ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 E-ISSN 2987-9175 | P-ISSN 2987-9183 Website: https://ejurnal-unisap. id/index. php/abdiunisap/index Email: ejurnal. abdiunisap@gmail. PELATIHAN BAHASA INGGRIS DASAR BAGI PELAKU WISATA DI KAWASAN AIR TERJUN OENESU Rozita Yusniaty Lodo1. Agnes O. Manek2. Mansuetus Mola3. Chamelya V. C Sene4. Antonia Tefa5 Universitas San Pedro1,2,3,4,5 Email Korespondensi: lodorozitayusniaty@gmail. comuO Info Artikel Histori Artikel: Masuk: 08 Mei 2025 Diterima: 04 Juni 2025 Diterbitkan: 05 Juni 2025 Kata Kunci: Pelatihan. Bahasa Inggris Dasar. Pelaku Wisata. Pengabdian Masyarakat. Air Terjun Oenesu. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar berbahasa Inggris pelaku wisata lokal di kawasan Air Terjun Oenesu. Kabupaten Kupang. Kawasan ini memiliki potensi wisata alam yang tinggi, namun belum diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia dalam memberikan pelayanan prima, terutama kepada wisatawan mancanegara. Kegiatan pelatihan dilakukan selama satu hari dengan pendekatan kualitatif partisipatif, melibatkan peserta secara aktif dalam simulasi percakapan, diskusi, dan praktik langsung situasi wisata. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan adanya peningkatan antusiasme, kesadaran, dan kepercayaan diri peserta dalam menggunakan ungkapan-ungkapan dasar bahasa Inggris. Kegiatan ini terbukti menjadi strategi pemberdayaan yang efektif dalam pengembangan kapasitas masyarakat lokal. Diharapkan program ini dapat menjadi model pelatihan yang replikatif untuk kawasan wisata lainnya di Nusa Tenggara Timur. This is an open access article under the CC BY-SA license. PENDAHULUAN Pariwisata merupakan sektor strategis dalam pembangunan ekonomi lokal maupun nasional. Pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan destinasi wisata unggulan yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur. Salah satu destinasi yang potensial untuk dikembangkan adalah kawasan Air Terjun Oenesu di Kabupaten Kupang. Keindahan alamnya yang asri serta letaknya yang relatif mudah dijangkau menjadikan lokasi ini sebagai salah satu tujuan wisata favorit, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya diiringi oleh kesiapan sumber daya manusia, khususnya pelaku wisata lokal, dalam hal pelayanan berbasis komunikasi lintas bahasa. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa mayoritas pelaku wisata di sekitar kawasan Oenesu belum memiliki keterampilan dasar dalam berbahasa Inggris. Hal ini menjadi kendala utama dalam memberikan informasi, menyapa tamu, atau menjelaskan potensi wisata kepada wisatawan asing. era globalisasi, keterampilan bahasa, terutama bahasa Inggris sebagai lingua franca internasional, merupakan modal penting dalam meningkatkan daya saing pariwisata lokal. Masalah ini menjadi akar persoalan yang harus segera dicari solusinya secara kolaboratif dan berbasis kebutuhan riil Urgensi dari kegiatan pelatihan ini diperkuat oleh pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menekankan partisipasi aktif dalam peningkatan kapasitas diri. Seperti diungkapkan Chambers . , masyarakat sebaiknya tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi subjek yang berdaya dan terlibat dalam proses transformasi sosial. Dalam konteks ini, pelatihan bukan sekadar transfer ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 ilmu, tetapi juga ajang pemberdayaan untuk membangun kepercayaan diri, membuka kesadaran baru, serta menumbuhkan motivasi belajar jangka panjang. Literatur terdahulu mendukung relevansi program ini. Studi oleh Sukardi . di kawasan Ubud. Bali menunjukkan bahwa pelatihan bahasa Inggris berbasis simulasi situasional meningkatkan keterampilan komunikasi pelaku wisata secara signifikan. Yusuf dan Hartono . dalam kajiannya di kawasan Danau Toba juga menemukan bahwa pelatihan yang bersifat praktis, kontekstual, dan komunikatif mampu mempercepat adaptasi bahasa peserta pelatihan. Kedua studi ini menunjukkan efektivitas pendekatan partisipatif dalam pelatihan bahasa untuk masyarakat dewasa. Namun, berbeda dari studi-studi sebelumnya, kegiatan ini memiliki kebaruan karena dirancang khusus untuk konteks komunitas pelaku wisata Oenesu. Modul pelatihan disusun berdasarkan interaksi khas yang sering mereka alami: menyambut wisatawan, memberikan petunjuk arah, menjelaskan objek wisata, hingga melayani transaksi sederhana. Dengan pendekatan yang mengutamakan praktik langsung dan relevansi kontekstual, pelatihan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata peserta dan meningkatkan daya guna materi yang diberikan. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan dasar berbahasa Inggris pelaku wisata di kawasan Air Terjun Oenesu melalui pelatihan berbasis praktik dan partisipasi Pelatihan ini diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, relevan, dan aplikatif, sehingga peserta merasa termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa Manfaat dari kegiatan ini tidak hanya dirasakan secara individual oleh peserta pelatihan, tetapi juga berdampak luas bagi komunitas. Pelaku wisata yang lebih percaya diri dan mampu berbahasa Inggris akan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik, membangun citra positif daerah, dan membuka peluang ekonomi baru berbasis pariwisata. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam penguatan kapasitas masyarakat melalui riset terapan dan pengabdian berkelanjutan. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode partisipatif yang mengutamakan keterlibatan aktif peserta dalam setiap tahapan Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap kondisi, kebutuhan, dan perubahan yang terjadi pada mitra selama pelatihan berlangsung. Menurut Creswell . , pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami pengalaman subjektif peserta serta menganalisis fenomena dalam konteks sosial dan budaya yang spesifik. Subjek kegiatan pengabdian adalah para pelaku wisata yang terlibat langsung dengan wisatawan di kawasan Air Terjun Oenesu. Kabupaten Kupang. Mereka terdiri dari pengelola wisata, penjaga tiket, pedagang, dan warga lokal yang aktif dalam aktivitas wisata sehari-hari. Sebanyak 15 peserta dipilih secara purposif berdasarkan keterlibatan mereka dalam industri pariwisata setempat. Pemilihan sampel purposif ini sesuai dengan pendekatan yang disarankan oleh Patton . , yang menyatakan bahwa sampel purposif memungkinkan pemilihan individu yang dianggap paling relevan dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian kualitatif. Pelaksanaan kegiatan berlangsung dalam satu hari, yaitu pada tanggal 10 Maret 2025, di balai desa yang berlokasi dekat dengan Air Terjun Oenesu. Kegiatan dimulai pukul 09. 00 dan berakhir pada pukul 15. 00 WITA. Proses pelatihan difasilitasi oleh tim dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang berkompeten dalam bidang pengajaran bahasa Inggris praktis. Fasilitator menggunakan metode pembelajaran komunikatif yang difokuskan pada interaksi langsung dan praktik berbasis situasi nyata, seperti yang dijelaskan oleh Littlewood . , yang menekankan pentingnya pembelajaran berbasis komunikasi dalam meningkatkan keterampilan bahasa asing. ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 Tahapan pelaksanaan terdiri dari beberapa tahap penting. Tahap pertama adalah persiapan, yang meliputi observasi lapangan dan diskusi dengan perangkat desa untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan. Selanjutnya, modul pelatihan disusun berdasarkan hasil observasi dan kebutuhan yang teridentifikasi. Dalam tahap kedua, yaitu pelaksanaan pelatihan, peserta terlibat dalam sesi pelatihan yang dibagi menjadi empat bagian utama: sapaan dan perkenalan, pemberian arah, deskripsi objek wisata, dan transaksi sederhana. Dalam setiap sesi, metode yang digunakan adalah simulasi, diskusi kelompok kecil, dan praktik langsung. Hal ini mengacu pada konsep Pembelajaran Aktif (Active Learnin. yang dikemukakan oleh Bonwell dan Eison . , di mana peserta belajar lebih efektif melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Tahap keempat yakni Dokumentasi kegiatan dan wawancara evaluatif. Di akhir pelatihan, peserta diberi kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajari. Umpan balik dan kesan peserta diperoleh melalui wawancara dan diskusi kelompok. Tindak lanjut dilakukan dengan memberikan bahan ajar cetak dan membentuk grup komunikasi untuk mendukung praktik berkelanjutan setelah pelatihan selesai. Langkah ini didasarkan pada prinsip Pembelajaran Berkelanjutan yang disarankan oleh Hativa . , di mana pembelajaran tidak berhenti setelah pelatihan, melainkan terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Secara garis besar prosedur pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut. Gambar 1. Prosedur Pelaksanaan Kegiatan PKM Indikator keberhasilan kegiatan ini mencakup partisipasi aktif peserta, peningkatan pemahaman dan penggunaan bahasa Inggris dasar dalam interaksi, serta respons positif terhadap materi yang Kriteria keberhasilan ini mengacu pada studi yang dilakukan oleh Norris . , yang menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan bahasa asing dalam konteks nyata sangat bergantung pada praktek langsung dan umpan balik yang konstruktif. ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 Untuk mendukung pengumpulan data kualitatif, digunakan panduan observasi partisipatif dan lembar wawancara terbuka. Panduan observasi mencakup indikator kemampuan komunikasi peserta dalam menyambut wisatawan, menjelaskan destinasi, dan menggunakan ekspresi bahasa Inggris Sementara lembar wawancara digunakan untuk menggali persepsi dan pengalaman peserta setelah pelatihan. Keberhasilan kegiatan diukur melalui indikator seperti peningkatan partisipasi aktif peserta dalam praktik bahasa, kemampuan menggunakan ekspresi komunikasi wisata yang sederhana, serta respons positif peserta terhadap pelatihan. Indikator ini dinilai secara deskriptif melalui observasi dan wawancara selama kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pelatihan bahasa Inggris dasar yang dilaksanakan selama satu hari menunjukkan hasil yang cukup signifikan dalam peningkatan pengetahuan praktis dan kepercayaan diri peserta. Sebelum pelatihan dimulai, sebagian besar peserta menyampaikan bahwa mereka belum pernah mendapatkan pelatihan bahasa Inggris, serta merasa kesulitan dalam menyambut atau berkomunikasi dengan wisatawan asing. Namun, melalui pendekatan simulasi dan praktik langsung, peserta mulai menunjukkan perkembangan positif. Selama kegiatan berlangsung, pengamatan lapangan menunjukkan bahwa peserta sangat antusias mengikuti setiap sesi. Pada sesi sapaan dan perkenalan, peserta mampu mengucapkan frasa seperti AuWelcome to Oenesu WaterfallAy dan AuMay I help you?Ay meskipun dengan pelafalan Keaktifan meningkat saat peserta diajak untuk berinteraksi dalam skenario simulatif seperti memberikan petunjuk arah atau menjelaskan tempat wisata. Beberapa peserta bahkan dapat menyusun kalimat seperti AuThis way to the waterfallAy atau AuTicket is twenty thousand rupiahsAy dengan bimbingan ringan dari fasilitator. Situasi ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran kontekstual sangat efektif dalam mendukung penguasaan bahasa asing untuk tujuan praktis. Dalam sesi refleksi, peserta menyatakan bahwa pelatihan ini sangat membantu mereka dalam memahami pentingnya komunikasi dasar dalam bahasa Inggris. Sebagian besar menyampaikan keinginan untuk mengikuti pelatihan lanjutan dan merasa lebih siap menyambut wisatawan asing setelah mengikuti kegiatan ini. Mereka juga mulai menyadari bahwa kemampuan bahasa Inggris menjadi nilai tambah dalam menunjang daya tarik kawasan wisata. Perubahan kondisi peserta sebelum dan sesudah pelatihan juga tampak dari meningkatnya kepercayaan diri mereka untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Jika sebelumnya mereka merasa ragu dan malu, setelah pelatihan mereka menunjukkan keberanian untuk mencoba menyapa dan memberikan informasi kepada wisatawan asing. Ini menunjukkan bahwa pelatihan yang singkat namun intensif dapat memberikan dampak positif dalam waktu terbatas. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukardi . dan Yusuf & Hartono . yang menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik dan simulasi situasional dapat meningkatkan kemampuan komunikasi pelaku wisata. Pendekatan yang sederhana, relevan dengan konteks lokal, dan mendorong partisipasi aktif terbukti lebih efektif dibandingkan pelatihan yang bersifat teoritis. Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia pariwisata, kegiatan ini dapat dijadikan contoh intervensi yang efektif dan aplikatif. Secara umum, kegiatan pengabdian ini berhasil memenuhi tujuannya, yaitu membekali pelaku wisata dengan kemampuan dasar bahasa Inggris yang dapat langsung diterapkan dalam situasi nyata. Respon peserta yang positif menjadi indikator penting bagi keberlanjutan program serupa di masa Pelaksanaan pelatihan selama satu hari di Desa Oenesu berhasil melibatkan 25 peserta, yang terdiri dari pengelola destinasi wisata, pemuda desa, dan pelaku UMKM. Pelatihan berlangsung interaktif dengan metode praktik langsung dan diskusi kelompok kecil. Berdasarkan observasi dan ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat | Volume 3. Nomor 1. Juni 2025 evaluasi sederhana, sekitar 88% peserta menunjukkan peningkatan pemahaman dan kepercayaan diri dalam menggunakan ungkapan dasar Bahasa Inggris setelah mengikuti sesi simulasi. Rincian tanggapan peserta terhadap efektivitas pelatihan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Respon Peserta terhadap Pelatihan Aspek Materi mudah dipahami Pelatihan relevan dengan kebutuhan peserta Peningkatan kepercayaan diri dalam berbahasa Inggris Sangat Setuju (%) Setuju (%) Beberapa kutipan langsung dari peserta turut memperkuat efektivitas kegiatan ini. Salah satu peserta menyatakan. AuSaya jadi tahu cara menyambut wisatawan dengan kata-kata yang sopan dalam bahasa Inggris. Ay Sementara itu, peserta lainnya mengungkapkan. AuModulnya ringkas dan mudah Saya ingin ada pelatihan lanjutan. Ay Pernyataan-pernyataan tersebut mencerminkan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh peserta dalam peningkatan keterampilan berbahasa Inggris yang kontekstual. Selain respons positif secara verbal, dokumentasi kegiatan juga menunjukkan antusiasme tinggi dan kolaborasi aktif antar peserta selama sesi praktik. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat keterampilan individual, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya penguasaan bahasa Inggris sebagai penunjang pengembangan potensi wisata lokal. Temuan ini sejalan dengan Yuliana . yang menekankan bahwa pelatihan yang dirancang berdasarkan kebutuhan lokal terbukti lebih efektif dalam membangun kapasitas dan kemandirian masyarakat. PENUTUP Kegiatan pelatihan Bahasa Inggris untuk pariwisata di Desa Oenesu berhasil meningkatkan kesadaran dan kemampuan dasar berkomunikasi dalam konteks layanan wisata bagi masyarakat lokal. Intervensi singkat ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis kebutuhan nyata masyarakat dapat menjadi strategi efektif dalam mendukung potensi pariwisata berbasis komunitas. Sebagai tindak lanjut, disarankan agar pelatihan tidak berhenti pada tahap pengenalan, tetapi dikembangkan ke arah program berkelanjutan. Pengembangan modul digital interaktif yang dapat diakses secara mandiri oleh masyarakat serta pemanfaatan media audio-visual berbasis lokal . isalnya video simulasi pelayanan wisata dalam Bahasa Inggri. dapat menjadi inovasi penting. Selain itu, pelibatan generasi muda dalam pelatihan berbasis proyek . roject-based learnin. dapat memperluas dampak dan keberlanjutan program ini. DAFTAR PUSTAKA