ISLAMICA : Journal Of Islamic Education Research E-ISSN: 3090-773X Editional Address: Jl. Rawa Sakti. Tibang Syiah Kuala. Banda Aceh MELATIH KEMAMPUAN KOLABORASI MELALUI KEGIATAN TAHSIN BERBASIS PEER TEACHING Zahra Aura Nisya. Mohamad Joko Susilo. * Email: 25913024@students. id 1, 209131301@uii. Universitas Islam Indonesia ABSTRACT This study aims to analyze in depth the effectiveness of peer teaching based tahsin activities in training students' collaborative skills in the Qur'an learning process. This study uses a library research method with a qualitative approach. The results of the literature review indicate that the implementation of peer teaching based tahsin has strong potential in constructing active student participation and internalizing values such as social attitudes, respect, responsibility and the ability to work together in improving the quality of Qur'an Through the peer tutoring mechanism, relationships between students improve, creating an interactive, transparent, and inclusive learning environment. This structured condition helps achieve the objectives of tahsin learning in an effective and efficient manner. Thus, this study reveals that the peer teaching method not only plays a role as an instrument in improving tajweed recitation, but also functions as a means of developing emotional aspects and strengthening collaborative competencies that are important for students. Keywords: Tahsin. Peer Teaching. Colaboration ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam efektivitas kegiatan tahsin berbasis peer teaching dalam melatih kemampuan kolaborasi peserta didik pada proses pembelajaran Al-QurAoan. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa implementasi tahsin berbasis peer teaching berpotensi kuat dalam mengonstruksi partisipasi aktif peserta didik serta menginternalisasi nilai-nilai seperti sikap sosial, menghargai, tanggung jawab dan kemampuan bekerja sama dalam memperbaiki kualitas bacaan Al-QurAoan. Melalui mekanisme tutor sebaya, hubungan di antara siswa menjadi lebih baik, membentuk lingkungan belajar yang interaktif, transparan, dan inklusif. Kondisi ini secara terstruktur membantu mencapai tujuan pembelajaran tahsin dengan cara yang efektif dan efisien. Dengan demikian, kajian ini mengungkapkan bahwa metode peer teaching tidak hanya berperan sebagai instrumen dalam memperbaiki bacaan tajwid, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pengembangan aspek emosional dan penguatan komptensi kolaboratif yang penting bagi siswa. Kata Kunci: Tahsin. Peer Teaching. Kolaborasi PENDAHULUAN Al-QurAoan merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril dan menjadi pedoman hidup bagi umat Islam yang harus dibaca, dipahami dan diamalkan dengan baik dan benar yang dinilai sebagai bentuk ibadah (Fitria, 2. Dalam membaca Al-QurAoan harus sesuai makharijul huruf dan ilmu tajwid, sehingga pembelajaran AlQurAoan perlu adanya salah satu aspek penting dalam membaca Al-QurAoan yaitu tahsin, yang artinya memperbaiki dan memperindah bacaan Al-QurAoan agar membaca Al-QurAoan mampu sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dan makharijul huruf. Kemampuan tahsin Al-QurAoan tidak hanya menunjukkan bentuk kecintaan kepada Al-QurAoan melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap wahyu Allah yang suci. Oleh karena itu, pembelajaran tahsin Al-QurAoan itu memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi umat Islam yang mampu membaca Al-QurAoan yang baik dan benar. Dalam dunia pendidikan saat ini, kemampuan yang perlu dikembangkan dalam abad ke 21 ini salah satunya dengan berkolaborasi. Berkomunikasi dengan baik, saling menghormati dalam belajar yang tidak hanya membantu mencapai hasil akademik yang baik, tetapi juga membentuk sikap sosial yang baik. Di tengah tantangan pembelajaran saat ini yang semakin rumit, guru diharapkan dapat menggunakan metode pembelajaran yang tidak menekankan pada pemahaman materi, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan siswa, termasuk dalam berinteraksi dan Dalam membaca Al-QurAoan, terutama pada pembelajaran tahsin seringkali proses pembelajaran dilakukan dengan individual maupun klassikal yang berpusat pada guru. Model pembelajaran ini membuat santri kurang berinteraksi satu sama lain sehingga kemampuan kolaborasi antar santri kurang berkembang dengan baik. Padahal, tahsin menjadi pembelajaran yang mampu mengembangkan media secara kolaboratif apabila sesuai dengan pendekatan yang Salah satu metode dengan kolaborasi yang tepat yaitu dengan model pembelajaran peer teaching belajar antar teman. Yang mana metode ini peserta didik yang lebih mahir dalam memahami dan membaca Al-QurAoan menjadi tutor bagi peserta didik lainnya yang belum lancar dan memahami dalam membaca Al-QurAoan. Dengan menggunakan metode ini memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi langsung dengan mendengarkan bacaan satu sama lain, memberikan masukan, serta memperbaiki kesalahan bersama. Sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih hidup, ramah dan mendapatkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dalam diskusi (Ermayulis. Melalui peer teaching, peserta didik tidak hanya belajar membaca Al-QurAoan dengan lebih efektif, akan tetapi dilatih untuk kolaborasi antar santri lainnya mengenai cara membaca Al-QurAoan yang benar dengan berkomunikasi dan saling menghargai. Proses ini menciptakan suasana belajar yang interaktif dan kolaboratif, dimana peserta didik yang lebih mahir memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki bacaan santri. Kemampuan membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid menjadi tantangan di berbagai lembaga pendidikan Islam. Berdasarkan jurnal Lisa Mahdalena dkk hasil penelitian di SMA Negeri 1 Besitang, ditemukan bahwa masih terdapat sebagian siswa yang malu bertanya langsung ke guru untuk mengajukan pertanyaan ketika mereka kurang memahami materi Mereka cenderung nyaman ketika bertanya langsung ke teman sebayanya. Hal ini penerapan metode peer teaching dapat meningkatkan pemahaman siswa dan partisipasi aktif dalam pembelajaran dan memahami materi (Sitepu & Agustia, 2. Dalam kegiatan tahsin Al-QurAoan, terdapat kondisi ideal yaitu saat peserta didik mampu mencapai tujuan tahsin Al-QurAoan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW yaitu dengan membaca ayat sesuai dengan makharijul huruf, memenuhi sifat huruf, dan memperhatikan kaidah-kaidah dalam ilmu tajwid (Adiningsih et al. , 2. Harapannya, metode peer teaching dalam Tahsin Al-QurAoan mampu menghasilkan peserta didik yang tidak hanya lancar dalam membaca Al-QurAoan saja, melainkan mampu menjaga ketepatan pada pelafalan huruf di setiap ayat Al-QurAoan dan juga mampu menerapan kaidah-kaidah ilmu tajwid dalam membaca ayat Al-QurAoan. Menurut Quraish Shihab dalam jurnalnya Nurul Syahira menegaskan bahwa pentingnya membaca Al-QurAoan secara tartil, yaitu dengan perlahan, jelas, dan memperhatikan setiap huruf dan jeda setiap bacaan. Hal ini agar pembaca dan pendengar dapat menangkap pesan yang terkandung didalam ayat tersebut (Syahira, 2. Dalam konteks pendidikan saat ini memandang pentingnya menguasai keterampilan dalam Melalui metode peer teaching ini memungkinkan peserta didik memperoleh keberlangsungan belajar secara kolektif, dimana peserta didik dapat saling menyimak bacaan teman lainnya dan memperbaiki bacaan Al-QurAoan secara bersama-sama, dibawah bimbingan guru. Selain itu, melalui pendekatan ini diharapkan muncul budaya belajar yang kolaboratif, bukan kompetitif. Peserta didik tidak hanya fokus pada kemajuan pribadi, melainkan peduli terhadap perkembangan teman-temannya. Oleh karena itu, kajian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kemampuan kolaborasi melalui kegiatan tahsin berbasis peer teaching Idealisme harapan baru dari kajian ini terletak pada pembelajaran modern berbasis kolaboratif yaitu dengan menggunakan metode peer teaching. Selama ini, kegiatan tahsin di berbagai lembaga pendidikan Islam cenderung berfokus pada peningkatan kemampuan teknis membaca AlQurAoan dengan model pembelajaran yang masih bersifat klassik. Kajian ini menghadirkan perspektif baru dengan menempatkan peserta tidak hanya penerima ilmu, tetapi juga sebagai mitra belajar yang aktif saling membantu dalam memperbaiki bacaan Al-QurAoan. selain itu juga menumbuhkan nilai-nilai kolaboratif seperti kerjasama, tanggung jawab, empati, dan komukasi yang efektif. Demikian, diharapkan kajian penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam dunia pendidikan Islam, yaitu menghadirkan model pembelajaran tahsin yang tidak hanya membentuk generasi membaca Al-QurAoan yang fasih, akan tetapi membentuk generasi yang mampu berkolaborasi dalam menjunjung tinggi nilai ukhuwah Islamiyah. Metode peer teaching diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk belajar lebih aktif dan konsisten dalam belajar tahsin agar mencapai tujuan membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan makharijul huruf dan kaidah ilmu tajwid. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka . ibrary researc. Menurut Yaniawati dalam jurnalnya Subaryo menyatakan bahwa penelitian studi pustaka merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi secara menyeluruh dengan mengandalkan berbagai sumber literatur seperti artikel, buku, jurnal, catatan dan referensi lainnya (Subaryo, 2. Pemilihan metode ini didasarkan pada kebutuhan untuk membangun pemahaman konseptual yang mendalam mengenai mekanisme pengembangan kemampuan kolaborasi melalui metode peer teaching dalam pembelajaran tahsin AlQurAoan. Data yang digunakan bersifat sekundar yang diperoleh melalui penelusuran literatur berbagai basis data akademik bereputasi seperti Google Scholar dan portal jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Untuk menjaga kualitas dan validitas data hasil kajian dalam penelitian ini ditetapkan melalui beberapa tahapan. Kriteria inklusi yang digunakan meliputi: . literatur harus memiliki relevansi tematik langsung dengan kata kunci Autahsin, kolaborasi dan peer teachingAy. memprioritaskan literatur yang diterbitkan dalam rentang waktu lima tahun terakhir untuk memastikan kebaruan . sumber referensi harus berasal dari jurnal ilmiah yang terakreditasi, buku teks dari penerbit beruputasi atau dokumen resmi yang dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Tahsin Berbasis Peer Teaching dalam Penguatan Kemampuan Kolaborasi Kata tahsin berasal dari bahasa arab yaitu AuHassana-Yuhassinu-TahsinanAy yang memiliki arti memperbaiki, memperindah atau menjadikan lebih baik dari sebelumnya, menghias dan meningkatkan bacaan Al-QurAoan. Kata tahsin Al-QurAoan berarti suatu cara untuk memperbaiki pengucapan ayat-ayat Al-QurAoan sesuai dengan kaidah-kaidahnya, seperti pelafalan setiap huruf, tajwid, harakat, hingga keindahan dalam bacaannya (Abdullah et al. , 2. Maka pengertian tahsin Al-QurAoan adalah suatu proses pembelajaran seseorang untuk dapat membaca Al-QurAoan mencapai kesempurnaan tajwid yang baik dan benar. Di kalangan masyarakat, istilah tahsin masih kurang dikenal bahkan terasa asing, sedangkan yang lebih sering terdengan adalah dengan sebutan tajwid. Tajwid berasal dari kata JawwadaYujawwidu-Tajwidan. Sesungguhnya tahsin dan tajwid memiliki makna yang serupa, sebab tajwid juga berarti memperindah atau memperbaiki bacaan. Perbedaanya teletak pada fokusnya, di mana tajwid lebih menekankan aspek teori, sementara tahsin lebih pada pelaksanaannya. Menurut Rohmadi dalam jurnalnya Nur Aziz dkk menyatakan bahwa, pembelajaran tahsin Al-QurAoan berlangsung saat pengetahuan tentang tahsin yang mencakup hukum-hukum bacaan, sifat huruf, dan makharijul huruf diajarkan kepada orang lain secara tepat dan akurat (Aziz et al. , 2. Metode pembelajaran cara yang digunakan pendidik untuk menyampaikan materi sehingga tercapai tujuan dari pembelajaran. Dalam hal ini sering kali tahsin menggunakan metode pembelajaran yang masih bersifat tradisional merupakan salah satu hambatan dalam meningkatkan pemahaman tajwid peserta didik. Partisipasi aktif peserta didik dalam program tahsin Al-QurAoan mencerminkan motivasi instrinsik yang dapat berpenaruh terhadap kesuksesan proses pembelajaran (Karim et al. , 2. Guru sering kali hanya memberikan penjelasan secara teori tanpa melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini menyebabkan peserta didik menjadi pasif dan kesulitan dalam memahami serta menginternalisasi hukum-hukum tajwid. Disamping itu, sifat pembelajaran yang membosankan dan kurang interaktif juga berdampak pada minat belajar peserta didik, sehingga mereka tidak termotivasi untuk mengikuti mengikuti pembelajaran tahsin Al-QurAoan. Pembelajaran tahsin biasanya dilakukan dengan metode klassikal, talaqqi, maupun Dalam metode klassikal maupun talaqqi yaitu proses pembelajaran tahsin secara langsung dari guru kepada murid dengan musyafahah . atap muka dan mendengar langsung bacaan Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan inovatif. Salah satunya yang dapat diterapkan adalah Peer Teaching. Hal ini ketika diterapkan dalam pembelajaran tahsin menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih bersifat Peserta didik yang lebir mahir dalam membaca dan menguasai ilmu tajwid dapat menjadi tutor untuk teman lainnya, dalam hal ini peserta didik saling membantu dan memperbaiki pengucapan dan memperkuat pemahaman tajwid. Sehingga mendorong perkembangan dalam kemampuan kolaborasi seperti bekerja sama, komunikasi yang efektif, dan saling menghargai antar Peer teaching dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah tutor sebaya. Menurut Ahmad Tafsir dalam tesisnya Ahmad Rosyadi menyatakan bahwa metode peer teaching adalah cara mengajar yang dilakukan dengan menjadikan teman dalam kelompok. Peserta didik yang dipandang memiliki kemampuan atau kompetensi tertentu untuk mengajari teman lain yang belum menguasai kompetensi tersebut (Rosyadi, 2. Dalam konteks ini peserta didik yang menjadi tutor hendaknya mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman lainnya, sehingga pada saat memberikan bimbingan ia sudah dapat menguasai dalam membaca Al-QurAoan dan memahami kaidah tajwid yang akan disampaikan terhadap temannya. Menurut Silbermen dalam jurnalnya Yudi Surono dkk, menyatakan bahwa. Satu pelajaran benar-benar bisa dipahami apabila peserta didik mampu mengajarkan pada teman lainnya, karena dengan mengajar teman sebaya dapat memberikan kesempatan peserta didik untuk mempelajari suatu materi pada waktu yang sama di saat ia menjadi tutor bagi teman yang lain, serta mendorong pada peserta didik mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama ia menjadi narasumber bagi yang lain (Surono, 2. Metode pembelajaran ini sesuai dengan QS Al-Maidah ayat 2 yang AyA a AEEA a AOIa eOA a AOIa eOA a e AEaOA a aAEaO eE a a aOE ac eC OO aO aE aA a aOaA a A a eO a eE aCaA a c caAEE aIA a AI aOacCaO c NA a AEe aI aO eEa aeOA Artinya : AuTolong menolonglah kamu dalam . kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesunggunya Allah sangat berat siksaan-NyaAy(Surat Al-MaAoidah Ayat 2, n. Analisis Faktor Pendukung dan Penghambat Kegiatan Tahsin Berbasis Peer Teaching Berdasarkan temuan berbagai studi, peningkatan kemampuan membaca Al-QurAoan dengan tahsin berbasis peer teaching menunjukkan bahwa metode ini efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Hal ini sejalan dengan pendapatnya Slavin dalam jurnalnya Nurul Himayati dkk menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif, termasuk peer teaching, dapat meningkatkan hasil belajar karena melibatkan interaksi aktif antar peserta didik, membangun kepercayaan diri, dan memperdalam pemahaman melalui diskusi teman sebaya (Himayati & Qamariyah, 2. Adanya lingkungan belajar yang saling mendukung dan minim tekanan dari teman sebaya mempercepat pendalaman pemahaman dan keterampilan membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Hasil yang didapatkan dari temuan literatur study pustaka terdapat beberapa faktor yang mendukung keberhasilan pelaksanaan tahsin berbasis peer teaching. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi aspek internal dari peserta didik dan eksternal dari lingkungan Faktor pendukung kegiatan tahsin berbasis peer teaching adalah: Motivasi dan antusiasme peserta didik Temuan hasil literatur menunjukkan bahwa keberhasilan metode pengajaran teman sebaya dalam pembelajaran tahsin dipengaruhi oleh motivasi instrinsik peserta didik yang didorong oleh lingkungan belajar yang kolaboratif. Mengacu pada teori belajar sosial yang diajukan oleh Bandura, dalam jurnalnya Warini dkk yang menyatakan bdukungan secara emosional serta lingkungan yang positif dari teman sebaya dapat memperkuat cara seseorang untuk menginternalisasi keterampilan baru (Warini et al. , 2. Paduan dukungan emosional dan rasa nyaman secara psikologis diantara teman sebaya terbukti dapat mengurangi hambatan emosional, sehingga menciptakan lingkungan yang positif. Dalam hal ini, interaksi antara peserta didik tidak hanya berfungsi sebagai media transfer ilmu kognitif, tetapi sebagai penguatan sosial yang memperkuat ketekunan peserta didik dalam meningkatkan kualitas bacaannya. Dengan demikian, faktor emosional yang muncul dari persahabatan menjadi penggerak utama dapat mempermudah mencapai tujuan pembelajaran tahsin Al-QurAoan. Peran aktif tutor sebaya Tutor sebaya berfungsi sebagai model dan fasilitator pembelajaran. pendekatan ini menumbuhkan student-centered learning dimana peserta didik menjadi subjek aktif, bukan hanya penerima materi. Menurut Sudjana dalam jurnalnya Reni Marlina menyatakan bahwa salah satu ciri keberhasilan pendidikan adalah keaktifan dan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan belajar (Marlina & Hananto, 2. Tutor sebaya yang lebih mahir dalam membaca Al-QurAoan dan memahami mengenai kaidah ilmu tajwid berperan besar dalam membimbing anggota kelompok. Mereka tidak hanya mengoreksi bacaan, tetapi juga memberikan contoh dan penjelasan bagaimana cara membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Keberhasilan kegiatan tahsin ini sangat berpengaruh berdasarkan pada kesiapan dan kualitas tutor. Dukungan guru pembimbing Efektivitas metode peer teaching dalam pembelajaran tahsin justru tidak mengurangi peran guru, tetapi mengubahnya sebagai fasilitaot yang mengarahkan dan membimbin interaksi positif antara peserta didik, memastikan bahwa peran teman sebaya berjalan sesuai dengan standar kualitas membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan ilmu Peran lebih dari sekedar menyampaikan materi dan mengevaluasi kegiatan. Melainkan guru secara aktif membimbing dan mengarahkan peserta didik mencakup memberikan strategi evaluasi yang efektif dengan menyampaikan umpan balik dan memastikan bahwa tujuan pembelajaran tercapai (Salsabila & Saddhono, 2. Lingkungan belajar yang kondusif Suasana kelas kegiatan tahsin atau halaqoh menjadi lebih kondusif dengan saling menghargai, penuh ukhuwan dan mendorong peserta didik untuk lebih terbuka terhadap koreksi dan diskusi antar peserta didik. Keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu indikator keberhasilan peserta didik dalam memahami Meskipun secara umum kegiatan tahsin berjalan dengan baik, namun terdapat beberapa kendala yang mempengaruhi efktefivitas pelaksanaan tahsin berbasis peer teaching. Faktor penghambat dalam kegiatan tahsin berbasis peer teaching adalah: Variasi gaya belajar Setiap peserta didik pastinya memiliki gaya berlajar yang berbeda. Diantaranya ada yang lebih suka mendengarkan, ada yang harus dengan mempraktikkan langsung. Hal ini tutor belum berpengalaman terkadang kesulitan dalam menyesuaikan strategi belajar. Dengan mengoptimalkan faktor pendung dan meminimalkan faktor penghambat, maka metode peer teaching dalam tahsin dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan sekaligus dapat memperkuat nilai-nilai kolaborasi, tanggung jawab, dan ukhuwah diantara peserta didik. Kurangnya kepercayaan diri tutor Rendahnya kepercayaan diri tutor dalam proses pembelajaran berimplikasi pada keraguan saat sesi simakan, sehingga proses bimbingan menjadi tidak optimal. Tutor cenderung mengalami hambatan komunikasi yang dapat mendistorsi efektivitas dalam menjelaskan materi tahsin (Maulidiyah et al. , 2. Oleh karena itu, kesiapan mental serta keterampilan mengajar para tutor sangat penting agar metode peer teaching tidak hanya sekedar menjadi formalitas interaksi, melainkan juga sarana untuk meningkatkan kualitas bacaan yang akurat. Hasil dari Melatih Kemampuan Kolaborasi Melalui Kegiatan Tahsin Berbasis Peer Teaching Implementasi tahsin berbasis peer teaching secara struktural mengadopsi model pembelajaran kooperatif dalam kelompok kecil . mall group interactio. dengan rasio ideal satu tutor berbanding dengan empat hingga enam peserta tergantung jumlah siswa dan pembagiannya. Secara fungsional, tutor sebaya yang bertanggung jawab untuk menyimak bacaan dan mengkoreksi ketika terdapat kesalahan dalam membaca yang belum tepat dengan kaidah ilmu tajwid serta melakukan validasi terhadap akurasi pelafalan sesuai kaidah ilmu tajwid dengan memberikan contoh membaca ayat Al-QurAoan dengan benar. Keberhasilan model ini sangat bergantung pada supervisi instruksional oleh guru utama yang berperan sebagai otoritas pengawas. Guru sebagai pembimbing dan pengawas terhadap semua kelompok kegiatan tahsin untuk memastikan tujuan pembelajaran dapat Metode tahsin ini suatu kegiatan atau cara yang telah tersusun secara maksimal untuk memperbaiki atau membaguskan dalam membaca Al-QurAoan (Husin & Arsyad, 2. Membaca Al-QurAoan dengan ilmu tajwid ini setidaknya ada beberapa penting yang harus dikuasai oleh peserta didik yaitu: Pertama, peserta didik dapat menguasai pelafalan dalam membaca huruf-huruf hijaiyah yang sesuai dengan makharijul huruf yang benar, menguasai sifat-sifat huruf (Basid et al. , 2. Kedua. Menguasai hukum bacaan tajwid yaitu bacaan mad, idgham, membunyikan ghunnah secara Implementasi tahsin berbasis peer teaching cenderung dapat meningkatkan partisipasi aktif peserta didik, keterampilan dalam berkomunikasi, saling menghagai dalam pembelajaran dan tanggung jawab saat peserta didik secara aktif menyimak bacaan temannya, memberikan umpan balik, dan memperbaiki bacaan Al-QurAoan secara berkelompok sehingga menjadi suasana kelas lebih kondusif dan menyenangkan. Metode tahsin berbasis peer teaching dapat meningkatkan kualitas bacaan peserta didik serta menciptakan kebiasaan membaca Al-QurAoan dengan baik dan benar. Selain meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, metode peer teaching berpengaruh pada pembentukan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai ukhuwah Islamian dan pada aspek afektif. KESIMPULAN Dalam pendidikan modern, kolaborasi sangat penting untuk keberhasilan akademis dan perkembangan sosial. Namun, pembelajaran Al-QurAoan yang biasanya mengikuti model pembelajaran klassik yang berpusat pada guru, dapat membatasi interaksi antar peserta didik. Hal ini adanya metode peer teaching dapat menjembatani kesenjangan dengan menjadikan peserta didik yang lebih menguasai dalam pemahaman materi untuk dijadikan tutor teman sebayanya. Metode ini menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan interaktif, sehingga dapat meningkatkan keterampilan membaca Al-QurAoan. Tujuannya adalah untuk mencapai bacaan yang akurat dengan mematuhi prinsip ilmu tajwid, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Penerapan metode ini mendorong pembelajaran yang kolektif, dimana peserta didik menyempurnakan bacaannya dengan teman sebaya di bawah pengawasan guru. Pendekatan ini memperkenalkan budaya kolaboratif yang dapat meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan yang sesuai dengan ilmu tajwid. REFERENSI