KOMUNIKASI INTERPERSONAL A KOMUNIKASI INTERPERSONAL USTADZ DENGAN SANTRI DALAM PEMBINAAN AKHLAK PONDOK PESANTREN SUBULUL HUDA KABUPATEN MADIUN Marik Atul Muzayyanah, 2Muhammad Syarifuddin, 3 Latutik Mukhlisin, 4Malik Ibrahim Universitas Muhammadiyah Madiun muzayyanah604@gmail. com, 2ms225@ummad. id, 3lm818@ummad. mi747@ummad. ABSTRACT Interpersonal communication is one of the methods that can be utilized by a Ustadz in educating his Santri so that their morals can be better, therefore moral development is an urgency in order to get quality and morally good One of the interactions between ustadz and santri takes place effectively through interpersonal communication, which involves face-to-face interaction between two or more individuals. The purpose of this study was to determine how interpersonal communication between Ustadz and Santri in fostering morals, supporting and inhibiting factors of interpersonal communication. This research uses a type of qualitative research with a descriptive approach. The techniques for data collection include observation, interviews, and Data analysis follows the steps of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The validity of the data is ensured through source triangulation. The result of this study is that Ustadz succeeded in implementing interpersonal communication in fostering santri morals with the theory of interpersonal communication from Josep A DeVito, namely the existence of openness, equality, empathy, support, and positiveness. Communication runs effectively because of the support between the two parties, but not all of them An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A Keyword: Interpersonal Communication. Ustadz. Santri. Moral Development ABSTRAK Komunikasi interpersonal menjadi salah satu sarana yang dapat digunakan seorang Ustadz didalam mendidik Santri nya agar akhlaknya bisa menjadi lebih baik, oleh karena itu pembinaan akhlak menjadi urgensi agar mendapatkan insan yang berkualitas dan berakhlakul karimah. Salah satu berjalannya interaksi Antara ustadz dan santri, komunikasi interpersonal dilakukan dengan baik melalui interaksi langsung antara dua orang atau lebih. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi interpersonal antara ustadz dan santri dalam upaya membina akhlak, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat komunikasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan validitas diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ustadz berhasil menerapkan komunikasi interpersonal dalam pembinaan akhlak santri sesuai dengan teori komunikasi interpersonal dari Joseph A. DeVito, adanya keterbukaan . , kesamaan . , empati . , dukungan . dan positif . Komunikasi berjalan efektif karena adanya dukungan dari kedua belah pihak, meskipun tidak selalu berjalan mulus, karena keberhasilan komunikasi interpersonal sangat bergantung pada cara penyampaiannya. dengan baik dan benar agar komunikator dapat memahaminya. Kata kunci: Komunikasi Interpersonal. Ustadz. Santri. Pembinaan Akhlak PENDAHULUAN Komunikasi interpersonal menjadi salah satu sarana yang dapat digunakan seorang Ustadz di dalam mendidik santrinya agar akhlaknya bisa lebih baik, oleh karena itu pembinaan akhlak terhadap Santri menjadi urgensi agar dapat menjadi insan berkualitas dan berakhlakul karimah. Berdasarkan riset Wulur & Hoirunisa menujukkan bahwa Komunikasi interpersonal akan efektif jika dilakukan antara Ustadz dan Santri, yang An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A mencakup interaksi antara Ustadz dan Santri, pemberian motivasi dan nasihat, serta pengembangan akhlak dan etika Santri. Selanjutnya, riset Rofiatun & Maryam menemukan bahwa Interaksi antara Ustadz dan Santri berlangsung dengan baik, sebagaimana terlihat dari pendekatan komunikasi yang diterapkan, yaitu dengan memberikan motivasi dan membimbing Santri agar menjadi pribadi yang berakhlakul 2 Kemudian, riset Susanto menemukan bahwa komunikasi interpersonal pendekatan yang diterapkan oleh Ustadz dalam pembinaan akhlak telah berjalan dengan baik, terbukti dari tingkat kedisiplinan dan tanggung jawab Santri yang telah menunjukkan akhlak yang baik. Selain itu, hal ini juga didukung oleh kegiatan dan program-program yang mendukung dalam pembinaan akhlak. Berdasarkan hasil riset tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal memegang peran penting dalam pembinaan akhlak antara ustadz dan santri. Komunikasi dianggap efektif ketika komunikan mampu memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan oleh komunikator sesuai dengan maksud yang diinginkan. Oleh karena itu untuk menambah argumen, penulis memberikan data jumlah PonPes di Kabupaten Madiun, berdasarkan data yang didapat penulis dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Madiun tahun 2020 ada 953 Santri putra, 3. 060 Santri putri di Kabupaten Madiun dan jumlah PonPes Di Kabupaten Madiun Mencapai 84 pada tahun 2020. Data pendukung lain untuk memperkuat argumen jumlah PonPes, dan jumlah Santri di Indonesia, berdasarkan data yang diperoleh penulis melalui kominfo. id yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal IKMA Kemenperin. Reni Yanita, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Kementerian Agama hingga semester II tahun 2023, terdapat sekitar 167 pondok pesantren di Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi, dengan jumlah total santri mencapai 4,85 juta orang. Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah pondok pesantren terbanyak, sekitar 12. 121 unit, diikuti oleh Jawa Timur dengan 6. 745 pondok pesantren, dan Jawa Tengah 084 pondok pesantren. Pondok pesantren ini berperan penting dalam pembinaan akhlak santri dan merupakan lembaga pendidikan yang jumlahnya besar serta tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Meisil B Wulur. AuPola Komunikasi Interpersonal Antar Pembina Dan Santri Dalam Menanamkan NilaiNilai Akhlak Di Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Ponre Waru,Ay no. Maryam Rofiatun. AuPola Komunikasi Interpersonal Guru Dan Murid Dalam Pembinaan Akhlak Di SMP Plus Nurul Hikmah Pamekasan,Ay Skripsi 19, no. Anton Susanto. AuPola Komunikasi Guru Dalam Pembinaan Akhlak Siswa SMK Al-Fajar Kasui Way Kanan,Ay 2017. Dini Rinjani. Endis Firdaus, and Elan Sumarna. AuModel Pembinaan Akhlak Mulia Dalam Menjaga Dan Meningkatkan Disiplin Kebersihan Di Pondok Pesantren Al-Basyariyah Bandung,Ay TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education 1, no. : 104, https://doi. org/10. 17509/t. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A Menurut Al Salamah komunikasi interpersonal menjadi sarana terbentuknya pembinaan akhlak bergantung pada kemmapuan pengasuh dalam menyampiakan pesan dengan baik, menggunakan komunikasi yang efektif, mengedepankan nilai-nilai akhlak, serta menerima pesan komunikasi interpersonal dengan baik. Penggunaan komunikasi interpersonal yang tepat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap akhlak anak asuh. Selanjutnya, menurut riset Muthmainnah komunikasi interpersonal bisa menjadi sarana unutk terbentuknya pembinaan akhlak karena menumbuhkan hubungan interpersonal seperti sikap terbuka antara ustadz dengan santri, sikap supportif yang dimana Ustadz andil antara Santri putra dan Santri putri, sikap terbuka ini akan lebih memfokuskan kepada Ustadz dengan Santri saat menyampaikan informasi atau pesan kepada orang lain. Menurut riset Mursidi bahwa komunikasi interpersonal banyak mempengaruhi dalam pembinaan akhlak di Pondok Pesantren, strategi yang digunakan meliputi mengenal komunikan, menyusun pesan, membujuk, mengontrol, mengantisipasi, merangkul, serta memberikan kabar gembira dan peringatan. Bentuk komunikasi ini lebih efektif bagi komunikator sebagai bahan proses kegiatan pengajian atau dakwah kepada masyarakat di lingkungan Pondok pesantren. Sangat penting bagi santri di pondok pesantren untuk memiliki akhlakul karimah, yang mencakup akhlak kepada Allah SWT. Rasulullah SAW, keluarga, sesama orang dan lingkungan mereka. Para santri diharapkan mempunyai nilanilai akhlakul karimah tersebut dan diaplikasikan didalam kehidupanya Muslimin & Umam. Menurut Husni et al bahwa Akhlak dalam kehidupan manusia adalah aspek penting bagi para santri, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. 5 Penerapan dan pembentukan karakter yang berakhlakul karimah sangat diperlukan untuk diaplikasikan sehari-hari agar generasi muda memiliki akhlak yang baik, dengan tujuan untuk membentuk dan mencetak santri-santri yang mengedepankan akhlakul karimah. Pondok pesantren Subulul Huda Kembangsawit berdiri sejak tahun 1954 oleh KH. Munirul Ikhwan. Pondok ini merupakan salah satu Pondok tertua di Kabupaten Madiun. Beliau mendirikan Pondok Pesantren ini dengan latar belakang keprihatinan terhadap kondisi masyarakat sekitar, terutama yang berada di wilayah tersebut. Kembangsawit yang cenderung memiliki banyak kekurangan nilai agama Shibibul m. Husni. Muhammad Walid, and Aminatuz Indah Zahriyah. AuInternalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Akhlakul Karimah Santri Pondok Pesantren Al-Hikmah TubanAy 6, no. : 1Ae22. Husni. Walid, and Zahriyah. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A dan akhlakuk karimah. Pondok pesantren Subulul Huda Kembangsawit memiliki empat ratus sembilan puluh enam santri, dengan rincian Santri Putra dua ratus tujuh puluh enam Santri dan Santri Putri dua ratus dua puluh Santri. Pondok pesantren harus tetap berkomitmen untuk menawarkan pola pendiidikan yang mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas tingi dan mengharapkan para santri menjadi generasi penerus bangsa. Berdasarkan temuan dari observasi dan wawancafra awal peneliti di pondok pesantre. Subulul Huda Kembangsawit ditemukan data bahwa santri zaman sekarang minim dengan akhlak dan pelanggaran di Pondok. Bukti dari minimnya akhlak yaitu kurang nya komunikasi antara Ustadz dengan Santri, kurangnya kerjasama antara orang tua dan Ustadz, dan banyaknya santri memberontak karena beberapa masalah pada diri Santri. Salah satu tujuan utama untuk membentuk karakter dan akhlak yang mulia pada para santri serta membangun komunikasi interpersonal yang baik antara Ustadz dan santri. Untuk meningkatkan keunggulan dan kualitas penelitian ini, penulis menambahkan beberapa literatur yang relevan. Literatur ini diambil dari berbagai sumber jurnal dan karya ilmiah yang secara khusus membahas komunikasi interpersonal antara Ustadz dengan Santri. Penelitian Herawati mengkaji tentang keberhasilan program tahfizhul QurAoan. Karya Warsyena & Wibisono mengkaji tentang proses pembentukan karakter Santri. 8 Karya Wasta Utami mengkaji tentang sebuah pendekatan interaction view. 9 Penulis menambahkan beberapa literatur yang diambil dari berbagai sumber jurnal dan karya ilmiah yang secara khusus membahas tentang pembinaan akhlak atau ketaqwaan Santri. Penelitian Achmad Muzammil & Rismawati mengkaji tentang impelmentasi nili-nilai tasawuf dalam pembinaan akhlak Santri. Karya Sudiansyah mengkaji tentang efektivitas komunikasi dakwah dalam merubah Santri. Karya Imam Tabroni et al mengkaji tentang peran kyai dalam membina akhlak santri. Berdasarkan beberapa Literatur tersebut, terdapat kekosongan penelitian yang dilakukan penulis akan menelusuri tentang komunikasi interpersonal, pembinaan akhlak, meningkatkan ketaqwaan kepada tuhan, dengan demikian berdasarkan keunikan, data, argumen, dan Eka Cut Herawati. AuKomunikasi Interpersonal Ustadz Dengan Santri Terhadap Keberhasilan Program Tahfizhul QurAoan (Studi Pada Pesantren Modern Ulumul QurAoan Pagar Air Aceh Besa. ,Ay Angewandte Chemie International Edition, 6. , 951Ae952. , 2017, 2013Ae15. Riska Warsyena and Wibisono. AuNusantara Hasana Journal,Ay Nusantara Hasana Journal 1, no. 132Ae37, http://nusantarahasanajournal. com/index. php/nhj/article/view/279. Nadia Wasta Utami. AuKomunikasi Interpersonal Kyai Dan Santri Dalam Pesantren Modern Di Tasikmalaya. Sebuah Pendekatan Interactional View,Ay Jurnal Komunikasi 12, no. : 141Ae52, https://doi. org/10. 20885/komunikasi. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A literatur di atas, oleh karena itu novelty penelitian dengan judul AuKomunikasi Interpersonal Antara Ustadz Dan Santri Dalam Pembinaan Akhlak Di Ponpes Subulul Huda Kabupaten MadiunAy adalah subjek minat penulis. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan kualitatif. Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk mendeskripsikan pemecahan suatu masalah berdasarkan data yang tersedia, termasuk analisis dan Metodologi deskriptif berfokus pada penyelesaian masalah secara sistematis dan obyektif berdasarkan fakta 10. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dan agar mempunyai gambaran yang obyektif, terpercaya, akurat dan sistematis terkait dengan permasalahan penelitian Sesuai dengan fokus penelitian, permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah Komunikasi Interpersonal antara Ustadz dan Santri dalam pembinaan akhlak di Pondok Pesantren. KAJIAN TEORI/PUSTAKA Josep A. DeVito mengatakan bahwa komunikasi interpersonal memiliki beberapa karakteristik yang diperlukan untuk dianggap sebagai komunikasi interpersonal yang efektif yaitu sebagai berikut:11 Keterbukaan (Openes. Dengan keterbukaan, komunikan dan komunikator dapat saling memahami satu sama lainnya. Sikap Dukungan (Supportivenes. Orang yang bersikap defensive dalam komunikasi tidak menerima, jujur, atau empati dengan apa yang mereka katakan yang dikenal sebagai sikap dukungan. Percaya (Trus. Faktor kepercayaan adalah yang paling penting dalam komunikasi HASIL PENELITIAN Profil Pondok Pesantren Subul Huda. Kabupaten Madiun Subulul Huda adalah pondok pesantren yang sudah lama dikenal dalam lingkungan lembaga keagamaan, menjadi salah satu yang tertua di Nova Widian Ainul Mutaqim. AuKomunikasi Antarpribadi Ustadz Dan Santri Dalam Pembentukan Kemandirian Santri,Ay 2020. Yusron Ghoni. AuKomunikasi Interpersonal Antara Wali Kelas Dengan Santri Kelas 3 Dalam Penanaman Nilai-Nilai Akhlak,Ay Journal of Islamic Comunication 3, no. : 199Ae214, https://ejournal. id/index. php/sahafa/article/view/5365. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A Kabupaten Madiun. Terletak di Dsn. Kembangsawit. Jl. Anggur. Desa Rejosari. Kecamatan Kebonsari. Kabupaten Madiun. Jawa Timur. Subulul Huda berdiri di daerah yang agak terpencil dan padat penduduk. Meskipun demikian, hal ini tidak menghalangi niat para santri untuk menuntut ilmu di sana. Dengan keyakinan yang kuat, ratusan santri berkumpul di tempat ini, yang mereka tunggu-tunggu hasilnya. Santri yang belajar di sini berasal dari berbagai daerah dan budaya, termasuk Jawa. Sunda. Betawi, serta Kalimantan. Nusa Tenggara Barat. Jambi, dan Pondok ini berada di pusat pemukiman penduduk yang padat di Kabupaten Madiun. Provinsi Jawa Timur tepatnya di distrik Kebonsari. KH. Munirul Ikhwan adalah pendiri Pondok Pesantren Subulul Huda Kembangsawit. Desa Rejosari terletak di antara dua desa : Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Putat Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Palur Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Serut Sewu Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kiringan Sebelum mendirikan Pondok Pesantren Subulul Huda. KH. Munirul Ikhwan melihat kondisi masyarakat di sekitar wilayah Kembangsawit yang kurang dalam aspek nilai agama. Ia juga memperhatikan bahwa kaum muda, khususnya para pelajar di daerah tersebut, masih kurang dalam hal sopan santun dan sering terlibat dalam perilaku yang tidak baik. Motivasi ini mendorong beliau untuk mendirikan pondok pesantren sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman agama dan etika di kalangan masyarakat tersebut. Pondok Pesantren Subulul Huda Kembangsawit hadir di masyarakat sebagai lembaga pendidikan dan penyiaran agama dan sosial keagamaan. Ternyata ciri khas pesantren yang fleksibel mampu beradaptasi dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Akibatnya, di sekitar kembangsawit sangat membutuhkan keberadaan pondok pesantren. Pondok pesantren mengalamai dua periode kepemimpinan. Kepeminpinan pertama di pegang oleh KH. Munirul Ikhwan dari tahun 1945 hingga 2000. Kepemimpinan kedua dipimpin oleh KH. Mizan Basyari dari tahun 2001 hingga sekarang. Pondok Pesantren Subulul Huda ini didirikan karena peran KH. Munirul Ikhwan. Seorang kyai yang kharismatik dan hafidz yang sering berbicara di depan umum dengan Beliau menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempromosikan kalimat Allah kepada orang-orang. Pondok pesantren ini pertama kali didirikan setelah masyarakat memberikan tanah kepada KH. Munirul Ikhwan. Banyak masyarakat merasa dekat dengannya karena kehebatanya Fauzi Zufri. AuSubulul Huda Islamic Global School (SMP IT) Kembangsawit,Ay Wikimapia, 2014, https://wikimapia. org/30167321/SUBULUL-HUDA-ISLAMIC-GLOBAL-SCHOOL-SMP-ITKEMBANGSAWIT. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A sebagai mubaligh. KH. Munirul Ikhwan tidak mempertimbangkan latar belakang apapun, mulai dari rakyat biasa hingga pejabat tinggi. Sosok kyai yang menarik ini melakukan banyak hal baik. Pondok Pesantren Subulul Huda memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama dalam hal agama, meskipun dampak ini juga besar di bidang lain. Perkembangan Pondok Pesantren Subulul Huda mengalami kemajuan yang sangat cepat. Awalnya. KH. Munirul Ikhwan memulai dengan mendirikan masjid di sekitar asrama sebagai sarana dakwah kepada masyarakat. Masjid tersebut digunakan untuk sholat berjamaah lima waktu, pengajian kitab salaf, dan kegiatan keagamaan lainnya di daerah Kembangsawit, bersama dengan warga setempat. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang mengikuti ajaran beliau. Pondok pesantren yang dulunya hanya sebuah masjid kecil berkembang pesat setelah KH. Munirul Ikhwan mendapatkan hibah tanah di sekitar masjid pada tahun 1945. Dengan adanya tanah tersebut, dibangunlah asrama-asrama untuk santri yang ingin belajar di Pesantren Subulul Huda. Pada awal berdirinya Pondok Pesantren Subulul Huda, ada sekitar empat hingga lima santri yang mondok yang berasal dari masyarakat terdekat KH. Munirul Ikhwan. Pada tahun 1954, jumlah santri meningkatdan wali santri meminta pengajian dimaksimalkan. Akibatnya, para santri diwajibkan untuk bermukim di majlis taAolim. Pada tahun 2000 anak pertama yaitu KH. Ahmad Mizan Basyari menggantikan KH. Munirul Ikhwan. Akibatnya, kelas satu tsanawiyah digantikan dengan kelas emoat itidaAo sampai sekarang. Meskipun termasuk dalam kategori salaf dan memiliki sistem tahfidz. Pondok Pesantren Subulul Huda memiliki kebiasaan, tempat tidur, dan aktivitas sehari-hari yang berbeda. Seperti yang ditunjukkan oleh sistem pembelajaran pondok pesantren, para santri dapat mengikuti kuliah di luar pada siang hari dan mengaji kitab sampai malam hari di pondok. Pada tahun 1967. Pondok Pesantren Subulul Huda mengalami penurunan, yang dipicu oleh keterlibatan banyak santri dalam partai politik Golkar. Selain itu, ajaran KH. Munirul Ikhwan yang menekankan pentingnya perjuangan sepanjang hidup, khususnya di jalan agama, juga mempengaruhi situasi ini. Beliau mengajarkan bahwa perjuangan bisa dilakukan melalui berbagai jalur, seperti pendidikan, politik, dan kegiatan sosial, selama hal tersebut bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara. Pesan inilah yang mendorong KH. Munirul Ikhwan untuk mendirikan Pondok Pesantren Subulul Huda. Pada saat itu, hanya ada lima puluh santri yang tinggal disana dan karena banyaknya kekurangan mereka belum semuanya bermukim. Walaupun terdengar sedih, kami An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A dapat menyampaikan ini tanpa menambah atau menguranginya. Alhamdulillah, pondok pesantren subulul huda terus berkembang dengan waktu dan saat ini memiliki sekitar 700 santri. Program Pendidikan yang dikembangkan oleh pendiri Pondok Pesantren Subulul Huda yang terdiri dari: KH. Munirul Ikhwan. KH. Ahmad Mizan basyari. KH. Muhammad Tafrikhan. Ustadz. Muchtim Humaidi. Ibu Nyai H. Siti Masyriah. Pondok pesantren subulul huda secara bertahap dan dengan penuh kesabaran diiringi dengan dedikasi yang tinggi telah berkembang menjadi lembaga pendidikan keagamaan yang kaderisasi orang yang berjiwa keagamaan. Pondok Pesantren Subulul Huda mengembangkan program terpadu, termasuk PAUD dan RA Hubul Wathon. MI Salafiyah Kembanbgsawit dan SMP IT Subulul Huda Kembangsawit, dan SMK BP Subulul Huda Kembangsawit ada juga dulu nya Yayasan dari Pondok yaitu MA kembangsawit dan sekarang diambil alih oleh pemerintah menjadi MAN 1 Madiun. Namun pondok pesantren subulul huda juga membuka program Pendidikan tahfidz yang mana kegiatan sehari-hari berbeda dengan santri salaf. KH. Munirul Ikhwan adalah sosok yang sederhana dan bersahaja. Kepandaian beliau dalam bidang dakwah membuatnya dihormati di kalangan masyarakat. Beliau dikenal sangat sabar dalam mengajar santrisantri di pondok pesantren tersebut. Hal ini juga terlihat pada penerusnya. KH. Ahmad Mizan Basyari, yang mewarisi sikap sabar dalam menghadapi santri-santrinya. Meskipun kesibukan sebagai ulama membuatnya sulit dijumpai oleh tamu yang ingin bersilaturahmi, beliau tetap mengutamakan kepentingan pondok pesantren dan santrisantrinya. PEMBAHASAN/ANALISIS Komunikasi interpersonal Antara Ustadz dan Santri dalam Pembinaan Akhlak di Pondok Pesantren Subulul Huda Dalam konteks Islam, dai adalah seseorang yang mengajak orang lain, baik secara pribadi maupun umum, menggunakan kata-kata, perbuatan, atau sikap untuk menuju kebaikan yang sesuai dengan syariat Al-Qur'an dan sunnah. Dengan pengertian ini, dai sering kali teridentifikasi sebagai orang yang melakukan amar makruf nahi munkar. Oleh karena itu, ustadz diharapkan dapat menambahkan nilai-nilai moral bagi muridnhya-muridnya dengan memberikan contoh yang baik dalam kedisiplinan dan penanaman nilai moral. Teladan yang baik dari pembina memungkinkan santri untuk lebih cepat memahami dan menginternalisasi nilai-nilai akhlak. Rahman fathur. AuKomunikasi Pendidikan Ustadz Dan Santri Dalam Pembentukan Karakter Santri Di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Tegalarum Bendo Magetan,Ay 2022, 1Ae72. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A Dalam sebuah pesantren, santri adalah komponen yang sangat penting dan ukuran besar kecilnya pesantren sering kali ditentukan oleh jumlah santri yang belajar di sana. Ahmad Basso menjelaskan bahwa menjadi santri . ados santr. melampaui sekadar belajar di pesantren itu juga mencakup mengamalkan ajaran agama Islam dengan baik. Identitas sebagai santri melekat seumur hidup, yang berarti bahwa proses pembelajaran dan pengajaran tidak pernah berhenti sepanjang hayat. Dalam studi ini, ada komunikasi interpersonal anatara guru dan santri dalam pembinaan akhlak di Ponpes Subulul Huda Kabupaten Madiun. Bagian penting dari komunikasi interpersonal adalah dasar teori yang mendasari penelitian ini. Menurut Josep A. DeVito, ada beberapa komponen yang sangat penting untuk komunikasi yang efektif, yaitu: Percaya (Trus. Fokus pada pertanyaan mengenai konsep kepercayaan . kepada pembina dan santri, terutama dalam hal saling mempercayai dalam berbagi masalah dan informasi penting. Penekanan pada kepercayaan ini meliputi bagaimana pembina atau ustadz di Pondok Pesantren Subulul Huda membimbing santri untuk mengembangkan prinsip moral dan menjadi contoh yang dapat diandalkan. Di sisi lain, santri diharapkan juga mempercayai pembina mereka, khususnya dalam hal berbagi masalah pribadi atau kesalahan yang mereka buat. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pembina berusaha membangun komunikasi yang memungkinkan santri merasa nyaman dalam membagikan masalah atau kesalahan mereka. 15 Unsur-unsur kepercayaan ini dalam hal ini menunjukkan bagaimana ustadz berkomunikasi dengan santrinya sehingga santri siap untuk menceritakan semua masalah dan kesalahanya. Mereka memiliki keyakinan dan menghormati para guru, yang bertindak sebagai orang tua bagi para santri di pesantren. Setiap ustadz bertangung jawab untuk menjadi teladan dalam membangun hubungan komunikasi untuk menanamkan kepercayaan santri kepada mereka untuk menerima cerita dan mengakui kesalahan yang mungkin telah dilakukan oleh santri di Pondok Pesantren subulul Huda. Oleh karena itu, keinginan guru untuk menciptakan generasi yang bermoral dapat dicapai. Signifikasi kepercayaan dalam menanamkan moralitas mendorong penulis untuk mengamati dampak dari kepercayaan yang diberikan oleh santri kepada ustadz, sehingga dapat terjadi respons yang positif bagi kedua belah pihak, baik santri maupun ustadznya. kepercayaan yang kuat terhadap peran penting ustadz dalam Ghufron Ahmad iffan. AuSantri Dan Nasionalisme,Ay Islamic Insights Journal 1, no. : 41Ae45. Zuwirna. AuKomunikasi Yang Efektif,Ay Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan 1, no. 1Ae8 . An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A membentuk karakter mereka. Dengan melihat respons positif dari santri, saya sebagai penulis percaya bahwa kepercayaan ini memeprkuat hubungan interpersonal antara santri dan ustadz. Melalui Upaya-upaya seperti berbagi informasi dan memberikan nasihat, ustadz dapat secara efektif menanamkan nilai-nilai moral kepada santri, sehingga membentuk karakter yang baik pada santri. Dukungan (Supportivenes. Fokus pertanyaan penulis kepada narasumber, baik pembina maupun santri adalah sikap mendukung yang dapat mengurangi sikap defensive untuk menghasilkan perubahan positif dalam komunikasi. Penulis ingin mengetahui upaya pembina dan santri untuk mengurangi sikap defensive, sehingga dapat mengurangi pertahanan diri saat berkomunikasi interpersonal. Tujuan utamanya adalah mencegah timbulnya ketidakjujuran dan kurangnya empati terhadap pesan yang disampaikan dalam komunikasi elemen sikap pendukung adalah penting ketika seorang guru bertemu dengan murid yang tidak senang dengan nasehatnya. Selama tahap pembinaan nilai-nilai akhlak kepada santri, sikap pendukung antara guru dan satri diperlukan. Untuk mendukung proses komunikasi interpersonal antara guru dan siswa dalam pembinaan nilai-nilai moral, sikap pendukung sangat penting. Selama prosesnya berjalan dengan baik, hal itu dapat berdampak pada proses mengajar dan belajar di Pondok pesantren Subulul Huda Kembangsawit. Memberi dorongan kepada penulis untuk menyelidiki dampak terhadap pembentukan akhlak, yang ditinjau dari sudut pandang sikap pendukung ini setelah para santri mendapatkan bimbingann dari guru mereka proses pembinaan nilai-nilai moral oleh para ustadz berjalan lancar. Ustadz memberikan nasehat dengan sangat hati-hati sehingga santri merasa sangat senang dan mendaoatkan nilai moral yang baik. Sebagai penulis, berdasarkan komentar santri, saya percaya bahwa elemen dukungan ini bekerja dengan baik dan sangat penting untuk membangun komunikasi antara ustadz dan santri dalam pembinaan akhlak. Upaya ustadz untuk membangun nilai-nilai moral akan gagal jika tidak ada sikap yang Terbuka Skap terbuka dalam pertanyaan kepada narasumber, baik ustadz maupun santri, yang mencakup kemampuan untuk menerima masukan dari orang lain dan menyampaikan informasi penting. Fokus Pertiwi Pradita Fitri. Yusmansyah, and Mayasari Shinta. AuPeningkatan Sikap Suportif Dalam Komunikasi Interpersonal Dengan Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Latihan Asertif,Ay 2017, 15Ae27. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A dari aspek sikap terbuka ini adalah bagaimana ustadz membina nilainilai akhlak pada santri dan menjadi teladan bagi mereka. Sebaliknya, santri juga diharapkan menunjukkan sikap terbuka dalam menghadapi kendala atau dalam berbagi motivasi selama proses pendidikan di Pondok Pesantren Subulul Huda Kembangsawit. Sangat penting bagi santri untuk memiliki sikap terbuka terhadap ustadz atau ustadzah yang berperan seperti orang tua mereka di lingkungan pesantren. Sikap bijak dari ustadz menjadi acuan dalam meyakinkan santri untuk menerima nasehat, yang pada gilirannya mendukung proses penanaman akhlak di Pondok Pesantren Subulul Huda Kembangsawit. Hal ini diharapkan dapat memenuhi tujuan ustadz dan misi pondok untuk mencetak santri yang bermanfaat bagi negara dan bangsa. Pentingnya sikap terbuka dalam pembinaan akhlak mendorong penulis untuk melihat dampak dari sikap terbuka santri dalam menerima nasehata dari guru. Keterbukaan antara ustadz dan santri dalam pembinaan akhlak memberikan dampak positif yang besar. Keterlibatan ini memfasilitasi santri dalam mencapai keberhasilan mereka. Dengan menerima nasehat dari ustadz dan melakukan perubahan sikap yang diperlukan, santri dapat memenuhi aspirasi mereka dan menuju jalur kesuksesan. Selain itu, keterbukaan ini juga memperkuat rasa percaya diri santri dalam proses pembinaan akhlak. Faktor Pendukung Komunikasi Interpersonal Antara Ustadz dan Santri dalam Pembinaan Akhlak di Pondok Pesantren Sabilul Huda. Kabupaten Madiun Adanya Kedekatan yang sudah terbentuk sejak awal Faktor ini muncul karena nasihat, arahan, dan hal-hal lainnya yang diberikan oleh guru tidak diangap memaksa kepada santri 18 . Akibatnya, santri tidak merasa tegang saat menerima bimbingan dan Selain itu, hubungan yang telah terjalin antara ustadz dan santri memungkinkan santri untuk lebih terbuka dalam mengungkapkan masalah mereka. Hal ini terjadi tanpa perlu upaya keras dari pihak ustadz untuk membuat santri berbicara tentang masalah dan kesalahan mereka. Tinggal berdampingan dengan santri dan berhubungan dengan santri selama 24 jam Ilham Kausar. AuEfektivitas Komunikasi Interpersonal Dosen Dan Mahasiswa Dalam Proses Bimbingan Skripsi (Studi Komparatif Pada Prodi Fisip Unsyiah Dan Prodi Kpi Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Uin Ar-Ranir. ,Ay Skripsi, 2019. Aulia Shafa Nursani. AuPengertian Bahasa Adalah: Fungsi. Peran. Ragam. Dan Sifatnya,Ay DetikEdu, 2023, https://w. com/edu/detikpedia/d-6653168/pengertian-bahasa-adalah-fungsi-peran-ragam-dansifatnya. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A Dengan tinggal serumah dan menjalin hubungan selama 24 jam dengan santri, ustadz dapat memahami latar belakang, kepribadian, dan kehidupan santri di pondok secara cepat. Hal ini karena adanya interaksi langsung dan kebersamaan yang terjadi antara ustadz dengan santri sepanjang waktu. Oleh karena itu, mereka menjadi akrab dengan aktivitas yang dilakukan oleh santri. 19Ketika memberikan bimbingan, ustadz mempertimbangkan hal ini untuk memastikan bahwa santri dapat menerima arahan tersebut tanpa merasa terpaksa. Selain itu, sebagian besar ustadz di Pondok Pesantren Subulul Huda Kembangsawit adalah alumni dan beberapa di antaranya masih mengabdi di pondok tersebut. Dengan latar belakang ini, mereka memiliki pemahaman yang baik tentang kehidupan santri di pondok. Ustadz dan ustadzah di pondok, yang sebagian besar masih kuliah dan berasal dari santri Pondok Pesantren Subulul Huda Kembangsawit, dapat menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah Faktor Penghambat Komunikasi Interpersonal Antara Ustadz dan Santri dalam Pembinaan Akhlak di Pondok Pesantren Sabilul Huda. Kabupaten Madiun Faktor internal yang menghambat pelaksanaan pembinaan akhlak meliputi individu dengan latar belakang pendidikan yang minim, terutama dalam pendidikan agama. Selain itu, mereka yang berasal dari daerah pedalaman atau pelosok sering kali memiliki pengetahuan agama yang kurang. Kebiasaan santri, seperti logat daerah, juga dapat menjadi faktor penghambat dalam hal ini. Faktor eksternal berupa kemajuan teknologi seperti HP yang sering disalahgunakan, sehinga santri menjadi kurang disiplin dan melanggar peraturan pondok. 20 ini merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi di lembaga berbasis pondok pesantren. Santri yang mengabaikan peraturan pondok cenderung tidak memperhatikan nasihat, petunjuk, dan arahan dari para ustadz. PENUTUP Dengan mempertimbangkan tiga elemen penting, guru di Pondok Pesantren Subulul Huda Kembangsawit dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Yang pertama adalah sikap percaya, yang terdiri M S Khotobi. AuPola Komunikasi Pimpinan Pondok Pesantren Dalam Membentuk Karakter Santri: Studi Kasus Di Pondok Pesantren Nurul Jannah NW Ampenan Kota Mataram,Ay 2017, http://etheses. id/id/eprint/2676http://etheses. id/2676/1/M. Salim Khotobi NIM 15. Gusti Randa et al. AuStrategi Komunikasi Pengasuh Dalam Pembinaan Akhlak Santri Di Pondok Pesantren Al-Mubarak Di Kota Bengkulu Skripsi,Ay 2019. An--Nuha . Vol. No. Desember 2024. KOMUNIKASI INTERPERSONAL A dari penerimaan. Empati, dan kejujuran. Yang kedua adalah sikap pendukung, dan yang ketiga adalah sikap mendukung, dalam pembinaan akhlak, elemen-elemen ini sangat penting untuk komunikasi Terlepas dari fakta bahwa ustadz di pondok pesantren telah menerapkan setiap elemen tersebut. Komunikasi interpersonal sangat bergantungan pada penyampaian, dan beberapa guru masih perlu memperbaiki cara mereka berbicara selama pembinaan akhlak. Selama pembinaan akhlak, guru dapat berusaha membangun komunikasi interpersonal dengan santri mereka dengan cara-cara seperti menanyakan kabar atau mengajukan pertanyaan yang menyenangkan, memberikan nasehat dan arahan, menjadi pendengar yang baik, menjaga rahasia santri dan mampu bertindak sebagai teman, guru, atau orang tua jiak diperluakn. Dengan cara ini, santri dapat berbicara dan terbuka tanpa takut atau tegang. Selain itu, ustadz juga memiliki biodata santri untuk mendukung komunikasi. Membuat santri lebih tertarik pada topik pembicaraan, guru selalu memberikan cerita dari pengalaman pribadi mereka sendiri atau dari orang lain. DAFTAR PUSTAKA