Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 101-107 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PEMBERIAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI USIA DINI Carissa Adeline1. Raja Oloan Tummanggor2 Program Studi Sarjana Psikologi. Universitas Tarumanagara Jakarta Email: carissa@stu. Fakultas PSikologi. Universitas Tarumanagara Jakarata Email: rajat@fpsi. Masuk: 05-10-2023 revisi: 19-10-2023, diterima untuk diterbitkan: 30-11-2023 ABSTRAK Pendidikan seks usia dini adalah pembahasan mengenai fungsi serta perbedaan anatomi tubuh laki-laki dan perempuan agar anak dapat menjaga baik kesehatan dan kebersihannya. Pendidikan seks juga bertujuan untuk mencegah terjadinya pelecehan dan kekerasan dalam hubungan, mengurangi kekerasan pada anak, mencapai hubungan yang sehat dan pembelajaran mengenai social-emotional. Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan persepsi orang tua terhadap pemberian pendidikan seks pada anak berkebutuhan khusus di usia dini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif. Subjek penelitian terdiri dari empat orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di usia dua sampai tujuh tahun. Penelitian mulai dilakukan pada bulan Desember 2022. Setelah itu, peneliti melakukan wawancara mendalam . n-depth intervie. terhadap subyek penelitian tersebut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dimensi psikologis dan aspek sosiologis pendidikan seks adalah hal yang mendominasi dalam pembentukan persepsi orang tua terhadap pendidikan seks. Hasil dari penelitian ini adalah persepsi orang tua terhadap pendidikan seks adalah dimensi psikologi dan aspek penentu seperti apa pendidikan seks akan diberikan kepada anak oleh orang tua adalah aspek sosiologi. Kata Kunci: Persepsi. Pendidikan Seks. Anak Usia Dini. Anak Berkebutuhan Khusus ABSTRACT Early sex education is a discussion about the functions and differences in male and female body anatomy so that children can maintain their health and hygiene. Sex education also aims to prevent abuse and violence in relationships, reduce violence against children, achieve healthy relationships and social-emotional learning. The purpose of this study was to describe parents' perceptions of giving sex education to children with special needs at an early age. This study uses a qualitative method with a narrative approach. The research subjects consisted of four parents who have children with special needs at the age of two to seven years. The research began in December 2022. After that the researchers conducted in-depth interviews with research subjects. The results of this study indicate that the psychological dimensions and sociological aspects of sex education are the things that dominate the formation of parents' perceptions of sex education. The result of this study is that parents' perception of sex education is a psychological dimension and the determining aspect of what kind of sex education will be given to children by parents is a sociological aspect. Keywords: Perception. Sex Education. Early Childhood. Special Needs PENDAHULUAN Latar Belakang Meningkatnya kasus pelecehan dan kekerasan seksual merupakan ancaman yang sangat mengerikan bagi generasi muda saat ini. Sekitar 20-30% wanita dan 10% pria pernah mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanak (Moody et al. , 2. Lembaga perlindungan saksi dan korban (LPSK) juga telah mencatat bahwa terjadi peningkatan jumlah permohonan perlindungan dan bantuan terhadap kasus kekerasan seksual terhadap anak. Peningkatan sebesar 70% terjadi pada tahun 2019. Hingga akhir tahun ditemukan sebanyak 350 kasus kekerasan seksual terhadap https://doi. org/10. 24912/jmmpk. PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PEMBERIAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI USIA DINI Carissa Adeline, et al. Sedangkan pada tahun 2018, permohonan perlindungan terhadap kasus kekerasan hanya mencapai 149 kasus (LPSK, 2. Saat ini angka kekerasan dan pelecehan anak terus bertambah setiap tahunnya. Menurut Jonas . Anak dengan disabilitas mental dan kecerdasan memiliki resiko mengalami pelecehan seksual 4,6 kali lebih tinggi dari anak yang tidak memiliki disabilitas. Hal ini terjadi karena pada anak berkebutuhan khusus terdapat gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami anak. Berkaitan dengan istilah disability, maka anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki keterbatasan di salah satu atau beberapa kemampuan baik itu bersifat fisik seperti tunanetra dan tunarungu, maupun bersifat psikologis seperti autism dan ADHD. Selain karena keterbatasan yang mereka miliki. Kenaikan kasus pelecehan dan kekerasan seksual pada anak terjadi karena kurangnya pemahaman anak mengenai pendidikan seksual. Menurut Yanuarti et al . di bekasi hanya 10% anak berkebutuhan khusus yang memiliki pengetahuan seks yang cukup. Kebanyakan anak Ae anak tidak dapat menyebutkan nama anatomi tubuh mereka dengan tepat. Serta, tidak mengetahui bagian-bagian private dari tubuh mereka yang tidak boleh disentuh orang lain selain orang tua. Sehingga, kemungkinan anak tidak mengetahui dirinya sedang mengalami pelecehan seksual pun sangat besar. Kurangnya pengetahuan seks sejak dini pada anak berkebutuhan khusus juga dapat menyebabkan perilaku seks yang tidak pantas atau tidak pada Seperti, melakukan masturbasi di muka umum, mencium orang lain/ orang asing secara tiba-tiba, memegang bagian private orang lain dan melakukan masturbasi secara berlebihan hingga menyebabkan sakit. Maka dari itu pendidikan seks untuk anak berkebutuhan khusus di usia dini penting diberikan. Menurut Piaget dalam Santrock . anak usia dini adalah anak-anak yang berusia dua sampai tujuh tahun dan dibagi kedalam dua tahapan. pada masa sensorimotor dan Orang tua harus memperhatikan beberapa hal mencakup perkembangannya baik dalam pengawasan maupun menjalankan perannya sebagai orang tua secara rinci dalam perkembangan kognitif seorang anak dalam tahap sensorimotor. Karena pada tahap sensorimotor, bayi mengalami kemajuan dalam mengambil tindakan. Sedangkan tahap praoperasional yang dimulai antara usia dua sampai tujuh tahun anak mulai memahami dunia dengan kata-kata dan gambar. Mereka mulai mengembangkan sebuah pemahaman yang stabil dan dapat melakukan penalaran. Dengan dimulainya tahapan perkembangan terhadap pemahaman yang stabil dan dapat melakukan penalaran ini orang tua dapat memberikan pendidikan seks kepada anak. Oleh karena itu, persepsi orang tua terhadap pemberian pendidikan seks pada anak berkebutuhan khusus di usia dini menjadi sangat penting. Namun. Kesadaran orang tua untuk memberikan pendidikan seks pada anak usia dini terutama yang memiliki kebutuhan khusus masih sangat rendah. Pendidikan seks bagi anak usia dini masih dianggap tabu oleh orang tua. Pemberian pendidikan seks terlalu dini dianggap dapat meningkatkan rasa penasaran anak dan menjadikan anak sebagai pelaku aktif bagi orang tua (Wismayanti et al. , 2. Hal ini Terjadi karena kebanyakan orang tua beranggapan bahwa pendidikan seks hanya berisi tentang perilaku seksual orang dewasa dan berbagai macam posisi dalam hubungan seks (Lestari & Parsetyo, 2. Sedangkan pada kenyataannya pengertian mengenai pendidikan seks bagi anak usia dini adalah pembahasan seputar perbedaan fungsi anatomi tubuh laki-laki dan perempuan bukan mengenai perilaku seksual orang dewasa (Justicia, 2. Counterman & Kirkwood . juga mengatakan secara tersirat tujuan utama dalam pendidikan seks pada anak usia dini hakikatnya adalah https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 101-107 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. mengenalkan anak tentang jenis kelamin dan cara menjaganya baik dari sisi kesehatan, kebersihan, kemapanan serta keselamatan berdasarkan tingkat perkembangan anak. Pemberian pendidikan seks bukan hanya pemberian informasi mengenai perbedaan anatomi antara laki-laki dan perempuan atau perkembangan alat reproduksi kepada anak. Pendidikan seks anak juga berfungsi sebagai pembangun kepercayaan diri anak dan membangun keterampilan untuk memilih tindakan yang akan diambil sehingga dapat meningkatkan kompetensi anak untuk menentukan sikap saat menghadapi sebuah situasi. Sesuai dengan pernyataan diatas, peneliti beranggapan bahwa sangat penting bagi orang tua untuk memiliki persepsi positif terhadap pendidikan seks karena orang tua merupakan manusia dewasa pertama yang dilihat dan ditiru oleh anak, terutama ketika anak berada di usia dini kesehariannya akan selalu bersinggungan dengan orang tua. Pandangan orang tua terhadap pendidikan seks sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya tempat mereka bertumbuh kembang. Di Indonesia topik seksual dan pendidikan seks masih cukup tabu untuk dibicarakan. Terlebih lagi kepada anak yang memiliki keterbutuhan khusus, orang tua lebih fokus mengurusi keterbutuhan khusus pada anak dibandingkan dengan pendidikan seks itu sendiri. Selain itu, tidak sedikit orang tua yang mengabaikan pendidikan seks untuk anak berkebutuhan khusus karena beranggapan bahwa anak belum dapat mengerti dan tidak dapat memahami hal seksual. Hal ini sangat menarik perhatian peneliti untuk melihat bagaimana gambaran persepsi orang tua saat ini terhadap pemberian pendidikan seks kepada anak usia dini apalagi terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, peneliti ingin melihat gambaran persepsi orang tua terhadap pemberian pendidikan seks pada anak berkebutuhan khusus di usia dini METODE PENELITIAN Karakteristik Partisipan Karakteristik partisipan dalam penelitian ini adalah Orang tua (Ayah/Ib. yang memiliki anak berkebutuhan khusus berusia dua sampai enam tahun, dan bersedia di wawancara oleh peneliti, partisipan berdomisili di Indonesia Teknik Sampling Teknik sampling yang digunakan untuk penelitian ini adalah purposive sampling. Maksud dari purposive sampling adalah sampel yang digunakan akan dipilih berdasarkan suatu kriteria dan lokasi yang sudah di tentukan oleh penulis. Hal ini bertujuan supaya penulis dapat memahami central phenomenon yang disesuaikan dengan tujuan penelitian (Herdiansyah, 2. Jenis Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Dengan pendekatan naratif. Prosedur yang digunakan dalam pendekatan ini adalah menceritakan persepsi atau pandangan subjek terhadap pemberian pendidikan seks anak berkebutuhan khusus sejak usia dini, dengan menceritakan persepsi subjek diharapkan peneliti dapat mengetahui bagaimana persepsi subjek terhadap pemberian pendidikan seks anak berkebutuhan khusus di usia dini. https://doi. org/10. 24912/jmmpk. PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PEMBERIAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI USIA DINI Carissa Adeline, et al. Setting dan Peralatan Penelitian Proses wawancara akan dilakukan di Jakarta dan Bandar Lampung secara luring, dengan jadwal yang sudah disepakati oleh peneliti dan partisipan. Peralatan penelitian ini adalah informed consent, pedoman wawancara, handphone untuk merekam proses wawancara, laptop untuk melakukan wawancara dan menulis penelitian ini serta, cinderamata berupa kebutuhan sehari-hari dan uang tunai untuk ucapan terima kasih kepada partisipan. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara semi-terstruktur sesuai jadwal dan tempat yang sudah disepakati oleh peneliti dan Partisipan yang akan di wawancara berjumlah empat sampai enam orang. Pencarian partisipan dilakukan dengan cara menyebarkan informasi kriteria yang dibutuhkan melalui media social seperti instagram, whatsapp, line dan telegram. Setelah menemukan partisipan yang sesuai dengan kriteria, peneliti akan mengontak partisipan tersebut. Jika partisipan bersedia untuk diwawancara, peneliti memberikan informed dan partisipan diminta kesediaannya untuk mengisi informed consent yang telah diberikan sebelum wawancara dimulai. Setelah itu peneliti mulai untuk melakukan wawancara dengan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya dan merekam proses wawancara tersebut. Gambaran Demografis Partisipan Partisipan didapatkan dengan cara menyebarkan poster yang berisi kriteria partisipan di sosial media yang dimiliki oleh peneliti . nstagram dan whatsap. Peneliti juga mendatangi rumah sakit dan klinik tumbuh kembang anak untuk mendapatkan partisipan. Jika partisipan setuju untuk melakukan wawancara maka akan dilakukan penjadwalan wawancara . eberapa dilakukan pada saat itu jug. Table 1. Gambaran Demografis Partisipan Data Diri Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3 Partisipan 4 Inisial Pendidikan SMA SMA Usia Anak 2 tahun 7 tahun 3 tahun 4 tahun Kondisi Anak Down syndrome. Palatoskisis. Tiroid. Jantung mental Spinal bifida Mikrosefalus, cerebral palsy. JK Anak Domisili Jakarta Lampung Lampung Lampung HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian, kita dapat melihat gambaran persepsi orang tua terhadap pemberian pendidikan seks untuk anak berkebutuhan khusus di usia dini masih tertutup. Pendidikan seks yang mereka ketahui hanyalah sebatas pelajaran mengenai perilaku seksual orang dewasa, yang berupa hubungan intim. Hanya satu dari empat partisipan yang memiliki pandangan cukup positif dan terbuka terhadap pemberian pendidikan seks pada anak berkebutuhan khusus di usia dini. Terbentuknya persepsi pada setiap subyek dilandasi oleh dua dimensi persepsi, dimensi fisik dan https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 101-107 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. Setiap subyek memiliki dimensi fisik dan psikologis yang berbeda. Subyek R dan LS memiliki kesamaan dalam dimensi fisik. Mereka tidak pernah merasa, mendengar ataupun melihat pendidikan seks saat mereka dalam masa pertumbuhan. Sedangkan subyek LI dan AS sudah mendapatkan pendidikan seks saat SMP. Setiap subyek memiliki dimensi psikologis yang berbeda. Subyek R dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang protektif. Subyek LS dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan. Subyek AS dan LI dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Ketika dilakukan pendalaman terhadap persepsi orang tua terhadap pendidikan seks ditemukan bahwa banyak aspek pendidikan seks yang telah mereka ketahui dan diterapkan kepada anak mereka. Aspek-aspek pendidikan seks ini dibagi menjadi tiga, biologis, psikologis dan sosiologis. Aspek biologis merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan organ reproduksi dan stimulus seksual. dalam pendidikan seks adanya aspek ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai perbedaan dan persamaan yang dimiliki oleh organ reproduksi laki-laki dan perempuan baik dalam sisi bentuk maupun fungsinya. Serta, setiap individu diharapkan dapat menjaga kebersihan dari setiap organ reproduksinya. Supaya organ reproduksi dapat melakukan fungsinya dengan optimal. Subyek R dan LI memahami bahwa aspek ini harus diajarkan kepada anak mereka. Namun, belum mereka ajarkan karena kondisi anak mereka yang berkebutuhan khusus dianggap belum bisa memahami hal ini. Subyek AS dan LS telah memberikan pendidikan ini kepada anaknya. Namun, usia pemberian pendidikan ini sedikit terlambat. Pada aspek ini orang tua juga harus memperhatikan cara mereka mengajar nama-nama organ tubuh kepada anak. Orang tua atau orang dewasa harus mengajarkan nama setiap anggota tubuh dengan nama aslinya. Subyek R. LS dan LI beranggapan bahwa tidak masalah jika mengajarkan anak dengan nama samara. Sedangkan, subyek AS merasa tidak perlu menggunakan nama samaran. Dampak dari hal ini adalah anak akan merasa organ genital adalah hal yang memalukan dan timbulnya perasaan bersalah terhadap beberapa bagian tubuh. Anak juga akan berdampak pada kemampuan anak untuk menjelaskan pelecehan seksual secara akurat. Jika perasaan ini terus terbawa hingga anak masuk ke usia dewasa hal yang akan terjadi adalah anak kehilangan rasa percaya diri terhadap tubuh dan perasaan seksual. Subyek R belum mengerti dampak ini walaupun ia beranggapan bahwa pengajaran nama organ tubuh harus menggunakan nama aslinya. Aspek selanjutnya adalah psikologis. Pada aspek ini pendidikan seks bertujuan agar proses perkembangan psikoseksual anak dapat dilalui dengan baik. Proses perkembangan psikoseksual yang terganggu akan berdampak bagi anak di masa dewasanya. Tahapan perkembangan ini terdiri dari empat tahapan . elf-love, parental identification, gang dan heterosexual adul. Pada penelitian ini ditemukan bahwa hanya dua dari empat subyek yang telah mengerti seluruh tahapan perkembangan ini. Aspek sosiologis merupakan aspek terakhir yang akan kita bahas di dalam penelitian ini. Aspek ini merupakan gabungan dari komponen biologis dan psikologi pada seksualitas yang dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan. Setelah dilakukan analisa mengenai aspek ini ditemukan bahwa agama merupakan pengaruh terbesar bagi keempat subyek. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, kita dapat melihat gambaran persepsi orang tua terhadap pemberian pendidikan seks untuk anak berkebutuhan khusus di usia dini masih tertutup. Pendidikan seks yang mereka ketahui hanyalah sebatas pelajaran mengenai perilaku seksual orang dewasa, yang berupa https://doi. org/10. 24912/jmmpk. PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PEMBERIAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI USIA DINI Carissa Adeline, et al. hubungan intim. Hanya satu dari empat partisipan yang memiliki pandangan cukup positif dan terbuka terhadap pemberian pendidikan seks pada anak berkebutuhan khusus di usia dini. Terbentuknya persepsi pada setiap subyek dilandasi oleh dua dimensi persepsi, dimensi fisik dan Setiap subyek memiliki dimensi fisik dan psikologis yang berbeda. Subyek R dan LS memiliki kesamaan dalam dimensi fisik. Mereka tidak pernah merasa, mendengar ataupun melihat pendidikan seks saat mereka dalam masa pertumbuhan. Sedangkan subyek LI dan AS sudah mendapatkan pendidikan seks saat SMP. Setiap subyek memiliki dimensi psikologis yang berbeda. Subyek R dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang protektif. Subyek LS dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan. Subyek AS dan LI dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Ketika dilakukan pendalaman terhadap persepsi orang tua terhadap pendidikan seks ditemukan bahwa banyak aspek pendidikan seks yang telah mereka ketahui dan diterapkan kepada anak mereka. Aspek-aspek pendidikan seks ini dibagi menjadi tiga, biologis, psikologis dan sosiologis. Aspek biologis merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan organ reproduksi dan stimulus seksual. dalam pendidikan seks adanya aspek ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai perbedaan dan persamaan yang dimiliki oleh organ reproduksi laki-laki dan perempuan baik dalam sisi bentuk maupun fungsinya. Serta, setiap individu diharapkan dapat menjaga kebersihan dari setiap organ reproduksinya. Supaya organ reproduksi dapat melakukan fungsinya dengan optimal. Subyek R dan LI memahami bahwa aspek ini harus diajarkan kepada anak mereka. Namun, belum mereka ajarkan karena kondisi anak mereka yang berkebutuhan khusus dianggap belum bisa memahami hal ini. Subyek AS dan LS telah memberikan pendidikan ini kepada anaknya, usia pemberian pendidikan ini sedikit terlambat. Pada aspek ini orang tua juga harus memperhatikan cara mereka mengajar nama-nama organ tubuh kepada anak. Orang tua atau orang dewasa harus mengajarkan nama setiap anggota tubuh dengan nama aslinya. Subyek R. LS dan LI beranggapan bahwa tidak masalah jika mengajarkan anak dengan nama samara. Sedangkan, subyek AS merasa tidak perlu menggunakan nama samaran. Dampak dari hal ini adalah anak akan merasa organ genital adalah hal yang memalukan dan timbulnya perasaan bersalah terhadap beberapa bagian tubuh. Anak juga akan berdampak pada kemampuan anak untuk menjelaskan pelecehan seksual secara akurat. Jika perasaan ini terus terbawa hingga anak masuk ke usia dewasa hal yang akan terjadi adalah anak kehilangan rasa percaya diri terhadap tubuh dan perasaan seksual. Subyek R belum mengerti dampak ini walaupun ia beranggapan bahwa pengajaran nama organ tubuh harus menggunakan nama aslinya. Aspek selanjutnya adalah psikologis. Pada aspek ini pendidikan seks bertujuan agar proses perkembangan psikoseksual anak dapat dilalui dengan baik. Proses perkembangan psikoseksual yang terganggu akan berdampak bagi anak di masa dewasanya. Tahapan perkembangan ini terdiri dari empat tahapan . elf-love, parental identification, gang dan heterosexual adul. Pada penelitian ini ditemukan bahwa hanya dua dari empat subyek yang telah mengerti seluruh tahapan perkembangan ini. Aspek sosiologis merupakan aspek terakhir yang akan kita bahas di dalam penelitian ini. Aspek ini merupakan gabungan dari komponen biologis dan psikologi pada seksualitas yang dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan. Setelah 86 86 dilakukan analisa mengenai aspek ini ditemukan bahwa agama merupakan pengaruh terbesar bagi keempat subyek tingkat perkembangan anak. Sedangkan, subyek AS dan LS dapat membedakan pendidikan seks untuk dewasa dan anak usia dini seperti teori Counterman & Kirkwood . https://doi. org/10. 24912/jmmpk. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. No. Nov 2023: hlm 101-107 ISSN-L 2797-8230 (Versi Elektroni. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, serta perkembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi pendidikan. Kajian persepsi sangatlah luas dan banyak, namun tidak dengan kajian mengenai persepsi orang tua terhadap pemberian pendidikan seks bagi anak usia terutama kepada anak usia dini yang memiliki kebutuhan khusus. Sehingga, perlu riset lebih lanjut dan dalam mengenai hal ini, lalu bagi peneliti selanjutnya yang akan membahas mengenai judul penelitian ini disarankan untuk menspesifikasikan jenis kebutuhan khusus yang akan diteliti. Banyaknya klasifikasi anak berkebutuhan khusus membuat penelitian ini kurang terfokus. Selain itu, kriteria subyek perlu dikaji ulang supaya bisa mendapatkan hasil penelitian yang lebih detail Ucapan Terima Kasih (Acknowledgemen. Peneliti terutama mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, serta karunia-Nya, peneliti mampu menyelesaikan penelitian ini. Peneliti juga berterima kasih kepada Bapak Raja Oloan Tumanggor selaku dosen pembimbing, yang telah meluangkan banyak waktu, tenaga serta pikirannya untuk membimbing penulis dalam penelitian ini. Dan juga penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penelitian ini dan kepada kedua partisipan yang telah bersedia untuk diwawancarai. REFERENSI