JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : TREN KAJIAN TAFSIR AL-QURAoAN DI BETAWI DALAM MERESPON PERISTIWA POLITIK DI INDONESIA Muhammad Khoirul Anwar Institut PTIQ Jakarta khoirulanwar@ptiqi. Abstract: This article aims to reveal the portrait of the study of the interpretation of the QurAoan in Betawi, by taking case studies in several taklim assemblies in the Betawi community led by Betawi scholars. The question posed is, how is the dynamics of the study of Al-QurAoan interpretation in the Betawi community, especially when there is an issue of blasphemy against the former Governor of DKI Jakarta. Ahok? This article is written using GadamerAos theory of interpretive constructs which includes elements of interpreter history, pre-understanding, text horizon and reading. This article shows that the study of Tafsir Al-QurAoan in the Betawi community has been running for several years. As in general, the Betawi people make mosques and prayer rooms as taklim assemblies or places to seek religious knowledge guided by ustaz or formerly known as mualiim. The pattern of the resulting study cannot be separated from the social background and education of the teacher, so that each object of this research has a distinctive character. The study method is taught thematically either following developing issues or by following the order of juz Mushaf Al-Qur'an. Keywords: Study of Tafsir Al-QurAoan. Betawi. Politics PENDAHULUAN Kajian tafsir Al-QurAoan di Nusantara bisa dikatakan sebagai tren baru setelah corak keilmuan di Nusantara ini didominasi oleh tren Fiqih yang sebelumnya juga populer dengan 1 Baidan mengklasifikasikan, kajian Al-QurAoan di Indonesia dimulai dari era klasik, yaitu abad VII-XV M, yang dalam konteks penafsiran Al-QurAoan hanya ditemukan penafsiran Al-QurAoan dengan cara mengintegrasikannya dengan ilmu-ilmu lain, seperti tasawuf, seni, teologi, dll. Bukti ini bisa mengacu pada ajaran Walisongo yang dikenal ada istilah molimo . idak berkehendak melakukan lima hal yang terlaran. 2 Kemudian di abad 17 M baru ditemukan karya tafsir yang mapan karya Abdurrauf as-Singkili . Selama ini tafsir Tarjuman Al-Mustafid karya Abdurrauf ini masih dianggap sebagai karya tafsir Nusantara pertama kali yang ditulis secara utuh dari juz pertama sampai akhir. Martin van Bruinessen. Kitab kuning, pesantren, dan tarekat: tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Yogyakarta: Mizan, 1. , hal. Martin menyebut, di era risetnya yang dilakukan pada tahun 1990an itu, keilmuan pesantren dimoniasi dengan kajian Tafsir. Ushul Fiqih dan Hadits. Nashruddin Baidan. Perkembangan tafsir al-QurAoan di Indonesia (Jakarta: Tiga Serangkai, 2. Hal. Bruinessen. Kitab kuning, pesantren, dan tarekat. , hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 61 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Kajian Al-QurAoan secara ilmiah di Nusantara memang baru ditemukan belakangan, meskipun posisi Al-QurAoan menjadi pelajaran dasar bagi masyarakat sudah lazim dilakukan sejak lama. 4 Menurut Atjeh, pada saat itu pengajaran Al-QurAoan dilakukan oleh individu di rumahnya masing-masing, maupun di mushala, langgar, surau, dan masjid, dengan cara guru membacakannya sambil menunjuk huruf-huruf yang dibacakan lalu murid mengikutinya. Adapun ciri khas pengajiannya dimulai dari juz Aoamma karena terdapat kepentingan praktis, yaitu bisa digunakan untuk bacaan shalat dan amaliah sehari-hari. Cara ajar seperti itu masih lazim digunakan dalam pengajaran Al-QurAoan sebagai pendidikan dasar hingga saat ini yang aktifitasnya sering disebut Aungaji atau mengaji. Ay Pada konteks ini memang tidak menjadi fase mempelajari isi teks Al-QurAoan, dan hanya menekankan pada sisi membacanya saja. 6 Hal serupa juga terjadi di tempat-tempat taklim yang ada di Betawi maupun tempat lainnya, sampai saat ini masih banyak ditemukan pengajian-pengajian yang diselenggarakan di Mushala maupun masjid. Eksistensi tempat-tempat taklim di Betawi seperti itu jika dilihat secara historis sudah banyak ditemukan di era Kesultanan Jayakarta yang dibombardir VOC pada tahun 1619 M. Ini sekaligus menunjukkan bahwa tempat-tempat ibadah dan lembaga pendidikan Islam yang menyatu dengannya sudah ada di Betawi 5 abad yang lalu meskipun di perjalanannya mengalami resistensi akibat gejolak sosial politik penjajah. Hal yang menarik adalah, bagaimana perjalanan pengajian-pengajian di Betawi selama ini? tulisan ini akan mengurai sebagian dari kasus saja terkait dengan problem itu, yaitu secara spesifik melihat dinamisasi perjalanan pengajian tafsir Al-QurAoan di Betawi dengan mengambil studi riset di masjid Baitussalam. Tangerang Selatan. Majelis Taklim Ainal Yaqin, di Kalibata, dan Mushala an-Namy. Pesanggrahan. Yang masing-masing merupakan basis masyarakat Betawi sebagai pelopor kegiatan baik sebagai jamaah maupun sebagai pengajar. Namun riset ini khusus menganalisa pengajar yang terlibat. Studi ini juga bersinggungan dengan beberapa riset ilmiah yang sudah ada sebelumnya berkaitan dengan kajian Al-QurAoan dari segi bacaan teks maupun pemahaman terhadap teks. Seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Atjeh dalam bukunya Sedjarah Al-QurAoan. Dalam buku Karel A Steenbrink. Pesantren, madrasah, sekolah: pendidikan Islam dalam kurun moderen (Jakarta: Lembaga Penelitian. Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, 1. Hal. Abu Bakar Atceh. Sejarah Al-Quran (Djakarta: Sinar Pudjangga, 1. Hal. Steenbrink. Pesantren, madrasah, sekolah: pendidikan Islam dalam kurun moderen. , hal. CR Boxer. Sejarah VC dalam Perang dan Damai 1602-1799 (Jakarta: Sinar Harapan, 1. Hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 62 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : itu Atjeh merupakan pelopor kajian sejarah Al-QurAoan di Indonesia. Atjeh melihat kegiatan belajar Al-QurAoan yang dimulai dari pembacaan terhadap teks, pemahaman dan penggunaannya sebagai bahan ajar di lembaga pendidikan sejak era awal datangnya Islam hingga tahun 1950 Beriringnya waktu perkembangan tentang kajian Al-QurAoan semakin pesat, sehingga apa yang dilakukan Atjeh tentu perlu dilanjutkan. Riset setelahnya yang melengkapi itu dilakukan oleh Howard M. Federspiel dalam bukunya yang diterjemahkan. Kajian Al-QurAoan di Indonesia: dari Mahmud Yunus hingga Quraish Shihab,8 Federspiel melihat semua literatur yang berkaitan dengan kajian Al-QurAoan, baik yang membahas tentang ilmu tafsir, tafsir, terjemahan Al-QurAoan serta karya-karya lain yang berkaitan dengan kajian Al-QurAoan. Kekurangannya Federspiel tidak melihat kajian-kajian Al-QurAoan yang dilaksanakan di majelis taklim yang ada di masyarakat. Karya berikutnya ada riset Nashrudin Baidan dengan bukunya Perkembangan Tafsir di Indonesia. Baidan hanya melakukan kompilasi dari berbagai tafsir Al-QurAoan yang ditulis oleh ulama Nusantara dari era klasik hingga era modern kurun ketiga. Di kurun ketiga ini. Baidan melihat kajian Al-QurAoan di Madrasah. Pesantren dan Perguruan Tinggi Agama Islam. Kajian Al-QurAoan di masyarakat tidak ia sentuh meskipun studinya dilanjutkan pada tahun 2019 silam dengan judul Perkembangan Tafsir Al-QurAoan di Asia Tenggara. 9 Riset lainnya juga dilakuan oleh Anne K. Rasmussen yang melihat bagaimana bacaan Al-QurAoan ditradisikan oleh pembaca Al-QurAoan dengan berbagai seni dan juga digunakan untuk tampil di depan publik. Kajian Al-QurAoan di majelis taklim merupakan kegiatan yang dilaksanakan masyarakat akar rumput yang dalam konteks tertentu terdapat hal-hal menarik yang perlu dilihat. antaranya bisa mempertanyakan bagaimana dinamika kajian tafsir Al-QurAoan dalam siklus sosial kemasyarakatan, yang di dalamnya tidak lepas dari gejolak politik, pembangunan sosial, ideologi dan lain sebagainya. Artikel ini bersinggungan dengan buku Islah Gusmian yang berjudul Tafsir Al-QurAoan dan Kekuasaan di Indonesia: Peneguhan. Kontestasi dan Pertarungan Wacana yang terbit Federspiel. Kajian al-Quran di Indonesia: dari Mahmud Yunus hingga Quraish Shihab, terj. Arifin dan R. Hidayat (Bandung: Mizan, 1. Hal. Nashruddin Baidan dan Erawati Aziz. Perkembangan Tafsir Al-QurAoan di Asia Tenggara (Surakarta: IAIN Surakarta, 2. Anne K. Rasmussen. The Recited QurAoan and Islamic Music in Indonesia, (California: University of California Press, 2. Muhammad Khairul Anwar. AuKETIDAKBIASAN GENDER DALAM TRADISI SEMAAoAN AL-QURAoAN,Ay Jurnal NidaAoAl-QurAoan 3, no. : 35Ae46. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 63 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : pada tahun 2019. 11 Dalam buku tersebut. Gusmian dalam buku tersebut menyoroti era terjadinya masifnya publikasi tafsir Al-QurAoan pada masa Orde Baru. Gusmian secara pragmatis membagi penafsir Al-QurAoan dalam menyikapi peristiwa politik ada dua, yaitu yang mendukung dan melawan. Serta menambahkan satu model lagi yang diam saja, artinya tidak menolak dan juga tidak mendukung. KAJIAN TAFSIR AL-QURAoAN Kajian Tafsir Al-QurAoan selama ini dilihat oleh para peneliti melalui dua model. Pertama, dengan membaca teks Al-QurAoannya saja sebagai tilawah . Kedua. AlQurAoan dipahami makna teksnya atau penafsiran. Dua model tersebut melahirkan banyak disiplin keilmuan tersendiri. Di Indonesia untuk kelompok pertama muncul berbagai metode baca Al-QurAoan, yang sampai saat ini bisa dilihat ada panduan membaca dengan buku IqraAo. Qiraati. Al-Baghdadi. Mafaza, dll. Begitu juga model yang kedua juga melahirkan banyak disiplin ilmu baik yang berkaitan dengan penafsiran Al-QurAoan sebanyak 30 juz maupun hanya sebagian saja . atau yang berkaitan dengan penafsiran . lmu tafsi. Menariknya lagi kajian Al-QurAoan di Indonesia ini bisa dikatakan dinamis dan terus Sesuai watak aslinya kalau dilihat dengan realitas sejarah peradaban Islam memang eksistensi Al-QurAoan merupakan teks keagamaan yang sangat produktif melahirkan teks-teks turunan dalam banyak konteks pemikiran maupun sudut pandang. Seyyed Hossein Nasr secara tegas mengatakan bahwa Al-QurAoan juga melahirkan cerminan-cerminan eksoteris yang dipraktikkan umat manusia, seperti tasawuf dan seni yang yang diyakini bisa mengasah kejernihan spiritual. Di konteks yang lain, lahir juga penafsiran Al-QurAoan yang selama ini identik dengan ketergantungannya yang sangat kuat terhadap nash atau text. Dalam beberapa tulisan biasa disebut dengan istilah Hadarat al-Nash . udaya tek. 13 Hampir seluruh kegiatan dan amalan sehari-hari, lebih-lebih yang terkait dengan ibadah, baik yang menyangkut akidah atau rukun Islah Gusmian. Tafsir Al-QurAoan dan Kekuasaan di Indonesia: Peneguhan. Kontestasi dan Pertarungan Wacana (Yogyakarta: Yayasan Salwa Dewa, 2. Seyyed Hossein Nasr. Islamic Art and Spirituality, (New York: State University of New York, 1. Hal. Amin Abdullah. Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 64 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : iman maupun ritual ibadah atau rukun Islam yang dilakukan sehari-hari, semuanya hampir berlandaskan pada nash atau teks. Karena agama Islam tidak hanya terkait dengan keyakinan dan ritual saja, akan tetapi juga berkaitan dengan persoalan-persoalan lain seperti kepemimpinan, komunikasi antara sesama, pegembangan lingkungan, kelembagaan, pendidikan, ekonomi, bahkan terkait dengan alat-alat, simbol-simbol yang dipergunakan dan seni. Dalam wilayah kelompok yang terakhir ini menganggap sangat sulit sekali jika semuanya memang dipatenkan harus ada rujukan teks atau nash-nya. Dalam tataran inilah Amin Abdullah sering mengutip pendapat Saeed dengan ungkapan al-Nushsh mutanahiyah wa al-WAqiAoi ghairu mutanahiyah (Nash atau teks itu memang sangat terbatas, padahal fenomena alam tidak pernah berhenti, baik yang bersifat sosial kemasyarakatan maupun lainny. Sebagai jalan mengungkapkan pesan-pesan Tuhan yang terkandung dalam Al-QurAoan, praktik penafsiran Al-QurAoan sangat terkait dengan dengan peran akal yang disusun secara sistematis dan logis. Meminjam istilah Hasan Hanafi mendialogkan antara teks dengan konteks Min al-Nash ilA al-WAqiAoi. 15 Karena permasalahan umat berhubungan dengan fenomena sosial yang tidak bisa terpisahkan. Hasan Hanafi juga memiliki pandangan Hermeneutika tersendiri dan menawarkan konsep pembaharuan untuk menemukan jawaban atas problematika sosial. Dalam bukunya al-TurAts wa al-Tajdd, di antara langkah-langkah (Thurq al-Tajd. adalah pemahaman kebahasaan, analisa terhadap problem kekinian, konteks dan tradisi. Maka munculnya sebuah Tafsir dengan peristiwa konteks tidak bisa dipisahkan. Oleh sebab itu, penafsir Al-QurAoan, sebagai subjek berperan penting di dalam mengungkapkan pesan-pesan Tuhan tersebut dan sekaligus mengungkapkan pandangan-pandangan sosial Pada sisi yang lain, secara fungsional tafsir Al-QurAoan merupakan upaya pemenuhan dasar-dasar teologis bagi kehidupan umat Islam. Setiap perilaku dan moral dalam berkehidupan dirujukkan pada Al-QurAoan. 17 Menempatakan Al-QurAoan sebagai basis teologis dari seluruh tata nilai dan moral kehidupan tersebut melahirkan konsekuensi yang bersifat sosial dan politik dimana dalam praktek penafsiran yang terjadi tidak semata-mata proses interaksi Amin Abdullah, et. Metodologi Fiqh Sosial. Pati: STAI MathliAoul falah, 2015, hal. Hasan Hanafi. Min al-Nash ilA Al-WAqiAo. Kairo: MarkAz al-KitAb li al-Nasyr, 2. Hasan Hanafi, al-TurAts wa al-Tajdd. Mesir: al-Muassah al-JAmiah, 1992, hal. Seyyed Hossen Nasr. Islam Dalam Cita dan Fakta, diterjemahkan oleh Abdurrahman Wahid dan Hashim Wahid. Jakarta: Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional, 1981, hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 65 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : penafsir dengan teks Al-QurAoan, tetapi pada saat yang sama, mereka juga berdialektika dengan sejarah, orang-orang yang mereka hadapi, dan problem-problem sosial-politik yang terjadi. Hasan Hanafi seorang pemikir progresif dari Mesir mengintrodusir hermeunetika AlQurAoan yang bersifat spesifik, temporal, dan realistis. Menurutnya hemeunetika Al-QurAoan memang sudah seharusnya direkonstruksi dari latar belakang pandangan wacana dimana seorang interpretator itu hidup yang bisa dimulai dari riset atas fenomena sosial Memang menurut Hanafi ini, penafsiran terhadap teks itu seyogyanya berpijak pada peristiwa sosial kemasyarakatan lebih dahulu, kemudian barulah kembali merujuk pada ayat-ayat Al-QurAoan. Hanafi juga menambahkan bahwa rujukan terhadap ayat-ayat Al-QurAoan nantinya akan mendapatkan jawaban teoritis yang bisa diterapkan ke medan masyarakat. Hans George Gadamer secara sistematis telah menguraikan tentang bagaimana unsurunsur dasar sebuah penafsiran dilakukan dengan baik. Menurutmya, suatu penafsiran teks selalu melalui empat elemen utama, yaitu keterpengaruhan sejarah, adanya pra pemahaman penafsir . ang diwarnai oleh tradisi dimana penafsir berad. , fusi antara horizon teks dan horizon pembaca, dan penerapan tiga unsur diatas. Setelah proses memahami dan menafsirkan, seorang penafsir menurutnya mestinya menerapkan pesan-pesan atau ajaran-ajaran pada masa ketika teks kitab suci itu ditafsirkan kedalam konteks kekinian. Dalam konteks ini. Gadamer berpendapat bahwa pesan yang harus diaplikasikan pada masa kini, ketika penafsiran dilakukan, bukan makna literal teks, tetapi makna yang berarti. Teori Gadamer di atas bisa digunakan untuk membaca aktifitas pembacaan teks dengan maksud melakukan penafsiran. Penafsir tidak luput dari keterpengaruhan sejarah, pra pemahaman serta keterlibatannya terhadap konteks. Artinya, penafsir sanga terlibat terhadap produksi makna yang secara subyektif berarti untuk konteks yang sedang dihadapi. Dengan demikian yang menjadi tolok ukur yang bisa dilakukan analisa adalah hasil yang disampaikan oleh penafsir sebagai pijakan awal untuk melakukan pelacakan terhadap sumber, serta berbagai latar belakang yang mempengaruhi. Dalam artikel ini, teori Gadamer penulis gunakan untuk menganalisa kajian tafsir AlQurAoan di Betawi, yang menelurusuri latar belakang pendidikan maupun sosial pengajarnya yang mengantarkan terjadinya pra pemahaman dan pengajarannya sesuai dengan horizon yang Hasan Hanafi. DirAsat IslAmiyyah. Kairo: Maktabah al-Anjilu al-Misriyyah, 1981, hal. Hans-Georg Gadamer. Truth and Method, diterjemahkan oleh Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall. London: Continuum, 2006, hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 66 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Sebab pemikiran yang dimiliki oleh pengajar tidak lepas dari keterlibatan sejarah yang ada dalm diri pengajar, penalaran yang dimiliki dan juga hubungannya dengan konteks. PENGAJIAN AL-QURAoAN DI BETAWI Potret masyarakat Betawi yang dikenal religius, menggunakan Al-QurAoan sebagai bacaan sakral dalam praktik ibadah dan budaya sosial setiap hari. Seperti digunakan sebagai bacaan tahlil, acara maulid, pernikahan, khitanan, selain digunakan sebagai pengajian di majelis taklim baik di masjid maupun mushala, atau di rumah para tokoh agama. Fakta seperti ini lazim dilakukan oleh masyarakat religius di semua wilayah. Seperti temuan Rafiq dalam disertasinya, bahwa Al-QurAoan dijadikan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Banjar mulai dari lahir hingga kematian. Latar belakang seperti itu terjadi karena memang pada dasarnya semenjak Al-QurAoan diturunkan sudah menciptakan kultur dan budaya baru di masyarakat. Misalnya cerita Said alKhudri yang menceritakan bahwa ada sahabat yang mengamalkan bacaan surah al-Ikhlas berkali-kali setiap hari. Lalu ada sahabat lain yang melaporkan perihal itu kepada Nabi Muhammad karena dinilai mengabaikan satu hataman Al-QurAoan. Namun Nabi membenarkan apa yang dilakukan oleh sahabat terlapor dengan mengatakan. Aumembaca tiga kali surah alIkhlas sama dengan menghatamkan satu Al-QurAoan. Ay21 Praktik bacaan sebagian dari ayat Al-QurAoan demikian juga lazim digunakan oleh masyarakat Indonesia, misalnya untuk acara sakral tertentu. Seperti yang digunakan dalam bacaan tahlil, paling tidak membaca surah MuAoawwidzatain, al-Ikhlas dan ayat Kursi . urah alBaqarah ayat . atau membaca surah Yasin. 22 Sebagai aktifitas ritual yang mentradisi dan diyakini oleh para ilmuan sebagai bentuk dari akulturasi agama ke budaya, namun ada sebagian muslim yang tidak melakukan aktifitas ini dengan alasan tidak diajarkan oleh nabi Muhammad. Atau lebih kerasnya menuduh bahwa praktik tahlil yang dibaca bertepatan dengan 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari di masyarakat sebagai amalan bidAoah. Tetapi ini tidak terjadi di Betawi, yang masih kental dengan praktik ritual tahlilan, yasinan, dan lain sebagainya. Ahmad Rafiq. The Reception of the QurAoan in Indonesia: A Case Study of the Place of the QurAoan in a Non-Arabic Speaking Community (Philadelpia: UMI Publishing, 2. Hal. Abi Ubaid Qasim bin Salman. Fadhyil Al-QurAoyn. Bairut: Dyr Kutb al-AoIlmiyyah, 1991, hal. Bambang Pranowo. Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa. Yogyakarta: Adicita Karyanusa, 1999, hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 67 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Fakta itu juga bisa ditarik akar sejarahnya bahwa Islam di Betawi memang dahulu disebarkan oleh para ulama yang memiliki prinsip keagamaan multikultural 23sehingga corak keagamaan yang berkembang di masyarakat masih kental dengan perawatan terhadap tradisi. Seperti digunakannya Ondel-ondel untuk acara-acara sakral, penggunaan roti buaya untuk acara pernikahan, ziarah kubur, majelis shalawat, dll. Corak beragama tersebut juga tidak lepas dari peranan ulama yang mendapatkan posisi sebagai elite politik di Betawi. Menurut Derani, perubahan tersebut baru terjadi pada abad 19 yang sebelumnya ulama di Betawi menempati posisi kelas bawah akibat penindasan yang dilakukan oleh kolonial. 24 Tentu saja dampak tersebut juga merambah pada model dan ruang lingkup dakwah yang dilakukan di Betawi. Temuan dari riset ini, dalam konteks kajian tafsir Al-QurAoan yang dilakukan di Masjid Baitussalam Pamulang, merupakan salah satu masjid di Selatan Jakarta yang diprakarsai oleh kelompok masyarakat Betawi. Ustaz yang mengajar pengajian tersebut juga putra asli Betawi yang menimba ilmu agama dari beberapa pondok pesantren. Corak seperti itu berpengaruh pada orientasi dan model dari kajian. Dalam konteks model atau metode, kajian Tafsir Al-QurAoan yang penulis temukan di masjid Baitussalam menggunakan metode tematik, meskipun yang menjadi acuan adalah kitab Tafsir Jalalain, namun sistem pembacaannya sesuai pilihan ustaz. Untuk suasana politik khususnya di era riuhnya perpolitikan yang menyangkut mantan Gubernur DKI Jakarta sebagai terdakwa penistaan agama, pada tahun 2017, pengajar tafsir Al-QurAoan di Masjid Baitussalam tidak membawanya di sela-sela kajian tafsir dilangsukan. Ini berbeda dengan yang disampaikan para khatib JumAoat dan majelis taklim ibu-ibu hari Senin yang dipimpin oleh ustazah setempat yang menaruh kepanatikan terhadap imam besar FPI. Hal itu tidak muncul di pengajian tafsir, terlihat tidak terjadi tensi tegang dari pengajar tafsir dengan suasana politik yang sedang riuh, dan tidak memberikan respon mendalam terkait peristiwa tersebut. Ustaz yang berlatar belakang dari Pondok Pesantren di Jawa Timur tersebut lebih membawanya pada cakralawa luas, yang berkaitan dengan isu-isu sains, mukjizat, dan Temuan tersebut hampir mirip dengan riset yang penulis lakukan pada Majelis Taklim Ainal Yaqin, di Kalibata. Di Majelis tersebut sebenarnya lebih fokus pada kajian kitab Fiqih. Koentjoroningrat. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, 1982. Saidun Derani. AuUlama Betawi Prespektif Sejarah,Ay Al-Turats XIX, no. 2 Juli 2013. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 68 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Safinatun Naja. Irsyadu AoImad yang sudah berlangsung dari tahun 2010. Namun dalam interview yang penulis lakukan dengan ustazah yang mengajar, semenjak tahun 2017 pengajar lebih banyak menyampaikan tafsir ayat-ayat Al-QurAoan daripada keseluruhan mengacu pada isi kitab-kitab tersebut. Metode penyampaian yang dilangsungkan pada pengajian Ausetiap malam SelasaAy tersebut ketika bertemu dengan ayat-ayat Al-QurAoan diberikan penjelasan dengan menggunakan pendekatan kebahasaan. Pada saat terjadi peristiwa gejolak politik di DKI pada tahun 2017, ustazah yang mengajar yang merupakan putra asli Betawi dan juga keluarga tokoh setempat mengakui mendapat pertanyaan soal responnya terhadap isu penistaan agama melalui Al-Maidah 51. Ustazah tersebut menjelaskan apa adanya terkait pendapatnya saat itu yang cenderung mendukung fatwa MUI yang membenarkan Ahok sebagai pelaku penista agama. Namun tidak selalu dibawa pada saat kajian dilangsungkan secara rutin tersebut. Secara latar belakang pendidikan dan sosial, ustazah yang mengajar merupakan alumni dari salah satu pondok pesantren modern yang ada di Bogor, kemudian melanjutkan studi sarjana di Timur Tengah. Temuan itu tidak sama dengan kajian tafsir Al-QurAoan yang dilakukan di Mushola an-Namy. Pesanggrahan. Jakarta Selatan. Pengajian tafsir yang diadakan setiap malam senin tersebut diajar oleh putra asli Betawi yang secara latar belakang pendidikan dan sosial merupakan keluarga tokoh setempat dan lulusan dari Universitas Islam di Jakarta. Di era 2017, ia memang sering mendapat pertanyaan seputar sikapnya berdasarkan argument teologis terhadap sikap mantan Gubernur DKI yang tertuduh menistakan agama melalui al-Maidah 51. Namun ia dengan tegas menolak jika kata AuwaliAy yang diperdebatkan itu bermakna gubernur dan menurutnya tidak ada pertentangan dalam Islam terhadap pemimpin non muslim sekalipun di daerah berpenduduk muslim sebagai mayoritas. KESIMPULAN Kajian tafsir Al-QurAoan memiliki warna dan corak sesuai dengan latar belakang keilmuan maupun sosial yang dimiliki oleh pengajinya . eader or intrepretato. Demikian halnya yang terjadi pada obyek kajian ini di lingkup pengajian tafsir Al-QurAoan di kawasan majelis taklim baik di masjid maupun di mushala oleh masyarakat Betawi, khususnya ketika menyikapi peristiwa perpolitikan 2017 yang melibatkan mantan Gubernur DKI Jakarta. Ahok. Temuan ini menjawab bahwa hadirnya pengajar tafsir yang di lingkungan masyarakat Betawi sering dimintai fatwa terkait Al-Maidah 51, namun obyek yang penulis temukan terhadap JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 69 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : beberapa pengajar tafsir Al-QurAoan di Betawi tidak terjadi adanya fatwa simultan yang ikut mengharamkan memilih pemimpin non muslim dan ikut menghakimi dakwaan penistaan agama terhadap Ahok. Tidak keterlibatan mereka dalam fatwa haram memilih pemimpin non muslim serta ikut aksi beberapa jilid sebagai aksi penolakan mereka tidak terlepas dari latar belakang pengalaman dan tingkat pendidikan yang dimiliki. DAFTAR PUSTAKA