PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS BELAJAR SISWA DI SMAN 2 KAHAYAN TENGAH KABUPATEN PULANG PISAU I Made Pustikayasa1. I Wayan Sindia Griya Danika2. I Nyoman Alit Arsana3. Ni Wayan Purnawati4 Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya 1 2 3 4 impdpus@gmail. com 1, dana. danikadas@gmail. com2, alitarsana@iahntp. nw_purnawati@iahntp. ABSTRACT The learning process requires learning and innovation skills. These skills focus on the ability of learners to be able to think critically in problem solving, the ability to communicate and collaborate, as well as creative and innovate. The use or application of ICT is important to be adopted to achieve this. Moreover, today's school students are generation Z who live in an alldigital world. The role of ICT (Microsoft PowerPoin. in enhancing students' learning creativity. This research will focus on student creativity in making ICT as a learning resource, one of which is a learning resource for Hinduism. This research uses a quantitative quasi-experimental method. The data analysis technique uses the N-Gain Test or Normalized gain. The N-Gain Score test is carried out to calculate the difference between the Pre Test value and the Post Test value. calculating the difference between the Pre Test and Post Test values, it can be seen that the application of a particular method is said to be effective or not. The results showed that the application of ICT (Microsoft PowerPoin. can increase students' learning creativity in Hinduism The increase in creativity in this study can be seen in the average N-Gain score of the creativity test. The acquisition of N-Gain Score in the control class is 0. 34 which is included in the medium category with an ineffective percentage level of 34%. Furthermore, the acquisition of NGain Score in the experimental class was 0. 3 O G < 0. and included in the medium While the N-Gain Score percentage is in the percentage range of 56 - 75, which is included in the moderately effective criteria Keywords: The Role of ICT. Increasing Learning Creativity. Student Learning Creativity ABSTRAK Proses pembelajaran memerlukan sebuah keterampilan belajar dan berinovasi. Keterampilan tersebut berfokus pada kemampuan siswa untuk berpikir kritis, berkomunikasi, dan kolaborasi dalam pemecahan masalah, serta kreatif dan berinovasi. Penggunaan atau penerapan TIK menjadi penting untuk diadopsi guna mencapai hal tersebut. Terlebih lagi siswa sekolah saat ini terlahir sebagai generasi Z yang hidup di dunia serba digital. Peran TIK (Microsoft PowerPoin. dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa. Penelitian ini akan berfokus pada kreativitas siswa dalam menjadikan TIK sebagai sumber belajar salah satunya adalah sumber belajar agama Hindu. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif quasi eksperimen. Teknik analisis data mengunakan Uji N-Gain atau Normalized gain. Menghitung dengan N-Gain yaitu selisih antara nilai Pre Test dan Post Test, agar diketahui efetivitas penerapan suatu metode pebelajaran agama Hindu berbasi TIK. Hasil penelitian penerapan TIK (Microsoft PowerPoin. dapat meningkatkan kreativitas belajar siswa pada mata pelajaran Agama Hindu. Peningkatan kreativitas siswa dapat dilihat pada nilai rata-rata N-Gain tes kreativitas. Perolehan N-Gain Score pada kelas kontrol yaitu 0,34 dimana termasuk dalam kategori sedang dengan tingkat presentase tidak efektif yaitu 34%. Selanjutnya, perolehan N-Gain Score pada kelas eksperimen adalah 0,56 . 3 O G < 0. dan termasuk dalam kriteria sedang. Sedangkan presentase N-Gain Score ada pada rentang presentase 56 Ae 75 yakni masuk dalam kriteria cukup efektif. Kata kunci: Peran TIK. Peningkatan Kreativitas Belajar. Kreativitas Belajar Siswa 151 Jurnal Teknologi Informasi dan Komputer. Volume 10. Nomor 4. Oktober 2024 PENDAHULUAN Pesatnya informasi dan komunikasi (TIK) di bidang pendidikan saat ini tengah bertransformasi kearah pembelajaran abad 21. Dimana salah satu prinsip pembelajaran abad 21 adalah keterampilan belajar dan kemampuan berinovasi, (Ningrum et al. , 2. Pada pembelajaran abad ke-21 keterampilan belajar dan berinovasi berfokus pada kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi, serta kreatif dan berinovasi (Supena et al. , 2. Untuk mencapai hal tersebut penggunaan TIK penting di adopsi untuk mendukung pembelajaran abad ke-21 khususnya di tingkat sekolah. Kurangnya implementasi teknologi informasi dan komunikasi di tingkat sekolah menyebabkan siswa mudah bosan dan membuat rendahnya minat belajar siswa (Novita et al. , 2. Permasalahan lain muncul, ketika banyak siswa yang mengeluh jenuh karena proses yang membosankan, pemberian tugas dari buku paket, metode ceramah via daring, mengerjakan kuis dan tugas yang banyak mengakibatkan tidak tuntasnya pekerjaan rumah para siswa (Rizqy Heristama et al. , 2. Sementara itu, pembelajaran dan penyampaian materi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dapat lebih mudah diserap, dipahami dan di mengerti oleh siswa (Al Islam et al. , 2. Kreativitas belajar berbasis TIK dalam proses belajar mengajar penting dilakukan agar menjadi lebih menarik. Pemanfaatan TIK dalam proses belajar mengajar menjadi lebih aktif, efektif, berpikir kritis dan mandiri (Sutisna et al. , 2. Selain itu pemanfaatan TIK selaras dengan program pemerintah melalui Kemendikbudristek terkait dengan penerapan kurikulum merdeka belajar yang mengutamakan kreativitas dan inovasi (Indarta et al. , 2. Belajar dengan pendekatan Project Based Learning (PBL) mendukung program tersebut, dimana siswa pembelajaran, tanpa harus mengandalkan pengajaran dari guru. Proses pembelajaran PBL memungkinkan siswa untuk dapat memberikan solusi, dan memecahkan Hal tersebut didapat dari kemampuan siswa berpikir kritis dan kreatif dimana siswa dapat dengan bebas mengemukakan pendapat dan gagasan mereka (Trianggono et al. , 2. Berkembangnya kemampuan kognitif melalui higher-order thinking skill (HOTS) menambah tantangan tersendiri bagi siswa dalam menguasai materi. Pada beberapa pendekatan belajar pemahaman materi termasuk menggunakan TIK sebagai salah satu literasi media informasi. Adapun penggunaan TIK sudah dikuasai oleh siswa namun kemampuan menjadikan TIK sebagai literasi media informasi untuk kebutuhan kreativitas belajar masih rendah (Ardiansyah & Nana, 2. Penggunaan TIK yang tidak tepat bisa membuat siswa kecanduan dan tidak fokus dalam belajar. Kemampuan berpikir kreatif dapat di lihat dari beberapa aspek yaitu berpikir lancar . , berpikir merinci . , berpikir orisinil . laboration, dan berpikir luwes . (Erin et al. , 2020. Handayani et al. , 2. Kreativitas penyampaian gagasan kepada orang lain, serta terbuka terhadap perbedaan pendapat (Yuniani et al. , 2. Keterkaitan antara penggunaan TIK dan peningkatan kreativitas belajar siswa menjadi perlu untuk ditelusuri. Terlebih lagi saat ini siswa sekolah merupakan generasi Z yang hidup di dunia serba digital. Mengakses TIK menjadi tidak begitu sulit bagi siswa, namun penggunaan untuk keperluan kreativitas belajar menjadi penting di usia sekolah. TIK dapat menjadi peluang belajar dengan potensi kreativitas yang tinggi jika digunakan dengan baik dan tepat. Penggunaan media pembelajaran agama Hindu dapat dilakukan seperti Microsoft PowerPoint. Microsoft PowerPoint, merupakan salah satu bagian TIK yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik atau guru untuk penyampaian materi yang lebih menarik sehingga siswa dapat memahami konten pelajaran dalam suasana Dari permasalahan diatas perlu adanya penelitian terkait peran TIK (Microsoft PowerPoin. dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa. Penelitian ini akan berfokus pada kreativitas siswa dalam menjadikan TIK sebagai sumber belajar . iterasi media Sumber literasi media informasi dapat diperoleh dari media sosial seperti youtube, facebook, tik tok, vlog, dan sebagainya (Sari, 2. Adapun penelitian ini akan dilakukan di SMAN 2 Kahayan Pustikayasa. Danika. Arsana. Purnawati. Peran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam. Tengah yang terletak di Kabupaten Pulang Pisau. Provinsi Kalimantan Tengah. KAJIAN PUSTAKA Identifikasi, evaluasi, dan sintesis hasil penelitian dan hasil pemikiran terdahulu dilakukan agar metode yang digunakan lebih sistematis, dan eksplisit. Agustiana et al. , 2020, pada efektivitas model pembelajaran dengan tahapan Orientasi. Penggalian ide, penelitian, elaborasi, memamerkan hasil karya, dan (OPPEMEI) meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mahasiswa, penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian tindakan. Adapun indikator kreatif yang digunakan pada penelitian ini yaitu Hasil penelitian diperoleh dari penerapan model pembelajaran OPPEMEI pada 4 kelas yang berbeda dengan eksperimen evaluasi terhadap hasil belajar. Dalam penelitiannya terjadi peningkatan kemampuan berpikir kreatif dengan rata-rata N-Gain sebesar 0,27, 0,153, dan 0,101 dengan indikator keterampilan yang paling tinggi ada pada fluency dengan N-Gain sebesar 0,67. (Agustiana et al. , 2. Penelitian selanjutnya (Sutisna et , 2. , membahas tentang penggunaan media pembelajaran berbasis TIK dalam lingkungan tempat tinggalku. Pendekatan eksperimen quasi telah dilakukan, dengan teknik analisis kuantitatif. Berdasarkan penggunaan media pembelajaran berbasis TIK menunjukkan hasil belajar dengan NGain sebesar 80,8 dimana ketuntasan hasil belajar sebesar 96,9%. Sebaliknya, hasil belajar tanpa media TIK . memiliki N-Gain sebesar 70,2 dimana ketuntasan hasil belajar sebesar 84,8 %. Dari data tersebut diperoleh hasil bahwa media pembelajaran dengan menggunakan TIK lebih efektif dan terbukti dengan tingkat ketuntasan hasil belajar lebih tinggi dibanding media pembelajaran konvesional. Penelitian berikutnya (Ningrum et , 2. , membahas tentang penerapan STEM FORM HOME dengan metode PjBL untuk meningkatkan penguasaan konsep dan Siswa. Penelitian preexperimental dengan konsep One Group Pre Test-Post Test Design. Analisis hasil N-Gain dilakukan sebelum dan setelah pembelajaran. STEM FROM HOME diukur dengan pertemuan online sebanyak 3 kali pertemuan. Hasil penelitian tersebut memperoleh N-Gain sebesar 43% pada penguasaan konsep, dan 63% untuk berpikir kreatif. pengukuran tersebut diketahui bahwa penerapan STEM FROM HOME dengan PjBL penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif siswa SMP. Selanjutnya Novita et al. , 2019, membahas tentang pengaruh penggunaan media pembelajaran video terhadap hasil belajar siswa SD. Quasi eksperimen pada dua grup telah digunakan pada penelitian ini. Dari analisis ditemukan bahwa nilai N-Gain dan tingkat hasil belajar pada kelas eksperimen lebih tinggi dibanding N-Gain dan tingkat hasil belajar kelas control. Dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran video berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa (Novita et al. , 2. Terakhir, penelitian dari Prasetya Subakti et al. , 2021 yang berkaitan tentang pengembangan e-LKPD berkarakteristik budaya jambi menggunakan model discovery learning berbasis STEM. Uji coba pada kelompok kecil siswa telah dilakukan. Berdasarkan analisis N-Gain diketahui bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan kategori Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa pengembangan e-LKPD sudah efektif serta dapat digunakan oleh guru dan siswa (Prasetya Subakti et al. , 2. Pada penelitian ini juga akan menggunakan metode yang sama seperti penelitian-penelitian sebelumnya. Uji N-Gain akan dilakukan pada kelompok kelas Penelitian berfokus pada peran TIK dalam meningkatkan kreativitas belajar Aspek kreatif yang digunakan pada penelitian ini yaitu fluency, flexibility, elaboration, dan originality. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui peran TIK dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa pada mata pelajaran agama Hindu. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui peran TIK (Microsoft PowerPoin. dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa beragama Hindu. Kelas kontrol dan kelas eksperimen 153 Jurnal Teknologi Informasi dan Komputer. Volume 10. Nomor 4. Oktober 2024 ditentukan melalui proses pengundian yang dilakukan bersama dengan guru mitra yakni guru yang mengampu mata pelajaran agama Hindu di SMAN 2 Kahayan Tengah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi faktor bias dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan metode tes yaitu Pre Test dan Post Test pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Metode tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa dalam menggunakan TIK yaitu Microsoft Power Point. Selain itu, pengupulan data juga menggunakan metode obeservasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji N-Gain Score dilakukan untuk menghitung dan mengetahui selisih antara nilai Pre Test . es sebelum perlakua. dan nilai Post Test . es sesudah perlakua. Perolehan nilai N-Gain Score ditentukan berdasarkan nilai N-Gain maupun N-Gain dalam persen (%). Berikut kategori perolehan nilai N-Gain dapat dilihat pada tabel 1: Tabel 1. Kriteria N-Gain Nilai Kriteria G Ou 0. Tinggi 3O G < Sedang G < 0. Rendah Kategori perolehan N-Gain dalam persen (%) didasarkan pada tafsiran efektifitas N-Gain yang ditetapkan oleh Hake, 1999 dapat mengacu pada tabel 2. Tabel 2. Kategori Tafsiran Efektivitas NGain Presentase Tafsiran (%) < 40 Tidak Efektif 40 Ae 55 Kurang Efektif 56 Ae 75 Cukup Efektif > 76 Efektif HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Observasi dan Wawancara Peneliti melakukan observasi untuk mengetahui gambaran mengenai penggunaan teknologi informasi di sekolah. Kuisioner di sebar kepada beberapa guru pengajar di sekolah tersebut. Adapun sebagian besar guru sudah menggunakan handphone dan dapat mengakses internet. Namun saat ini pemanfaatan TIK masih minim dilakukan beberapa aktifitas seperti penyampaian informasi ke pihak lain masih harus tatap muka dan menggunakan surat. Tidak jauh berbeda dari kondisi sebelumnya dimana masih belum maksimal memanfaatkan teknologi informasi untuk menyampaikan Pihak sekolah menyadari bahwa kondisi tersebut menjadi kendala bagi pihak sekolah karena memerlukan waktu yang lama dan membutuhkan biaya tinggi. Selain itu sebelum memanfaatkan teknologi informasi pihak sekolah merasa kesulitan dalam menyiapkan bahan ajar karena keterbatasan buku paket dan LKS. Selain itu, penyampaian materi yang tidak menarik dan lambat di pahami oleh siswa. Adapun hasil observasi menunjukkan bahwa pendukung teknologi informasi seperti stasiun pemancar atau jaringan internet sudah ada namun belum memadai untuk aktifitas sekolah. Di sekolah telah tersedia fasilitas TIK seperti LCD proyektor dan komputer/laptop namun belum tersedia jaringan internet. Sebagian besar guru pengajar di sekolah tersebut sudah mengenal aplikasi dasar seperti Microsoft Powerpoint, dan beberapa guru sudah memanfaatkan aplikasi tersebut. Pihak sekolah merasa pemanfaatan Microsoft powerpoint dapat membantu menyelesaikan tugas pekerjaan di Peneliti juga melakukan wawancara untuk mengatahui lebih jauh mengenai proses belajar mengajar siswa Agama Hindu di sekolah. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi secara mendalam agar lebih fokus dan mengarah pada pusat Wawancara dilakukan dengan Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah. Wali Kelas. Guru Mata Pelajaran. Guru Bimbingan Konseling. Kepala Laboratorium Komputer. Data responden menunjukkan usia guru relatif muda (Gambar . baik itu laki-laki maupun perempuan (Gambar . Dari hasil wawancara hampir semua guru telah menggunakan TIK yaitu internet melalui TIK mendukung dan menyelesaikan pekerjaan sehari-hari baik yang berkaitan dengan pendidikan maupun kegiatan lainnya. Pustikayasa. Danika. Arsana. Purnawati. Peran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam. Gambar 1 Data responden berdasarkan mengamati segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas, agar dapat memperoleh data yang akurat. Seluruh kemajuan dan hambatan yang terjadi selama pelaksanaan penelitian dicatat untuk dapat ditindaklanjuti. Refleksi dilakukan peneliti untuk mengetahui dan memahami hal yang masih kurang dan perlu di evaluasi. Untuk menemukan penyelesaian dari masalah pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada tahap pertama dan tahap kedua. Gambar 2 Data responden berdasarkan jenis Tahapan Penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan kegiatan belajar mengajar dalam dua tahap. Tahap konvensional dengan metode tatap muka, lalu dilakukan Pre Test. Selanjutnya pelaksanaan tahap kedua yaitu menggunakan teknologi informasi dengan Microsoft Powerpoint Interaktif Sebelum pembelajaran siswa melakukan Pre Test, setelah itu dilakukan perlakuan dengan menggunakan media interaktif dengan Microsoft Powerpoint. Adapun tahapan model pembelajaran menggunakan teknologi informasi dengan media interaktif Microsoft Powerpoint ini yaitu: . Di awali dengan menyampaikan materi pelajaran Aucatur asramaAy menggunakan media interaktif . tahap mengajak siswa untuk berdiskusi mengenai materi Aucatur asramaAy dan mengungkapkan pengetahuan siswa tentang catur asrama. tahap evaluasi dalam mengerjakan tugas terkait materi dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi untuk menumbuhkan tingkat kreativitas siswa dalam mengembangkan pengetahuan mereka terkait materi. Tahap observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Peneliti Perhitungan N-Gain Score Hasil observasi awal yang telah dilakukan secara umum menunjukkan bahwa kreativitas siswa pada saat menerima pelajaran mata pelajaran agama Hindu masih terlihat cukup rendah. Hal ini tentunya dapat berdampak pada rendahnya hasil belajar Dalam penelitian ini permasalahan yang terjadi diselesaikan dengan penerapan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa lebih aktif dalam belajar. Dalam hal ini digunakan peran TIK yaitu Microsoft Powerpoint untuk membantu guru dalam penyampaian materi ajar agama Hindu. Setelah TIK (Microsoft Powerpoin. dalam penyampaian materi peningkatan kreativitas belajar siswa. Perhitungan melakukan analisis melalui pengukuran normalized gain score. Hasil analisis data dengan N-Gain Score terdapat peningkatan kemampuan siswa dengan memperhatikan kemampuan awalnya. Hasil perhitungan NGain Score yang dilakukan terdapat pembelajaran menggunakan TIK (Microsoft Powerpoin. Adapun hasil dari pengukuran N-Gain pada kelas kontrol adalah sebagai Gambar 3 Perolehan nilai pres test dan post test pada kelas kontrol 155 Jurnal Teknologi Informasi dan Komputer. Volume 10. Nomor 4. Oktober 2024 Tabel 3. Perolehan N-Gain Score pada Kelas Kontrol Skor Ideal N-Gain Post test Post - Pre -Pr. Score N-Gain Score (%) Kriteria Pre test 0,17 16,67 33,33 Mean 0,34 Berdasarkan tabel 3 peroleh N-Gain Score pada kelas kontrol yaitu 0,34 dimana termasuk dalam kategori sedang dengan tingkat presentase tidak efektif yaitu 34%. Selanjutnya, perolehan N-Gain Score pada kelas eksperimen dapat di lihat pada tabel 4. Perolehan N-Gain Score menunjukkan bahwa di kelas eksperimen terjadi peningkatan kreativitas belajar siswa dengan menggunakan teknologi informasi. Seperti yang terlihat pada tabel 4 bahwa N-Gain Score kelas eksperimen adalah 0. 3 O G < 0. termasuk dalam kriteria sedang sebesar 0,56. Sedangkan presentase N-Gain Score ada pada rentang presentase 56 Ae 75 yakni masuk dalam kriteria cukup efektif. Gambar 4 Perolehan nilai pres test dan post test pada kelas eksperimen Tabel 4. Perolehan N-Gain Score pada Kelas Eksperimen Post test Post - Pre Skor Ideal N-Gain N-Gain Score (%) . -Pr. Score Kriteria Pre test 0,25 0,75 0,75 0,25 Mean 0,56 Peningkatan Kreativitas Belajar Siswa Menggunakan Teknologi Informasi Berdasarkan perolehan N-Gain Score yang sudah di bahas sebelumnya diketahui bahwa N-Gain Score kelas kontrol < N-Gain Score kelas eksperimen. Adapun presentase perolehan N-Gain Score-nya yaitu 34 < 56 presentase N-Gain Score kelas eksperimen. Dari hasil kelas eksperimen diketahui bahwa memanfaatkan teknologi informasi sebagai referensi belajar. Hal tersebut didukung Pustikayasa. Danika. Arsana. Purnawati. Peran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam. dengan hasil observasi peneliti dimana ratarata siswa memiliki akses internet di smartphone masing-masing. Selama proses penelitian peneliti mengamati bahwa siswa tidak ada kesulitan untuk mengakses internet menggunakan smartphone masing-masing. Terlihat dari gambar 4 dan tabel 4 bahwa score Pre Test dan Post Test di kelas eksperimen mengalami peningkatan. Hal tersebut di dukung pada penelitian sebelumnya (Noverdika, 2. dimana penggunaan teknologi informasi pada media interaktif berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa di banding dengan penugasan melalui LKS. Selain itu pada penelitian Mulyati (Mulyati & Evendi, 2. pemanfaatan teknologi informasi dengan penugasan menggunakan quiziz berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa dibanding dengan menggunakan metode tekstual dengan LKS. Pada penelitian ini dapat dilihat dari Gambar 5 terbukti bahwa ada peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar pada kelas eksperimen. Hasil perolehan N-Gain Score menunjukkan bahwa penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan kreativitas siswa cukup efektif. Gambar 5 Grafik Perolehan N-Gain Score Sementara di kelas kontrol seperti yang terlihat pada Gambar 6 N-Gain Score menunjukkan hasil belajar yang sedang dengan presentase tidak efektif. Gambar 6 Grafik Perolehan Presentase NGain Score Peran Teknologi Informasi dalam meningkatkan kreativitas belajar Pada penelitian ini teknologi informasi memiliki peran penting dalam meningkatkan Adapun penggunaan teknologi informasi cukup efektif digunakan pada siswa SMAN 2 Kahayan Tengah. Kabupaten Pulang Pisau. Peran TIK di sekolah tidak hanya dapat meningkatkan kreativitas siswa tetapi juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Peran TIK kreativitas siswa dapat ditinjau dari smartphone siswa. karena pada saat penyampaian materi dan pemberian tugas siswa diajak untuk berdiskusi sambil aktif dalam menemukan solusi dari masalah yang disampaikan oleh instruktur. Penelitian Pianda. , & Rahmiati. , juga menunjukkan bahwa dalam pemanfaatan TIK dengan menggunakan aplikasi Algebra, siswa ditekankan untuk aktif dalam memecahkan permasalahan (Pianda & Rahmiati, 2. Pemanfaatan TIK juga dapat menjadi upaya dalam meningkatkan prestasi belajar Hal tersebut di tunjukkan pada hasil Pre Test dan Post Test penugasan siswa di kelas kontrol dan eksperimen. Dari hasil tersebut pemanfaatan TIK berpengaruh signifikan pada hasil belajar siswa (Pandan Sari & Kurnia, 2. , membuktikan bahwa menggunakan teknologi informasi dengan keragaman budaya Indonesia melalui impelementasi fitur video dan suara pada media sosial tik-tok. Selain itu, menunjukkan 157 Jurnal Teknologi Informasi dan Komputer. Volume 10. Nomor 4. Oktober 2024 pembelajaran pada mata pelajaran IPA berdampak positif pada hasil belajar siswa (Panggabean. Simanjuntak. Florenza. Sinaga, & Rahmadani, 2. Pada dasarnya teknologi informasi memiliki peran yang mendukung proses pembelajaran di tingkat sekolah. TIK dapat memudahkan siswa dalam memahami materi, membantu proses belajar melalui proses kolaborasi dengan guru. Melalui TIK siswa tidak hanya belajar melalui konsep tekstual melalui buku dan LKS, tapi dapat belajar dari berbagai sumber media interaktif seperti melalui video, media sosial, animasi, dan teknologi lainnya. Sedangkan bagi guru TIK dapat memudahkan guru dalam menyiapkan materi melalui media interaktif seperti powerpoint, quiziz, media sosial dan masih banyak lagi. Guru di harapkan untuk dapat lebih interaktif dalam menyampaikan materi dengan memanfaatkan TIK. Tujuan pemanfaatan TIK bagi guru agar lebih mudah menyampaikan materi dan dapat dengan lebih mudah dipahami oleh siswa. Dalam menyampaikan materi dengan memanfaatkan TIK, guru dapat dengan mudah melakukan kolaborasi, eksplorasi, dan eksperimen untuk menumbuhkan ide dan kreativitas siswa dalam belajar. SIMPULAN Penelitian TIK meningkatkan Kreativitas Belajar Siswa di SMAN 2 Kahayan Tengah. Kabupaten Pulang Pisau menunjukkan bahwa N-Gain pada kelas kontrol masuk dalam kriteria sedang dengan presentase kurang efektif. Selanjutnya setelah dilakukan eksperimen penjelasan materi memanfaatkan TIK, hasil N-Gain Score meningkat di kisaran 0. 3O G < 7 dengan kriteria sedang sebesar 0,56 dengan kriteria presentase cukup efektif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa peran teknologi informasi di tingkat sekolah cukup membantu siswa untuk meningkatkan kreativitas belajar siswa dalam pembelajaran agama Hindu. Dalam hal ini siswa dan guru dapat memanfaatkan TIK untuk memudahkan proses belajar. Guru menjadi fasilitator agar siswa dapat menggunakan TIK sebagai referensi dalam mengembangkan inovasi kreatif. Guru juga dapat mengajak siswa untuk berkolaborasi, mengeksplorasi, dan berinovasi kreatif dalam memecahkan masalah melalui pemanfaatan TIK. Masukan dari pihak sekolah untuk membuka ruang lingkup lebih luas lagi, tidak hanya untuk siswa yang beragama Hindu tetapi juga untuk siswa yang non Hindu. Karena pemanfaatan TIK juga dirasakan oleh siswa yang non Hindu. DAFTAR PUSTAKA