JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. p-ISSN : 1979-116X . e-ISSN : 2621-6248 . DOI: 10. 51903/kompak. http://journal. id/index. php/kompak Potensi Shopeepay Sebagai Teknologi Pembayaran Untuk Mendukung Inklusi Keuangan: Pendekatan Model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technolog. Diva Nur Andiani1. Shinta Permata Sari2* Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia e-mail: 1b200210505@student. id, 2*sps274@ums. Article Info Article history: Received 15 September 2024 Received in revised form2 Oktober Accepted 13 November 2024 Available online 14 Desember 2024 ABSTRACT Technological advancements have had a significant impact on facilitating financial transactions, one of which is through the use of digital payment systems. ShopeePay, as one of the e-wallets that has rapidly grown in Indonesia, offers convenience in making cashless Although ShopeePay is becoming increasingly popular, several factors still influence the behavior of its use, particularly among Generation Z. This study aims to analyze the factors that affect ShopeePay usage behavior among Generation Z students at the Universitas Muhammadiyah Surakarta using the UTAUT model. The sampling method used is convenience sampling. This quantitative research uses primary data collected through an online questionnaire via a Google Form link. A total of 275 respondents are involved in the study. Data analysis is conducted using the Smart PLS application. The results of the study indicate that performance expectancy, social influence, and facilitating conditions have affect use behavior, while effort expectancy does not have use behavior. This study emphasizes the importance of performance, social, and infrastructure support aspects in enhancing the acceptance of ShopeePay as a digital payment Keywords: digital payment. UTAUT, use behavior PENDAHULUAN Revolusi industri 5. 0 memberikan dampak signifikan terhadap kemajuan teknologi, terutama dalam industri keuangan yang kini dikenal dengan istilah financial technology . (Mulauddin, 2. Kehadiran fintech merupakan terobosan baru yang menjadi alternatif pembayaran nontunai yang lebih efektif, mengingat tidak lagi memerlukan uang kertas dalam penggunaannya (Gunawan dan Winarti, 2. Fenomena ini seiring dengan adopsi fintech yang semakin meluas, terutama dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang didominasi oleh pengguna teknologi informasi dengan kehidupan yang serba cepat (Basalamah et al. , 2. Di Indonesia, berbagai sistem pembayaran nontunai berkembang pesat, meski tetap dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia. OJK fokus pada regulasi dan pengawasan fintech di bidang peer-to-peer (P2P) lending, equity crowdfunding, dan inovasi keuangan digital lainnya (Otoritas Jasa Keuangan, 2. Received September 15, 2024. Revised October 2, 2024. Accepted November 13, 2024 Potensi Shopeepay Sebagai Teknologi Pembayaran Untuk Mendukung Inklusi Keuangan: Pendekatan Model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technolog. sedangkan Bank Indonesia mengatur dan mengawasi fintech dalam sektor sistem pembayaran (Bank Indonesia, 2. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, dikenal sebagai generasi yang sangat akrab dengan dunia digital (Purnomo et al. , 2. , dan oleh karena itu, mereka sudah terbiasa dengan pemanfaatan teknologi keuangan. Salah satu teknologi keuangan yang semakin populer adalah sistem pembayaran digital. ShopeePay, sebagai salah satu fintech yang terintegrasi dalam sistem pembayaran digital, meskipun baru diluncurkan pada 2018, telah menjadi e-wallet yang paling banyak digunakan di Indonesia (Kurniawan, 2. ShopeePay tidak hanya digunakan untuk transaksi pembelian di platform Shopee, tetapi juga dapat digunakan untuk berbagai transaksi pembayaran lainnya. Penggunaan ShopeePay telah menjadi gaya hidup baru bagi komunitas pengguna Shopee, karena menawarkan kemudahan dan berbagai keuntungan, seperti penawaran menarik yang hanya tersedia untuk pengguna ShopeePay (Faddila et al. , 2. Pertumbuhan pesat ShopeePay menunjukkan tingginya minat masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi ini sebagai sarana transaksi digital. Model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), yang dikembangkan oleh Venkatesh et al. , menjadi kerangka teori yang relevan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan teknologi. Model ini menggabungkan elemen-elemen dari berbagai teori penerimaan teknologi lainnya, seperti Theory of Reasoned Action (TRA). Technology Acceptance Model (TAM), dan Theory of Planned Behavior (TPB), untuk menjelaskan hingga 70% variasi dalam niat penggunaan teknologi (Venkatesh et al. , 2. Faktor utama yang mempengaruhi penerimaan teknologi dalam model UTAUT meliputi performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions. Dalam konteks penggunaan ShopeePay, berbagai faktor ini dapat mempengaruhi perilaku pengguna. Performance expectancy mengacu pada sejauh mana seseorang percaya bahwa penggunaan sistem akan meningkatkan kinerjanya. Dalam hal ini, pengguna ShopeePay percaya bahwa aplikasi ini dapat memudahkan dan mempercepat transaksi mereka. Effort expectancy mengacu pada sejauh mana pengguna merasakan kemudahan dalam menggunakan teknologi tersebut. ShopeePay mempermudah pengguna dalam melakukan transaksi tanpa harus keluar rumah atau membawa uang tunai. Social influence menunjukkan seberapa besar pengaruh orang lain dalam keputusan penggunaan teknologi. Pengguna ShopeePay cenderung dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya, yang sudah lebih dahulu menggunakan aplikasi ini. Terakhir, facilitating conditions berhubungan dengan kenyamanan yang diberikan oleh infrastruktur pendukung, seperti akses internet dan dukungan dari penyedia layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku penggunaan ShopeePay di kalangan mahasiswa aktif Generasi Z di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penelitian ini juga berupaya mengembangkan studi sebelumnya yang menunjukkan pengaruh performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions terhadap perilaku pengguna ShopeePay. KAJIAN TEORITIS Teori Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) merupakan perluasan dari teori Techology Acceptace Model (TAM) yang dirumuskan oleh Davis pada tahun 1989. TAM menjelaskan bahwa variabel bebas yang mendasari penerimaan teknologi adalah perceived usefulness dan perceived ease of use. Teori tindakan beralasan (Theory of JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Reasoned Actio. yang diusulkan oleh Ajzen dan Fishbein dikemukakan pada 1980, dan diperbarui dengan teori perilaku direncakan atau Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1. Unified Theory of Acceptance and Use of Technology adalah model yang menunjukan faktor-faktor yang dapat memengaruhi niat untuk menggunakan teknologi tertentu . Bagaimana individu berperilaku dan mengambil keputusan dapat dijelaskan oleh unified theory of acceptance and use of technology. Menurut Ningtyas dan Wafiroh . , didalam penelitiannya mengatakan bahwa proses pengambilan keputusan merupakan hasil dari serangkaian proses yang melibatkan sikap, norma dan pengendalian Berdasarkan teori ini, perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating condition. Use Behavior Perilaku penggunaan teknologi informasi . se behavio. didefinisikan sebagai intensitas dan atau frekuensi pemakai dalam menggunakan teknologi informasi (Venkatesh et al. , 2. Use behavior dalam banyak penelitian empiris selalu digunakan sebagai variabel dependen. Perilaku penggunaan teknologi informasi sangat bergantung pada evaluasi pengguna dari sistem tersebut. Bharata dan Widyaningrum . menyatakan bahwa penggunaan teknologi informasi merupakan suatu refleksi dari perilaku seseorang. Perilaku seseorang dapat dilihat dari niat mereka untuk menggunakan suatu sistem teknologi informasi. Seseorang akan menggunakan sistem jika mereka percaya bahwa sistem tersebut berguna dalam membantu penyelesaian pekerjaannya. Sebaliknya, jika seseorang merasa bahwa menggunakan sistem tidak membawa dampak yang baik bagi pekerjaanya, mereka tidak akan mengunakan sistem Penggunaan nyata dalam penelitian ini adalah seberapa lama pemakai berinteraksi dengan sistem informasi atau menggunakan sistem tersebut untuk menyelesaikan Use behavior adalah evaluasi pengguna terhadap sistem yang mereka gunakan. Jika pengguna merasa sistem tersebut efektif, penerimaan teknologi informasi dianggap sukses (Utami dan Irwansyah, 2. Akibatnya, jika pengguna merasa bahwa menggunakan layanan ShopeePay dapat meningkatkan produktivitas mereka, mereka akan terus menggunakan layanan tersebut. Indikator pengukurannya, yaitu attitude toward behavior . ikap terhadap perilak. , affect toward use . ikap terhadap penggunaa. , dan affect . Performance Expectancy Venkatesh et al. menjelaskan bahwa performance expectancy memiliki arti berupa sejauh mana seseorang meyakini bahwa penggunaan sistem akan membantunya mencapai peningkatan dalam kinerja pekerjaan. Dalam model tersebut, terdapat beberapa konsep terkait ekspektasi kinerja, seperti persepsi kegunaan (TAM/TAM2 dan C-TAM TPB), motivasi ekstrinsik (MM), kesesuaian pekerjaan (MPCU), keuntungan relatif (IDT), dan ekspektasi hasil (SCT). Menurut (Venkatesh et al. , 2. terdapat beberapa indikator yang kuat dan konsisten dari variabel performance expectancy dalam beberapa penelitian Indikator dari performance expectancy, yaitu perceived usefulness . ersepsi kegunaa. , relative advantage . euntungan relati. , dan outcome expectations . arapan Effort Expectancy Venkatesh et al. menjelaskan bahwa effort expectancy adalah seberapa mudahnya seseorang menggunakan sistem. Ini sejalan dengan konsep yang diuraikan oleh JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. Potensi Shopeepay Sebagai Teknologi Pembayaran Untuk Mendukung Inklusi Keuangan: Pendekatan Model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technolog. Plouffe et al. yang disebutkan dalam penelitian Owusu et al. , bahwa effort expectancy adalah sejauh mana sebuah usaha dipermudah oleh penggunaan teknologi baru. Effort expectancy memiliki konstruk dari beberapa model sebelumnya, yaitu perceived ease of use (TAM/TAM. , complexity (MPCU), dan ease of use (IDT) yang selanjutnya juga menjadi indikator pengukuran variabel, yaitu perceived ease of use . ersepsi terhadap kemudahan penggun. dan ease of use . emudahan penggunaa. Social Influence Venkatesh et al. menjelaskan bahwa social influence adalah seberapa besar seseorang menganggap pentingnya keyakinan orang lain saat mereka menggunakan suatu sistem baru. Social influence ini dilihat sebagai faktor yang langsung mempengaruhi niat perilaku, yang tercermin dalam norma subjektif dalam berbagai teori seperti TRA. TAM2. TPB/DTPB, dan C-TAM-TPB, serta faktor sosial dalam MPCU dan citra dalam IDT. Terdapat tiga indikator yang dapat memprediksi variabel social influence, yaitu subjective norm . orma subjekti. dan social factors . aktor sosia. Facilitating Conditions Venkatesh et al. menjelaskan bahwa facilitating conditions adalah cara untuk menilai sejauh mana seseorang yakin bahwa struktur organisasi dan teknis yang tersedia mendukung penggunaan suatu sistem. Konsep ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu perceived behavioral control . ersepsi terhadap kontrol perilak. dan facilitating conditions . ondisi yang memfasilitas. Kerangka Konseptual dan Hipotesis Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian Pengembangan Hipotesis Pengaruh Performance Expectancy terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z Performance expectancy adalah seberapa yakin seseorang bahwa menggunakan sistem akan meningkatkan kinerjanya dalam pekerjaan (Venkatesh et al. , 2. Dalam konteks ShopeePay, generasi Z yang memiliki performance expectancy akan lebih tertarik menggunakan layanan ini karena mereka mengharapkan ShopeePay dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan efisien dan efektif. Harapan kinerja yang tinggi ini mencakup ekspektasi terhadap kemudahan penggunaan, kecepatan transaksi, dan keamanan layanan yang ditawarkan oleh ShopeePay. Penelitian yang dilakukan oleh Yusuf et al. dan Maharlika . membuktikan bukti empiris bahwa performance expectancy berpengaruh terhadap use behavior dalam JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 menggunakan ShopeePay pada Generasi Z. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H1 : Performance Expectancy berpengaruh terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay Pada Generasi Z Pengaruh Effort Expectancy terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z Effort expectancy merupakan variabel independen kedua dalam penelitian ini yang menjelaskan tingkat kemudahan terkait dengan penggunaan sistem atau tingkat kemudahan dari sebuah usaha sebagai hasil dari penggunaan teknologi baru (Venkatesh et al. , 2. Dalam konteks ShopeePay, generasi Z yang memiliki effort expectancy akan lebih tertarik menggunakan layanan ini jika mereka merasa bahwa ShopeePay mudah digunakan dan tidak memerlukan banyak usaha untuk mempelajari atau mengoperasikannya. Harapan terhadap upaya ini mencakup kemudahan navigasi aplikasi, kejelasan instruksi, dan antarmuka yang ramah pengguna. Penelitian yang dilakukan oleh Sari et al. membuktikan bukti empiris bahwa effort expectancy berpengaruh terhadap perilaku penggunaan ShopeePay pada Generasi Z. Fenomena berbeda ditemukan oleh Kusumaningrum dan Mahardhika . yang menunjukan bahwa effort expectancy tidak berpengaruh terhadap perilaku penggunaan ShopeePay. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H2 : Effort Expectancy berpengaruh terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z Pengaruh Social Influence terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z Social influence didefinisikan oleh Venkatesh et al. sebagai sejauh mana seorang individu menganggap kepercayaan orang lain merupakan hal penting untuk individu tersebut menggunakan suatu sistem baru. Dalam konteks ShopeePay, generasi Z yang memiliki social influence akan lebih cenderung menggunakan layanan ini jika mereka melihat bahwa orang-orang di sekitar mereka, seperti teman, keluarga, atau tokoh-tokoh berpengaruh, juga menggunakan dan merekomendasikan ShopeePay. Pengaruh sosial ini dapat meningkatkan minat dan kepercayaan generasi Z terhadap ShopeePay, sehingga mereka lebih mungkin untuk mulai menggunakan layanan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Fathonah et al. dan Sabila et al. membuktikan bukti empiris bahwa social influence berpengaruh terhadap perilaku penggunaan ShopeePay pada Generasi Z. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H3 : Social Influence berpengaruh terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z Pengaruh Facilitating Condition terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z Venkatesh et al. mendefinisikan facilitating conditions sebagai sebuah tingkat untuk mengukur sejauh mana individu mempercayai bahwa infrastruktur organisasi dan infrastruktur teknis yang ada mendukung niat untuk menggunakan suatu sistem. Dalam konteks ShopeePay, generasi Z yang memiliki facilitating condition akan lebih cenderung menggunakan layanan ini jika mereka merasa bahwa ada cukup banyak fasilitas dan dukungan yang memungkinkan mereka untuk menggunakan ShopeePay dengan lancar. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. Potensi Shopeepay Sebagai Teknologi Pembayaran Untuk Mendukung Inklusi Keuangan: Pendekatan Model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technolog. Semakin baik kondisi yang memfasilitasi ini, semakin besar kemungkinan generasi Z untuk mengadopsi ShopeePay. Penelitian yang dilakukan oleh Angelina dan Yasin . serta Syahnel et al. membuktikan bukti empiris bahwa facilitating condition berpengaruh terhadap perilaku penggunaan ShopeePay pada Generasi Z. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H4 :Facilitating Condition berpengaruh terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Penelitian kuantitatif dipilih karena fokusnya pada pengujian teori melalui pengukuran variabel dengan angka dan analisis statistik untuk menguji hubungan antara variabel yang ada (Sugiyono, 2. Pendekatan deskriptif digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel independen, yaitu performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions, dengan variabel dependen use behavior pengguna ShopeePay. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Surakarta yang termasuk dalam Generasi Z dan telah menggunakan ShopeePay. Sampel ditentukan menggunakan metode convenience sampling, yang memilih individu yang mudah dijangkau (Sugiyono, 2. Sampel penelitian berjumlah 275 responden, dihitung menggunakan rumus Slovin dengan toleransi kesalahan 6%, untuk memastikan hasil yang representatif (Parulian, 2. Data dikumpulkan melalui kuesioner online menggunakan Google Form dengan skala likert untuk mengukur sikap dan persepsi responden terhadap variabel-variabel yang diteliti. Kuesioner ini berisi pernyataan terkait dengan performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, dan use behavior ShopeePay dengan menyesuaikan pernyataan dai penelitian Venkatesh et al. Analisis data dilakukan menggunakan prosedur statistik untuk menguji hubungan antar variabel yang mempengaruhi penggunaan ShopeePay, yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang adopsi teknologi pembayaran digital di kalangan mahasiswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristis Responden Proses pengumpulan data berlangsung selama satu bulan. Jumlah total responden yang mengisi kuesioner adalah 315, dan hanya 275 responden yang valid digunakan untuk sampel akhir data. Data sampel akhir ini diproses dan dianalisis menggunakan aplikasi Smart PLS 3. Pertama, dilakukan analisis data profil responden. Kedua, dilakukan analisis data menggunakan metode SEM-PLS dengan menguji model luar . uter mode. dan model dalam . nner mode. Berdasarkan data profil responden, untuk dua belas fakultas yang ada di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dapat diketahui bahwa semua responden yang mengisi adalah mahasiswa aktif UMS hingga semester gasal 2024/2025. Berdasarkan jenis kelamin, sebagian besar reponden adalah perempuan 80,4% dan sisanya laki-laki 19,6%. Berdasarkan usia, responden terbanyak adalah usia 21 tahun 39,6%, 20 tahun 28%, 19 tahun 16%, 22 tahun 9,1%, 18 tahun 5,5%, 17 tahun 1,5%, dan 23 tahun 0,4%. Lama responden menggunakan aplikasi shopeepay, paling lama adalah 3-4 tahun 45,1%, 1-2 tahun 30,5%, dan > 4 tahun 24,4%. Data profil responden ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Profil Responden Deskripsi Frekuensi (%) Jenis Kelamin Laki-Laki JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Perempuan Total Usia Total Lama Menggunakan ShopeePay < 1 Tahun 1 Tahun - 2 Tahun 3 Tahun - 4 Tahun > 4 Tahun Total Sumber: Data Diolah, 2024 Aplikasi Hasil Uji Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif bertujuan untuk menghimpun, mengolah, dan menganalisis data sehingga dapat menghasilkan informasi yang dapat disajikan secara jelas (Ghozali. Teknik ini digunakan untuk memberikan deskripsi dan gambaran atas variabelvariabel yang digunakan dalam penelitian. Dalam analisis statistik deskriptif, informasi dapat diperoleh dari perhitungan rata-rata . , nilai minimum, nilai maksimum, serta standar deviasi untuk memahami variabel-variabel yang diteliti tersebut. Tabel 2 berikut menyajikan nilai minimum, niali maksimum, rata-rata . , dan standar deviasi untuk masing-masing variabel penelitian, yaitu performance expectancy (Pe. , effort expectancy (Ee. , social influence (Si. , facilitating conditions (Fa. , dan use behavior (Ub. Analisis deskriptif penting untuk memahami karakteristik data sebelum melanjutkan ke analisis Tabel 2. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Standard Mean Minimum Maximum Deviation 2,000 5,000 0,617 Pex1 275 4,476 4,393 2,000 5,000 0,712 Pex2 1,000 5,000 0,949 Pex3 275 4,087 1,000 5,000 0,740 Pex4 275 4,378 2,000 5,000 0,548 Eex1 275 4,473 2,000 5,000 0,658 Eex2 275 4,422 2,000 5,000 0,574 Eex3 275 4,531 2,000 5,000 0,602 Eex4 275 4,564 1,000 5,000 0,956 Sin1 275 3,869 1,000 5,000 0,968 Sin2 275 3,778 4,124 1,000 5,000 0,886 Sin3 JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. Potensi Shopeepay Sebagai Teknologi Pembayaran Untuk Mendukung Inklusi Keuangan: Pendekatan Model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technolog. 1,000 5,000 0,745 Sin4 275 4,229 2,000 5,000 0,571 Fac1 275 4,567 2,000 5,000 0,600 Fac2 275 4,422 2,000 5,000 0,628 Fac3 275 4,305 1,000 5,000 0,710 Fac4 275 4,309 2,000 5,000 0,714 Ubh1 275 4,324 2,000 5,000 0,908 Ubh2 275 4,011 2,000 5,000 0,750 Ubh3 275 4,309 2,000 5,000 0,723 Ubh4 275 4,396 Sumber: Data Diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 2. diketahui bahwa hasil uji statistik deskriptif dengan jumlah sampel (N) sebanyak 245 diketahui pada variabel performance expectancy (Pe. menunjukkan nilai minimum 1 dan 2 hingga nilai maksimum 5 dengan nilai rata-rata tertinggi 4,476 (Pex. dan standar deviasi tertinggi 0,949 (Pex. , sedangkan nilai rata-rata terendah 4,087 (Pex. dan standar deviasi terendah 0,617 (Pex. Variabel effort expectancy (Ee. menunjukkan nilai minimum 2 hingga nilai maksimum 5 dengan nilai rata-rata tertinggi 4,564 (Eex. dan standar deviasi tertinggi 0,658 (Eex. , sedangkan nilai rata-rata terendah 4,422 (Eex. dan standar deviasi terendah 0,548 (Eex. Variabel social influence (Si. menunjukkan nilai minimum 1 hingga nilai maksimum 5 dengan nilai rata-rata tertinggi 4,229 (Sin. dan standar deviasi tertinggi 0,968 (Sin. , sedangkan nilai rata-rata terendah 3,778 (Sin. dan standar deviasi terendah 0. 745 (Sin. Variabel facilitating conditions (Fa. menunjukkan nilai minimum 1 dan 2 hingga nilai maksimum 5 dengan nilai rata-rata tertinggi 4,567 (Fac. dan standar deviasi tertinggi 0,710 (Fac. , sedangkan nilai rata-rata terendah 4,305 (Fac. dan standar deviasi terendah 0,571 (Fac. Variabel use behavior (Ub. menunjukkan nilai minimum 2 hingga nilai maksimum 5 dengan nilai rata-rata tertinggi 4,396 (Ubh. dan standar deviasi tertinggi 0,908 (Ubh. , sedangkan nilai rata-rata terendah 4,011 (Ubh. dan standar deviasi terendah 0,714 (Ubh. Hasil Uji Outer Model (Model Pengukura. Model pengukuran menunjukkan cara setiap blok indikator berinteraksi dengan variabel latennya. Evaluasi model pengukuran melalui analisis faktor konfirmatori dilakukan dengan menggunakan pendekatan MTMM (Multi Trait-Multi iMetho. dengan menguji validity convergent dan discriminant, sedangkan uji reliabilitas dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cronbachAos alpha dan composite reliability (Ghozali dan Latan. Convergent Validity Pada model pengukuran dengan indikator refleksif, validitas konvergen dapat dinilai melalui sejauh mana korelasi antara skor item dengan skor konstruknya. Tingkat korelasi yang mencapai 0,70 menunjukkan tingkat validitas reflektif yang tinggi. Namun, dalam tahap pengembangan skala penelitian, loading antara 0,50 hingga 0,60 masih dapat diterima (Ghozali dan Latan, 2. Tabel 3. Hasil Uji Outer Model (Convergent Validit. Variabel Indikator Loading Factor Keterangan Pex1 0,755 Valid Performance Expectancy Pex2 0,785 Valid (Pe. Pex3 0,709 Valid Pex4 0,802 Valid Eex1 0,793 Valid Effort Expectancy (Ee. Eex2 0,794 Valid JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Eex3 Eex4 Sin1 Sin2 Social Influence (Si. Sin3 Sin4 Fac1 Facilitating Condition Fac2 (Fa. Fac3 Fac4 Ubh1 Ubh2 Use Behavior (Ub. Ubh3 Ubh4 Sumber: Data Diolah, 2024 0,730 0,830 0,838 0,865 0,764 0,755 0,705 0,761 0,714 0,722 0,774 0,785 0,856 0,827 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Berdasarkan uji convergent validity, hasil penelitian menunjukkan bahwa semua indikator dalam penelitian ini memiliki nilai faktor pemuatan > 0,7, artinya semua indikator memenuhi kriteria validitas konvergen. Discriminant Validity Discriminant validity diuji dengan melihat nilai kriteria Fornell-Larcker. Jika korelasi antara konstruk dan indikatornya lebih tinggi daripada korelasi antara indikator dan konstruk lainnya, maka ini menunjukkan bahwa konstruk laten lebih baik dalam memprediksi indikator di blok mereka daripada di blok lainnya. Tabel 4. Hasil Uji Outer Model (Discriminant Validit. Use Facilitatin Performanc Effort Social Behavi Expectanc Influenc Condition Expectancy y (Ee. e (Si. (Ub. (Fa. (Pe. Use Behavior (Ub. 0,811 Effort Expectancy (Ee. 0,409 0,788 Facilitating Condition 0,532 0,626 0,726 (Fa. Performance Expectancy 0,656 0,544 0,528 0,763 (Pe. Social Influence (Si. 0,684 0,274 0,420 0,573 0,807 Sumber: Data Diolah, 2024 Berdasarkan hasil estimasi Fornell-Larcker pada Tabel 4. menunjukkan bahwa nilai kriteria Fornell-Larcker yang lebih tinggi untuk indikatornya daripada yang lain dan nilainya < 0. 9, yang berarti bahwa semua indikator memenuhi kriteria validitas diskriminan. Reliability Selain menguji validitas, pengukuran model juga perlu untuk mengevaluasi reliabilitas suatu konstruk. Uji reliabilitas dilakukan untuk memastikan bahwa instrumen pengukuran konstruk tersebut akurat, konsisten, dan tepat. Dalam PLS-SEM menggunakan program JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. Potensi Shopeepay Sebagai Teknologi Pembayaran Untuk Mendukung Inklusi Keuangan: Pendekatan Model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technolog. SmartPLS 3. 0, reliabilitas suatu konstruk dengan indikator reflektif dapat dievaluasi menggunakan dua metode, yaitu cronbach's alpha dan composite reliability. Suatu konstruk dianggap reliable jika nilai dari composite reliability dan cronbach's alpha melebihi 0,70 (Ghozali dan Latan, 2. Tabel 5. Hasil Uji Outer Model (Reliabilit. Cronbach's Composite Alpha Reliability Use Behavior (Ub. 0,826 0,885 Effort Expectancy (Ee. 0,796 0,867 Facilitating Condition (Fa. 0,704 0,817 Performance Expectancy 0,761 0,848 (Pe. Social Influence (Si. 0,820 0,882 Sumber: Data Diolah, 2024 Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa nilai composite reliability dan cronbachAos alpha setiap variabel > 0. 7, sehingga variabel use behavior, effort expectancy, facilitating condition, performance expectancy, dan social influence dinyatakan reliabel. Hasil Uji Inner Model (Model Struktura. R-Square Dalam mengevaluasi model struktural, pertama-tama dinilai R-Square untuk setiap variabel laten endogen sebagai indikator keefektifan prediksi dari model struktural tersebut. Pengujian terhadap model struktural dilakukan dengan melihat nilai R-Square yang merupakan uji goodness-fit model. Perubahan nilai R-Square dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel laten eksogen tertentu terhadap variabel laten endogen apakah mempunyai pengaruh yang substantif. Nilai R-Square 0,75, 0,50 dan 0,25 dapat disimpulkan bahwa model kuat, moderate dan lemah (Ghozali dan Latan, 2. Tabel 6. Hasil Uji Inner Model (R-Squar. Square R Square Adjusted Use Behavior 0,597 0,591 (Ub. Sumber: Data Diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 6. dapat disimpulkan bahwa nilai Adjusted R2 untuk variabel dependen use behavior sebesar 0,591. Hal ini berarti performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions mampu menjelaskan use behavior sebesar 59,1%, sisanya 40,9% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian. Q-Squre (Q. Uji Q-Square bertujuan untuk menilai seberapa baik model dapat diprediksi. Proses pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode blindfolding. Terdapat dua pendekatan untuk menghitung nilai QA, yaitu cross-validated redundancy dan crossvalidated communality. Pendekatan pertama, cross-validated redundancy, umumnya lebih direkomendasikan untuk mengeksplorasi relevansi prediktif dari model jalur PLS (Partial Least Square. Sebagai panduan umum, nilai Q2 yang lebih besar dari nol untuk suatu konstruk endogen tertentu menunjukkan bahwa akurasi prediktif model jalur tersebut dapat diterima untuk konstruk tersebut (Sarstedt et al. , 2. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Tabel 7. Hasil Uji Inner Model (Q-Squar. SSO Use Behavior (Ub. 1100,000 SSE 678,509 1100,000 1100,000 QA (=1SSE/SSO) 0,383 Effort Expectancy (Ee. Facilitating Condition 1100,000 1100,000 (Fa. Performance Expectancy 1100,000 1100,000 (Pe. Social Influence (Si. 1100,000 1100,000 Sumber: Data Diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 7. diperoleh nilai Q2 sebesar 0,383 lebih besar dari nol. Oleh karena itu, model tersebut telah memenuhi relevansi prediktif, yang menunjukkan bahwa model telah direkonstruksi dengan baik. Hasil Uji Hipotesis Secara umum. PLS sering digunakan dalam penelitian explanatory research untuk menguji hipotesis dengan menganalisis nilai t-statistik dan probabilitasnya. Prosedur bootstrapping dilakukan untuk mengevaluasi signifikansi hubungan antar variabel, dimana seluruh sampel awal digunakan untuk resampling. Meskipun beberapa literatur merekomendasikan menggunakan 200-1000 samples bootstrap sebagai cukup untuk mengoreksi estimasi kesalahan standar PLS (Ghozali dan Latan, 2. , disarankan 000 samples bootstrap jika sampel asli lebih kecil dari jumlah tersebut. Gambar 2. Path Diagram Hasil Output Pengujian Hipotesis JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. Potensi Shopeepay Sebagai Teknologi Pembayaran Untuk Mendukung Inklusi Keuangan: Pendekatan Model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technolog. Tabel 8. Hasil Uji Hipotesis Origin T Statistics (|O/STDEV Sample (O) H Performance Expectancy (Pe. E Use 0,310 4,204 Behavior (Ub. H Effort Expectancy (Ee. E Use 0,008 0,136 Behavior (Ub. H Social Influence (Si. E Use Behavior 0,427 6,444 (Ub. H Facilitating Condition (Fa. E Use 0,184 2,782 Behavior (Ub. Sumber: Data Diolah, 2024 Values Hasil 0,000 Diterim 0,446 Ditolak 0,000 0,003 Diterim Diterim Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan, seperti yang terlihat pada Tabel 8. diketahui bahwa dari empat hipotesis yang dibangun, ada tiga hipotesis yang diterima: H2. H3, dan H4. Sementara itu, satu hipotesis ditolak: H1. Pembahasan Pengujian Pengaruh Performance Expectancy Terhadap Use Behavior dalam menggunakan ShopeePay Pada Generasi Z Hipotesis 1 menunjukkan p-value 0,000 < 0,05 dan t-value 4,204 > 1,96. Hasil ini menunjukkan bahwa performance expectancy berpengaruh pada use behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z, dan H1 diterima. Hal ini berarti semakin tinggi performance expectancy yang dirasakan oleh pengguna, semakin besar kemungkinan mereka untuk menggunakan sistem atau teknologi tersebut secara aktif. Hasil ini sejalan dengan penelitian Yusuf et al. dan Maharlika . , yang menunjukkan performance expectancy berpengaruh terhadap use behavior. Pengujian Pengaruh Effort Expectancy Terhadap Use Behavior Dalam Menggunakan ShopeePay Pada Generasi Z Hipotesis 2 menunjukkan p-value 0,446 > 0,05 dan t-value 0,136 < 1,96. Hasil ini menunjukkan bahwa effort expectancy tidak berpengaruh pada use behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z, dan H2 ditolak. Hal ini berarti bahwa kemudahan penggunaan yang dirasakan oleh pengguna tidak secara signifikan memengaruhi keputusan mereka untuk menggunakan sistem atau teknologi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kusumaningrum dan Mahardhika . , yang menunjukkan effort expectancy tidak berpengaruh terhadap use behavior. Pengujian Pengaruh Social Influence Terhadap Use Behavior Dalam Menggunakan ShopeePay Pada Generasi Z Hipotesis 3 menunjukkan p-value 0,000 < 0,05 dan t-value 6,444 > 1,96. Hasil ini menunjukkan bahwa social influence berpengaruh pada use behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z, dan H3 diterima. Hal ini berarti bahwa social influence, seperti rekomendasi, pendapat, atau tekanan dari orang-orang di sekitar pengguna, dapat secara signifikan memengaruhi keputusan mereka untuk menggunakan suatu sistem atau teknologi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Fathonah et al. dan Sabila et al. yang menunjukkan social influence berpengaruh terhadap use behavior. JURNAL ILMIAH KOMPUTERISASI AKUNTANSI. Vol. No. Desember 2024, pp. n p-ISSN : 1979-116X e-ISSN : 2621- 6248 Pengujian Pengaruh Facilitating Condition Terhadap Use Behavior Dalam Menggunakan ShopeePay pada Generasi Z Hipotesis 4 menunjukkan p-value 0,003 < 0,05 dan t-value 2,782 > 1,96. Hasil ini menunjukkan bahwa facilitating condition berpengaruh pada use behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z, dan H4 diterima. Hal ini berarti bahwa facilitating condition, seperti infrastruktur, pelatihan, atau panduan penggunaan, secara signifikan meningkatkan kemungkinan individu untuk menggunakan sistem atau teknologi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Angelina dan Yasin . dan Syahnel et al. yang menunjukkan facilitating condition berpengaruh terhadap use behavior. KESIMPULAN Berdasarkan hasil uji hipotesis dan pembahasan yang dilakukan atas data dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dari empat hipotesis yang dibangun, tiga hipotesis berpengaruh, yaitu: performance expectancy berpengaruh pada use behavior, social influence berpengaruh pada use behavior, dan facilitating condition berpengaruh pada use behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z. Terdapat satu hipotesis tidak berpengaruh yaitu effort expectancy tidak berpengaruh pada use behavior use behavior dalam menggunakan ShopeePay pada Generasi Z. Sesuai dengan hasil analisis penelitian ini, beberapa saran untuk penelitian selanjutnya antara lain adalah menambahkan variabel atau model pendekatan lain, memperluas sampel dengan melibatkan lintas generasi, melakukan penelitian jangka panjang untuk melihat pengaruh faktor-faktor terhadap penggunaan dalam waktu lama, serta membandingkan ShopeePay dengan aplikasi pembayaran digital lainnya. Hal ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penggunaan aplikasi pembayaran digital agar inklusi keuangan juga semakin meningkat. DAFTAR PUSTAKA