Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Desember 2025, pp. ISSN: 2721-3838. DOI: 10. 30596/jcositte. Implementation of Local Batak Simalungun Culture in Character Building of Students at SMP Negeri 1 Raya Kahean Hotma Siregar1 1Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Indonesia Email: hotmasiregar@umsu. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi budaya lokal Batak Simalungun di SMP Negeri 1 Raya Kahean. Kabupaten Simalungun, melalui mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun dalam pembentukan karakter siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun di kelas IX telah terlaksana secara sistematis dan berkontribusi nyata dalam pelestarian nilai-nilai budaya Batak Simalungun. Guru secara konsisten mengintegrasikan nilai-nilai budaya positif melalui materi ajar dan strategi pembelajaran yang kontekstual. Kebaruan penelitian ini terletak pada temuan bahwa mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun berfungsi ganda, tidak hanya sebagai wahana pelestarian budaya lokal, tetapi juga sebagai medium pembentukan karakter siswa yang terstruktur dan terintegrasi dalam pembelajaran formal. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung menempatkan muatan lokal sebatas konten kultural, penelitian ini menunjukkan perannya sebagai instrumen pedagogis strategis dalam pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di tingkat sekolah menengah pertama. Kata kunci: budaya. pelajaran bahasa dan aksara Simalungun. ABSTRACT This study aims to examine the implementation of local Batak Simalungun culture at SMP Negeri 1 Raya Kahean. Simalungun Regency, through the Simalungun Language and Script subject in building student character. This study uses a qualitative descriptive approach with data collection techniques in the form of observation, interviews, and Data analysis is carried out through the stages of data reduction, data presentation, and verification. The results of the study indicate that the learning of Simalungun Language and Script in grade IX has been implemented systematically and has made a real contribution to the preservation of Batak Simalungun cultural values. Teachers consistently integrate positive cultural values through contextual teaching materials and learning strategies. The novelty of this study lies in the finding that the Simalungun Language and Script subject has a dual function, not only as a vehicle for preserving local culture, but also as a medium for building student character that is structured and integrated into formal learning. Different from previous studies that tend to place local content only as cultural content, this study demonstrates its role as a strategic pedagogical instrument in local wisdom-based character education at the junior high school level. Keyword: culture. Simalungun language and script lessons. Corresponding Author: Hotma Siregar. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Jalan Kapt. Mukhtar Basri No. Glugur Darat II. Kecamatan Medan Timur. Kota Medan. Sumatera Utara. Indonesia Email: hotmasiregar@umsu. INTRODUCTION Berdasarkan penelitian di Harvard University. Amerika Serikat (Nurochim, 2. , diketahui bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis . ard skil. , tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain . oft skil. Penelitian tersebut Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/HS A Jurnal Nasional Holistic Science mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sebesar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan, orang-orang tersukses di dunia dapat berhasil karena lebih banyak didukung oleh kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, serta adat istiadat. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka timbul permasalahan, yaitu bagaimana budaya lokal yang ada di daerah dapat berperan dalam pembentukan karakter siswa di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah budaya lokal yang ada di daerah Simalungun dapat berperan dalam pembentukan karakter siswa di sekolah. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya berada pada tataran kognitif, tetapi juga menyentuh pada proses internalisasi dan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik di Hal ini menjadi penting, khususnya bagi peserta didik di Indonesia yang akhir-akhir ini mengalami krisis moral dan penurunan karakter yang menyerang generasi muda, terutama pada usia sekolah. Kondisi tersebut telah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Pendidikan karakter merupakan salah satu sarana pengembangan soft skill yang diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pelajaran yang berkaitan dengan norma perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Bahkan, setiap materi dalam suatu mata pelajaran perlu diintegrasikan dengan pendidikan karakter. Kurniawan . berpendapat bahwa pendidikan karakter menyangkut bakat . otensi dasa. , harkat . erajat melalui penguasaan ilmu dan teknolog. , serta martabat . arga diri melalui etika dan mora. Nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berjumlah delapan belas nilai. Nilai-nilai tersebut bersumber dari agama. Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Adapun kedelapan belas nilai tersebut meliputi religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Binti, 2. Untuk membentuk karakter sebagaimana yang diharapkan, dapat dilakukan melalui penerapan nilainilai budaya atau kearifan lokal di sekolah. Kearifan lokal dalam istilah asing sering dikonsepsikan sebagai local wisdom, yaitu perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Kearifan lokal dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang, atau budaya setempat yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat. Nilai-nilai agama memiliki makna penting dalam kehidupan bermasyarakat karena setiap agama membawa misi sebagai pembawa kedamaian dan keselarasan hidup, tidak hanya antarmanusia, tetapi juga antar sesama makhluk Tuhan (Nopi Setiawati, 2. Pengetahuan lokal merupakan hal penting yang dimiliki oleh masyarakat karena menjadi penanda kekhasan dari komunitas pemiliknya. Pengetahuan lokal diciptakan, digunakan, dibagikan, dan dilestarikan dalam siklus kehidupan masyarakat (Nurislaminingsih et al. , 2. Dalam menjalankan kelangsungan hidup, masyarakat memilih cara dan tradisi tersendiri dalam mengelola sumber daya yang ada di sekitarnya berdasarkan ajaran dan petunjuk nenek moyang. Kearifan lokal telah hadir dalam kehidupan masyarakat sejak zaman prasejarah hingga saat ini dan terus berkembang menjadi suatu kebudayaan di berbagai daerah di Indonesia secara turun-temurun. Secara umum, budaya daerah dimaknai sebagai budaya yang berkembang di suatu wilayah, yang unsur-unsurnya berasal dari budaya suku bangsa yang tinggal di daerah tersebut. RESEARCH METHOD Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data secara mendalam guna memberikan gambaran yang komprehensif mengenai permasalahan yang diteliti. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami fenomena secara alamiah berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan, dengan teori berfungsi sebagai pemandu agar fokus penelitian tetap terarah. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Raya Kahean. Kabupaten Simalungun. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada ketertarikan peneliti terhadap mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Desember 2025: 345 Ae 349 Jurnal Nasional Holistic Science A sebagai representasi budaya lokal Batak Simalungun yang diajarkan secara formal di sekolah. Subjek penelitian adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Raya Kahean, sedangkan objek penelitian adalah mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun sebagai sarana implementasi budaya lokal dalam pembentukan karakter siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran, khususnya kemampuan guru dalam menyampaikan materi, menanamkan nilai-nilai karakter, serta pelaksanaan perencanaan pembelajaran. Wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur untuk memperoleh informasi mendalam mengenai perencanaan pembelajaran, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran karakter, serta faktor-faktor yang memengaruhi implementasi pendidikan karakter. Informan utama dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun di SMP Negeri 1 Raya Kahean. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi dan memperkuat data hasil observasi dan wawancara. Dokumen yang dikumpulkan meliputi silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar evaluasi pembelajaran, profil sekolah, serta profil guru pengampu mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi dan memfokuskan data yang diperoleh dari lapangan terkait implementasi pendidikan karakter. Penyajian data dilakukan dalam bentuk teks naratif yang disusun secara sistematis sesuai dengan fokus penelitian. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan merumuskan makna dan temuan penelitian secara komprehensif berdasarkan hasil analisis data. Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui teknik triangulasi, yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari guru dan siswa, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan Penerapan triangulasi ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan validitas temuan penelitian sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. RESULTS AND DISCUSSION Muatan Pendidikan Karakter pada Mata Pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun Pembelajaran pendidikan karakter pada mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pembelajaran pendidikan karakter pada mata pelajaran lainnya. Namun, dalam mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun terdapat lebih banyak nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Hal ini karena mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun berhubungan langsung dengan kondisi sosial dan adat setempat yang diterima dan dijalankan setiap hari oleh Dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter di kelas IX pada mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun di SMP Negeri 1 Raya Kahean. Kabupaten Simalungun, guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab yang dipadukan dengan pendekatan cooperative learning, seperti diskusi dengan teman satu kelas. Dengan demikian, guru lebih banyak berperan sebagai pusat penanaman nilai-nilai karakter bagi peserta didik. Namun, dengan pembawaan guru yang menarik dan menyenangkan, peserta didik dapat merespons dengan baik setiap materi yang diajarkan. Proses pendidikan tersebut diharapkan mampu menghasilkan karakter bangsa yang tangguh (Hasanah, 2. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter pada mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun oleh guru kelas IX dilaksanakan sebagai berikut. Guru mengawali pembelajaran dengan mengajak peserta didik untuk berdoa sesuai dengan agama masing-masing guna menanamkan nilai karakter religius. Guru memulai pembelajaran dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada peserta didik tentang materi Indung ni surat dan Anakni surat selama kurang lebih sepuluh menit. Pada kegiatan inti, guru memulai dengan kegiatan eksplorasi, yaitu melibatkan peserta didik dalam mencari informasi dan pengetahuan dengan cara membaca dan memahami bacaan pada buku mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun yang telah disediakan, sekaligus guru menjelaskan materi yang sedang dipelajari. Setelah menjelaskan materi, guru memberikan beberapa tugas kepada peserta didik dengan mengajukan pertanyaan dan meminta peserta didik maju ke depan untuk menuliskan jawaban di papan Hal ini dilakukan untuk menanamkan karakter berani dan bertanggung jawab pada peserta didik. Guru juga memberikan tugas tertulis kepada peserta didik untuk dikerjakan secara mandiri. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan karakter mandiri dan kejujuran. Setelah peserta didik selesai mengerjakan tugas, guru bersama peserta didik mencocokkan jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan. Guru kemudian menunjuk satu per satu siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus memberikan penguatan dan penjelasan terhadap jawaban yang disampaikan siswa. (Hotma Sirega. A Jurnal Nasional Holistic Science Pada akhir pembelajaran, guru memberikan kesimpulan dan penilaian, serta menyampaikan wejangan dan arahan kepada peserta didik berdasarkan hasil pekerjaan dan materi yang telah disampaikan. Guru juga memberikan nasihat terkait nilai-nilai karakter baik yang dapat diterapkan maupun yang perlu Dalam setiap kegiatan pembelajaran terlihat bahwa guru senantiasa berusaha menanamkan nilai-nilai karakter positif, meskipun belum sepenuhnya optimal. Guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga berupaya menghidupkan suasana kelas dengan melibatkan peserta didik secara aktif agar lebih fokus dalam memahami dan menerima pembelajaran. Pembentukan Karakter melalui Mata Pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun Dari sudut pandang akademis, pendidikan karakter dipahami sebagai pendidikan nilai, pendidikan etika, pendidikan moral, serta pendidikan sifat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membedakan dan memilih yang benar dan salah, menjaga nilai-nilai kebaikan, serta mewujudkan kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara sadar. Oleh karena itu, secara psikologis pendidikan karakter mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behavior (Rinenggo & Kusdarini, 2. Pengumpulan data yang dilakukan peneliti melalui metode wawancara di kelas IX menunjukkan bahwa pendidikan karakter telah dilaksanakan dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru kelas IX, peneliti menilai bahwa mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun berperan dalam membentuk karakter peserta didik. Hal ini terlihat selama proses pembelajaran berlangsung, di mana peserta didik tampak antusias, aktif, dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun di kelas. Peserta didik menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap kehidupan budaya Simalungun yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, sejalan dengan materi yang disampaikan oleh guru melalui buku mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun. Peserta didik adalah setiap individu yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan pendidikan (Siregar, 2. Dalam proses pembelajaran, peserta didik menunjukkan nilai karakter berani dan bertanggung jawab melalui keberanian bertanya dan menjawab pertanyaan, baik secara lisan maupun tertulis, terkait materi yang disampaikan guru. Selain itu, peserta didik juga terlihat khidmat dan menundukkan kepala saat berdoa, yang mencerminkan nilai religius yang tinggi. Meskipun terdapat perbedaan agama dan budaya di dalam kelas, peserta didik tidak pernah saling mengejek atau merendahkan keyakinan dan budaya lain. Sebaliknya, mereka menunjukkan sikap solidaritas yang tinggi dan saling menghargai antarumat beragama dan antarbudaya. Pembentukan karakter melalui mata pelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun juga tampak dari sikap dan pengetahuan peserta didik terhadap budaya kearifan lokal Simalungun. Peserta didik mampu menggunakan bahasa Simalungun dengan baik, memiliki sikap saling tolong-menolong terhadap sesama teman, serta memahami cara bersikap dan bertingkah laku yang sopan ketika berinteraksi dengan orang yang lebih tua, seperti guru dan orang tua. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: Pembelajaran Bahasa dan Aksara Simalungun di SMP Negeri 1 Raya Kahean. Kabupaten Simalungun, berperan dalam pembentukan karakter peserta didik. Hal ini terlihat dari nilai-nilai karakter yang terkandung dalam materi pembelajaran, seperti pada materi penulisan dan pembacaan aksara Simalungun pakon mambotoh mambasa yang menumbuhkan rasa cinta budaya dan kepedulian materi kain tenun khas Simalungun sour-duk hiou tonnage naadongi yang membangun rasa bangga serta sikap menghargai keberagaman. serta materi kebiasaan berburu hasomalan marburu pakon sikkula pararalan nai gunahon yang menanamkan nilai keberanian, tanggung jawab, dan kerja keras (Purba, 2. Secara teoretis, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal efektif digunakan sebagai sarana pendidikan karakter karena nilai-nilai budaya dapat diinternalisasikan secara kontekstual dalam proses pembelajaran. Secara praktis, hasil penelitian ini merekomendasikan agar mata pelajaran muatan lokal, khususnya Bahasa dan Aksara Simalungun, terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal dalam kurikulum sekolah sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter dan pelestarian budaya lokal. Upaya pelestarian sejarah dan budaya tidak hanya berhenti pada pengungkapan cerita rakyat, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat dan pemerintah setempat untuk terus menjaga serta melestarikan tradisi yang ada (Mediacentre, 2. Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Desember 2025: 345 Ae 349 Jurnal Nasional Holistic Science A REFERENCES