JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Evaluasi Pembelajaran Aktif dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Kitab Kuning Santriwati di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga * Raudhatul Juniati Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Email: raudhatuljuniati@unisai. Abstract Active learning is recognized as an effective approach to enhancing student engagement and learning motivation, including in pesantren (Islamic boarding school. where classical Islamic texts . itab kunin. are the main focus of study. The background of this research stems from the limited studies addressing the effectiveness of active learning methods in the teaching of kitab kuning within traditional pesantren settings. This study aims to evaluate how far active learning can improve the learning motivation of female students . at Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. A qualitative descriptive method was employed through literature review, in-depth interviews with 2 heads of teaching departments, 3 kitab kuning teachers, and 5 class II students, as well as direct classroom observations. The findings indicate that active learning fosters a more interactive learning atmosphere, reduces learning fatigue, and enhances studentsAo confidence in understanding classical texts. The main conclusion of this research is that active learning is relevant and applicable as an innovative strategy while maintaining the traditional values of pesantren education. The contribution of this study lies in strengthening the adaptive teaching approach of kitab kuning to meet studentsAo needs and contemporary challenges. Keywords: Active Learning. Learning Motivation. Kitab Kuning Abstrak Pembelajaran aktif menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar peserta didik, termasuk dalam konteks pesantren yang memfokuskan pengajaran kitab kuning. Latar belakang penelitian ini berangkat dari masih terbatasnya kajian yang mengungkap efektivitas pembelajaran aktif pada kitab kuning di pesantren tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana metode pembelajaran aktif mampu meningkatkan motivasi belajar santriwati di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan, wawancara mendalam dengan 2 Kepala Bagian Pengajian, 3 guru pengajar kitab kuning, serta 5 santriwati kelas II, dan observasi langsung pada kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran aktif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, mengurangi kejenuhan, dan meningkatkan rasa percaya diri santriwati dalam memahami isi kitab kuning. Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran aktif relevan untuk diterapkan di pesantren sebagai strategi inovatif yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan konsep pembelajaran kitab kuning yang lebih adaptif terhadap kebutuhan santri dan perkembangan zaman. Kata kunci: Pembelajaran Aktif. Motivasi Belajar. Kitab Kuning *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan pilar utama dalam membentuk karakter, kepribadian, dan kualitas sumber daya manusia di berbagai belahan dunia. Melalui pendidikan, individu dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai moral yang diperlukan untuk menghadapi tantangan kehidupan (Safitri, 2. Dalam konteks globalisasi, pendidikan tidak hanya menjadi kebutuhan dasar, tetapi juga instrumen penting untuk mencetak generasi yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing. Hal ini menuntut adanya metode pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Dengan demikian, pendidikan selalu membutuhkan inovasi dalam strategi pembelajaran agar dapat memberikan hasil yang signifikan terhadap perkembangan peserta didik. Proses pembelajaran pada hakikatnya bukan sekadar aktivitas transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik, tetapi juga mencakup pembentukan motivasi, rasa ingin tahu, serta keterampilan belajar mandiri. Motivasi belajar merupakan faktor kunci yang mendorong seseorang untuk memahami materi secara mendalam. Tanpa adanya motivasi yang tinggi, proses pembelajaran akan berjalan kurang efektif dan tidak mencapai hasil yang diharapkan (Yogi Fernando. Popi Andriani, & Hidayani Syam. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, interaktif, dan memacu partisipasi aktif peserta didik. Metode pembelajaran yang tepat menjadi salah satu cara untuk membangkitkan motivasi belajar, sehingga siswa atau santri dapat lebih antusias mengikuti pelajaran. Di pesantren, kitab kuning memiliki peran sentral sebagai sumber utama ilmu agama yang diajarkan kepada para santri. Pembelajaran kitab kuning menuntut konsentrasi, ketekunan, dan metode pengajaran yang sesuai dengan karakteristik materi. Tradisi pembelajaran kitab kuning di pesantren memiliki ciri khas tersendiri, seperti pendekatan sorogan, bandongan, atau halaqah, yang membutuhkan interaksi langsung antara guru dan santri. Dalam menghadapi tantangan era modern, pesantren dituntut untuk memadukan metode tradisional dengan pendekatan pembelajaran yang lebih aktif dan inovatif (Izmi, 2023. Maula. Nurdin, & Sukarman, 2. Dengan demikian, pengajaran kitab kuning dapat tetap relevan dan menarik bagi generasi muda. Pendekatan pembelajaran aktif dianggap sebagai salah satu strategi yang mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar. Metode ini menekankan pada keaktifan santri untuk bertanya, berdiskusi, serta terlibat langsung dalam kegiatan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Pembelajaran aktif tidak hanya membantu santri memahami materi secara lebih mendalam, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi. Dalam konteks kitab kuning, penerapan metode ini diharapkan mampu memecah kebosanan serta mendorong santri untuk lebih memahami isi kitab dengan cara yang kreatif (Romli. Oleh karena itu, pembelajaran aktif menjadi inovasi penting dalam mempertahankan minat belajar santri di pesantren. Evaluasi terhadap penerapan pembelajaran aktif perlu dilakukan untuk mengetahui efektivitasnya dalam meningkatkan motivasi belajar. Di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, santriwati menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian dalam evaluasi ini. Melalui evaluasi, dapat diketahui sejauh mana metode pembelajaran aktif memberikan dampak positif terhadap pemahaman dan semangat belajar mereka. Hasil evaluasi ini nantinya dapat menjadi acuan bagi para pengajar untuk meningkatkan kualitas metode pembelajaran kitab kuning. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menelaah penerapan pembelajaran aktif serta pengaruhnya terhadap motivasi belajar santriwati di pesantren tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena secara mendalam dengan menggambarkan kondisi, proses, atau kejadian apa adanya berdasarkan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, atau analisis dokumen tanpa melakukan manipulasi variabel (Movitaria. Teungku Amiruddin. Ade Putra Ode Amane. Muhammad Munir, & Qurnia Indah Permata Sari, 2024. Ramayulis, 2. Tujuannya untuk memahami penerapan pembelajaran aktif dalam meningkatkan motivasi belajar kitab kuning. Populasi penelitian adalah seluruh guru dan santriwati di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, dengan sampel yang dipilih secara purposive melibatkan 2 Kepala Bagian Pengajian, 3 guru pengajar kitab kuning, dan 5 santriwati kelas II. Instrumen penelitian yang digunakan berupa pedoman wawancara mendalam dan observasi kegiatan pembelajaran kitab kuning. Prosedur penelitian dilakukan melalui tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan temuan di lapangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana pembelajaran aktif diterapkan dalam pengajaran kitab kuning. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Populasi penelitian meliputi guru dan santriwati Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, dengan sampel yang dipilih secara purposive, yaitu 2 Kepala Bagian Pengajian, 3 guru yang mengajar kitab kuning, dan 5 santriwati kelas II. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara mendalam serta observasi untuk melihat langsung dinamika pembelajaran di kelas. Prosedur penelitian dimulai dengan perencanaan, pengumpulan data, reduksi data, hingga analisis dan penarikan kesimpulan. Data dari wawancara digunakan untuk mengidentifikasi pengalaman, pandangan, serta tantangan guru dan santriwati dalam penerapan pembelajaran aktif. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran nyata mengenai efektivitas pembelajaran aktif dalam meningkatkan motivasi belajar kitab kuning. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran aktif telah diakui sebagai pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai pusat proses belajar, sehingga mendorong mereka untuk lebih terlibat dalam memahami materi pelajaran. Studi kepustakaan menunjukkan bahwa pembelajaran aktif dapat meningkatkan motivasi belajar dengan memberikan ruang bagi peserta didik untuk berdiskusi, bertanya, dan mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman mereka sendiri (Sanjaya, 2. Dalam konteks kitab kuning yang sering dianggap kompleks, metode ini dapat membantu santri memahami makna teks secara lebih mendalam. Hal ini menjadi penting mengingat kitab kuning memiliki struktur bahasa yang khas dan membutuhkan konsentrasi tinggi untuk memahaminya. Oleh karena itu, pembelajaran aktif dapat menjadi salah satu alternatif strategi pembelajaran yang relevan di pesantren. Hasil penelusuran literatur menunjukkan bahwa pembelajaran aktif tidak hanya efektif dalam pendidikan formal, tetapi juga dapat diadaptasi ke dalam pendidikan berbasis pesantren. Model pembelajaran seperti diskusi kelompok, tanya jawab, dan pemecahan masalah telah terbukti membuat peserta didik lebih antusias dalam belajar (Abidin, 2. Dalam pembelajaran kitab kuning, teknik ini berpotensi mengurangi kesan monoton yang kerap melekat pada metode tradisional seperti sorogan dan Pendekatan ini juga dapat menumbuhkan kemandirian santri dalam mengeksplorasi isi kitab. Dengan demikian, integrasi pembelajaran aktif dengan metode pesantren bisa menjadi terobosan penting. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Di samping itu, hasil studi juga menegaskan bahwa pembelajaran aktif dapat meningkatkan daya ingat dan pemahaman peserta didik (Annisa. Subali, & Heryanto. Ketika santri diberi kesempatan untuk berperan aktif, mereka cenderung lebih mudah mengingat materi karena terlibat langsung dalam proses belajar. Pada pengajaran kitab kuning, keaktifan ini bisa diwujudkan melalui kegiatan menjelaskan ulang isi teks atau berdiskusi mengenai makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini membantu santri tidak hanya menghafal teks, tetapi juga memahami konteks ajaran secara lebih luas. Efektivitas metode ini menjadi bukti bahwa pembelajaran aktif dapat mendukung proses internalisasi nilai-nilai keagamaan. Sejumlah penelitian lain juga menemukan bahwa pembelajaran aktif dapat menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan interaktif (Tabina et al. , 2. Hal ini berbanding terbalik dengan metode ceramah satu arah yang sering membuat peserta didik menjadi pasif. Dalam lingkungan pesantren, perubahan suasana belajar seperti ini sangat penting untuk menjaga semangat santri, khususnya ketika mempelajari kitab kuning yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Dengan suasana yang lebih dinamis, santri dapat lebih mudah termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu, pembelajaran aktif dapat menjadi sarana pembaruan dalam sistem pendidikan pesantren. Berdasarkan observasi peneliti menunjukkan bahwa santri yang terlibat aktif dalam pembelajaran akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Kitab kuning sebagai teks klasik memerlukan kemampuan berpikir mendalam untuk memahami maknanya secara utuh. Dengan menerapkan strategi pembelajaran aktif, guru dapat melatih santri untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengevaluasi dan menafsirkan isi kitab. Keterampilan ini sangat penting dalam mencetak generasi santri yang tidak hanya paham secara tekstual, tetapi juga kontekstual. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran aktif memiliki relevansi yang tinggi dengan tujuan pendidikan Namun demikian, temuan peneliti di lapangan juga menemukan bahwa penerapan pembelajaran aktif di pesantren belum banyak dilakukan secara sistematis. Sebagian pesantren masih mempertahankan metode tradisional yang menempatkan santri sebagai pendengar pasif. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan guru tentang metode aktif, serta anggapan bahwa metode klasik sudah cukup efektif. Padahal, dengan kombinasi metode tradisional dan pembelajaran aktif, kualitas pembelajaran kitab kuning JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan inovasi yang menggabungkan kedua pendekatan ini. Guru berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran aktif. Guru harus memiliki kemampuan merancang kegiatan belajar yang melibatkan santri secara penuh (Sulistiyo, 2. Dalam konteks kitab kuning, guru dapat memadukan metode bandongan dengan diskusi atau praktik menjelaskan makna teks secara mandiri. Peran guru sebagai fasilitator menjadi kunci utama untuk mendorong santri agar lebih Hal ini menunjukkan bahwa kualitas guru harus terus ditingkatkan untuk mengoptimalkan pembelajaran aktif. Selain itu, motivasi belajar santri dapat meningkat ketika mereka merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran. Dengan adanya interaksi dua arah, santri merasa memiliki peran penting dalam memahami isi kitab. Kondisi ini dapat menciptakan rasa percaya diri dan dorongan untuk terus belajar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa santri yang terlibat aktif memiliki pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan santri yang hanya mendengarkan. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran aktif dapat memberikan dampak positif terhadap motivasi belajar. Pembelajaran aktif memerlukan perencanaan yang matang. Guru harus mampu merancang strategi yang sesuai dengan tingkat pemahaman santri dan karakteristik kitab Tanpa perencanaan yang tepat, metode aktif justru dapat menimbulkan kebingungan bagi santri (Mubah, 2. Oleh karena itu, pendekatan ini harus diimplementasikan secara bertahap agar santri terbiasa dengan pola pembelajaran baru. Dalam konteks ini, peran evaluasi menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan metode yang diterapkan. Hasil studi lapangan juga mengungkapkan bahwa integrasi pembelajaran aktif dengan metode tradisional dapat menciptakan keseimbangan yang ideal. Tradisi pesantren yang kaya nilai-nilai moral dapat diperkaya dengan strategi aktif yang mengutamakan keterlibatan santri. Dengan cara ini, pembelajaran kitab kuning tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga pada pemahaman yang mendalam. Model pembelajaran seperti ini akan mempersiapkan santri untuk menghadapi tantangan zaman dengan pemahaman agama yang kokoh. Hal ini menegaskan pentingnya inovasi dalam sistem pendidikan pesantren. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, penelitian ini menemukan relevansi yang kuat untuk mengkaji pembelajaran aktif. Pesantren ini memiliki tradisi pengajaran kitab kuning yang kuat, tetapi juga terbuka terhadap metode pembaruan yang relevan. Dengan mengevaluasi penerapan pembelajaran aktif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Hasil evaluasi ini juga dapat menjadi rujukan bagi pesantren lain yang ingin mengembangkan metode Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan dampak praktis yang Berdasarkan wawancara dengan dua Kepala Bagian (Kaba. Pengajian di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, terungkap bahwa pembelajaran aktif masih menjadi metode yang relatif baru diterapkan dalam pengajaran kitab kuning. Kedua Kabag Pengajian sepakat bahwa pendekatan ini memberikan warna baru dalam proses pembelajaran yang sebelumnya didominasi metode sorogan dan bandongan. Menurut mereka, pembelajaran aktif mampu memacu santri untuk lebih kritis dan berani mengajukan pertanyaan terkait makna teks, sehingga proses belajar tidak lagi berjalan satu arah. Kabag Pengajian juga menegaskan bahwa metode ini sesuai dengan visi dayah untuk melahirkan santri yang tidak hanya paham secara tekstual, tetapi juga kontekstual. Mereka menilai bahwa integrasi pembelajaran aktif menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkaya tradisi belajar kitab kuning. Wawancara dengan tiga guru pengajar kitab kuning menunjukkan pandangan yang sejalan dengan Kabag Pengajian. Guru pertama mengungkapkan bahwa santri cenderung lebih antusias saat diberi kesempatan berdiskusi dan menyampaikan pendapat, terutama ketika diminta menafsirkan kalimat-kalimat dalam kitab secara langsung. Guru kedua menambahkan bahwa pembelajaran aktif membuat suasana kelas lebih hidup dan mendorong santri untuk tidak hanya menghafal, tetapi memahami konteks pembahasan Sementara guru ketiga menyoroti bahwa metode aktif memerlukan persiapan lebih mendalam dari guru, baik dari segi materi maupun teknik fasilitasi diskusi. Ketiga guru sepakat bahwa meskipun metode ini menuntut kreativitas pengajar, hasilnya lebih efektif dibanding metode konvensional. Mereka melihat adanya peningkatan motivasi belajar dan rasa percaya diri santri ketika mereka dilibatkan aktif. Pandangan dari lima santriwati kelas II juga mendukung temuan ini. Mereka mengaku lebih termotivasi belajar karena merasa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. ikut berperan dalam proses pembelajaran. Salah satu santriwati menyatakan bahwa metode diskusi dan tanya jawab membantu mereka memahami kitab kuning dengan lebih jelas, terutama pada bagian teks yang sulit dimengerti. Santriwati lainnya menambahkan bahwa pembelajaran aktif membuat suasana kelas lebih menyenangkan, sehingga mereka tidak cepat merasa bosan. Beberapa dari mereka juga merasakan peningkatan keberanian untuk bertanya kepada guru, yang sebelumnya jarang dilakukan pada metode tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif santriwati mampu menciptakan hubungan belajar yang lebih interaktif dan produktif. Dari wawancara ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran aktif di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga mendapat respons positif baik dari pengajar maupun santriwati. Kabag Pengajian melihat metode ini sebagai inovasi penting untuk mengoptimalkan pemahaman kitab kuning di era modern. Guru-guru merasakan adanya perubahan signifikan pada partisipasi dan pemahaman santri terhadap materi. Sedangkan santriwati merasakan manfaat langsung berupa meningkatnya motivasi, rasa percaya diri, serta kemampuan berpikir kritis. Hal ini memperkuat hasil studi kepustakaan yang menyatakan bahwa pembelajaran aktif efektif dalam menciptakan suasana belajar yang interaktif, mendalam, dan bermakna. Analisa Penulis Berdasarkan hasil studi kepustakaan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktif memiliki dampak positif dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Konsep pembelajaran aktif menempatkan peserta didik sebagai pusat proses belajar, di mana mereka dilibatkan secara langsung dalam eksplorasi, analisis, dan pemecahan Dalam konteks kitab kuning, pendekatan ini memungkinkan santri untuk lebih memahami isi teks karena mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan penafsiran. Hal ini secara langsung membantu meningkatkan rasa ingin tahu dan semangat belajar santriwati di pesantren. Oleh karena itu, pembelajaran aktif menjadi relevan untuk diterapkan pada pengajaran kitab kuning yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Metode tradisional seperti bandongan dan sorogan yang telah lama diterapkan di pesantren memang memiliki keunggulan, terutama dalam menjaga otoritas keilmuan guru dan kesinambungan tradisi keilmuan klasik. Namun, metode ini sering kali menempatkan santri pada posisi pasif, hanya sebagai pendengar atau penerima informasi. Padahal. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. tantangan zaman menuntut adanya pembelajaran yang mampu mendorong santri berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Pembelajaran aktif dapat mengisi kekosongan ini dengan mendorong santri untuk ikut berkontribusi dalam proses belajar. Perpaduan antara metode tradisional dan pendekatan aktif dapat menghasilkan pola pembelajaran yang lebih Penerapan pembelajaran aktif dalam pengajaran kitab kuning memiliki tantangan tersendiri karena karakteristik kitab kuning yang kaya akan bahasa klasik, istilah, dan konteks sejarah. Santri tidak hanya dituntut untuk menghafal teks, tetapi juga memahami maksud dari isi kitab. Dengan pendekatan pembelajaran aktif, guru dapat merancang kegiatan belajar seperti diskusi kelompok, analisis teks, atau presentasi makna ayat, sehingga santri dapat terlibat secara mendalam. Proses ini dapat memupuk keterampilan berpikir analitis dan memperkuat daya ingat santri. Dengan demikian, metode ini dapat membantu santri memahami kitab kuning dengan lebih komprehensif. Kesiapan guru menjadi faktor kunci keberhasilan pembelajaran aktif di pesantren. Guru dituntut memiliki kemampuan untuk berperan sebagai fasilitator, bukan hanya sebagai penyampai informasi (Prasetyo, 2. Perubahan peran ini memerlukan keterampilan pedagogis yang mumpuni, seperti merancang kegiatan belajar yang interaktif, memotivasi santri untuk berpartisipasi, dan memberikan umpan balik yang Guru yang memiliki kemampuan tersebut dapat mengoptimalkan penerapan pembelajaran aktif tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisi pesantren. Dengan begitu, pembelajaran kitab kuning dapat berjalan lebih dinamis dan bermakna. Motivasi belajar santri menjadi salah satu indikator penting keberhasilan metode Santri yang memiliki motivasi tinggi akan lebih antusias dalam mempelajari kitab kuning, meskipun materi yang diajarkan tergolong sulit. Pembelajaran aktif dapat menjadi sarana untuk membangkitkan motivasi tersebut karena memberikan kesempatan kepada santri untuk merasa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Misalnya, santri diberi kesempatan untuk menjelaskan kembali materi kepada temantemannya, yang secara tidak langsung memperkuat pemahaman mereka sendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa pembelajaran aktif dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih hidup. Integrasi antara pembelajaran aktif dan metode tradisional pesantren dapat menciptakan sinergi yang bermanfaat. Tradisi pesantren yang mengedepankan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. kedalaman ilmu dan penghormatan terhadap guru tetap dapat dipertahankan, sementara pembelajaran aktif menambahkan unsur inovasi dan keterlibatan aktif santri. Perpaduan ini dapat menghasilkan model pembelajaran yang seimbang, di mana nilai-nilai klasik tetap terjaga tetapi relevan dengan kebutuhan pendidikan modern. Dengan cara ini, pesantren tidak kehilangan identitasnya, melainkan memperkuat daya adaptasinya terhadap perkembangan zaman. Analisis ini juga menekankan pentingnya evaluasi dalam mengukur efektivitas pembelajaran aktif di pesantren. Evaluasi tidak hanya dilakukan untuk menilai hasil belajar santri, tetapi juga untuk menilai sejauh mana metode pembelajaran mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan mereka. Melalui evaluasi yang sistematis, guru dapat mengetahui bagian mana dari metode pembelajaran aktif yang perlu diperbaiki atau Proses evaluasi ini juga menjadi tolok ukur keberhasilan inovasi pembelajaran dalam konteks kitab kuning. Dengan evaluasi yang tepat, keberlanjutan metode pembelajaran aktif dapat dijaga. Penulis juga melihat bahwa pembelajaran aktif dapat menjadi solusi untuk mengatasi kebosanan yang sering muncul saat santri mempelajari kitab kuning dengan metode satu arah. Dengan melibatkan santri dalam diskusi, studi kasus, atau simulasi pembelajaran, suasana belajar menjadi lebih variatif dan menarik. Hal ini tidak hanya meningkatkan motivasi belajar, tetapi juga mendorong santri untuk berpikir mandiri. Ketika santri merasa diberdayakan dalam proses belajar, mereka akan lebih bersemangat untuk menggali pengetahuan dari kitab kuning. Keadaan ini dapat membantu pesantren melahirkan generasi santri yang lebih kritis dan analitis. Dalam konteks penelitian ini, analisis yang dilakukan berfokus pada santriwati kelas II di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Hasil studi kepustakaan menunjukkan bahwa santriwati memiliki potensi besar untuk berpartisipasi aktif jika diberikan metode pembelajaran yang tepat. Dengan latar belakang mereka yang terbiasa dengan pola belajar tradisional, pembelajaran aktif dapat menjadi tantangan sekaligus peluang baru. Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauh mana metode ini dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Temuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas pembelajaran aktif di pesantren. Pada akhirnya, penulis menilai bahwa pembelajaran aktif tidak hanya sebatas tren pendidikan modern, tetapi merupakan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. pembelajaran kitab kuning. Pesantren sebagai lembaga pendidikan klasik perlu berinovasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dengan menggabungkan nilai-nilai tradisi dan strategi pembelajaran aktif, pesantren dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih berdaya saing. Penulis meyakini bahwa model pembelajaran seperti ini akan memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan motivasi belajar santri. Oleh karena itu, kajian ini menjadi langkah awal untuk mengisi kesenjangan penelitian terkait pembelajaran kitab kuning berbasis metode aktif. KESIMPULAN Penelitian berjudul AuEvaluasi Pembelajaran Aktif dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Kitab Kuning Santriwati di Dayah MUDI Mesjid Raya SamalangaAy menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran aktif mampu meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan santriwati dalam memahami kitab kuning. Melalui strategi pembelajaran yang interaktif seperti diskusi, tanya jawab, dan analisis teks, proses belajar menjadi lebih dinamis dan tidak monoton. Santriwati menjadi lebih percaya diri, berani bertanya, serta mampu memahami isi kitab secara mendalam. Selain itu, guru berperan penting sebagai fasilitator yang mendorong partisipasi aktif santri dan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Meskipun masih terdapat tantangan dalam penerapan metode ini, seperti keterbatasan pemahaman guru terhadap model pembelajaran aktif dan adaptasi terhadap tradisi pesantren yang kuat, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran aktif relevan diterapkan di pesantren. Metode ini terbukti efektif sebagai strategi inovatif yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional sekaligus menumbuhkan semangat belajar santri di era modern. *** DAFTAR PUSTAKA