Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Pengaruh Hatha Yoga Terhadap Perilaku Bullying Pada Siswa Kelas i SD No. 2 Sibanggede Made G. Juniartha*. I Kadek Darmo Suputra. Ni Luh Santhi Icaka Putri Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia juniartha@uhnsugriwa. Abstract Bullying occurred among third-grade students at SD No. 2 Sibanggede. Students identified as perpetrators exhibited high levels of aggressiveness, while those identified as victims demonstrated low social and emotional skills. Hatha yoga incorporates various techniques such as asana, pranayama, kriya, mudra, and bandha, which can be utilized to enhance emotional regulation and reduce aggressiveness. The purpose of this study was to investigate the effect of hatha yoga on bullying behavior among third-grade students at SD No. 2 Sibanggede. This research employed an experimental method with a one-group pretest-posttest design. The population consisted of all 21 third-grade students at SD No. 2 Sibanggede. The sampling technique used was total sampling, in which the entire population was included as the sample. Data were collected using the self-report method through the Olweus Bully/Victim Questionnaire (OBVQ), which includes separate questionnaires for bullying perpetrators and victims. This instrument has a Cronbach's alpha reliability coefficient of 0. 87 for the perpetrator questionnaire 85 for the victim questionnaire. Data analysis was conducted using the Wilcoxon The results showed a Z value of -2. 733 with a significance level of 0. < 0. These findings indicate that hatha yoga has an effect on bullying behavior exhibited by perpetrators among third-grade students at SD No. 2 Sibanggede. Hatha yoga was also reported to reduce the bullying experienced by victims, although the reduction was not statistically significant. Keywords: Bullying. Hatha Yoga. Elementary School Abstrak Tindakan perundungan terjadi pada siswa kelas i di SD No. 2 Sibanggede. Siswa yang berperan sebagai pelaku bullying menunjukkan tingkat agresivitas yang tinggi, sementara siswa yang menjadi korban memiliki kemampuan sosial dan emosional yang Hatha yoga mengajarkan berbagai teknik seperti asana, pranayama, kriya, mudra, dan bandha, yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan regulasi emosi serta menurunkan agresivitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hatha yoga terhadap perilaku bullying pada siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain one-group pretestposttest. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede yang berjumlah 21 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh, yaitu seluruh populasi dijadikan sampel. Pengumpulan data dilakukan melalui metode self-report menggunakan kuesioner Olweus Bully/Victim Questionnaire (OBVQ), yang terdiri dari kuesioner untuk pelaku dan untuk korban bullying. Instrumen ini memiliki reliabilitas alpha Cronbach sebesar 0,87 untuk pelaku dan 0,85 untuk korban. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan nilai Z sebesar -2,733 dengan signifikansi 0,006 . < 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa hatha yoga berpengaruh terhadap perilaku bullying yang dilakukan oleh pelaku pada siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede. Hatha yoga juga dilaporkan dapat mengurangi perlakuan bullying yang dialami korban, meskipun penurunan tersebut tidak signifikan secara statistik. Kata Kunci: Bullying. Hatha Yoga. Sekolah Dasar https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Permasalahan bullying di lingkungan sekolah Indonesia masih menjadi isu yang memerlukan perhatian serius dan penanganan secara komprehensif. Berdasarkan analisis data dari Global School-Based Student Health Survey (GSHS) Indonesia tahun 2015, sebanyak 18,5% siswa jenjang SMP dan SMA dilaporkan pernah mengalami perundungan, yang berisiko meningkatkan gangguan kesehatan mental seperti depresi (Khaliza. Besral. Ariawan, & EL-Matury, 2. Pada tingkat sekolah dasar, sebuah penelitian di Kota Semarang menunjukkan bahwa 37,55% peserta didik menjadi korban perundungan, dengan bentuk paling umum adalah fisik . ,5%) dan non-fisik . ,06%) (Siswati & Widayanti, 2. Sementara itu, studi lain yang dilakukan di SD Negeri Pungkuran Bantul mencatat bahwa 62,31% siswa laki-laki terlibat dalam tindakan bullying, dengan bentuk yang paling sering muncul adalah bullying relasional . ,04%) dan verbal . ,16%) (Rahayu & Permana, 2. Bullying atau perundungan merupakan masalah yang kerap dialami oleh anakanak dan berdampak negatif terhadap kesehatan psikologis, baik bagi korban maupun Pada tanggal 23 Januari 2024. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis laporan akhir tahun 2023 yang mencatat sebanyak 329 laporan pelanggaran hak anak di bidang pendidikan. Laporan tersebut mencakup kasus anak sebagai korban perundungan di lingkungan satuan pendidikan, korban kebijakan, serta korban dari ketidakpenuhan hak atas fasilitas pendidikan. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa bentuk pelanggaran yang paling sering terjadi di lingkungan pendidikan adalah Data kasus bullying dari tahun 2021 hingga 2023 menunjukkan adanya tren peningkatan setiap tahunnya. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak guna mendukung tercapainya target Indonesia bebas kekerasan terhadap anak pada tahun 2045, sebagaimana diusung dalam Gerakan Zero Kekerasan oleh KPAI. Kajian terkait dengan kasus bullying sudah semakin berkembang sehingga pemahaman mengenai kasus bullying semakin jelas. Sebagian besar peneliti memahami dan menjelaskan konsep bullying dengan menggunakan pandangan dari Dan Olweus dalam bukunya yang berjudul bullying in school yang terbit pada tahun 1993 (Volk et al. Bullying dijelaskan sebagai suatu tindakan intimidasi yang dialami oleh seorang siswa yang menjadi korban tindakan negatif secara terus menerus atau berulang dari temannya baik yang dilakukan secara perseorangan ataupun bersama-sama (Volk et al. Tindakan bullying di kalangan siswa sekolah dasar dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain bullying fisik, verbal, maupun sosial. Bentuk-bentuk tersebut mencakup perilaku seperti berkata kasar, mengejek, mengancam, mencubit, menggigit, mencabut rambut, memukul, mendorong hingga menyebabkan korban terjatuh, serta mengajak berkelahi (Kustanti, 2. Selain itu, menurut Olweus . alam Volk et al. , tindakan intimidatif atau perilaku negatif dapat diekspresikan melalui kontak fisik, ucapan, maupun cara lain seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh yang agresif, serta tindakan pengucilan secara sengaja dari kelompok sosial. Volk et al. , . menekankan bahwa memahami tindakan bullying perlu untuk memperhatikan beberapa hal. Pertama, tindakan intimidasi dalam bullying harus didefinisikan secara spesifik sebagai perilaku yang diarahkan pada tujuan, bukan hanya sekadar tindakan menyakiti yang disengaja. Kedua, ketidakseimbangan kekuatan menjadi ciri yang penting dari tindakan intimidasi dalam konsep bullying. Penelitian yang dilakukan oleh Vaillancourt et al. , . menunjukkan bahwa anak perempuan lebih sering dilaporkan sebagai korban perundungan dibandingkan dengan anak laki-laki. Sebaliknya, anak laki-laki cenderung lebih sering bertindak sebagai pelaku perundungan dibandingkan anak perempuan. Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa siswa pada jenjang sekolah dasar memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi sebagai pelaku https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH intimidasi terhadap teman sebaya jika dibandingkan dengan siswa di jenjang sekolah Temuan ini sejalan dengan hasil observasi awal di lapangan yang dilakukan oleh peneliti. Pengambilan data awal difokuskan kepada siswa kelas i SD No 2 Sibanggede karena didasarkan pada laporan dari pihak sekolah bahwa kelas i SD No 2 Sibanggede terdapat banyak anak-anak yang menjadi korban sekaligus pelaku bullying. Pengambilan data awal dengan teknik wawancara kepada salah satu wali kelas i SD No. 2 Sibanggede mendapatkan hasil bahwa banyak anak-anak khususnya di kelas i SD No. 2 Sibanggede memiliki perilaku bermasalah seperti memanggil temannya dengan kata-kata kasar hingga mengancam, mendorong dan juga memukul temannya hingga temannya Guru tersebut juga menambahkan bahwa tindakan intimidasi tersebut lebih sering dilakukan pada anak perempuan di kelasnya. Selain itu, guru wali kelas tersebut menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan banyak pengaduan dari guru lain yang menemukan bahwa anak laki-laki kelas i tersebut mengganggu adik kelasnya dengan mengancam, dan juga meminta makanan dan juga uang yang dimiliki adik kelasnya. Hasil pengambilan data awal di SD No. 2 Sibanggede tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kustanti, . Peneliti tersebut menemukan bahwa ada beberapa bentuk tindakan bully yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar yaitu bullying secara fisik, bullying secara verbal, dan bullying sosial. Siswa sekolah dasar yang menjadi korban bully seringkali mendapatkan kata-kata kasar, diejek, diancam, dicubit, digigit, dicabut rambutnya, dipukul, didorong hingga terjatuh, dan juga diajak berkelahi (Kustanti, 2. Perlakuan intimidasi dan kurang menyenangkan tersebut menimbulkan berbagai macam perasaan negatif pada korban seperti marah, takut, menyesal, sedih, sakit hati, dan merasa tidak terima (Kustanti, 2. Mandira & Stoltz, . menyebutkan bahwa siswa dapat terlibat dalam tindakan bully dengan berbagai peran yaitu ada siswa yang menjadi korban, ada siswa yang menjadi pelaku, ada siswa yang menjadi korban sekaligus pelaku, dan ada juga siswa yang tidak menjadi korban sekaligus tidak menjadi pelaku. Siswa yang memiliki tingkat agresivitas yang tinggi cenderung ditemukan memiliki risiko yang lebih besar justru menjadi korban bully ataupun menjadi korban bully sekaligus pelaku bully (Mandira & Stoltz, 2. Iklim sekolah yang positif menjadi faktor pelindung untuk mencegah tindakan bully yang dilakukan oleh siswa. Hal ini karena iklim sekolah yang positif dapat menyadarkan siswa bahwa sekolah memberikan perlakuan yang adil dan setara sehingga para siswa memiliki lebih banyak empati terhadap teman-temannya (Mandira & Stoltz. Tindakan bully memberikan dampak negatif kepada korban bully dan juga pelaku Nickerson, . menjelaskan bahwa pelaku bully akan cenderung memiliki perilaku agresif, mudah marah, perilaku bermusuhan dan juga tindakan agresif lainnya. Pada sisi korban bully, tindakan bully yang diterima akan menimbulkan permasalahan relasional, dan banyak korban bully cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, serta seringkali mendapatkan penolakan dari teman sebaya (Nickerson, 2. Fenomena tersebut memberikan pemahaman bagi peneliti bahwa intervensi terhadap kasus perundungan di lingkungan sekolah perlu dirancang untuk secara simultan menurunkan tingkat agresivitas pada pelaku serta meningkatkan kualitas hubungan sosial yang sehat bagi siswa yang menjadi korban. Permasalahan terkait dengan kasus bully tidak hanya berdampak dalam jangka waktu yang pendek tetapi dapat berkembang menjadi lebih berat dalam jangka waktu yang panjang seperti berdampak pada kesulitan sekolah di usia awal sekolah dasar, meningkatkan risiko gagal lulus tepat waktu pada sekolah menengah atas, dan juga berisiko terlibat kekerasan ketika sudah memasuki usia dewasa awal (Bettencourt. Clary, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Ialongo, & Musci, 2. Dengan demikian, pemberian intervensi sejak usia dini menjadi sangat krusial dalam memperkuat kemampuan sosial, emosional, dan perilaku anak, terutama bagi mereka yang berasal dari kelompok minoritas yang tumbuh dalam lingkungan dengan keterbatasan sumber daya, baik sebelum maupun selama menjalani pendidikan formal (Bettencourt et al. , 2. Strategi intervensi yang efektif untuk mengatasi kasus bully harus menggunakan beragam mekanisme ataupun pendekatan seperti pendekatan individual, melibatkan pihak sekolah, pihak keluarga, teman sebaya, ataupun komunitas yang fokus pada penanganan kasus bully (Rawlings & Stoddard, 2. Selain itu, intervensi individual untuk kasus bully tetap harus memberikan hasil secara langsung dengan cara menargetkan untuk mengurangi perilaku atau tindakan penindasan, agresi, dan juga viktimisasi (Rawlings & Stoddard, 2. Peneliti mengulas beberapa program intervensi yang dapat digunakan untuk mengatasi tindakan bully dengan menargetkan perilaku spesifik seperti penindasan, agresi dan viktimisasi yang terjadi di lingkungan sekolah dasar. Adapun hasil ulasan tersebut yaitu sebagai berikut. Tabel 1. Hasil Penelitian Terdahulu Terkait Intervensi Bullying Judul Peneliti Metode Hasil 1 Mengatasi (Olweus. Kuasi OBPP bentuk-bentuk Limber, & Eksperimental substansial, bullying yang Breivik, dengan jumlah konsisten dalam mengatasi sampel 31620 semua bentuk bully secara Evaluasi Skala siswa kelas 3 verbal, fisik, bully secara Besar Dari The sampai kelas 11 tidak langsung, bully secara Olweus di Penssylvania seksual dengan kata-kata Bullying Selatan dan ataupun sentuhan, serta bully Prevention Pennsylvania Program Tengah . baik sebagai (OBPP) pelaku ataupun korban. 2 Menguji (Karatas & Kuasi Program pencegahan bully Ozturk, yang berbasis teori sosial program yang 2. control group kognitif pretest-posttest menurunkan jumlah siswa design dengan yang menjadi pelaku atau jumlah sampel korban bully dan dampak ini 113 siswa kelas dapat bertahan hingga 1 tahun Sekolah Dasar Sekolah setelah intervensi kepada Dasar di Turki korban bully, namun dampak tersebut tidak dapat bertahan dalam waktu 1 tahun setelah intervensi bagi pelaku bully. 3 Apa yang (Gaffney. Meta analisis Komponen berhasil dalam Ttofi, & pencegahan bullying seperti program anti- Farrington, kebijakan anti bullying. Analisis peraturan kelas, informasi untuk orang tua, keterlibatan intervensi yang informal teman sebaya secara mengurangi tindakan bullying yang dilakukan oleh pelaku. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH No Judul Peneliti Metode Hasil Selain keterlibatan teman sebaya dan informasi bagi orang tua mampu untuk mengurangi dampak negatif dari bullying yang dirasakan oleh korban. Ulasan pada tabel 1 memberikan gambaran bahwa program intervensi yang bersifat pencegahan memiliki dampak yang positif terhadap bentuk-bentuk perilaku Selain itu, program intervensi tersebut juga perlu untuk melibatkan berbagai pihak seperti pihak sekolah, pihak orang tua, dan juga teman sebaya. Ulasan tersebut juga memberikan gambaran bahwa hal utama yang menjadi fokus dalam program intervensi untuk kasus bullying adalah konsistensi dan keberlanjutan dalam pemberian suatu program serta menitikberatkan program intervensi pada kemampuan sosial atau social Gaffney et al. , . menjelaskan bahwa program-program yang efektif dalam mengurangi kasus bullying dengan melibatkan berbagai pihak ternyata memiliki sejumlah kelemahan yang perlu diperhatikan, antara lain biaya implementasi yang relatif tinggi, kebutuhan pelatihan tingkat lanjut, serta memerlukan komitmen yang kuat dari seluruh pihak terkait. Oleh sebab itu, intervensi alternatif yang lebih spesifik dan terfokus pada aktivitas tertentu dapat menjadi pilihan, dengan syarat bahwa intervensi tersebut memang ditujukan untuk sasaran yang jelas dan terukur. (Gaffney et al. , 2. Intervensi spesifik pada aktivitas tertentu yang akan diuji dalam mengatasi kasus bullying pada penelitian ini adalah yoga. Pascoe et al. , . menjelaskan bahwa yoga merupakan suatu praktik yang bertujuan untuk menyatukan tubuh, jiwa, dan pikiran melalui perpaduan antara postur fisik atau asana, meditasi, serta pernapasan terkontrol yang dikenal sebagai pranayama. Ajaran yoga terdiri dari pengetahuan filosofis yang dipelajari secara teoritis dan praktik yang menggabungkan teori dan penerapan, yang secara khusus dikategorikan dalam tradisi Hatha Yoga. Istilah Hatha Yoga berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu gabungan dari dua bija mantra, ha dan tha. Bija mantra ha melambangkan aliran energi matahari di pinggala nadi, sedangkan tha melambangkan aliran energi bulan di ida nadi (Saraswati, 2. Matahari melambangkan aspek maskulin, sementara bulan mewakili aspek feminin. Kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi, dan keseimbangan keduanya tercipta apabila berjalan beriringan. Hatha yoga dapat menjadi intervensi non-farmakologis yang efektif untuk meningkatkan kesehatan mental anak-anak. Peningkatan kesehatan mental tersebut ditandai dengan meningkatnya pengendalian emosional dari anak, menurunnya tingkat kecemasan, dan meningkatnya stabilitas psikologis anak (Juniartha. Suputra, & Maitrya, 2. Penerapan hatha yoga pada anak-anak terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis anak, yang ditunjukkan melalui peningkatan penerimaan diri, kemampuan membangun hubungan sosial yang positif, kemandirian yang lebih baik, adaptasi yang efektif terhadap lingkungan, kesadaran akan tujuan hidup, serta pertumbuhan pribadi yang optimal. (Suputra & Juniartha, 2. Hatha yoga meliputi latihan asana, pranayama, mudra, bandha, dan kriya. Asana adalah teknik pembentukan tubuh yang bertujuan untuk menjaga kesehatan atau proses Menurut Saraswati, . , latihan asana dapat dilakukan oleh individu sehat maupun yang sedang mengalami gangguan kesehatan, baik dari kalangan muda maupun tua. Pranayama merupakan latihan pernapasan yang berfungsi untuk merangsang dan meningkatkan energi, serta sangat penting dalam mengatur aliran prana secara optimal di dalam tubuh. Mudra merupakan suatu metode yang bertujuan mencapai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kesadaran spiritual sekaligus sebagai proses pengendalian dan pengawasan pikiran guna menciptakan kondisi mental dan fisik yang sehat. Bandha adalah teknik menahan, mengunci, atau mengencangkan yang memberikan efek pijatan pada organ-organ tubuh, sehingga berkontribusi pada perbaikan fungsi dan kesehatan tubuh. Kriya adalah latihan yang dapat membangkitkan kemampuan psikis, sehingga menjaga kestabilan kondisi Shroff & Asgarpour, . menjelaskan bahwa yoga merupakan teknik yang mudah diakses, diterima secara luas, serta hemat biaya untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik. Peneliti tersebut juga menjelaskan bahwa banyak individu beralih pada yoga karena kemampuannya dalam meningkatkan kesehatan mental dengan manfaat yang lebih besar dan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan pengobatan farmakologis maupun psikoterapi. Selain itu, yoga juga memberikan manfaat tambahan berupa peningkatan kebugaran fisik serta kepercayaan diri. (Shroff & Asgarpour, 2. Hasil penelitian yang menguji pengaruh yoga terhadap tindakan bullying juga menunjukkan bahwa program yoga mampu mengurangi stres dan perilaku bullying yang dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan emosional, dan kesehatan fisik remaja perkotaan (Centeio. Whalen. Thomas. Kulik, & McCaughtry, 2. Siswa melaporkan menikmati program yoga dan menggunakan teknik yoga serta mindfulness untuk membantu menghilangkan stres dan keinginan untuk melakukan tindakan agresif dalam kehidupan sehari-hari (Centeio et al. , 2. Disisi lain, penelitian tersebut perlu dikaji lebih jauh dengan memberikan program yoga yang lebih intensif dan panjang dengan durasi lebih dari 10 minggu (Centeio et al. , 2. Munawaroh et al. , . menemukan bahwa korban bullying baik secara fisik ataupun verbal memiliki kecenderungan yang tinggi untuk bertindak agresif. Oleh karena itu, pelaku dan juga korban bullying perlu mendapatkan perhatian khusus untuk memperbaiki perilakunya agar tidak ada lagi korban bullying akibat dari tindakan agresif (Munawaroh et al. , 2. Tindakan agresif salah satunya dapat diturunkan melalui yoga (Velysquez. Lypez. Quiyonez, & Paba, 2. Yoga sebagai ekstrakurikuler yang diberikan di sekolah menyebabkan perilaku agresif yang dimiliki oleh teman-temannya mengalami penurunan dalam waktu 4 bulan (Velysquez et al. , 2. Kemampuan untuk regulasi emosi juga menjadi hal yang penting dalam mengatasi bullying karena hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakmampuan dalam meregulasi emosi meningkatkan risiko untuk menjadi pelaku ataupun korban bullying di dunia maya (Araty. Zsidy. Rivnyyk. Pyley, & Lybadi, 2. Penelitian yang dilakukan Rashedi. Rowe. Thompson. Solari, & Schonert-Reichl, . menunjukkan bahwa intervensi yoga juga dapat meningkatkan kemampuan regulasi diri. Intervensi yoga yang meliputi pengaturan nafas . , latihan asana/postur, dan mengembangkan kesadaran akan sensasi yang dirasakan tubuh . riya, mudra, dan bandh. pada saat berlatih yoga dapat berkontribusi terhadap kemampuan anak-anak dalam mengidentifikasi, mengatur, dan mengelola emosi secara efektif (Rashedi et al. , 2. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen dengan desain praeksperimen one-group pretest-posttest. Populasi penelitian terdiri dari 21 siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede. Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah total sampling, dengan kriteria inklusi meliputi siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede berusia 9 hingga 10 tahun yang belum pernah mengikuti latihan hatha yoga. Sementara itu, kriteria eksklusi adalah siswa yang tidak diizinkan untuk mengikuti latihan tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui metode self-report menggunakan kuesioner Olweus Bully/Victim Questionnaire (OBVQ) yang dikembangkan dan diuji oleh Gonyalves et al. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . Instrumen ini terdiri atas kuesioner untuk pelaku bullying dan korban bullying dengan reliabilitas alpha Cronbach sebesar 0,87 untuk pelaku dan 0,85 untuk korban. Pengukuran dilakukan pada tahap pretest dan posttest setelah pemberian intervensi hatha Intervensi berupa latihan hatha yoga diberikan sebanyak 16 sesi, dengan durasi 2 jam per sesi dan frekuensi 2 kali per minggu, sehingga penelitian berlangsung selama dua Pelatihan dipandu oleh instruktur yoga yang kompeten. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dengan bantuan aplikasi Statistical Product and Social Science (SPSS) versi 27. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini diawali dengan uji normalitas data guna menentukan apakah distribusi data mengikuti pola normal. Peneliti menerapkan uji Shapiro-Wilk sebagai metode statistik untuk mengevaluasi normalitas data. Hasil sebaran uji normalitas dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Data Kuesioner Pelaku Bully Kuesioner Shapiro-Wilk P > 0. Bentuk Pelaku Bully Pretest Tidak Normal Posttest Tidak Normal Berdasarkan hasil uji normalitas pada kuesioner pelaku bullying saat pretest, nilai Shapiro-Wilk yang diperoleh sebesar 0,696 dengan signifikansi p = 0,000 . < 0,. Sedangkan pada posttest, nilai Shapiro-Wilk tercatat sebesar 0,901 dengan signifikansi p = 0,037 . < 0,. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa distribusi data pelaku bullying pada kedua tahap pengukuran, yaitu pretest dan posttest, tidak memenuhi asumsi Sebaran data uji normalitas untuk kuesioner korban bullying dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Data Kuesioner Korban Bully Kuesioner Shapiro-Wilk P > 0. Bentuk Korban Bully Pretest Tidak Normal Posttest Normal Berdasarkan uji normalitas pada kuesioner korban bullying saat pretest, nilai Shapiro-Wilk yang diperoleh adalah 0,893 dengan signifikansi p = 0,026 . < 0,. Sedangkan pada posttest, nilai Shapiro-Wilk tercatat sebesar 0,914 dengan signifikansi p = 0,066 . > 0,. Hasil ini mengindikasikan bahwa data korban bullying pada tahap pretest tidak berdistribusi normal, sementara data pada tahap posttest menunjukkan distribusi normal. Selanjutnya, hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji Wilcoxon disajikan sebagai berikut. Tabel 4. Hasil Uji Wilcoxon Kuesioner Pelaku Bully Posttest - Pretest Asymp. Sig. -taile. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon pada kuesioner pelaku bullying, diperoleh nilai Z sebesar -2,733 dengan tingkat signifikansi 0,006 . < 0,. Temuan ini mengindikasikan adanya perbedaan signifikan dalam perilaku bullying yang dilakukan oleh siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede sebelum dan sesudah intervensi hatha yoga. Selain itu, peneliti juga melakukan pengujian terhadap kuesioner korban bullying dengan hasil sebagai berikut. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tabel 5 Hasil Uji Wilcoxon Kuesioner Korban Bully Posttest - Pretest Asymp. Sig. -taile. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon pada kuesioner korban bullying, diperoleh nilai Z sebesar -0,971 dengan signifikansi 0,331 . > 0,. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam perlakuan yang dialami oleh korban bullying pada siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede sebelum dan sesudah pemberian intervensi hatha yoga. Meskipun demikian, para siswa melaporkan adanya penurunan dalam perlakuan bullying setelah mengikuti latihan hatha yoga, namun penurunan tersebut tidak mencapai tingkat signifikansi. Berikut ini disajikan deskripsi kategorisasi skor kuesioner pelaku dan korban bullying yang diperoleh partisipan sebelum dan setelah intervensi hatha yoga. Tabel 6. Deskripsi Kategorisasi Skor Kuesioner Pelaku Bully dan Korban Bully Kuesioner Pelaku Bully Kuesioner Korban Bully Kategorisasi Skor Pretest Posttest Pretest Posttest Sangat Tidak Pernah 0 orang 0 orang 0 orang 0 orang Tidak Pernah 3 orang 7 orang 6 orang 6 orang Kadang-Kadang 14 orang 9 orang 9 orang 10 orang Sering 3 orang 3 orang 4 orang 3 orang Sangat Sering 1 orang 2 orang 2 orang 2 orang Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hatha yoga memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku bullying pada siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede. Hasil ini sejalan dengan temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Centeio et al. , . Peneliti tersebut meneliti tentang penggunaan yoga untuk menurunkan tingkat stres dan tindakan bullying pada remaja perkotaan. Peneliti tersebut menemukan bahwa program yoga mampu mengurangi stres dan perilaku bullying yang berdampak jangka panjang pada kesehatan emosional, dan kesehatan remaja perkotaan. Program dan teknik yoga serta mindfulness dapat membantu menghilangkan stres dan keinginan untuk melakukan tindakan agresif dalam kehidupan sehari-hari (Centeio et al. , . Peneliti tersebut juga menemukan bahwa yoga dengan teknik pernafasan memberikan manfaat dalam membantu mengelola stres, mengendalikan kemarahan, dan agresi serta meningkatkan Temuan ini juga diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutrisna, . Peneliti tersebut menemukan bahwa latihan pernafasan atau pranayama menyebabkan fokus perhatian dari luar lingkungan dihilangkan dan menjadi fokus perhatian ke dalam diri atau tubuh partisipan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya penurunan adrenalin, penurunan tekanan darah yang dapat merubah respon hipotalamus untuk menurunkan rangsang saraf simpatis dan meningkatkan rangsang saraf parasimpatis yang dapat memicu penurunan tingkat stres (Sutrisna, 2. Pascoe et al. , . mengemukakan bahwa yoga adalah praktik yang bertujuan menyatukan tubuh, jiwa, dan pikiran melalui kombinasi postur fisik . , meditasi, dan pernapasan terkontrol . Menurut Saraswati, . , asana dapat dilakukan oleh individu sehat maupun yang sedang mengalami kondisi kesehatan tertentu, baik muda maupun tua. Pranayama adalah latihan pernapasan yang merangsang serta meningkatkan energi dan sangat penting untuk mengendalikan aliran prana dalam tubuh secara optimal. Mudra merupakan metode yang bertujuan mencapai kesadaran spiritual serta proses pengendalian pikiran, sehingga mendukung kesehatan mental dan Bandha adalah teknik menahan, mengunci, atau mengencangkan yang memberikan efek pijatan pada organ tubuh, sehingga membantu memperbaiki fungsi dan kesehatan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH organ tersebut. Sementara itu, kriya adalah latihan yang dapat membangkitkan kemampuan psikis untuk menjaga kestabilan kondisi mental. Penelitian yang dilakukan Rashedi et al. , . menunjukkan bahwa intervensi yoga juga dapat meningkatkan kemampuan regulasi diri. Intervensi yoga yang meliputi pengaturan nafas . , latihan asana/postur, dan mengembangkan kesadaran akan sensasi yang dirasakan tubuh . riya, mudra, dan bandh. pada saat berlatih yoga dapat berkontribusi terhadap kemampuan anak-anak dalam mengidentifikasi, mengatur, dan mengelola emosi secara efektif (Rashedi et al. , 2. Kemampuan untuk regulasi emosi juga menjadi hal yang penting dalam mengatasi bullying karena hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakmampuan dalam meregulasi emosi meningkatkan risiko untuk menjadi pelaku ataupun korban bullying di dunia maya (Araty et al. , 2. Velysquez et al. , . menjelaskan bahwa yoga dapat menurunkan tingkat agresivitas seseorang dalam kurun waktu 4 bulan. Munawaroh et al. , . menemukan bahwa korban bullying baik secara fisik ataupun verbal memiliki kecenderungan yang tinggi untuk bertindak agresif. Oleh karena itu, yoga dapat mencegah seseorang untuk melakukan tindakan bully melalui penurunan tingkat agresivitas yang dimiliki oleh orang tersebut. Peneliti lain yaitu Tasan et al. , . menemukan bahwa penerapan praktik yoga yang holistik dapat meningkatkan kesadaran seseorang akan pikiran dan tubuhnya, serta mengalami peningkatan kemampuan dalam pengelolaan emosi dan stres. Hal ini karena yoga sebagai latihan psikologi positif dapat membuat seseorang untuk tetap berfokus pada masa atau kejadian saat ini dan mengarahkan perhatian pada keberadaan psikofisik dari orang yang berlatih yoga tersebut. Suputra et al. , . menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan untuk berfokus pada kejadian atau masa kini cenderung memiliki kontrol diri yang kuat. Individu yang memiliki kesadaran terhadap pikiran dan perilakunya biasanya menunjukkan kontrol yang baik atas keyakinan diri, sehingga mereka cenderung tidak bertindak secara impulsif saat menghadapi pengalaman negatif (Morley. Terranova. Cunningham, & Kraft, 2. Dengan demikian, latihan yoga secara holistik dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam menahan diri dan mencegah perilaku negatif seperti bullying. Pelaksanaan yoga dalam jangka panjang, terutama jika melibatkan peran serta orang tua maupun guru, berpotensi memberikan dampak yang lebih signifikan dan positif. Sebuah studi oleh Wilson & McLuckie, . menunjukkan bahwa program yoga keluarga selama delapan minggu secara signifikan meningkatkan harga diri anak dan memperkuat kedekatan hubungan antara anak dan pengasuh utama. Partisipasi bersama ini menciptakan ruang aman untuk membangun kepercayaan, empati, dan komunikasi yang lebih terbuka, sehingga memperkuat ikatan emosional yang mendukung kesejahteraan psikologis anak. Selain itu, intervensi yoga berbasis keluarga tidak hanya meningkatkan keterampilan regulasi emosi anak, tetapi juga mempererat koneksi antar anggota keluarga melalui praktik bersama dan refleksi dalam jurnal keluarga, yang memperkuat dukungan emosional di rumah (Graves et al. , 2. Penelitian oleh Butzer. Ebert. Telles, & Khalsa, . menemukan bahwa program yoga berbasis sekolah yang dipimpin oleh guru dapat meningkatkan regulasi emosi dan perhatian siswa, serta mengurangi tingkat stres dan kecemasan. Partisipasi aktif guru dalam pelaksanaan yoga tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga memperkuat hubungan antara guru dan siswa, sehingga menciptakan suasana belajar yang lebih harmonis dan produktif. Oleh karena itu, sekolah disarankan untuk mempertimbangkan integrasi yoga sebagai bagian dari kurikulum atau sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran rutin, sebagai upaya program anti-bullying dan pengembangan karakter, guna mewujudkan lingkungan sekolah yang ramah, aman, dan nyaman bagi anak-anak. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berikut adalah contoh pelaksanaan yoga yang dilakukan secara bersama-sama oleh guru dan siswa di SD No. 2 Sibanggede. Gambar 1. Latihan Yoga (Sumber : Dokumentasi Penelit. Penelitian ini juga mendapatkan hasil bahwa peserta yang melaporkan dirinya sebagai korban bully merasa mengalami penurunan intensitas tindakan bully dari temantemannya, hanya saja hal ini ditemukan tidak secara signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian hatha yoga kepada siswa kelas i SD No. 2 Sibanggede memberikan dampak yang berbeda antara pelaku bullying dan korban bullying. Hal ini memberikan petunjuk bahwa ada berbagai faktor yang mempengaruhi seseorang mendapatkan tindakan atau perlakuan bully. Volk et al. , . menjelaskan bahwa ketidakseimbangan kekuatan menjadi ciri yang penting dari tindakan intimidasi dalam konsep bullying. Oleh karena itu, ketidakmampuan korban untuk melakukan perlawanan dengan berbagai alasan mungkin dapat menjadi penyebab masih sering terjadinya perlakuan bully yang dilaporkan oleh korban. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa rata-rata partisipan melaporkan keterlibatan mereka dalam tindakan bullying sebagai pelaku dalam frekuensi kadangkadang. Selain itu, rata-rata partisipan juga melaporkan dirinya sering sebagai korban dari tindakan bully. Hasil deskripsi dari partisipan penelitian tersebut memberikan penjelasan bahwa rata-rata siswa kelas i SD No 2 Sibanggede terlibat dalam tindakan bully sebagai korban sekaligus pelaku. Mandira & Stoltz, . menyebutkan bahwa siswa dapat terlibat dalam tindakan bully dengan berbagai peran yaitu ada siswa yang menjadi korban, ada siswa yang menjadi pelaku, ada siswa yang menjadi korban sekaligus pelaku, dan ada juga siswa yang tidak menjadi korban sekaligus tidak menjadi pelaku. Siswa yang memiliki tingkat agresivitas yang tinggi cenderung ditemukan memiliki risiko yang lebih besar justru menjadi korban bully ataupun menjadi korban bully sekaligus pelaku bully (Mandira & Stoltz, 2. Kesimpulan Ada pengaruh hatha yoga terhadap bullying pada siswa kelas i SD No 2 Sibanggede. Pelaku bully melaporkan bahwa terjadi penurunan yang signifikan dari tindakan bully yang dilakukan pada saat sebelum dan setelah diberikan Hatha Yoga. Korban bully juga melaporkan ada penurunan perlakuan bully yang diterima, hanya saja tidak terjadi secara signifikan. Hatha yoga berpengaruh terhadap bullying dengan menurunkan tingkat agresivitas pada pelaku bully dan juga meningkatkan kemampuan sosial emosional pada korban bully. Oleh karena itu, sekolah perlu melanjutkan latihan yoga ini sebagai sebuah program anti bullying untuk mewujudkan sekolah yang ramah, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH aman, dan nyaman untuk anak-anak. Replikasi terhadap penelitian ini diperlukan dengan meningkatkan jumlah sampel penelitian serta menggunakan kelompok pembanding untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Daftar Pustaka