JIS (Jurnal Ilmu Sibe. Vol. No. ISSN. : 2828-6065 Pengaruh Struktur Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Institusional Dan Profitabiltas Terhadap Penghindaran Pajak Chindy Flawdia Putri#1. Yahya Arga#2 PJJ Akuntansi. Universitas Siber Asia Jl. Harsono RM No. 1 Jakarta Selatan 1chindyflawdia17@gmail. Penelitian ini menganalisis pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan Profitabilitas terhadap penghindaran pajak pada perusahaan publik sektor makanan dan minuman di BEI periode 2019-2024. Penghindaran pajak diukur dengan Effective Tax Rate (ETR) dan dianalisis menggunakan regresi data panel dengan Random Effect Model (REM) dan robust standard errors. Hasil menunjukkan bahwa secara simultan ketiga variabel berpengaruh signifikan terhadap ETR. Secara parsial, hanya Profitabilitas yang berpengaruh signifikan negatif terhadap ETR, sedangkan kepemilikan manajerial dan institusional tidak signifikan. Temuan ini mendukung Political Cost Theory dan diharapkan memberi kontribusi bagi akademisi, praktisi, dan otoritas perpajakan dalam memahami perilaku penghindaran pajak AbstrakAi Kata kunciAi ETR, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, penghindaran pajak, random effect model PENDAHULUAN Pajak adalah penompang utama pendapatan negara yang di alokasikan untuk pembiayaan berbagai kepentingan publik. Namun, tidak semua Wajib Pajak ketidakpatuhan yang kerap dilakukan oleh perusahaan adalah penghindaran pajak . ax avoidanc. , yakni strategi legal yang memanfaatkan celah peraturan untuk mengurangi beban pajak. Meskipun sah secara hukum, praktik ini dianggap tidak etis karena berdampak pada berkurangnya penerimaan negara. Kepemilikan manajerial berpotensi meningkatkan kecenderungan tax avoidance karena dorongan untuk memaksimalkan laba . , namun ada juga studi yang menemukan sebaliknya (Prastiyanti & Mahardhika, 2022. Sementara itu, kepemilikan institusional dapat menekan tax avoidance karena fungsi pengawasan yang lebih ketat . , meskipun temuan lain tidak menemukan pengaruh yang signifikan . Di sisi lain. Profitabilitas juga diyakini memengaruhi tax avoidance. Perusahaan yang lebih menguntungkan cenderung melakukan efisiensi beban fiskal melalui strategi penghindaran pajak . Penelitian ini berfokus pada perusahaan publik yang bergerak di sektor makanan dan minuman, yang menurut Kementerian Perindustrian menyumbang 40,33% dari PDB industri pengolahan nonmigas pada Triwulan II2024 . Stabilitas permintaan dan regulasi ketat di sektor ini menjadikannya menarik untuk diteliti dalam konteks penghindaran pajak. Oleh karena itu, studi ini dilakukan guna mengkaji bagaimana kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan profitabilitas memengaruhi upaya penghindaran beban fiskal . ax avoidanc. pada perusahaan sektor makanan Hipotesis penelitian, adapun hipotesis yang menjadi dasar dalam penelitian ini yaitu: hubungan kepemilikan manajerial terhadap penghindaran pajak. Menurut Agency Theory . , kepemilikan saham oleh manajer dapat menyelaraskan kepentingan antara agen dan principal. Namun, keselarasan ini tidak menjamin kepatuhan terhadap pajak, karena manajer yang juga pemilik memiliki dorongan kuat untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan. Dalam kondisi ini, mereka mungkin memilih strategi tax avoidance sebagai bentuk efisiensi beban fiskal, yang pada akhirnya meningkatkan nilai perusahaan dan keuntungan pribadi sebagai pemegang saham. Berdasarkan penjelasan tersebut maka hipotesis pertama pada penelitian ini adalah: H1: Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap penghindaran pajak. Hubungan penghindaran pajak. Menurut monitoring hypothesis dalam teori agensi, kepemilikan oleh institusi sebagai pemegang saham utama berfungsi mengawasi tindakan manajemen agar sejalan dengan prinsip good corporate governance, termasuk dalam menghindari praktik penghindaran pajak. Dengan demikian, semakin besar porsi kepemilikan institusional, maka kecenderungan manajemen untuk menjalankan strategi penghindaran Submitted 29 10 2025. Revised 30 10 2025. Accepted 30 10 JIS (Jurnal Ilmu Sibe. Vol. No. 1, 06 2025 pajak secara agresif akan semakin menurun. Berdasarkan dasar teori tersebut, hipotesis kedua dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H2: Kepemilikan institusional memiliki pengaruh negatif terhadap penghindaran pajak Hubungan profitabilitas terhadap penghindaran pajak. Menurut Political Cost Theory . , perusahaan yang mencerminkan tingkat keuntungan yang tinggi cenderung menanggung beban pajak yang lebih besar dan menjadi sorotan publik maupun otoritas pengawas. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk mencari cara mengurangi kewajiban pajaknya melalui strategi penghindaran pajak. Dengan kata lain. Semakin besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, semakin besar kecenderungan untuk menurunkan beban fiskal melalui mekanisme tax Berdasarkan landasan teori tersebut, hipotesis ketiga dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H3: Profitabilitas memiliki pengaruh positif terhadap penghindaran pajak. laba, sementara perusahaan dengan pengawasan institusional dan Profitabilitas tinggi cenderung menghindarinya demi menjaga reputasi. Dalam sektor makanan dan minuman, penghindaran pajak dipengaruhi oleh struktur kepemilikan dan profitabilitas, dengan pengawasan ketat yang membuat strategi agresif berisiko merusak citra perusahaan. Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu dijelaskan pada Tabel I. TABEL I HASIL PENELITIAN TERDAHULU Variabel Penelitian Proxy yang Diuji Hasil Penelitian Yan Christin Br Sembiring . Profitabilitas. Likuiditas. Leverage ROA. CR. DER Yesaya Bittikaka Rumbi et Profitabilitas. Likuiditas. Solvabilitas. Political Connection ROA. CR. DER. Dummy Political Connection Nurmadina Sudih et Profitabilitas. Kepemilikan Institusional ROA. Kep. Institusional Profitabilitas positif tetapi signifikan, dan Profitabilitas dan likuiditas Ketiganya oleh koneksi politik secara Profitabilitas pajak, namun Peneliti II. DASAR TEORI MUTAKHIR Tinjauan teoritis pada bagian ini adalah sebagai landasan teori yang relevan dengan inti pembahasan dalam penelitian. Agency Theory . Agency Theory menggambarkan relasi antara pemegang saham sebagai prinsipal dan manajer sebagai agen dalam menjalankan aktivitas perusahaan. Ketidakseimbangan kepentingan di antara keduanya dapat memicu agen bertindak untuk keuntungan pribadinya, termasuk dalam hal kebijakan perpajakan. Institusional Ownership Monitoring Theory Kepemilikan institusional mengacu pada proporsi saham yang dimiliki oleh institusi seperti perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank. Investor institusi memiliki kapasitas untuk melakukan monitoring terhadap kinerja manajemen dan cenderung menghindari tindakan agresif yang dapat mencoreng reputasi perusahaan, termasuk penghindaran pajak berlebihan . Political Cost Theory Menurut . dalam kerangka Political Cost Theory, perusahaan yang berukuran besar dan memiliki tingkat keuntungan tinggi biasanya lebih rentan menjadi perhatian publik maupun pengawasan pemerintah. Untuk menghindari political cost yang tinggi, perusahaanperusahaan tersebut berupaya menekan eksposur laba kena pajak, salah satunya melalui strategi penghindaran Dalam konteks ini, semakin tinggi profitabilitas, semakin besar dorongan perusahaan untuk menurunkan beban pajak melalui tax avoidance, sehingga menyebabkan penurunan nilai ETR. Tax Avoidance Theory (Hanlon dan Heitzman, 2. Menurut Hanlon dan Heitzman, penghindaran pajak mencakup strategi legal untuk menurunkan kewajiban Perusahaan dengan kepemilikan manajerial tinggi terdorong menggunakan strategi ini demi meningkatkan Korespondensi : Chindy Flawdia Putri JIS (Jurnal Ilmu Sibe. Vol. No. 1, 06 2025 Peneliti Wildan Dwi Lastyanto & Doddy Setiawan . Muh Azhar Zakaria & Dul Muid Variabel Penelitian Proxy yang Diuji Hasil Penelitian Kepemilikan Institusional Kep. Institusional Kepemilikan bahwa peran masih lemah. Leverage dan Leverage. Kepemilikan Manajerial. Kepemilikan Institusional DER. Kep. Manajerial. Kep. Institusional Kerangka Konseptual Dari penjelasan sebelumnya, berikut adalah kerangka konseptual dalam penelitian ini. Kepemilikan manajerial (X. , kepemilikan manajerial merupakan jumlah saham perusahaan yang secara proporsional dimiliki oleh pihak manajemen, seperti direksi dan dewan komisaris. Variabel ini mengukur sejauh mana manajemen perusahaan . ireksi dan komisari. memiliki kepentingan langsung terhadap kepemilikan saham perusahaan. Semakin tinggi kepemilikan saham oleh manajemen, diasumsikan semakin kuat kontrol dan motivasi manajemen untuk mengoptimalkan nilai perusahaan, termasuk dalam kebijakan perpajakan. Kepemilikan Manajerial dihitung menggunakan rumus: KM = Kepemilikan (X. , institusional mengacu pada persentase saham yang dimiliki oleh entitas keuangan, termasuk perusahaan dan lembaga investasi lainnya. Kepemilikan institusional diasumsikan memiliki kemampuan pengawasan yang lebih kuat terhadap keputusan manajerial, termasuk kebijakan pajak, karena biasanya memiliki sumber daya dan keahlian analisis yang lebih besar. Kepemilikan Institusional dihitung menggunakan rumus: KI = Profitabilitas (X. , profitabilitas dalam penelitian ini diukur menggunakan Return on Assets (ROA), yaitu rasio antara laba bersih setelah pajak dengan total aset yang dimiliki perusahaan. ROA yang tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengelola aset secara efisien untuk menghasilkan laba. Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas tinggi cenderung lebih patuh terhadap kewajiban pajak karena didukung oleh kapasitas pembayaran yang lebih kuat, meskipun dalam beberapa studi juga ditemukan bahwa perusahaan profitabel justru lebih aktif melakukan perencanaan pajak. Profitabilitas dihitung menggunakan rumus: ROA = Gambar. 1 Kerangka Konseptual Operasional Variabel Penghindaran pajak (Y), variabel ini berperan sebagai variabel dependen dalam penelitian. Praktik Penghindaran pajak diestimasi melalui GAAP Effective Tax Rate (ETR), yang dihitung sebagai rasio antara total beban pajak dan laba akuntansi sebelum pajak. Nilai ETR yang lebih rendah mengindikasikan adanya aktivitas penghindaran pajak yang lebih tinggi. Perhitungan ETR dilakukan dengan rumus sebagai berikut: GAAP ETR = Korespondensi : Chindy Flawdia Putri METODE PENELITIAN Penelitian ini diterapkan melalui metode kuantitatif kausal-komparatif mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antar variabel untuk mengkaji pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan profitabilitas terhadap praktik penghindaran pajak. Data yang digunakan berupa data panel, yaitu kombinasi antara data runtut waktu dan data antar perusahaan . ross sectio. , yang diambil dari perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2019 Pendekatan kausal-komparatif ini dipilih sebab-akibat berdasarkan data historis yang tersedia. JIS (Jurnal Ilmu Sibe. Vol. No. 1, 06 2025 Populasi penelitian ini terdiri atas seluruh perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2019 hingga 2024. Pemilihan periode 2019Ae2024 mempertimbangkan ketersediaan data yang relevan dan kesinambungan informasi dari laporan keuangan, serta mencakup dampak kondisi pandemi yang mempengaruhi kebijakan Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, yaitu dengan cara mengidentifikasi, mengunduh, dan mencatat informasi yang relevan dari dokumen-dokumen laporan keuangan tahunan tersebut untuk kemudian dianalisis sesuai kebutuhan penelitian. Metode pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu sebagai berikut: termasuk dalam sektor makanan dan minuman berdasarkan klasifikasi BEI, terdaftar secara kontinu di BEI selama periode 2019Ae2024, mempublikasikan laporan keuangan dan laporan tahunan lengkap selama periode tersebut, mengalami kerugian maksimal satu kali dalam periode tersebut. TABEL II HASIL PEMILIHAN SAMPEL Keterangan Perusahaan Sektor Makanan dan Minuman pada BEI Dikurangi dengan kriteria purposive sampling sebagai berikut: Perusahaan yang tidak mempublikasikan laporan keuangan dari tahun 2019-2024. Perusahaan mengalami rugi lebih dari 1 kali. Jumlah Sampel Jumlah Tahun Observasi Total Observasi Jumlah . IV. HASIL DAN ANALISA Hasil Uji Statistik Deskriptif Analisis memberikan gambaran awal mengenai karakteristik data sebelum dilakukan regresi panel, meliputi nilai rata-rata, standar deviasi, nilai minimum, dan maksimum. Ringkasan hasilnya ditampilkan pada Tabel 3. TABEL i HASIL STATISTIK DESKRIPTIF Variabel Mean (%) Standard Deviasi (%) Min (%) Max (%) ETR KPM KPI ROA Observasi Secara keseluruhan, hasil statistik deskriptif ini memberikan pemahaman awal mengenai pola distribusi Informasi mengenai variasi nilai antar perusahaan mendukung perlunya penggunaan model data panel dalam Korespondensi : Chindy Flawdia Putri analisis regresi, untuk menangkap heterogenitas karakteristik perusahaan sektor makanan dan minuman selama periode pengamatan. Hasil Uji Normalitas Uji normalitas residual bertujuan untuk mengetahui apakah error terms dalam model regresi berdistribusi Berdasarkan hasil Shapiro-Wilk, diperoleh nilai W sebesar 0,3045 dengan p-value 0,0000, yang berada jauh di bawah ambang signifikansi 5%, sehingga menunjukkan bahwa residual tidak berdistribusi normal. TABEL IV HASIL UJI SHAPIRO-WILK Variabel Resid Observasi Prob>z (%) Selain itu, hasil uji Skewness dan Kurtosis juga mendukung temuan tersebut, dengan p-value untuk skewness dan kurtosis sama-sama sebesar 0. 0000, serta hasil uji gabungan . oint tes. memberikan nilai chisquared sebesar 49. 02 dengan p-value 0. Dengan demikian, hipotesis nol yang menyatakan bahwa residual terdistribusi normal ditolak. Hasil Uji Pemilihan Model Regresi Panel Penentuan model ini dilakukan melalui serangkaian uji spesifikasi secara sistematis. Langkah pertama dilakukan dengan menguji Chow untuk membandingkan Common Effect Model (CEM) dan Fixed Effect Model (FEM). Hasil pengujian menunjukkan nilai Prob > F sebesar 0. yang berada jauh di bawah batas signifikansi 5%, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 5. TABEL V HASIL UJI CHOW Fixed-effect . regression F test that all u_i=0: F. , . Prob > F Hasil tersebut mengindikasikan penolakan terhadap hipotesis nol yang menyatakan tidak ada efek individual. Dengan demikian. Fixed Effect Model lebih tepat dibandingkan model pooled OLS karena mampu menangkap perbedaan karakteristik antar perusahaan dalam panel data. Langkah kedua dilakukan dengan uji Breusch-Pagan Lagrange Multiplier (LM) untuk membandingkan Common Effect Model dengan Random Effect Model (REM). Hasil pengujian menunjukkan nilai Prob > chibar2 sebesar 0. 0000, yang signifikan pada tingkat 5%, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 6. JIS (Jurnal Ilmu Sibe. Vol. No. 1, 06 2025 TABEL VI HASIL UJI BREUSCH-PAGAN LAGRANGE MULTIPLIER Komponen Varians (Va. (%) ETR Prob > chibarA Simpang Baku (SD) (%) Ini menunjukkan bahwa variansi efek individual berbeda dari nol, sehingga model Random Effect lebih baik daripada model Common Effect. Langkah ketiga dilakukan dengan uji Hausman untuk menentukan model yang lebih tepat antara Fixed Effect Model dan Random Effect Model. Hasil pengujian menunjukkan nilai Prob > chi2 sebesar 0. 3454, yang secara signifikan lebih tinggi dari ambang batas 0,05, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 7. TABEL VII HASIL UJI HAUSMAN Variabel KPM KPI ROA DM_RUGI Koefisien FE (%) Koefisien RE (%) Selisih (FEAe RE) (%) Std. Error (%) (BLUE) sebagaimana dijelaskan oleh Gujarati et al. Pengujian mencakup uji multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi, guna mendeteksi pelanggaran asumsi yang dapat memengaruhi validitas dan efisiensi estimasi. Meskipun uji normalitas residual umum dalam OLS, dalam regresi panel berbasis GLS seperti Random Effect dengan jumlah observasi besar, normalitas bukan syarat utama. Oleh karena itu, fokus pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini adalah memastikan validitas dan keandalan model panel yang Hasil uji multikolinearitas, setelah model regresi panel ditentukan, dilakukan uji multikolinearitas untuk memastikan bahwa tidak terdapat hubungan linear yang kuat antar variabel independen yang dapat memengaruhi keakuratan hasil estimasi. Pengujian menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) melalui regresi pooled OLS, karena fokusnya adalah korelasi antarvariabel independen, bukan efek entitas atau waktu. Berikut hasil uji VIF dalam penelitian ini. Tabel Vi HASIL UJI MULTIKOLINEARITAS Variabel KPI KPM ROA DM_RUGI Mean VIF VIF 1/VIF Uji Hausman: : 1. Prob > chiA : 34. Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai VIF seluruh variabel independen berkisar antara 0. 54 hingga 0. 75, dengan ratarata 0. 64, jauh di bawah batas 10 yang menandakan multikolinearitas serius. Ini menunjukkan tidak adanya Hal ini berarti tidak ada perbedaan signifikan yang multikolinearitas signifikan, sehingga setiap variabel sistematis antara estimasi FE dan RE. Dengan demikian, independen memberikan informasi yang unik. Dengan hipotesis nol tidak ditolak, yang mendukung penggunaan demikian, model regresi panel dalam penelitian ini Random Effect Model sebagai model yang lebih konsisten memenuhi asumsi klasik terkait multikolinearitas dan dan efisien. Berdasarkan hasil ketiga pengujian tersebut, menghasilkan estimasi yang stabil dan dapat disimpulkan bahwa: 1. Common Effect Model tidak diinterpretasikan secara akurat. memadai karena ditolak oleh hasil uji Chow dan LM, 2. Hasil uji heteroskedastisitas, setelah regresi panel dan Fixed Effect Model awalnya dipertimbangkan karena uji uji multikolinearitas, tahap selanjutnya adalah uji Chow mendukungnya dibanding CEM, namun pada heteroskedastisitas untuk memastikan varians residual perbandingan langsung dengan REM melalui uji Hausman, konstan. Pelanggaran asumsi ini dapat menyebabkan REM lebih sesuai, 3. Random Effect Model menjadi estimasi koefisien menjadi bias. Pengujian dilakukan model terbaik yang dipilih, karena didukung oleh hasil uji dengan Breusch-Pagan/Cook-Weisberg Test pada model LM . ebih baik daripada pooled OLS) dan hasil uji pooled OLS untuk mendeteksi ketidakkonsistenan varians Hausman . idak ada perbedaan signifikan dengan FE, residual. Berikut hasil pengujiannya: sehingga REM lebih efisie. Dengan demikian, model Random Effect dipilih sebagai TABEL IX model estimasi yang paling tepat dalam penelitian ini. HASIL UJI HETEROSKEDASTISITAS Pemilihan model ini memastikan bahwa analisis regresi Uji Nilai panel dapat menangkap variasi data lintas perusahaan dan ChiA. Prob > ChiA lintas waktu secara lebih akurat, sambil tetap mempertahankan efisiensi estimasi. Hasil uji Breusch-Pagan menunjukkan nilai chiD. Hasil Uji Asumsi Klasik 39 dengan p-value 0. 0000, menandakan Setelah model regresi panel dipilih, analisis dilanjutkan dengan uji asumsi klasik untuk memastikan model adanya heteroskedastisitas karena hipotesis nol ditolak memenuhi kriteria Best Linear Unbiased Estimator pada tingkat signifikansi 5%. Ini berarti varians residual Korespondensi : Chindy Flawdia Putri JIS (Jurnal Ilmu Sibe. Vol. No. 1, 06 2025 tidak konstan, yang dapat memengaruhi keakuratan standar error dan uji statistik. Meskipun model Random Effect telah mempertimbangkan efek individual, heteroskedastisitas tetap terdeteksi. Untuk mengatasinya, penelitian ini menggunakan robust standard errors agar estimasi tetap reliabel dan dapat diinterpretasikan secara Hasil uji autokorelasi, analisis autokorelasi dalam model data panel dilakukan untuk memastikan tidak terdapat hubungan residual serial antarwaktu dalam error terms, yang dapat menyebabkan estimasi varians bias dan standar error tidak akurat. Penelitian ini menggunakan Wooldridge Test for Autocorrelation in Panel Data, yang dirancang mendeteksi autokorelasi orde pertama. Hipotesis nol menyatakan tidak ada autokorelasi, dan hasil pengujian ditampilkan pada output berikut: TABEL X HASIL UJI AUTOKORELASI Uji , . Prob > F Nilai P-value sebesar 8. 79 yang melebihi batas signifikansi 5% mengindikasikan bahwa tidak ada cukup bukti untuk menolak hipotesis nol. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model regresi panel dalam penelitian ini bebas dari masalah autokorelasi pada residualnya. Hasil ini mendukung validitas model regresi yang digunakan dalam penelitian, karena menunjukkan bahwa error terms bersifat tidak berkorelasi secara serial antarwaktu dalam perusahaan yang sama. Oleh karena itu, model regresi panel Random Effect yang digunakan dapat diinterpretasikan dengan lebih reliabel tanpa perlu dilakukan penyesuaian lebih lanjut terhadap masalah Hasil uji hipotesis penelitian Pengujian hipotesis dilakukan melalui dua tahap, yakni uji simultan untuk menilai pengaruh kolektif seluruh variabel independen, serta uji parsial untuk mengamati dampak masing-masing variabel secara terpisah. Hasil analisis koefisien determinasi, koefisien determinasi (R-square. berfungsi untuk mengukur kemampuan model regresi dalam menjelaskan variasi yang terjadi pada variabel dependen. Dalam regresi data panel menggunakan Random Effect Model, terdapat tiga jenis R-squared yang disajikan, yaitu within, between, dan Berikut adalah hasil nilai R-squared dari model dalam penelitian ini. TABEL XI HASIL ANALISIS KOEFISIEN DETERMINASI R-squared Within Between Overall Nilai (%) ke tahun dapat dijelaskan oleh kepemilikan manajerial, institusional. Profitabilitas, dan dummy rugi, menandakan model cukup baik menangkap dinamika penghindaran pajak secara temporal. Sebaliknya, between R-squared yang rendah . 76%) menunjukkan bahwa perbedaan ratarata ETR antar perusahaan kurang dijelaskan oleh perbedaan rata-rata variabel independen, sehingga variasi antar perusahaan kemungkinan dipengaruhi faktor lain di luar model. Overall R-squared sebesar 0,1016 mengindikasikan model menjelaskan sekitar 10. 16% total variasi ETR. Secara keseluruhan, model Random Effect dengan robust standard errors cukup memadai, dan hasil ini menegaskan bahwa perubahan internal dalam perusahaan dari tahun ke tahun lebih berperan dalam menjelaskan perilaku penghindaran pajak dibanding perbedaan antarperusahaan, sehingga mendukung pentingnya pendekatan longitudinal. Uji hipotesis simultan (Uji Wald Chi-Squar. , pengujian simultan pada model Random Effect dilakukan dengan menggunakan statistik Wald Chi-Square untuk menilai apakah seluruh variabel independen secara bersama-sama memengaruhi nilai ETR. Hipotesis nol menyatakan tidak ada pengaruh, dan ditolak jika p-value < 0,05. Hasil menunjukkan Wald chi2. dengan p-value 0. 0000, yang berarti variabel independen dan kontrol secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ETR. TABEL XII HASIL UJI WALD CHI-SQUARE Uji Signifikansi Model Wald chiA. Prob > chiA Karena nilai p-value berada jauh di bawah batas signifikansi 5%, maka hipotesis nol ditolak. Ini mengindikasikan bahwa secara simultan, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap praktik penghindaran pajak pada perusahaan publik di sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Uji Hipotesis Parsial (Uji z-Statistic pada Random Effect Model dengan Robust Standard Error. , setelah uji simultan menunjukkan model signifikan, langkah selanjutnya adalah uji parsial untuk melihat pengaruh masing-masing variabel independen terhadap ETR. Pengujian dilakukan dengan melihat nilai z-statistic dan pvalue dari estimasi Random Effect Model menggunakan robust standard errors, guna memastikan validitas hasil meskipun terdapat heteroskedastisitas. Berikut ringkasan hasil estimasinya. Tabel Xi HASIL Z-STATISTIC PADA RANDOM EFFECT MODEL DENGAN ROBUST STANDARD ERRORS Variabel Nilai within R-squared sebesar 0,1851 menunjukkan 51% variasi ETR dalam perusahaan dari tahun Korespondensi : Chindy Flawdia Putri Nilai KPM KPI Koefisien (%) Std. (%) Error Pvalue JIS (Jurnal Ilmu Sibe. Vol. No. 1, 06 2025 Variabel ROA DM_RUGI _cons Koefisien (%) Std. (%) Error Pvalue Berdasarkan Political Cost Theory . , perusahaan yang sangat menguntungkan cenderung menarik perhatian publik dan regulator serta menanggung beban pajak lebih Untuk mengurangi kewajiban fiskal, mereka cenderung melakukan penghindaran pajak. Oleh karena itu, semakin tinggi profitabilitas, semakin besar potensi perusahaan melakukan penghindaran pajak. Persamaan Regresi Penelitian Berdasarkan hasil pengujian regresi yang telah dilakukan sebelumnya, persamaan akhir regresi dalam penelitian ini adalah: Keterangan: : Prediksi tarif pajak efektif perusahaan ycn pada tahun yc . roksi penghindaran paja. : Kepemilikan Manajerial : Kepemilikan Institusional : Profitabilitas (ROA) : Komponen efek individu acak yang tetap konstan untuk perusahaan : Error idiosinkratik . ariabel gangguan yang bervariasi antar perusahaan dan wakt. Penjelasan dari persamaan regresi tersebut adalah 1168 menunjukkan nilai rata-rata ETR saat semua variabel independen bernilai nol. Koefisien 0053 pada KPM menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 unit pada kepemilikan manajerial dikaitkan dengan kenaikan ETR sebesar 0. 0053 unit, namun hasilnya tidak signifikan secara statistik, 2. Koefisien 0. 0350 pada KPI juga positif namun tidak signifikan, menunjukkan hubungan lemah dan tidak meyakinkan secara statistik antara kepemilikan institusional dan ETR, 3. Koefisien 0. 2265 pada ROA yang signifikan negatif menunjukkan bahwa peningkatan Profitabilitas sebesar 1 unit dikaitkan dengan penurunan ETR sebesar 0. 2265 unit, menandakan kecenderungan penghindaran pajak yang lebih tinggi pada perusahaan yang lebih menguntungkan. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan profitabilitas terhadap penghindaran pajak pada perusahaan publik sektor makanan dan minuman di Indonesia periode 2019Ae2024, dengan menggunakan pendekatan regresi data panel Random Effect Model (REM) dan robust standard errors. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan: 1. Secara simultan, ketiga variabel independen (KPM. KPI, dan ROA) berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak, yang dibuktikan dengan nilai Wald Chi-Square Korespondensi : Chindy Flawdia Putri yang signifikan . -value < 0,. , 2. Secara parsial, hanya profitabilitas (ROA) yang berpengaruh signifikan negatif terhadap penghindaran pajak (ETR). Artinya, perusahaan dengan profitabilitas tinggi cenderung memiliki tarif pajak efektif yang lebih rendah, yang mengindikasikan praktik penghindaran pajak. Kepemilikan manajerial (KPM) dan kepemilikan institusional (KPI) tidak berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak secara parsial. Hal ini menunjukkan bahwa variasi dalam struktur kepemilikan belum cukup kuat memengaruhi keputusan perusahaan terkait kebijakan pajaknya di sektor ini, 3. Nilai within R-squared sebesar 18,51% menandakan bahwa variasi ETR lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan internal perusahaan dari tahun ke tahun, bukan oleh perbedaan antar perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat dilakukan yaitu: 1. Bagi manajemen perusahaan, penting untuk menyadari bahwa profitabilitas yang tinggi dapat menjadi indikator adanya insentif untuk melakukan penghindaran pajak. Maka dari itu, praktik tata kelola perusahaan dan transparansi pajak harus diperkuat agar sejalan dengan prinsip etika bisnis dan kepatuhan dan perusahaan bisa melakukan Tax Planning yang wajar dengan cara optimalisasi biaya penyusustan asset tetap, meningkatkan biaya CSR atau melakukan R&D sehingga perusahaan akan mengefisiensi pajak tanpa harus merusak reputasi atau merusak lingkungan sekitar pabrik Perusahaan, 2. Bagi investor atau pemegang saham, sebaiknya tidak hanya melihat struktur kepemilikan sebagai indikator pengelolaan pajak, tetapi juga memperhatikan indikator profitabilitas dan dampaknya terhadap strategi fiskal perusahaan, 3. Bagi otoritas pajak, perlu meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi karena berpotensi lebih besar melakukan penghindaran pajak, meskipun secara Pendekatan berbasis risiko berbasis ROA dapat dipertimbangkan dalam strategi kepatuhan. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mempertimbangkan variabel tambahan seperti ukuran perusahaan, leverage, atau intensitas modal, serta mempertimbangkan pengaruh moderasi atau mediasi yang mungkin relevan dalam konteks penghindaran pajak REFERENSI