Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin KONSEP DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM : HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBENTUKAN KEPERIBADIAN MUSLIM DAN IMPLIKASINYA (PENDIDIKAN AGAMA DAN TANTANGAN GLOBALISASI) Hilmi Asrori. Mahmud Arif Email: asrorihilmi633@email. com, drmahmud. arif@uin-suka. (UIN Sunan Kalijag. Abstrak: Artikel ini membahas permasalahan mendasar terkait hakikat pendidikan karakter dalam perspektif filsafat pendidikan Islam mampu membentuk kepribadian Muslim yang tangguh serta relevansinya terhadap pendidikan agama di tengah tantangan globalisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan konsep dasar filsafat pendidikan Islam dalam membangun karakter, menjelaskan proses pembentukan kepribadian Muslim yang berakar pada nilai-nilai Islam, serta menganalisis implikasinya terhadap praktik pendidikan agama saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yaitu menggunakan buku, jurnal serta literatur keislaman dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya berfungsi sebagai pembentukan moral, tetapi juga sebagai proses integral yang melibatkan aspek spiritual, intelektual, dan sosial yang terarah pada pembentukan insan kamil. Pendidikan agama yang berlandaskan filsafat Islam terbukti relevan dalam menjawab krisis identitas dan dekadensi moral akibat arus globalisasi, serta menjadi fondasi strategis dalam menciptakan generasi Muslim yang berkepribadian luhur dan adaptif terhadap perubahan Kata Kunci: Filsafat Pendidikan Islam. Pendidikan Karakter. Kepribadian Muslim. Implikasi. Pendahuluan Pendidikan merupakan sarana utama dalam proses pembentukan manusia seutuhnya. Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga pada pembentukan akhlak mulia, penguatan iman, dan pengembangan potensi spiritual manusia. 2 Hal ini menjadikan filsafat pendidikan Islam sebagai suatu landasan penting dalam membentuk sistem pendidikan yang tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga moral dan Dalam Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki potensi fitrah, yakni kecenderungan untuk mengenal dan menyembah Allah serta berbuat baik. Fitrah inilah yang menjadi dasar dalam pendidikan karakter. 3 Oleh sebab itu, pendidikan karakter dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keimanan dan akhlak, karena pembentukan kepribadian seorang Abd Kholiq. "Kajian Surat Al-Baqarah Ayat 183 dalam Pendidikan Manusia Seutuhnya. " Awwaliyah: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 5. : 112-121. 2 Amelia Sapitri and Mimin Maryati. "Peran pendidikan agama Islam dalam revitalisasi pendidikan karakter. " AlAfkar. Journal For Islamic Studies . : 252-266. 3 Achmad Fatoni. "Filosofi Pendidikan Islam: Membentuk Jiwa Anak Usia Dini Sebagai Cerminan Fitrah Dan Akhlak Mulia. " Jurnal Ilmiah Cahaya Paud 6. : 188-206. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 08 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin Muslim sejati harus mencakup dimensi ruhiyah . Aoaqliyah . , dan jasadiyah . Menurut Zuhairini dkk, pendidikan Islam bertujuan untuk membina manusia agar menjadi insan kamil, yaitu manusia paripurna yang memiliki keseimbangan antara ilmu dan amal, iman dan takwa, serta mampu menjalani kehidupan sosial dengan baik. 4 Senada dengan itu, menurut pendapat Nur Kholik menekankan bahwa pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk manusia yang baik . he good ma. , bukan sekadar manusia yang cerdas atau sukses secara duniawi. Namun, dalam era globalisasi saat ini, pendidikan agama menghadapi tantangan yang semakin kompleks. 6 Arus informasi yang begitu cepat, perkembangan teknologi yang pesat, serta masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, menjadi tantangan tersendiri dalam pembentukan karakter generasi muda Muslim. 7 Fenomena ini mengakibatkan adanya degradasi moral, krisis identitas, serta melemahnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan seharihari. Sebagai contoh, banyak remaja Muslim yang mulai kehilangan arah dalam menentukan identitas dirinya. Mereka lebih bangga meniru gaya hidup selebritas atau tokoh media sosial dari budaya Barat dibanding meneladani akhlak Rasulullah SAW. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang tidak dilandasi nilai-nilai Islam cenderung gagal dalam membentuk kepribadian yang tangguh dan berakhlak mulia. Menurut pendapata Tilaar menyatakan bahwa globalisasi membawa arus budaya konsumtif dan individualistik yang berpotensi menggerus nilai-nilai luhur bangsa dan agama. 9 Oleh karena itu, pendidikan agama Islam perlu memperkuat posisi filsafatnya dalam merumuskan sistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus tetap menjaga akar nilai-nilai keislaman dalam pembentukan karakter. Pentingnya filsafat pendidikan Islam terletak pada kemampuannya memberikan kerangka berpikir holistik terhadap hakikat manusia, tujuan pendidikan, dan metode pembelajaran. 4 Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , 23. 5 Nur Kholik. Terobosan Baru Membentuk Manusia Berkarakter di Abad 21: Gagasan Pendidikan Holistik al-Attas. EDU PUBLISHER, 2020, h. 6 Muhajir Musa, dkk. "Pentingnya Pendidikan Agama Islam dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi. " Journal on Education 6. : 16035-16039. 7 Rahma Ayu Wisiyanti. "Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam di Era Globalisasi. " EDUKASIA: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran 5. : 1965-1974. 8 Usan and Suyadi. "Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar: Upaya Pendidik Membentuk Karakter Siswa Dalam Mempersiapkan Generasi Emas 2045 Berbasis Neurosains. " Muallimuna: Jurnal Madrasah Ibtidaiyah 7. : 73-86. 9 Tilaar. Pendidikan. Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 72. 10Ahmad Zidan Alfaruqi, dkk. "FILSAFAT PENDIDIKAN MUHAMMAD IQBAL DAN TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI ERA GLOBALISASI. " JURNAL AZKIA: Jurnal Aktualisasi Pendidikan Islam 20. : 111-125. 11 Siti Nur Sofirotul Jannah, dkk. "Urgensi Filsafat Pendidikan Islam Dalam Membentuk Sumber Daya Manusia Yang Berkualitas Di Era Modernisasi. " Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa 2. : 311-323. https://doi. org/10. 61722/jipm. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin Filsafat ini membantu kita memahami bahwa pendidikan bukan sekadar proses kognitif, tetapi juga proses pembinaan ruhani dan pembentukan karakter. 12 Pendidikan karakter dalam Islam bersumber dari wahyu dan keteladanan Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan utama dalam kehidupan umat. Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep dasar filsafat pendidikan Islam dalam membentuk karakter dan kepribadian Muslim. Selain itu, artikel ini juga akan mengeksplorasi bagaimana pendidikan agama Islam dapat menjawab tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai fundamentalnya. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. yang bertujuan untuk menggali dan menganalisis pemikiran-pemikiran dalam filsafat pendidikan Islam, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian Muslim dalam konteks globalisasi. Data dikumpulkan melalui penelaahan berbagai sumber literatur primer dan sekunder seperti buku, artikel dan jurnal yang Proses analisis dilakukan secara deskriptif-kritis, dengan menelaah isi, membandingkan gagasan, serta menginterpretasikan pemikiran para tokoh pendidikan Islam secara konseptual dan Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap hakikat pendidikan Islam dan relevansinya dalam menjawab tantangan zaman, dengan tetap berpijak pada prinsip-prinsip keilmuan dan nilai-nilai Islam. Hasil dan Pembahasan Konsep Dasar Filsafat Pendidikan Islam Filsafat pendidikan Islam merupakan cabang filsafat yang menggali hakikat pendidikan berdasarkan nilai-nilai Islam. Ia menggabungkan pemikiran normatif dari wahyu (Al-QurAoan dan Hadi. dengan ijtihad para ulama sepanjang sejarah. 14 Tujuan pendidikan Islam bukan hanya membentuk manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga bertakwa dan berakhlak mulia, yaitu insan kamil yang seimbang antara aspek rohani dan jasmani. Secara ontologis, manusia dalam pendidikan Islam dipandang sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi ruhaniyah . dan jasadiyah . Pendidikan berfungsi Jonius Halawa. "Peran Filsafat Pendidikan Kristen Dalam Meningkatkan Pemahaman Iman Peserta Didik. " Lumen: Jurnal Pendidikan Agama Katekese Pastoral 3. https://doi. org/10. 55606/lumen. 13 Nurwulandari. Devi Aini. "Metode Modelling dalam Pendidikan Karakter pada Anak (Analisis Surat Al Ahzab Ayat . " JM2PI: Jurnal Mediakarya Mahasiswa Pendidikan Islam 1. : 271-303. 14 Moch Charis Hidayat and Sugeng Mulyono. "Integrasi sains teknologi dengan nilai-nilai Islam: Model pendidikan yang memberdayakan. " Tamaddun: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Keagamaan 20. : 15-28. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 08 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin mengarahkan fitrah manusia menuju kesempurnaan, bukan sekadar membekali keterampilan Tiga prinsip dasar dalam filsafat pendidikan Islam yaitu: tauhid . eesaan Alla. , rububiyyah . epengasuhan Tuhan terhadap makhluk-Ny. , dan khilafah . ungsi manusia sebagai wakil Allah di bum. Ketiganya menjadi fondasi seluruh proses pendidikan. Hal ini diperkuat oleh Azra yang menyatakan bahwa pendidikan Islam harus selalu berorientasi pada pembinaan akhlak dan pengabdian kepada Allah SWT. Misalnya pada Q. Al-Baqarah: 30 menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah. Maka, belajar dalam Islam bukan hanya untuk memperoleh pekerjaan, tetapi menjalankan amanah kekhalifahan dengan penuh tanggung jawab. Hakikat Filsafat Pendidikan Karakter Dilihat dari sudut pandang filsafat, ilmu menjadi salah satu disiplin yang mengkaji hakikat sesuatu secara mendalam. 16 Dalam perspektif pendidikan Islam, hal ini mengarah pada aspek fundamental yang bersifat universal, sistematis, terpadu, dan menyeluruh dalam konsepkonsep pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam, termasuk pendidikan karakter. Pendidikan karakter sendiri telah menjadi bagian penting di setiap jenjang pendidikan, dengan tugas utama untuk membentuk perilaku serta mewujudkan pemahaman moral pada peserta didik. Pendidikan memiliki peran esensial dalam mewariskan nilai-nilai luhur budaya secara berkelanjutan agar tetap lestari. Efektivitas dalam mentransfer nilai-nilai budaya menjadi pertimbangan utama dalam pendidikan, sehingga proses tersebut memerlukan program pendidikan yang disusun secara formal dengan sistem tata kelola yang juga bersifat formal. Adapun hakikat pendidikan terletak pada pembentukan nilai karakter yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, internalisasi karakter menjadi suatu keharusan yang harus didistribusikan kepada siswa, diantaranya: Nilai spiritual keagamaan Esensi dari spiritualitas keagamaan terletak pada keimanan. Iman menjadi inti dari keberadaan hati nurani, yang berperan sebagai kekuatan rohani dalam mendorong seseorang untuk berperilaku mulia serta menjauhi kemaksiatan. Keyakinan yang tertanam dalam diri akan memengaruhi setiap perilaku, membentuk karakter sesuai dengan aturanaturan Islam. Hati nurani berdampak pada nilai ibadah, yakni hubungan antara manusia 15 Azra Azyumardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2. , hlm. 16 Umar Sidiq dan Wiwin Widyawati. Kebijakan Pemerintah Terhadap Pendidikan Islam Di Indonesia. 1st ed. (Ponorogo: CV Nata Karya, 2. , 1 17 Nur Zaidi Salim, dkk. "Rekonstruksi Pendidikan Karakter di Era Globalisasi: Studi Analisis Konsep Pemikiran Ibnu Miskawaih. " Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah 7. : 28-39. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin dengan Allah . ablum minallA. Kesadaran ini akan melahirkan perilaku berakhlak terpuji dan mengurangi akhlak tercela. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai spiritual memiliki peran strategis dalam membentuk manusia yang berkarakter. Integritas . apat dipercay. dan nilai kejujuran Kejujuran adalah sikap yang mencerminkan keselarasan antara keimanan, ucapan, dan Sikap ini didasarkan pada upaya membentuk pribadi yang senantiasa dapat dipercaya dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam bersikap, berbicara, maupun Selain menjadi tolok ukur kebaikan, kejujuran juga berperan sebagai landasan dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis. Integritas yang terwujud merupakan konsekuensi dari nilai-nilai spiritual keagamaan, sehingga seseorang mampu menjalankan amanah dengan penuh kejujuran. Nilai hormat dan menghargai Penghargaan yang berlandaskan cinta sangat ditekankan dalam Islam. Setiap manusia memiliki kewajiban untuk menghormati sesama. Sikap saling menghormati seharusnya didasari oleh cinta dan kasih sayang agar seseorang merasa menjadi bagian dari masyarakat, sehingga lebih mudah menghargai orang lain. Sebaliknya, jika penghormatan hanya didasarkan pada keterpaksaan atau rasa takut, maka hal itu bisa menjadi sekadar kebiasaan tanpa makna. Akibatnya, ketika rasa keterpaksaan dan ketakutan hilang, budaya saling menghormati dapat dipastikan ia tinggalkan. Nilai komunikasi . berbasis kekerabatan Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan sesama. Secara alami, manusia hidup berdampingan dan berinteraksi melalui berbagai bentuk komunikasi dalam setiap situasi. Dengan beragam karakter dan kepribadian, manusia berupaya membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain. Keberadaan individu dalam masyarakat menuntutnya untuk menjaga interaksi yang baik, baik dengan sesama maupun lingkungan sekitar, guna menciptakan komunitas yang damai. Fakta empiris menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang sebagian besar ditentukan oleh sejauh mana ia mampu menghormati, bersikap santun, dan menjalin silaturahmi, sedangkan kecerdasan atau kemampuan otak hanyalah salah satu faktor pendukung menuju keberhasilan. Nilai tanggung jawab Tanggung jawab adalah sikap, perkataan, dan perilaku seseorang dalam menjalankan tugas dan kewajibannya yang semestinya dilakukan, baik untuk diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, maupun kepada Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat. Tanggung jawab dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, di antaranya: pertama, tanggung Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 08 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin jawab kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan, yang harus dimanfaatkan di jalan yang benar. Kedua, tanggung jawab terhadap diri sendiri, yaitu memenuhi kewajiban pribadi dalam mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai bagian dari tugasnya di dunia. Ketiga, tanggung jawab kepada keluarga sesuai dengan peran dan kedudukan masingmasing dalam keluarga. Keempat, tanggung jawab terhadap lingkungan masyarakat, yang mencakup perkataan, sikap, dan perbuatan sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Nilai kerja keras berimplikasi pada percaya diri Kerja keras merupakan upaya yang dilakukan dengan penuh kesungguhan untuk mengatasi berbagai tantangan dalam belajar dan menyelesaikan tugas sebaik mungkin. Dalam Islam, kerja keras sangat dianjurkan, bahkan umat Islam diperintahkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Nilai dari kerja keras dapat membentuk sikap percaya diri, kemandirian, kreativitas, serta ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Seseorang yang bekerja keras memahami betul kekuatan keyakinan dan prediksi. Ia juga menyadari bahwa apa yang diyakini dan direncanakan dapat terwujud dengan izin serta pertolongan Tuhan. Nilai istiqomah Hakikat istiqomah adalah keteguhan dalam menjalankan ketaatan dan kebenaran. Istiqomah juga dapat diartikan sebagai sikap disiplin, konsisten, dan loyal dalam menaati perintah Tuhan serta aturan-aturan lainnya. Sikap ini menjadi indikator seseorang yang memiliki konsistensi dalam menjalani kehidupan. Nilai sabar berimplikasi pada tawakal, ridho, ikhlas, dan rendah hati Dalam Islam, sabar diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menahan diri untuk menjalankan perintah Allah SWT serta menghindari perbuatan yang dilarang. Sikap sabar melahirkan keikhlasan, tawakkal, kerendahan hati, dan ridha dalam menerima ketetapan Allah SWT dengan penuh kepasrahan dan keyakinan kepada-Nya. Nilai keteladanan Dalam bahasa Arab, istilah ini dikenal sebagai uswah atau qudwah. Secara terminologi, istilah tersebut merujuk pada seseorang atau sesuatu yang dapat dijadikan sebagai contoh, baik dalam ucapan, perbuatan, sikap, maupun aspek lainnya. Keteladanan yang diikuti haruslah yang bersifat positif. Dalam praktiknya, keteladanan dapat bersifat langsung . , di mana seseorang secara langsung menjadi teladan, atau tidak langsung . , yakni melalui kisah-kisah inspiratif tentang para Nabi, sahabat, pahlawan, atau tokoh-tokoh mulia lainnya. Hal ini penting karena manusia secara alami cenderung meniru, dan keteladanan dipercaya sebagai cara efektif dalam membentuk karakter seseorang. Nilai toleransi Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin Prinsip dasar filsafat toleransi adalah kesadaran bahwa manusia diciptakan dengan keberagaman sebagai makhluk sosial. Tidak seharusnya seseorang bercita-cita untuk menyeragamkan keyakinan, identitas, atau pemikiran setiap individu. Toleransi lahir dari nilai-nilai spiritual keagamaan yang menekankan pentingnya sikap saling menghormati. Selain itu, toleransi mengajarkan bahwa kebaikan harus diberikan kepada siapa saja, tanpa memandang agama, status sosial, atau tingkat pendidikan. Bahkan terhadap seorang musyrik sekalipun, kita diajarkan untuk bersikap toleran. Dalam konteks keagamaan, toleransi diwujudkan dengan tidak saling mengganggu atau memaksakan keyakinan, serta menghormati hak setiap individu untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaannya tanpa harus melebur dalam agama lain. Pembentukan Kepribadian Muslim Dalam bahasa Arab, kepribadian berasal dari kata al-Syakhsiyah, yang berarti 18 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepribadian adalah perbedaan sifat yang melekat pada seseorang atau suatu bangsa dibandingkan dengan bangsa 19 Oleh karena itu, kepribadian merupakan sifat yang penting dan dimiliki oleh setiap Dengan kata lain, kepribadian merupakan identitas yang melekat pada seseorang atau suatu bangsa. Secara terminologi, kepribadian Muslim merujuk pada suatu kesatuan yang melekat dalam jiwa manusia, yang tidak dapat dipisahkan maupun dihancurkan dalam fungsi-fungsi Kesatuan ini dibangun atas dasar ketundukan . , ketaatan . , serta penerimaan terhadap ajaran Nabi Muhammad, sekaligus meyakini ajaran tersebut sebagai pedoman untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang merusak, dalam hal ini dimaknai sebagai 20 Karakteristik kepribadian Muslim tidak hanya terbatas pada aspek empiris, tetapi juga mencakup unsur abstrak yang tidak kasatmata, seperti ruh, qalb, dan akal. Untuk membentuk kepribadian secara empiris maupun metafisis, diperlukan pembinaan sejak dini. Dalam hal ini, peran orang tua sangat menentukan sebagai teladan utama bagi anak. Orang tua berperan dalam menumbuhkan dan mengembangkan aspek kepribadian Muslim agar kepribadian anak dapat terbentuk secara utuh dan sempurna. Kepribadian mencerminkan seluruh aktivitas kehambaan serta tugas sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, kepribadian Muslim dapat dikenali melalui cara berpikir, berbicara, dan bertindak yang selalu mencerminkan kepatuhan kepada Allah. 18 Ahmad Warson Munawir. Al-Munawir Kamus Arab Indonesia. Cet 14. (Surabaya : Pustaka Progresip, 1. , 701. 19 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta : Balai Pustaka, 2. , 895. 20 Rivaldi Darmawan. AuHakikat Filsafat Pendidikan Karakter A, hlm, 18-28. 21 Rosmiaty Azis. AuMetode Pembentukan kepribadian muslim. Ay Jurnal Diskursus Islam 1. : 495-505. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 08 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin Berdasarkan uraian di atas, kepribadian seseorang mencakup aspek yang lebih luas dan tidak terbatas pada perilaku individu semata. Oleh karena itu, perbedaan kepribadian terletak pada aspek lahiriah dan batiniah setiap individu. Pembentukan kepribadian manusia dapat dipengaruhi oleh fitrah serta lingkungan pendidikan dan masyarakat, yang pada akhirnya membentuk karakter yang berbeda satu sama lain. Dalam kajian filsafat pendidikan Islam, pembahasan mengenai kepribadian Muslim perlu ditelaah. Hal ini penting untuk memahami karakteristik yang membentuk kepribadian Muslim. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan memperdalam pendidikan Islam, sehingga terbentuk kepribadian Muslim yang baik sesuai dengan nilai-nilai Islam. Secara garis besar, kepribadian Muslim merupakan kepribadian yang sejalan dengan ajaran Islam, di mana segala perilaku dan aktivitasnya berlandaskan tuntunan Islam. Kepribadian yang taat dan berserah diri kepada Allah SWT. mencerminkan kepribadian Muslim. Proses pembentukan kepribadian muslim membutuhkan waktu lama dan bertahap. Terdapat rintangan yang harus ditempuh dengan menganalisis semua faktor dan energi kepribadian agar berhasil dan terwujud. Tahap-tahap dalam pembentukan kepribadian Muslim Tazkiyah Al-Nafs Dalam usaha membentuk individu yang teguh pada keyakinannya. Rasulullah tidak langsung mengajarkan, mendidik, dan melatih umatnya. Proses pendidikan yang beliau jalani menjadi pedoman dalam mendidik umat. Melalui pengalaman dalam memisahkan dan menyucikan hati, serta menguasai ilmu dan keimanan, beliau kerap menyepi di Gua Hira untuk membersihkan diri dan menghindari dampak negatif dari perbuatan maksiat. Semua ini bertujuan untuk menyucikan jiwa, sehingga beliau siap menerima pengajaran, bimbingan, dan pelatihan dari Allah SWT. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan yang efektif dalam membentuk karakter seorang Muslim pada dasarnya diawali dengan tahap tazkiyah al-nafs. Tazkiyah al-nafs adalah usaha untuk membersihkan diri dan hati manusia dari segala bentuk kekurangan dan penyakit batin. Dengan demikian, proses pendidikan dapat berlangsung lebih optimal karena individu telah terbebas dari segala bentuk kekacauan dan penyakit hati. Dalam Islam, al-AoIlm harus disampaikan, dilestarikan, dan ditanamkan dalam diri agar menjadi bagian dari karakter seorang Muslim, yang dikenal sebagai al-Nur . , al-Haq Ainun Mardiah Harahap. "Pembentukan Kepribadian Muslim PersPektif Filsafat Pendidikan Islam. " Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman 6. : 58. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin . , dan al-Huda . etunjuk Alla. Untuk menanamkan serta mengembangkan cahaya, kebenaran, atau petunjuk Allah ini dalam diri seorang Muslim, jiwa . , hati . , akal (Aoaq. , dan jasad harus disucikan melalui proses tazkiyah . Sebab, cahaya, kebenaran, dan petunjuk Allah SWT tidak akan tumbuh serta membentuk kepribadian Islami jika jiwa, hati, akal, dan jasad masih dipengaruhi oleh dosa serta perbuatan maksiat. Oleh karena itu, langkah awal dalam membentuk kepribadian Islami . akwn asy-syakhsiyyah al-IslAmiyya. adalah menyucikan . jiwa dan jasad dari sifat serta perilaku maksiat, kemudian mengisi jiwa, hati, dan akal dengan keimanan dan ilmu (Aoaqidah wa an-n. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa langkah paling mendasar dalam membentuk kepribadian seorang Muslim adalah tazkiyah an-nafs, yaitu proses pensucian diri dari segala bentuk kotoran dan perbuatan maksiat. Hal ini disebabkan karena pengetahuan tentang Allah, yang dilambangkan dengan al-Nur, tidak dapat tumbuh dan berkembang dalam hati serta individu yang dipenuhi oleh perbuatan maksiat. Proses Pembiasaan Pelatihan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan fisik yang berkaitan dengan kemampuan berbicara dan bertindak, seperti praktik pelaksanaan salat lima waktu secara tepat, mencakup gerakan serta bacaan yang sesuai. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah menumbuhkan keterampilan dalam berkomunikasi dan bertindak agar tata cara yang benar dapat dikuasai dengan baik. Dalam konteks pembiasaan, diperlukan berbagai sarana yang berhubungan dengan proses pembentukan karakter, antara lain: Untuk instrumen yang secara langsung mendukung proses pembentukan, seperti pelatihan, petunjuk, dan perintah. Sementara itu, instrumen yang bersifat tidak langsung, misalnya yang berfungsi sebagai pencegahan, dapat mencakup larangan, hukum, dan sebagainya. Pembiasaan ini selaras dengan tahap perkembangan anak. Pada rentang usia 0Ae2 tahun, penting untuk membiasakan mereka dengan pola hidup teratur dan kebersihan. Pada usia 2Ae7 tahun, mereka dapat diajarkan menjalani kehidupan yang teratur serta menjaga kebersihan dengan perasaan gembira. Selanjutnya, pada usia 7Ae13 tahun, mereka sudah dapat diperkenalkan dengan kebiasaan beribadah, seperti berpuasa dan shalat. Pembentukan Pengertian. Sikap dan Minat Khairisa Pohan. "Aksiologi Pendidikan Islam: Pembentukan Kepribadian Muslim Dalam Persfektif Filsafat Pendidikan Islam. " Jurnal Islam Hamzah Fansuri 3. :65. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 08 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin Pembentukan pemahaman, sikap, dan minat merupakan lanjutan dari pembiasaan. Pada tahap ini, anak diberi kesempatan untuk memahami hal-hal yang lazim dilakukan serta menanamkan prinsip moral yang berkaitan dengan keyakinan. Sebagai contoh, prinsip iman dan amalan dalam Islam harus diajarkan dengan pemahaman yang mengoptimalkan energi spiritual. Dalam proses mengembangkan pemahaman, sikap, dan minat, terdapat beberapa aspek yang dapat diperoleh, yaitu: Pemahaman tentang pembinaan jiwa serta kaitannya dengan tindakan fisik, yang mencakup nilai-nilai moral serta konsep mengenai etika dan kebenaran. Ketidaksenangan terhadap keburukan dan kecenderungan terhadap kebaikan, yang dapat mendorong anak untuk melakukan perbuatan baik . mar makruf nahi mungka. Keinginan untuk berperan serta dalam pelaksanaan kebaikan serta meningkatnya minat terhadap hal-hal positif, yang selanjutnya akan mendorong penerapan tindakan yang telah dipahami. Dampak-dampak ini akan menumbuhkan keyakinan yang disertai dengan kesadaran penuh terhadap prinsip-prinsip mendasar yang diterapkan dalam pembentukan spiritual yang luhur. Pada tahap ini, meskipun alat pembiasaan masih digunakan, perhatian lebih diarahkan pada kesadaran individu anak. Fokus utama pada tahap ini adalah perkembangan pola pikir, minat, dan sikap. Terdapat tiga strategi dalam pendidikan karakter, yaitu: Pendidikan formal, yang mencakup pelatihan berpikir yang benar, penanaman minat yang kuat, serta pengembangan sikap yang sesuai. Pendidikan substantif, yang melibatkan penyampaian berbagai pengetahuan, termasuk pengetahuan dunia, moral, agama, dan aspek lainnya. Pendidikan pedagogis, yang berorientasi pada bimbingan. Dalam pendidikan Islam, bimbingan ini telah memiliki pedoman yang jelas, yaitu membentuk kepribadian Muslim. Pemahaman, sikap, dan minat mengalami perkembangan selama masa sekolah . sia 7Ae 13 tahu. , remaja . sia 13Ae21 tahu. , awal dewasa . sia 21 tahu. , dan seterusnya. Pada tahap awal, anak-anak cenderung menyerap pemahaman, terutama yang berkaitan dengan kebiasaan mereka. Informasi mengenai agama, nilai-nilai sosial, dan moral dapat disampaikan secara bertahap. Semua aspek ini berperan dalam proses pembentukan karakter individu ketika dewasa. Pembentukan Keruhanian yang Luhur Pengembangan spiritual yang tinggi dilakukan melalui kebajikan batin serta sumber daya rohani lainnya, yang menghasilkan kesadaran dan pemahaman yang mendalam. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin Dengan demikian, pikiran, keputusan, dan tindakan seseorang didasarkan pada kesadaran pribadi serta tanggung jawab yang sepenuhnya disadari. Tahap ini disebut sebagai Aupengembangan diriAy atau Aupeningkatan diriAy. Etika dan moralitas memiliki peran utama dalam perkembangan tahap ini. Moral yang kuat membimbing pemikiran dan mengendalikan dorongan-dorongan yang lebih mendasar. Jika seseorang memiliki moral yang baik, maka akan terbentuk kepribadian yang utuh. Masa yang tepat untuk membentuk karakter spiritual yang luhur adalah dari masa remaja hingga Dalam periode ini, keyakinan yang mencakup enam rukun iman dalam ajaran Islam dapat ditanamkan dengan baik. Implikasi Pendidikan Islam terhadap Pembentukan Kepribadian Implikasi pendidikan Islam terhadap pembentukan kepribadian merupakan penyucian jiwa . azkiyatun naf. dari sifat-sifat yang dapat merusak kesucian jiwa, akal, dan hati. Oleh karena itu, pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada proses transformasi nilai atau pembinaan fisik peserta didik. Pendidikan Islam harus dilaksanakan secara menyeluruh karena luasnya objek yang perlu dididik. Dalam hal ini, pembentukan kepribadian memerlukan peran penting keluarga sebagai objek utama, serta masyarakat sebagai pendukung. Bahkan, negara juga harus berkontribusi dalam proses pendidikan kepribadian di lingkungan pendidikan Selain itu, pendidikan Islam seharusnya mencakup pendidikan iman, ilmu, dan amal yang harus diterapkan secara seimbang dan menyeluruh agar tidak terjadi ketimpangan dalam proses pendidikan. 24 Implikasi terakhir adalah pentingnya keteladanan dari pendidik, dalam hal ini guru, yang berperan dalam mengingatkan manusia akan perjanjian dengan Tuhan melalui ilmu dan adab. Secara umum, tugas pendidik tidak hanya sebatas mengawasi dan mengajarkan ilmu, tetapi juga harus mampu menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai adab Islam. Pendidikan sebagai penanaman nilai-nilai dan keyakinan yang diterima oleh masyarakat dalam keyakinan, warisan budaya dan tradisi. Prinsip-prinsip ini telah teruji dan menjadi dasar pandangan hidup bagi masyarakat tersebut. Dalam pendidikan Islam, perhatian utamanya adalah memastikan . bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT dan memperkuat kembali syahadah yang diucapkan oleh manusia kepada Allah saat berada dalam alam ruh. 24 Mukholiq. AuTelaah Kepribadian Manusia dan Korelasinya dengan Pendidikan IslamAy. Epistemy: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman 8. : 393-414. https://doi. org/10. 21274/epis. 25 Al Rasyidin. Falsafah Pendidikan Islami. (Bandung : Perdana Publishing, 2. , 11-12. 26 Radinal Mukhtar Harahap. AuManajemen Pembentukan Kepribadian Muslim Perspektif Filsafat Pendidikan IslamAy. Fikrotuna: Jurnal Pendidikan Dan Manajemen Islam, 6. : 648. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 08 No. 01 Juni 2026 http://e-journal. id/index. php/tabyin Dalam filsafat pendidikan Islam, pembentukan kepribadian muslim melibatkan pelaksanaan pendidikan komprehensif yang mencakup bukan hanya transformasi nilai atau pemantauan perkembangan fisik anak didik, melainkan juga penyucian jiwa . azkiyah al-naf. dari elemen-elemen yang dapat merusak kebersihannya. Hal ini akan menyebabkan qalb . dan aql . menjadi bersih, dan pada gilirannya akan mempengaruhi kesucian jasad. Pendidikan yang holistik diperlukan dalam pembangunan kepribadian muslim. Peranan keluarga, masyarakat dan negara juga memiliki signifikansi dalam tahap ini. Terdapat tiga tahap dalam proses ini, yakni kultivasi kebiasaan, pemahaman, dan pengembangan dimensi spiritual yang agung. Pembentukan kepribadian muslim berpengaruh pada konsep pendidikan Islam itu sendiri. Pendekatan tersebut melibatkan pendidikan agama, pengetahuan, praktik, etika, dan interaksi sosial untuk membentuk kepribadian muslim secara komprehensif. Menelantarkan satu aspek ini dapat mengganggu proses pendidikan Islam. Pembentukan kepribadian muslim memerlukan panutan dari pendidik. Pendidik tidak hanya harus berperan dalam memberikan pelajaran dan mengawasi siswa, tetapi juga sebagai sosok yang mengingatkan dan memperkuat komitmen terhadap syahadah melalui pengetahuan dan perilaku yang baik dalam proses ta'lim, tarbiyah, dan ta'dib. Kesimpulan Berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan diatas bahwa pendidikan karakter dalam perspektif filsafat pendidikan Islam merupakan fondasi utama dalam membentuk kepribadian muslim yang utuh dan berakhlak mulia. Hakikat pendidikan karakter Islam tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga spiritual, moral, dan sosial yang selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dalam konteks pendidikan agama, pembentukan karakter muslim menjadi landasan kuat untuk menghadapi tantangan globalisasi yang semakin kompleks dan dinamis. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus terus dikembangkan secara holistik dan kontekstual agar mampu membentuk generasi muslim yang mampu menjaga identitas keimanan sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Daftar Pustaka