ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 FINTECH DALAM PEMBERDAYAAN USAHA PEREMPUAN: MEMPERKUAT IMPLEMENTASI GREEN INNOVATION DAN GREEN ACCOUNTING UNTUK KEBERLANJUTAN BISNIS Aning Fitriana1* Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Perwira Purbalingga. Purbalingga aningfv@gmail. Karunia Zuraidaning Tyas2 Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Perwira Purbalingga. Purbalingga karunia@unperba. Esti Wahyuningsih3 Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Perwira Purbalingga. Purbalingga estwhy@gmail. (*Corresponding Autho. Diterima 17 September 2025 Disetujui 10 Desember 2025 AbstractAi Limited digital financial knowledge, restricted access to technology, and low adoption of Green Accounting and Green Innovation practices remain significant obstacles to the sustainable success of female entrepreneurs. Limited access to external funding further complicates the adoption of environmentally friendly business practices in rural areas. This research focuses on how Fintech helps enhance the adoption of Green Innovation and Green Accounting, thereby improving business sustainability for women-owned micro, small, and medium enterprises (MSME. The distinctiveness of this research lies in its positioning of Fintech as an essential enabler of women's economic empowerment. It also presents a comprehensive framework that links digital financial services with sustainable management practices, an area that has yet to be thoroughly investigated. Data was gathered through a quantitative research method from a survey involving 100 female entrepreneurs in the historical Banyumas area. The data were examined through Structural Equation Modeling (SEM) utilizing SmartPLS. The study indicates that both Green Innovation and Green Accounting significantly contribute to promoting corporate sustainability. Moreover, although Fintech does not influence the effect of Green Innovation, it does influence the relationship between Green Accounting and sustainability. This study contributes to the existing literature on sustainability by integrating perspectives on sustainability, eco-friendly practices, and digital finance within a framework focused on gender in micro, small, and medium enterprises (MSME. The results emphasize the importance of focusing on digital financial literacy, developing Fintech-driven environmental reporting, and establishing capacity-building initiatives to encourage sustainable business practices among women entrepreneurs. Keywords: Fintech. Women. Green Innovation. Green Accounting. Business Sustainability | 190 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Dalam bidang pemberdayaan ekonomi dan kesetaraan gender, keberlanjutan usaha wirausaha perempuan merupakan isu kunci. Wirausaha perempuan di berbagai industri berjuang untuk memastikan usaha mereka berkelanjutan secara finansial dan operasional (Priambodo & Metris, 2. Di Indonesia, hanya 23% UMKM yang telah menerapkan konsep keberlanjutan usaha, angka yang relatif rendah, menurut penelitian (Mauladin & Alamsyah. Data ini menunjukkan rendahnya literasi keuangan digital dan akses teknologi, serta pemahaman yang terbatas tentang akuntansi hijau dan Green Innovation. Selain itu, hambatan utama untuk menerapkan langkah-langkah ramah lingkungan adalah kurangnya sumber daya keuangan bagi UMKM yang dikelola perempuan di masyarakat pedesaan. Agar wirausaha perempuan dapat mempertahankan keberlanjutan dan daya saing usaha mereka, sangat penting bagi mereka untuk menerapkan Green Innovation. Green Innovation melibatkan penerapan teknologi dan praktik yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi energi, mengurangi kerusakan lingkungan, dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Di sisi lain, akuntansi hijau berfungsi sebagai instrumen yang ampuh untuk memperkuat upaya keberlanjutan bisnis. Bentuk akuntansi ini menekankan pendokumentasian dan pelaporan dampak lingkungan dari operasional bisnis, yang dibutuhkan perusahaan dalam pengelolaan sumber daya alam secara efisien, meminimalkan limbah, menjaga integritas lingkungan (Fitriana et al. , 2. Penerapan akuntansi hijau mendorong kejelasan dalam pengelolaan sumber daya dan mendukung pengusaha perempuan dalam membuat pilihan yang tepat mengenai konsumsi energi, bahan baku, dan pembuangan limbah (Herlidawati et al. Dengan mengintegrasikan Green Innovation dan akuntansi hijau, pengusaha perempuan dapat memperkuat aspek inti keberlanjutan bisnis mereka sekaligus memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Studi oleh Kusumawardhany . menunjukkan bahwa implementasi akuntansi hijau meningkatkan praktik etis dalam bisnis, sehingga memengaruhi Fintech dapat memberikan akses kepada pengusaha perempuan terhadap sumber pendanaan penting untuk memfasilitasi Green Innovation Zhang et al. , . Oleh karena itu, pertanyaan studi berpusat pada apakah Fintech dapat meningkatkan penerapan Akuntansi Hijau dan Green Innovation untuk mendukung keberlanjutan bisnis yang dipimpin perempuan. Studi ini menngenai peran kemajuan teknologi dapat meningkatkan pemberdayaan perempuan untuk menciptakan usaha berkelanjutan. Penelitian Bonsu et al. , . dan Asmoro et al. , . , telah meneliti Fintech secara independen dari keberlanjutan dan Green Innovation. Meskipun demikian, terdapat hasil yang bertentangan Maulana et al. , . Masruroh & Sutapa, . , yang menunjukkan bahwa Fintech mungkin tidak memainkan peran utama dalam keberlanjutan bisnis. Skeptisisme ini terlihat di antara banyak peserta mengenai manfaat Fintech untuk ekspansi bisnis. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hasil yang beragam dan menekankan tantangan yang terus-menerus tentang keberlanjutan bisnis pengusaha perempuan yang membutuhkan perhatian (Ilyas et al. , 2. Oleh karena itu, studi ini penting untuk memberikan perspektif baru tentang bagaimana teknologi keuangan dapat mendukung adopsi Green Innovation dan praktik keuangan berkelanjutan. Keterbaharuan studi ini berfokusnya pada peran Fintech mendukung usaha perempuan, meningkatkan penerapan inovasi ramah lingkungan dan metode akuntansi berkelanjutan sebagai pendekatan utama untuk keberlangsungan bisnis, sebuah topik yang belum banyak mendapat perhatian. Pentingnya studi ini berasal dari eksplorasinya terhadap kasus lokal spesifik, yaitu wilayah bekas Residen Banyumas, yang mewakili daerah yang didominasi oleh ekonomi yang kuat berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Metode ini memperkenalkan perspektif lokal tentang tantangan global, menunjukkan bagaimana inisiatif dan strategi keberlanjutan dapat diciptakan. Serta studi ini menekankan pengaruh gender di | 191 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 bidang kewirausahaan, yang berfokus pengusaha perempuan di UMKM. Di Indonesia, perempuan mencakup sekitar 60% UMKM, sehingga mereka berperan penting dalam perekonomian, khususnya di sektor informal dan mikro. Kehadiran yang signifikan ini memperlihatkan perempuan memiliki peran penting untuk memimpin transformasi dan beradaptasi dengan tren global, termasuk Green Innovation dan praktik akuntansi Meskipun demikian, hanya sedikit studi yang berpusat pada pengusaha perempuan terkait penggunaan Fintech dan operasi bisnis berkelanjutan (Mariawati et al. Teori Resource-Based View (RBV) oleh Wernerfelt, . digunakan pada penelitian Teori ini mengamati bagaimana perusahaan menilai, mengkomunikasikan, dan menangani dampak mereka terhadap lingkungan. Teori ini menjelaskan bagaimana teknologi keuangan sebagai platform untuk membantu pemilik usaha perempuan mengembangkan metode akuntansi hijau yang jelas dan efektif. Teknologi keuangan juga dapat memantau jejak karbon dan dampak lingkungan dari aktivitas bisnis mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatasi kurangnya penelitian dengan menyelidiki bagaimana teknologi keuangan dapat meningkatkan implementasi Green Innovation dan akuntansi hijau untuk praktik berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk mempelajari dampak teknologi keuangan dalam meningkatkan Green Innovation dan Akuntansi Hijau untuk mendukung keberlanjutan pengusaha perempuan. Subjek ini cukup baru, menggabungkan teknologi keuangan dengan upaya untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan mendorong praktik bisnis berkelanjutan. TELAAH LITERATUR DAN HIPOTESIS 1 Teori Resource-Based View (RBV) Teori Resource-Based View (RBV) Wernerfelt, . memberikan insight keunggulan kompetitif suatu company untuk mengelola dan mengatur sumber daya internalnya yang berharga, unik, dan tak tergantikan. Menurut perspektif ini, suatu bisnis dapat mencapai kesuksesan dan keberlanjutan jangka panjang jika memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki oleh pesaingnya dan yang dapat digunakan secara optimal untuk membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Studi ini berpendapat bahwa Green Innovation dan akuntansi hijau merupakan keterampilan strategis yang berfungsi sebagai sumber daya internal berbasis pengetahuan dan teknologi. Green Innovation menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menciptakan prosedur, produk, dan praktik yang bertanggung jawab terhadap lingkungan yang meningkatkan efisiensi dan menciptakan nilai tambah. Akuntansi hijau menyediakan kemampuan informasi yang memungkinkan perusahaan untuk mengelola dampak lingkungan secara terukur, terbuka, dan efisien. Sementara itu. Fintech berfungsi sebagai alat bantu yang bermanfaat dengan mendorong digitalisasi keuangan, meningkatkan akurasi pencatatan, meningkatkan akses ke pembiayaan, dan meningkatkan pengawasan terhadap operasional bisnis, yang semuanya membantu mengoptimalkan kemampuan ini. Dalam konteks kerangka RBV. Fintech membantu memajukan nilai strategis Green Innovation dan akuntansi hijau dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan UMKM perempuan. Oleh karena itu, penggunaan RBV dalam penelitian ini memberikan landasan teoritis bagi gagasan bahwa keberlanjutan bisnis dipengaruhi oleh kekuatan eksternal dan kapasitas internal pelaku bisnis untuk berinovasi, memanfaatkan, dan mengintegrasikan teknologi keuangan guna membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. 2 Pengaruh Green Innovation signifikan terhadap keberlanjutan Bisnis Green Innovation melibatkan penggunaan teknologi dan teknik yang dirancang untuk mengurangi kerusakan lingkungan, meningkatkan efisiensi energi, mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab, dan memperkuat keberlanjutan bisnis melalui pengurangan | 192 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 dampak negatif terhadap lingkungan, peningkatan produktivitas, dan pengurangan biaya jangka panjang (Hendrawan & Suhartini, 2. Adopsi Green Innovation meningkatkan daya saing perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan sekaligus memperkuat citra entitas yang memperjuangkan isu lingkungan. Selain itu, penelitian menunjukkan temuan yang beragam mengenai hubungan antara Green Innovation dan keberlanjutan bisnis Anggreini et al. , . dan (Budi & Sundiman, 2. , yang menunjukkan bahwa tahap awal adopsi Green Innovation dapat menyebabkan pengeluaran yang signifikan yang meningkatkan biaya produk dan menciptakan sikap apatis di kalangan eksekutif bisnis terhadap tanggung jawab lingkungan. Namun, penerapan Green Innovation secara efektif dan berkelanjutan dapat sangat mengurangi kerusakan lingkungan dan hasil bisnis bertumbuh secara baik Dewi & Sudhiksa, . dan (Efendi, 2. H1: Green Innovation berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan Bisnis 3 Pengaruh Green Accounting berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan Bisnis Akuntansi hijau adalah cara pencatatan keuangan yang menekankan pemantauan dan pelaporan bagaimana tindakan bisnis memengaruhi lingkungan, seperti pemanfaatan sumber daya alam, produksi karbon, dan pembangkitan limbah (Fitriana et al. , 2. Dengan mengadopsi akuntansi hijau, perusahaan dapat lebih efektif mengawasi dampak lingkungan mereka, meminimalkan limbah, dan adanya peninggakatn pada operasional mereka. Penelitian Liu et al. , . dan Febriyana et al. , . memperlihatkan hasil positif antara penerapan akuntansi hijau dan adopsi metode berkelanjutan di sektor manufaktur. Perusahaan yang menerapkan prinsip akuntansi hijau lebih mampu menghadapi regulasi lingkungan dan menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. (Herlidawati et al. , 2. H2: Green Accounting berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan Bisnis. 4 Peran Fintech memperkuat Green Innovation dan Green Accounting terhadap keberlanjutan Bisnis Inovasi ramah lingkungan dan akuntansi lingkungan guna menarik pelanggan yang lebih fokus pada keberlanjutan. Fintech berpotensi untuk secara efektif mengumpulkan dan menyajikan informasi mengenai inisiatif mereka yang terkait dengan keberlanjutan bisnis (Ni et al. , 2. Fintech berkaitan dengan perkembangan baru untuk penyajian keuangan menggunakan teknologi untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas penyampaian jasa transaksi Kemunculan Fintech mendorong perubahan besar di berbagai sektor jasa keuangan, termasuk perbankan, pinjaman, asuransi, dan investasiFintech, melalui digitalisasi praktik keuangan konvensional, memperluas akses layanan keuangan, mempercepat transaksi, mengurangi biaya operasional, dan menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi pengguna. (Najib et al. , 2. Fintech mendukung pemilik usaha perempuan dengan memfasilitasi pembangunan hubungan bersama jaringan pemasok, mitra bisnis, atau investor yang berkomitmen pada keberlanjutan, sehingga menciptakan peluang baru untuk kerja sama dan bantuan keuangan (Pizzi et al. , 2. Fintech memegang peran krusial dalam memajukan Inovasi Hijau dan akuntansi hijau sebagai strategi praktik bisnis berkelanjutan(Bonsu et al. Dengan memfasilitasi akses pendanaan, penyederhanaan laporan keuangan dan lingkungan, peningkatan efisiensi operasional, serta dukungan pemasaran. Fintech memungkinkan bisnis mengadopsi praktik berkelanjutan dengan lebih cepat (Li et al. , 2. Kehadiran teknologi keuangan mendukung usaha perempuan di bekas Kabupaten Banyumas untuk beroperasi dengan sukses, yang menghasilkan keuntungan finansial dan dampak positif | 193 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 bagi masyarakat dan lingkungan. Metode yang diusulkan untuk mengatasi masalah ini terdiri H3: Peran Fintech memperkuat Green Innovation terhadap keberlanjutan Bisnis H4: Peran Fintech memperkuat Green Accounting terhadap keberlanjutan Bisnis 5 Model Studi Gambar 3. Model Studi METODOLOGI DAN ANALISIS DATA Pendekatan kuantitatif digunakan dalam studi ini untuk menguji hubungan antara variabel independen, khususnya akuntansi hijau dan Green Innovation, dan variabel dependen, yaitu keberlanjutan bisnis pengusaha perempuan. Fintech memoderasi hubungan antara variabel penelitian ini. Jumlah UMKM di 4 Kabupaten mencakup 122. 416 pemilik usaha perempuan. Hanya 28% atau 34. 277 anggota yang telah menggunakan Fintech, menurut jajak pendapat anggota tahunan. Studi ini mencakup berbagai lokasi, termasuk empat kabupaten yaitu Banjarnegara. Banyumas. Cilacap, dan Purbalingga, yang dulunya dikenal sebagai Kediaman BanyumasSurvei memungkinkan pengambilan ukuran sampel yang lebih kecil namun tetap menggambarkan populasi secara keseluruhan, dengan memperhitungkan margin kesalahan yang telah ditetapkan Suleman & K. Thalib, . , peneliti menggunakan ukuran sampel yang diperoleh dari populasi yang cukup besar dengan menggunakan survei. Dalam studi PLS-SEM. Hair et al. , . menyarankan bahwa ukuran sampel terkecil harus didasarkan pada berapa banyak panah yang mengarah ke variabel laten, menjauh dari Auaturan 10 kaliAy yang sudah usang. Mengingat variabel Keberlanjutan Bisnis dibentuk oleh empat faktor (Akuntansi Hijau. Green Innovation. Fintech, dan dua variabel interaks. , ukuran sampel yang diperlukan berkisar antara 100 hingga 150 partisipan untuk memenuhi kondisi kekuatan statistik dan kompleksitas model moderasi. Selain itu, metode alternatif yang menggunakan G*Power dari (Faul et al. , 2. , dengan asumsi ukuran efek sedang . A = 0,. , tingkat alfa 0,05, kekuatan 0,80, dan empat prediktor, menyarankan sampel minimum sekitar 85 responden. Oleh karena itu, 100 partisipan yang termasuk dalam studi ini memenuhi ambang batas yang diperlukan untuk evaluasi PLS-SEM dan selaras dengan panduan Hair dkk. Survei ini dilakukan melalui tautan Google Form dengan bantuan staf studi dan mahasiswa yang terlibat dalam pengumpulan data UMKM. Pengumpulan data melibatkan kuesioner yang dibagikan kepada peserta, yang berisi pertanyaan berdasarkan indikator variabel dan skala Likert yang berkisar dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. | 194 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Tabel 1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Green Innovation Penggunaan teknologi baru dalam produk maupun proses usaha yang bertujuan menjaga lingkungan. Inovasi ini mencakup penghematan energi, pengurangan pencemaran, pengelolaan dan daur ulang limbah, perancangan produk ramah lingkungan, serta upaya perusahaan dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Fintech inovasi di bidang teknologi keuangan yang bertujuan memudahkan proses transaksi keuangan. Kehadiran Fintech layanan, dan model bisnis yang menyediakan solusi keuangan secara lebih praktis dan efisien Keberlanjutan Bisnis Kemampuan operasionalnya dalam jangka panjang dengan mengelola sumber daya secara efisien, mencapai kinerja ekonomi yang stabil, serta memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Tingkat pelaku usaha terhadap Penerapan Green Innovation dalam proses Pengembangan Produk jasa berorientasi pada Nilai penerapan inovasi ramah Tingkat Kemudahan mengakses layanan Nila guna yang diperoleh dari Fintech Persepsi keamanan dan keandalan Fintech Tingkat kesadaran dan keberlangsungan usaha Dimensi ekonomi dalam Dimensi sosial sebagai bagian dari keberlanjutan Dimensi keberlanjutan bisnis Teknik analisis yang diterapkan adalah kuantitatif, menggunakan Pemodelan Persamaan Struktural melalui perangkat lunak SmartPLS. Model yang dipilih ini, yang dikenal karena kemampuannya dalam pemodelan variabel, mengintegrasikan kerangka kerja teoretis, studi empiris yang ada, dan perbandingan dengan teori terkait (Harahap, 2. Pemodelan Persamaan Struktural memfasilitasi investigasi hubungan antar variabel dalam kerangka kerja yang kompleks, termasuk potensi efek mediasi. | 195 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 HASIL STUDI DAN DISKUSI 1 Deskripsi Responden Penting untuk mendeskripsikan karakteristik responden untuk memberikan gambaran keseluruhan profil para pengusaha perempuan yang berpartisipasi dalam studi ini. Informasi ini penting karena ciri demografis dan kondisi bisnis dapat memengaruhi seberapa banyak Fintech digunakan, pelaksanaan akuntansi hijau, dan kemampuan untuk mengadopsi Green Innovation dalam operasional bisnis. Selain itu, pemahaman tentang latar belakang responden meningkatkan interpretasi hasil studi, terutama dalam mengevaluasi signifikansi temuan dalam kaitannya dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) milik perempuan di wilayah bekas Residen Banyumas. Tabel di bawah ini menguraikan karakteristik responden menurut jenis kelamin, tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai, durasi operasional bisnis, dan pendapatan bulanan. Berdasarkan tabel deskripsi responden, semua partisipan adalah UMKM perempuan dari bekas wilayah Residen Banyumas, sejalan dengan fokus studi pada pemberdayaan perempuan dalam bisnis. Sebagian besar responden memiliki pendidikan SMA/SMK, menunjukkan bahwa secara umum, pemilik usaha perempuan di wilayah tersebut memiliki pendidikan menengah sebagai modal awal usaha mereka. Lamanya masa usaha didominasi oleh pelaku usaha yang telah berbisnis lebih dari lima tahun, menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki latar belakang bisnis yang berkelanjutan dan solid. Mayoritas memiliki omset dalam kisaran Rp 000 - Rp 5. 000 setiap bulan, yang menyoroti karakteristik UMKM mikro yang masih dalam tahap pengembangan tetapi memiliki potensi untuk tumbuh melalui penggunaan Fintech. Green Innovation, dan akuntansi hijau, seperti yang dibahas dalam studi ini. 2 Uji Validitas Indikator Dalam analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), evaluasi terhadap loading indikator merupakan tahap awal yang krusial untuk memastikan validitas konvergen. Nilai loading mencerminkan tingkat keterkaitan antara indikator teramati dengan konstruk laten yang diukurnya. Suatu indikator dinyatakan memenuhi kriteria validitas apabila memiliki nilai loading lebih besar dari 0,70, yang menunjukkan bahwa sebagian besar variasi indikator dapat dijelaskan oleh konstruk terkait. Kriteria ini memastikan bahwa setiap | 196 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 indikator memiliki kontribusi yang signifikan dalam merepresentasikan variabel laten. Oleh sebab itu, penelitian ini menganalisis nilai loading pada setiap item guna menilai ketepatan indikator dalam menggambarkan konstruk yang bersangkutan. Tabel 4. Uji Validitas Indikator Indikator Fintech 0,850 F10 0,850 F11 0,759 F12 0,813 F13 0,772 0,861 0,853 0,824 0,804 0,708 0,879 0,830 0,815 Fintech Moderat GA to Fintech Moderat GI to KB Green Accounting GA10 0,852 GA11 0,851 GA2 0,892 GA3 0,848 GA4 0,844 GA5 0,828 GA6 0,735 GA7 0,825 GA8 0,802 GA9 0,805 Green Innovation GI10 0,816 GI11 0,806 GI12 0,806 GI13 0,840 GI14 0,766 GI2 0,735 GI3 0,783 GI4 0,798 GI5 0,851 GI6 0,769 GI7 0,829 GI8 0,834 GI9 0,837 | 197 | Vol. No. Desember 2025 Keberlanju tan Bisnis ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Indikator Fintech Green Accounting * Fintech Green Innovation * Fintech KB1 Fintech Moderat GA to Fintech Moderat GI to KB Green Accounting Green Innovation Keberlanju tan Bisnis 1,347 1,410 0,823 KB10 0,851 KB11 0,833 KB12 0,831 KB2 0,827 KB3 0,851 KB4 0,709 KB5 0,781 KB6 0,802 KB7 0,800 KB8 0,801 KB9 0,759 GA1 0,730 Sumber: Data diolah, 2025 Seluruh komponen kerangka, termasuk Fintech. Akuntansi Hijau. Green Innovation, dan Keberlanjutan Bisnis, menunjukkan nilai loading luar yang tinggi serta signifikan secara statistik berdasarkan tabel yang disajikan. Untuk indikator Fintech (F1 hingga F. , nilai loading berada dalam rentang 0,708 hingga 0,879, menunjukkan bahwa masing-masing indikator memberikan kontribusi yang konsisten terhadap komponennya. Sementara itu, indikator Akuntansi Hijau (GA2 hingga GA. juga menampilkan performa yang kuat, dengan nilai loading berkisar antara 0,735 hingga 0,892. Nilai loading untuk indikator Green Innovation (GI2 hingga GI. berada antara 0,735 dan 0,851, mengonfirmasi keandalan indikator tersebut dalam mengukur inovasi ramah lingkungan di perusahaan. Indikator Keberlanjutan Bisnis (KB1 hingga KB. juga menunjukkan nilai loading yang kuat, berkisar antara 0,709 hingga 0,851. menunjukkan bahwa indikator tersebut memberikan dampak yang signifikan pada variabel dependen. Perlu dicatat bahwa dua efek moderasi dari Fintech yang dikombinasikan dengan Akuntansi Hijau dan Fintech yang dikombinasikan dengan Green Innovation memiliki nilai muatan masing-masing sebesar 1,347 dan 1,410, menunjukkan bahwa keduanya menciptakan konstruk interaksi yang sesuai dalam model moderasi. Oleh karena itu, semua indikator memenuhi standar validitas konvergen dan memiliki nilai muatan yang kuat, menyoroti efektivitasnya sebagai alat ukur untuk variabel konseptual yang diteliti. 3 Discriminant Validity Validitas diskriminan digunakan untuk menilai seberapa unik suatu konstruk dibandingkan konstruk lain dalam model, baik secara konseptual maupun empiris. Penilaian ini penting untuk memastikan setiap variabel laten merepresentasikan aspek yang berbeda. Dalam penilaiannya, peneliti umumnya menggunakan kriteria Fornell-Larcker dan analisis crossloading, dengan salah satu syarat utama adalah akar kuadrat dari Average Variance Extracted | 198 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 (AVE) harus melampaui korelasinya dengan konstruk lain. Pendekatan ini vital untuk mencegah multikolinearitas dan menjamin independensi setiap elemen dalam model. Tabel 5. Discriminat Validity Variabel Fintech Moderat GA to Fintech Fintech Fintech Moderat GA to Fintech Moderat GI to Green Accounting Green Innovation Keberlanjutan Bisnis Fintech Moderat GI to KB Green Accounting Green Innovation Keberlanjuta n Bisnis 0,818 -0,256 1,000 -0,188 0,950 1,000 0,969 -0,273 -0,199 0,821 0,892 -0,208 -0,122 0,867 0,806 0,912 -0,227 -0,147 0,920 0,961 0,807 Sumber: Data diolah, 2025 Tabel Kriteria Fornell-Larcker menunjukkan bahwa setiap konstruk telah memenuhi standar validitas diskriminan yang memadai. Akar kuadrat dari AVE . itampilkan secara diagona. untuk variabel seperti Fintech . Akuntansi Hijau . Green Innovation . , dan Keberlanjutan Bisnis . selalu lebih besar daripada korelasinya dengan konstruk lain dalam kolom yang sama. Sebagai ilustrasi, akar kuadrat AVE Akuntansi Hijau . tetap melebihi korelasinya, meskipun memiliki korelasi tinggi dengan Fintech . dan Keberlanjutan Bisnis . Pada beberapa konstruk, seperti Green Innovation dan Keberlanjutan Bisnis . , memiliki korelasi yang kuat, keduanya masih cukup berbeda secara struktural karena akar kuadrat dari AVE. Akibatnya, model tersebut dapat dikatakan memiliki validitas diskriminan karena setiap konstruk menunjukkan keunikan yang cukup, yang menunjukkan bahwa tidak ada tumpang tindih konseptual di antara keduanya. Karena validitas diskriminan yang kuat ini, fase penilaian struktural dan pengujian hipotesis didukung dengan baik. Rasio korelasi heterotrait terhadap monotrait, yang dikenal sebagai HTMT (Korelasi Heterotrait terhadap Monotrai. , adalah ukuran keterpisahan empiris dari dua konstruk. Jika nilai HTMT kurang dari 0,85 . riteria konservati. atau 0,90 . riteria libera. , suatu konstruk dianggap memiliki validitas diskriminan. Batas ini harus didekati dengan hati-hati, karena nilai HTMT di atasnya menunjukkan kemungkinan tumpang tindih antara konstruk. Tabel 6. Hasil Uji Discriminant Validity Menggunakan HTMT Variabel Fintech Green Accounting (GA) Green Innovation (GI) Keberlanjutan Bisnis (KB) Fintech y GA Fintech y GI Fintech GA 0,82 0,78 0,80 0,41 0,36 Fintech y GA Fintech y GI 0,82 0,78 Ai 0,84 0,84 Ai 0,86 0,88 0,52 0,49 0,48 0,54 0,80 0,86 0,88 0,57 0,51 0,41 0,52 0,49 0,57 0,65 0,36 0,48 0,54 0,51 0,65 Ai Sumber: Data diolah, 2025 | 199 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Hasil perhitungan HTMT yang disajikan tersebut, seluruh nilai HTMT ada pada bawah ambang batas atas 0,90, bahkan banyak yang berada di bawah batas yang lebih hati-hati yaitu 0,85. Hal ini menunjukkan bahwa setiap elemen dalam model cukup terpisah satu sama lain, yang menegaskan bahwa tidak ada tumpang tindih di antara konstruk empiris. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa validitas diskriminan telah tercapai, sehingga model dapat dilanjutkan ke fase analisis struktural. Lebih lanjut, penggunaan HTMT memberikan akurasi yang lebih besar dalam mengevaluasi reliabilitas konstruk dibandingkan pendekatan Fornelarcker, yang menghasilkan hasil studi yang lebih kuat dan sesuai dengan pedoman PLS-SEM 4 Construct Reliability and Validity Untuk menilai seberapa dapat diandalkan dan konsisten konstruk tersebut, reliabilitas komposit (CR) dan rata-rata varians yang diekstrak (AVE) diterapkan. Skor reliabilitas komposit lebih tinggi dari 0,70 menunjukkan konsistensi yang kuat di antara berbagai indikator yang menilai konstruk yang sama. Pada saat yang sama, skor AVE di atas 0,50 memperlihatkan sebagian besar perbedaan dalam indikator terkait dengan variabel tersembunyi. Bersama-sama, kedua ukuran ini membantu mengkonfirmasi bahwa setiap konstruk diukur secara andal dan dapat menjelaskan perbedaan yang terlihat pada indikator, sehingga memenuhi kriteria validitas Berdasarkan temuan dari penilaian reliabilitas dan validitas konvergen, semua konstruk dalam studi ini menunjukkan hasil yang luar biasa dan memenuhi standar yang disarankan dalam PLS-SEM. Koefisien Alpha Cronbach untuk keempat variabelAiFintech . Akuntansi Hijau . Green Innovation . , dan Keberlanjutan Bisnis . Ai melebihi tingkat minimum yang dapat diterima yaitu 0,70. Hal ini menunjukkan tingkat konsistensi internal yang tinggi untuk setiap variabel. Nilai rho_A, yang dianggap sebagai ukuran reliabilitas yang lebih tepat, juga menunjukkan hasil yang tinggi yang selaras dengan Alpha Cronbach, sehingga menegaskan konsistensi antar item. Selain itu, nilai Reliabilitas Komposit (CR) untuk semua konstruk bervariasi antara 0,957 dan 0,963, yang selanjutnya menunjukkan tingkat reliabilitas yang signifikan dan melampaui ambang batas 0,70 yang disarankan oleh Hair dkk. Mohon berikan teks yang ingin Anda ubah susunannya, dan saya akan membantu Anda. Ini menunjukkan bahwa setiap konsep dapat secara konsisten dan akurat mengukur variabel tersembunyi. Mengenai validitas konvergen, nilai Average Variance Extracted (AVE) untuk semua konstruk melebihi 0,50. Secara spesifik. Fintech mencatat AVE sebesar 0,669. Green Accounting sebesar 0,673. Green Innovation sebesar 0,650, dan Business Sustainability sebesar 0,651. Nilai AVE ini Hal ini mengindikasikan bahwa konstruk yang bersangkutan mampu menjelaskan lebih dari separuh variasi pada indikatornya, sehingga memenuhi syarat validitas konvergen. | 200 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 5 Koefisien Determinasi (R-Squar. Persentase variasi variabel endogen . yang dijelaskan oleh variabel eksogen . dalam model diukur dengan koefisien R-Square (RA). Dalam PLS-SEM, nilai RA berfungsi sebagai indikator penting kapasitas penjelasan model dan memberikan informasi tentang akurasi prediksinya. Jika Nilai RA sebesar 0,19, 0,33, dan 0,67 dapat dianggap lemah, sedang, dan signifikan, berturut-turut. Efektivitas kesejahteraan digital dan kesiapan kerja jarak jauh dalam memprediksi keterlibatan kerja dievaluasi dalam studi ini dengan memeriksa nilai RA dari variabel dependen. Berdasarkan data RA dan RA yang disesuaikan, konstruk Keberlanjutan Bisnis menunjukkan skor RA sebesar 0,958 dan RA yang disesuaikan sebesar 0,955. Angka ini mengindikasikan bahwa variabel independen modelAitermasuk Fintech. Akuntansi Hijau. Green Innovation, dan dua faktor moderasi (Fintech x Akuntansi Hijau serta Fintech x Green Innovatio. Aimencakup 95,8% dari total variasi atau perubahan yang terjadi dalam Keberlanjutan Bisnis. Selain itu, nilai yang disesuaikan sebesar 0,955 yang hampir sama memperkuat bahwa model tersebut menghindari overfitting dan mempertahankan keandalannya, bahkan ketika mempertimbangkan jumlah prediktor yang digunakan. Dengan skor RA yang signifikan, model ini diakui sebagai model yang kuat. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa gabungan antara teknologi keuangan digital (Fintec. dan praktik lingkungan berkelanjutan (Akuntansi Hijau dan Green Innovatio. mampu menjelaskan hampir seluruh variasi dalam pencapaian keberlanjutan bisnis pada organisasi yang disurvei. Hasil ini secara tegas memvalidasi keefektifan pendekatan multivariat dalam menggambarkan dampak teknologi dan Green Innovation terhadap pencapaian keberlanjutan. 6 Pengujian Hipotesis melalui Analisis Koefisien Jalur Pengujian hipotesis dalam PLS-SEM dilakukan melalui pemeriksaan koefisien jalur, yang mengungkapkan kekuatan dan arah koneksi antar elemen model. Untuk menilai signifikansi jalur tersebut, digunakan metode bootstrapping yang menghasilkan statistik $t$ dan nilai $p$. Suatu jalur dinyatakan signifikan secara statistik jika nilai $p$ berada di bawah batas 0,05. Hasil pemeriksaan ini kemudian menjadi dasar pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak hipotesis tentang efek langsung dan moderasi dalam model yang Tabel 9. Pengujian Hipotesis Sumber: Data diolah, 2025 | 201 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang disajikan dalam tabel, ditemukan bahwa tiga dari empat hubungan yang dianalisis dalam model menunjukkan signifikansi statistik yang tinggi, namun satu hubungan lainnya terbukti tidak signifikan. Secara khusus. Akuntansi Hijau terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap Keberlanjutan Bisnis, dengan nilai statistik T sebesar 5,739 dan p = 0,000. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan praktik akuntansi ramah lingkungan memiliki kontribusi langsung yang penting dalam mendukung keberlangsungan operasional perusahaan. Selain itu. Green Innovation juga menunjukkan pengaruh yang sangat kuat terhadap Keberlanjutan Bisnis, dengan nilai T = 13,500 dan p = 0,000, yang menekankan pentingnya inovasi berbasis lingkungan dalam menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang. Selain itu, temuan dari uji moderasi menunjukkan bahwa Fintech memainkan peran penting dalam memengaruhi hubungan antara Akuntansi Hijau dan Keberlanjutan Bisnis . tatistik T = 2,696. = 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa teknologi keuangan berperan dalam memperkuat dampak positif praktik akuntansi hijau terhadap keberlanjutan. Sementara itu, hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan variasi. Penelitian menemukan bahwa Fintech tidak berpengaruh terhadap hubungan antara Green Innovation dan Keberlanjutan Bisnis. Kesimpulan ini didukung statistik T yang rendah sebesar 0,684 dan nilai p sebesar 0,494, yang secara signifikan lebih tinggi dari ambang batas signifikansi 0,05. Ini menyiratkan bahwa teknologi keuangan mungkin saat ini belum menjalankan fungsinya secara optimal dalam meningkatkan pengaruh Green Innovation terhadap keberlanjutan. Atau, ini bisa berarti bahwa Green Innovation cukup kuat dengan sendirinya, tanpa memerlukan peningkatan dari elemen keuangan digital. Temuan ini memungkinkan penyelidikan lebih lanjut tentang hubungan yang rumit antara inovasi, teknologi, dan keberlanjutan dalam lingkungan bisnis saat ini. 7 PEMBAHASAN Green Innovation berpengaruh terhadap Keberlanjutan Bisnis Temuan studi mendukung hipotesis 1, yang menyatakan bahwa Green Innovation memiliki dampak substansial terhadap keberlanjutan perusahaan. Teori RBV, yang menyatakan bahwa kapasitas perusahaan untuk menggunakan dan menciptakan sumber daya internal yang khas menentukan keberlanjutannya, konsisten dengan studi ini. Akibatnya, teori RBV mendukung gagasan bahwa Green Innovation sangat penting untuk meningkatkan keberlanjutan bisnis. Temuan ini menunjukkan bahwa inovasi produk, proses, dan teknologi yang mendorong efisiensi sumber daya dan meminimalkan dampak lingkungan sangat penting untuk meningkatkan ketahanan dan adaptabilitas perusahaan milik perempuan di sektor UMKM. Studi telah menunjukkan bahwa dalam literatur Green Innovation, substitusi bahan baku, efisiensi energi, dan penciptaan produk ramah lingkungan merupakan aktivitas yang menghasilkan keunggulan kompetitif berkelanjutan (Cheng et al. , 2. , sebagaimana didukung oleh studi (Hendrawan & Suhartini, 2. Hal ini menunjukkan bahwa, selain mampu berinovasi. UMKM juga mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam operasi sehari-hari mereka. Kapasitas internal pelaku usaha untuk beradaptasi terhadap perubahan pasar dan kebijakan lingkungan tercermin melalui implementasi Green Innovation. Kesempatan untuk memperluas pasar, meningkatkan loyalitas pelanggan, serta menciptakan nilai merek yang lebih kuat diberikan oleh inovasi ini, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu-isu Pada usaha perempuan, yang efisiensi dan relasi sosialnya lebih diutamakan, keberlanjutan usaha secara ekonomis, sosial, dan ekologis secara bersamaan dapat dirawat melalui penerapan Green Innovation. Oleh karena itu, keberlanjutan dalam konteks UMKM yang inklusif dan berbasis nilai didorong secara utama oleh inovasi berbasis lingkungan. Green Accounting berpengaruh terhadap Keberlanjutan Bisnis Temuan dari pengujian hipotesis mengungkapkan bahwa Akuntansi Hijau memainkan peran penting dalam keberlanjutan bisnis yang dijalankan oleh UMKM milik perempuan di | 202 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 wilayah bekas Residen Banyumas, sehingga mengkonfirmasi Hipotesis 2. Temuan ini sejalan dengan Teori Pandangan Berbasis Sumber Daya (Resource-Based View/RBV), yang menyatakan bahwa praktik akuntansi lingkungan merupakan aset internal penting yang meningkatkan daya saing dan keberlanjutan bisnis. Ini menyiratkan bahwa mengadopsi metode pencatatan dan pelaporan yang berfokus pada lingkungan dalam kerangka akuntansi perusahaan dapat sangat membantu dalam mencapai kelangsungan bisnis jangka panjang. Kesimpulan ini didukung oleh studi yang dilakukan oleh (Liu et al. , 2. dan (Febriyana et , 2. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang disajikan dalam tabel, ditemukan bahwa tiga dari empat hubungan yang dianalisis dalam model menunjukkan signifikansi statistik yang tinggi, namun satu hubungan lainnya terbukti tidak signifikan (Schaltegger & Burritt, 2. emuan ini sejalan dengan gerakan global yang menekankan praktik akuntansi berkelanjutan sebagai dasar untuk menciptakan nilai yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Bagi UMKM yang dimiliki perempuan, penerapan akuntansi hijau sangat penting untuk memenuhi tuntutan regulasi dan pasar yang meningkat akan transparansi yang lebih besar mengenai dampak lingkungan. Implementasi sistem ini memungkinkan bisnis untuk membuat pilihan investasi, produksi, dan distribusi yang lebih selaras dengan pertimbangan lingkungan. Selain itu, akuntansi hijau dapat menyediakan jalan menuju pembiayaan hijau dan program insentif ramah lingkungan yang disediakan oleh lembaga pemerintah dan organisasi keuangan. Akibatnya, perannya dalam mempromosikan keberlanjutan bisnis melampaui sekadar ini juga merupakan pendekatan strategis untuk mendorong ketahanan bisnis yang berlandaskan prinsip-prinsip berkelanjutan. Fintech memoderasi pengaruh Green Innovation terhadap Keberlanjutan Bisnis Hasilnya uji ditemukan bahwa hubungan antara Green Innovation dan Keberlanjutan Bisnis tidak dimoderasi oleh Fintech, sehingga hipotesis ke-4 ditolak. Hipotesis moderasi Fintech tidak didukung oleh teori RBV karena kapabilitas Green Innovation dalam mendorong keberlanjutan bisnis belum diperkuat oleh teknologi keuangan. Hasil ini sejalan dengan temuan (Maulana et al. , 2. , yang menyatakan bahwa efek Green Innovation terhadap keberlanjutan sudah cukup kuat secara mandiri, sehingga tidak memerlukan atau tidak bergantung pada dukungan teknologi finansial eksternal . dopsi Fintec. Karakteristik Fintech yang fokus pada efisiensi transaksi keuangan dianggap tidak terkait langsung dengan proses inovasi produk atau teknologi ramah lingkungan yang merupakan domain utama Green Innovation. Hal ini menunjukkan adanya keterbatasan pemanfaatan Fintech dalam mendukung kegiatan inovatif di tingkat operasional UMKM, khususnya yang dipimpin oleh perempuan. Walaupun Fintech telah berkontribusi pada pencatatan dan akses pembiayaan, percepatan proses inovasi teknis belum maksimal, yang menurut Najib et al. dapat disebabkan oleh keterbatasan fitur, rendahnya integrasi sistem, atau minimnya Oleh karena itu, temuan ini menjadi dasar penting untuk merumuskan strategi pengembangan Fintech yang lebih aplikatif bagi inovasi, sekaligus menekankan pentingnya pendekatan lintas sektoral antara teknologi keuangan dan inovasi ramah lingkungan dalam rangka pemberdayaan usaha perempuan. (Najib et al. , 2. Fintech memoderasi pengaruh Green Accounting terhadap Keberlanjutan Bisnis Hasil uji menunjukkan bahwa teknologi keuangan memainkan peran utama dalam meningkatkan hubungan antara Akuntansi Hijau dan Keberlanjutan Bisnis, yang mengarah pada penerimaan Hipotesis 5. Sederhananya, ketika pengusaha perempuan menggunakan teknologi keuangan secara lebih aktif, dampak positif akuntansi hijau terhadap keberlanjutan bisnis menjadi semakin kuat. Hasil ini didukung oleh Pandangan Berbasis Sumber Daya, yang | 203 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan internal melalui teknologi digital dapat sangat meningkatkan keberlanjutan bisnis. Hal ini sejalan dengan studi terbaru (Ni et al. , 2. sini, teknologi keuangan tidak hanya mempermudah transaksi keuangan dan pencatatan, tetapi juga membantu pengusaha mengumpulkan informasi dan menerapkan praktik akuntansi ramah lingkungan secara lebih efektif. Hal ini mendukung gagasan bahwa keuangan digital sangat penting untuk mendorong metode bisnis berkelanjutan. Peran Fintech dianggap sangat strategis dalam konteks UMKM yang dikelola perempuan karena teknologi ini mampu menjembatani keterbatasan literasi keuangan dan akses layanan perbankan konvensional. Adopsi Fintech mempercepat proses integrasi Green Accounting ke dalam sistem keuangan usaha sehari-hari dengan menyediakan platform digital yang mudah digunakan dan berbiaya operasional rendah (Masruroh & Sutapa, 2. Dengan demikian, teknologi finansial memperkuat hubungan antara tanggung jawab lingkungan dan efisiensi finansial, sekaligus mendukung pencapaian target keberlanjutan pada skala mikro dan lokal. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menemukan bahwa Akuntansi Hijau dan Green Innovation memberikan pengaruh signifikan terhadap keberlanjutan bisnis perempuan di eks-Karesidenan Banyumas. Fintech terbukti memengaruhi hubungan antara Akuntansi Hijau dan keberlanjutan, tetapi tidak memoderasi hubungan Green Innovation. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi keuangan mendukung manajemen ramah lingkungan, meskipun integrasinya dengan inovasi lingkungan pada UMKM belum optimal. Secara teoritis, studi ini menegaskan pentingnya akuntansi lingkungan dan inovasi berbasis digital sebagai dasar keberlanjutan bagi UMKM, khususnya di sektor informal. Sementara itu, terkait aplikasi praktis, hasil ini dapat memberikan landasan bagi para pembuat kebijakan dan organisasi yang berfokus pada pemberdayaan perempuan untuk menciptakan inisiatif peningkatan kapasitas yang komprehensif. Ini termasuk pelatihan akuntansi hijau, adopsi teknologi keuangan inklusif, dan penciptaan inovasi yang ramah Mempromosikan keterampilan digital dan akses ke teknologi keuangan akan meningkatkan pengembangan bisnis perempuan, mengarahkannya menuju keberlanjutan yang lebih baik. Salah satu ide untuk studi masa depan adalah menggunakan pendekatan longitudinal untuk menyelidiki bagaimana hubungan antar variabel berubah seiring waktu. Pengalaman subjektif pemilik perusahaan saat mengadopsi praktik berkelanjutan dan teknologi keuangan juga dapat dieksplorasi dalam studi masa depan menggunakan kombinasi metodologi. Selain itu, sampel studi dapat diperluas ke lokasi tambahan dan UMKM yang didominasi laki-laki dapat dimasukkan sebagai subjek untuk mendapatkan sudut pandang komparatif yang lebih Analisis mendalam terhadap fitur-fitur Fintech, seperti crowdfunding dan dompet elektronik, serta keterkaitannya dengan Green Innovation, dapat memberikan pemahaman mengenai peran teknologi digital dalam mendorong keberlanjutan usaha mikro dan kecil di Indonesia. KETERBATASAN STUDI Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pendekatan cross-sectional membatasi penilaian hubungan sebab-akibat, sementara data kuantitatif berbasis persepsi berpotensi menimbulkan bias. Cakupan penelitian terbatas pada pengusaha perempuan di eks-Residen Banyumas, sehingga temuan tidak dapat digeneralisasikan. Selain itu, aspek Fintech hanya dianalisis sebagai moderasi keuangan tanpa pemeriksaan fitur atau integrasi platform secara | 204 | Vol. No. Desember 2025 ULTIMA Accounting | ISSN 2085-4595 ACKNOWLEDGEMENT Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada DPPM Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Indonesia atas dukungan pendanaan melalui Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) tahun 2025 yang telah memungkinkan pelaksanaan penelitian REFERENSI