Jurnal Penelitian Kesehatan Pelamonia Indonesia Volume 03. Nomor 02. Juli-Desember 2020 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN KESELAMATAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL MAKASSAR THE RELATIONSHIP OF NURSEAoS KNOWLEDGE WITH THE IMPLEMENTATION OF PATIENT SAFETY IN THE INPATIENT UNIT OF THE FAISAL ISLAMIC HOSPITAL. MAKASSAR Ricky Perdana Poetra . Nurmulia Wunaini Ngkolu Department of Hospital Administration. Stikes Pelamonia Kesdam VII Wirabuana. Indonesia E-mail: rickyperdanapoetra@gmail. au, nurmuliawunaini@gmail. ABSTRAK Keselamatan pasien merupakan peraturan yang menyebabkan pasien menjadi lebih aman, yang meliputi pencegahan terjadinya cedera yang dapat disebabkan karena kesalahan dalam melaksanakan suatu tindakan. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Jumlah populasi 107 perawat dan jumlah sampel 84 perawat dengan penentuan sampel yakni purposive sampling. Jenis penelitian ini adalah kuantittatif dengan pendekatan cross sectional study. Analisis data menggunakan aplikasi SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan pada pengetahuan perawat dalam dimensi tahu p-value = 0,040, memahami p-value = 0,029, aplikasi p-value = 0,031, analisis p-value = 0,040, sintesis p-value = 0,043, dan evaluasi p-value = 0,115. Artinya terdapat hubungan pengetahuan perawat pada dimensi tahu, memahami, aplikasi, analisis, dan sintesis dengan pelaksanaan keselamatan pasien, serta tidak ada hubungan pengetahuan perawat pada dimensi evaluasi dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Disarankan pihak rumah sakit memberikan pendidikan dan pelatihan bagi perawat tentang keselamatan pasien. Kata Kunci: pengetahuan, keselamatan pasien, rawat inap, rumah sakit ABSTRACT Patient safety is a regulation that makes patients safer, which includes preventing injuries that can be caused by errors in carrying out an action. This study aims to determine the relationship between nurses' knowledge and the implementation of patient safety in the inpatient unit of the Faisal Islamic Hospital Makassar. The population is 107 nurses and the sample is 84 nurses with purposive sampling. This type of research is quantitative with a cross sectional study approach. Data analysis used the SPSS 20 application. The results showed that nurses' knowledge in the dimensions of knowing p-value = 0. 040, understanding p-value = 0. 029, application p-value = 031, p-value analysis = 0. 040, p-value synthesis = 0. 043, and evaluation of p-value = 0. This means that there is a relationship between nurses' knowledge on the dimensions of knowing, understanding, application, analysis, and synthesis with the implementation of patient safety and there is no relationship between nurses' knowledge on the evaluation dimension and the implementation of patient safety in the inpatient unit of the Faisal Islamic Hospital Makassar. It is recommended that the hospital provide education and training for nurses about patient safety. Keywords: knowledge, patient safety, inpatient unit, hospital. PENDAHULUAN Keselamatan pasien . atient safet. merupakan sebuah peraturan yang menyebabkan pasien menjadi lebih aman, yang meliputi asesmen risiko, identifikasi pasien dan pengelolahan risiko terhadap pasien, pelaporan serta analisis terjadinya suatu insiden, sebuah kemampuan belajar dari suatu kejadian dan pengambilan tindak lanjut, meminimalkan munculnya risiko serta pencegahan terjadinya cedera yang dapat disebabkan karena adanya kesalahan dalam melaksanakan suatu tindakan atau dalam pengambilan tindakan yang semestinya tidak diambil (Permenkes RI No. Tahun 2. Kesalahan permasalahan yang besar dalam keselamatan pengobatan serta menjadi sebuah indikator pencapaian keselamatan pasien maka sangat pentingnya dilakukan penelitian medis terhadap keselamatan pasien (Sultana et al, 2. National Patient Safety Agency (NPSA) 2017 melaporkan pada rentang waktu Januari sampai Desember 2016 angka kejadian insiden keselamatan pasien yang diperoleh dari Negara Inggris terdapat 1. 822 kejadian. Ministry of Health Malaysia 2013 dilaporkan angka insiden keselamatan pasien dalam rentang waktu Januari sampai Desember terdapat 2. 769 kejadian serta untuk negara Indonesia dalam waktu 2006 sampai 2011 dilaporkan terdapat 877 kejadian insiden keselamatan pasien. Handriani, dkk : HubunganA JPKPI Vol 03 No 02 Jul-Des 2020, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Pada tahun 2000 Institute of Medicine (IOM) yang berada di Amerika Serikat menerbitkan sebuah laporan yang berjudul Auto err is human building a sofer health systemAy yang menyatakan dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa di rumah sakit Colorado dan Utah terjadi kejadian tidak diharapkan (KTD) sebesar 2,9% dan 6,6% diantaranya meninggal, sedangkan di rumah sakit yang ada di New York terjadi kejadian tidak diharapkan (KTD) sebesar 3,7% dan 13,6 diantaranya meninggal. Angka kematian yang diakibatkan kejadian tidak diharapkan (KTD) pada pasien rawat inap yang ada di Amerika berjumlah 33,6 juta per tahun berkisar 44. 000 sampai 98. per tahun (Kohn dkk, 2. Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan wajib menyelenggarakan keselamatan pasien yang dilakukan dengan cara membentuk sistem pelayanan yang menerapkan standar keselamatan pasien, sasaran keselamatan pasien, serta menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien, yang dimana keselamatan pasien menjadi hal yang prioritas utama dalam suatu pelayanan kesehatan serta merupakan langkah kritis pertama untuk memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan dan berkaitan dengan mutu serta citra rumah sakit (Permenkes RI, 2. Presentasi jenis insiden keselamatan pasien di Indonesia pada tahun 2015 sampai 2019 yaitu data kejadian nyaris cedera (KNC) pada tahun 2015 sebanyak 33% insiden, terdapat kenaikan pada tahun 2016 menjadi 36% insiden, namun terdapat kenaikan pada tahun 2017 menjadi 38% insiden, dan mengalami penurunan pada tahun 2018 menjadi 33% insiden, serta mengalami kenaikan pada tahun 2019 menjadi 38% insiden. Untuk data kejadian tidak cedera (KTC) pada tahun 2015 sebanyak 26% insiden, yang mengalami kenaikan pada tahun 2016 menjadi 29% insiden, terdapat kenaikan pada tahun 2017 menjadi 34% insiden, pada tahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 37% insiden, dan terdapat penurunan pada tahun 2019 menjadi 31% insiden. Untuk data kejadian tidak diharapkan (KTD) pada tahun 2015 sebanyak 41% insiden, mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 35% insiden, pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 28% insiden, dan pada tahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 30% insiden, pada tahun 2019 mengalami kenaikan menjadi 31% insiden (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan dilakukan Feronica . , yang berjudul Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat Pelaksanaan Keselamatan Pasien (Patient Safet. di Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Pirgadi Medan, berdasarkan hasil analisis hubungan keselamatan pasien didapatkan hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan keselamatan pasien p=0,004 dengan kolerasi cukup r= 0,473. Berdasarkan dilakuakan Listianawati . , di ruang rawat inap kelas i RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, ditemukan terdapatnya pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien mayoritas baik 87,9% serta sikap perawat dalam pemberian obat mayoritas baik 94,8%. Serta terdapatnya hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat dengan sikap perawat dalam pemberian obat. Berdasarkan survey pendahuluan yang telah dilakukan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar, tanggal 15 April 2020 pada insiden sasaran keselamatan pasien terdapat adanya kesalahan pemberian obat pada pasien rawat inap menjadi prioritas masalah, perawat kurang teliti dalam pemberian obat kepada pasien pada saat menerima obat dari depo rawat inap dan terkadang tidak melaksanakan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan dalam pemberian obat, dimana terdapat daftar obat yang perlu diwaspadai telah diatur oleh WHO (World Health Organizatio. seperti obat yang presentasinya tinggi dalam menyebabkan terjadinya suatu kesalahan seperti obat-obat yang tampak mirip atau ucapan mirip, nama yang mirip, rupa dan kesalahan pemberian label pada obat. Di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar terjadinya kesalahan tidak disengaja seperti terjadinya insersi pemasangan jarum infus pecah pada tahun 2017 yang mengakibatkan kulit sekitar insersi terkelupas. Pada tahun 2018 terjadinya kejadian nyaris cedera seperti petugas mendorong pasien menggunakan brankar tanpa memasang pengaman yang ada di sebelah kiri dan kanan melaksanakan tugas dan tindakan kepada pasien harus mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) yang telah di tetapkan demi keselamatan pasien . atient safet. dan berhati-hati dalam melakukan tindakan kepada pasien. Insiden keselamatan pasien Rumah Sakit Islam Faisal Makassar pada tahun 2017 sampai 2019 yaitu pada tahun 2017 total keseluruhan insiden sebanyak 15 insiden terdiri dari kejadian nyaris cedera (KNC) sebanyak 13 insiden dan kejadian tidak diharapkan (KTD) sebanyak 2 insiden, pada tahun 2018 total keseluruhan insiden sebanyak 9 insiden terdiri dari kejadian nyaris cedera (KNC) sebanyak 8 insiden dan kejadian tidak diharapkan (KTD) sebanyak 1 insiden. Pada tahun 2019 total keseluruhan insiden sebanyak 8 insiden yang dimana kejadian nyaris cedera (KNC) sebanyak 8 insiden, jadi dari tahun 2017 sampai 2019 insiden keselamatan pasien . atient safet. mengalami penurunan tiap tahunnya yang di mana tahun 2017 sebanyak 15 insiden yang mengalami penurunan pada tahun 2018 menjadi 9 insiden dan pada tahun 2019 mengalami penurunan lagi menjadi 8 insiden. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif bentuk survei dengan pendekatan cross sectional study yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh variabel independen terhadap dependen di mana pengukuran antara sebab dan efek dalam waktu yang sama. Penelitian ini dilakukan Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2020. Populasi dalam penelitian ini yaitu 107 perawat, jumlah sampel 84 Handriani, dkk : HubunganA JPKPI Vol 03 No 02 Jul-Des 2020, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Analisis menggunakan aplikasi SPSS 20 dengan uji chi Pendidikan D3 Keperawatan S1 Keperawatan Ners S2 Keperawatan Total Jumlah Sumber : Data Primer HASIL Tabel 4. Distribusi Tenaga Bidan Berdasarkan Tingkat Kinerja Hasil dalam penelitian ini dikumpulkan melalui data primer . untuk mengetahui Penyebaran kuesioner dilakukan terhadap 84 responden Berikut hasil berdasarkan karakteristik responden. Lama Bekerja <10 Tahun >10 Tahun Total Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Perawat Umur Dewasa Awal 26-35 tahun Dewasa Akhir 36-45 tahun Lansia Awal 46-55 tahun Total Jumlah Pada tabel 4, menunjukkan lama bekerja responden sebanyak 59 orang . ,2%) lama bekerja <10 tahun, sehingga dapat dikatakan responden dalam penelitian ini lebih banyak yang lama bekerja <10 tahun yang memiliki pengetahuan tentang pelaksanaan keselamatan pasien . atient safet. di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Pada tabel 1, menunjukkan bahwa dari 84 responden, jumlah responden tertinggi berada pada kategori dewasa awal yaitu sebanyak 64 orang dengan presentase sebesar 76,2% dan jumlah responden terendah berada pada kategori lansia awal sebanyak 3 orang dengan presentase sebesar 3,6% yang memiliki pengetahuan perawat tentang pelaksanaan keselamatan pasien . atient safet. di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Karakteristik Variabel Penelitian Tabel 5. Distribusi Frekuensi Penilaian Responden Pengetahuan Perawat Pada Dimensi Tahu (Kno. Tahu (Kno. Baik Kurang Baik Total Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Perawat Jumlah Sumber : Data Primer Sumber : Data Primer Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Jumlah Jumlah Sumber : Data Primer Pada tabel 5, dapat di lihat bahwa dari 84 responden yang dijadikan sampel penelitian, responden yang menilai tahu . di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar pada perawat yang paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 59 responden dengan presentase sebesar 70,2% sedangkan paling sedikit yang menilai tahu . berada pada kategori kurang baik sebanyak 25 responden dengan presentase sebesar 29,8%. Sumber : Data Primer Pada tabel 2, menunjukkan bahwa jenis kelamin responden perempuan sebanyak 56 orang . ,7%), sehingga dapat dikatakan responden dalam penelitian ini lebih banyak berjenis kelamin perempuan yang memiliki pengetahuan tentang pelaksanaan keselamatan pasien . atient safet. di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Pada tabel 3, menunjukkan pendidikan . ,7%) berpendidikan D3 Keperawatan, dan sebanyak 1 orang . ,2%) yang berpendidikan S2 Keperawatan, sehingga dapat dikatakan pendidikan responden dalam penelitian ini lebih banyak berpendidikan D3 Keperawatan yang memiliki pengetahuan tentang pelaksanaan keselamatan pasien . atient safet. di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Tabel 6. Distribusi Frekuensi Penilaian Responden terhadap Pengetahuan Perawat Pada Dimensi Memahami (Comprehensio. Memahami (Comprehensio. Baik Kurang Baik Total Jumlah Sumber : Data Primer Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa dari 84 responden yang dijadikan sampel penelitian, . di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar pada perawat yang paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 58 responden dengan presentase sebesar 69,0%. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Perawat Handriani, dkk : HubunganA JPKPI Vol 03 No 02 Jul-Des 2020, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Tabel 7. Distribusi Frekuensi Penilaian Responden terhadap Pengetahuan Perawat Pada Dimensi Aplikasi (Applicatio. Aplikasi (Applicatio. Baik Kurang Baik Total Jumlah Evaluasi (Evaluatio. Baik Kurang Baik Total Pasien (Patient Safet. Baik Kurang Baik Total Jumlah Pada tabel 11, dapat dilihat bahwa dari 84 responden yang dijadikan sampel penelitian, responden yang menilai pelaksanaan keselamatan pasien . atient safet. di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun 2020 pada perawat yang paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 61 responden dengan presentase sebesar 72,6%. Analisis Hubungan Antara Variabel Analisis mengidentifikasi hubungan variabel pengetahuan dengan variabel pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Pada tabel 12 . , diketahui bahwa dari 84 responden, terdapat 59 responden yang tahu tentang keselamatan pasien dan 25 responden tidak tahu tentang keselamatan pasien. Dari 59 responden yang tahu tentang keselamatan pasien terdapat 39 responden yang melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 20 responden yang tidak melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari 25 respoden yang tidak tahu tentang keselamatan pasien terdapat 22 responden yang melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 3 responden yang tidak melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari tabel 12 . , diketahui bahwa p-value berdasarkan uji chi-square adalah 0,040 yang artinya nilai tersebut kurang dari alfa 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan perawat pada dimensi tahu . dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Pada tabel 13 . , diketahui bahwa dari 84 responden, terdapat 58 responden yang memahami tentang keselamatan pasien dan 26 responden yang tidak memahami tentang keselamatan pasien. Dari 58 responden yang memahami tentang keselamatan pasien terdapat 38 responden yang melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 20 yang tidak dapat melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari 26 responden yang tidak memahami tentang keselamatan pasien terdapat 23 responden yang melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 3 responden yang tidak mampu melaksanakan Sumber : Data Primer Pada tabel 8, dapat dilihat bahwa dari 84 responden yang dijadikan sampel penelitian, responden yang menilai analisis . di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar pada perawat yang paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 59 responden dengan presentase sebesar 70,2%. Tabel 9. Distribusi Frekuensi Penilaian Responden terhadap Pengetahuan Perawat Pada Dimensi Sintesis (Synthesi. Jumlah Sumber : Data Primer Tabel 8. Distribusi Frekuensi Penilaian Responden Pengetahuan Perawat Pada Dimensi Analisis (Analysi. Sintesis (Synthesi. Baik Kurang Baik Total Tabel 11. Distribusi Frekuensi Penilaian Responden Pelaksanaan Keselamatan Pasien (Patient Safet. Pada tabel 7, dapat dilihat bahwa dari 84 responden yang dijadikan sampel penelitian, responden yang menilai aplikasi . di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar pada perawat yang paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 54 responden dengan presentase sebesar 64,3%. Jumlah Sumber : Data Primer Sumber : Data Primer Analisis (Analysi. Baik Kurang Baik Total Jumlah Sumber : Data Primer Pada tabel 9, dapat dilihat bahwa dari 84 responden yang dijadikan sampel penelitian, responden yang menilai sintesis . di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar pada perawat yang paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 55 responden dengan presentase sebesar 65,5%. Pada tabel 10, dapat dilihat bahwa dari 84 responden yang dijadikan sampel penelitian, responden yang menilai evaluasi . di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar pada perawat yang paling banyak berada pada kategori baik sebanyak 55 responden dengan presentase sebesar 65,5%. Tabel 10. Distribusi Frekuensi Penilaian Responden terhadap Pengetahuan Pada Dimensi Evaluasi (Evaluatio. Handriani, dkk : HubunganA JPKPI Vol 03 No 02 Jul-Des 2020, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 keselamatan pasien dengan baik. Dari tabel 13 . , diketahui bahwa p-value berdasarkan uji chi-square adalah 0,029 yang artinya nilai tersebut kurang dari alfa 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan perawat pada dimensi memahami . dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Pada tabel 14 . , diketahui bahwa dari 84 respoden, terdapat 54 responden yang memahami cara pelaksanaan keselamatan pasien dan 30 responden yang tidak memahami cara pelaksanaan keselamatan pasien. Dari 54 responden yang memahami cara pelaksanaan keselamatan pasien terdapat 35 responden yang melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 19 responden yang tidak melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari 30 pelaksanaan keselamatan pasien terdapat 26 responden yang melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 4 responden yang tidak mampu melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari tabel 14 . , diketahui bahwa p-value berdasarkan uji chi-square adalah 0,031 yang artinya nilai tersebut kurang dari alfa 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan perawat pada dimensi aplikasi . dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Pada tabel 15 . , diketahui bahwa dari 84 responden, terdapat 59 responden yang mampu melakukan analisis tentang pelaksanaan keselamatan pasien dan 25 responden yang tidak mampu melakukan analisis tentang pelaksanaan keselamatan pasien. Dari 59 responden yang mampu melakukan analisis tentang pelaksanaan keselamatan pasien terdapat 39 responden yang melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 20 responden tidak dapat melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari 25 responden yang tidak mampu melakukan analisis tentang pelaksanaan keselamatan pasien terdapat 22 responden yang melakukan keselamatan pasien dengan baik dan 3 responden yang tidak mampu melakukan keselamatan pasien dengan baik. Dari tabel 15 . , diketahui bahwa p-value berdasarkan uji chi-square adalah 0,040 yang artinya nilai tersebut kurang dari alfa 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan perawat pada dimensi analisis . dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Pada tabel 16 . , diketahui bahwa dari 84 responden, terdapat 55 responden yang fokus terhadap keselamatan pasien dan 29 responden yang tidak fokus terhadap keselamatan Dari 55 responden yang fokus terhadap keselamatan pasien terdapat 36 responden yang melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 19 responden yang tidak melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari 29 responden yang tidak fokus terhadap keselamatan pasien terdapat 25 responden yang mampu melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 4 responden yang tidak mampu melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari tabel 16 . , diketahui bahwa p-value berdasarkan uji chi-square adalah 0,043 yang artinya nilai tersebut kurang dari alfa 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan perawat pada dimensi sintesis . dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Pada tabel 17 . , diketahui bahwa dari 84 responden, terdapat 55 responden mampu melakukan evaluasi tentang keselamatan pasien dan 29 responden tidak mampu melakukan evaluasi tentang keselamatan pasien. Dari 55 responden yang mampu melakukan evaluasi tentang keselamatan pasien terdapat 43 responden yang mampu melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 12 responden yang tidak mampu melakukan pelaksanaan keselamatan pasien dengan baik. Dari 29 responden yang tidak mampu melakukan evaluasi tentang keselamatan pasien terdapat 18 responden yang mampu melaksanakan keselamatan pasien dengan baik dan 11 responden tidak mampu melaksanakan keselamatan pasien dengan baik. Dari tabel 15 . diketahui bahwa p-value berdasarkan uji chi-square adalah 0,115 yang artinya nilai tersebut lebih dari alfa 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan perawat pada dimensi evaluasi . dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. PEMBAHASAN Tahu (Kno. Menurut Notoatmodjo mengatakan bahwa untuk mengetahuai tingkat pengetahuan seseorang dibutuhkan enam tingkatan dimana tingkatan petama itu tahu yang artinya seseorang harus mengetahui tentang apa Dalam pengetahuan perawat pada dimensi tahu . dilihat dari pengetahuan perawat tentang apa itu keselamatan pasien dan apa manfaat dari keselamatan pasien. Adapun menunjukkan bahwa dari jumlah keseluruhan responden, mayoritas responden tahu tentang materi keselamatan pasien dan melaksanakan keselamatan pasien dengan baik karena responden telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan mengenai keselamatan pasien. Hal ini dapat membuat pasien menjadi aman dan nyaman dalam Terdapat beberapa responden yang tidak tahu tentang materi keselamatan pasien dengan baik kerena responden tidak diberikan pendidikan tentang materi keselamatan pasien hanya saja responden diberikan pelatihan tentang keselamatan pasien. Hal ini dapat membahayakan pasien jika responden tidak diberikan materi keselahatan pasien. Handriani, dkk : HubunganA JPKPI Vol 03 No 02 Jul-Des 2020, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Dari hasil pernyataan kuesioner mengenai pengetahuan perawat pada dimensi tahu . mayoritas responden menjawab sangat setuju pada pernyataan keselamatan pasien . atient safet. adalah suatu sistem yang dimana rumah sakit membuat asuhan pasien menjadi lebih aman, pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Arini . yang menunjukkan adanya hubungan keselamatan pasien di ruang rawat inap RSUD SK. Lerik Kupang. Selain itu penelitian ini juga sejalan Darliana menunjukkan adanya hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Bedah RSUD DR. Zainoel Abidin Banda Aceh. Dengan adanya penelitian yang sejalan, maka responden harus diberikan pengetahuan tentang materi keselamatan pasien dan cara pelaksanaan keselamatan pasien yang Penelitian ini sejalan dengan penelitian Feronica . yang menunjukkan adanya pelaksanaan keselamatan pasien diruang rawat inap Bedah RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2018. Selain itu penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Roswati . yang menunjukkan adanya hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien di Rumah Sakit Pusri Palembang. Dengan adanya penelitian yang sejalan, maka responden harus diberikan pemahaman tentang materi keselamatan pasien dan cara pelaksanaan keselamatan pasien yang Aplikasi (Applicatio. Menurut Notoatmodjo mengatakan bahwa untuk mengetahuai tingkat pengetahuan seseorang dibutuhkan enam tingkatan dimana tingkatan ketiga itu aplikasi yang artinya keselamatan pasien dengan benar. Dalam penelitian ini pengetahuan perawat pada dimensi aplikasi . yang artinya perawat mampu menerapkan materi keselamatan pasien dalam permenkes tentang keselamatan pasien. Adapun menunjukkan bahwa dari jumlah keseluruhan responden, mayoritas responden mengetahui tentang materi cara pelaksanaan keselamatan pasien dan melaksanakan keselamatan pasien dengan baik karena responden telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan mengenai keselamatan Hal ini dapat membuat responden menjadi aman dan nyaman dalam menerima pelayanan Terdapat beberapa responden yang tidak mengetahui tentang materi cara pelaksanaan keselamatan pasien dengan baik kerena responden tidak diberikan pendidikan tentang materi cara pelaksanaan keselamatan pasien hanya saja responden diberikan pelatihan tentang keselamatan Hal ini dapat membahayakan pasien jika responden tidak diberikan pemahaman tentang materi cara pelaksanaan keselamatan pasien. Dari hasil pernyataan kuesioner mengenai pengetahuan perawat pada dimensi aplikasi . mayoritas responden menjawab sangat setuju pada pernyataan hand hygine dilakukan agar dapat mencegah risiko infeksi pada pasien terkait pelayanan pasien. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Darliana . yang menunjukkan adanya pelaksanaan keselamatan pasien di ruang rawat inap Bedah RSUD DR. Zainoel Abidin Banda Aceh. Selain itu penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Muliana . yang menunjukkan adanya hubungan pengetahuan dengan penerapan patient safety di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Dengan adanya penelitian yang sejalan, maka responden harus diberikan pengetahuan mengenai materi cara pelaksanaan keselamatan pasien dan cara pelaksanaan keselamatan pasien yang baik. Memahami (Comprehensio. Menurut Notoatmodjo mengatakan bahwa untuk mengetahui tingkat pengetahuan seseorang dibutuhkan enam tingkatan dimana tingkatan kedua itu memahami yang artinya seseorang harus mengetahui tentang apa keselamatan pasien dan mampu menjelaskannya kepada orang lain. Dalam penelitian ini pengetahuan perawat pada dimensi memahami . dilihat dari pengetahuan perawat tentang apa itu pengertian keselamatan pasien, tujuan keselamatan pasien dan manfaat dari keselamatan pasien serta mampu menjelaskannya kepada orang lain. Adapun menunjukkan bahwa dari jumlah keseluruhan responden, mayoritas responden memahami melaksanakan keselamatan pasien dengan baik karena responden telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan mengenai keselamatan pasien. Hal ini dapat membuat responden menjadi aman dan nyaman dalam menerima pelayanan kesehatan. Terdapat beberapa responden yang tidak memahami tentang materi keselamatan pasien dan melaksanakan keselamatan pasien dengan baik kerena responden tidak diberikan pendidikan tentang materi keselamatan pasien hanya saja responden diberikan pelatihan tentang keselamatan Hal ini dapat membahayakan pasien jika responden tidak diberikan materi keselamatan Dari hasil pernyataan kuesioner mengenai pengetahuan perawat pada dimensi memahami . mayoritas responden menjawab memberikan obat kepada pasien maka harus melakukan pengecekan obat terlebih dahulu sebelum diberikan kepada pasien. Handriani, dkk : HubunganA JPKPI Vol 03 No 02 Jul-Des 2020, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Analisis (Analysi. Menurut Notoatmodjo mengatakan bahwa untuk mengetahui tingkat pengetahuan seseorang dibutuhkan enam tingkatan dimana tingkatan empat itu analisis yang artinya seseorang harus mengetahui materi keselamatan keselamatan pasien ke dalam pekerjaannya serta mempu mengetahui dampak dari tindakan yang akan diambilnya dalam melakukan pekerjaannya. Dalam penelitian ini pengatahuan perawat pada dimensi analisis . yang artinya perawat mampu mengetahui materi keselamatan pasien, mampu menerapkan pelaksanaan keselamatan pasien dan mampu mengetahui dampak dari tindakan yang diambilnya. Adapun menunjukkan bahwa dari jumlah keseluruhan melakukan analisis tentang materi keselamatan pasien dan melaksanakan keselamatan pasien dengan baik karena responden telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan mengenai keselamatan Hal ini dapat membuat pasien menjadi aman dan nyaman dalam menerima pelayanan Terdapat beberapa responden yang tidak mampu melakukan analisis tentang materi keselamatan pasien dengan baik kerena responden tidak diberikan pendidikan tentang materi keselamatan pasien hanya saja responden keselamatan pasien. Hal ini dapat membahayakan pasien jika responden tidak di berikan materi keselahatan pasien dengan baik. Dari hasil pernyataan kuesioner mengenai pengetahuan perawat pada dimensi analisis . mayoritas responden menjawab sangat setuju pada pernyataan cara penanganan yang dilakukan jika pasien termasuk dalam pasien risiko jatuh dengan diberi tanda berupa gelang risiko Penelitian ini sejalan dengan penelitian Cheristina . yang adanya hubungan keselamatan pasien di RSUD Andi Djama Masamba. Selain itu penelitian ini juga sejalan Roswati . menunjukkan adanya hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien di Rumah Sakit Pusri Palembang. Dengan adanya penelitian yang sejalan, maka responden harus diberikan pemahaman tentang cara melakukan analisis mengenai materi keselamatan pasien dan cara pelaksanaan keselamatan pasien yang baik. mampu mengetahui materi keselamatan pasien dan mampu memperhatikan keselamatan pasien dalam melakukan tindakan kepada pasien. Adapun menunjukkan bahwa dari jumlah keseluruhan responden, mayoritas responden memahami materi keselamatan pasien dengan fokus terhadap melaksanakan keselamatan pasien dengan baik karena responden telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan mengenai keselamatan pasien. Hal ini dapat membuat pasien menjadi aman dan nyaman dalam menerima pelayanan kesehatan. Terdapat beberapa responden yang tidak memahami materi keselamatan pasien dengan tidak fokus terhadap pelaksanaan keselamatan pasien dan melaksanakan keselamatan pasien dengan baik kerena responden tidak diberikan pendidikan tentang materi keselamatan pasien hanya saja responden diberikan pelatihan tentang keselamatan pasien. Hal ini dapat membahayakan pasien jika responden tidak diberikan materi keselahatan pasien dengan baik dan pentingnya keselamatan pasien diketahui agar pasien terhindar dari risiko bahaya yang dapat menyebabkan pasien menjadi tidak aman dalam menerima pelayanan Dari hasil pernyataan kuesioner mengenai pengetahuan perawat pada dimensi sintesis . mayoritas responden menjawab sangat setuju pada pernyataan dilakukan lembaran checklist dan status pasien pada saat serah terima perawat sebelum dilakukannya tindakan operasi agar memastikan lokasi pembedahan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Pardede . yang menunjukkan adanya pelaksanaan keselamatan pasien di RSUD Datu Beru Takengon. Selain itu penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Arini . yang menunjukkan adanya hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien diruang rawat inap RSUD Sk. Lerik Kupang. Dengan adanya penelitian yang sejalan, maka responden harus diberikan pengetahuan tentang fokus terhadap materi keselamatan pasien dan cara pelaksanaan keselamatan pasien yang baik. Evaluasi (Evaluatio. Menurut Notoatmodjo mengatakan bahwa untuk mengetahui tingkat pengetahuan seseorang dibutuhkan enam tingkatan dimana tingkatan enam itu evaluasi yang artinya seseorang harus mempu melakukan penilaian terhadap pengetahuan yang dimilikinya tentang materi keselamatan pasien dan mampu melakukan penilaian terhadap pelaksanaan keselamatan Dimana dalam penelitian ini pengetahuan perawat pada dimensi evaluasi . yang artinya perawat mampu melakukan penilaian terhadap pengetahuan yang dimilikinya tentang keselamatan pasien dan perawat mampu melakukan penilaian terhadap pelaksanaan keselamatan melalui pekerjaan yang telah dilaksanakannya. Sintesis (Synthesi. Menurut Notoatmodjo mengatakan bahwa untuk mengetahui tingkat pengetahuan seseorang dibutuhkan enam tingkatan dimana tingkatan lima itu sintesis yang artinya seseorang harus mengetahui tentang materi keselamatan pasien dan mampu memperhatikan keselamatan pasien dalam melakukan tindakan. Dalam peneitian ini pengetahuan perawat pada dimensi sintesis . yang artinya perawat Handriani, dkk : HubunganA JPKPI Vol 03 No 02 Jul-Des 2020, pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 Adapun menunjukkan bahwa dari jumlah keseluruhan responden, mayoritas responden mampu melalukan evaluasi terhadap pengetahuan yang dimiliki responden mengenai materi keselamatan pasien dan melaksanakan keselamatan pasien dengan baik karena responden telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan mengenai keselamatan Hal ini dapat membuat pasien menjadi aman dan nyaman dalam menerima pelayanan Terdapat beberapa responden yang tidak mampu melakukan evaluasi terhadap pengetahuan yang dimiliki responden mengenai materi keselamatan pasien dan melaksanakan keselamatan pasien dengan baik kerena responden tidak diberikan pendidikan tentang cara melakukan evaluasi mengenai materi keselamatan pasien hanya saja responden diberikan pelatihan tentang pelaksanaan keselamatan pasien. Hal ini dapat membahayakan pasien jika responden tidak diberikan materi keselahatan pasien dengan baik serta cara melakukan evaluasi mengenai materi keselamatan pasien yang dimiliki responden agar pasien terhindar dari risiko bahaya saat menerima pelayanan kesehatan dan responden mampu menilai kemampuan yang dimilikinya mengenai keselamatan pasien. Dari hasil pernyataan kuesioner mengenai pengetahuan perawat pada dimensi evaluasi . mayoritas responden menjawab sangat setuju pada pernyataan saya mampu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan keselamatan pasien dengan melakukan program hand hygiene agar dapat menurunkan risiko infeksi akibat perawatan dan melakukan pemasangan gelang identitas pada pasien agar dapat menurunkan risiko cedera pada pasien akibat jatuh. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Pratama . yang menunjukkan tidak adanya pelaksanaan keselamatan pasien di RSUD dr. Soediran Mangoen Soemarso Wonogiri. Selain itu penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Asfian . yang menunjukkan tidak adanya hubungan keselamatan pasien di Rumah Sakit Santa Anna Kendari. Dengan adanya penelitian yang sejalan, maka responden harus diberikan pengetahuan tentang cara melakukan evaluasi mengenai materi keselamatan pasien dan cara melaksanakan evaluasi mengenai pelaksanaan keselamatan pasien yang baik. Islam Faisal Makassar dapat meningkatkan pengetahuan perawat di ruang rawat inap melalui pelatihan dan seminar tentang keselamatan pasien. DAFTAR PUSTAKA