Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Analysis of the Concept and Implementation of Islamic Religious Education in the Merdeka Curriculum: Case Study at AnNurmaniyah Tangerang High School Muhammad Arifin Rahmanto1. Lulu Thukmaidah Pakpahan2. Khoirunnisa Luthfi Afifah3. Siti Fatimatuz Zahra4. Khoirunnisa Febryanti5 Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA. Article History: Received: 20/1/2025 Revised: 7/2/2025 Accepted: 17/3/2025 Published: 26/4/2025 Keywords: Islamic Religious Education. Character Development. Curriculum Kata Kunci: Pendidikan Agama Islam. Pengembangan Karakter. Kurikulum Correspondence Address: arahmanto@uhamka Islamic religious education is a learning process that aims to apply or realize Islamic teachings and values in everyday life. This is in line with research that shows that Islamic religious education is a conscious effort made by educators to foster and guide students in schools so that after completing their education they are able to understand, appreciate, and practice Islamic teachings. The research method used with descriptive qualitative methods through field research and data collection techniques consisting of observation, interviews and documentation and through triangulation analysis. The results showed that the Islamic Religious Education Curriculum at An-Nurmaniyah Tangerang High School has a significant impact on character development and understanding of students' Islamic values. With a more flexible approach, this curriculum allows students to be actively involved in the learning process which can strengthen students' faith and morals. Religious education plays an important role in Indonesia's educational landscape. This type of education focuses on character development, especially the cultivation of Akhlakul Karimah . oble characte. in students, which is an important foundation for the development of moral and personal integrity. However, faith-based education not only contributes to students' character building, but also encourages the development of positive traits and performance in teachers, which in turn contributes to increased satisfaction with teachers' teaching effectiveness. Abstrak Pendidikan agama Islam merupakan suatu proses pembelajaran yang bertujuan untuk menerapkan atau merealisasikan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik untuk membina dan membimbing peserta didik di sekolah agar setelah menyelesaikan pendidikannya mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Metode penelitian yang digunakan dengan metode kualitatif deskriptif melalui penelitian lapangan dan teknik pengumpulan data terdiri dari obervasi, wawancara dan dekomentasi serta melalui analisis triangulasi. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Pendidikan Agama Islam di SMA An-Nurmaniyah Tangerang berdampak signifikan terhadap pengembangan karakter dan pemahaman nilai-nilai Islam siswa. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, kurikulum ini memungkinkan siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran yang dapat memperkuat keimanan dan akhlak siswa. Pendidikan agama memegang peranan penting dalam lanskap pendidikan Indonesia. Jenis pendidikan ini menitikberatkan pada pengembangan karakter, khususnya penanaman Akhlakul Karimah . khlak muli. pada peserta didik, yang menjadi landasan penting bagi pengembangan integritas moral dan pribadi. Namun demikian, pendidikan berbasis agama tidak hanya berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa, tetapi juga mendorong pengembangan sifat-sifat dan kinerja positif pada diri guru, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kepuasan terhadap efektivitas pengajaran guru. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam merupakan suatu proses pembelajaran yang dijalankan secara serius untuk menerapkan atau merealisasikan ajaran dan nilainilai Islam dalam kehidupan sehari-hari (Rina Andriyeni, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian (Amril et al. , 2. yang mengatakan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik untuk melakukan upaya pembinaan dan bimbingan kepada peserta didik di sekolah agar setelah menyelesaikan pendidikannya, mereka mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam. Untuk itu dalam penerapannya pendidikan, pengajaran agama Islam tidak hanya memfokuskan pada pemahaman teks-teks suci seperti Al-Qur'an dan hadis, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai universal seperti keadilan, kasih sayang, dan Pemahaman yang harus dipelajari biasanya mencakup studi mendalam tentang sejarah perkembangan Islam, prinsip aqidah . , hukum-hukum fiqh, serta tata cara ibadah yang mengatur kehidupan sehari-hari umat Muslim (Siregar. Hanani. Sesmiarni. Ritonga, & Pahutar, 2. Kembali kepada hakikatnya kualitas suatu mata pelajaran tidak hanya ditentukan oleh mata pelajarannya itu sendiri, tetapi juga ditentukan oleh bagaimana mata pelajaran tersebut dirancang, disusun, dan disampaikan melalui program kurikulum. Kurikulum Merdeka adalah suatu program yang diperkenalkan oleh Kemendikbud yang dimaksudkan untuk mengedepankan kebebasan berpikir peserta didik sekaligus memberikan fleksibilitas kepada guru dalam mengelola pembelajaran (Nursiah. Dwi Ratnasari, 2. Menurut Tea yang dikutip dalam penelitian (Utari & Muadin, 2. program ini bertujuan untuk mewujudkan pendidikan yang berinovasi agar tidak membosankan bagi peserta didik dan guru sehingga menciptakan pembelajaran yang berkualitas, selain itu kurikulum merdeka juga bertujuan untuk menanamkan pengembangan karakter, dan mendorong guru menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan individu siswa (Ledia. Mauli, & Bustam, 2. Perubahan dalam sistem kurikulum pendidikan di Indonesia memiliki tujuan utama untuk memperbaiki mutu Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 pendidikan secara keseluruhan. Selain itu, perubahan ini juga ditujukan untuk bersiap menghadapi tantangan di masa depan dengan melatih siswa agar dapat menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang selalu berkembang (Amelia & Rahmanto, 2. Dalam konteks Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Kurikulum Merdeka dirancang untuk memfasilitasi pemahaman kritis yang relevan dengan tantangan masa kini, sehingga materi yang disampaikan tidak hanya bermanfaat secara akademis, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan nilai-nilai agama dengan perkembangan zaman tanpa mengurangi esensi dari ajaran Islam itu sendiri (Wusthoa & Fadilah, 2. Sejalan dengan hal tersebut, peran guru PAI menjadi semakin krusial dalam memastikan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek teoritis keagamaan, tetapi juga berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik agar selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Guru PAI diharapkan mampu mengintegrasikan ajaran Islam dengan nilai-nilai kebangsaan melalui pendekatan pembelajaran yang holistik, kontekstual, dan aplikatif, serta memberikan keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Guru PAI tidak hanya mentransfer ilmu keagamaan secara tekstual, tetapi juga memberikan ruang eksplorasi bagi peserta didik untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam serta Pancasila secara lebih mendalam. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan mengenai strategi efektif yang dapat diterapkan oleh guru PAI dalam membentuk karakter peserta didik yang religius sekaligus nasionalis, selaras dengan tujuan Kurikulum Merdeka dalam menciptakan pendidikan yang lebih adaptif, relevan, dan transformatif (Kartiwan. Alkarimah, & Ulfah, 2. Pengimplementasian Kurikulum Merdeka di SMA An-Nurmaniyah Tangerang membawa perubahan signifikan dalam metode pembelajaran, yang secara langsung memengaruhi peran guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), meskipun dalam pelaksaannya SMA An- Nurmaniyah pada kurikulum merdeka masih dalam tahap adaptasi. Meski dalam tahap adaptasi, implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. di SMA AnNurmaniyah telah menunjukkan hasil yang hampir sempurna, mencerminkan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 komitmen sekolah dalam mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam proses Namun, penelitian mengenai peran pelajaran PAI berbasis Kurikulum Merdeka dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila masih terbatas dan memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana PAI dapat secara efektif membentuk karakter siswa dalam kerangka Profil Pelajar Pancasila masih menjadi tantangan bagi banyak institusi pendidikan. Selain itu, diperlukan kajian lebih lanjut tentang bagaimana integrasi nilai-nilai keislaman dalam Kurikulum Merdeka dapat mendukung pembelajaran yang lebih holistik dan relevan dengan perkembangan zaman (Mulyadi & Ramadhani, 2. Oleh karenanya, kolaborasi antara guru, kepala sekolah, dan pemangku kepentingan lainnya sangat penting untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan bahwa kurikulum dapat diimplementasikan dengan baik. Fokus pembahasan artikel ini mencakup analisis terhadap konsep dasar Pendidikan Agama Islam dalam Kurikulum Merdeka, strategi implementasi yang dilakukan oleh guru, serta dampak penerapan kurikulum ini terhadap pengembangan karakter dan pemahaman nilai-nilai keislaman siswa. METODE Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara, yang merupakan metode umum dalam penelitian kualitatif deskriptif. Teknik-teknik ini digunakan untuk memperoleh informasi yang mendalam dan langsung dari sumber yang relevan, serta untuk menggali lebih jauh mengenai fenomena yang diteliti melalui wawancara melalui teknik Purposive sampling dengan kelas yang diteliti XII IPA. Bahasa, dan IPS. Penulis mewawancarai beberapa narasumber untuk melengkapi data dan hasil penelitian yang terkait dengan tema penelitian ini. Wawancara dilakukan dengan 1 guru yang mengajar pada mata pelajaran Agama Islam, dengan topik wawancara terkait proses pembelajaran di kelas, termasuk metode dan evaluasi pembelajaran. Selain Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 itu, wawancara juga dilakukan dengan Wakil Kepala Sekolah, mengenai program tahunan sekolah dan kurikulum yang diterapkan di SMA An-Nurmaniyah. Penelitian ini juga didukung oleh data sekunder yang diperoleh melalui studi literatur, seperti buku, jurnal ilmiah, dan artikel yang relevan dengan implementasi Kurikulum Merdeka. Data sekunder ini membantu melengkapi data primer dan memberikan landasan teoritis serta komparatif bagi analisis yang Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, teknik analisis data dilakukan dengan langkahlangkah yang sistematis untuk menginterpretasikan informasi yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan metode kualitatif deskriptif, di mana data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan berbagai narasumber. Metode kualitatif deskriptif merupakan pendekatan penelitian yang bertujuan untuk memahami dan menjelaskan fenomena sosial secara mendalam melalui interpretasi konteks, pengalaman, dan perspektif individu yang terlibat dalam fenomena tersebut yang mana tujuan utama dari metode kualitatif deskriptif adalah untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena yang diteliti (Ardiansyah. Risnita, & Jailani. Hasil observasi dicatat secara rinci, kemudian dianalisis untuk menemukan hubungan antara temuan di lapangan dengan teori yang mendukung. Proses analisis ini juga melibatkan triangulasi sumber, untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan penelitian. Selain itu, penelitian ini didukung oleh data sekunder dari studi literatur, seperti jurnal ilmiah, yang digunakan sebagai referensi untuk memperkuat analisis dan memberikan perspektif yang lebih luas terhadap implementasi Kurikulum Merdeka di SMA An-Nurmaniyah. Metode ini melakukan pendekatan penelitian dengan cara mengharuskan peneliti mengumpulkan data langsung dari lokasi atau situasi nyata (Marcellita Nainggolan et al. , 2. menjelaskan bahwa dalam metode ini, peneliti terjun ke lapangan untuk melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, ataupun Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 mengumpulkan dokumen terkait guna mendapatkan data primer. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami secara mendalam konteks, perilaku, atau interaksi yang terjadi dalam sebuah fenomena, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan akurat mengenai topik yang diteliti. Menurut (D. Wahyudin, 2. menjelaskan bahwa studi lapangan merupakan tahapan penelitian yang dilaksanakan dengan menghimpun sumber kepustakaan, baik primer maupun sekunder. Penelitian ini melakukan klasifikasi data berdasarkan formula penelitian. Dalam penelitian lapangan, data primer diperoleh langsung dari lokasi penelitian. Seperti pendapat dari (Syahrizal & Jailani, 2. data ini dapat dikumpulkan melalui wawancara atau observasi terhadap subjek yang diteliti. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Hasil observasi yang tercatat kemudian dianalisis, dikodekan, dan digunakan untuk mengidentifikasi tema-tema yang relevan dalam penelitian (Elok. Rasmani. Vridge, & Azizah, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Pendidikan Agama Islam Pendidikan agama memegang peran krusial dalam lanskap pendidikan di Indonesia. Jenis pendidikan ini fokus pada pembangunan karakter, terutama pembinaan Akhlakul Karimah . arakter muli. di kalangan siswa, yang menjadi landasan penting bagi pengembangan moral dan integritas pribadi. Tetapi, pendidikan berbasis agama tidak hanya berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa, namun juga mendorong pengembangan atribut dan kinerja positif di kalangan para pendidik, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kepuasan terhadap efektivitas pengajaran guru. Dinamika pendidikan agama di Indonesia memberikan wawasan yang berharga dalam tata kelola pendidikan melalui program pengawasan pendidikan Islam, yang menjadi pedoman bagi lembaga-lembaga dalam mencapai tujuan utama pendidikan Islam, yaitu pembentukan karakter dan integritas etika (C. Wahyudin et al. , 2. Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang ilmunya bersumber dari Al-QurAoan dan Hadis. Al-QurAoan dijadikan sebagai sumber ajaran utama dan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Hadis sebagai data sekunder atau sumber penguatnya yang bertujuan untuk mengarahkan individu menjadi seorang muslim/muslimah yang beriman dan bertakwa (Yarmansyah & Husni, 2. Pendidikan Agama Islam mengajarkan tentang pemahaman nilai-nilai dasar dalam ajaran Islam, seperti aqidah, syariat dan akhlak. Ketiga aspek ini saling berintegrasi dalam kehidupan beragama sehari-hari. Pembelajaran aqidah mencakup usaha untuk memperkuat keimanan kepada Allah Swt (Bukhari, 2. Sormin . menyatakan bahwa secara umum, aqidah berperan sebagai panduan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, serta menjaga hubungan seseorang kepada Allah SWT. Pembelajaran syariat mengacu pada pembelajaran tentang hukum-hukum syariat ibadah, hukum akad, serta hukum-hukum lainnya yang terdapat dalam lingkup fikih. Pembelajaran ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman, praktik, dan penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (Irmayanti. Zulheldi. Samad. Syamsi, & Maulana, 2. Pengajaran akhlak terfokus pada penanaman akhlakul karimah, bagaimana seseorang dapat berkelakuan baik kepada sesama manusia ataupun kepada makhluk lain seperti hewan dan Akhlak yang baik berfungsi sebagai pelindung dalam kehidupan, mencegah tindakan maksiat, serta membentuk karakter yang kuat (Asih, 2. Memahami Pendidikan Agama Islam secara keseluruhan didasarkan pada tiga istilah utama yaitu tarbiyah, taAodib, dan taAolim. Tarbiyah mengacu pada proses pengembangan potensi manusia secara keseuruhan, taAodib berkaitan dengan pembentukan akhlak, dan taAolim menekankan pada transfer ilmu pengetahuan (Firmansyah, 2. Konsep Kurikulum Merdeka Kurikulum merdeka adalah metode pendidikan yang memberi sekolah, guru, dan siswa lebih banyak kebebasan untuk merencanakan dan mengelola Tujuan dari pendeketan ini adalah untuk membuat pengalaman belajar lebih fleksibel dan relevan yang memungkinkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan siswa (Dian Fitra, 2. Menurut (Suryaman, 2. kurikulum merdeka adalah pendeketan pendidikan yang menekankan otonomi dan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 fleksibilitas dalam proses pembelajaran, memungkinkan siswa menentukan jalur pendidikan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Dalam konteks ini, kurikulum berfungsi sebagai pedoman akademik dan juga sebagai alat untuk membangun keterampilan yang sesuai dengan tuntunan dunia kerja. Kurikulum Merdeka Belajar memberikan fleksibilitas yang lebih luas dalam memilih metode belajar yang sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan masing-masing siswa. Dengan pendekatan yang lebih adaptif dan berpusat pada peserta didik, kurikulum ini memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi berbagai strategi pembelajaran yang paling efektif bagi mereka. Melalui kebebasan dalam menentukan materi yang ingin diperdalam, metode pembelajaran yang digunakan, serta proyek-proyek yang relevan dengan kehidupan nyata, siswa menjadi lebih aktif dalam proses belajar dan memiliki motivasi yang lebih tinggi (Khadijah & Riss, 2. Kurikulum merdeka, yang diluncurkan secara luas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia, membawa perubahan besar dalam metode pembelajaran. Menurut Mustapha dkk dalam (Alhayat. Mukhidin. Utami, & Yustikarini, 2. salah satu model pembelajaran abad 21 yang kerap digunakan dalam proses pembelajaran adalah model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL). Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk menganalisis masalah dan menemukan solusi kreatif. Metode ini tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga membangun keterampilan yang relevan dengan kebutuhan modern. Selain itu, fleksibilitas kurikulum ini memungkinkan sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks lokal mereka, yang memungkinkan nilai-nilai lokal dan budaya dimasukkan ke dalam proses pembelajaran, termasuk pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pendidikan berbasis kearifan lokal dengan tidak menyimpang dari ajaran Islam adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik untuk selalu lekat dengan situasi konkret yang mereka hadapi dengan ajaran Islam (Wahidin. Sarbini, & Tabroni, 2. Oleh karena itu. Kurikulum Merdeka tidak hanya memberikan pengetahuan akademik kepada siswa, tetapi juga Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 mendorong mereka untuk menerapkan prinsip agama dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi Kurikulum Merdeka menghadapi tantangan, terutama di sekolah dengan sumber daya terbatas, seperti kurangnya pelatihan guru dan kekurangan fasilitas. Kurikulum ini, bagaimanapun memberikan harapan baru bagi pendidikan Indonesia berkat kerja sama berbagai pihak. Nadiem Makarim selaku Mendikbudristek mengatakan pendidikan karakter merupakan prioritas dalam Merdeka Belajar (Sumilat & Pangalo, 2. Kurikulum Merdeka, didukung peran penting Pendidikan Agama Islam dalam membentuk identitas siswa, memiliki potensi untuk mencetak generasi yang unggul dengan nilai moral yang kuat. Implementasi PAI dalam Kurikulum Merdeka Kurikulum yang diterapkan di SMA An-Nurmaniyah saat ini masih dalam tahap adaptasi. Untuk tahun ajaran 2023-2024, khususnya di kelas 10, sekolah telah mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. Dalam implementasinya, semua siswa kelas 10 diwajibkan untuk mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Tujuan dari pendekatan ini adalah agar para siswa dapat memahami dasar-dasar dari berbagai bidang studi yang diajarkan, sehingga mereka memperoleh pengetahuan yang komprehensif dan mendalam. Tantangan utama dalam implementasi metode pembelajaran inovatif dalam Kurikulum Merdeka Belajar adalah keterbatasan sumber daya dan kurangnya pelatihan guru. Minimnya fasilitas pendukung, seperti teknologi dan bahan ajar, serta kurangnya akses ke media pembelajaran yang variatif menghambat efektivitas penerapan metode inovatif, terutama di lingkungan dengan infrastruktur terbatas. Selain itu, banyak guru yang masih terbiasa dengan metode konvensional kesulitan beradaptasi dengan pendekatan berbasis pengalaman tanpa pelatihan yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan berkelanjutan, workshop, serta dukungan teknis bagi guru, serta peningkatan akses terhadap sumber daya pendidikan yang lebih modern untuk mendukung keberhasilan Kurikulum Merdeka Belajar (Khadijah & Riss, 2. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Meskipun dalam adaptasi. SMA An-Nurmaniyah sudah menjalankan berbagai program yang berjalan dengan sistematis, seperti program kerja tahunan yang mengusahakan untuk setiap tahun ada 60 siswa yang lolos Perguruan Tinggi Negri (PTN), dan juga adanya 33 eskstrakulikuler yang wajib dipilih dan diikuti oleh seluruh siswa sesuai dengan minat dan bakat mereka. Begitupun pemilihan materi yang dibebaskan pada saat mereka melanjutkan ke kelas 11, mereka sudah memasuki tahap peminatan, di mana mereka bisa lebih dominan dan fokus pada pembelajaran yang sesuai dengan minat dan cita-cita mereka. Sedangkan Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA 1 Simanjaya menggunakan kitab kuning sebagai bahan ajar utama untuk memperdalam pemahaman keislaman siswa. Tafsir Tematik membantu dalam ayat-ayat Al-QurAoan Bulughul Maram mengajarkan hadis-hadis hukum, dan Jawahir al-Kalamiyyah memperkuat akidah. Sementara itu. Washoya membentuk karakter dan akhlak, serta Fathul Qorib menjadi panduan fiqih praktis. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami teori keislaman tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat identitas pesantren dalam pendidikan mereka (Mahmudi, 2. Lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan sekolah Islam, memiliki peran utama dalam membentuk siswa menjadi individu yang hidup sesuai dengan ajaran Al-Qur'an. Lembaga-lembaga ini sangat penting dalam membangun hubungan yang erat dengan Al-Qur'an serta menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri siswa (Suryana. Supriadi. Fikri. Efriani, & Langputeh, 2. Di sekolah SMA An-Nurmaniyah menerapkan model pembelajaran kooperatif, sehingga pada saat pembelajaran di dalam kelas guru meminta siswa untuk membentuk kelompok lalu mempresentasikan dan diberikan tugas akhir berupa project. Seperti pembuatan makalah pada setiap kelompok, sesuai dengan materi yang sudah dibagikan pada saat pembagian kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan yang mengorganisir kelas dengan melibatkan siswa dalam kelompok, di mana mereka saling bertukar keterampilan dan hasil pemikiran. Metode ini juga mendorong hubungan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 interpersonal yang baik dan saling menghormati. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penerapan metodologi aktif dalam pembelajaran tidak hanya mendukung pembelajaran yang lebih bermakna, tetapi juga memungkinkan pengembangan keterampilan pribadi, sosial, dan profesional, serta mendorong kemampuan untuk berpikir kritis (Lozano. Lypez. Pereira, & Blanco, 2. Sepemahaman penulis, terdapat dua jenis pembelajaran kooperatif yang diterapkan sekolah SMA An Nurmaniyah yaitu Pembelajaran Berbasis Proyek (PBjL) dan Jigsaw. PjBL merupakan pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk belajar melalui eksplorasi proyek atau tugas yang autentik dan Melalui model ini, siswa diberikan kebebasan untuk merencanakan kegiatan belajar, berkolaborasi dalam proyek, dan menghasilkan produk yang dapat disajikan kepada orang lain. Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai pusat proses pembelajaran, di mana mereka terlibat aktif dalam menentukan topik proyek, merencanakan langkah kerja, mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan memecahkan masalah (Habibah, 2. Sedangkan Model pembelajaran jigsaw merupakan pendekatan kooperatif yang melibatkan siswa dalam kelompok kecil untuk belajar secara kolaboratif, di mana setiap anggota bertanggung jawab untuk memahami bagian materi tertentu meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa dalam proses pembelajaran. (Sinaga & Fauzi, 2. Model pembelajaran kooperatif, seperti pembelajaran berbasis proyek (PBjL) dan jigsaw, saling melengkapi dalam menciptakan pengalaman belajar yang kolaboratif, di mana siswa tidak hanya bekerja sama untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga saling berbagi pengetahuan dan keterampilan dalam mencapai tujuan pembelajaran bersama. Pendekatan perkembangan akademik, tetapi juga mempererat hubungan emosional antara siswa dan guru, yang sangat penting untuk menjaga keterlibatan dan disiplin Hasil wawancara menunjukkan bahwa kolaborasi antara guru dan siswa dapat membantu mengatasi tantangan dalam proses pembelajaran serta Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 memberikan dampak positif dengan memperkuat kerja sama tim dalam pendidikan (Maruapey. Ramdhani, & Danil, 2. Sedangkan menurut Fauziah et. al, dalam penelitian (Maruapey et al. Banyak sekolah di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, masih kekurangan infrastruktur penting seperti gedung yang layak dan perangkat teknologi dasar seperti laptop, proyektor, dan pengeras suara. Padahal, teknologi ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pendidikan modern. Sementara itu, beberapa negara sudah maju dalam penggunaan Augmented Reality (AR) di sekolah-sekolah mereka. Implementasi Profil Pelajar Pancasila di Sekolah An- Nurmaniyah SMA An-Nurmaniyah secara aktif mengimplementasikan Profil Pelajar Pancasila dalam berbagai aspek kegiatan sekolah. Melalui pendekatan yang holistik. SMA An-Nurmaniyah berupaya mewujudkan pelajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi warga negara yang berkontribusi positif di masyarakat lokal maupun global. Beriman Kepada Allah dan Berakhlak Mulia Kepada Pendidikan Agama Islam Implementasi Kelas - Sholat dzuhur. XI dan XII 1. ashar berjamaah setiap hari - Sholat dhuha X. XI dan XII berjamaah di hari selasa pagi - Menghafal Asmaul X Husna - Membaca AlX. XI dan XII Quran dengan tartil - Menerapkan X. XI dan XII budaya 5S (Salam. Sapa. Sopan. Santun dan Senyu. XI dan XII - Tidak antara suku, agama dan RAS X. XI dan XII - Saling membantu Hasil Meningkatkan kedisiplinan siswa dalam beribadah dan kebersamaan di antara Meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran dengan baik dan benar, serta pemahaman terhadap isi Al-Quran. Membangun lingkungan sekolah yang positif dan harmonis, serta interaksi sosial antar siswa dengan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 dan tidak mengejek teman Kebinekaan Global Gotong Royong Berfikir Kritis Mandiri menerapkan sikap Berteman tanpa melihat suku dan Memperkenalkan keberagaman suku yang ada di Indonesia lewat 33 ekskul yang wajib diikuti oleh setiap X. XI dan XII 1. Terciptanya lingkungan sekolah yang harmonis dan X dan XI saling menghormati antar siswa dengan latar belakang berbeda Siswa memiliki pemahaman yang lebih mendalam keberagaman budaya dan suku yang ada di Indonesia. Petugas rohis X. XI dan XII 1. Siswa membangun rasa kebersamaan dan membersihkan area tanggung jawab dalam masjid secara menjaga kebersihan Bersama sama Classmeeting dan X. XI dan XII 2. Siswa merasa demo ekskul terfasilitasi serta Pemilihan ketua X. XI dan XII terarah untuk Osis yang minat dan bakat oleh ketua OSIS mereka melalui berbagai kegiatan. Sesi tanya jawab setelah presentasi Ujian akhir berbasis HOTS Lomba antar kelas Menyajikan XI dan XII Mendorong dalam berpikir kritis X. XI dan XII dan analitis, serta X. XI dan kemampuan mereka XII dalam menyampaikan Memberikan kemampuan berpikir dalam konteks yang XI dan XII Meningkatkan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Pembuatan Project Makalah Pembuatan video dakwah Pembuatan hiasan dinding Asmaul Husna XI dan XII komunikasi siswa, termasuk keterampilan berbicara di depan umum dan informasi dengan Terbangunnya kerja sama antar siswa dalam proyek seni dengan melibatkan kolaborasi dan Table 1. Implementasi Dimensi P5 Tabel tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam di sekolah tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mencakup pengembangan karakter, sosial, dan keterampilan siswa. Program Pendidikan Agama Islam di sekolah telah berhasil diterapkan melalui berbagai aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan nilai keagamaan, sosial, dan keterampilan siswa. Dalam aspek keimanan, kegiatan seperti sholat berjamaah . zuhur, ashar, dan dhuh. , menghafal Asmaul Husna, membaca Al-Quran dengan tartil, serta penerapan budaya 5S telah menciptakan lingkungan yang religius dan disiplin, serta memupuk kebersamaan di antara siswa. Sikap toleransi dan saling menghormati juga ditekankan dengan tidak membedakan latar belakang suku, agama, atau ras. Pada aspek kebinekaan global, siswa diajak untuk berteman tanpa memandang perbedaan dan mengenal keberagaman budaya Indonesia melalui partisipasi dalam 33 kegiatan ekstrakurikuler. Hal ini mendorong terciptanya harmoni di lingkungan sekolah dan memperluas wawasan siswa terhadap kekayaan budaya bangsa. Dalam membangun gotong royong, kegiatan seperti membersihkan masjid bersama, classmeeting, dan pemilihan ketua OSIS, memberikan pengalaman nyata kepada siswa untuk bekerja sama, bertanggung jawab, dan menyalurkan minat serta bakat mereka melalui berbagai aktivitas. Kemampuan berpikir kritis dikembangkan melalui sesi tanya jawab setelah presentasi, ujian berbasis HOTS, dan lomba antar kelas, yang mendorong siswa Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 untuk berpikir analitis dan kreatif. Program ini juga memberi ruang kepada siswa untuk menyampaikan pendapat secara aktif dan inovatif. Aspek kemandirian diimplementasikan melalui pembuatan makalah, video dakwah, hiasan dinding bertema Asmaul Husna, dan presentasi materi. Kegiatan ini membantu siswa mengasah kemampuan komunikasi, kolaborasi, serta menyampaikan ide secara efektif, sekaligus membangun keterampilan seni dan kerja sama tim. Secara keseluruhan, program ini berhasil menciptakan generasi siswa yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki keterampilan sosial, intelektual, dan kreatif yang mendukung pengembangan karakter mereka secara menyeluruh. KESIMPULAN Pendidikan Agama Islam SMA An-Nurmaniyah Tangerang menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengembangan karakter dan pemahaman nilai-nilai keislaman Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, kurikulum ini memungkinkan siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar, yang pada gilirannya memperkuat iman dan akhlak mereka. Pelaksanaan berbagai program, seperti sholat berjamaah, penghafalan AlQur'an, dan kegiatan ekstrakurikuler, berhasil menciptakan suasana yang religius serta mendukung nilai-nilai kebinekaan dan gotong royong. Selain itu, metode pembelajaran kooperatif, seperti Project-Based Learning (PjBL) dan Jigsaw, mendorong kolaborasi serta pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Secara keseluruhan, pendidikan agama di SMA An-Nurmaniyah tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga berupaya mengembangkan keterampilan sosial dan intelektual, sehingga mampu menghasilkan generasi yang religius, kreatif, dan berkarakter kuat. Untuk memastikan keberlanjutan implementasi kurikulum ini, kolaborasi antara guru, sekolah, dan pemangku kepentingan sangat penting untuk mengatasi tantangan yang ada. Selain itu, kurikulum merdeka memberikan kebebasan dan keluasaan bagi guru dan para peserta didik untuk memilih dan menentukan jalur pendidikan Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/ 10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 sesuai dengan kebutuhan dan minat masing-masing. Tujuan dari kebijakan kurikulum merdeka tidak lain adalah untuk meningkatkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan inovatif, tetapi juga untuk membentuk karakter dan persiapan para peserta didik dalam menghadapi dunia kerja. Kebijakan ini di menggambarkan bagaimana Pendidikan Agama Islam dapat melaksanakan kurikulum secara lebih luas dan efektif. REFERENSI