Cakrawala JurnalPendidikan VolumeXNox. http://cakrawala. id/index. php/Cakrawalaemail :cakrawala. upstegal@gmail. Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi Didigung Oral Literature: A Study of Structure and Function Maria Anggraina1. Maizar Karim 2. Oki Akbar3 Ade Bayu Saputra4 Universitas Jambi Diterima September 2024 Disetujui Oktober 2024 Direvisi November 2024 Dipublikasikan November 2024 DOI: Email:mariaanggraina 19@gmail . Licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. Cakrawala Pendidikan. November . | . Abstract This research aims to describe: 1. The structure of Dinggung oral literature which includes: theme, diction, imagery, rhythm, rhyme, lines and stanzas, 2. The structure of Dinggung oral literature as: an educational tool to increase feelings of solidarity in a group, provide social sanctions so that people behave well or give punishment, a means of social criticism, and solace or This research uses a descriptive-qualitative design with the researcher as the instrument. The approach in this research is an ethnographic approach, namely the researcher involves the community to find out how the dinggung functions for the community itself. The data for this research are dinggung videos and dinggung document texts with VCD data sources and interviews with informants. The collected data was analyzed using reduction techniques, presenting data, and drawing Based on the results of the research and discussion, it can be concluded that the structure of the Dinggugng oral literature has found the theme of persuasion, two distinctive diction, two types of imagery, two types of rhythm, two types of rhyme, four types of lines, and thirteen stanzas. Meanwhile, the function of education includes social functions, discipline, caring for the environment, fostering social solidarity, encouraging people to behave well and giving punishment, including criticism of society and the government, as well as entertainment that provides enjoyment. Keywords: Oral literature. Dinggung. Structure-Functio Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1. Struktur sastra lisan Dinggung yang mencakup: tema, diksi, imaji, irama, rima, larik, dan bait, 2. Struktur dalam sastra lisan Dinggung sebagai: alat pendidikan meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok, memberi sanksi sosial agar orang berprilaku baik atau memberi hukuman, sarana kritik sosial, dan pelipur lara atau hiburan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif- kualitatif yang mana peneliti sebagai instrumen. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnografi, yakni peneliti melibatkan masyarakat untuk diketahui bagaimana fungsi dinggung bagi masyarakat itu sendiri. Data penelitian ini, yakni video Dinggung dan teks dokumen Dinggung dengan sumber data VCD dan wawancara dengan informan. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik reduksi, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa struktur sastra lisan Dinggung telah ditemukan tema bujukan, dua diksi yang khas, dua jenis imaji, dua jenis irama, dua jenis rima, empat jenis larik, dan tiga belas bait. Sedangkan pada fungsi pendidikan meliputi fungsi sosial, disiplin, peduli lingkungan, memupuk solidaritas bermasyarakat, membawa masyarakat untuk berprilaku baik dan memberi hukuman, mencakup kritik untuk masyarakat dan pemerintah, juga sebagai hiburan yang memberi kenikmatan. Kata kunci: Sastra lisan. Dinggung. Struktur-Fungsi PENDAHULUAN Indonesia mempunyai kekayaan tradisi lisan yang tersebar di berbagai wilayah di Telah dijelaskan menurut (Danandjaja, 2007. Syaputra, 2. tradisi lisan sebagai warisan budaya suatu bangsa merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya daerah yang berharga, karena tidak hanya melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat tradisional tetapi juga dapat menjadi sumber kebudayaan baru dari masyarakat tradisional mendatang. Menurut Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi (Pudentia, 2015. Syaputra, 2. , tradisi lisan mengacu pada salah satunya berhubungan dengan sastra, yang disampaikan dari mulut ke mulut. Sastra lisan lahir juga berkembang di masyarakat dan dipelihara melalui cerita yang diturun-temurunkan seiring berjalannya waktu. Pendahulu mewarisi tradisi lisan memandang sastra lisan sebagai sarana penyampaian kebudayaan kepada generasi berikutnya. Sastra lisan banyak mengandung pesan budaya yang mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi Berdasarkan pemikiran tersebut, sastra lisan tidak bisa dikatakan sederhana karena merupakan syarat atau pesan-pesan budaya yang diwariskan dari nenek moyang kepada generasi mendatang. Melaksanakan penelitian terhadap sastra lisan saat ini menjadi sangat penting dilakukan. Agar sastra lisan dapat berkembang pesat memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual masyarakat, sekaligus mengharapkan agar sastra lisan dapat terus hidup dan diakui oleh masyarakat lain (Indhra, 2. Sastra lisan menjadi objek penelitian ini berasal dari Dusun Rantau Pandan. Kecamatan Rantau Pandan. Kabupaten Bungo. Provinsi Jambi, sastra lisan ini dikenal dengan sebutan Dinggung. Berdasarkan wawancara yang sebelumnya sudah dilakukan peneliti terhadap Nenek Nurmah pada 16 Agustus 2023 selaku maestro tua Dinggung, menyatkan bahwa Dinggung dikenal dengan sebutan lainnya ngatid yang artinya lantunan pantun penjinak, pembujuk, atau penenang lebah, juga makhluk gaib yang ada pada pohon sialang rayo . ebutan pohon lebah yang berukuran besa. Ngatid atau Dinggung juga dipakai untuk menenangkan dan membujuk bayi yang menangis agar dapat tertidur lelap dengan lantunan pantun yang berbeda. Sedikit berbeda dari pendapat di atas, peneliti juga mewawancarai Bapak Amuis, pada 19 Agustus 2023 selaku ketua adat Rantau Pandan mengatakan bahwa Dinggung samahalnya dengan ngatid yang artinya nyanyian berbentuk syair penenang makhluk halus yang ada pada pohon sialang rayo, supaya pada saat proses pemanjatan, mahkluk penunggu tidak merasa terganggu. Selanjutnya, menurut Al- Sobri diwawancarai pada 20 Agustus 2023 maestro muda sastra lisan Dinggung menyebutkan bahawa Dinggung ini merupakan salah satu mantra penjinak lebah yang disenandungkan sebagai penenang, agar proses pengambilan madu lebah tidak mengamuk. Al- Sobri menjelaskan proses Dinggung dimulai dengan persiapan. Sebelum mengambil madu sialang siapkan terlebih perkakasnya, kemudian tentukan siapa yang akan memanjat pohon sialang, setelah itu Tuo gadih, mak gadis, atau induk gadis, mengajak bujang-gadis sebagai peramai untuk memanjat pohon sialang rayo (Tradisi di Desa Rantau Panda. Sesampainya di area pohon sialang rayo, pemanjat dan para bujang mulai memasang pasak pada pohon sialang, juga membuat tunam . bor dari ranting dan dedaunan kerin. untuk mengusir lebah, sedangkan induk gadis, dan para gadis, menyiapkan tempat atau wadah hasil panen yang mereka bawakan menggunakan ambung dan lengkat (Rantan. Setelah semua sudah disiapkan dilanjutkan doa bersama agar dijauhkan dari Kemudian si pemanjat mengetuk pohon sialang untuk memberi tahu lebah di atas. Setelah dua atau tiga kali mendengar dentuman, artinya si pemanjat mendapatkan izin dari lebah bahwa pohon boleh dipanjat dan dipanen madunya. Ketika prosesi memanjat pohon itu dimulai. Tuo Gadih dan Bujang Gadih yang berada di bawah mulai bersahut dinggung. Apabila di atas pohon sialang madunya banyak, pemanjat akan meminta dikirimkan wadah madu, kemudian bujang memberikan wadah melalui tali yang ditarik ke atas. Setelah pemanjatan selesai para Licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. Cakrawala Pendidikan. November . gadis dan tuo gadih mulai mengisi bekal rantang atau lengkat dengan madu sebagai bekal untuk mereka bawa pulang. Berdasarkan pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa sastra lisan Dinggung digolongkan ke dalam puisi lama atau puisi melayu. Sebagaimana pendapat Pradopo . puisi melayu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan, didasari dengan kreatifitas dan imajinasi masing-masing Sastra lisan Dinggung tidak bisa terlepas dari penggunaan bahasa. Sastra lisan Dinggung merupakan karya seni yang memanfaatkan bahasa sebagai media penyampaiannya baik secara tulisan maupun lisan. Menganalisis bahasa pada sastra lisan Dinggung, peneliti memfokuskan analisis struktur dan fungsi yang terdapat pada sastra lisan Dinggung. Pada analisis struktur, peneliti mencoba memaparkan keterkaitan unsur yang secara bersamaan menghasilkan keseluruhan hubungan, dan unsur atau pola yang berkaitan antara satuan terkecil di dalamnya sehingga menghasilkan pemahaman yang seutuhnya. Maka dari itu, sejalan dengan pendapat Karim . yang mengkaji struktur itu penting guna sebagai kepentingan sastra itu sendiri sebagai sarana untuk memperoleh penglihatan yang tepat mengenai eksistensi manusia. Dengan demikian, kajian ini kita dapat memahami eksistensi manusia, sehingga dapat dipahami ciri khas atau karakter manusia tersebut. METODE Penelitian sastra lisan Dinggung ini merupakan penelitian kualitatif. Memilih jenis penelitian kualitatif pada penelitian ini digunakan untuk menganalisis struktur dan fungsi sastra lisan Dinggung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnografi, peneliti tidak hanya menganalisis struktur dan fungsi karya sastra Dinggung itu sendiri, namun peneliti melibatkan masyarakat untuk diketahui bagaimana fungsi Dinggung bagi masyarakat tersebut. Sebagaimana dijelaskan (Sukoharsono, 2009. Mursy, 2. , penelitian etnografi juga dapat digunakan untuk mengeksplorasi dan menjelaskan kehidupan akulturasi dalam interaksi sosial. Penelitian ini terletak secara geografis di Desa Rantau Pandan. Kecamatan Rantau Pandan. Kabupaten Bungo. Provinsi Jambi. Data penelitian ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama data primer, dalam penelitian ini berupa video Dinggung, selanjutnya data sekunder berupa arsip teks Dinggung. Data primer diperoleh dari sumber asli atau orang pertama, sedangkan data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh dari maestro muda Dinggung. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teknik wawancara dan Langkah analisis data selanjutnya untuk penelitian ini dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan tiga teknik: 1. Reduksi atau penyederhanaan data, data yang diperoleh dari wawancara dan Dokumentasi mengenai Dinggung, pertama peneliti melakukan transkripsi dalam bentuk tulisan. Data yang diperoleh dari wawancara menjadi data primer, sedangkan data yang diperoleh dari dokumentasi Dinggung menjadi data Sekunder. Peneliti menyajikan data dalam format yang lebih jelas dan sistematis agar informasi lebih mudah diakses. Mencocokan kedua data yang tidak sama tersebut sesuai pengetahuan peneliti dan Bahasa daerah yang peneliti ketahui. Menarik simpulan, peneliti mengkaji data sesingkatsingkatnya pemikiran yang terlintas di kepala analis . Akhirnya peneliti menemukan data yang dapat dianalisis. Uji keabsahan data dalam penelitian ditekankan pada uji kreadibilitas yang dilakukan dengan triangulasi. Penelitian ini menggunakan triangulasi pakar. Pada triangulasi pakar peneliti melibatkan pembimbing untuk menentukan validasi data pada Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi | 111 penelitian ini. Setelah data dianalisis, peneliti memberikan data tersebut kepada kedua pembimbing, untuk diperiksa validasinya. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Struktur Tema Dinggung secara umum bertema bujukan, baik itu bujukan untuk penunggu pohon maupun lebahnya. Berikut data yang menunjuk bujukan. Data 1 pantun bait ke 2: e kepayaang, kepayang e Palok Iah nyo lubok Batang cemeteh e laburamo-ramo Sayang nian e biko lah nyo ilok Sayang idak e buleh Iah nyo lamo, e yoo Gadih itam e kepayang, kepayang e di kepala lubuk Pohon cemeteh e berama-rama Sayang sekali e kepada kalian baik Sayang tidak e boleh lah lama, e ratu lebah Pantun Dinggung di atas adalah pantun balasan dituturkan oleh penutur Perempuan yang berada bawah pohon ketika mendapatkan kabar dari penutur laki- laki bahwa pohon sialang tersebut terdapat sarang lebah yang berisikan madu. Data di atas berupa bujukan penutur dengan ungkapan rasa sayang kepada ratu lebah yang baik, namun rasa sayang itu tidak bisa untuk berlama-lama, karena mereka akan mengambil madu untuk memenuhi kebutuhan yang kemudian bisa mereka jual maupun dikonsumsi langsung. Data 2 pantun bait ke 4 e agho kain, agho kain e patah Iah bugimbat Gimbat anak e mangun Iah nyo jayo Sayang di kain e buleh kami lipat Sayang di biko e abih lah nyo dayo, e yoo Gadih itam e lemari kain, lemari kain e patah dilempar Dilempar anak e mangun lah jayo Sayang di kain e boleh kami lipat Sayang dikalian e habis lah daya, e yoo ratu lebah Pantun Dinggung di atas adalah pantun balasan yang dituturkan oleh penutur Perempuan ketika mendapatkan kabar dari penutur laki-laki atau pemanjat bahwa mereka belum mendapatkan izin dari penunggu pohon dan ratu lebah untuk dipersilahkan diambil madunya. Kemudian penutur perempuan kembali membujuk dengan menyampaikan rasa sayang mereka melebihi rasa sayang terhadap kain, tetapi sayang itu habislah daya atau mereka lepaskan, karna mereka membutuhkan madu lebah itu. Licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. Cakrawala Pendidikan. November . A Data 3 pantun bait ke 6 Lampu terang yo tengah malam, tengah malam Yo, angkut mengangkut batang padi, gadih itam Kalu takut yo bujalan malam, bujalan malam Yo, turut lah suluh bagho kami, gadih itam Lampu terang yo saat malam, saat malam Yo Angkut-mengangkut pohon padi, ratu lebah Kalau takut yo berjalan malam, berjalan malam Yo Ikutilah bara obor kami, ratu lebah Pantun Dinggung di atas adalah balasan dari penutur Perempuan yang dituturkan oleh penutur laki-laki ketika madu sudah di peroleh. Isi pantun mengungkapkan rasa sayang penutur dengan memberi tahu jalan kepada ratu lebah yang kehilangan sarangnya untuk pergi ketempat lebih aman, dan mengikuti jalan bara api yang berterbangan di langit. Artinya penutur menbujuk dengan mengungkapkan kepedulian mereka kepada lebah yang kehilangan rumah, kemudian mereka memberi tahu jalan rumah baru. Data 4 pantun bait ke 10 e layang-layaang, layang-layang e terbang lah melayang Tibo di titin e ngirai Iah nyo kepak Sepo ngatoa e kami Iah dak sayang Badan musekin e budi Iah dak nampak, e yoo gadih itam e layang-layang, layang-layang terbang melayang Tiba di jembatan e membentang kepak Siapa bilang e kami tidak sayang Badan miskin e budi tidak nampak Pantun Dinggung di atas adalah pantun balasan dari penutur laki-laki yang dituturkan oleh penutur Perempuan saat madu sudah didapatkan atau sipemanjat turun dari pohon, sebelum pulang mereka kembali membujuk dengan merendah diri. Penutur mengungkapkan kehidupan mereka yang kurang bercukupan, mereka hanya masyarat kecil yang dikucilkan oleh masyarakat lain. Dengan begitu mereka memohon agar madu yang mereka ambil dan bawa pulang, diberi dengan ikhlas Diksi Diksi merupakan pemilihan kata yang selaras dan bertujuan agar pembaca dapat mema hami isi dalam pantun. Pemilihan kata atau diksi di dalam sastra lisan Dinggung berbeda dengan bahasa sehari-hari, karena bahasa yang digunakan dalam Dinggung terdapat bahasa-bahasa yang Indah, padat makna, dan kaya nilai rasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah Rantau Pandan. Berikut pemilihan kata yang terdapat pada sastra lisan Dinggung. Kata-kata khas Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi Terdapat kata-kata khas dalam sastra lisan Dinggung yang tidak dimiliki daerah lain, kata khas yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena pilihan kata yang dipergunakan tidak lazim, atau tidak umum misalnya: | 113 Tabel 1. Daftar Kata-kata Khas dalam Dinggung Bahasa Rantau Pandan Bahasa Indonesia -Belong -Belum -Bagho -Bara -Lapek -Tikar -Terawang -Tenda -Suluh -Obor -Tabek -Tarik -Disanok -Di sana -Ilok -Bagus/Baik/Cantik. -Sematung tunam -Akar pohon sialang -Agho -Lemari -Pematang -Batasan sawah/Bukit -Gimbo -Hutan Rimba -Ngirai -Membentang -Ayik dalam lapus tanjung -Air yang melimpah -Agho kain -Lemari kain -Bugimbat/Gimbat -Dilempari sesuatu -Melentok kayu -Melenturkan kayu -Mamujuk -Membujuk -Idak lingau -Tidak Peduli -Titin -Jembatan -Kembang manih -Bunga manis -Mangudut -Menghisap -Sepo ngatoa -Siapa bilang Kata-kata Kiasan Pengguanaan Bahasa pada sastra lisan Dinggung menggunakan kalimat kiasan, kata yang sangat tidak formal, dalam arti kata bermakna tidak sebenarnya, guna untuk memberi rasa keindahan dan penekanan pada pentingnya hal-hal yang disampaikan. Berikut kalimat yang menggunakan kiasan: Tabel 2. Daftar Kalimat Kiasan pada Dinggung Licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. Cakrawala Pendidikan. November . Kalimat Kiasan Maknanya - Baru tampak hitam manis - Sesuatu itu ada - Baru Pulang darah kamuko - Idak Mangudut idaklah Burapi - Hati senang - Lampu terang Tengah malam - Setitik idak hari hujan ayik dalam lapus tanjung - Hati tenang di malam hari - Hal kecil, memiliki khasiat banyak. - Batang cemeteh laburamo-ramo - Sayang dikain boleh kami lipat - Hidup sudah tidak lama - Sayang dibiko abih lah dayo - Sayang yang sia-sia - Payah nian melentuk kayu - Kesulitan melunakkan hati seseorang - Kayu dilentuk idaklah nyo lemah - Apo diharap elang Jerami - Badan musekin budi dak Nampak - Melunakkan hati, yang tidak hirau - Ungko babunyi - Hari sore - Singgah meniti pematang Panjang - Bungo layu paguno jugo - Beristirahat untuk melakukan sesuatu - Seburuk- buruk orang pasti memberi -Tidak bekega tidak berpenghasilan - Sayang disimpan dalam hati - Tidak ada harapan bagi orang miskin - Hidup miskin tidak dipandnag - Air tebu baguno jugo - Tetesan kecil juga memiliki manfaat. Imaji Imaji atau yang biasa disebut citraan ini berfungsi untuk memberi efek yang khusus untuk menimbulkan menghidupkan bayangan dalam diri pendengar, sesuai dengan bayang yang ada di dalam pikiran si penutur. Dalam sastra Lisan Dinggung ditemukan dua jenis pencitraan yakni penglihatan, pendengaran: Table 3. Daftar Kalimat Imaji dalam Dinggung Jenis imaji Suara (Auditi. Kata atau Kalimat Makna dalam dinggung - Yo - e - Gadih itam - Tibo mano ungko babunyi - Tibo mano gimbo lah - Sautan bagi laki-laki - Tiba di rimba yang sunyi - Sautan bagi Perempuan - Panggilan untuk lebah - Seketika mendengar suara hewan -Setitik idak hari hujan - Tidak mendengar titik hujan Penglihatan (Visua. - Lah masak kembang - Nampaknya madu sudah siap - Baru tampak hitam manih - Lubuk tenang - Kalu takut bujalan malam - Anak balam makan jagung - Sanok tempat badan kami - Sudah kelihatan madunya - Sungai Tenang - Sekiranya takut gelap - Burung balam makan jagung - Seketika diri menghilang - Lampu terang Tengah - Bulan terang menyinari gelap - Turut lah suluh bagho - Turutlah bara api obor kami Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi | 115 - Ayik dalam alpus tanjung - Agho kain batah digimbat - Batang cemeteh lah - Air yang melimpah - Lemari kain patah dilempar - Batang cemeteh berhama buramo-ramo - Layang-layang terbang -Layang-layang terbang melayang - Masak sebuah dimakan - Buah masak dimakan ungko - Sanok tempat badan kami - Disana tempat kami hilang -Tdak mangudut idak - Tidak dihisap tidak ada api -Rokok nipah sudah - Rokok nipah yang digulung -Kami nak lalu kebalai - Hampir sampai di sarang lebah -Angkut mengangkut patang - Memindahkan pohon padi -Ango kain patah digimbat - Lemari kain patah dilempari - Mengayun tunam -Payah nian melentur kayu -Menghayun akar -Kesulitan melenturkan kayu Irama Irama ditandai dengan naik turun, keras lembut, tinggi rendah, dan panjang pendeknya intonasi dalam pantun. Dinggung yang dilantunkan oleh masing-masing penutur, laki-laki dan Perempuan memiliki irama yang berbeda. Irama pada pantun Dinggung laki-laki memiliki nada rendah atau sayup. Nada tinggi hanya digunakan untuk sahutan atau memanggil. Larik pertama dan ketiga, kedua dan keempat memiliki irama yang sama. Sedangkan Irama pada pantun Dinggung Perempuan diawali dengan nada tinggi, kemudian menggunakan nada rendah. Setiap larik pantun memiliki irama yang sama. Dibawah ini contoh pantun yang menujukan anada rendah dan nada tinggi. Larik satu dan tiga, dua dan empat berirama sama. Kata yang dihitamkan menggunakan nada tinggi, sedangkan yang tidak dihitamkan bernada rendah. Pantun laki-laki Lah masak yo kembang manih, kembang manih Yo, nasak sebuah dimakan ungko, gadih itam Baru Yo. Baru pulang darah kamuko, gadih itam Pantun Perempuan e kepayaang, kepayang e lah di palok lubuk Batang cemeteh e laburamo-ramo Sayang nian e biko lah nyo ilok Sayang idak e buleh Iah nyo lamo, e yoo Gadih itam Licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. Cakrawala Pendidikan. November . Rima Rima adalah dua baris suku kata yang memiliki kesamaan bunyi atau pengulangan bunyi vokal yang terdapat pada awal, tengah, dan akhir, pantun. Pada pantun Dinggung terdapat rima sempurna dan tidak sempurna. Berikut hasil analisis rima pantun Dinggung: Pantun satu Lah masakyo kembangmanih, kembang manih Yo. Masak sebuah dimakan ungko, gadih itam Baru Nampak yo hitam manih, hitam manih Yo. Baru pulang darah kamuko, gadih itam Keterangan: Masak / Nampak = Rima tidak sempurna Kembang / Pulang = Rima tidak sempurna Manih / Manih = Rima Sempurna Ungko / Kamuko = Rima tidak sempurna Pantun dua e kepayaang, kepayang e Palok Iah Nyo lubok Batang cemeteh e laburamo-ramo Sayang nian e biko lah nyo ilok Sayang idak e buleh Iah Nyo lamo, e yoo Gadih itam Keterangan: Kepayang / Sayang = Rima tidak sempurna Cemeteh / Buleh = Rima tidak sempurna Lubuk / Iluk = Rima tidak sempurn Ramo / Lamo = Rima tidak sempurna Pantun tiga Idak lah mangudut yo idak lah berapi, idak burapi. Yo, ukok nipah sudah tagulong, gadih itam Gedang lah mukesutyo dalam hati, dalam hati. Yo, niat ado belangsung belong,gadih itam Keterangan: Mangudut / Mukesut = Rima tidak sempurna Tagulong / Belong = Rima tidak sempurna Berapi / Hati = Rima tidak sempurna Pantun empat e agho kain, agho kain e patah Iah bugimbat Gimbat anak e Mangun Iah nyo jayo Sayang di kain e buleh kami lipat Sayang di biko e abih lah nyo dayo, e yoo Gadih itam Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi | . Keterangan: Sayang / Sayang = Rima sempurna Kain / Kain = Rima sempurna Bugimbat / Lipat = Rima tidak sempurn Jayo / Dayo = Rima tidak sempurna Pantun lima Bentang lapek yo bentang terawang, bentang terawang. Yo, bentang serto daun jagung gadih itam Mintak Tabek yo dahan jerambang, dahan jerambang Yo. Kami nak lalu ke balai agung, gadih itam Keterangan: Lapek / Tabek = Rima tidak sempurna Terawang / Jerambang = Rima tidak sempurna Jagung / Agung = Rima tidak sempurna Pantun enam epayah nian. Payah nian e melentok lah Nyo kayu Kayu di lentok e idak lah Nyo lemah Payah nian e Mamujok lah Nyo kau Kau di pujok e idak lah Nyo lingah, e yoo Gadih itam Keterangan: Payah nian / Payah nian = Rima sempurna Idak lah nyo / Idak lah nyo = Rima sempurna Melentok / Mamujok = Rima tidak sempurna Lemah / Lingah = Rima tidak sempurna Pantun tujuh Lubuk tenang yo simatung tunam, simatung tunam Yo, tunam anak pulang semagi, gadih itam Dari mano yo mengayun tunam, mengayun tunam Yo, dari kanan lalu kekiri, gadih itam Keterangan: Tunam / Tunam = Rima sempurna Semagi / Kekiri = Rima tidak sempurna Pantun delapan e Apo di harap Apo di harap e elang Jerami Harap di payo ee pangkal lah Nyo Titin. Apo di harap e biko pado kami Harap di kayoe kami lah musekin, e yoo Gadih Itam Licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. Cakrawala Pendidikan. November . | . Keterangan: Apo di harap / Apo di harap = Rima sempurna Harap / Harap = Rima sempurna Payo / Kayo = Rima tidak sempurna Titin / Musekin = Rima tidak sempurna Pantun Sembilan Lampu terang yo tengah malam. Tengah malam Yo, angkut mengangkut batang padi, gadih itam Kalu takut yo bujalan malam, bujalan malam Yo. Turut lah suluh bagho kami, gadih itam Keterangan: Angkut / Turut = Rima tidak sempurna Malam / Malam = Rima sempurna Padi / Kami = Rima tidak sempurna Pantun sepuluh e layang-layaang, layang-layang e terbang lah melayang Tibo di Titin e Ngirai Iah Nyo kepak Sepo ngatoa e kami Iah dak sayang Badan musekin e budi Iah dak Nampak, e yoo gadih itam Keterangan: Titin / Musekin = Rima tidak sempurna Layang / Sayang = Rima tidak sempurna Kepak / Nampak = Rima tidak sempurna Pantun sebelas Tibo mano yo ungko babunyi, ungko babunyi Yo. Singgah meniti pematang lah Panjang, gadih itam Tibo Mano yo gimbo lah nyo sunyi Yo. Sanok tempat badan kami ilang, gadih itam Keterangan: Tibo mano / Tibo mano = Rima sempurna Ungko / Gimbo = Rima tidak sempurna Babunyi / Sunyi = Rima tidak sempurna Panjang / Ilang = Rima tidak sempurna Pantun dua belas e kalo idak, kalu idak ado batang kandih Bungo layu epaguno lah jugo Kalo idak e ado lahnyo manih. Ayik tebu e baguno lahnyo jugo, e yoo gadih itam Keterangan: Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi | . Kalo idak / Kalo idak = Rima sempurna Layu / Tebu = Rima tidak sempurna Paguno / Baguno = Rima sempurna Kandih / Manih = Rima tidak sempurna Jugo / Jugo =Rima sempurna Pantun tiga belas Anak itik yo anak undan, anak undan Yo. Anak balam makan jagung, gadih itam Setitik idak yoo hari hujan, hari hujan Yo. Ayik dalam lapus tanjung, gadih itam Keterangan: Itik / Setitik = Rima tidak sempurna Balam / Dalam = Rima tidak sempurna Undan / Hujan = Rima tidak sempurna Jagung / Tanjung =Rima tidak sempurna Larik Larik adalah kumpulan beberapa kata yang memiliki arti dan bisa membentuk sampiran atau isi dalam sebuah pantu. Pada sastra lisan Dinggung, terdapat empat larik pada setiap bait. Larik 1 dan 2 sampiran, larik ke 3 dan 4 isi. Sampiran= Isi = Bentang lapek yo bentang terawang, bentang terawang. Yo, bentang serto daun , jagung gadih itam Mintak Tabek yo dahan jerambang, dahan jerambang Yo. Kami nak lalu ke balai agung, gadih itam Bait Bait adalah banyaknya baris dalam sebuah pantun, misalnya dua baris, empat baris, enam baris, delapan baris, dan sebagainya. Terdapat 7 bait untuk pantun Dinggung laki-laki, terdapat 6 bait pantun untuk pantun Dinggung Perempuan. Deskripsi Analisis Fungsi Berdasarkan hasil wawancara, sastra lisan Dinggung secara umum berfungsi sebagai penjinak lebah maupun makhluk penunggu sialang rayo, tradisi pengambilan madu dengan Dinggung bagi Masyarakat menjauhkan dari hal-hal yang tidak di inginkan, khususnya pada saat pengambilan madu sialang rayo. AuAlsobri pada 16 November 2023, dinggung fungsi utamanyo itu sebagai penjinak lebah, atau mahkluk penunggu pohon sialang rayo, dengan adanya dinggung masyarakat merasa aman untuk mengambil madu, insya allah dijauhkan dari hal yang tidak kito inginkanAy. Analisis sesuai dengan konsep teori Alan Dundes menyatakan bahwa sastra lisan dinggung berfungsi sebagai: Alat Pendidikan Licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | . Cakrawala Pendidikan. November . Sastra lisan Dinggung bagi masyarakat memuat nilai pendidikan sosial, disiplin, dan peduli lingkungan. Sosial Tradisi lisan Dinggung memuat sikap sosial, karena prosesi Dinggung dilakukan dengan Bersama-sama, mulai dari persiapan sampai prosesi pemanjatan dilakukan dengan saling membantu satu sama lain. Sastra lisan Dingung juga melatih kesabaran saat menunggu perizinan dari ratu lebah tentang boleh atau tidaknya madu itu Artinya Dinggung memuat nilai kebersamaan, kasih sayang, peduli antar sesama, dan melatih kesabaran. Disiplin Tradisi lisan Dinggung menunjukan prilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan aturan. Prosesi pemanjatan Dinggung diakukan dengan aturan saat memanjat, jika mengambil madu harus menunggu izin dari ratu lebah, maupun makhluk penunggu untuk dipanjat. Apabila pohon sialang itu siap dipanajat, pohon sialang itu akan mengeluarkan bunyi dentuman, . Sebelum memanjat pohon pemanjat terlebih dahulu membaca doa sambil mengililingi pohon sialang agar terhindar dari hal yang tidak di inginkan. Peduli lingkungan Tradisi lisan Dinggung berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam Dinggung merupakan warisan leluhur yang menunjukkan kearifan dalam menjaga ekosistem, misalnya saat mengambil madu tidak harus menebang pohon Prosesi pengambilan madu dilakukan dengan mengikuti aturan-aturan yang Memperkuat Rasa Solidaritas Dalam Suatu Kelompok Prosesi Dinggung Rantau pandan memupuk kekompakan dengan sesama atau lingkungan sekitar. Pemanjatan sialang rayo yang dilakukan secara bersama-sama mengutamakan kepentingan bersama, sehingga menimbulkan keakraban, mengenal, dan berbagi satu sama lain juga menumbuhkan rasa empati, menjalin silahturahmi, saling tegur sapa dan tolong menolong. Sastra lisan Dinggung memupuk solidaritas antar sesama, bukan hanya manusia sesama manusia, akan tetapi juga manusia dengan alam. Setelah madu didapatkan sipemanjat juga membagi atau meninggalkan madu dibawah pohon untuk hewan liar yang ada dihutan tersebut. Memberikan Sanksi Sosial Agar Berprilaku Baik atau Memberi Hukuman Sastra lisan Dinggung membawa Masyarakat untuk berprilaku baik, misalnya antar sesama makhluk, yaitu antara manusia dan hewan . , timbulnya rasa kasih sayang antar sesama. Prosesi Dinggung Masyarakat Rantau Pandan, pada saat pengambilan madu tidak dilakukan secara ugal-ugalan, tidak menebang pohon, akan tetapai dengan hati-hati, tertib, dengan begitu rasa untuk berbuat baik antar sesama muncul dengan sendirinya. Sebelum memanjat harus diiringi dengan doa terlebih dahulu. Apabila aturan tersebut tidak diikuti maka akan menimbulkan hukuman alam seperti kejadian buruk lainya akan menimpa, jika seseorang menebang pohon maka ada hukuman yang dibuat pemerintah, apabila sebelum memanjat tidak dilantunkan doa, besar kemungkinan sipemanjat akan jatuh dari pohon, atau akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagai Sarana Kritik Sosial Sastra lisan Dinggung berfungsi sebagai sarana komunikasi bertujuan mengotrol jalannya Sastra Dinggung Sastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan Fungsi | . Kritik bagi masyarakat Melalui tradisi lisan Dinggung mengkritik masyarakat yang sering mencemarkan lingkungan alam, yang sukar menebang pohon. Pada tradisi Dinggung pengambilan madu lebah sialang tidak boleh dilakukan dengan cara menebang pohon tersebut. Harus dengan memanjat dan sesuai dengan perizinan dari ratu lebah. Tradisi Dinggung juga menyadarkan masyarakat untuk menjaga ekosistem hayati dan menghindarkan dari dampak buruk seperti bencana alam. Kritik bagi pemerintah Tradisi lisan Dinggung menimbulkan kritik untuk pemerintah agar dalam mengelola sektor kehutanan dapat dilakukan dengan baik dan terjaga. Tradisi lisan Dinggung menyadarkan pemerintah dalam mengelola hutan harus dengan hati-hati dan Pengelolaan hutan menegaskan komitmen hutan yang Lestari dan Kenyamanan atau Hiburan Sastra lisan dapat dikatakan sebagai kenikmatan dan kehikmahan, yaitu kenikmatan dalam arti kata sastra lisan memberi hiburan yang menyenangkan, dan kehikmatan dalam arti sastra memberi sesuatau atau nilai yang berguna bagi kehidupan. Prosesi Dinggung yang dilakukan secara Bersama-sama dan ramai dapat memberikan rasa nyaman bagi Masyarakat. Lantunan pantun Dinggung juga sebagai hiburan pada prosesi pamanjatan, dan Dinggung dapat dikatakan sebagai suatu hiburan apabila dipentaskan. KESIMPULAN AuSastra Lisan Dinggung: Kajian Struktur dan FungsiAy dapat disimpulkan bahwa struktur sastra lisan Dinggung memiliki unsur pembangun yang lengkapatau utuh. Hal itu dilihat tema, diksi, imaji, irama, rima, larik, dan bait, saling mendukung satu sama lain. Dengan kata lain pantun Dinggung memiliki unsur yang terpadu dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Selain itu sastra lisan Dinggung bagi masyarakat terbukti berfungsi sebagai alat pendididkan, memperkuat rasa solidaritas dalam masyarakat, memberikan sanksi sosial yang memaksa atau menghukum masyarakat untuk berbuat baik, sebagai sarana kritik sosial, dan sebagai hiburan. Nilai tersebut berfungsi sebagai pembentuk mental dan basis pengetahuan Masyarakat Rantau pandan dalam menjaga hutan mereka, juga menjaga kebudayaan dan rasa nasionalisme di Masyarakat. Sastra lisan Dinggung mengandung nilai-nilai luhur yang perlu dipelajari dan Nilai-nilai ini membuktikan sebagai eksistensi sastra lisan dalam kebudayaan masyarakat Kabupaten Bungo, khusunya Kecamatan Rantau Pandan. DAFTAR PUSTAKA