154 Tinjauan Buku Armada Riyanto. CM. Sejarah Misi Surabaya. Jilid I: 1810-1961. 100 Tahun CM Indonesia. Jilid II: 1962-2022. 100 Tahun Misi Surabaya. Jakarta: Obor, 2023, xvi 816 hlm. xvi 473 hlm. Sekitar 20 tahun lalu, ketika Piet Go Twan An. Carm memimpin Dokpen KWI dan mengadakan pembekalan pada semua pengurus Arsip Gereja keuskupan dan kongregasi, saya melihat serta menilai kegiatan ini sangat mulia serta perlu. Kita dapat menghitung sekian banyak keuskupan dan kongregasi yang merayakan yubileum berkenaan dengan kehadiran, karya, pelayanan kepada masyarakat Indonesia, seperti misalnya 50 tahun, 80 tahun, bahkan 100 tahun. Namun sesungguhnya tidak banyak keuskupan dan kongregasi yang mengabadikan momen terpenting perjalanan historis mereka dengan sungguh menggunakan, mempelajari, mengurai, menganalisis kekayaan arsip mereka. Banyak keuskupan dan kongregasi menyadari pentingnya arsip, namun tidak semua merasakan arsip sebagai kebutuhan. Barangkali hal itu disebabkan oleh tidak-dirasakannya manfaat langsung, dan tidak melihat hubungan kausalitas . ebab-musabab, akiba. dan oleh karena itu arsip dianaktirikan, tidak termasuk daftar prioritas. Dua jilid karya F. Armada Riyanto ini memperlihatkan bahwa kekayaan arsip yang terkonservasi dengan baik dan dimanfaatkan dapat menyibakkan kisah kelam, heroisme, tuturan pergumulan dan perjuangan yang sangat inspiratif. Hal-hal itu, juga dimungkinkan oleh ketrampilan dan kejujuran para penulis dalam meracik olahan historis sesuai menu dan visi yang mereka yakini. Dengan ungkapan berbeda, dua jilid buku ini memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana arsip dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan informasional, mengedepankan pelestarian semangat yang kesinambungan, pembuktian penulisan sejarah yang validasinya sangat tinggi. Sebab karya ini DISKURSUS. Volume 19. Nomor 1. April 2023: 154-159 membuktikan garansi tentang autentisitas dokumen, dan memberi tempat bagi perkembangan ragam interpretasi, serta menjaga keterbukaan pada masa atau kurun waktu yang tidak pernah selesai ini. Membaca dengan penuh entusias buku bertajuk Sejarah Misi Surabaya ini saya menghaturkan AuproyciatAy. Karya gigantic dan mencapai ribuan halaman ini, masih mengabadikan ketidaktelitian yang kasatmata . II:152 tentang gambar dan keterangan. tiba-tiba ada Kepustakaan. II:150. Indonesia: Gerakan Pancasila . an Pembaruan Liturgis. II:51, dls. Baik penulis, para kolaborator, maupun Kongregasi Misi (CM) patut bernafas lega dan berbesar hati. Sebab kehadiran karya di hadapan publik ini menghidupkan ingatan akan semangat misi dan evangelisasi yang dengan setia dirawat, menggugah kesaksian Vincensian yang autentik, memperlihatkan keberpihakan pada sesama yang miskin, serta pendidikan kerohanian yang kokoh baik kepada para calon pemuka umat maupun masyarakat warga yang berketuhanan dan berkeadaban. Lebih daripada yang lain, saya melihat karya ini sebagai jejak-jejak Tuhan di bumi Nusantara yang mengajari bakti penuh syukur dalam kondisi manusiawi dengan mengutus para Vincensian. Tuhan mengalami jatuh bangun bersama para misionaris yang punya hati pada AuSurabayaAy. Lidah Tuhan pendek, tangan dan kaki Tuhan terbatas, daya tahan dan mimpi Tuhan cupet dan cekak, penglihatan dan kekuatan ynansial Tuhan nyaris membuat putus harapan. Ada apa di balik semua kisah sukaduka para Vincensian bersama mitra kerja dan hidup beserta umat yang terus berjalan? Hal ini yang kiranya masih perlu digarap dan dikerjakan pada jilid ke-3 dan seterusnya. Emblematika Vincensian itu mencuat dari kedalaman dan kesuburan rohani dalam pengalaman mistik bersama mereka yang dilayani merupakan cara Tuhan melakukan mukjizat sepanjang waktu. Inilah juga cara Tuhan menyelamatkan para Vincensian yang setia pada semangat asali bapa rohani. Vincent de Paul, di dalam konteks zaman yang terus berubah. Tinjauan Buku Tidak berlebihan jika saya membidik bidang Auilmu sejarahAy demi menandai penerbitan buku ini. Dari perspektif keilmuan ini, karya ini monumental, fenomenal, komprehensif, objektif, inspiratif, bernilai, dan Pilihan kata-kata ini mempunyai latar dan alasan yang dapat dilacak dan ditemukan di dalam karya ini. Inilah karya langka, bukan karena ketebalannya, melainkan pesan karya iniAidalam pembacaan sayaAimenembus batas. Maksudnya, nilai-nilai dan bulir-bulir permata yang bertebaran dari halaman ke halaman dapat ditangkap dan pegang. Karya ini memuat banyak bagian yang menutup kepelbagaian narasi historis, terutama karena dituturkan oleh para pelaku sejarah. Satu. Menyadari kehadiran karya ini kita tertarik membayangkan berapa banyak orang yang terlibat melahirkannya. Dalam hal ini, penulis dan para kolaborator bukan hanya berperan sebagai Auyang mengandung peristiwa historis, karena menjadi bagian dari semangat VincensianAy yang berperan sebagai AubidanAy yang memperlancar proses kelahiran buku ini. Kita bisa menghitung ada berapa keuskupan atau kongregasi religius yang menandai keterlibatannya dalam proses indonesianisasi dengan karya yang lengkap baik dari segi dokumen maupun dari segi narasi. Kita sendiri dapat melihat bagaimana dokumen, arsip, catatan harian, kliping, cerita-cerita lepas, foto, statistik, dll. dirangkai menjadi kisah yang menggetarkan kalbu. AuTulang-tulang kering, yang terlepas dan berserakan itu dihimpun dan roh yang memberi hidup ditiupkan sebagai perekat persatuan. Ay . Yeh. 37:1-. Itulah fungsi utama, yakni penulis, terutama yang saya pahami dengan memaparkan Bab I: 1-45. Dua. Spiritualitas Vincensian hadir di bumi Nusantara dalam tiga sudut yang saling merasuk bagaikan kinerja perichoresis, yakni Allah, manusia, dan dunia. Arus misi Katolik di Nusantara mendapat angin segar dengan diimpornya moto baru yang lahir dari Revolusi Prancis, yakni liberty, fraternity, egality. Belanda dan wilayah koloninya, terutama di bawah K. Daendles, menerapkan moto itu, sehingga V. yang gulung tikar karena korupsi, mau tidak mau menjunjung asas kebebasan . DISKURSUS. Volume 19. Nomor 1. April 2023: 154-159 Konteks historis ini dipaparkan dengan sangat hidup. Ada pula narasi mengenai surat Radicaal (I: 88-. yang memperjelas bukti sejarah misi Katolik di era penjajahan Belanda: spiritualitas yang begitu tandas dihayati oleh misionaris adalah hanya mencari Kerajaan Allah. Tiga. Terbilang dalam khazanah religiositas adalah estetika kekristenan, yang diwujudkan dalam seni bangunan dan sarana peribadatan (I: 100-. Dapat disaksikan foto tahun 1900 tentang Gereja Kelahiran Santa Maria, juga altar kuno yang menyisakan cerita. Mengapa karya arsitektur dan karya seni perlu diangkat dalam narasi historis kekristenan? Sebab, selain di sana diungkapkan dimensi misteri inkarnasi yang begitu gamblang. juga ditegaskan bahwa komunitas kaum beriman memberi tempat yang perlu bagi kreativitas manusia, yang memantulkan kekayaan dan kedalaman gambar Hyang Ilahi sendiri. Empat. Per-hati-an dan belarasa pada kebudayaan menjadi catatan terpenting dari para misionaris, seperti Rama Jan Wolters CM (I: 127-130. I: 297-300. I: 345-. Rama Henri van Megen CM, yang menempati halaman yang panjang (I: 135-. Terlihat dari tuturan historis, para Vincensian generasi-generasi pertama sudah memegang kunci, yaitu mencintai dan belajar adat-istiadat serta kebudayaan setempat, dan menjumpai orang-orang. Hal itu dibuktikan secara nyata oleh Johannes Antonius Maria Klooter: Cinta bahasa Jawa berarti Aucinta kepada budayaAy . Lima. Sharing iman dalam pelayanan yang dibagikan para misionaris misalnya di Blitar (I: 214-. selalu bermakna multiguna. Dalam rentang waktu yang meliputi satu abad berikut ragam pelayanan yang Autidak main-mainAy kita disuguhi hamparan dinamika yang menawan. Meski cara penuturannya ada kalanya merupakan AurepetitioAy, namun AurepetitioAy bisa berubah menjadi proses pedagogi dan pembelajaran, terutama bagi mereka yang terbuka pada positivitas berpikir. Enam. Pendidikan (Madiu. dan pelayanan kesehatan (RKZ. I: 276. Karya-karya ini merupakan bakti konvensional. Hampir semua tarekat atau kongregasi religius dengan cara masing-masing mengemban Tinjauan Buku karya tersebut. Sungguh pun demikian, pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan menjadi autentik dan temuan ini dilestarikan dengan sangat baik oleh kekristenan. Banyak lembaga atau institusi menangani bidang-bidang tersebut, mis. negara, agama, usaha-bersama, namun Gereja menyentuh bidang asasi ini dengan karakter spiritualitas yang dihayati dengan totalitas dan radikal. Tujuh. Masalah sosial dan kepedulian (I: 345-. Indonesia: Gerakan Pancasila dan Pembaruan liturgis . haring J. van Steen = Rm. Wadas. II: 51-. Bidang ini sangat mengesankan. Sebab kreativitas seorang utusan ditampilkan secara unik, dan menjadi terobosan yang berguna demi melayani kehidupan. Utusan Tuhan menampilkan secara lugas dan tegas identitasnya, bahwasanya ia bukan utusan partai politik yang semata-mata diliputi oleh kekuasaan materialistis saja. Delapan. Buku ini tidak menutup-nutupi AurahasiaAy, misalnya dengan mengangkat AuMendung dan Hujan di Keuskupan SurabayaAy: Memahami Konyik Romo Paul Janssen CM dan Mgr. Johannes Klooster CM (II: 5. Inilah bentuk objektivitas historis dalam format penuturan ulang. Sembilan. Sepanjang satu abad spirit Vincensian dihidupkan dalam wujud dan rupa penderitaan, pengorbanan, keletihan, pergumulan, kreativitas sosial, karitas, pendidikan, pendampingan umat, dan pendidikan calon imam, dll. Kalau mengandalkan daya insani saja, pasti catatan bertuah dan historis dua jilid ini hanya pepesan kosong. Namun di buku ini ada kekuatan Aumeta historisAy, yang melampaui optimisme dan mimpi. Itulah yang saya sebut sebagai harapan Injil yang melampaui keterbatasan. Inilah pengejawantahan secara nyata dari pesan St. Vincensius: Mengemban misi Kristus untuk mewartakan Kabar Sukacita kepada orang-orang miskin. Sepuluh. Sejarah misi CM di Indonesia inilah judul yang dapat kita baca di dalam sampul buku. Kata AuSurabayaAy menarik perhatian saya. Sebab kata AuSurabayaAy merupakan sebuah perspektif yang daripadanya AukekuatanAy misioner itu kemudian menyebar, bahkan mengakar serta menemukan tautan jiwa dan semangat. DISKURSUS. Volume 19. Nomor 1. April 2023: 154-159 Karya emblematik ini kiranya bagaikan gading yang berharga, yang tidak-tanpa-retak. CM dan keluarga Vincensian tercatat sebagai entitas yang mengukuhkan Gereja lokal, menyiapkan tenaga-tenaga yang kompatibel dalam pelayanan baik kepada Gereja, masyarakat, ilmu pengetahuan, maupun kehidupan yang bermutu, dan menjangkau wilayah-wilayah yang kurang dilayani, kurang mapan dan hidup dalam kondisi pinggiran. Karya ini terbilang Ausangat ambisiusAy . alam artian positi. Sebab ia mengangkat dan memaparkan penerjemahan karisma spiritual, kedalaman dan kecemasan, sukacita dan harapan yang dalam paparan humanistik mempertebal rasa peduli pada dinamika yang sangat menawan dan sulit dicari duanya. Hal ini utamanya didukung oleh teori sumber, yang mendasarkan sejarah pada pelaku yang adalah para penulis sejarah. Di sini tidak berlaku ketentuan: sejarah orang-orang menang, yang terdidik, yang menarasikan atau menulis, yang mewariskan atau meninggalkan sesuatu, yang selalu personal dan multi-interpretatif, melainkan sejarah yang Autidak ditulis dari atas geladak kapal atau di beranda loji rumah gedonganAy, namun di daratan dengan mengalami sendiri kisah-kisah yang hidup baik yang besar maupun yang kecil. Itulah sebagian dari sejarah misi Vincensian di Indonesia. (Antonius Eddy Kristiyanto OFM. Guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Jakart.