Original Artikel THE RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND BEHAVIOR WITH THE INCIDENCE OF SCABIES Yunita Theresiana*. Neni Triana Program Studi Magister Universitas Dehasen . STIKes Budi Mulia Sriwijaya email penulis korespondensi: theresianayunita@unived. ABSTRAK Latar Belakang: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi skabies, tingkat pengetahuan serta perilaku tentang skabies dan membuktikan hubungan antara pengetahuan tentang skabies dan perilaku menjaga kebersihan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren X Palembang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan crosectional. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di daerah X yang berjumlah 572 orang. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus Slovin dapat diketahui bahwa besarnya sampel penelitian adalah 235 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, sedangkan teknik analisis data menggunakan chi square. Hasil: Pada penelitian ini ditemukan bahwa dari 70 responden santri, sebanyak 27 orang atau 38,57% mengalami scabies. Pengetahuan . = 0,021. OR 5,. dan perilaku . = 0,001. OR = 10,. merupakan factor risiko skabies. Kesimpulan: Penyuluhan dan gerakan pencegahan scabies merupakan hal penting untuk memberantas Kata kunci: Pengetahuan. Perilaku Pencegahan. Skabies ABSTRACT Background: The purpose of this study was to determine the prevalence of scabies, the level of knowledge and behavior about scabies and prove the relationship between knowledge about scabies and hygiene behavior with the incidence of scabies in Islamic Boarding School X Palembang. Method: This study is a descriptive analytical study using a cross-sectional approach. The population in this study was the community in area X, totaling 572 people. Based on calculations using the Slovin formula, it can be seen that the size of the research sample is 235 people. The data collection technique used a questionnaire, while the data analysis technique used chi square. Result: it was found that out of 70 student respondents, as many as 27 people or 38. 57% experienced Knowledge . = 0. OR 5. and behavior . = 0. OR = 10. are risk factors for Conclution: Scabies prevention education and campaigns are crucial for eradicating Keywords: Knowledge. Prevention Behavior. Scabies. Islamic Boarding School PENDAHULUAN Kudis atau biasa disebut dengan skabies merupakan infestasi ektoparasit yang dikarenakan adanya tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis, arthropoda dari ordo Acarina (Shimose & MunozPrice, 2. Skabies dapat menyerupai sejumlah penyakit kulit lainnya, seperti eksim, impetigo, infeksi jamur, reaksi alergi, dan dermatitis kontak, yang dapat menyulitkan penegakan diagnosis. Inkubasi skabies berlangsung sekitar 4-6 minggu dan dapat lebih pendek jika terjadi infestasi awal berat. Orang yang terinfeksi akan menjadi sumber infeksi sehingga semua anggota keluarga dengan tempat tinggal yang sama juga harus diobati (KoryciEska, 2. Skabies atau kudis adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei var. Penyakit ini ditandai dengan rasa gatal yang hebat terutama pada malam hari, serta munculnya lesi kulit berupa bintil-bintil kecil dan garis-garis akibat terowongan tungau. Skabies sering menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di lingkungan dengan kepadatan tinggi dan kebersihan yang kurang terjaga. Pondok pesantren di Palembang, seperti halnya di daerah lain di Indonesia, merupakan lingkungan tempat tinggal bersama dengan aktivitas yang padat dan fasilitas yang digunakan secara Kondisi seperti keterbatasan air bersih, pemakaian pakaian atau perlengkapan tidur secara bersama, serta pengetahuan santri yang kurang mengenai personal hygiene menjadi faktor risiko utama penyebaran skabies. Menurut beberapa penelitian, prevalensi skabies di pondok pesantren di Indonesia masih cukup tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari 30% dari total santri. Penyakit ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan fisik, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup dan aktivitas belajar Oleh karena itu, perlu adanya perhatian lebih dari pihak pengelola pesantren dan tenaga kesehatan dalam melakukan edukasi, pencegahan, dan pengendalian penyakit skabies. Dengan memahami faktor-faktor penyebab dan pola penyebaran skabies di pondok pesantren Palembang, diharapkan dapat disusun strategi pencegahan yang efektif agar penyakit ini tidak terus berulang dan menimbulkan dampak yang lebih luas. Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai luaran dari perasaan ingin tahu diawali dari proses sensoris, khususnya indra penglihatan serta pendengaran pada sebuah objek tertentu. Sebuah studi menyatakan bahwa pengetahuan terhadap penyakit skabies mampu merubah perilaku serta sikap pada penerapan kebersihan individu, sehingga berdampak pada penurunan kejadian skabies (Aminah et al. Proses dalam memperoleh pendidikan juga berpengaruh terhadap pengetahuan dan perilaku individu (Simamora, 2. Pesantren merupakan tempat proses belajar-mengajar bagi santri dan santriwati dalam memahami ilmu agama Islam secara mendalam. Namun, lingkungan pondok pesantren dikenal kotor, kumuh, dan tidak higienis yang dapat menjadi salah satu sumber penyakit (Rosmila, 2. Berdasarkan suatu studi, terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap hygiene perseorangan . <0,. dan terdapat hubungan antara sikap terhadap hygiene perseorangan . <0,. santri di Pondok Pesantren. Selain itu, studi lain juga menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan berhubungan dengan kejadian skabies pada santri (Imelda, 2. Meninjau dari permasalahan tersebut, dapat disimpulkan bahwa angka kejadian skabies di Indonesia masih tinggi khususnya pada usia anak dan remaja. Pesantren yang merupakan wadah untuk menuntut ilmu justru dapat menjadi salah satu tempat yang sesuai dengan faktor risiko skabies. Berbagai faktor dapat meningkatkan risiko infeksi skabies, dalam konteks ini difokuskan pada tingkat pengetahuan dan perilaku santri. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk mengangkat penelitian dengan topik hubungan pengetahuan dan perilaku dengan kejadian skabies di Ponpes X. Palembang. METODE JENIS PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan desain crosectional. Populasi dalam penelitian ini adalah santri putra pada Pondok Pesantren X di Palembang yang berjumlah 572 orang. Subjek dalam penelitian ini adalah sebagian santri putra yang berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus Slovin didapatkan sebanyak 235 santri Variabel bebas penelitian adalah pengetahuan dan perilaku, dan variable terikat adalah skabies. Variabel pengetahuan diambil dengan kuesioner yang terdiri atas 20 pertanyaan meliputi aspek pengertian, penyebab, pencegahan, lingkungan, penyebaran dan pengobatan. Skala yang digunakan adalah skala kategorik dengan hasil pengukuran baik jika skor lebih besar dari 10 . kor maksimal . dan kurang baik jika skor lebih kecil dari 10 . kor maksimal . Diagnosis skabies ditegakkan oleh dokter apabila ditemukan tiga tanda, yaitu lesi kulit pada daerah predileksi, gatal pada malam hari, dan ada riwayat sakit yang sama sebelumnya dalam satu lingkungan. Penelitian dilakukan pada September 2025 sampai Oktober 2025. Instrumen penelitian meliputi lembar hasil pemeriksaan skabies dan kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku terkait penyakit skabies dan Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini telah digunakan sebelumnya oleh Rohmawati . dan Savira . , yang telah dinyatakan valid pada uji validitas dan uji reliabelitas. Analisis data menggunakan uji chi square untuk mengetahui hubungan antara variabel tersebut dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan software Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 23. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Pengetahuan dan Perilaku Santri Pengetahuan Perilaku No Umur Responden Baik Kurang Baik Kurang Remaja Awal . -15 tahu. 6 69 39. 4 98 56. 0 77 44. Remaja Madya . -18 tahu. 1 22 37. 9 35 60. 3 23 39. Remaja Akhir . -21 tahu. 2 100 1 50. 0 1 50. Jumlah 142 60,4 93 39,6 134 57,0 101 43,0 Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja awal mempunyai pengetahuan yang baik . ,6%), demikian juga perilaku terhadap pencegahan skabies, mereka memiliki perilaku yang baik . 0%). Hasil distribusi untuk remaja madya diketahui bahwa sebagian besar santri mempunyai pengetahuan yang baik dalam menjaga kebersihan diri . ,1%), perilaku pencegahan terhadap skabies juga menunjukkan hasil yang baik . , sehingga dapat diketahui bahwa santri Pondok Pesantren X sebenarnya mempunyai pengetahuan dan perilaku yang baik tenteng skabies. Tabel 2. Distribusi Kejadian Skabies Umur Responden Non skabies Skabies Remaja Awal . -15 tahu. Remaja Madya . -18 tahu. Remaja Akhir . -21 tahu. Jumlah Jumlah Tabel 2 menunjukkan bahwa skabies terjadi pada 78 orang santri dari 235 santri yang diperiksa . ,19%). Kebanyakan skabies terjadi pada santri yang berumur antara 13-15 tahun atau termasuk dalam kategori umur remaja awal. Tabel 3. Hubungan antara Pengetahuan dan Perilaku dengan Kejadian Scabies Variabel Chi-square Scabies Non scabies Pengetahuan Jumlah Jumlah % P-value Baik 72,5 39 Kurang Baik 58,1 39 5,307 0,021 Perilaku Baik 75,4 33 Kurang Baik 55,4 45 10,314 0,001 Tabel. 3 menunjukkab bahwa pada santri yang mempunyai pengetahuan pencegahan skabies yang baik sebanyak 72,5% tidak mengalami kejadian skabies, namun 27,5% mengalami kejadian Adapun untuk santri yang mempunyai pengetahuan pencegahan skabies dengan kategori kurang diketahui bahwa sebanyak 58,1% tidak mengalami kejadian skabies dan 41,9% mengalami kejadian skabies. Hasil ini menunjukkan adanya kencenderungan bahwa santri yang mempunyai pengetahuan kurang dalam pencegahan skabies mengalami kejadian skabies. Hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa pengetahuan maupun perilaku berkorelasi dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren X, masing-masing dengan nilai p 0,021 untuk pengetahuan dan 0,001 untuk perilaku. Nilai OR pengetahuan sebesar 5,307 yang berarti bahwa santri yang berpengetahuan baik memiliki risiko terkena skabies sebesar 5,307 kali dan OR perilaku adalah sebesar 10,314 yang berarti bahwa santri yang memiliki perilaku kurang baik berisiko terkena skabies sebesar 10, 314 kali. PEMBAHASAN Berdasarkan analisis maka disimpulkan bahwa bahwa 60,4% santri mempunyai pengetahuan dalam pencegahan scabies yang termasuk dalam kategori baik. Penyakit scabies disebabkan oleh rendahnya personal hygiene pada santri, sehingga sering melakukan berbagai kebiasan yang kurang baik yaitu saling berbagi peralatan mandi seperti sabun, handuk serta sarung. Kebiasan buruk ini semakin lengkap dengan kurangnya perhatian pada kebersihan tempat tidur, contohnya penjemuran kasur dilakukan 1 kali dalam sebulan atau saat libur, mengganti sprei atau sarung bantal sebagai peralatan untuk tidur. Aktivitas kebersihan diri sepeerti cuci dan kasus serta mandi umumnya menggunakan sumur yang dialirkan pada bak besar untuk efisiensi tempat. Hal ini biasa terjadi pada lingkungan pondok pesantren karena aktivitas kegiatan yang sangat padat dan membutuhkan kecepatan, sehingga kepedulian pada kebersihan diri kurang diperhatikan (Muafidah et al. , 2. Pengetahuan santri yang kurang mengetahui tentang penyakit scabies pada tingkat awal masuk terutama di asmara pondok pesantren berisiko mudah tertular berbagai penyakit, khususnya scabies. Santri juga kurang mengetahui penyebab scabies misalnya hanya mengetahui kebersihan diri yang kurang baik, dan mereka menganggap penyakit scabies merupakan penyakit yang biasa saja seperti kudis dan cacar air. Pengetahuan adalah salah atu upaya yang mudah bagi santri dalam melaksanakan perilaku hidup sehat dan bersih untuk tidak terjadinya penyakit menular seperti scabies. Permasalahan ini menjadi penyebab terjadinya perilaku yang mendasari atau memberikan motivasi untuk berperilaku karena adanya kebiasaan atau tradisi individu dan lingkungan (Pratiwi et al. Pengetahuan pada kebersihan diri dapat diperoleh dari berbagai media, terutama melalui media elektronik maupun media cetak. Informasi tentang kesehatan juga banyak disampaikan melalui media sosial tentang berbagai manfaat dalam menjaga kebersihan seperti kebiasaan untuk mencuci tangan serta bertukar pakaian ataupun yang lain dan juga pengetahuan akan penyebab akan timbulnya skabies misalnya pernah dibaca dalam media cetak seperti buku itupun masih banyak juga santri yang kurang mengetahui tentang apa itu penyakit scabies mereka hanya tau itu penyakit gatal-gatal yang biasa dan penyebab terjadi scabies ini. Santri hanya mengetahui penyebabnya karena lingkungan yang kotor dan cara penularan penyakit scabies ini santri hanya mengetahui karena sering meminjam sesuatu milik seseorang yang terkena scabies tersebut. Pengetahuan santri tentang kebersihan lingkungan akan menjadi bahan pertimbangan dalam perilaku untuk merespon ataupun berakhir pada kebersihan terhadap timbulnya scabies yang dapat menyebabkan tertularnya scabies disuatu lingkungan padat seperti asrama terutama di Pondok Pesantren (Wawan & Dewi, 2. Perilaku merupakan seluruh kegiatan atau aktivitas seseorang dan suatu respons seseorang terhadap objek yang berkaitan dengan sakit, pelayanan kesehatan, makanan, minuman, dan Berdasarkan hasil penelitian tentang perilaku pencegahan skabies pada santri Pondok Pesantren Perilaku santri tentang penyakit scabies sering dianggap biasa saja karena kebanyakan santri terutama di asrama pondok pesantren pada tingkat awal masuk beradaptasi di lingkungan asrama dalam satu kamar kurang bagus kebanyakan santri untuk mengobati penyakit menular ini seperti scabies tersebut sedikit santri yang mau pergi ke klinik terdekat. Santri pada tingkat awal hanya mengetahui cara mengobati penyakit scabies dengan membersihkan diri contoh nya mandi dan mencuci tangan dan menganggap penyakit scabies ini cuma penyakit gatal-gatal biasa (Prayogi & Kurniawan, 2. Perilaku santri dalam kebersihan di suatu asrama sangat masih kurang misalnya salah satu contoh membersihkan lantai, tempat tidur mereka sering tidak ada yang mau menjaga kebersihan dalam ruangan asmara contoh misalnya debu-debu di sekitar ruangan dan sampah berserakan dalam ruangan, santri juga kurang memperhatikan perilaku dalam meminjam atau bertukar pakaian misalnya handuk, baju, celana dan lain-lain karena perilaku ini salah satu yang harus diperhatikan oleh santri karena salah satu timbulnya berbagai penyakit kulit sehingga mudah terserang penyakit salah satunya scabies (Samino et al. , 2. Scabies merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei. Diagnosis ditegakkan oleh dokter apabila ditemukan tiga tanda, yaitu lesi kulit pada daerah predileksi, gatal pada malam hari, dan ada riwayat sakit yang sama sebelumnya dalam satu lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian tentang kejadian skabies pada santri Pondok Pesantren X diketahui bahwa 66,8% . tidak mengalami kejadian skabies, sehingga dapat diketahui bahwa sebagian besar santri Pondok Pesantren X tidak mengalami kejadian sekabies. Scabies adalah penyakit pada kulit karena adanya Sarcoptes scabiei var. hominis, yaitu berupa parasit atau kutu yang membuat lobang-lobang atau galian pada kulit, sehingga menjadikan kulit terasa gatal. Skabies di Indonesia biasa disebut dengan penyakit gudik atau kudis dan buduk. Skabies adanya penyakit yang cukup banyak berkembang di berbagai negara berkembang sehingga menjadi sebuah endemik. Angka kejadian skabies di negara berkembang erat kaitannya dengan permasalahan kemiskinan, tata kota yang padat serta rendahnya perilaku hidup bersih dari masyarakat (Haufmann, 2. Gejala utama dari penyakit skabies yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei sangat bervariasi, namun setidaknya ada ciri utama dalam infestasi skabies, yaitu gatal pada malam hari . ruritus nokturn. yang sering terjadi pada orang yang biasa tinggal di asrama yang terdapat terowongan dan ditemukan adanya parasit (Majid et al. , 2. Diagnosa adanya kejadian skabies menunjukkan adanya 2 dari 4 tanda-tanda kardinal yang menyebabkan terjadinya skabies (Menaldi et al, 2. , adapun untuk diagnosa definitif menunjukkan adanya tungau skabies, telur serta skibala. Tungau skabies, telur atau skibala yang paling mudah dapat ditemukan melalui pengerokan pada kulit, adapun metode yang lain dapat dilakukan melalui tes tinta burrow, epidermal shave biopsi, tetrasiklin topikal, penggunaan selotip, dan dermoskopi (Dewi & Wathoni, 2. Lingkungan yang terdapat risiko tinggi untuk terjadi penularan skabies adalah di pondok pesanten (Samosir et al. , 2. , hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dari penghuni asrama pondok pesantren terhadap penyakit skabies (Afnis, 2. Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai informasi dengan mengoptimalkan panca indera yang dimiliki oleh setiap individu terhadap sebuah obyek (Handari, 2. Pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian skabies, menurut studi Fauzian et al. , . menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki hubungan yang kuat dan signifikan dengan perilaku . =0,. sementara Purnama et al. , . menyebutkan bahwa tingkat pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian skabies . =0,. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Putri et al. , . yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan santri dengan perilaku pencegahan skabies begitu juga penelitian Aliffiani dan Mustakim . juga menunjukkan bahwa personal hygiene tidak ada hubungan yang signifikan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren X. Skabies merupakan penyakit kulitas yang terbaikan dan dianggap biasa oleh hampir sebagian besar santri di pondok pesantren, sehingga meskipun seorang santri memiliki pengetahuan yang baik, namun tingginya kontak yang terjadi di pondok pesantren menyebabkan penyakit skabies kurang dipedulikan. Pada siswa yang sedang berada pada sekolah menengah pertama memiliki risiko untuk terkena skabies enam kali lebih tinggi dibandingkan dengan siswa sekolah menengah atas (Purnama et al. , 2. Pengetahuan mengenai kebersihan pribadi yang buruk juga disebutkan dapat meningkatkan kejadian skabies (Ciftci et al. , 2. Pengetahuan dapat dinilai dari kebenaran dalam menjawab pertanyaan tentang skabies, seperti penyebabnya, nama lain penyakit, cara penularan, dan perilaku pencegahannya (Savira, 2. Pengetahuan menjadi bagian yang penting untuk membentuk perilaku terbuka atau open behavior (Lumy, 2. Sementara itu, perilaku merupakan manifestasi sebagai reaksi atau respon seseorang terhadap suatu rangsangan sehingga membentuk sebuah lingkungan sosial (Koyimah et al. Rangsangan dalam konteks ini merupakan hasil keingintahuan yang merujuk pada pengetahuan sehingga antara perilaku dan pengetahuan saling berhubungan. Pengetahuan yang baik akan menghasilkan perilaku yang baik. Perilaku merupakan seluruh kegiatan atau aktivitas seseorang, baik yang dapat dilihat secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain. Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang terhadap objek yang berkaitan dengan sakit, pelayanan kesehatan, makanan, minuman, dan lingkungan (Notoatmodjo, 2. Pada studi sebelumnya ditunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku kebersihan pribadi dengan kejadian skabies pada santri (Sianturi & Sungkar. Skabies menyebar melalui kontak kulit secara langsung atau bisa melalui pakaian dan sprei (World Health Organization, 2. Skabies lebih sering terjadi pada santri yang memiliki perilaku kebersihan yang buruk dan sebaliknya. Kejadian skabies lebih rentan terjadi pada orang-orang yang memiliki kebiasaan untuk menggunakan barang-barang pribadi secara bersamaan, seperti pakaian. Perilaku kebersihan yang dapat dinilai dalam keterkaitannya dengan kejadian skabies, antara lain kebiasaan mandi, mengganti handur, mengeringkan handuk di bawah sinar matahari, mengganti pakaian, mencuci dan menyetrika pakaian (Sianturi & Sungkar, 2. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang berasaskan pada nilai-nilai keIslaman dengan menggunakan asrama sebagai pusat kegiatan santri. Asrama pada pondok pesantren umumnyai kurang memenuhi idealisme sebuah kamar, sehingga sangat padat dengan penghuninya (Parlin & Hamidy, 2. Asrama yang terlalu padat mempunyai risiko tinggi untuk penularan skabies, karena berkaitan dengan tingginya kontak fisik antar santri sehingga menyebabkan ruangan menjadi lembab. Kejadian skabies tidak dapat dipisahkan dari kebiasan saling bertukar baju ganti, handuk, sarung, bantal serta guling antara penghuni asrama. Lingkungan pesantren yang kurang bersih, kamar mandi serta WC yang kurang layak juga menjadi penyebab terjadinya skabies (Febrina et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Faktor yang memengaruhi tingginya angka kejadian meliputi: Kepadatan hunian santri dalam satu kamar. Kurangnya kesadaran menjaga kebersihan pribadi . ersonal hygien. Kebiasaan berbagi pakaian, handuk, atau tempat tidur. Akses air bersih yang terbatas di beberapa pondok. Secara nasional, prevalensi skabies di Indonesia masih cukup tinggi, berkisar 6Ae12% di masyarakat umum dan dapat mencapai lebih dari 30% di lingkungan pesantren, sehingga angka di Palembang termasuk dalam kategori cukup tinggi dan memerlukan perhatian khusus dari pihak kesehatan. DAFTAR PUSTAKA