SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. : 167-192 Copyright @ SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi pISSN: 20888236. eISSN: 27220079 DOI: 10. 46495/sdjt. Submitted: 30 November 2025 / Accepted: 9 December 2025 Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan Perantau: Suatu Pendekatan Pastoral-Eklesiologis Oktavianus Gili Leo Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia oktavianusgili81@gmail. Alexandro Rikardinho Bhoke Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia bhokeandre@gmail. Octavianus Dea Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia octavianusdea77@gmail. Galganius Andriano Ngala Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia gandringala@gmail. Abstract The phenomenon of global migration presents social, cultural, and pastoral challenges that call the Church to live out synodality as communio, participation, and mission. This article aims to analyze how a synodal Church can become a common home for migrants and sojourners through an exploration of theological foundations, an ecclesiological understanding, and the formulation of an integrative pastoral model. This study employs a qualitative theological approach through an analysis of Church documents, particularly the encyclical Sollicitudo Rei Socialis . , the document For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission . , as well as a range of contemporary pastoral literature on The findings reveal three main points: first, synodality requires the Church to cultivate a spirituality of listening and journeying together rooted in human dignity. the Church is called to strengthen dialogical pastoral forms that correspond with the magisteriumAos teaching on solidarity and universal fraternity. third, a transformative pastoral approach is needed to empower migrants as subjects of mission, without neglecting ecclesiological principles. The discussion highlights the need for an integrative pastoral model encompassing processes of listening, discerning, acting, empowering, and building networks as an expression of the ChurchAos synodal identity. This article concludes that a synodal ecclesiology enriches the ChurchAos ministry to migrants while renewing its missionary character through hospitality, solidarity, and the participation of the entire People of God. Keywords: Accompaniment. Ecclesial Communion. Migrants. Synodality. People of God. 168 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. Abstrak Fenomena migrasi global menghadirkan tantangan sosial, kultural, dan pastoral yang menuntut Gereja menghidupi sinodalitas sebagai communio, partisipasi, dan misi. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana Gereja Sinodal dapat menjadi rumah bersama bagi migran dan perantau melalui penggalian dasar teologis, pemahaman eklesiologis, dan perumusan model pastoral integratif. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologis kualitatif melalui analisis dokumen Gereja, khususnya ensiklik Sollicitudo Rei Socialis . , dokumen For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission . , serta berbagai literatur pastoral migran Hasil kajian menunjukkan tiga temuan utama: pertama, sinodalitas menuntut Gereja mengembangkan spiritualitas mendengarkan dan perjalanan bersama yang berakar pada martabat manusia. Gereja dipanggil memperkuat bentuk-bentuk pastoral dialogis yang sejalan dengan ajaran magisterium mengenai solidaritas dan persaudaraan universal. pendekatan pastoral transformatif diperlukan untuk memberdayakan migran sebagai subjek misi, tanpa mengabaikan prinsip eklesiologis. Pembahasan menegaskan perlunya model pastoral integratif yang mencakup proses mendengar, membedakan, bertindak, memberdayakan, dan membangun jejaring sebagai pengejawantahan identitas sinodal Gereja. Artikel ini menyimpulkan bahwa eklesiologi sinodal memperkaya pelayanan migran dan sekaligus memperbarui wajah misioner Gereja melalui keramahtamahan, solidaritas, dan partisipasi seluruh umat Allah. Kata Kunci: Pendampingan. Communio. Migran. Sinodalitas. Umat Allah. PENDAHULUAN Di Indonesia sendiri, data Badan Pusat Statistik (BPS)3 mencatat jutaan pekerja Fenomena migrasi dan mobilitas manusia merupakan salah satu realitas perbincangan pada abad ke-21 ini. Berbagai International Organization for Migration (IOM) United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR)2 ekonomi, perubahan iklim, konflik politik, migran yang tersebar di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah, sementara urbanisasi yang cepat melahirkan dinamika perantauan domestik yang memengaruhi struktur sosial, budaya, dan kehidupan spiritual umat. 4 Dalam perspektif iman. Gereja Katolik dipanggil untuk membaca fenomena ini bukan semata sebagai proses sosial, tetapi juga sebagai Autanda-tanda zamanAy . ign of the times. GS A . yang dan pencarian kehidupan yang lebih layak. International Organization for Migration. World Migration Report 2024 (Geneva: IOM, 2. , 3. United Nations High Commissioner for Refugees. Global Report 2024 (Geneva: UNHCR, 2. Badan Pusat Statistik. Statistik Mobilitas Penduduk dan Tenaga Kerja Vol. 7 (Jakarta: BPS, 2. , ix-xi. Bosman Batubara dkk. AuUrbanization in (Post-) New Order Indonesia: Connecting Unevenness in the City with That in the CountrysideAy. The Journal of Peasant Studies 50, no. , 1207-1226. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 169 menuntut respons pastoral yang relevan. Dalam konteks Indonesia. Gereja Karena itu, migrasi bukan hanya proses telah terlibat dalam pelayanan sosial- mobilitas geografis, tetapi pengalaman karitatif dan advokasi migran melalui eksistensial tentang kehilangan, pencarian berbagai lembaga kategorial dan jaringan makna, dan harapan akan penerimaan baru. Fenomena tersebut menghadirkan Namun sinodalitasAi budaya mendengarkan, berjalan bersama, peluang sekaligus kerentanan. Mobilitas sepenuhnya menjadi paradigma dalam umatAibelum Sinodalitas, sebagaimana ditegaskan dalam dokumen diskriminasi, serta keterasingan sosial dan For a Synodal Church, bukan sekadar metode, tetapi cara Gereja menghidupi misalnya yang dilakukan oleh Erap8 dan misteri Tritunggal yang memancarkan Tiba dkk. 9 menunjukkan bahwa migran relasi, dialog, dan persekutuan. Karena itu, sering mengalami tekanan psikologis, migrasi dapat menjadi kairys bagi Gereja: dislokasi identitas, dan kerentanan iman sebuah kesempatan pembaruan eklesiologis ketika berada jauh dari komunitas asal. dan pastoral. 11 Gereja dipanggil untuk hadir Karena itu. Gereja dipanggil menjadi bukan hanya sebagai penolong karitatif, rumah yang aman, tempat pemulihan melainkan sebagai rumah bersama yang martabat dan pendampingan rohani, sesuai menjembatani, merangkul, dan membina dengan visi Evangelii Gaudium mengenai Gereja yang Aubergerak keluarAy sebagai 12 Sinodalitas dipandang sebagai Aurumah Bapa dengan pintu-pintu yang Aucara baru menjadi sebuah GerejaAy . new selalu terbuka lebarAy (EG A 46-. way of being Churc. Berbagai Latin American and Caribbean Episcopal Council (CELAM). Toward a Synodal Church Going Forth into the Periphery: Reflections and Pastoral Proposals Drawn from the First Ecclesial Assembly for Latin America and the Caribbean (Bogoty: CELAM, 2. , 27. Arnoldus Sofiano Boli Erap. AuGereja Lokal Keuskupan Larantuka Membangun Solidaritas dengan dan antar Kaum Buruh Migran dan Perantau dalam Terang Laborem ExercensAy (Skripsi. Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, 2. , v. Ibid. Ibid. Marianus Ronaldo Tiba dkk. AuJejak Kemanusiaan dalam Dialog Gereja dengan Kaum Migran dan Pengungsi di Keuskupan MaumereAu. Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama 3, no. , 55-69. Paus Fransiskus. Evangelii Gaudium: Sukacita Injil - Seruan Apostolik Paus Fransiskus 24 November 2013 (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, 2. , 3435. Latin American and Caribbean Episcopal Council (CELAM). Toward a Synodal Church Going Forth into the Periphery: Reflections and Pastoral Proposals Drawn from the First Ecclesial Assembly for Latin America and the Caribbean, 27-30. Dewan Kepausan untuk Pastoral Migran dan Perantau Dewan Kepausan Cor Unum. Menyambut Kristus dalam Diri Pengungsi dan Orang yang Terpaksa Mengungsi: Pedoman Pastoral, penerj. Leo Samosir. OSC (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2. , 29-30. Emanuel P. Martasudjita dkk. , ed. 170 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. Sejumlah studi telah menyoroti dilakukan Kjellin20 memperlihatkan bahwa keterkaitan antara sinodalitas dan migrasi. keberagaman budaya dan pengalaman Cekiera WCosek14 meningkatnya perhatian Gereja terhadap migran dalam proses Sinode tentang menawarkan sintesis eklesiologis bagi Sinodalitas, terutama melalui ajakan untuk Gereja Katolik. Dengan demikian, berbagai kepekaan pastoral, solidaritas, dan integrasi Namun, analisis mereka terbatas pada sintesis sinode di Eropa sehingga pastoral integratif yang secara eksplisit perspektifnya kurang mewakili tantangan dan respons pastoral di kawasan lain. Pastwa15 Indonesia. Gereja. Artikel ini berupaya menjembatani kesetiaan Gereja pada misi penyelamatan, celah tersebut. Kebaruan tulisan ini terletak pada . pendekatan simultan terhadap migran internasional dan perantau domestik menawarkan kerangka pastoral. Beberapa sebagai subjek pastoral. penekanan pada studi lain (Tiba dkk. ,16 Nampar,17 Kumar18, konteks Indonesia sebagai lokus pastoral dan Mathew. berfokus pada implementasi dan teologis. sintesis refleksi praktik sinodalitas sebagai acara hidup teologis sinodalitas dengan praktik pastoral Gereja di milenium ketiga. Namun, tulisan- migran di Asia. Dengan merumuskan deskriptif-legalistik paradigma pastoral yang mengintegrasikan perjalanan bersama, dan pemberdayaan, tulisan ini menawarkan kontribusi baru bagi Kajian ekumenis seperti yang pengembangan pastoral migran di Gereja Sinodalitas Gereja: Tinjauan dari Berbagai Aspek Filosofis dan Teologis (Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius, 2. , 401. RafaC Cekiera & Mateusz WCosek. AuThe Catholic Church and Its Approach towards Refugees and Migrants: An Analysis of the Presence of Migration Issues in the SynodAos Syntheses on SynodalityAy. Religions 15, no. , 1-14. Andrzej Pastwa. AuAccompanying Migrants as a Touchstone of the Realisation of the Synodal Church Idea A CanonistAos RemarksAy. Ecumeny and Law 9, no. , 7-40. Tiba dkk. AuJejak Kemanusiaan dalam Dialog Gereja dengan Kaum Migran dan Pengungsi di Keuskupan MaumereAu, 55-69. Hilario Didakus Nenga Nampar. AuMenuju Gereja yang Sinodal: Memahami Gagasan Sinodalitas Sebagai Cara Hidup dan Cara Bergerak Gereja di Millenium KetigaAy. Jurnal Ledalero 21, no. James Kumar. AuMigrants in a Synodal ChurchAy. Asian Horizons 2023, no. 3, . , 191-205. Nelson Mathew. AuLay Faithful in a Synodal ChurchAy. Asian Horizons 2023, no. 3, . , 46-58. Kristina Helgesson Kjellin. AuCan We Find Other Ways Forward? Church Relations among Migrants and Non-Migrants in the Church of SwedenAy. Nordic Journal of Migration Research 9, no. , 135-150. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 171 segala keunikan mereka, dalam semangat Berdasarkan pemaparan tersebut, persaudaraan dan solidaritas umat Allah. penelitian ini menjawab dua pertanyaan: . Gereja Sinodal METODE PENELITIAN menghadirkan diri sebagai rumah bersama bagi migran dan perantau secara teologis Penelitian ini menggunakan metode dan pastoral. prinsip-prinsip pastoral apa yang perlu dikembangkan teologi pastoral dan eklesiologi. Metode ini untuk memperkuat pendampingan dan dipilih untuk menelaah secara mendalam dokumen Gereja dan literatur akademik artikel ini adalah merumuskan kerangka yang relevan dengan tema sinodalitas dan teologis dan pastoral sinodal yang mampu meneguhkan identitas Gereja yang bekerja dilakukan melalui tiga tahap: pengumpulan untuk Aukemajuan umat manusia dan persaudaraan universalAy (FT A . 21 serta Tujuan sebagai komunitas yang mencerminkan Prosedur Tahap pertama adalah pengumpulan Tritunggal Sumber utama mencakup dokumen magisterium Gereja, terutama ensiklik komunitas basis, dan jaringan kategorial. Sollicitudo Rei Socialis . , dokumen Gereja dapat semakin menjadi tanda dan For a Synodal Church: Communion, sarana persaudaraan universal, tempat di Participation, mana setiap pribadi, terutama mereka yang dokumen-dokumen pastoral terkait migrasi. terpinggirkan oleh arus dunia, mendapat Selain itu digunakan artikel ilmiah, studi ruang untuk pulih, ditemukan, dan diutus pastoral, dan hasil penelitian kontemporer Gereja mengenai migrasi global dan sinodalitas. migran22 menjadi Gereja yang melampaui Kriteria pemilihan sumber mencakup: . batas-batas, yang bersifat inklusif dan relevansi langsung dengan sinodalitas, mampu merangkul para migran dengan pastoral migran, atau eklesiologi. Dengan Paus Fransiskus. Fratelli Tutti: Saudara Sekalian - Ensiklik Paus Fransiskus tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial 3 Oktober 2020 (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, 2. , 169. Gereja migran merupakan Gereja yang memberi ruang dan dorongan bagi para migran untuk menjalankan peran mereka sebagai nabi, imam, dan raja. Mission Secara hakikat. Gereja ini memiliki sifat yang misioner. Marcel Beding . Sinode Luar Biasa Para Uskup Tahun 1985 (Jakarta: Penerbit Obor, 1. , 18. Erap. AuGereja Lokal Keuskupan Larantuka Membangun Solidaritas dengan dan antar Kaum Buruh Migran dan Perantau dalam Terang Laborem ExercensAy, 172 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. kontribusi teoritis terhadap pembentukan kerangka menghasilkan kerangka konseptual dan pastoral Gereja. arah pastoral yang dapat memperkuat peran Tahap kedua adalah analisis dokumen. Analisis dilakukan melalui pendekatan Gereja Sinodal sebagai rumah bersama bagi migran dan perantau. hermeneutis teologis yang menggabungkan tiga langkah: . pembacaan historis- HASIL DAN PEMBAHASAN kontekstual terhadap dokumen Gereja. interpretasi teologis berdasarkan prinsip Sinodalitas dan Migrasi: Fondasi communio, martabat manusia, dan misi Teologis dan tanda Zaman bagi Gereja Gereja. korelasi praksis . , yakni menautkan isi dokumen Konsep Dasar Sinodalitas dengan pengalaman pastoral migran di Indonesia. Istilah sinodal berasal dari kata Yunani memungkinkan peneliti melihat dinamika Es-C . yn-odo. , yang berarti Auberjalan tidak hanya pada tingkat bersamaAy . ourneying togethe. 24 Secara normatif, tetapi juga pada praktik gerejawi. historis, istilah ini menunjuk pada praktik Tahap ketiga adalah sintesis dan pertemuan para uskup atau konsili dalam perumusan model pastoral. Pada tahap ini, mengambil keputusan gerejawi. 25 Namun berbagai temuan dikategorikan secara perkembangan teologis modern, terutama tematik ke dalam aspek mendengar, sejak Konsili Vatikan II, memperluas membedakan, bertindak, memberdayakan, maknanya sehingga sinodalitas tidak lagi Sintesis dipahami semata-mata sebagai mekanisme tata kelola atau struktur administratif Proses wawasan teologis dari magisterium dengan Gereja, data empiris dan literatur pastoral migran. menghidupi identitasnya sebagai Umat Validitas Allah yang berjalan bersama dalam terang konsistensi dengan ajaran resmi Gereja. Roh Kudus. Dokumen For a Synodal keterpaduan argumen eklesiologis, dan Church penggunaan sumber primer magisterial sinodalitas adalah modus hidup dan cara Melalui bertindak khas Gereja. Umat Allah, yang Nampar. AuMenuju Gereja yang Sinodal: Memahami Gagasan Sinodalitas Sebagai Cara Hidup dan Cara Bergerak Gereja di Millenium KetigaAy, 177. Paus Fransiskus. For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission. Final Document (XVI Ordinary General Assembly of the Synod of Bishop. , 13. Gereja Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 173 mengungkapkan serta mewujudkan jati Tritunggal Mahakudus, dirinya sebagai persekutuan ketika semua anggotanya berjalan bersama, berkumpul persekutuan dalam Gereja. Dalam Gereja dalam persekutuan, dan mengambil bagian sinodal, relasi kasih antara Bapa. Putra, dan Roh Kudus menjadi dasar dan teladan bagi 26 Sinodalitas berakar pada hidup persekutuan serta pelaksanaan misi. misteri Tritunggal: relasi, dialog, dan Kesatuan dalam keberagaman yang hidup dalam diri Tritunggal menjadi inspirasi bagi Dengan demikian, sinodalitas tidak Gereja untuk berjalan bersama, saling identik dengan sistem pemerintahan Gereja mendengarkan, dan mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan iman. Roh Kudus hadir sebagai prinsip kesatuan dan Gereja. Allah seluruh umat . aik tertahbis maupun melalui pembacaan tanda-tanda zaman. komunal dalam misi Gereja. 28 Dalam Beragam konteks pastoral migran, sinodalitas berarti kesembuhan, nubuat, dan hikmat rohani keberanian Gereja untuk membuka ruang dianugerahkan oleh Roh Kudus kepada mereka, dan menghayati perutusan melalui kelompok tertentu, untuk membangun Gereja Pemahaman Dengan demikian, sinodalitas merupakan menegaskan bahwa sinodalitas adalah modus vivendi . ara hidu. dan modus dimensi teologis dan pastoral sekaligus, operandi . ara bergera. Gereja sebagai bukan sekadar kategori organisatoris. komunitas yang saling berbagi tanggung jawab dalam pewartaan keselamatan. Landasan Teologis Gereja Sinodal Paus Fransiskus menegaskan bahwa persekutuan dan misi adalah ungkapan Sinodalitas Ibid. , 14. Nampar. AuMenuju Gereja yang Sinodal: Memahami Gagasan Sinodalitas Sebagai Cara Hidup dan Cara Bergerak Gereja di Millenium KetigaAy, 177-178. Ibid. , 181-182. Kumar. AuMigrants in a Synodal ChurchAy, 204. Mathew. AuLay Faithful in a Synodal ChurchAy. Martasudjita dkk. , ed. Sinodalitas Gereja: Tinjauan dari Berbagai Aspek Filosofis dan Teologis, 174 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. Gereja sebagai sakramen keselamatan. tidak lagi hanya dipahami sebagai tindakan Misteri ini bukan sesuatu yang tertutup atau Gereja yang Audiutus kepadaAy orang lain, tidak dapat dipahami, melainkan rencana tetapi sebagai perjalanan bersama di mana kasih Allah yang sejak kekal menghendaki para migran juga diakui sebagai pelaku manusia ikut serta dalam hidup ilahi, 34 Mereka bukan hanya penerima sebagaimana ditegaskan Konsili Vatikan II pelayanan, tetapi membawa pengalaman dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja iman, keteguhan, dan solidaritas yang dapat (Lumen Gentium A . 32 Bapa mewartakan memperkaya Gereja. 35 Karena itu, misi keselamatan melalui Putra. Sabda yang harus menyadari adanya ketidakadilan yang menjadi manusia, yang menyatakan misteri sering dialami migranAibaik ekonomi, keilahian dan memulihkan persekutuan hukum, maupun sosialAiserta menghargai manusia dengan Allah. Kristus kemudian cara mereka menghayati iman dalam budaya dan situasi baru. Dengan cara ini, membentuk Gereja sebagai Tubuh dan misi menjadi lebih dialogis, partisipatif, dan Mempelai-Nya, menjadikannya tanda dan sesuai dengan dinamika hidup migran. Roh Kudus sarana keselamatan bagi dunia. Karena Selain Tritunggal Mahakudus. Ekaristi, berasal dari perutusan Putra dan Roh sebagai pusat kehidupan Gereja, menjadi Kudus. Gereja secara hakiki bersifat dasar penting bagi sinodalitas sekaligus misioner: dipanggil untuk mewartakan Injil melalui sabda, sakramen, dan kesaksian pastoral migran. Ekaristi menyatukan umat hidup, hingga pada kepenuhannya ketika sebagai satu tubuh dalam Kristus, tetapi Allah menjadi semua di dalam semua. dalam praktiknya banyak migran justru Namun, pemahaman tentang misi perlu mengalami keterputusan dalam kehidupan dilihat kembali ketika diterapkan pada Mereka sering kesulitan mengikuti situasi migran. Selama ini, misi biasanya Misa karena perbedaan bahasa, jadwal dimengerti sebagai kegiatan mewartakan kerja yang panjang, perpindahan tempat Injil tinggal, status hukum yang tidak stabil, atau kesaksian hidup. Namun dalam konteks kurangnya informasi mengenai komunitas migrasi, makna ini perlu diperluas. Misi Gereja setempat. Sebagian juga merasa Konsili Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II, penerj. Hardawiryana. SJ, cetakan Xi (Jakarta: Obor, 2. , 70. Nampar. AuMenuju Gereja yang Sinodal: Memahami Gagasan Sinodalitas Sebagai Cara Hidup dan Cara Bergerak Gereja di Millenium KetigaAy, 177-178. Paus Fransiskus. For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission. Final Document (XVI Ordinary General Assembly of the Synod of Bishop. , (Vatican City: Secretary General of the Synod of Bishops, 2. , 13. Erap. AuGereja Lokal Keuskupan Larantuka Membangun Solidaritas dengan dan antar Kaum Buruh Migran dan Perantau dalam Terang Laborem ExercensAy. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 175 asing dengan ritus, budaya, atau bentuk Ekaristi, setiap orang dipanggil masuk devosi yang berbeda dari asal mereka, dalam persekutuan iman yang bersifat sehingga terputus dari komunitas yang publik, universal, dan terbuka bagi semua. biasa menopang kehidupan iman mereka. Selain bersifat Katolik. Gereja yang Situasi ini menunjukkan bahwa pastoral Ekaristi Perayaan Ekaristi dilaksanakan perhatian khusus agar persekutuan Gereja berdasarkan tradisi yang diwariskan Kristus sungguh menjadi ruang yang ramah, kepada para rasul dan diteruskan melalui para uskup sebagai penerus mereka dalam keberagaman pengalaman umat. Ekaristi pelayanan imamat. Dengan demikian. Dalam suatu perayaan Ekaristi, umat persekutuan dalam Ekaristi selalu berkaitan tidak hanya dipersatukan dengan Kristus, dengan persekutuan dalam ajaran para rasul tetapi juga satu sama lain sebagai anggota dan kesetiaan pada struktur hierarkis Tubuh-Nya. Gereja. 38 Dimensi apostolik inilah yang Paulus . 1 Kor. 10:16-. , penerimaan menjadi dasar proses sinodal: setelah Tubuh Kristus membangun Gereja sebagai Tubuh Kristus. Maka benar jika dikatakan mendengarkan para uskup yang adalah bahwa Ekaristi membentuk Gereja dan Gereja Sejak puncaknya. Gereja mendengarkan Paus Pentakosta. Gereja telah hidup dalam ritme sebagai penerus Petrus dan penjamin ekaristi: bertekun dalam ajaran para rasul, kesatuan iman. Dalam proses sinodal. Paus persekutuan, pemecahan roti, dan doa . Kis. 2:41-. Karena itu. Gereja yang lahir prinsip kesatuan Gereja serta penjamin dari Ekaristi bersifat satu, kudus, dan kesetiaan seluruh Gereja kepada kehendak Katolik. Ekaristi menyatukan semua umat Allah dan Tradisi suci. Sebagaimana Ekaristi. tanpa memandang latar belakang budaya. Ekaristi. Gereja Pada Gereja communio dan Umat Allah, sebagaimana Dalam ditegaskan Konsili Vatikan II. Lumen Erap. AuGereja Lokal Keuskupan Larantuka Membangun Solidaritas dengan dan antar Kaum Buruh Migran dan Perantau dalam Terang Laborem ExercensAy. Ibid. , 178-179 Gernaida K. Pakpahan. Frans Pantan, & Epafras Djohan Handojo. AuMenuju Gereja Apostolik TransformatifAy. EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 5, no. , 136-146. Nampar. AuMenuju Gereja yang Sinodal: Memahami Gagasan Sinodalitas Sebagai Cara Hidup dan Cara Bergerak Gereja di Millenium KetigaAy, 179. Dalam terang misteri Tritunggal dan suku, atau identitas lainnya, sekaligus 176 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. Gentium artikel 4 menegaskan bahwa Gereja adalah komunitas yang dipersatukan Pengalaman iman mereka menjadi locus theologicus untuk memahami karya Allah Roh sakramen, dan pelayanan, bukan semata dalam dunia yang terus berubah. sebuah institusi hierarkis. 40 Pemahaman Bertolak dari ajaran Lumen Gentium. Gereja sebagai Umat Allah menegaskan Paus Fransiskus kemudian menegaskan bahwa setiap anggota memiliki martabat sinodalitas sebagai unsur esensial untuk dan partisipasi dalam kehidupan Gereja, sesuai dengan karisma dan misinya. mengakui seluruh umat beriman sebagai Dengan agen evangelisasi melalui sensus fidei mengandaikan keterlibatan seluruh umat Sinodalitas dipandang sebagai beriman, bukan hanya kaum tertahbis, pendorong pembaruan semangat misioner dalam proses mendengarkan, membedakan yang melibatkan seluruh Gereja. Selain itu, kehendak Allah, dan mewujudkan misi sinodalitas memuat dimensi ekumenis yang 41 Gereja dipanggil untuk mendalam, karena membuka jalan menuju menegaskan kesetaraan martabat sebagai persatuan Kristiani yang lebih utuh serta tubuh Kristus, sehingga ruang partisipasi memberikan kerangka untuk merangkul umat semakin diperluas. perbedaan yang sah melalui pertukaran Konsep anugerah rohani secara timbal balik dalam memperkuat gagasan ini. Sensus fidelium terang kebenaran. 43 Dengan demikian, mengacu pada anugerah iman yang dimiliki oleh setiap orang yang telah dibaptis, kehidupan internal Gereja, tetapi juga sehingga ia secara rohani terdorong untuk Gereja mengenal dan mengarahkan diri kepada objek iman itu, yaitu Allah. 42 Partisipasi kesaksian iman di tengah perubahan global. umat menjadi bukan sekadar kontribusi Landasan teologis Gereja Sinodal ini teknis, tetapi merupakan dimensi spiritual menegaskan bahwa sinodalitas tidak hanya yang lahir dari anugerah baptisan. Oleh sebuah metode pastoral, tetapi identitas karena itu, mendengarkan suara umat, terutama mereka yang hidup dalam situasi diungkapkan dalam Ekaristi, dimaknai rentan seperti migran, merupakan unsur sebagai communio dan Umat Allah, serta II, 71-72. Konsili Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan Yves Congar. Lay People in the Church (Westminster MD: Newman, 1. , 22. Tritunggal. Mathew. AuLay Faithful in a Synodal ChurchAy. Paus Fransiskus. The Church of Mercy: A Vision for the Church (Chicago: Loyola Press, 2. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 177 dihidupi melalui karunia sensus fidei. Dengan fondasi tersebut. Gereja dipanggil mendengarkan, berdialog, dan menegaskan membuka ruang partisipasi dan kesaksian martabat setiap pribadi, tanpa terkecuali. iman bagi semua, terutama kelompok yang sini, sinodalitas menjadi kerangka teologis kerap berada di pinggiran, termasuk migran dan pastoral untuk menghidupi misi Injili di tengah perubahan sosial besar yang terjadi Dalam pendampingan terhadap mereka bukan Gereja saat ini. semata tugas sosial, melainkan ekspresi Paus Fransiskus menegaskan bahwa hakiki Gereja sebagai persekutuan yang sikap terhadap para migran harus berubah berjalan bersama dalam kasih dan misi. pada setiap tingkat kehidupan Gereja, karena martabat ilahi dan panggilan menuju Migrasi sebagai AuKairysAy Gereja keselamatan yang mempersatukan umat manusia jauh lebih besar daripada segala Migrasi pada zaman ini dapat dipahami sebagai suatu kairys bagi Gereja, yaitu Dalam semangat itu, proses momen rahmat di mana Gereja dipanggil sinodal tidak hanya berorientasi ke dalam untuk membaca tanda-tanda zaman dan . d intr. , tetapi juga ke luar . d extr. , menanggapi tantangan kemanusiaan secara sehingga Gereja mampu menghadirkan kesaksian yang kredibel melalui solidaritas nyata, advokasi keadilan, dan pembelaan Konsili Vatikan berkelanjutan dalam tubuh Gereja melalui discernment komunal, dan Paus Fransiskus migrasi menjadi ruang bagi Gereja untuk menempatkan sinodalitas sebagai jalan utama bagi Gereja abad ke-21. Dalam memperdalam komitmen pastoralnya, dan konteks migrasi global yang menjadi salah menghidupi misi kasih Kristus yang satu gerakan manusia terbesar dalam menyatukan seluruh umat manusia sebagai sejarah. Gereja melihat kesempatan untuk satu keluarga Allah. Dengan Secara spiritual, migrasi merupakan perjalanan eksistensial yang membawa memperkuat misi pewartaannya. Migrasi luka, kerinduan, dan pencarian makna. menyingkap realitas sosial baru yang Migran sering menghadapi pergumulan Pastwa. AuAccompanying Migrants as a Touchstone of the Realisation of the Synodal Church Idea A CanonistAos RemarksAy, 8-12. Ibid. , 8-10. 178 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. identitas dan rasa kehilangan, sekaligus migrasi sebagai kairys. Gereja dipanggil mengalami kedekatan baru dengan Allah melalui perjuangan hidup dan solidaritas Pengalaman tercerabut dari akar, perlindungan, dan pemberdayaan, serta menjalankan sinodalitas sebagai paradigma kebutuhan-kebutuhan Allah seluruh umat manusia. Sementara itu, secara sosial, migrasi Gereja sebagai Rumah Bersama: Model eksploitasi, diskriminasi, dan pelanggaran Pastoral. Partisispasi Umat, serta hak asasi manusia yang menuntut kehadiran Tantangan dan Peluang profetis Gereja. Pelayanan Gereja harus Gagasan Gereja advokasi struktural, pemberdayaan, dan hospitium menegaskan identitas Gereja perlindungan martabat manusia, sejalan sebagai rumah bersama yang menghadirkan keamanan, penerimaan, dan kepenuhan keadilan dan solidaritas (SRC A . martabat manusia. Pemahaman ini lahir Dalam dari misi Kristus untuk mengumpulkan memastikan ruang aman dan dukungan bagi semua orang dalam satu keluarga Allah kelompok rentan seperti perempuan dan . Ef. , terutama mereka yang pekerja informal. termarginalkan dalam struktur sosial dan Gereja Pada akhirnya, migrasi menunjukkan Gereja menghormati martabat kerinduan manusia untuk diterima dalam pribadi setiap manusia yang tidak dapat komunitas yang menghargai identitasnya. diganggu gugat, karena mereka diciptakan Pengalaman perantauan menjadi proses menurut citra Allah. Gereja dipanggil membangun relasi sosial, budaya, dan menjadi ruang aman . afe plac. bagi para spiritual baru, menjadikan migran sebagai migran dan perantau, tempat mereka locus theologicus yang memperkaya Gereja dalam semangat keramahtamahan dan perlindungan sosial, dan keberlanjutan Dengan Erap. AuGereja Lokal Keuskupan Larantuka Membangun Solidaritas dengan dan antar Kaum Buruh Migran dan Perantau dalam Terang Laborem ExercensAy. Yohanes Paulus II. Keprihatinan Akan Masalah Sosial: Surat Ensiklik AuSollicitudo Rei SocialisAy. Turang. Pr (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1. , 56-58. Kristina Helgesson Kjellin. AuCan We Find Other Ways Forward? Church Relations among Migrants and Non-Migrants in the Church of SwedenAy, 144-148. Kumar. AuMigrants in a Synodal ChurchAy, 205. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 179 Gereja agama maupun latar belakang. 51 Dalam sebagai keluarga Allah mengandung unsur konteks modern, hal ini menuntut Gereja kehangatan, kepedulian, dan komitmen untuk merumuskan strategi pastoral yang Gambaran komunitas beriman menjadi tanda nyata memperdayakan migran, bukan hanya kehadiran Kerajaan Allah di dunia. menempatkan mereka sebagai penerima Konsep ecclesia hospitium berakar bantuan pasif. Peran paroki, komunitas pada tradisi kuno kehidupan Kristiani yang basis, dan kelompok kategorial menjadi sangat penting sebagai tempat kehadiran Gereja yang hidup dan memungkinkan sebagaimana diwariskan oleh kesaksian migran untuk mengikat relasi, memelihara Kitab Suci dan praktik Gereja perdana. iman, dan membangun kembali harapan. Keramahtamahan bukan sekadar sikap Dimensi keadilan dan martabat manusia sosial, tetapi tindakan iman yang mengakui merupakan fondasi moral Gereja sebagai wajah Kristus dalam diri setiap orang, martabat setiap pribadi manusia sebagai perhatian dan penerimaan. Berpijak pada citra Allah, suatu martabat yang tidak dapat kasih Kristus dan ajaran-Nya: AuSebab ditawar oleh kondisi sosial, status ekonomi, ketika Aku lapar, kamu memberi Aku atau status legal seseorang (SRC A . ketika Aku haus, kamu memberi Karena itu, pelayanan pastoral terhadap Aku minum. ketika Aku menjadi orang migran tidak dapat berhenti pada tingkat asing, kamu menerima Aku. ketika Aku spiritual, tetapi harus mencakup advokasi telanjang, kamu memberi Aku pakaian. untuk melindungi hak-hak dasar, melawan ketika Aku sakit, kamu merawat Aku. diskriminasi, serta menciptakan struktur ketika Aku dipenjara, kamu mengunjungi sosial yang adil. Di sini, prinsip solidaritas AkuAy (Mat 25:35-. Gereja hadir untuk mendorong Gereja untuk tidak hanya memberikan cinta dan pertolongan kepada Gereja mengungsi, tanpa memandang perbedaan Paus Fransiskus. For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission. Final Document (XVI Ordinary General Assembly of the Synod of Bishop. , (Vatican City: Secretary General of the Synod of Bishops, 2. , 52. Dewan Kepausan untuk Pastoral Migran dan Perantau Dewan Kepausan Cor Unum. Menyambut Kristus dalam Diri Pengungsi dan Orang yang Terpaksa Mengungsi: Pedoman Pastoral, 11. Yohanes Paulus II. Keprihatinan Akan Masalah Sosial: Surat Ensiklik AuSollicitudo Rei SocialisAy, 180 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. sebagai bagian dari Tubuh Kristus. sebagai satu persekutuan umat beriman. Dengan demikian, solidaritas bukan hanya Hal ini tampak ketika seluruh anggota wacana belaka, melainkan terwujud dalam Gereja tindakan nyata yang mengubah struktur berdiskusi dan berdoa, serta terlibat secara Sejalan dengan itu. Gereja menegaskan preferential option for the poor sebagai mewartakan Injil. Dengan cara ini. Gereja dimensi integral dari misinya. 54 Prinsip ini komunitas yang bersatu dalam misi ilahi. Komunitas gerejawi dipanggil menjadi terpinggirkan, dan rentan, termasuk para tempat di mana migran diterima sebagai migran yang seringkali mengalami eksklusi saudara, dihargai martabatnya, dan diberi sosial dan ekonomi. 55 Dalam praktiknya, ruang untuk berkontribusi dalam kehidupan Gereja. pendampingan pastoral yang menyeluruh: Salah satu bentuk nyata perwujudan Gereja sebagai rumah bersama dapat Komisi iman, serta dukungan advokasi untuk Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) di melawan eksploitasi dan ketidakadilan 56 Gereja menjadi tanda harapan Maumere, gagasan ecclesia hospitium tampak jelas melalui keterlibatan Gereja mengangkat martabat mereka yang lemah dalam mendampingi para migran dan dan terlupakan. PSEAeCaritas menjalankan dua Dengan Keuskupan program utama di wilayah pengungsian. rumah bersama bukan hanya realitas Pertama, mereka memastikan pemenuhan spiritual, tetapi identitas eklesiologis dan kebutuhan dasar, terutama pakaian, yang misi pastoral yang wajib diwujudkan diperoleh melalui dukungan umat dan melalui kesaksian konkret. Sinodalitas pengajuan bantuan kepada pemerintah berarti gaya hidup dan pola kerja Gereja Kedua. PSEAeCaritas menyediakan Gereja Mathew. AuLay Faithful in a Synodal ChurchAy. Martasudjita dkk. , ed. Sinodalitas Gereja: Tinjauan dari Berbagai Aspek Filosofis dan Teologis. Kumar. AuMigrants in a Synodal ChurchAy, 200201. Tiba dkk. AuJejak Kemanusiaan dalam Dialog Gereja dengan Kaum Migran dan Pengungsi di Keuskupan MaumereAy, 56. Martasudjita dkk. , ed. Sinodalitas Gereja: Tinjauan dari Berbagai Aspek Filosofis dan Teologis. Paus Fransiskus. For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission, 13. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 181 bahan makanan pokok bagi para pengungsi potensi, harapan, dan misi hidupnya dalam dari Palue. Keterlibatan ini juga didukung oleh solidaritas umat paroki, komunitas accompaniment menjadi inti spiritualitas biara, dan lembaga-lembaga pendidikan dan metode pastoral Gereja di tengah yang secara sukarela memberikan bantuan realitas migrasi global. dalam bentuk dana maupun barang. Selain Dengan Gereja Model Pastoral Gereja Sinodal untuk diungkapkan melalui dialog kehidupan. Migran dan Perantau dialog kehadiran, dan dialog pembebasan sebagaimana ditekankan dalam konteks Model pastoral Gereja Sinodal bagi pastoral Asia. Dialog kehidupan berarti migran dan perantau berakar pada prinsip membangun relasi sehari-hari yang tulus accompaniment, yakni pendampingan yang antara komunitas gereja dan para migran melalui keterlibatan sosial dan kepedulian perutusan Gereja. Pendampingan tidak sematamata bentuk bantuan karitatif, tetapi proses berjalan bersama dalam iman, bersama, berbagi penderitaan dan sukacita, harapan, dan kasih, sambil mengikuti sehingga kehadiran Gereja menjadi tanda teladan Kristus sebagai Gembala yang kehadiran Kristus di tengah pergulatan mengenal dan mengasihi setiap pribadi. hidup migran. Sementara itu, dialog Dalam kerangka sinodalitas, pendampingan Dialog pengalaman migran, merasakan pergulatan mereka, serta menyertai proses pemulihan eksploitasi kerja, kekerasan gender, dan martabat dan integrasi mereka dalam diskriminasi sosial. 61 Ketiga bentuk dialog komunitas gerejawi. Pendampingan juga ini memperlihatkan bahwa Gereja Sinodal bersifat transformatif, di mana Gereja tidak bukan hanya hadir untuk migran, tetapi hanya hadir sebagai penolong sementara, membimbing migran untuk menemukan Tiba dkk. AuJejak Kemanusiaan dalam Dialog Gereja dengan Kaum Migran dan Pengungsi di Keuskupan MaumereAy 61. Ibid. , 9. Tiba dkk. AuJejak Kemanusiaan dalam Dialog Gereja dengan Kaum Migran dan Pengungsi di Keuskupan MaumereAy 60-61. 182 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. Model Kerja menekankan formasi dan pemberdayaan pemerintah dapat mendukung advokasi rohani dan sosial bagi migran dan perantau. kebijakan publik yang melindungi hak-hak Formasi rohani diperlukan agar migran tetap bertumbuh dalam iman, menemukan organisasi masyarakat sipil memperkuat kekuatan spiritual di tengah tekanan hidup, pendampingan hukum, psikososial, dan dan membangun identitas iman yang kokoh sosial budaya. Sementara itu, kolaborasi di lingkungan baru. 62 Formasi sosial dengan komunitas migran memastikan mencakup pendidikan hak-hak pekerja, bahwa pelayanan Gereja berpijak pada literasi keuangan, keterampilan hidup, dan pengalaman riil dan kebutuhan aktual 65 Dengan sinergi seperti ini. Gereja Dengan demikian. Gereja tidak hanya mewujudkan prinsip solidaritas secara menolong secara spiritual, tetapi juga struktural, bukan hanya dalam tingkat relasi Kemitraan menghadapi berbagai bentuk tantangan Secara keseluruhan, model pastoral dalam bidang ekonomi dan sosial (SRC A Gereja Sinodal bagi migran adalah model Melalui pelayanan, melainkan subjek yang berdaya Pendampingan, dialog, formasi, dan sinergi dan mampu memberi kontribusi positif bukan hanya strategi teknis, tetapi cara dalam komunitas gerejawi dan masyarakat Gereja mewujudkan identitasnya sebagai Umat Allah yang berjalan bersama dalam Lebih Kristus Gereja. Pendekatan ini menegaskan bahwa dalam negara, lembaga swadaya masyarakat, dan diri setiap migran hadir martabat ilahi, komunitas migran sendiri. Kolaborasi lintas sehingga pelayanan Gereja kepada mereka lembaga memungkinkan Gereja untuk menjadi ungkapan otentik kasih Allah yang memaksimalkan sumber daya, memperluas menyelamatkan dan membebaskan. jangkauan pelayanan, dan menciptakan mekanisme perlindungan Mathew. AuLay Faithful in a Synodal ChurchAy. Yohanes Paulus II. Keprihatinan Akan Masalah Sosial: Surat Ensiklik AuSollicitudo Rei SocialisAy. Kjellin. AuCan We Find Other Ways Forward? Partisipasi Umat dalam Misi Migran Church Relations among Migrants and Non-Migrants in the Church of SwedenAy, 147-148. Pastwa. AuAccompanying Migrants as a Touchstone of the Realisation of the Synodal Church Idea A CanonistAos RemarksAy, 20. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 183 hidup di tengah masyarakat membantu Dalam Gereja Sinodal, umat beriman memastikan bahwa para migran tidak awam bukan hanya penerima pelayanan terisolasi, tetapi tetap berada dalam jaringan dan bimbingan rohani, tetapi juga subjek dukungan rohani dan sosial Gereja. KBG utama misi Gereja. Kesadaran ini berakar juga menjadi ruang di mana solidaritas pada martabat baptisan yang menjadikan semua orang percaya sebagai bagian dari kunjungan, doa bersama, bantuan praktis, tubuh Kristus dan pewarta Injil di tengah dan pendampingan emosional. 69 Di banyak 66 Dalam konteks pastoral migran, tempat, kelompok kategorial seperti Legio peran awam menjadi semakin penting Maria, komunitas karismatik, dan kelompok mengingat mereka berada pada ruang devosi lainnya menjadi titik perjumpaan dan kehidupan sosial yang luas dan memiliki tempat mengobati kerinduan spiritual para kedekatan langsung dengan realitas yang migran yang jauh dari keluarga dan tanah dialami para migran. Para awam dipanggil Dengan demikian, komunitas- untuk membangun budaya penerimaan komunitas gerejawi tersebut bukan sekadar . ulture of encounte. , membela martabat struktur organisasi, tetapi habitat iman yang manusia, serta menjadi saksi kasih Kristus di tengah realitas migrasi global yang memperkuat kehidupan rohani migran. 67 Pelibatan aktif umat awam Selain KBG dan kelompok kategorial, dalam pelayanan bagi migran juga sejalan komunitas diaspora Katolik juga memegang dengan visi sinodalitas yang menekankan dialog, musyawarah rohani, dan partisipasi menyediakan ruang bagi migran untuk seluruh umat Allah. 68 Dengan demikian, mempertahankan identitas budaya dan partisipasi awam tidak hanya bersifat spiritual mereka, sambil membuka pintu pendukung, tetapi konstitutif bagi misi untuk berinteraksi dengan budaya setempat. Gereja. Komunitas semacam ini menjadi jembatan Komunitas Komunitas Gerejawi (KBG) antara Gereja lokal dan komunitas migran, memfasilitasi dialog lintas budaya, dan pendampingan migran karena kedekatannya menghindarkan migran dari keterasingan Basis dengan kehidupan riil umat. KBG yang Paus Fransiskus. For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission, 11. Mathew. AuLay Faithful in a Synodal ChurchAy. Paus Fransiskus. For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission, 28. Erap. AuGereja Lokal Keuskupan Larantuka Membangun Solidaritas dengan dan antar Kaum Buruh Migran dan Perantau dalam Terang Laborem ExercensAy, 184 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. sosial maupun spiritual. 70 Dalam perspektif komunitas yang solider dan transformatif. Gereja Sinodal, diaspora tidak dianggap Secara keseluruhan, partisipasi umat sebagai kelompok pinggiran, melainkan sebagai kekayaan Gereja universal karena mengungkapkan jati diri Gereja sebagai membawa dinamika iman baru, keragaman Umat Allah yang berjalan bersama. Peran ekspresi liturgis, dan kesaksian hidup yang awam. KBG, kelompok kategorial, dan memperkaya persekutuan Gereja. Dengan komunitas diaspora merupakan wujud demikian, komunitas diaspora bukan hanya nyata sinodalitas yang hidup dan dinamis. penerima perhatian pastoral, tetapi agen Melalui keterlibatan aktif umat. Gereja evangelisasi yang menghadirkan dimensi Katolisitas . esatuan dalam keberagama. melindungi, dan memberdayakan para secara nyata. migran, sekaligus menghadirkan kesaksian Partisipasi umat awam juga berarti keterlibatan dalam advokasi dan pelayanan Banyak Kristiani yang otentik di tengah dunia yang terus berubah. mengambil peran aktif sebagai relawan. Tantangan dan Peluang pendamping hukum, penyedia layanan medis, konselor pastoral, atau fasilitator Pelayanan pastoral bagi migran dalam pelatihan kerja. Bentuk keterlibatan ini kerangka Gereja Sinodal dihadapkan pada menegaskan kembali bahwa misi Gereja berbagai tantangan struktural, kultural, dan bersifat integral, mencakup pewartaan. Salah satu tantangan utama adalah pelayanan kasih, dan pembelaan keadilan xenofobia, yakni sikap curiga, takut, atau sosial (SRC A . 71 Dalam konteks ini, menolak kehadiran orang asing, yang masih spiritualitas pelayanan menjadi kekuatan muncul di berbagai konteks masyarakat dan yang memampukan umat untuk melihat terkadang juga dalam komunitas gerejawi. wajah Kristus dalam diri para migran dan Xenofobia menjadikan pelayanan sebagai bentuk persaudaraan universal dan menghambat Dengan misi Gereja sebagai rumah bagi semua Migran sering kali mengalami memperluas jangkauan pastoral Gereja, prasangka, diskriminasi, dan stereotip yang tetapi juga meneguhkan Gereja sebagai Kjellin. AuCan We Find Other Ways Forward? Church Relations among Migrants and Non-Migrants in the Church of SwedenAy, 140-144. Yohanes Paulus II. Keprihatinan Akan Masalah Sosial: Surat Ensiklik AuSollicitudo Rei SocialisAy. Kumar. AuMigrants in a Synodal ChurchAy, 200. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 185 Fenomena ini mendesak Gereja untuk menegaskan bahwa pastoral migran bukan membuka ruang dialog dan memperkuat hanya soal empati, tetapi juga kompetensi, budaya keramahtamahan . yang Selain xenofobia, terdapat sejumlah Di samping keterbatasan sumber daya, bentuk ketidakadilan lain yang sering struktur pastoral tradisional juga sering kali menimpa migran: perdagangan manusia tidak fleksibel dalam merespons kebutuhan . uman traffickin. ,74 eksploitasi tenaga mobilitas umat. Banyak sistem pastoral kerja . pah tak layak, kondisi kerja masih berorientasi pada model paroki teritorial yang menetap, sementara migran atasa. ,75 kekerasan psikologis dan seksual, hidup dalam situasi mobilitas tinggi, serta keterbatasan akses layanan kesehatan berpindah tempat tinggal atau pekerjaan . ermasuk diskriminasi dalam pelayanan secara cepat, dan tidak selalu terikat pada Selain itu, berbagai kerentanan struktur parokial tertentu. Hal ini menuntut khusus yang dialami perempuan migranAi Gereja untuk mengembangkan bentuk mulai dari kekerasan berbasis gender, pelayanan yang mobile, fleksibel, dan beban kerja ganda, hingga status hukum bersifat jaringan, agar kehadiran pastoral yang membuat mereka sulit mengakses tetap menjangkau umat dalam situasi perlindunganAijuga Tantangan ini semakin kompleks ketika Gereja dituntut untuk berani berinovasi kebutuhan pastoral migran meningkat globalisasi ekonomi. Maka Gereja perlu Di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat pula peluang besar bagi Gereja kolaboratif, pemberdayaan relawan, serta untuk memperbarui diri dan memperkaya memanfaatkan teknologi digital untuk evangelisasi baru, karena para migran migran yang tersebar luas. 77 Hal ini membawa serta iman dan penghayatan Kjellin. AuCan We Find Other Ways Forward? Church Relations among Migrants and Non-Migrants in the Church of SwedenAy, 137. Erap. AuGereja Lokal Keuskupan Larantuka Membangun Solidaritas dengan dan antar Kaum Buruh Migran dan Perantau dalam Terang Laborem ExercensAy. Migrasi Ibid. , 50-51. Ibid. , 99. Pastwa. AuAccompanying Migrants as a Touchstone of the Realisation of the Synodal Church Idea A CanonistAos RemarksAy, 23. Mathew. AuLay Faithful in a Synodal ChurchAy, 186 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. rohani mereka ke lingkungan baru, menjadi saksi Kristus di tempat-tempat yang menegaskan bahwa Gereja bukan hanya mungkin belum tersentuh karya misioner komunitas lokal, tetapi tubuh universal Gereja secara formal. Pertukaran budaya yang saling menopang. Dengan demikian, meskipun pastoral memperkaya kehidupan liturgi, tradisi devosi, dan spiritualitas Gereja universal. peluang yang hadir juga sangat luas. Gereja Proses ini mencerminkan dimensi Katolik yang sejati: kesatuan dalam keberagaman migrasi bukan sekadar sebagai beban . nitas in varietat. 79 Dengan demikian, pastoral, tetapi sebagai ruang pertumbuhan migrasi bukan hanya tantangan pastoral, keberanian untuk berinovasi, memperkuat manusia. Gereja dapat menjadi rumah Melalui Gereja yang lebih inklusif, dinamis, dan Migrasi pembaruan spiritual bagi Gereja. Dalam melindungi, dan memberdayakan para pengalaman penderitaan, kerinduan, dan migran sebagai saudara seiman dan bagian integral Tubuh Kristus. Gereja menemukan wajah Kristus yang menderita Usulan Model Pastoral Integratif Injil Selain Pendampingan Gereja terhadap migran dalam kerangka sinodalitas membutuhkan Gereja sebuah model pastoral integratif yang menjalin kerja sama lintas-keuskupan, dinamis, humanis, dan berpusat pada lintas-negara, dan lintas-lembaga untuk martabat manusia. Model ini harus mampu memperkuat pelayanan bagi migran, baik menjawab tantangan sosial dan spiritual migran, sekaligus memampukan Gereja untuk berjalan bersama dalam semangat partisipasi, dialog, dan perutusan. Kerangka kerangka teologis dan pastoral untuk pastoral sinodal untuk migran dapat Sinodalitas Kumar. AuMigrants in a Synodal ChurchAy, 204- Tiba dkk. AuJejak Kemanusiaan dalam Dialog Gereja dengan Kaum Migran dan Pengungsi di Keuskupan MaumereAy 56-57. Kjellin. AuCan We Find Other Ways Forward? Church Relations among Migrants and Non-Migrants in the Church of SwedenAy, 143. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 187 dirumuskan melalui lima langkah yang melakukan proses discernment rohani saling terkait: mendengar, membedakan, untuk memahami kehendak Allah dalam situasi migrasi. Discernment menuntut membangun jejaring. Setiap langkah saling refleksi teologis, sensitivitas sosial, dan menopang dan mencerminkan dinamika keterbukaan terhadap gerakan Roh Kudus hidup sebagai Gereja yang berakar pada yang hadir dalam sejarah manusia. 84 Dalam misi Kristus sendiri yang senantiasa hadir membaca secara kritis struktur sosial yang membebaskan umat manusia. menghasilkan ketidakadilan, serta menilai Tahap pertama adalah mendengar. apa yang harus diubah demi martabat Gereja dipanggil menghidupi spiritualitas 85 Proses ini tidak dilakukan secara mendengar, bukan hanya mendengar suara formal, tetapi juga pengalaman nyata, berlangsung melalui dialog komunitas, tangisan, harapan, dan pergumulan para Discernment merupakan bentuk pengakuan atas martabat Gereja strategi pelayanan yang relevan dan berakar Pendengaran Gereja kehidupan mereka tanpa asumsi atau pada realitas konkret umat. Mendengar berarti membuka Tahap ketiga adalah bertindak. Setelah mendengar dan membedakan, tindakan pastoral Gereja harus diarahkan pada mengenali kekuatan iman yang tetap perlindungan, pelayanan, dan advokasi. terpelihara dalam situasi sulit. Dengan Bertindak mencakup pelayanan spiritual mendengar. Gereja memberikan tempat pada suara-suara yang sering terlupakan rohani, sekaligus tindakan sosial melalui dan memastikan bahwa pastoral bersumber bantuan hukum, pendidikan, kesehatan, dan dari pengalaman riil umat. dukungan psikologis (SRC A . 86 Gereja Tahap kedua adalah membedakan. Setelah Gereja Paus Fransiskus. For a Synodal Church: Communion. Participation. Mission, 30. Nampar. AuMenuju Gereja yang Sinodal: Memahami Gagasan Sinodalitas Sebagai Cara Hidup dan Cara Bergerak Gereja di Millenium KetigaAy, 180-181. Mathew. AuLay Faithful in a Synodal ChurchAy, tidak hanya memberi jawaban karitatif Kumar. AuMigrants in a Synodal ChurchAy, 204- Yohanes Paulus II. Keprihatinan Akan Masalah Sosial: Surat Ensiklik AuSollicitudo Rei SocialisAy, 188 | SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi, vol. 15, no. solidaritas yang memungkinkan perubahan Dalam lembaga internasional untuk menciptakan sinodalitas, tindakan pastoral bukan hanya ekosistem perlindungan yang menyeluruh. instruksi dari atas ke bawah, tetapi Jaringan solidaritas global memperluas kolaborasi seluruh umat untuk menjawab kebutuhan konkret. memfasilitasi advokasi kebijakan publik Gereja yang melindungi hak migran. 90 Sinodalitas Pemberdayaan mendorong Gereja untuk menjadi jembatan merupakan inti teologi sinodal yang antara berbagai pemangku kepentingan, memandang migran bukan sebagai objek menegaskan perannya sebagai mediator belas kasih, melainkan subjek misi Gereja. kemanusiaan dan sakramen kesatuan umat Memberdayakan berarti membuka ruang Tahap bagi migran untuk menjadi pemimpin. Gereja, rendah hati mengakui bahwa ia tidak memberi mereka akses terhadap pendidikan memiliki solusi sempurna bagi setiap krisis yang terjadi saat ini. Persoalan baru pasti Dengan akan tetap bermunculan karena realitas persoalan yang dihadapi dunia saat ini berpartisipasi penuh dalam kehidupan memang sangat kompleks. Namun pada Gereja, membangun kepercayaan diri, dan saat yang sama. Gereja tetap terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai institusi memperkaya komunitas. 89 Pemberdayaan manusia lainnya dalam mencari dan juga memastikan keberlanjutan pastoral, di mempertimbangkan jalan keluarnya. 91 Paus mana migran menjadi mitra aktif dalam Fransiskus menegaskan hal ini dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium. Meskipun demikian. Gereja dengan Tahap terakhir adalah membangun bahwa Aubersama dengan berbagai sektor Pelayanan terhadap migran tidak masyarakat. Gereja mendukung program- bisa dilakukan secara individual atau program yang paling baik menanggapi martabat setiap orang dan kesejahteraan Gereja kolaborasi dengan pemerintah, organisasi Pastwa. AuAccompanying Migrants as a Touchstone of the Realisation of the Synodal Church Idea A CanonistAos RemarksAy, 20. Tiba dkk. AuJejak Kemanusiaan dalam Dialog Gereja dengan Kaum Migran dan Pengungsi di Keuskupan MaumereAy, 63-65. Kjellin. AuCan We Find Other Ways Forward? Church Relations among Migrants and Non-Migrants in the Church of SwedenAy, 145-147. Kumar. AuMigrants in a Synodal ChurchAy, 204205. Ibid. , 204. Gereja Sinodal sebagai Rumah Bersama bagi Migran dan P e r a n t a u : S u a t u P e n d e k a t a n P a s t o r a l - E k l e s i o l o g i s | 189 umumAy (A . membedakan, bertindak, memberdayakan, serta membangun jejaring kolaboratif demi membedakan, bertindak, memberdayakan, pemulihan martabat dan integrasi mereka dan membangun jejaring tetap merupakan sebagai subjek misi. Kontribusi artikel ini terletak pada perumusan model pastoral pelayanan migran. Mendengarkan menjadi integratif berbasis eklesiologi sinodal yang metode dari proses sinodal, tujuannya adalah menggabungkan spiritualitas communio discernment, dan partisipasi merupakan dengan dinamika pastoral migran di 93 Kerangka ini tidak hanya Indonesia. Bagi Gereja Indonesia, hasil menjawab kebutuhan pastoral, tetapi juga kajian ini menegaskan urgensi memperkuat pelayanan lintas budaya, meningkatkan Dengan Gereja menjadi rumah bersama yang merawat, melindungi, dan mengangkat martabat semua orang, terutama mereka yang berada dalam perjalanan menuju tanah harapan. dengan lembaga sosial dan negara agar Gereja semakin mampu menghadirkan KESIMPULAN DAN SARAN kasih, perlindungan, dan pemberdayaan bagi para migran dan perantau sebagai Artikel ini menyimpulkan bahwa Gereja Sinodal dapat menjadi rumah saudara seiman dan bagian integral dari Umat Allah. bersama bagi para migran dan perantau sejauh ia menghidupi identitasnya sebagai DAFTAR PUSTAKA