang memiliki perilaku konsumsi fast food rendah dengan tingkat kejadian dismenore sedang berjumlah 7 responden . ,2%), kemudian responden yang memiliki perilaku konsumsi fast food rendah dengan tingkat kejadian dismenore berat berjumlah 1 responden . ,2%). Responden yang memiliki perilaku konsumsi fast food sedang dengan tingkat kejadian dismenore sedang berjumlah 47 responden . ,3%), kemudian reponden yang memiliki perilaku konsumsi fast food sedang dengan tingkat kejadian dismenore berat berjumlah 14 responden . ,5%). Responden yang memiliki perilaku konsumsi fast food tinggi dengan kejadian dismenore sedang berjumlah 8 responden . ,4%), kemudian responden yang memiliki perilaku konsumsi fast food tinggi dengan kejadian dismenore berat berjumlah 23 responden . ,1%). PEMBAHASAN Kejadian Dismenore Hasil penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar atau sebanyak 62 . ,9%) responden memiliki kejadian dismenore sedang hasil skor 3-5 dengan skala nyeri sedang atau dismenore sedang menggunakan skala numeric rating scale. Dismenore sedang yaitu nyeri haid yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari, yang di rasakan pada perut bagian bawah, serta dirasakan sampai menjalar ke bagian punggung yang akan membuat tubuh lemas, nafsu makan berkurang akibat nyeri yang diderita, sehingga menyebabkan 2-3 hari siswi sering kali tidak dapat hadir ke sekolah. Nyeri sedang yang dirasakan merupakan kategori dismenore primer yang dialami tanpa adanya kelainan atau penyakit pada sistem reproduksi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari, . di SMA Saraswati 1 Denpasar mengenai kejadian dismenore, menemukan bahwa sebanyak 102 . ,4%) responden memiliki kejadian dismenore sedang. Kejadian nyeri haid di perut bagian bawah yang sering disertai dengan kram parah dan bahkan pingsan, merupakan kondisi yang penting untuk dicegah dan ditangani dengan baik pada remaja putri. Kurangnya pemahaman remaja putri mengenai dismenore dapat berdampak pada penurunan konsentrasi akibat merasa lemas, motivasi belajar, dan berisiko menyebabkan masalah kesuburan di kemudian hari. Penelitian dilakukan oleh Tsamara et al. di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura tentang mengenai dismenore, menemukan bahwa sebanyak 13 . ,2%) responden memiliki kejadian dismenore sedang. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Aulia et al. di SMP Negeri 2 Sleman tentang kejadian dismenore menemukan bahwa sebanyak 61 responden . ,8%) memiliki kejadian dismenore sedang, dengan mengalami nyeri haid yang dirasakan sampai menjalar kebagian punggung dan tidak didasari kondisi patologis. Keluhan ini berdampak pada menurunnya produktivitas dan kualitas hidup perempuan, seperti Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Page 69 from 75 ketidak hadiran di sekolah atau pekerjaan, pembatasan aktivitas, penurunan performa akademik, gangguan tidur, dan gangguan mood. Dismenorea terjadi karena adanya kontraksi otot uterus yang terjadi karena adanya zat yang bernama prostaglandin. (Zahra et al. , 2. Prostaglandin merupakan autocoids lipid dari asam arakidonat yang menjadi penopang fungsi homeostatik dan menjadi mediasi mekanisme Prostaglandin yang berlebihan dapat mengakibatkan naiknya kontraksi uterus secara terus-menerus dan dapat mengaktivasi usus besar sehingga timbulnya dismenore yang dialami (Kurnia et al. , 2. Sementara itu, penelitian lainnya yang dilakukan oleh Syarifani, . di SMAN 2 Bangkinang mengenai kejadian dismenore, menemukan hal sebaliknya. Penelitian tersebut mendapatkan mayoritas 33 . ,3%) responden memiliki kejadian tidak dismenore. Setiap wanita memiliki gejala umum yang berbeda beda, ada beberapa gejala yang sering dialami oleh wanita dan beberapa wanita tidak merasakan (Artawan et al. ,2. Perilaku Mengonsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Foo. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar atau sebanyak 61 . ,8%) responden memiliki perilaku konsumsi makanan cepat saji . ast foo. yang sedang. Hal ini karena banyak remaja yang menyukai makanan cepat saji atau fast food. Tersedianya makanan cepat saji . ast foo. di kantin sekolah memudahkan remaja putri atau siswi SMAN 3 Makassar untuk mendapatkan dan mengonsumsinya dengan cepat. Selain itu, harga fast food yang terjangkau dan rasa yang enak membuat banyak remaja cenderung mengonsumsinya setiap Makanan cepat saji . ast foo. merupakan makanan yang sangat disukai sekarang ini oleh remaja sehingga perusahaan makanaan banyak memproduksi makanan cepat saji di kota-kota di Indonesia yang awalnya dikenalkan oleh media massa ke masyarakat. Makanan cepat saji . ast foo. yang dikonsumsi cenderung tinggi lemak seperti gorengan, bakso bakar, burger, bakso, mie ayam, pizza, burger dan lain-lainnya. Makanan cepat saji berdampak negatif bagi kesehatan dimana dapat memicu terjadinya gangguan mentruasi seperti dismenore . yeri hai. (Octavia et al. , 2. Menurut peneliti dari hasil yang didapatkan makanan cepat saji atau fast food dalam kehidupan sekarang yang serba cepat ini, tidak ada pilihan lebih baik dari pada mendapatkan makanan siap saji dengan keadaan lelah dan lapar, pizza atau burger dapat dijadikan ide untuk Selain harus menghabiskan waktu di dapur, memasak makanan juga mengharuskan seseorang untuk melakukan perjalanan ke supermarket untuk membeli bahan-bahan. Kemudian sebelum dikonsumsi, semua bahan masakan membutuhkan proses mencuci dan Semua ini membuat makanan fast food lebih disukai dari pada memasak makanan atau mengonsumsi real food. Cepat dan praktis merupakan salah satu alasan untuk mengonsumsi makanan cepat saji . ast foo. Remaja Gen Z sering kali memiliki tingkat emosional yang tidak stabil dan cenderung tidak sabar. Mereka merasa bahwa dengan mengonsumsi makanan cepat saji, mereka bisa menghemat waktu karena tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan Selain itu, perkembangan aplikasi online yang memudahkan pemesanan makanan juga semakin mempercepat proses, memungkinkan mereka membeli makanan cepat saji tanpa perlu pergi langsung ke tempat makan (Permatasari et al. , 2. Makanan cepat saji mengandung radikal bebas yang dapat merusak membran sel dalam tubuh. Ketika membran sel rusak, akan berpengaruh terhadap salah satu komponen yaitu fosfolipid. Fosfolipid berperan dalam menyediakan asam arakidonat untuk sintesis prostaglandin dalam tubuh. Hal tersebut dapat diartikan bahwa dengan konsumsi makanan cepat saji . ast foo. berlebih maka akan terjadi penumpukan prostaglandin pada tubuh yang menjadi penyebab terjadinya rasa nyeri pada saat menstruasi (Zahra et al. , 2. Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Page 70 from 75 Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sundari et al. , . di Stikes Surya Global Yogyakarta, tentang kebiasaan diet menemukan bahwa sebanyak 110 . ,0%) responden memiliki kebiasaan makan sedang. Menurut studi, ditemukan bahwasanya tingkat kebiasaan konsumsi junk food mahasiswa yang dilakukan di Fakultas Kedokteran diantara perguruan tinggi di Indonesia mencapai 85,6%. Konsumsi junk food yang cukup menyebabkan kenaikan kaskade prostaglandin, sehingga terjadi hipertonus dan vasokonstriksi yang berlebihan dalam miometrium, hingga menimbulkan iskemia serta rasa sakit. Sementara itu, penelitian lainnya yang dilakukan oleh (Aulia et al. , 2. di SMP 2 Sleman Yogyakarta mengenai mengonsumsi makanan cepat saji, menemukan hal sebaliknya. Penelitian tersebut mendapatkan mayoritas 70 . ,4%) responden memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji . ast foo. yang rendah. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Awa et al. , 2. di Kelurahan Tlogomas. Kota Malang mengenai perilaku konsumsi makanan cepat saji. Penelitian tersebut mendapatkan sebanyak 12 . ,1%) responden memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji . ast foo. yang rendah. Alasan yang juga menghambat responden untuk mengonsumsi makanan cepat saji . unk foo. adalah keamanan makanan yang dibuat di rumah. Keamanan yang dimaksud adalah responden dapat mengetahui bahan-bahan dasar yang digunakan serta cara pengolahan makanan tersebut. Kedua faktor kualitas makanan yang buruk dan pemantauan ketat dari orangtua terhadap apa yang responden konsumsi (Batu, 2. Dengan demikian, strategi pencegahan yang menargetkan pengurangan konsumsi makanan cepat saji dapat menjadi langkah yang efektif dalam mengurangi risiko dan dampak dismenore pada remaja putri (Awa et al. , 2. Kerugian dari makanan cepat saji adalah efek buruk yang ditimbulkan pada kesehatan Ini adalah fakta bahwa fast food lebih tidak sehat daripada makanan rumahan, karena mengandung jumlah yang lebih tinggi yang tidak diinginkan seperti garam, jenis lemak dan berbagai zat aditif . ahan kimia buata. , hal ini mengandung bakteri berbahaya. Penggorengan menghancurkan sebagian besar zat gizi penting dari makanan (Batu, 2. Hubungan Perilaku Mengonsumsi Makanan Cepat saji (Fast Foo. dengan Kejadian Dismenore Pada Remaja di SMAN 3 Makassar Proses pembentukan dan perubahan perilaku suatu individu salah satunya dipengaruhi oleh aspek yang muncul dari individu itu sendiri yaitu sikap. Perilaku makan remaja putri yang baik karena adanya dorongan dan motivasi dalam diri yang lahir dari sikap mereka terhadap pemenuhan kebutuhan gizinya. Begitupun sebaliknya, perilaku makan yang tidak baik muncul dari sikap remaja yang kurang baik dalam pemenuhan kebutuhan gizinya. Saat ini remaja putri mempunyai kebiasaan jarang mengonsumsi sayuran dan cenderung mengonsumsi makanan cepat saji . ast foo. Padahal kandungan asam lemak pada makanan cepat saji akan mengganggu metabolisme progesterone pada fase luteal. Sehingga terjadi peningkatan kadar prostaglandin yang menimbulkan nyeri saat haid . (Romlah & Agustin, 2. Hasil penelitian ini menemukan bahwa memiliki hubungan yang signifikan antara perilaku mengonsumsi makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMAN 3 Makassar. Sehingga hasil yang didapatkan kategori sedang, cenderung untuk mengalami kejadian dismenore sedang. Dibandingkan dengan responden yang memiliki perilaku mengonsumsi makanan siap saji dalam kategori tinggi, hal ini karena mereka yang sering mengonsumsi makanan cepat saji semakin tinggi berisiko mengalami dismenore yang lebih parah. Kekuatan korelasi dalam penelitian ini menunjukkan hubungan yang rendah antara perilaku mengonsumsi makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian dismenore, hal ini disebabkan oleh adanya variasi jawaban dari para responden. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa beberapa responden yang mengalami dismenore sedang justru Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Page 71 from 75 mengonsumsi fast food dalam jumlah yang baik, sementara ada juga yang mengalami dismenore berat meskipun konsumsi makanan cepat saji mereka tergolong kurang. Arah korelasi pada penelitian ini yaitu bersifat positif yang memiliki arah hubungan searah, apabila variabel X meningkat, nilai variabel Y juga meningkat. Artinya peningkatan pada perilaku mengonsumsi makanan cepat saji . ast foo. sejalan dengan peningkatan kejadian dismenore atau dengan kata lain, semakin tinggi/baik perilaku mengonsumsi makanan cepat saji . ast foo. makan semakin berat atau parah kejadian dismenore yang dialami. Sejalan dengan penelitian mengenai konsumsi makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian dismenore, yang dilakukan Mivanda et al . di SMPN 156 Jakarta yang menemukan hasil dengan nilai p-value 0,000 (<0,. OR=4,7 dan CI=2,1-10,8 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMPN 156 Jakarta, dilihat juga data pada tabel menunjukkan hasil nilai OR=4,7, artinya remaja putri yang sering mengonsumsi makanan cepat saji mempunyai peluang 4,7 kali mengalami dismenore dibandingkan remaja putri yang jarang mengonsumsi makanan cepat saji. Selain itu, dikuatkan juga oleh penelitian lain yang dilakukan Resty et al . pada siswi SMK PGRI 1 Jakarta Timur dengan nilai p-value = 0. 000 dengan signifikansi <0. 05 yaitu sebanyak 83 orang . ,1%) yang sering mengonsumsi makanan cepat saji dan mengalami Hasil penelitian konsumsi makanan cepat saji berhubungan dengan kejadian dismenore karena terkandung makanan yang memiliki kandungan gizi yang buruk dan tidak seimbang sehingga bisa mengganggu metabolisme hormon prostaglandin akibatnya kadarnya meningkat dan menyebabkan nyeri haid timbul. Perilaku konsumsi makanan cepat saji . ast foo. telah diidentifikasi sebagai faktor yang berpotensi mempengaruhi kesehatan reproduksi remaja putri. Konsumsi makanan cepat saji yang tinggi dapat menyebabkan ketidak seimbangan zat gizi dan peradangan dalam tubuh, yang dapat memperburuk gejala dismenore. Makanan cepat saji . ast foo. seringkali mengandung bahan tambahan dan lemak trans yang dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh dan meningkatkan risiko gangguan menstruasi . Makanan cepat saji atau fast food umumnya memiliki ciri-ciri berupa harga yang terjangkau, porsi yang besar, kandungan energi yang padat, serta tingkat kalori dan lemak yang tinggi (Martony, 2. Kebutuhan gizi pada remaja perlu diperhatikan, hal ini karena kebutuhan nutrisi pada remaja meningkat karena terjadi peningkatan pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu, gaya hidup dan kebiasaan makan yang berubah juga akan mempengaruhi asupan gizi remaja. Kelompok usia remaja disibukkan dengan banyaknya aktivitas fisik, oleh karena itu, kebutuhan kalori, protein, dan mikronutien pada usia remaja perlu diperhatikan (Batu, 2. Remaja merupakan individu dalam rentang usia 10 hingga 19 tahun. Umumnya, wanita yang mengalami menstruasi dapat mengalami keluhan seperti nyeri atau kram perut menjelang haid, yang dapat berlangsung selama 2-3 hari dan mulai terasa sehari sebelum Tingkat keparahan nyeri perut saat menstruasi . bervariasi antar Ada yang terganggu hingga menghambat aktivitas sehari-hari dan menyebabkan mereka harus istirahat bahkan absen dari sekolah atau pekerjaan. Dengan demikian, dismenore adalah kondisi medis yang terjadi selama menstruasi dan dapat mengganggu aktivitas fisik Nyeri dismenore umumnya terlokalisasi di bagian bawah perut hingga panggul, sering disertai dengan gejala seperti mual, sakit kepala, dan kadang-kadang rasa ingin pingsan (Belakang, 2. Kekurangan zat gizi seperti kurang vitamin B6, vitamin E, vitamin C, magnesium, zat besi, seng, mangan, asam lemak, linoleat menyebabkan semakin beratnya gejala sindrom premenstruasi dan juga memperburuk timbulnya nyeri haid atau dismenore. Remaja putri yang memiliki gizi kurang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan, juga akan Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Page 72 from 75 menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi, hal ini akan berdampak pada gangguan menstruasi, tetapi akan membaik bila asupan nutrisinya baik (Aulya et al. , 2. Menurut peneliti bahwa makanan merupakan suatu kebutuhan pokok untuk pertumbuhan dan perkembangan, begitu pun bagi remaja. Apabila remaja kurang mengonsumsi makanan, baik secara kuantitas maupun kualitas, maka akan menyebabkan gangguan proses metabolisme tubuh, sehingga dapat mengarah pada risiko timbulnya penyakit, oleh karena itu menjaga pola hidup sehat mulai dari dini dan sadar akan bahaya dari dismenore akan menjadi suatu bentuk tindakan preventif, mengingat di era modern saat ini, berbagai macam makanan cepat saji . ast foo. telah banyak dijual di sekitar kita dengan harga yang relatif terjangkau dan dengan harga tersebut membuat kita ingin terus membeli dan pada akhirnya tanpa kita sadari perilaku tersebut sudah menjadi kebiasaan dan pola Sementara itu, penelitian lainnya yang dilakukan oleh Setiawan et al . di Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Gresik, tentang konsumsi fast food dengan kejadian dismenore, menemukan hal sebaliknya. Penelitian tersebut tidak menemukan hubungan yang signifikan dengan nilai p-value 0,306 pada intake energi fast food, p-value 0,454 pada intake protein fast food, p-value 0,573 pada intake lemak fast food, dan p-value 0,793 pada intake karbohidrat fast food. Sehingga menunjukkan tidak ada hubungan antara jumlah konsumsi fast food dengan kejadian dismenore. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian lainnya yang dilakukan oleh Sholihah . di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, tentang hubungan antara aktivitas olahraga, riwayat keluarga dan konsumsi fast food dengan kejadian dismenore, hasil penelitian tersebut tidak menemukan hubungan yang signifikan dengan nilai p-value = 0,53, sehingga tidak terdapat hubungan antara makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kebiasaan olahraga, tingkat stress yang ringan, dan tidak mempunyai riwayat keluarga. Faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya dismenore adalah tidak adanya aktifitas fisik seperti olahraga, kurangnya pergerakan selama menstruasi dan kurangnya aktivitas olahraga dapat menyebabkan berkurangnya sirkulasi darah dan oksigen. Aliran darah dan aliran oksigen yang tidak lancar di dalam rahim dapat menyebabkan rasa sakit, dan sebaliknya apabila wanita teratur melakukan aktivitas fisik olahraga, maka wanita tersebut dapat menyediakan oksigen hampir 2 kali lipat permenit sehingga oksigen tersampaikan ke pembuluh darah yang mengalami vasokontriksi. Hal itu akan menyebabkan terjadinya penurunan kejadian dismenorea dengan teratur berolahraga (Prabawati et al. , 2. Stres juga menjadi faktor resiko terjadinya dismenore. Stres memicu perubahan hormonal pada hipotalamus hipofisis ovarium (HPO), yang menyebabkan gangguan hormon ovarium sehingga tidak mampu menghadapi masalah selama siklus bulanan yang akan berdampak pada mengalami nyeri haid . (Prabawati et al. , 2. Faktor lain yang juga berhubungan adalah riwayat keluarga. Anggota keluarga yang memiliki keluhan dismenore memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami suatu penyakit yang sering terjadi termasuk nyeri haid karena dari sebagian besar siswi yang mengalami dismenore memiliki riwayat keluarga yang memiliki keluhan dismenore dan ada juga para siswi yang memiliki keluhan dismenore seperti ibu kandung atau saudara perempuan. Hal ini disebabkan karena adanya faktor genetik yang dapat mempengaruhi keadaan siswi sehingga adanya anggota keluarga yang mengalami dismenore (Gurusinga et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku konsumsi makanan cepat saji . ast foo. dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMAN 3 Makassar. Healthc. Public. Health 1. 64-75 . Page 73 from 75 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepalah Sekolah SMAN 3 Makassar yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini, serta semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini. KONFLIK KEPENTINGAN Dengan ini penulis menyatakan bahwa penelitian ini bebas dari konflik kepentingan dengan pihak manapun. KONTRIBUSI PENULIS Penulis berkontribusi dalam penyusunan konsep, perumusan metode, dan pelaksaan Rusli berkontribusi dalam latar belakang masalah dan format penulisan. Hasbunallah berkontribusi dalam penyempurnaan latar belakang, memvaliditas penelitian, dan kelengkapan pembahasan. Kasmad berkontribusi dalam kelengkapan skripsi dan kajian Pustaka. Bachtiar berkontribusi dalam kelengkapan skripsi dan format penulisan. SPONSOR Penelitian ini tidak mendapatkan dana dari pihak luar. Referensi