Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. April 2019 PERILAKU MASYARAKAT KAJANG DALAM MENGKONSUMSI TUAK PADA ACARA ADAT Muhammad Asri1. Arman2. Andi Asrina3 Magister Kesehatan Masyarakat. Universitas Muslim Indonesia. Makassar . 1,2,3 *E-mail: asriindeks643@gmail. Patria Artha Journal of Nursing Science Vol. , 17-23 Issn: 2549 5674 e-issn: 2549 7545 Reprints and permission: http://ejournal. patria-artha. id/index. php/jns Abstrak Tujuan:Untuk mendapatkan informasi dan menganalisis secara mendalam perilaku masyarakat kajang dalam mengkonsumsi tuak pada acara adat . Metode Penelitian:Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena konsumsi tuak dengan menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam . ndepth intervie. , dan dokumentasi secara terus menerus selama penelitian berlangsung dan informan penelitian adalah masyarakat kajang yang masih melestarikan tradisi minum tuak pada acara adat. Hasil:Berdasarkan penelitian bahwa masyarakat kajang mengkonsumsi tuak pada acara merupakan suatu hal yang biasa saja untuk melestarikan kebiasaan nenek moyang mereka acara adat tidak akan dilaksanakan tanpa tuak karena tuak sumber kehidupan mereka dan menganggap tuak sebagai air susu ibu dan apabila tuak tidak ada maka acara adat tidak dapat dilaksanakan, jika tidak melaksanakan adat maka akan dikenakan sanksi sosial berupa dikucilkan karena dianggap tidak mematuhi aturan adat. Kata kunci: Tuak. Tradisi. Kajang. PENDAHULUAN Indonesiadengan kekayaan suku, tradisi, budaya, memunculkan kebiasaan yang beragam pada setiap tingkatan generasi yang senantiasa dilestarikan Begitupun kebiasaankebiasaan yang pada masyarakat umum dianggap sebagai hal yang melanggar etika, namun pada masyarakat tertentu kebiasaan tersebut merupakan suatu Salah satunya kebiasaan keharusanpada setiap acara adat masyarakat Kajang Tidak hanya di Indonesia bahkan seluruh dunia mengenal apa yang disebut dengan Muhammad Asri. Arman. Andi Asrina Minuman merupakan minuman yang memabukkan dan dapat membahayakan. Meskipun tuak mengandung unsur alkohol namun pada masyarakat Kajang, acara adat tidak lengkap jika tanpa sajian tuak didalam acara tersebut. Bagi masyarakat Kajang konsumsi tuak merupakan hal yang biasa yang sudah dilakukan sejak dahulu oleh nenek moyang mereka dan dilestarikan dalam kehidupan mereka. Meskipun tuak mengkomsumsinya tetapi belum pernah terjadi perpecahan antar masyarakat Kajang karena minuman tersebut. Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. April 2018 Minuman minuman yang mengandung alkohol, diproses secara turun-temurun . enurut tradis. dari bahan hasil pertanian yang peragian,penyulingan atau dengan cara lain yang menyebabkan peminum atau pemakainya dapat mabuk. Salah satu jenis minuman keras tradisional yang marak di Kecamatan Kajang adalah jenis tuak. Tuak memabukkan yang merupakan hasil fermentasi dari bahan minuman atau buah yang mengandung gula atau dari sari pati Minuman ini dibuat dan dikemas secarasederhana serta menjadi sajian utama dalam jamuan acara adat istiadat masyarakat Kajang. Minum tuakdianggap sebagai hal masih tabu bagi sebagian masyarakat umum, tetapi lain halnya dengan masyarakat Kajang, mengkonsumsi terutama dalam acara adat istiadat. Kebiasaan konsumsi tuak merupakan suatu gejala fenomena sosial yang mempunyai dimensi atau aspek kajian yang sangat luas atau kompleks dan dapat ditinjau dari berbagai persfektif . udut pandang Menurut Soerjono Soekanto. masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur Mengkonsumsi tuak merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Kajang, yang terus dilestarikan Kajang meyakini bahwa tuak merupakan AoAoAir Susu IbuAoAo yang ada sejak manusia ada di dunia, selain meminum tuak melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka, meminum tuak merupakan obat bagi masyarakat Kajang. Salah satu faktor perilaku konsumsi tuak dipengaruhi oleh factor persepsi kepada tuak memiliki dampak positive terhanap tubuh. Selain itu tuak dianggap dapat meningkat rasa solidaritas, gotong royong yang sangat tinggi, tuak juga sebagai penambah Muhammad Asri. Arman. Andi Asrina stamina dalam bekerja, serta tuak dilegalkan dalam acara adat istiadat Kajang. Meskipun di legalkan dalam acara adat istiadat tetapi tidak semua bisa mengkonsumsi tuak tersebut, hanya lakilaki yang berumur 17 tahun keatas atau sudah menikah, akan tetapi banyak pada kenyataannya banyak remaja dibawah usia 17 tahun yang konsumsi tuak. Munculnya didorong oleh factor persepsi,kebiasaan, tradisi dan ,sikap yang telah terbentuk oleh masyarakat Kajang sejak mereka METODE Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Bulukmba. Provinsi Sulawesi Selatan, pada September 2018. Penelitian ini menggunakanmetode kualitatif yang mengenai perilaku masyarakat kajang dalam mengkonsumsi tuak pada acara adat melalui wawancara mendalam . ndepth dokumentasi secara terus menerus selama penelitian berlangsung dan informan penelitian adalah masyarakat kajang yyang melestarikan adat. Sumber data adalah Informan biasa sebanyak 7 orang, informan pendukung sebanyak 3 orang dan informan kunci sebanyak 2 HASIL Latar Belakang Informan Informan Tokoh Usia Pendidikan Tamat SMA Tamat SMP Tamat SMA Kepala Desa Kepala Desa Tamat SMA SMA Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. April 2018 Pihak Kecamatan Tokoh Adat SMA Tabel tersebut menggambarkan tentang informan berada antara 20-55 tahun. Satu dari dari dua belas informan berjenis Adapun belakang pendidikan sangat bervariatif, yaitu SMP. SMA. S1sampai S2. Tradisi masyarakat Kajang mengenai konsumsi tuak pada acara adat Hasil wawancara mengidentifikasi 7informan yang menyatakan bahwa mengkonsumsi tuak pada acara menyadi syarat sahnya sebuah acara adat tanpa tuak acara adat tidak terlaksana (SK. JM. RM. NA,R. SA. SS). semua informan memiliki pendapat yang sama terkait konsumsi tuak pada acar adat. Pernyataan ini dapat dilihat pada kutipan berikut :Auinjo tua riolo pa narie hattungna umpa tallasa boheku ka tua a na are boheku kabattuangna katallasangngaAy ( SK,umur 31 Tahun,10 Oktober 2. Autuak a parallu nasaba injo angjari syarana acara ada a battu ri biheku riolo, punna angre tua angre na angjari ada aAy . nforman N,Umur 22 Tahun,10 Oktober 2. Hal yang sama juga diungkapkan oleh RM bahwa : AuBattu ri bohe ku,tau ri oloku,ka na are i tua ere katallassangnga jari parallu i rie tua punna ngadaki. punna angre tyak ri acara ada a ni denda, bebda injo ri pangsulu battu ri asselena abborongnga arurung ammatoaAy . nforman RM,umur 20 tahun,7 oktober 2. Hal informan A bahwa : Muhammad Asri. Arman. Andi Asrina dilaksanakan apabila tidak ada tuak karena tuak merupakan awal mulakehidupan masyarakat kajang sehingga masyarakat kajang perlu menyediakan tuak dalam acara adat sebagai minuman kesukaan nenek mereka(A,umur 41,10 Oktober 2. Informan TAmengatakan bahwa: tuak memang menjadi salah satu minuman khas masyrakat kajang dalm pelaksanaan acara adat tanpa tuak acara adat tidak akan dilaksanakan dan akan di kucilkan PEMBAHASAN Tradisi mengenai pada acara adat Berdasarkan dilakukan kepada Informan, tradisi merupakan salah satu faktor yang utama sehingga masyarakat kajang mengkonsumsi tuak pada acara adat karena merukan warisan leluhur masyara kat kajang dimana anak cucu melestarikannya sampai saat ini sebagai bentuk menghargai nenek Tradisi mengkonsumsi tuak pada cara adat sudah ada sejak dahulu kala dimana sejarah tuak tiu muncul bahwa pada suatu hari dimana makanan susah untuk di dapatkan, bahkan pada saat itu banyak anak-anak yang kekuranga gizi, suat ketika ada seorang ibu air susunya jatuh ketanah ibu tersebut terus menangisi air susu tersebut karena makanan untuk anaknya jatuh ketanah sehinga ibu berinisiatif menimbul air susu tersebut, pada air susu tersebut tumbuhlah pohon aren yang Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. April 2018 sampai saat ini di pelihara oleh menghasilkan tuak yang disediakan Masyarakat mengangap bahwa tuak itu sebagai air sumber kehidupan sehingga wajib ada dalam setiap tradisi yang berlangsung tanpa tuak acara tidak akan dilaksanakan, tuak di tempat tersendiri di setiap acara adat, tuak di konsumsi dengan bersumber dari alam misalnya dari tempurung kelapa dan bambu yang mengutamakan hidup sederhana dan masih tradisional. Berdasarkan penelitian dengan masyarakat mengatakan bahwa tradisi nenek moyang merupakan akan tetap di lestariakan, tradisi tidak lengkap tanpa adanya minuman tuak tersebut, tradsi bisa dilakukan jika ada tuak sebagai karena tuak sumber kehidapan masyarakat kajang, tuak menjadi tanggapan masyarakat bahwa tuak itu air susu ibu, selain itu tuak Mengkonsumsi tuak pada acara adat menggunakan lambang kesederhanaan karena menghargai alam. Hal ini terbukti demi tersedianya tuak dalam acara adat masyarakat kajang memproduksi sendiri minuman tersebut karena banyak pohon aren yang tumbuh liar di kecamatan kajang. Syarat ungkapan tokoh adat bahwa tuak ada dalam acara adat merrupakan Muhammad Asri. Arman. Andi Asrina suatu keharusan kareena ini masyarakat kajang sehingga acara adat tidak akan di laksanakan tanpa tuak, jika tidak ada tuak dianggap acara biasa saja bukan acara adat, sanksinya dapat berupa pengucilan dari masyarakat karena dianggap tidak mematuhi aturan adat. Hal inipun dikuatkan oleh pihak kecamatan mengungkapkan bahwa tradisi kajang tidak bisa dipisahkan dari tuak banyak pandangan positiv masyarakat kajang tentang tuak sehingga acara adat tidak bisa dipisahkan dari tuak dan masyarakat kajang akan tetap melestarikannya. Penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Riskiyani Dkk, 2015. di Toraja Utara mengenaiAspek minumanBeralkohol . kabupatenToraja Mengatakan menyediaka tuak pada acara adat tradisinya dan termasuk minuman yang khas mereka dan begitupun Kajang melestarikan tradisi mengkonsumsi tuak pada setiap acara adat yang Penelitian ini sejalan dengan teori (Setiawan 2. yang mengatakan tradisi merupakan adat kebiasaan turun-temurun dari sebagai keturunannya. Sejalan dengan penelitian Asrina . mengenai tradisi Buton mengungkapkan bahwa sesuatu hal yang dilaksanakan oleh masyarakat sekarang ini Patria Artha Journal of Nursing Science. Vol. No. April 2018 moyang sebagai pendahulunya kearifan lokal. Berdasarkan di lapangan masyarakat kajang mengkonsumsi tuak pada acara adat karena berawal dari kebiasaan nenek moyang mereka yang sudah mendarah daging bagi masyarakat kajang sehingga akan tetap melestarikan acara adat sebagai bagian dari tradisi dan menghargai nenek moyang mereka KESIMPULAN Kesimpulan pada penelitian ini bahwa Tradisi mengenai konsumsi tuak pada acara adat, masyarakat kajang tetap melestarikan tradisi nenek moyang mereka menyediakan tuak pada setiap acara adat karena merupakan syarat sahnya suatu acara adat dan di katakan bukan acara adat apabila tidak ada tuak Penelitian hendaknya masyarakat kajang tidak mengkonsumsi tuak dalam jumlah yang berlebihan karena memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Daftar Pustaka Andi Asrina. Palusturi S. Andayani E, dkk. Culture adn Health Buton Society of Baubau City Southeast Sulawesi Anonim. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi 3. Balai Pustaka. Jakarta. Afrizal. Metode Penelitian Kualitatif. Sebuah Upaya Mendukung Penelitian Kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Edisi 1 Cetakan Keempat. Rajawali Pers. Depok. Muhammad Asri. Arman. Andi Asrina Ali Yunahar, 2016. Tradisi Minum Tuak Dalam Masyarakat Kutanace (Studi Kasus Kecamatan Lawe SigalaGala Aceh Tenggara Dan Kaitannya Dengan Qanun No. 6 Tentang Jinaya. Skripsiuin Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh Arnoldus Aprianus, 2017. Fenonena Perilaku Mengkonsumsi Minuman Keras Mahasiawa Program S-1 Kesehatan Masyarakat. Jurnal Formil (Forum Ilmia. Kesmas Respati. Volume 2. Nomor 1. April Aswar S, 2013. Sikap Manusia. Teori dan Pengukurannya. Pustaka