ISSN: 2988-2850 Volume 2. Nomor 1. Januari 2024 DOI XX-XX Konseling Behavioral dengan Teknik Positive Reinforcement untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Anak Nur Ida Fitria . Defi Astriani . Dhea Octa Ningtyas . 1,2,3 Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Indonesia Email: nuridafitria87@gmail. com, 2defi45astriani@gmail. com,3dheahayu2@gmail. Abstract The learning process has problems that are closely related to children's learning achievements. One way of learning achievement is influenced by learning motivation factors. In this research, the subject had problems in his academics. This is caused by the subject's lack of ability to understand the subject matter presented by the teacher and is strengthened by the environment in which he lives. The subject received less attention and family assistance in studying and the circle of friends who were mostly older than the subject's age meant that the subject spent his time playing in internet cafes. Based on the results of interview assessments, observations and learning motivation questionnaires, the subject experienced the problem of low learning motivation. This research design is used to look at behavior and evaluate certain interventions or treatments on a single subject with assessments carried out repeatedly over a certain period of time. The intervention aims to increase the subject's learning motivation through behavioral counseling with positive reinforcement techniques. The intervention in this study consisted of five sessions and lasted 60 minutes in each session. The research results showed that there was a change and increase in learning motivation in the subjects after following the intervention. This means that the behavioral counseling intervention program with positive reinforcement techniques is effective in increasing the subject's learning motivation. Keyword : Behavior counseling, motivation to learn. Positive reinforcement Abstrak Proses pembelajaran mempunyai permasalahan yang erat kaitannya dengan prestasi belajar Prestasi belajar salah satunya dipengaruhi oleh factor motivasi belajar. Pada penelitian ini, subjek mempunyai permasalahan dalam akademiknya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan subjek dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dan diperkuat oleh lingkungan tempat ia tinggal. Subjek kurang mendapatkan perhatian dan pendampingan keluarga dalam belajar dan lingkungan pertemanan yang kebanyakan berusia di atas usia subjek membuat subjek menghabiskan waktunya untuk bermain di warnet. Berdasarkan hasil asesmen wawancara, observasi, dan kuesioner motivasi belajar, subjek mengalami permasalahan motivasi belajar rendah. Desain penelitian ini digunakan untuk melihat perilaku dan mengevaluasi intervensi atau treatment tertentu pada subyek tunggal dengan penilaian yang dilakukan secara berulangulang dalam suatu waktu tertentu. Intervensi bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar subjek melalui konseling behavioral dengan tekhnik positive reinforcement. Pemberian intervensi pada penelitian ini terdiri dari lima sesi dan berlangsung selama 60 menit di setiap sesinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan dan peningkatan motivasi belajar pada subjek setelah mengikuti intervensi. Ini berarti program intervensi konseling behavioral dengan teknik positive reinforcement efektif untuk meningkatkan motivasi belajar pada subjek. Kata Kunci : Konseling behavior. Motivasi belajar. Positive reinforcement Pendahuluan Proses pembelajaran mempunyai permasalahan yang erat kaitannya dengan prestasi belajar anak. Prestasi belajar ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari dalam diri anak maupun faktor dari luar. Faktor dari dalam diri anak itu sendiri contohnya Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi seperti: minat, bakat, motivasi dan kecerdasan. Sedangkan faktor dari luar contohnya seperti lingkungan, metode pembelajaran, serta guru juga berpengaruh terhadap hasil belajar yang nantinya akan diperoleh oleh anak tersebut. Faktor-faktor tersebut sebaiknya selalu dikaji dan dipelajari supaya dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh anak, sehingga anak tersebut dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Setiap anak mempunyai kondisi internal dan kondisi eksternal yang berbeda-beda, kondisi ini disebut dengan AumotivasiAy. Motivasi sangat penting perannya bagi individu dalam kehidupan sebagai makhluk Tidak terkecuali bagi anak yang sedang menjalani proses belajar. Slavin . mendefinisikan motivasi sebagai proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Motivasi merupakan istilah yang lebih umum yang menunjukkan pada seluruh proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkannya dan tujuan akhir dari gerakan atau perbuatan. Karena itu, bisa juga dikatakan bahwa motivasi berarti membangkitkan motif, mengembangkan gerak, atau menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau tujuan (Pradana et al. , 2. Sardiman . mengklasifikasikan motivasi belajar ke dalam beberapa indikator, yaitu Adanya ketekunan untuk mengerjakan tugas, adanya minat untuk belajar, adanya kemandirian untuk mengerjakan tugas, adanya penghargaan dalam belajar, adanya kepercayaan diri dan Senang memecahkan masalah dalam pelajaran. Sedangkan menurut Chernis dan Goleman . , siswa dikatakan mempunyaimotivasi belajar yang bagus adalah mempunyai dorongan untuk mencapai sesuatu, mempunyai komitmen, mempunyai inisiatif dan optimis. Ketika di kelas subjek berperilaku acuh terhadap pelajaran, bermain-main atau bercanda dengan teman, tidak mau maju ke depan ketika ditunjuk guru, tidak memperhatikan guru, tidak mengerjakan tugas dengan baik bahkan tidak mengerjakan sama sekali (Lukman Hakim, 2023. Hamzah . mengatakan motivasi belajar bisa muncul karena adanya faktor intrinsik atau faktor dari dalam diri manusia yang disebabkan oleh dorongan atau keinginan akan kebutuhan belajar, harapan, dan cita-cita. Selain itu, faktor ekstrinsik juga berpengaruh dalam motivasi belajar. Faktor ekstrinsik berupa adanya penghargaan, lingkungan belajar yang menyenangkan, dan kegiatan belajar yang menarik. Perilaku subjek yang seperti ini disebabkan oleh kurang adanya pendampingan orang tua dalam belajar. Orang tua tidak selalu bisa memantau subjek karena setiap hari bekerja dan pulang sampai sore. Selain itu lingkungan rumah atau teman-temannya yang kebanyakan berusia di atas usia subjek membuat subjek terpengaruh perilaku teman-temannya, yaitu bermain game di warnet dan membuatnya tidak mau belajar. Selain itu, kurangnya kemampuan subjek dalam memahami setiap pelajaran yang ia peroleh dari guru membuatnya menjadi kesulitan mengikuti pelajaran dan menjadi kurang percaya diri serta adanya rasa takut salah untuk mengerjakan tugas yang Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Positive reinforcement adalah salah satu intervensi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan motivasi belajar rendah pada anak. Teknik penguatan positif merupakan salah satu metode dari model pengkondisian operan. Memberikan ganjaran atau penguatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul merupakan cara yang ampuh dalam mengubah tingkah laku terutama dalam meningkatkan motivasi belajar pada siswa yang berinteligensi rendah. Reinforcement merupakan bagian dari modifikasi perilaku yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik atas tindakan yang telah dilakukannya (Astriani, 2. Reinforcement dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Penguatan ini dapat dilakukan secara verbal ataupun non verbal (Lukman Hakim, 2. Penguatan positif berupa hadiah, pujian atau penguatan mampu menciptakan rasa kebanggaan tersendiri pada Konseling behavioral dengan teknik penguatan positif ini diharapkan mampu mengubah motivasi belajar pada siswa agar lebih ditingkatkan lagi (Corey, 2. Positive reinforcement dalam beberapa penelitian sebelumnya ditemukan sebagai salah satu teknik yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa (Newcomer, . Simonsen et al. Adibsereshki et al. 2014 & Porter, 2. Metode Penelitian ini merupakan single subject research. Penelitian subjek tunggal adalah jenis penelitian kuantitatif yang mempelajari secara rinci perilaku masing-masing dari sejumlah kecil subjek (Anshori, 2. Single subject research merupakan penelitian eksperimen untuk melihat perilaku dan mengevaluasi intervensi atau treatment tertentu pada perilaku suatu subyek tunggal dengan penilaian yang dilakukan secara berulangulang dalam suatu waktu tertentu (Prahmana, 2. Karena penelitian subjek tunggal merupakan penelitian kuantitatif dengan memberikan intervensi atau treatment kepada subyek penelitian dalam jangka waktu tertentu, banyak ahli menyatakan bahwa single subject research merupakan single case experiment design atau SCED (Kazdin, 2000. Sarafino & Smith, 2. Subjek dalam penelitian ini adalah anak laki-laki berusia 12 tahun yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD. Intervensi yang digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar subjek adalah konseling behavioral dengan teknik positive reinforcement. Tujuan konseling behavioral adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya adalah bahwa segenap tingkah laku dipelajari . , termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka bisa unlerned . ihapus dalam ingata. , dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh. Positive reinforement merupakan pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau penguatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul (Corey. Target intervensi konseling behavioral dengan teknik positive reinforcement adalah untuk meningkatkan motivasi belajar subjek. Motivasi berasal dari kata motif yang berarti upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Secara etimologi motivasi adalah dorongan atau daya penggerak yang dapat membangkitkan atau mendorong Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi seseorang untuk melakukan suatu tindakan dalam rangka mencapai tujuan (Sardiman. Sebelum penerapan koseling, subjek diberikan penjelasan tentang intervensi yang akan diberikan untuk meningkatkan kepedulian kepada subjek dan berkomitmen untuk mengikuti intervensi sampai selesai. Berikut adalah penjelasan pada masingmasing sesi dalam penerapan konseling behavioral dengan teknik positive Sesi 1 : Menetapkan perilaku yang akan ditingkatkan. Menetapkan perilaku bermasalah yang akan diintervensi kemudian menetapkan tujuan program yaitu untuk meningkatkan motivasi belajar subjek. Di sesi pertama ini, terapis bersama dengan subjek mendiskusikan terkait permasalahan yang dialami. Subjek mengikuti sesi ini dengan baik da sesi juga berjalan lancar. Subjek mengetahui apa permasalahan yang dialami dan apa yang seharusnya ia lakukan untuk mengatasi masalahnya ini. Sesi 2 : Menetapkan reinforce. Menetapkan reinforcer yang akan digunakan. Reinforcer sebaiknya gampang tersedia, dapat segera diberikan dan dapat diberikan berulang tanpa menimbulkan kejenuhan. Dalam hal ini reinforcer ditentukan bersamasama dengan subjek Sesi 3 : Merapkan reinforce. Reinforcer diberikan segera setelah perilaku yang dikehendaki muncul. Dalam hal ini reinforcer diberikan kepada subjek ketika subjek mampu mempertahankan sikap baiknya ketika pelajaran berlangsung, seperti memperhatikan guru, tidak membuat gaduh atau bermain-main di kelas, dan mau mengerjakan tugas di kelas. Sesi 4 : Menghentikan program. Program dihentikan setelah perilaku subjek stabil. Dan pada sesi ini subjek juga diberikan feedback tentang kinerjanya selama implementasi program, mengakhiri program dan memastikan subjek berkomitmen menerapkan program dalam kehidupan sehari-hari terlepas dari intervensi melalui kontrak perilaku. Sesi 5: Follow up. Evaluasi perubahan motivasi belajar dalam 1 minggu pasca intervensi dengan melakukan wawancara dan observasi terhadap subjek. Teknik analisis data yang digunakan yakni dengan membandingkan data sebelum dan sesudah diberikan treatmen atau intervensi pada subjek Hasil dan Pembahasan Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar subjek. Perubahan yang di alami subjek dievaluasi menggunakan skala motivasi belajar dan menggunakan observasi berdasarkan ceklist perilaku yang telah dibuat sebelumnya. Pemberian kuesioner tersebut bertujuan untuk mengetahui skor perilaku motivasi belajar pada subjek, sedangkan ceklist observasi digunakan untuk melihat perilaku yang nampak saat subjek mengikuti proses belajar di sekolah. Keduanya digunakan untuk melihat kemajuan intervensi selama sebelum dan sesudah diberikan positive reinforcement. Adapun hasil sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi dapat dilihat pada grafik berikut ini: Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Gambar. 1 sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi Pre test Post test Follow up Dari gambar 1 menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan mengenai motivasi belajar subjek setelah diberikan intervensi melalui penerapan konseling behavioral dengan teknik positive reinforcement. Jadi berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa positive reinforcement dapat meningkatkan motivasi belajar. Terdapat perubahan perilaku subjek antara sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Dimana sebelumnya ia memiliki motivasi belajar yang rendah yang ditunjukan dengan perilaku acuh pada pelajaran, bermain atau bercanda dengan teman, tidak mau maju ke depan ketika ditunjuk guru, tidak memperhatikan guru, tidak mengerjakan tugas dengan baik bahkan tidak mengerjakan sama sekali. Namun sekarang subjek bisa merubah perilakunya yaitu tidak acuh lagi terdahap pelajaran, tidak bermain atau bercanda dengan teman ketika pelajaran berlangsung, mau maju ke depan ketika ditunjuk guru, memperhatikan guru saat menerangkan, dan mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Berdasarkan hasil intervensi dan hasil post-test yang dilakukan pada subjek, dapat dikemukakan bahwa terjadi perubahan dan peningkatan motivasi belajar pada subjek setelah mengikuti intervensi. Ini berarti program intervensi konseling behavioral dengan teknik positive reinforcement efektif untuk meningkatkan motivasi belajar pada subjek. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Newcomer . & Simonsen et al. bahwa positive reinforcement merupakan intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Pengkondisian operan Skinner melibatkan pengembangan hubungan antara berbagai konsekuensi dan perilaku untuk mencapai hasil yang diinginkan (Zirpoli, 2. Skinner percaya bahwa penguatan positif lebih efektif daripada hukuman ketika berusaha untuk berubah atau membentuk sebuah perilaku. Reinforcement adalah berguna untuk memperkuat perilaku dimana perilaku yang mendapatkan penguatan cederung akan diulangi lagi. Reinforcement juga dapat digunakan untuk memotivasi siswa yang memiliki motivasi bejalar yang rendah (Laura & Peters, 2. , tetapi sebelum dilakukan intervensi penting untuk menjelaskan terlebih dahulu kepada siswa terkait intervensi tersebut terutama dalam kondisi apa hadiah dapat diperoleh (Ormrod, 2. Penguat . berupa pemberian makanan atau pujian kepada subjek tidak hanya menjadi penguat materi namun juga sebagai penguat sosial. Dari reinforcer yang diberikan, subjek merasa mendapatkan perhatian dari lingkungan sosial yang tidak ia dapatkan dari keluarga sebelumnya. Porter menyatakan bahwa orang-orang suka Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi mendapatkan hadiah atau penguat untuk melakukan tugas, apakah itu berupa poin bonus untuk membeli objek tertentu atau berupa pujian dapat membuat individu tersebut bekerja dengan lebih baik. melakukan pekerjaan dengan baik (Porter, 2. Dari hasil observasi dan evaluasi yang dilakukan telah terjadi peningkatan motivasi belajar pada subjek. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa konseling behavioral dengan teknik penguatan penguatan positif mempunyai dampak yang baik dan memiliki peranan yang penting di dalam meningkatkan motivasi belajar pada Simpulan Pemberian konseling behavioral dengan teknik penguatan positif terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah dasar. Peningkatan motivasi belajar tersebut dapat diketahui dengan melihat hasil observasi anak selama proses belajar di Selain itu, peningkatan motivasi belajar juga dapat dilihat dari hasil pemberian Referensi