Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Analisis Kesulitan Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas Inklusif Yogi Irawan STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Email. yogiirawan@ojs. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan yang dihadapi guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif sekolah dasar. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan penting dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada kebutuhan setiap peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Namun, dalam praktiknya, banyak guru mengalami hambatan dalam pelaksanaan pendekatan ini, terutama dalam konteks inklusif yang menuntut penyesuaian lebih kompleks. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung di kelas, dan studi dokumentasi terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam memahami konsep dan strategi pembelajaran berdiferensiasi secara menyeluruh, keterbatasan waktu, kurangnya sumber daya, serta tidak tersedianya pelatihan yang memadai. Selain itu, absennya guru pendamping khusus (GPK) dan belum optimalnya dukungan sekolah memperparah tantangan yang dihadapi. Kesimpulannya, penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif belum berjalan optimal dan memerlukan intervensi melalui penguatan kompetensi guru, penyediaan sumber daya pendukung, serta pengembangan kebijakan yang responsif terhadap konteks inklusif. Penelitian ini merekomendasikan adanya pelatihan khusus dan kolaborasi antar pendidik untuk meningkatkan kapasitas profesional guru dalam menghadapi keberagaman siswa secara Kata kunci: pembelajaran berdiferensiasi, guru, kelas inklusif, kesulitan, pendidikan dasar. Abstract This study aims to analyze the difficulties faced by teachers in implementing differentiated instruction in inclusive elementary school classrooms. Differentiated instruction is a key approach in realizing education that meets the individual needs of each student, including those with special needs. However, in practice, many teachers face challenges in applying this approach, particularly in inclusive settings that require more complex adjustments. This research employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and document analysis related to lesson planning and implementation. The findings reveal that teachers struggle with a comprehensive understanding of differentiated instruction, face time constraints, lack teaching resources, and have limited access to appropriate training. Furthermore, the Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 97 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. absence of special education support teachers (GPK) and suboptimal institutional support exacerbate the difficulties encountered. In conclusion, the implementation of differentiated instruction in inclusive classrooms remains suboptimal and requires intervention through teacher competency development, provision of adequate resources, and formulation of inclusive-responsive policies. The study recommends specialized training and professional collaboration to enhance teachers' capacity in effectively addressing student diversity. Keywords: differentiated instruction, teachers, inclusive classrooms, difficulties, elementary PENDAHULUAN Pendidikan inklusif merupakan pendekatan yang menekankan pada pentingnya memberikan akses dan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk siswa dengan kebutuhan khusus. Dalam sistem pendidikan Indonesia, konsep inklusivitas telah menjadi bagian integral dari kebijakan nasional, terutama sejak dikeluarkannya Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Hal ini menegaskan bahwa setiap peserta didik, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak di sekolah reguler. Seiring dengan implementasi Kurikulum Merdeka, kebutuhan untuk mengakomodasi keragaman peserta didik menjadi semakin nyata, dan pembelajaran berdiferensiasi dipandang sebagai pendekatan pedagogis yang paling relevan untuk menjawab tantangan tersebut (Kemdikbudristek, 2. Pembelajaran berdiferensiasi adalah strategi yang menyesuaikan proses belajar berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa. Di dalam kelas inklusif, strategi ini menjadi sangat penting karena guru menghadapi peserta didik dengan latar belakang akademik, sosial, emosional, dan kognitif yang sangat bervariasi. Tomlinson . menyatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi bertujuan untuk memaksimalkan potensi semua siswa dengan memberikan berbagai pilihan dalam cara memperoleh informasi, memproses informasi, dan mengekspresikan pemahaman mereka. Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan pendekatan ini tidaklah mudah. Guru seringkali mengalami kesulitan dalam merancang pembelajaran yang adaptif, terutama dalam mengelola kelas yang terdiri dari siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus secara bersamaan (Arifin & Munir, 2. Beberapa studi mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif adalah keterbatasan pengetahuan guru terhadap strategi diferensiasi, rendahnya keterampilan manajemen kelas inklusif, serta minimnya dukungan Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 98 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. dari institusi sekolah dalam hal sumber daya dan pelatihan berkelanjutan (Sari & Suyatno. Sujarwo, 2. Selain itu, guru juga menghadapi tekanan administratif dan beban kerja yang tinggi, sehingga waktu untuk melakukan perencanaan dan refleksi terhadap pembelajaran berdiferensiasi menjadi terbatas. Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya memerlukan perubahan pada strategi mengajar, tetapi juga dukungan sistemik dari sekolah, dinas pendidikan, dan kebijakan Lebih lanjut, kurangnya koordinasi antara guru kelas, guru pendamping khusus (GPK), dan tenaga kependidikan lainnya juga menjadi faktor penghambat dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan semua siswa (Fitriyani. Meskipun berbagai pelatihan telah diselenggarakan oleh pemerintah maupun lembaga swasta, pada kenyataannya banyak guru masih mengalami kebingungan dalam menentukan cara mengadaptasi materi dan metode agar sesuai dengan kemampuan individu siswa yang sangat beragam. Hal ini berdampak pada rendahnya efektivitas pembelajaran di kelas inklusif, yang seharusnya memberikan ruang bagi semua anak untuk tumbuh sesuai Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam berbagai kesulitan yang dihadapi guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas Melalui analisis yang komprehensif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai kendala-kendala di lapangan serta menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan pendidikan, khususnya dalam mendesain pelatihan dan pendampingan guru yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Hasil penelitian ini juga dapat berkontribusi pada penguatan praktik pendidikan inklusif yang tidak hanya berorientasi pada keberagaman, tetapi juga mampu menghadirkan keadilan dalam proses belajar-mengajar. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Pendekatan ini dipilih karena fokus utama penelitian adalah memahami secara mendalam pengalaman guru dalam menghadapi tantangan penerapan pembelajaran berdiferensiasi di lingkungan kelas inklusif. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk menggali makna subjektif yang dimiliki oleh para guru terhadap praktik mereka, serta menangkap dinamika sosial dan pedagogis yang kompleks yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui data kuantitatif (Creswell & Poth, 2018. Yin, 2. Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 99 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Jenis penelitian studi kasus digunakan karena memberikan ruang untuk eksplorasi kontekstual yang luas terhadap fenomena yang sedang dikaji dalam konteks yang nyata . eallife contex. Studi kasus dianggap sesuai karena memungkinkan peneliti mempelajari Ausatu kasusAy atau Aubeberapa kasusAy secara mendalam, yakni dalam hal ini adalah guru-guru yang mengajar di kelas inklusif dengan berbagai latar belakang, tantangan, dan strategi pembelajaran yang mereka gunakan (Merriam & Tisdell, 2. Studi kasus juga memfasilitasi pemahaman terhadap keterkaitan antara kebijakan, praktik, dan realitas di Subjek penelitian terdiri dari beberapa guru sekolah dasar yang mengajar di kelas inklusif dan memiliki pengalaman dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Pemilihan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu memilih informan secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian, seperti pengalaman mengajar di kelas inklusif lebih dari satu tahun, serta keterlibatan aktif dalam penerapan kurikulum merdeka. Dengan metode ini, peneliti dapat memastikan bahwa data yang diperoleh berasal dari sumber yang kaya informasi (Patton, 2. Instrumen utama dalam pengumpulan data adalah peneliti itu sendiri, dengan bantuan panduan wawancara semi-terstruktur, lembar observasi, dan dokumentasi. Wawancara semiterstruktur memungkinkan fleksibilitas dalam menggali informasi, tetapi tetap menjaga fokus pada pokok permasalahan. Pertanyaan-pertanyaan terbuka diajukan untuk memperoleh narasi mendalam mengenai persepsi, strategi, dan hambatan guru dalam menerapkan diferensiasi Selain itu, observasi partisipatif dilakukan dengan mengikuti kegiatan pembelajaran secara langsung di kelas inklusif. Observasi ini bertujuan untuk mengamati praktik aktual guru dalam menerapkan pendekatan berdiferensiasi, interaksi dengan siswa berkebutuhan khusus, serta dinamika kelas secara keseluruhan. Untuk melengkapi dan menguatkan data, peneliti juga mengumpulkan dokumentasi, seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), portofolio siswa, serta catatan-catatan pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran. Data dari berbagai sumber ini kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik, sebagaimana diuraikan oleh Braun dan Clarke . , yakni melalui proses pengkodean, pengelompokan tema, dan penafsiran makna data berdasarkan isu-isu yang muncul secara berulang dalam transkrip wawancara dan catatan observasi. Untuk menjaga keabsahan . data, digunakan teknik triangulasi sumber dan teknik, serta member checking kepada informan untuk memverifikasi kebenaran data dan interpretasi peneliti. Validitas data juga diperkuat dengan audit trail dan deskripsi rinci . hick Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 100 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. untuk memberikan gambaran kontekstual yang kaya dan mendalam. Semua benar-benar merepresentasikan realitas yang dialami oleh guru-guru dalam konteks kelas inklusif. Tabel 1 Instrumen Wawancara Penelitian No Aspek yang Digali Indikator Pertanyaan Wawancara Pemahaman tentang Guru memahami prinsip. Apa yang Anda ketahui tentang tujuan, dan bentuk pembelajaran berdiferensiasi? Pengalaman dalam Guru memiliki Bagaimana Anda menerapkan penerapan diferensiasi pengalaman menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di strategi diferensiasi kelas inklusif Anda? Kesulitan atau Guru menghadapi Apa saja kesulitan yang Anda hambatan yang kendala saat menerapkan hadapi saat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi? Dukungan dari sekolah Ada/tidaknya pelatihan. Apakah Anda mendapatkan atau pihak lain fasilitas, atau dukungan pelatihan atau dukungan untuk menerapkan diferensiasi? Strategi mengatasi Guru memiliki upaya Bagaimana cara Anda mengatasi atau solusi saat kesulitan dalam pembelajaran menghadapi tantangan Respons siswa terhadap Siswa antusias, aktif, dan Bagaimana respons siswa Anda menunjukkan kemajuan terhadap strategi pembelajaran Table 2 Instrumen Observasi Penelitian No Aspek yang Diamati Indikator Keberhasilan Pernyataan Observasi Perencanaan Terdapat diferensiasi Guru menyusun RPP yang konten, proses, atau mencantumkan pendekatan Pelaksanaan Guru melaksanakan Guru memberikan tugas berbeda Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 101 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. kegiatan belajar sesuai sesuai gaya belajar/kemampuan kebutuhan siswa Respons siswa Siswa aktif, tertarik, dan Siswa tampak aktif dan antusias terlibat dalam dalam menyelesaikan tugas Penyesuaian terhadap Guru melakukan Guru menyesuaikan instruksi atau kebutuhan khusus modifikasi untuk siswa alat bantu untuk siswa dengan berkebutuhan khusus kebutuhan khusus Evaluasi Guru menilai hasil Guru menggunakan teknik evaluasi belajar sesuai perbedaan yang mempertimbangkan variasi individu siswa kemampuan siswa Hambatan selama Guru mengalami kendala Guru tampak mengalami kesulitan teknis, waktu, atau saat mengelola perbedaan kebutuhan siswa HASIL dan PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif masih menghadapi sejumlah hambatan yang kompleks dan berlapis. Dari hasil wawancara mendalam, observasi kelas, dan studi dokumentasi terhadap enam guru di tiga sekolah dasar yang menerapkan pembelajaran inklusif, ditemukan bahwa sebagian besar guru masih kesulitan mengadaptasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan individual siswa yang sangat beragam. Kesulitan tersebut tidak hanya muncul dari faktor pengetahuan dan keterampilan guru, tetapi juga berkaitan dengan konteks struktural seperti kurikulum, budaya sekolah, dan dukungan sistemik dari lembaga pendidikan. Pertama, pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi masih terbatas pada tataran teori dan belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam praktik pembelajaran yang Banyak guru menganggap diferensiasi hanya sebagai bentuk variasi metode atau media ajar, tanpa menyadari bahwa diferensiasi juga mencakup penyesuaian terhadap minat, kesiapan belajar, dan profil belajar siswa. Sebagian guru bahkan belum mampu membedakan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan pembelajaran remedial atau pengayaan biasa. Hal mengakomodasi prinsip diferensiasi. Dalam dokumentasi RPP yang dianalisis, sebagian besar Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 102 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. guru belum menyisipkan komponen penyesuaian strategi belajar berdasarkan kebutuhan individu siswa, termasuk bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK). Kedua, kesulitan teknis dalam pelaksanaan di kelas menjadi kendala utama. Saat proses pembelajaran berlangsung, guru sering menghadapi dilema dalam menyeimbangkan kebutuhan siswa reguler dengan siswa berkebutuhan khusus. Guru merasa kewalahan dalam mengelola waktu, sumber daya, dan perhatian secara merata. Dalam observasi kelas, terlihat bahwa guru lebih banyak berfokus pada siswa reguler karena keterbatasan keterampilan dalam menangani PDBK, terutama siswa dengan hambatan intelektual ringan dan gangguan Guru juga mengalami kebingungan dalam menyusun aktivitas yang adaptif bagi seluruh siswa dalam satu waktu. Ketidaksiapan ini menyebabkan banyak guru akhirnya menyeragamkan tugas dan pendekatan, yang justru bertentangan dengan prinsip diferensiasi. Ketiga, dari sisi dukungan institusional dan struktural, para guru menyatakan bahwa sekolah belum menyediakan sistem dukungan yang memadai dalam penguatan praktik inklusif dan berdiferensiasi. Tidak semua sekolah memiliki guru pendamping khusus (GPK), sehingga beban penyesuaian pembelajaran sepenuhnya berada di tangan guru kelas. Selain itu, pelatihan yang diberikan oleh dinas pendidikan cenderung bersifat umum dan tidak spesifik membahas strategi pembelajaran inklusif maupun pendekatan diferensiasi. Ketika guru menghadapi kesulitan di lapangan, mereka tidak memiliki forum atau komunitas belajar guru untuk mendiskusikan solusi secara kolektif. Keempat, minimnya sarana dan prasarana juga menjadi faktor penghambat. Sebagian besar ruang kelas tidak dilengkapi dengan alat bantu belajar yang mendukung keberagaman gaya belajar dan kemampuan siswa. Guru kesulitan menyediakan materi ajar dengan tingkat kesulitan yang bervariasi karena keterbatasan bahan ajar dan akses teknologi. Hal ini diperparah oleh beban administrasi yang tinggi, yang mengurangi waktu guru untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi secara optimal. Kelima, hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki motivasi tinggi untuk mencoba berdiferensiasi, namun merasa tidak percaya diri karena belum memiliki pengalaman atau pelatihan khusus. Meskipun demikian, terdapat inisiatif dari beberapa guru yang mencoba melakukan adaptasi sederhana, seperti memberikan pilihan jenis tugas atau waktu penyelesaian yang fleksibel. Inovasi ini meskipun belum sistematis, menunjukkan bahwa guru memiliki potensi besar jika diberikan pendampingan yang tepat. Dari hasil temuan ini, dapat ditarik benang merah bahwa implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif memerlukan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas guru, dukungan struktural, hingga perubahan paradigma dalam Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 103 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. memandang keberagaman sebagai potensi. Diperlukan pelatihan berkelanjutan, kebijakan yang berpihak pada diferensiasi, serta dukungan komunitas belajar profesional di sekolah agar guru tidak berjalan sendiri dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip pembelajaran yang adil, adaptif, dan inklusif. Penelitian ini mengungkapkan bahwa guru menghadapi tantangan yang signifikan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif. Berdasarkan wawancara mendalam dengan enam guru kelas, observasi langsung di tiga sekolah dasar, dan analisis dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), ditemukan bahwa sebagian besar guru belum sepenuhnya memahami konsep dan implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Guru cenderung menyamakan pendekatan diferensiasi dengan variasi metode belajar, tanpa mempertimbangkan perbedaan minat, kesiapan, dan profil belajar siswa secara menyeluruh. Selanjutnya, keterbatasan sumber daya dan waktu menjadi kendala yang menonjol. Guru menyatakan kesulitan dalam menyesuaikan materi ajar, aktivitas pembelajaran, dan evaluasi secara individual, karena beban mengajar yang tinggi dan jumlah siswa dalam satu kelas yang besar. Selain itu, guru merasa kurang percaya diri dalam menangani siswa dengan kebutuhan khusus karena tidak memiliki pelatihan atau pendampingan yang cukup. Secara struktural, minimnya dukungan dari sekolah dan instansi pendidikan juga mempengaruhi keberhasilan penerapan diferensiasi. Sebagian besar sekolah tidak memiliki guru pendamping khusus, tidak menyediakan perangkat ajar yang adaptif, dan tidak secara aktif membangun budaya sekolah yang mendukung pembelajaran inklusif. Dalam konteks tersebut, implementasi pembelajaran berdiferensiasi masih bersifat sporadis, individual, dan belum menjadi bagian dari sistem pembelajaran yang terintegrasi. Beberapa guru berinisiatif mencoba strategi sederhana seperti pemberian pilihan tugas, pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan, dan penyesuaian waktu pengerjaan. Namun, tanpa bimbingan pedagogis yang sistematis, usaha tersebut belum mampu mencapai hasil Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan dan perubahan kebijakan institusional yang lebih inklusif. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif masih menemui banyak hambatan, baik secara individu maupun struktural. Guru masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara utuh, merancang pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan siswa, serta menjalankan kegiatan pembelajaran yang inklusif dan adaptif. Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 104 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Kesulitan ini diperparah oleh keterbatasan waktu, sarana, serta minimnya dukungan pelatihan dan kolaborasi profesional di lingkungan sekolah. Meskipun terdapat inisiatif mandiri dari beberapa guru, keberhasilan implementasi berdiferensiasi di kelas inklusif membutuhkan pendekatan yang lebih sistemik, termasuk penguatan kompetensi guru, pengembangan kurikulum adaptif, dan dukungan institusional yang berkelanjutan. Temuan berdiferensiasi berbasis praktik nyata, dan kebijakan yang berpihak pada keberagaman peserta didik agar pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya menjadi wacana, tetapi dapat terimplementasi secara efektif di ruang kelas inklusif. Pembahasan Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menghadapi berbagai kendala dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif, yang mencakup pemahaman konseptual, keterbatasan teknis, serta kurangnya dukungan sistemik. Temuan ini sejalan dengan studi sebelumnya oleh Pratiwi et al. , yang mengungkapkan bahwa banyak guru belum memahami diferensiasi secara menyeluruh dan cenderung hanya memvariasikan metode pembelajaran tanpa memperhatikan perbedaan karakteristik siswa. Hal ini berdampak pada ketidaksesuaian antara perencanaan pembelajaran dengan kebutuhan aktual peserta didik, khususnya siswa berkebutuhan khusus. Dalam konteks kelas inklusif, tantangan menjadi lebih kompleks. Guru tidak hanya harus mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, dan kesiapan akademik siswa reguler, tetapi juga kebutuhan khusus dari peserta didik yang memiliki hambatan belajar. Keterbatasan waktu dan beban administratif menjadi faktor yang memperparah keadaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Yuliana dan Sari . , guru di sekolah dasar inklusif sering merasa kewalahan karena harus menjalankan peran ganda tanpa adanya pelatihan yang memadai dalam strategi pembelajaran berdiferensiasi maupun penanganan peserta didik dengan kebutuhan khusus. Kesulitan dalam merancang aktivitas pembelajaran adaptif yang menjangkau semua siswa menunjukkan perlunya pelatihan berbasis praktik nyata. Hal ini sejalan dengan temuan Susanto dan Amalia . , yang menyatakan bahwa pendekatan berdiferensiasi memerlukan keahlian dalam asesmen formatif, pengelompokan fleksibel, serta strategi komunikasi yang efektif di kelas. Sayangnya, banyak guru belum mendapatkan pelatihan semacam ini secara Kurangnya pendampingan dari guru pendamping khusus (GPK) juga memperparah situasi, karena guru kelas harus menangani seluruh kebutuhan siswa secara mandiri. Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 105 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. Minimnya infrastruktur dan sumber daya pembelajaran turut menjadi hambatan. Guru sulit menyediakan materi ajar dan aktivitas belajar yang sesuai dengan beragam tingkat kesiapan siswa, baik dari segi kognitif maupun afektif. Hal ini konsisten dengan studi oleh Haryono et al. , yang menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi hanya bisa berjalan efektif jika didukung oleh sumber daya yang memadai, seperti perangkat ajar multilevel, alat bantu visual, dan perangkat asesmen formatif yang fleksibel. Namun demikian, pembahasan ini juga menyoroti adanya inisiatif guru yang mencoba melakukan pendekatan berdiferensiasi secara sederhana, seperti pemberian pilihan tugas dan fleksibilitas waktu. Ini menunjukkan adanya kesadaran pedagogis yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Menurut Tomlinson . , diferensiasi bukan sekadar strategi, tetapi paradigma berpikir yang mengakui dan menghargai keberagaman siswa. Dalam konteks ini, perubahan paradigma dalam diri guru menjadi fondasi penting agar pembelajaran inklusif berjalan secara efektif. Secara keseluruhan, pembahasan ini memperkuat bahwa tantangan implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif tidak dapat diselesaikan hanya pada tingkat individu guru, tetapi membutuhkan dukungan sistemik berupa pelatihan berkelanjutan, kebijakan yang inklusif, serta komunitas belajar profesional. Strategi pembelajaran berdiferensiasi akan efektif apabila dilandasi pemahaman mendalam, praktik reflektif, dan lingkungan sekolah yang kolaboratif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa guru di kelas inklusif menghadapi berbagai kesulitan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Kesulitan tersebut mencakup kurangnya pemahaman mendalam mengenai konsep dan praktik pembelajaran berdiferensiasi, keterbatasan waktu dan sumber daya, serta minimnya dukungan dari pihak sekolah maupun tenaga pendamping khusus. Meskipun guru memiliki semangat dan kepedulian terhadap keberagaman peserta didik, keterbatasan kapasitas profesional dan sarana pembelajaran membuat pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi belum berjalan optimal. Selain itu, sebagian besar guru belum mampu merancang dan menyesuaikan kegiatan belajar berdasarkan perbedaan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa. Hal ini berdampak pada kurang efektifnya proses belajar mengajar dalam memenuhi kebutuhan siswa, khususnya siswa berkebutuhan khusus. Dalam beberapa kasus, upaya guru masih terbatas Makarimul Ilmi: Jurnal Pengembangan Madrasah Ibtidaiyah | 106 Vol 02 No 02 Januari-Juli 2025 (ISSN 2723-7. pada variasi metode mengajar, bukan diferensiasi menyeluruh yang berbasis asesmen Penelitian ini menegaskan bahwa untuk mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi secara efektif di kelas inklusif, dibutuhkan pelatihan berkelanjutan bagi guru, ketersediaan guru pendamping khusus, serta dukungan sistemik dari sekolah dan pemangku kebijakan Kesuksesan pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya bertumpu pada guru sebagai pelaksana, tetapi juga pada sistem pendidikan yang menyediakan lingkungan dan kebijakan yang inklusif serta adaptif terhadap keberagaman siswa. REFERENSI