IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN ASWAJA DALAM MENGEMBANGKAN PEMAHAMAN MODERASI BERAGAMA DI MTs MUNZALAM MUBAROKA BULUKERTO WONOGIRI THE IMPLEMENTATION OF ASWAJA LEARNING IN DEVELOPING RELIGIOUS MODERATION UNDERSTANDING AT MTs MUNZALAM MUBAROKA BULUKERTO WONOGIRI Zamzam Mustofa1 Amir Mukminin2 Eka Wahyuningtyas3 IAIN Ponorogo 3STAI Mulia Astuti Wonogiri Email : zamzam@iainponorogo. Diterima: 13 September 2024 Direvisi: 23 Oktober 2024 Disetujui: 24 Desember 2024 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pembelajaran Aswaja dalam mengembangkan pemahaman moderasi beragama di MTs Munzalam Mubaroka. Berdasarkan observasi, ditemukan bahwa proses pembelajaran Aswaja belum mencapai tujuan optimal. Beberapa siswa menunjukkan sikap intoleran terhadap pendapat orang lain dalam diskusi, serta pelanggaran terhadap peraturan madrasah seperti tidak mengikuti kegiatan orientasi kepesantrenan dan kurangnya sikap gotong royong dalam kegiatan kerja bakti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang moderasi beragama masih rendah, karena mereka belum menerima pembelajaran langsung terkait teori moderasi. Namun, melalui pembelajaran Aswaja, siswa diajarkan bersikap moderat dalam beragama dan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran Aswaja dilakukan dengan penyusunan silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), serta menggunakan metode diskusi, ceramah, hafalan, tugas individu, dan bercerita. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Kesimpulannya, meskipun belum sepenuhnya optimal, pembelajaran Aswaja berperan penting dalam membentuk sikap moderasi beragama pada siswa. Kata kunci: Pembelajaran Aswaja. Pemahaman. Moderasi Beragama. ABSTRACT This study aims to analyze the implementation of Aswaja learning in developing an understanding of religious moderation at MTs Munzalam Mubaroka. Based on observations, it was found that the Aswaja learning process has not yet achieved its optimal goals. Some students showed intolerance towards others' opinions during discussions and violated school regulations, such as not participating in pesantren orientation activities and lacking cooperation in group activities like community service. This research uses a qualitative approach with a case study method. The results indicate that students' knowledge of religious moderation is still low, as they have not received direct learning on the theory of moderation. However, through Aswaja learning, students are taught to be moderate in both religious and daily life practices. The Aswaja learning process includes the preparation of a syllabus, lesson plans (RPP), and the use of discussion, lecture, memorization, individual assignments, and storytelling methods. Learning evaluation is conducted through midterm (UTS) and final semester exams (UAS). In conclusion, although not yet fully optimal. Aswaja learning plays an important role in shaping students' attitudes toward religious moderation. Keywords: Aswaja Learning. Understanding. Religious Moderation. PENDAHULUAN Indonesia adalah bangsa yang dibangun Keberagaman direpresentasikan secara demografis dalam etnis, bahasa, nilai, perspektif, kebiasaan, praktik hidup, gaya hidup, dan kepercayaan. Agama sebagai satu aspek yang paling dominan justru menahan masyarakat Indonesia untuk mengamalkan sikap kebersamaan. Melihat hal Implementasi Pembelajaran Aswaja. Zamzam Mustofa,Amir Mukminin. Eka Wahyuningtyas 151 tersebut maka di Indonesia membutuhkan gerakan dengan faham yang menyebarkan Islam secara damai. Islam yang toleran dan Islam yang berfikir moderat terutama bagi pelajar Islam yang ada di Indonesia, terutama Aswaja (Ahlussunnah Wal JamaAoa. yang merupakan paradigma kegamaan yang telah lama dianut oleh masyarakat NU (Nahdlatul Ulam. harus diperhatikan secara serius dan terus diaktualisasikan, sebab nilai-nilai Aswaja dapat dijadikan benteng dalam membendung gerakan yang radikal. Berdasarkan observasi di lapangan, peneliti menemukan informasi bahwasanya proses pembelajaran Aswaja belum mencapai optimalnya tujuan pembelajaran Aswaja itu pemahaman moderasi beragama. Hal tersebut berdasarkan perilaku siswa-siswi MTs Munzalam Mubaroka yang masih minim mencerminkan pemahaman dan perilaku Mereka belum mampu menerapkan secara maksimal apa yang telah diajarkan terkait dengan moderasi beragama. Hal tersebut tercermin dalam perilaku mereka di lingkungan madrasah yang peneliti peroleh dari observasi pra penelitian seperti ada beberapa siswa yang tidak mau menerima pendapat orang lain saat diskusi berlangsung, ada beberapa yang sering melanggar peraturan madrasah seperti tidak mengikuti kegiatan orientasi kepesantrenan, sikap gotong royong antar siswa yang masih tergolong minim dan memerlukan perhatian dari pendidik seperti halnya saat melakukan kerja bakti dan kegiatan kelompok memasak pada program orientasi kepesantrenan. Oleh sebab itu, untuk menanamkan nilainilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari supaya terciptanya hubungan yang baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, maka di MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri dilaksanakan Pembelajaran Aswaja secara konsisten. Dengan melihat fenomena keagamaan tersebut, maka penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan hasilnya dapat dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul AuImplementasi Pembelajaran Aswaja dalam Mengembangkan Pemahaman Moderasi Beragama Siswa di MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto WonogiriAy. Dengan rumusan masalah penelitian ini adalah: . Untuk mengetahui pemahaman Aswaja siswa MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri nilai-nilai beragama, . Untuk mengetahui implementasi pembelajaran Aswaja dalam mengembangkan pemahaman moderasi beragama siswa MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri, . Untuk mengetahui evaluasi pembelajaran Aswaja dalam memahami nilai-nilai moderasi beragama siswa MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri. LANDASAN TEORI Seseorang dikatakan moderat apabila mampu bersikap senantiasa mencari jalan tengah untuk mengatasi masalah yang dihadapinya dan memiliki sikap toleransi yang tinggi dengan tidak mengedepankan egonya masing masing. Yang diinginkan para moderan ini hanyalah perdamaian, kerukunan, tidak adanya kekerasan, pertikaian, apalagi kematian. Sikap moderat dibutuhkan dalam setiap elemen seperti organisasi dan pendidikan. Sikap moderat juga tidak berlaku untuk sesama kelompok atau golongan saja, namun terhadap semua golongan (Ibda, 2. Salah satu upaya menanamkan sikap moderasi beragama dalam dunia pendidikan melalui pembelajaran keagamaan. Salah satu pembelajaran agama melalui mata pelajaran Aswaja (Baihaqi,2. Ajaran Aswaja menolak ajaran akidah yang dimiliki oleh kelompok radikal, gerakan-gerakan yang kekerasan, pemaksaan apalagi kerusuhan, kelompok yang menutup diri dari mayoritas kaum muslimin (Muchtar,2. Proses pengajaran ideologisasi Aswaja melalui dunia pendidikan menjadi penting dilakukan karena tuntutan transformasi kehidupan saat ini. Tanpanya bisa saja Aswaja di indonesia akan kehilangan relevansi dalam menyikapi setiap Implementasi Pembelajaran Aswaja. Zamzam Mustofa,Amir Mukminin. Eka Wahyuningtyas 153 persoalan umat. Terlebih lagi umat Islam saat ini khususnya generasi muda mulai lengah dengan ajaran Islam yang moderat, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa mereka dapat terpengaruh oleh paham radikalisme. Moderasi Islam berkembang menjadi filsafat agama Islam yang menggabungkan prinsip dasar Islam. Ajaran yang menekankan bukan hanya hubungan baik dengan Tuhan, namun juga interaksi yang baik dengan seluruh umat manusia. Bukan hanya kepada saudarasaudari saja, namun juga kepadasaudara-saudari Moderasi beragama bukan berarti kita mengacaukan kebenaran dan menghapus identitas masing-masing. Kami masih memiliki sikap yang jelas terhadap masalah tersebut kebenaran tentang hukum suatu persoalan, namun secara moderat dalam beragama, kita lebih terbuka terhadapnya menerima bahwa ada saudara sebangsa di luar kita yang mempunyai hak yang sama dengan kitamasyarakat yang dalam kerangka (Sunarti,2. Setiap individu mempunyai pandangan ke luar keyakinan atau agama yang harus kita terima dan akui agar tetap berperilakudan mengamalkan agama dengan Moderasi dalam Islam telah ditunjukkan oleh nenek moyang kita,mulai dari nabi kita, sahabat, akademisi, dan ulama, yang santun terhadap manusiatanpa memandang asal usul agama, ras, etnis, atau bahasa. Moderasi beragama disini yang dimaksud peneliti adalah menempatkan Islam sebagai agama yang seimbang, tengah-tengah, tidak ekstrim dan sarana mengukuhkan kebinekaan yang menjadi ciri khas indonesia melalui pembelajaran Aswaja ala Nahdlatul Ulama yang terkenal dengan prinsip ajaran Islamnya yaitu tawassuth, tawazun, iAotidal, tasamuh, musawah, syura, ishlah, aulawiyah, dan tathawar wa ibtikar. Dengan demikian. MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri sebagai madrasah yang mengedepankan dan menekankan pembelajaran Aswaja yang salah satu misinya yaitu menyiarkan ajaran Islam berhaluan Aswaja, dan memberikan pelayanan terutama pendidikan agama kepada masyarakat. Sekolah perumpamaan miniatur ketika mereka hidup di masyarakat sebab menjadi tempat dimulainya pemahaman itu dibentuk dan diajarkan pada peserta didik untuk nantinya bisa diterapkan pada kehidupan di luar madrasah. Madrasah harus mampu mempengaruhi tatanan dan keadaan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, moderat, elegan, dan demokratis. Pemahaman moderasi beragama yang benar dapat dimulai dilingkungan sekolah dengan mengedepankan kebiasaan yang menjalankan sikap moderat. Menumbuhkan sikap moderat keagamaan penting untuk menjawab tantangan global kompleks. Salah satu kelompok agama terbesar di dunia juga terlibat dalam dinamika ini yaitu umat Islam yang dalam konteks keberagaman memiliki isu yang relevan seperti radikalisme dan ekstrimisme. Agama digunakan oleh membenarkan tindakan intoleransi dan juga Fenomena mengancam keamanaan dan stabilitas sosial, juga tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan yang selama ini mendasari semua METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memahami secara mendalam fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan, yang terjadi secara holistik dan alamiah. Moleong . menyatakan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk mengungkap fenomena yang dialami subjek dalam konteks khusus, yang digambarkan dalam bentuk deskripsi kata-kata. Cresswell, yang dikutip oleh Rukin . , juga menyebutkan bahwa penelitian kualitatif digunakan untuk mengkaji masalah-masalah sosial dan kemanusiaan, di mana hasil penelitian dilaporkan berdasarkan data lapangan yang dianalisis secara rinci. Alasan Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 2 Ae Desember 2024 penggunaan metode kualitatif dalam penelitian ini antara lain adalah karena metode ini beradaptasi dengan kenyataan yang dihadapi. Selain itu, pendekatan ini memberikan gambaran langsung tentang hubungan antara peneliti dan responden serta lebih sensitif dalam menyesuaikan diri dengan pola-pola nilai dan interaksi yang terjadi. Penelitian ini juga menggunakan jenis studi kasus, yaitu metode yang memberikan uraian dan penjelasan menyeluruh tentang berbagai aspek dari individu, kelompok, organisasi, atau program. Melalui pendekatan studi kasus, peneliti dapat mengkaji situasi secara mendalam, mengungkap informasi secara intensif berdasarkan data yang diperoleh. Dalam konteks penelitian ini, studi kasus digunakan untuk meneliti secara detail proses pembelajaran dan pemahaman Aswaja di MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto, dengan tujuan untuk menggambarkan secara komprehensif aspek-aspek yang memengaruhi pemahaman siswa terhadap konsep Aswaja. Prosedur penelitian meliputi pengumpulan data dari subjek melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara kualitatif untuk menghasilkan kesimpulan yang mendalam dan akurat mengenai fenomena yang HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Aswaja siswa MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri memahami nilai-nilai moderasi beragama Peneliti memperoleh data terkait pemahaman siswa-siswi MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri mengenai moderasi beragama melalui tes yang terdiri dari 20 soal, disebarkan melalui Google Form. Sebanyak 62 siswa, yang merupakan perwakilan dari kelas VII. Vi, dan IX, mengikuti tes tersebut. Hasil tes menunjukkan bahwa rata-rata pemahaman siswa hanya mencapai 49,92 poin dari total 100 poin. Median nilai adalah 50 poin, dengan rentang nilai antara 25 hingga 75 poin. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa masih tergolong rendah. Meskipun mempelajari teori moderasi beragama secara langsung, pembelajaran Aswaja di MTs Munzalam Mubaroka secara tidak langsung mendidik mereka untuk bersikap moderat, baik dalam hal agama maupun kehidupan seharihari. Guru mata pelajaran Aswaja berusaha semaksimal mungkin untuk menyampaikan materi moderasi dengan keterbatasan tenaga pengajar dan sarana, serta menggunakan metode yang menarik untuk meningkatkan pemahaman siswa. Tabel 1. Hasil Tes Pemahaman Siswa tentang Moderasi Beragama Kelas Jumlah Siswa Ratarata Nilai . ari Median . ari Rentang Nilai . ari VII Total 49,92 Dari hasil tersebut, tampak bahwa pemahaman siswa di ketiga kelas memiliki variasi nilai yang tidak terlalu jauh, dengan nilai rata-rata yang masih di bawah standar pemahaman optimal. Hal ini menggambarkan perlunya pengembangan lebih lanjut dalam metode pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan moderasi beragama secara lebih Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pemahaman siswa tentang moderasi beragama belum mencapai hasil yang optimal, pembelajaran Aswaja di madrasah telah memberikan dasar bagi siswa untuk bersikap Namun, tantangan masih ada, termasuk keterbatasan tenaga pengajar dan sarana yang tersedia. Guru terus berupaya Implementasi Pembelajaran Aswaja. Zamzam Mustofa,Amir Mukminin. Eka Wahyuningtyas 155 menggunakan berbagai metode yang menarik untuk memastikan bahwa pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan dapat Melalui pembelajaran Aswaja yang lebih interaktif dan aplikatif, diharapkan siswa nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan seharihari dengan lebih baik. Implementasi pembelajaran moderasi beragama di MTs Munzalam Mubaroka diharapkan dapat mencegah perpecahan, menjaga toleransi antaragama, dan membentuk sikap menghargai perbedaan, yang merupakan kunci dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Implementasi pembelajaran Aswaja dalam mengembangkan pemahaman moderasi beragama siswa MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri Moderasi beragama bertujuan untuk menengahi serta mengajak kedua kutub ekstrem dan berlebihan dalam beragama agar bergerak ke tengah, pengembalian esensi ajaran agama yaitu memanusiakan manusia. Berikut alasan mengapa moderasi beragama perlu dibangun dan diperkuat, menjadikan moderasi beragama memiliki peran yang sangat penting untuk diterapkan pada zaman sekarang. Diantaranya sebagai berikut: Era post sekularisme atau pascasekuler. Masyarakat diberbagai belahan dunia sudah lama menerapkan sekularisme . enjaga jarak atau memisahkan agama dari kehid upan duniaw. Kehidupan yang seperti ini justru mengancam kehidupan masyarakat itu sendiri. Maka dari itu, masyarakat dunia saat ini mulai merasa membutuhkan kembali kehadiran suatu agama dengan harapan menjadi solusi hidup dari segala macam problematika hidup didunia. Adanya kecenderungan kembali memeluk dan mengamalkan ajaran agama secara patuh dan taat di berbagai beragama agar saat kembali ke agama, masyarakat dunia tidak terjerumus fanatisme agama yang memicu tindakan ekstrem yang mengatasnamakan suatu Selain itu, nilai kemanusiaan dan mematuhi kesepakatan berbangsa tetap diindahkan melalui moderasi beragama. Moderasi beragama penting dan perlu Di berbagai belahan dunia seringkali dihadapkan persoalan radikalisme, tidak terkecuali Indonesia. Memang ekstremitas dan teror tidak selalu mengatasnamakan agama atau keyakinan tertentu melainkan dapat dilatarbelakangi oleh banyak sekali faktor dan bukan hanya agama saja yang Akan tetapi. Namun akan pembenar dari ajaran agama. Perkembangan dunia internasional tidak Moderasi membentengi umat beragama di Indonesia agar tidak terombang-ambing dengan berbagai isu yang beredar yang dikhawatirkan mampu mengacau praktik berlangsung di Indonesia. Faktor utama mengapa moderasi beragama itu penting di Indonesia sebab Indonesia bisa saja menjadi contoh moderasi beragama bagi seluruh dunia. Indonesia sebagai negara mayoritas beragama Islam memiliki kemungkinan menjadi mercusuar moderasi beragama sebab telah mempraktikkan moderasi beragama dari waktu ke waktu. Selain moderasi beragama di Indonesia menjadi panduan menghadapi fase post-sekularisme di dunia. Skala lokal dan nasional moderasi beragama dapat menjadi spirit dalam membangun Indonesia Moderasi beragama memiliki sembilan nilai yang menjadi modal dasar pembangunan negara Indonesia. Implementasi pembelajaran Aswaja dalam mengembangkan pemahaman moderasi Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 2 Ae Desember 2024 beragama menurut Bapak Giyanto. Pd. guru mata pelajaran Aswaja dilakukan selama dua jam dalam satu kali pertemuan seminggu. Masing-masing tingkat kelas memiliki buku pegangan yang telah dipersiapkan oleh Lembaga MaAoarif NU Jawa Tengah dalam rangka kurikulum 2013. Dalam buku pegangan tersebut terdapat kompetensi inti dan kompetensi dasar ke-NU-an keaswajaan jenjang MTs/SMP. Dalam buku tersebut termuat rangkuman dari aneka pemikiran para ulama salaf dan kholaf dalam madzhab Ahlussunnah Wal JamaAoah An-Nahdliyah (NU) yang tertulis dalam berbagai kitab kuning . dan kitab modern. Pada tingkat MTs kelas VII, peserta didik mendapatkan materi mengenai Ahlussunnah Wal JamaAoah An-Nahdliyah, sifat-sifat Allah mulai dari sifat nafsiyah, sifat salbiyah, sifat maAoani, dan sifat maknawiyah. Kemudian materi mengenai haid dan istikhadah, biografi Imam Abu Hasan Al-AsyAoari. Imam SyafiAoi dan Imam Ghazali sebagai ulama Aswaja. IPNU dan IPPNU. Tata nilai kepesantrenan. Amaliyah dan penggunaan tasbih, dan juga Sementara pada kelas Vi peserta didik mendapat materi teori tentang madzhab, sanad keilmuan NU. Jamiyyah NU. Biografi KH. Hasan Gipo, amaliyah shalat JumAoat dalam NU dan biografi KH. Ahmad Abdul Hamid. Sedangkan peserta didik di tingkat akhir kelas IX mendapatkan materi seputar sunnah dan bidAoah, prinsip mabadi khoiro ummah, sunnah talqin, ziarah kubur, haul dan tahlil. Kemudian mereka juga akan mendapatkan materi mengenai khittah NU dan pelestarian amaliyah Aswaja. Sebelum melakukan proses pembelajaran, seorang guru menyiapkan pembelajaran dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dengan menentukan atau memilih pendekatan dan metode pembelajaran yang Dengan sebuah metode seorang pendidik, siswa akan lebih mudah memahami apa yang disampaikan oleh pendidik sehingga proses belajar siswa sesuai dengan apa yang telah direncanakan, proses pembelajaran tidak monoton dan hasil belajar mencapai upaya yang maksimal sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Bapak Giyanto. Pd. dalam kegiatan belajar mengajar, memulai proses pembelajaran dengan pembiasaan yang baik seperti salam dan berdoAoa bersama. Kemudian pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran, sehingga dapat menciptakan awal pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang efektif dapat Beragam diupayakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran seperti sarana peningkatan dan kemampuan profesional tenaga pengajar sebagai alat bantu interaksi pembelajaran seperti kegiatan belajar mengajar dikelas. Selain itu, dalam pembelajaran aswaja,dengan menerapkan beberapa metode kepada peserta didik di MTs Munzalam Mubaroka dapat meningkatkan minat dan semangat peserta didik dalam pembelajaran, sehingga materi mudah diterima dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya yaitu menggunakan metode hafalan dandiskusi pada mengekspresikan pendapatnya sendiri dan belajar menghargai pendapat orang lain yang berbeda, metode pemberian tugas individu, metode ceramah dan metode bercerita. Adapun menggunakan buku, papan tulis dan proyektor untuk pemutaran film yang berbau keagamaan khususnya Aswaja ke-NU-an misalnya Film Tanda Tanya yang bercerita mengenai pluralisme agama di Indonesia yang sering terjadi konflik antar keyakinan beragama. Selain pembelajaran Aswaja, upaya guru dalam menanamkan sikap moderasi beragama adalah melalui doktrinasi. Siswa didoktrin untuk tidak bersikap anarkis dan intoleren ditengah masyarakat yang heterogen. Pembelajaran Aswaja secara teori bagi MTs Munzalam Mubaroka tidak hanya cukup didalam kelas saja. Mereka perlu kegiatan penunjang untuk mempraktikkan amaliyah NU Implementasi Pembelajaran Aswaja. Zamzam Mustofa,Amir Mukminin. Eka Wahyuningtyas 157 Aswaja dalam kehidupan sehari. Hal tersebut dilakukan agar tercetaknya siswa-siswi yang tidak hanya berakhlakul karimah saja, melainkan juga pandai mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjalan amaliyah Aswaja NU, tentunya akan membenteni kerohanian masing-masing beserta didik dari hal-hal yang tidak baik. Kegiatan tersebut adalah program unggulan di MTs Munzalam Mubaroka yakni program orientasi kepesantrenan yang memberikan pembelajaran berupa penanaman akhlak yang baik, kemandirian, kesederhanaan, dan sikap toleransi serta tidak mudah terpengaruh terhadap aliran-aliran lain yang menyimpang. Didalamnya terdapat kegiatan rutin keaswajaan seperti sholat berjamaah, berlatih menghafal tahlil, menghafal kitab kuning serta menghafal bilal jumAoat. Dalam kegiatan orientasi kepesantrenan siswa diperintahkan untuk mengikuti kegiatan sholat tahajud, hafalan serta kemandirian misalnya bersih-bersih dan Program kepesantrenan MTs Munzalam Mubaroka dianjurkan untuk mengikuti kegiatan yasinan, siswa diajarkan untuk memasak, mengaji kitab fiqih, menghafal tahlil dan berlatih sholawatan. Siswa dilatih memasak agar siswa juga bertanggungjawab atas diri orang lain bukan hanya memikirkan dirinya sendiri. Siswa juga diajarkan untuk berlatih tahlil keliling serta bergiliran dalam memimpin tahlil. Dengan adanya kegiatan ini siswa diharapkan bisa berlatih public speaking yang baik serta menjadi seseorang yang berakhlak serta Madrasah mengadakan pembelajaran dan pembiasaan yang diharapkan dapat membekali karakter yang baik dan siap untuk kehidupan di masa mendatang. Program orientasi kepesantrenan dimulai pada hari sabtu setelah shalat ashar peserta didik kembali ke Setelah shalat ashar kegiatan diisi dengan pengajian kitab fikih terkadang juga baris berbaris. Mereka juga dilatih memasak secara kelompok untuk menyiapkan makan sore seluruh peserta didik yang mengikuti kegiatan tersebut yang dipantau secara langsung. Kegiatan dilanjutkan dengan shalat maghrib Dan setelah isya kegiatan dilanjutkan anjangsana . ahlil kelilin. di rumah siswa-siswi secara bergilir. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan bermalam dipondok. Pukul tiga dini hari, kegiatan diisi dengan pelaksanaan shalat tahajud dan shubuh berjamaah. Setelah itu mereka mengaji lagi dan ditutup dengan shalat dhuha berjamaah pada hari minggu pagi. Evaluasi Pembelajaran Aswaja dalam Mengembangkan Moderasi Beragama Siswa MTs Munzalam Mubaroka Bulukerto Wonogiri Untuk mengevaluasi hasil pembelajaran di MTs Munzalam Mubaroka khususnya pada mata pelajaran Aswaja, madrasah memiliki upaya kegiatan akademis yang perlu diikuti oleh seluruh peserta didik dalam menyelesaikan suatu pembelajaran dalam kurun waktu setengah semester atau akhir semester dengan tujuan untuk mengetahui efektif tidaknya suatu sistem pembelajaran yang diterapkan oleh guru pengajar atau pendidik. Evaluasi sangat penting dilakukan agar hasil pembelajaran dapat lebih maksimal sebab tujuannya untuk mengetahui apakah proses pembelajaran sudah sesuai dengan apa yang direncanakan dalam RPP. Dengan kata lain, evaluasi yang dilakukan tersebut seolah menjadi penilai apakah bahan atau materi yang disampaikan dapat diterima dan sudah dikuasai oleh peserta didik atau Selain itu untuk mengetahui apa yang perlu direvisi dalam proses pembelajaran untuk dijadikan pegangan disemester berikutnya sebagai penyempurnaan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Contoh evaluasi dilakukan melalui UTS dan UAS. Evaluasi dilakukan dari melalui UTS dan UAS. UTS merupakan singkatan dari Ujian Tengan Semester yang dilaksanakan setelah proses belajar mengajar berjalan kurang lebih tiga Sementara UAS (Ujian Akhir Semeste. merupakan bagian integral dari sistem pendidikan tinggi yang bertujuan untuk menilai pemahaman dan penguasaan materi khususnya Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 10 Nomor 2 Ae Desember 2024 dalam pembelajaran Aswaja yang telah diajarkan selama satu semester. Keduanya sama-sama merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan secara rutin di setiap sekolah, termasuk di MTs Munzalam Mubaroka. Adapun yang menjadi hambatan dalam proses pembelajaran Aswaja dalam mengembangkan moderasi beragama di MTs Munzalam Mubaroka diantaranya, yaitu: faktor internal siswa dimana Faktor internal merupakan faktor yang ada dalam diri sendiri. Sehingga hal tersebut berpengaruh dalam menerima, memahami dan mengimplementasikan apa yang telah diajarkan baik di sekolah maupun di rumah. Siswa sebagai komponen terpenting sebagai pelaku belajar dalam proses pembelajaran, namun setiap siswa tentu memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dibutuhkan variasi dalam merancang pembelajaran. Tingkat menerima pembelajaran tentu berbeda satu dengan yang lainnya. Begitu pula dengan sifat atau karakter masing-masing siswa. Terkadang penghambat dari pemahaman moderasi beragama pada pembelajawab Aswaja adalah siswa itu sendiri sebab karakter yang berbeda-beda, tidak semua peserta didik memiliki pola pikir yang sama untuk mau dan menerapkan apa yang telah diajarkan. Maka dari itu pemahaman moderasi beragama penting diajarkan agar terbina hubungan yang baik, sehingga apa yang telah diajarkan oleh bapak/ibu guru Pemahaman siswa tentang penguatan yang lebih pada pihak guru maupun madrasah. kurangnya media Media merupakan hal penting lainnya dalam pembelajaran yang apabila tidak terpenuhi tentu akan Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Suti Indrayani bahwa kurangnya masukan buku menjadi penghambat siswa dalam memahami nilai-nilai moderasi beragama pada pembelajaran Aswaja. Selain itu, buku mata pelajaran aswaja dibawah naungan LP Mayrif semuanya tetap dari tahun ke tahun, jadi isi bukunya kurang Sehingga untuk menyikapi hal tersebut, guru membawa buku lain untuk Aswaja. Metode Aswaja beberapa metode untuk mencapai tujuan Pembelajaran Aswaja di MTs Munzalam Mubaroka dilaksanakan selayaknya pembelajaran pada mata pelajaran lain yang disampaikan oleh guru pengajar di dalam kelas sesuai panduan buku pegangan masing-masing kelas. Metode pembelajaran yang lain dilakukan sesekali seperti diskusi kelompok, ceramah, dan pemutaran film. Materi keaswajaan menurut guru mata pelajaran Aswaja masih belum maksimal sebab terbatasnya jumlah guru. Selain itu, seharusnya lebih banyak dilakukan dan memerlukan metode lain yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu para peserta didik. KESIMPULAN Kesimpulan menunjukkan bahwa pemahaman siswa-siswi MTs Munzalam Mubaroka mengenai moderasi beragama masih rendah karena mereka belum mendapatkan pembelajaran teori moderasi secara langsung. Namun, melalui pembelajaran Aswaja, mereka telah diajarkan sikap moderat, baik dalam beragama maupun dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran Aswaja di madrasah ini dimulai dengan penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), diikuti dengan penerapan metode yang variatif seperti diskusi, hafalan, tugas individu, ceramah, dan bercerita. Evaluasi pemahaman siswa dilakukan melalui Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Meskipun Implementasi Pembelajaran Aswaja. Zamzam Mustofa,Amir Mukminin. Eka Wahyuningtyas 159 pembelajaran Aswaja di MTs Munzalam Mubaroka memiliki peran penting dalam mengembangkan sikap moderasi beragama di kalangan siswa. DAFTAR PUSTAKA