Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 6 No. 4 November 2022 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 36312/jisip. 38634/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga (Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolingg. 1Siti Marwiyah, 2Ach. Noor Busthomi, 3Maya Sofiana Article Info Article history: Diterima 19 September 2022 Publis 14 November 2022 Keywords: Edukasi Implementai Konseling Program Bina Keluarga Remaja Info Artikel Article history: Diterima 19 September 2022 Publis 14 November 2022 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Panca Marga Probolinggo Abstract This article discusses the Youth Family Development (BKR) program as a means of family education in Curah Dringu Village. Tongas District. Probolinggo Regency. The Youth Family Development Program is one of the programs developed by the National Family Planning Population Board (BKKBN) in an effort to create family resilience and realize the improvement of the quality of youth as the implementation of Law No. 52 of 2009 Article 48 paragraph 1 which contains family development policies. stated in point . which states: "Improving the quality of adolescents by providing access to information, education, counseling, and services regarding family life". between parents and their teenagers, the implementation of this detection for any symptoms that allow the emergence of gaps in the relationship between parents and their teenagers, as well as creating an appropriate means of relationship that is supported by rational attitudes and behavior. onal in parental responsibility. ABSTRAK Artikel ini membahas tentang program Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai sarana edukasi keluarga yang ada pada Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo. Program Bina Keluarga Remaja merupakan salah satu program yang dikembangkan oleh Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam upaya menciptakan ketahanan keluarga dan mewujudkan peningkatan kualitas remaja sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009Pasal 48 ayat 1 yang berisi mengenai kebijakan pembangunan keluarga, lebih lanjutnya tertera pada poin . yang menyebutkan: AuPeningkatan kualitas remaja dengan pemberian akses pendidikan, konseling, berkeluargaAy. Tujuan dari program BKR ini adalah meningkatkan pengetahuan anggota keluarga terhadap kelangsungan perkembangan remaja, menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang antara orang tua dan anak remajanya, terlaksananya diteksi ini terhadap setiap gejala yang memungkinkan timbulnya kesenjangan hubungan antara orang tua dan anak remajanya, serta tercipta sarana hubungan yang sesuai yang didukung sikap dan perilaku yang rasional dalam tanggung jawab orang tua. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons AtribusiBerbagiSerupa 4. 0 Internasional Corresponding Author: Maya Sofiana Universitas Panca Marga Probolinggo Email: msofiana073@gmail. PENDAHULUAN Remaja dan permasalahannya menjadi isu penting saat ini. Jumlah yang besar, yaitu sekitar 64 juta atau 27,6% dari jumlah penduduk Indonesia (Sensus Penduduk, 2. mengakibatkan remaja memerlukan perhatian besar dalam pembinaannya. Disamping itu remaja sangat rentan terhadap resiko Triad KRR (Seksualitas. NAPZA. HIV dan AIDS). Masa remaja . menurut Santrock . 7, hlm. adalah periode transisi perkembangan antara masa kanakkanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional. Remaja sehat merupakan cikal bakal penduduk produktif yang akan berkontribusi dalam pembangunan bangsa dimasa mendatang. Dengan demikian diperlukan penanganan serius bagi remaja, karena masa remaja merupakan usia bermasalah. Singgih D. Gunarso . 9 : . bahwa remaja dapat disebut dengan pubertas, adolesen, dan youth. Secara terminologi para ahli psikologi tidak sama memberikan pengertian remaja. Hal ini disebabkan adanya 2553 | Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga (Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolingg. (Maya Sofian. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 pandangan dalam meninjau masa remaja, selain itu situasi lingkungan kebudayaan tempat remaja berada pun turut menentukan dalam pemberian batasan pengertian remaja. Keluarga memiliki tugas untuk membentuk kepribadian yang baik bagi anggotanya dengan mengajarkan berbagai macam fungsi sosialnya. Untuk itu diperlukan keluarga yang mampu membina dan mendidik remaja sehingga dapat ikut mensukseskan pembangunan nasional. Remaja yang berkualitas sangat berpotensi untuk membantu proses pembangunan negara. Sehingga keluarga dituntut untuk memberikan pembinaan yang terbaik untuk remaja agar tidak terjadi masalah berkepanjangan yang dapat merugikan dirinya sendiri, lingkungannya, atau bahkan negara. Pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam memberikan penddikan dan pembinaan terhadap anak remajanya dapat diperoleh melalui program Bina Keluarga Remaja (BKR). Dengan adanya kegiatan Bina Keluarga remaja ini orang tua akan mendapatkan informasi bagaimana cara untuk mendidik, membimbing, serta mendampingi remaja dalam proses pencarian jati diri sehingga dapat tercapainya pembentukan kepribadian yang sempurna. Bina Keluarga Remaja merupakan salah satu pendekatan program Generasi Berencana (Genr. Program Genre adalah suatu program Genre dilaksanakan melalui pendekatan dari dua sisi yaitu pendekatan kepada remaja itu sendiri dan pendekatan keluarga yang mempunyai remaja. Pendekatan kepada remaja dilakukan melalui pendekatan dari dua sisi yaitu remaja dan orang tua yang memiliki remaja. BKR adalah kegiatan penyuluhan kepada keluarga yang mempunyai anak remaja dan remaja melalui pertemuan secara berkala yang dilakukan oleh fasilitator/ motivator/ kader untuk meningkatkan bimbingan/ pembinaan tumbuh kembang anak secara baik dan terarah dalam rangka membangun keluarga berkualitas (BKKBN, 2008 : 7-. Program Bina Keluarga Remaja merupakan salah satu program yang dikembangkan oleh Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam upaya menciptakan ketahanan keluarga dan mewujudkan peningkatan kualitas remaja sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009Pasal 48 ayat 1 yang berisi mengenai kebijakan pembangunan keluarga, lebih lanjutnya tertera pada poin . yang menyebutkan: AuPeningkatan kualitas remaja dengan pemberian akses informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan tentang kehidupan berkeluargaAy. Tujuan dari program BKR ini adalah meningkatkan pengetahuan anggota keluarga terhadap kelangsungan perkembangan remaja, menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang antara orang tua dan anak remajanya, terlaksananya diteksi ini terhadap setiap gejala yang memungkinkan timbulnya kesenjangan hubungan antara orang tua dan anak remajanya, serta tercipta sarana hubungan yang sesuai yang didukung sikap dan perilaku yang rasional dalam tanggung jawab orang tua (BKKBN : 2. dalam Saragih . 8 : . Sasaran langsung dalam program BKR adalah keluarga yang memiliki anak usia seko-lah 10-24 tahun. Sedangkan sasaran tidak langsung yaitu guru, pemuka agama, pemuka adat, pemimpin organisasi profesi/ organisasi sosial kemasyarakatan, pemuda/ wanita, para ahli dan lembaga bidang ilmu yang terkait, serta instirusi/ lembaga pemerintah dan non pemerintah. Pentingnya program BKR ini bagi keluarga yang memiliki anak remaja karena pada masa ini remaja mengalami banyak permasalahan sehingga membutuhkan pendampingan dan bimbingan dari keluarga agar mereka tidak terjermus pada penyimpangan sosial dan dapat mempersiapkan masa depan dengan baik. Alasan utama mengapa Peneliti mengambil judul tersebut adalah karena peneliti ingin mengetahui bagaimana penerapan yang dilakukan oleh program BKR yang ada pada Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo, serta ingin mengetahui bagaimana proses yang dilakukan oleh BKR dalam memberikan edukasi kepada masyarakat setempat terutama para orang tua. Dalam penelitian terdahulu yang sama-sama melakukan penelitian tentang program Bina Keluarga Remaja (BKR) yang juga dilakukan oleh : Distantiya Putri Islami. Emmy Budiartati, yang berjudul AuImplementasi Bina Keluarga Remaja di Kelurahan Pleburan. Kecamatan Semarang Selatan. Kota SemarangAy. kelompok BKR Tunas Harapan yang meru-pakan BKR di Kelurahan Pleburan dengan tuju-an 2554 | Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga (Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolingg. (Maya Sofian. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 untuk menambah wawasan dan keterampilan orang tua remaja yang ada di Kelurahan Pleburan untuk membina dan mendidik anak remajanya. Kader memiliki tugas sebagai perencana suatu kegiatan, kemudian mensosialisasikan, hingga melaksanakan kegiatan tersebut serta mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksana-kan. Selain menetapkan pelaksana program, menetapkan prosedur yang digunakan oleh BKR Tunas Harapan juga perlu dilakukan. BKR Tunas Harapan menggunkan prosedur dari pe-merintah yang telah menetapkan peraturan da-lam pelaksanaan BKR. Putri Novariani yang berjudul Peran Kelompok Bina Keluarga Remaja Dalam Membina Keluarga di Kampung KB Bahari Kelurahan LappaAy. kegiatan dalam upaya pemberdayaan masyarakat khususnya remaja melalui pembinaan, bimbingan, dan penyuluhan kepadaorang tua yang diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap remaja. Kelompok Bina Keluarga Remaja melalui pembinaan, bimbingan dan penyuluhan. Retno Dewi Anggraeni . Ani Margawati. Nurjazuli, yang berjudul Pola Pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR) di Provinsi Jawa TimurAy . BKR Kartini merupakan Kelompok BKR terbaik di Jombang, sedangkan BKR Merpati masih dalam proses. Apabila dilihat dari pelaporan di Kabupaten Jombang lengkap sesuai juklak dari Provinsi untuk kabupaten Madiun ada tapi belum lengkap. juga ada kegiatan inovasi kerah kegiatan ekonomi produktif, jumlah anggota inti Kelompok BKR masih rendah, koordinasi di tingkat kecamatan sudah berjalan baik. Berdasarkan alur latar belakang yang disampaikan di atas, maka dirumuskan masalah penelitian ini, sebagai berikut: Bagaimana Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo dan apa saja faktor pendukung dan penghambat program bina keluarga remaja sebagai sarana edukasi keluarga di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo. Teknik yang digunakan dalam dalam mengumpulkan data yaitu observasi, dokumentasi, wawancara, dan dengan mengkaji uku-buku, peraturan perundang-undangan, karya ilmiah, jurnal, artikel-artikel. Alat yang digunakan yaitu pedoman wawancara, observasi, alat tulis sebagai perangkat penunjang untuk mencatat data yang didapat selama penelitian berlangsung. Uji keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi. Teknik analisis data yang penulis gunakan adalah Pengumpulan data, data kondensasi, serta tampilan data dan menarik kesimpulan atau verifikasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga (Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolingg. Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai sarana Edukasi Keluarga . Input Input merupakan suatu indikator dalam implementasi program yang merujuk kepada dana, saarana dan prasarana, dan metode yang digunakan untuk mengembangkan suatu program sesuai dengan jenis permasalahan yang ingin diselesaikan sehingga ketika kebijakan diimplementasikan, dapat secara efektif mengurangi atau bahkan menanggulangi masalah yang ada pada. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dapat dilihat bahwa pengimplementasian program BKR di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo belum maksimal dilaksanakan. Hal ini mengacu pada respon yang disampaikan oleh kader BKR Amanah yang menyatakan bahwa sumber daya manusia pada kapasitas kader BKR ditunjang dengan baik melalui upaya-upaya yang dilakukan oleh kelompok BKR amanah terutama dalam melakukan pembinaan, 2555 | Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga (Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolingg. (Maya Sofian. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 penyuluhan hingga pengawalan penyelesaian kasus yang dimiliki oleh remaja ataupun orang tua. Tenaga kerja sumber daya manusia pada kader BKR dinilai telah memumpuni namun disayangkan dalam implementasi program BKR sumber daya masyarakat masih kurangnya kesadaran akan pentingnya edukasi dalam keluarga. Aspek dalam input untuk menilai implementasi program Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga Pada Desa Curah Dringu yaitu sarana dan prasaran yang digunakan dalam kegiatan dinilai masih minim. Sehingga program ini dalam pelaksanannya masih kurang maksimal akibat kurangnya sarana dan prasarana seperti tempat pertemuan, microphone yang menyebabkan kegiatan diskusi terhambat. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya dana dari pemerintah desa setempat. Meskipun program BKR dibawah naungan BKKBN namun diketahui bahwa terkait anggaran. BKKBN tidak memiliki wewenang untuk memberikan dana dan fasilitas apapun. Proses Proses . merupakan kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Unsur dari proses antara lain perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan. Proses dapat dilihat dari adanya komunikasi sebagai suatu proses yang memfokuskan terhadap interaksi antara pemerintah dan masyarakat. Pada pelaksanaan program Program Bina Keluarga Remaja (BKR) di Desa Curah Dringu Kabupaten Probolinggo pada indikator proses yaitu implementasi dari program bertujuan untuk membina para remaja melalui orang tua memberikan edukasi dan penyuluhan secara bertahap yang pelaksanaannya dinilai sudah optimal dan efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil wawancara yang menyatakan bahwa proses yang dilakukan dalam program BKR ini sangat jelas dari segi penyampaian materi sampai monitoring atau pemantauan, serta materi yang disampaikan juga sesuai dengan permasalahan yang ada dimasyarakat Selanjutnya, metode yang digunakan untuk memberikan edukasi kepada para orang tua dinilai telah maksimal. Materi yang disampaikan pada saat pelaksanaan program BKR amanah mengikuti Standard Operating Procedure (SOP) yang ada dalam buku panduan pengelolaan BKR. Materi tersebut meliputi penanaman nilai-nilai moral melalui 8 fungsi keluarga, pendewasaan usia perkawinan, seksualitas. NAPZA. HIV dan AIDS, keterampilan hidup, ketahanan keluarga berwawasan gender, komunikasi efektif orangtua terhadap remaja, peran orangtua dalam pembinaan tumbuh kembang remaja, kebersihan dan kesehatan diri remaja, dan pemenuhan gizi remaja. Proses penyampaian materi tersebut diawali dari program pertemuan rutin setiap satu bulan sekali yang disesuaikan dengan permasalahan yang sedang terjadi pada para remaja di lingkungan Desa Curah Dringu. Dari pertemuan tersebut teridentifikasi berbagai permasalahan yang ramai diperbincangkan dan dikeluhkan oleh para orangtua. Kemudian tindak lanjut dari program tersebut yaitu melalui progam penyuluhan atau sosialisasi, yaitu dengan memberikan edukasi kepada orang tua sehingga para orangtua mendapatkan informasi dan dapat berdiskusi dengan lebih mendalam. Terkahir yaitu proses monitoring atau pemantauan dimana proses ini dilakukan dengan cara mengumpulakan perwakilan dari kelompok BKR yang ada didesa Curah Dringu. Perwakilan dari setiap kelompok BKR kemudian melaporkan kegiatan atau program yang telah atau dilaksanakan, serta melaporkan kondisi pengurus, kader, dan Pada saat monitoring selain melaporkan program atau kegiatan yang telah atau akan dilaksanakan oleh BKR, juga melakukan sharing mengenai pelaksanaan dan pengelolaan BKR. Output Selain dari kedua variabel diatas, terdapat juga output yang juga berpengaruh dalam proses penerapan program BKR. Output adalah untuk melihat keberhasilan suatu organisasi untuk mencapai hasil yang sesuai dengan rencana. Output juga menjadi hal yang penting, karena dari sinilah dapat dilihat keberhasilan dari suatu organisasi. Output dapat dilihat dari produk dan jasa yang dihasilkan. Output atau hasil dan tujuan dari 2556 | Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga (Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolingg. (Maya Sofian. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 program ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga terhadap kelangsungan perkembangan anak remaja, di antaranya yaitu tentang pentingnya hubungan yang setara dan harmonis pada satu keluarga dalam rangka pembinaan kepribadian anak dari remaja. Menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang antara orang tua dan anak remajanya, atau sebaliknya dalam memecahkan berbagai masalah yang di hadapi oleh masing-masing pihak sehingga timbul rasa hormat dan saling menghargai satu sama Adapun tujuan khusus dari pelaksanaan program bina keluarga remaja yaitu : Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pembina dan pengelola Bina Keluarga Remaja, dalam menumbuh kembangkan program BKR. Meningkatkan kualitas pelayanan kelompok BKR. Memperluas jejaring kerja didalam pengelolaan Bina Keluarga Remaja. Dengan adanya tujuan dari program bina keluarga remaja di atas diharapkan setiap masyarakat khususnya di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Proboliggo dapat memahami arti penting dari kegiatan dalam Bina Keluarga Remaja dan apa yang diinginkan serta menjadi target dari BKKBN dalam mewujudkan pembangunan bangsa dan keluarga yang berkualitas yang dilakukan melalui pembinaan kepada keluarga yang mempunyai remaja sehingga remaja dapat tumbuh sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki tanggung jawab, berakhlak, dan berperilaku sehat. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat implementasi Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai sarana edukasi keluarga . Faktor Pendukung Kerja Sama yang Baik Dalam pengimplementasian program BKR sebagai sarana edukasi keluarga pada Desa Curah Dringu dalam aspek kerjasama dinilai belum optimal pada kegiatan-kegiatan yang dirancang oleh BKR yang mana kerjasama antara kader dengan BKKBN sudah maksimal dan menghasilkan kader BKR yang berkualitas dan mampu melayani Namun kerjasama antara orang tua, remaja dan kader BKR dirasa belum maksimal sehingga program ini direalisasikan belum tercapai sesuai tujuan sebelumnya yang telah ditetapkan, karena kurangnya kerjasama dan koordinasi antara aktor-aktor pelaksana. Faktor Pendukung Sumber Daya Manusia Faktor pendukung dalam aspek sumber daya manusia pada pelaksanaan program BKR dari segi kader BKR sudah mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada remaja di Desa Curah Dringu, dalam pembuatan materi yang di angkat saat edukasi sudah menarik dan sesuai dengan permasalahan. Namun disayangkan dari segi sumber daya manusia dari masyarakat masih minimnya kesadaran diri para orang tua dan partisipasi terhadap program-program yang dikeluarkan oleh BKR. Faktor Penghambat Internal Faktor Penghambat pada aspek internal adalah kurangnya sarana dan prasarana seperti fasilitas tempat pertemuan dan alat-alat lainnya yang akan digunakan dalam edukasi masyarakat seperti michrophone atau pengeras suara. Hal ini tentu disebabkan karena kurangnya dana dari pemerintah daerah itu sendiri. Faktor penghambat yang kerap kali muncul juga adalah perbedaan pendapat antar para kader dalam pembuatan materi yang akan disampaikan dalam edukasi kepada orang tua. Faktor Penghambat Eksternal Faktor penghambat dalam aspek eksternal yang terjadi dimasyarakat yaitu kurangnya partisipasi dan kordinasi serta kesadaran diri masyarakat Desa Curah Dringu akan pentingnya program-program yang dibuat Oleh BKR untuk membantu mengedukasi para remaja dalam hal pergaulan terutama bagi para orang tua yang memiliki kesibukan tersendiri selain itu yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan program BKR adalah minimnya sarana dan prasarana yang menyebabkan program ini belum tercapai maksimal. KESIMPULAN 2557 | Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga (Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolingg. (Maya Sofian. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Berdasarkan hasil penelitian telah dilaksanakan di Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Probolinggo tentang Evaluasi Kualitas Pelayanan Administrasi (Studi Aplikasi View Probolinggo Pada Layanan Kependudukan dan Pencatatan Sipil maka didapat kesimpulan Teori Implementasi . Input Pada indikator input pengimplementasian program BKR di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo belum maksimal dilaksanakan. Hal ini mengacu pada respon yang disampaikan oleh kader BKR Amanah yang menyatakan bahwa sumber daya manusia pada kapasitas kader BKR ditunjang dengan baik melalui upaya-upaya yang dilakukan oleh kelompok BKR amanah namun disayangkan dalam implementasi program BKR sumber daya masyarakat masih kurangnya kesadaran akan pentingnya edukasi dalam keluarga. Aspek dalam input untuk menilai implementasi program Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga Pada Desa Curah Dringu yaitu sarana dan prasaran yang digunakan dalam kegiatan dinilai masih minim. Sehingga program ini dalam pelaksanannya masih kurang maksimal akibat kurangnya sarana dan prasarana seperti tempat pertemuan, microphone yang menyebabkan kegiatan diskusi terhambat. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya dana dari pemerintah desa setempat. Proses Pada pelaksanaan program Program Bina Keluarga Remaja (BKR) di Desa Curah Dringu Kabupaten Probolinggo pada indikator proses yaitu implementasi dari program bertujuan untuk membina para remaja melalui orang tua memberikan edukasi dan penyuluhan secara bertahap yang pelaksanaannya dinilai sudah optimal dan efektif. Selanjutnya, metode yang digunakan untuk memberikan edukasi kepada para orang tua dinilai telah Materi yang disampaikan pada saat pelaksanaan program BKR amanah mengikuti Standard Operating Procedure (SOP) yang ada dalam buku panduan pengelolaan BKR. Terkahir yaitu proses monitoring atau pemantauan dimana proses ini dilakukan dengan cara mengumpulakan perwakilan dari kelompok BKR yang ada didesa Curah Dringu. Perwakilan dari setiap kelompok BKR kemudian melaporkan kegiatan atau program yang telah atau dilaksanakan, serta melaporkan kondisi pengurus, kader, dan anggota. Pada saat monitoring selain melaporkan program atau kegiatan yang telah atau akan dilaksanakan oleh BKR, juga melakukan sharing mengenai pelaksanaan dan pengelolaan BKR. Output Output atau hasil dan tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga terhadap kelangsungan perkembangan anak remaja, di antaranya yaitu tentang pentingnya hubungan yang setara dan harmonis pada satu keluarga dalam rangka pembinaan kepribadian anak dari remaja. Menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang antara orang tua dan anak dan remajanya, atau sebaliknya dalam memecahkan berbagai masalah yang di hadapi oleh masing-masing pihak sehingga timbul rasa hormat dan saling menghargai satu sama lain. Teori Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Faktor Pendukung Kerja sama yang baik Dalam pengimplementasian program BKR sebagai sarana edukasi keluarga pada Desa Curah Dringu dalam aspek kerjasama dinilai belum optimal pada kegiatan-kegiatan yang dirancang oleh BKR yang mana kerjasama antara kader dengan BKKBN sudah maksimal dan menghasilkan kader BKR yang berkualitas dan mampu melayani Namun kerjasama antara orang tua, remaja dan kader BKR dirasa belum 2558 | Implementasi Program Bina Keluarga Remaja (BKR) Sebagai Sarana Edukasi Keluarga (Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolingg. (Maya Sofian. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 maksimal sehingga program ini direalisasikan belum tercapai sesuai tujuan sebelumnya yang telah ditetapkan, karena kurangnya kerjasama dan koordinasi antara aktor-aktor Faktor Pendukung Sumber daya manusia Faktor pendukung dalam aspek sumber daya manusia pada pelaksanaan program BKR dari segi kader BKR sudah mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada remaja di Desa Curah Dringu, dalam pembuatan materi yang di angkat saat edukasi sudah menarik dan sesuai dengan permasalahan. Namun disayangkan dari segi sumber daya manusia dari masyarakat masih minimnya kesadaran diri para orang tua dan partisipasi terhadap program-program yang dikeluarkan oleh BKR. Faktor Penghambat Internal Faktor Penghambat pada aspek internal adalah kurangnya sarana dan prasarana seperti fasilitas tempat pertemuan dan alat-alat lainnya yang akan digunakan dalam edukasi masyarakat seperti michrophone atau pengeras suara. Hal ini tentu disebabkan karena kurangnya dana dari pemerintah daerah itu sendiri. Faktor penghambat yang kerap kali muncul juga adalah perbedaan pendapat antar para kader dalam pembuatan materi yang akan disampaikan dalam edukasi kepada orang tua. Faktor Eksternal Faktor penghambat dalam aspek eksternal yang terjadi dimasyarakat yaitu kurangnya partisipasi dan kordinasi serta kesadaran diri masyarakat Desa Curah Dringu akan pentingnya program-program yang dibuat Oleh BKR untuk membantu mengedukasi para remaja dalam hal pergaulan terutama bagi para orang tua yang memiliki kesibukan tersendiri selain itu yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan program BKR adalah minimnya sarana dan prasarana yang menyebabkan program ini belum tercapai UCAPAN TERIMAKASIH Penelitian ini dilakukan di Desa Curah Dringu Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo, terimakasih kami sampaikan kepada pihak terkait beserta masyarakat atas kontribusinya dalam mengumpulkan data sehingga penelitian ini bisa terlaksana dengan baik DAFTAR PUSTAKA