Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index PELATIHAN PENDATAAN JENIS MANGROVE DALAM UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT PESISIR DI BAGEK KEMBAR. SEKOTONG. LOMBOK BARAT Wiwid Andriyani Lestariningsih1*. Mahardika Rizqi Himawan1. Saptono Waspodo1. Paryono1. Sadikin Amir1. Muhammad Hafidz Ibnu Khaldun2. Hamzah3. Amalia Sartika Dewi1. Putra Ivan Mahendra1. Wahyu Agung1 1Program Studi Ilmu Kelautan. Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan. Fakultas Pertanian. Universitas Mataram, 2Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi Jl. Pendidikan No 37. Mataram. NTB, 2,3Jl. Jambi Muara Bulian No. KM. Mendalo Darat. Jambi Korespondensi: wiwid_lestariningsih@unram. Artikel history : Received Revised Published : 2 Juni 2025 : 13 Juni 2025 : 30 Juni 2025 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Ekosistem mangrove memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, menyediakan habitat bagi biota laut, serta mendukung ekonomi masyarakat lokal. Namun, rendahnya kapasitas masyarakat dalam mengenali dan mendata jenis-jenis mangrove menjadi kendala dalam pelestarian jangka panjang. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir, khususnya kelompok Pokmaswas, dalam melakukan identifikasi dan pendataan jenis mangrove secara partisipatif. Kegiatan ini dilaksanakan di Bagek Kembar. Sekotong. Lombok Barat, dengan melibatkan mahasiswa lokal dan asing dalam skema kolaborasi lintas budaya. Metode pelaksanaan mencakup sesi penyampaian materi, praktik lapangan, dan diskusi evaluatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap jenis-jenis mangrove lokal, serta meningkatnya semangat komunitas untuk melakukan pendataan mandiri secara berkala. Kegiatan ini menjadi contoh pendekatan kolaboratif dalam memperkuat peran masyarakat dalam konservasi ekosistem pesisir yang berkelanjutan. Kata Kunci: Pelatihan. Pokmaswas, partisipatif, mahasiswa internasional, konservasi pesisir PENDAHULUAN Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki nilai ekologis, ekonomis, dan sosial yang sangat tinggi (Asari et al. , 2021a. Lestariningsih et al. , 2. Menurut (Basyuni et al. , 2012. Biswas & Biswas, 2021. Lestariningsih et al. ,ekosistem ini berfungsi sebagai penyangga alami terhadap abrasi pantai, badai, dan gelombang laut yang ekstrem. Selain itu, mangrove juga memiliki peran penting sebagai penyerap karbon . lue carbo. , penyaring limbah, dan habitat penting bagi berbagai biota laut seperti ikan, udang, moluska, serta berbagai jenis burung air dan organisme lainnya. Dalam konteks mitigasi perubahan iklim, keberadaan hutan mangrove memiliki kontribusi Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index besar dalam penyerapan emisi karbon dioksida dari atmosfer. Di wilayah pesisir Indonesia, termasuk di kawasan Sekotong. Lombok Barat, hutan mangrove menjadi bagian penting dari keberlanjutan lingkungan dan penghidupan masyarakat lokal. Namun demikian, menurut (Asari et al. , 2021b. Basyuni et al. , 2012. Karimah, 2. , tekanan terhadap ekosistem mangrove semakin meningkat, baik dari aktivitas konversi lahan, pembangunan pesisir, penebangan ilegal, maupun aktivitas perikanan dan pariwisata yang tidak ramah lingkungan (Arif Nur & Salim, 2022. Asari et , 2021. Oleh sebab itu, perlindungan dan pengelolaan mangrove yang berbasis masyarakat menjadi pendekatan strategis yang perlu dikembangkan secara sistematis dan Salah satu kendala utama dalam pengelolaan mangrove berbasis masyarakat adalah keterbatasan kapasitas dalam hal identifikasi dan pendataan jenis-jenis mangrove (Japa et , 2024. Nasution & Wijaya, 2. Padahal, data jenis mangrove merupakan elemen penting dalam penentuan kebijakan restorasi, zonasi kawasan, serta pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah (Cayada et al. , 2021. Dharmawan et al. , 2. Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswa. yang selama ini menjadi ujung tombak pengawasan sumber daya pesisir, umumnya masih menghadapi tantangan dalam hal kemampuan teknis untuk melakukan pendataan secara mandiri dan terstandarisasi. Menjawab tantangan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diselenggarakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kapasitas Pokmaswas serta elemen masyarakat pesisir lainnya dalam melakukan identifikasi dan pendataan jenis mangrove secara partisipatif. Kegiatan ini dilaksanakan di Dusun Bagek Kembar. Kecamatan Sekotong. Kabupaten Lombok Barat, yaitu salah satu area ekowisata mangrove di wilayah pesisir. Kegiatan pelatihan ini dirancang dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan mahasiswa lokal dan mahasiswa asing, sehingga tidak hanya mentransfer pengetahuan teknis, tetapi juga mendorong pertukaran wawasan lintas budaya dalam konteks konservasi ekosistem pesisir. Kehadiran mahasiswa internasional diharapkan dapat memperluas perspektif komunitas lokal dan mendorong semangat konservasi dari sudut pandang global. Metode kegiatan mencakup pemberian materi, praktik identifikasi di lapangan, penggunaan alat bantu identifikasi, serta diskusi evaluatif. Seluruh kegiatan dirancang untuk membangun kemandirian masyarakat dalam melakukan monitoring dan pendataan sumber daya mangrove yang ada di wilayah mereka, sebagai bagian dari penguatan peran masyarakat dalam konservasi ekosistem secara inklusif dan berkelanjutan. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya menjadi media pembelajaran teknis, tetapi juga menjadi forum pemberdayaan dan penguatan jejaring antara masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Diharapkan hasil dari kegiatan ini dapat menjadi model awal yang dapat direplikasi di wilayah pesisir lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam pengelolaan ekosistem mangrove. METODE KEGIATAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Mei 2025 di Dusun Bagek Kembar. Desa Sekotong Barat. Kecamatan Sekotong. Kabupaten Lombok Barat. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Wilayah ini dipilih karena merupakan lokasi aktif kegiatan Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawa. dalam menjaga sumber daya pesisir. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Kegiatan ini juga dilaksanakan sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi, komunitas lokal, dan mitra internasional dalam upaya konservasi ekosistem mangrove berbasis Gambar 1. Lokasi Penelitian Pengabdian Kepada Masyarakat Tujuan Kegiatan Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk: Meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir, khususnya anggota Pokmaswas, dalam melakukan identifikasi dan pendataan jenis mangrove secara akurat dan partisipatif. Memperkenalkan metode identifikasi spesies mangrove kepada mahasiswa lokal dan asing sebagai bagian dari pembelajaran lapangan interdisipliner. Mendorong kolaborasi lintas budaya dan pengetahuan dalam upaya konservasi mangrove berbasis komunitas. Menyusun data awal spesies mangrove di wilayah Bagek Kembar sebagai bahan pemantauan dan penyusunan strategi pelestarian mangrove ke depan. Peserta Kegiatan Peserta kegiatan terdiri dari 43 orang dengan komposisi sebagai berikut: 5 orang anggota Pokmaswas Bagek Kembar 4 dosen Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Mataram 10 mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Mataram 24 mahasiswa asing dari NUSC (National University of Singapore Colleg. Singapura yang sedang melakukan program short course di Universitas Mataram Keberagaman peserta diharapkan memperkaya diskusi dan perspektif dalam proses pelatihan, serta memperkuat semangat gotong royong dan pertukaran pengetahuan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Rangkaian Kegiatan Kegiatan pelatihan dilaksanakan selama dua hari dengan metode yang menggabungkan pendekatan teori dan praktik lapangan. Secara garis besar, kegiatan terdiri dari tiga tahapan utama: sesi materi, praktik lapangan . , dan diskusi reflektif. Sesi Materi Kegiatan diawali dengan sesi pembekalan materi di Pendopo Bagek Kembar. Materi yang disampaikan antara lain: Pengenalan ekosistem mangrove: fungsi ekologis, manfaat sosial-ekonomi, dan peran dalam mitigasi perubahan iklim. Jenis-jenis mangrove utama di wilayah pesisir Sekotong dan cara membedakannya berdasarkan ciri morfologis . aun, batang, akar, bua. sesuai dengan panduan Noor et al. Teknik identifikasi sederhana di lapangan tanpa alat laboratorium. Pengenalan alat bantu identifikasi: lembar identifikasi visual . dentification shee. dan buku panduan lapangan sesuai dengan (Sidik et al. , 2. Pemateri terdiri dari dosen Ilmu Kelautan. Universitas Mataram. Praktik Lapangan (Fieldwor. Tahapan praktik lapangan dilaksanakan langsung di area mangrove Bagek Kembar. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan sebelumnya. Langkah-langkah dalam praktik lapangan: Peserta dibagi ke dalam 5 kelompok kecil yang terdiri dari campuran mahasiswa lokal, mahasiswa asing, dan anggota Pokmaswas. Masing-masing kelompok diberikan area pengamatan yang berbeda untuk melakukan identifikasi jenis mangrove. Peserta melakukan pencatatan spesies dengan mencantumkan lokasi, jumlah individu, kondisi pohon, dan ciri morfologis. Hasil pengamatan dicatat dalam formulir pendataan dan dilengkapi dengan dokumentasi foto setiap spesies. Setelah pengamatan selesai, setiap kelompok kembali ke titik kumpul untuk menyerahkan hasil data dan mendiskusikan temuan mereka. Diskusi Reflektif dan Evaluasi Pada hari yang sama, dilakukan sesi diskusi reflektif untuk membahas hasil kegiatan dan merancang tindak lanjut. Beberapa poin yang menjadi fokus diskusi: Kesulitan dan tantangan yang dihadapi dalam identifikasi spesies. Perbedaan teknik identifikasi antar peserta dan upaya untuk menyeragamkan Rencana pelibatan Pokmaswas dalam pemantauan berkala. Potensi penyusunan daftar jenis mangrove lokal sebagai produk komunitas. Evaluasi kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui diskusi kelompok. Peserta juga diberi ruang untuk menyampaikan masukan terkait metode pelatihan dan kebutuhan pelatihan lanjutan di masa mendatang. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Dokumentasi dan Output Kegiatan Seluruh proses kegiatan didokumentasikan melalui foto, video, serta pencatatan hasil identifikasi dalam bentuk tabel data. Salah satu output penting dari kegiatan ini adalah tersusunnya draft awal daftar spesies mangrove di Bagek Kembar, yang akan dilengkapi dan diverifikasi dalam program lanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pelatihan pendataan jenis mangrove yang dilaksanakan di Dusun Bagek Kembar. Sekotong. Lombok Barat, menghasilkan beberapa luaran penting baik dari aspek peningkatan kapasitas masyarakat, partisipasi aktif lintas kelompok, maupun keluaran data awal yang relevan bagi pengelolaan ekosistem mangrove di wilayah tersebut. Hasil kegiatan dapat dibagi menjadi tiga aspek utama: . peningkatan pemahaman peserta terhadap jenisjenis mangrove, . keterlibatan aktif dalam praktik lapangan dan kolaborasi lintas budaya, serta . tersusunnya data awal jenis mangrove lokal. Peningkatan Pemahaman Peserta Terhadap Jenis-Jenis Mangrove Sebelum pelatihan dimulai, sebagian besar anggota Pokmaswas belum memiliki pengetahuan sistematis terkait identifikasi morfologi spesies mangrove. Pengetahuan mereka sebagian besar bersifat lokal dan turun-temurun, terbatas pada beberapa spesies yang umum digunakan atau diketahui manfaatnya secara langsung. Setelah mengikuti sesi materi dan praktik lapangan, peserta menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Hal ini ditunjukkan melalui: Kemampuan membedakan ciri morfologi daun, bentuk akar, dan buah dari setidaknya 6Ae8 spesies mangrove yang umum ditemukan di lokasi. Peningkatan skor kuis singkat pre-test dan post-test dengan rata-rata peningkatan sebesar 60%. Partisipasi aktif dalam diskusi kelompok dan pengambilan data lapangan. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran partisipatif berbasis praktik langsung . xperiential learnin. efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memahami keragaman hayati ekosistem mangrove. Keterlibatan Aktif dan Kolaborasi Lintas Budaya Salah satu kekuatan kegiatan ini adalah pelibatan mahasiswa asing bersama mahasiswa lokal dan masyarakat Pokmaswas dalam satu tim kolaboratif. Interaksi ini tidak hanya memperkuat kerja sama tim dalam proses pengumpulan data, tetapi juga menciptakan suasana saling belajar antara peserta dari latar belakang budaya dan akademik yang berbeda. Kegiatan kolaboratif ini memberikan manfaat sebagai berikut: Mahasiswa internasional mendapat pengalaman langsung tentang ekosistem pesisir tropis dan peran masyarakat lokal dalam konservasi. Mahasiswa lokal terpapar pada pendekatan-pendekatan pengamatan ilmiah yang digunakan dalam studi internasional. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Pokmaswas memperoleh wawasan baru tentang pentingnya pendataan sistematis sebagai dasar pengelolaan, bukan hanya berdasarkan pengalaman atau pengetahuan lokal saja. Keterlibatan lintas budaya ini juga mendorong terjadinya komunikasi konservasi lintas bahasa, yang secara tidak langsung membangun kepercayaan diri masyarakat untuk berinteraksi dalam forum yang lebih luas, seperti pelatihan nasional maupun program konservasi lintas negara. Hasil Pendataan Awal Jenis Mangrove di Bagek Kembar Selama praktik lapangan, peserta berhasil mengidentifikasi dan mencatat sedikitnya delapan jenis mangrove sejati yang ditemukan di lokasi pengamatan di pesisir Bagek Kembar. Jenis-jenis tersebut antara lain: Rhizophora mucronata Rhizophora stylosa Avicennia marina Lumnitzera racemosa Ceriops tagal Sonneratia alba Setiap kelompok mendokumentasikan hasil identifikasi dalam lembar data sederhana dan dokumentasi visual . oto daun, batang, dan bua. (Gambar . Data ini telah disusun dalam bentuk tabel rekapitulasi dan peta sebaran awal berdasarkan wilayah Meskipun belum sepenuhnya mencakup seluruh wilayah mangrove Bagek Kembar, data ini menjadi pijakan awal untuk penyusunan monitoring berkala yang akan dilanjutkan oleh Pokmaswas dengan bimbingan dari tim akademik. Beberapa peserta juga menyatakan minat untuk melanjutkan pendataan mandiri dan mengembangkan poster identifikasi sederhana untuk edukasi masyarakat dan sekolah sekitar. Kegiatan ini menunjukkan bahwa dengan metode yang tepat, masyarakat pesisir memiliki potensi besar untuk terlibat aktif dalam pelestarian ekosistem, termasuk melalui kegiatan identifikasi dan pendataan (Safrina, 2. Selain itu, pendekatan kolaboratif dengan melibatkan mahasiswa dan akademisi dapat menjadi katalisator dalam memperkuat kesadaran konservasi (Afriadi et al. , 2. Namun, pelatihan ini juga mengungkap beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu, belum tersedianya alat identifikasi lapangan yang memadai, serta masih perlunya pendampingan berkala agar hasil pelatihan dapat berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan ini perlu diikuti dengan program lanjutan, seperti pelatihan pembuatan peta mangrove berbasis komunitas, monitoring berbasis aplikasi, serta integrasi data dengan pengelolaan kawasan berbasis desa. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Gambar 2. Dokumentasi kegiatan Pelatihan Pendataan Jenis Mangrove (A) Diskusi Refletif. (B) Evaluasi Kegiatan. (C) Fieldwork. (D) Pendataan Mangrove. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kegiatan pelatihan pendataan jenis mangrove di Dusun Bagek Kembar. Sekotong. Lombok Barat, berhasil meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir, khususnya anggota Pokmaswas, dalam mengenali dan mendata jenis-jenis mangrove secara partisipatif. Pelibatan mahasiswa lokal dan internasional turut memperkaya proses pembelajaran dan memperkuat kolaborasi lintas budaya dalam konservasi pesisir. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap ciri-ciri morfologi mangrove serta tersusunnya data awal spesies mangrove lokal yang dapat digunakan sebagai dasar pemantauan berkelanjutan. Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan, disarankan adanya pelatihan lanjutan, pengembangan media identifikasi berbasis lokal, serta dukungan dari pemerintah dan lembaga konservasi dalam memperkuat peran komunitas dalam pelestarian ekosistem mangrove. Kolaborasi serupa perlu terus dilanjutkan agar semangat konservasi tumbuh dari akar rumput dan terhubung dengan jejaring global. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Juni 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Saran Disarankan agar program sejenis dapat dilanjutkan secara berkala guna memperkuat kapasitas masyarakat pesisir dalam konservasi berbasis data. Untuk memastikan keberlanjutan, pelatihan lanjutan perlu difokuskan pada pembuatan peta mangrove berbasis komunitas, penggunaan teknologi sederhana seperti aplikasi monitoring, serta integrasi hasil pendataan dengan rencana pengelolaan kawasan desa. Selain itu, penyediaan alat identifikasi lapangan yang memadai serta pendampingan teknis dari akademisi dan praktisi sangat penting untuk menjaga motivasi dan kualitas hasil kegiatan. Pelibatan lintas budaya yang terbukti efektif juga perlu terus diperkuat sebagai strategi membangun jejaring pembelajaran dan konservasi yang inklusif dan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswa. Bagek Kembar atas partisipasi aktif dan semangat kolaboratif selama pelaksanaan kegiatan, serta kepada para mahasiswa lokal dan internasional yang telah berkontribusi dalam proses pelatihan dan pendataan. Apresiasi juga disampaikan kepada Pemerintah Desa Sekotong Barat, mitra institusi pendidikan, serta seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini secara teknis maupun logistik. Dukungan dan keterlibatan semua pihak menjadi fondasi penting dalam upaya bersama menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA