Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Jurnal Perikanan Kamasan, 6 . , 2025, 78-94 https://doi. org/10. 58950/jpk. Available online at: https://jurnalperikanankamasan. com/index. php/jpk/index Strategi Pengembangan Usaha Nelayan Cakalang Orang Asli Papua di Sanoba. Nabire: Pendekatan SWOT AuDeveloping Business Strategies for Indigenous Papuan Skipjack Tuna Fishermen in Sanoba. Nabire: A SWOT AnalysisAy Yan Maruanaya1*. Rahayu Septyaning Mistina2. Lolita Tuhumena3, & Johanes Pattiradjawane4 1*Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan Dan Kelautan. Universitas Satya Wiyata Mandala. Nabire. Papua Tengah 2Program Studi Administrasi Bisnis. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Universitas Satya Wiyata Mandala. Nabire. Papua Tengah 3Program Studi Ilmu Perikanan. Universitas Cenderawasih. Jayapura 4Mahasiswa Magister (S. Sumberdaya Akuatik. Pascasarjana. Universitas Papua. Manokwari Email: Omaruanaya@gmail. ABSTRAK INFO ARTIKEL Ikan cakalang merupakan komoditas perikanan ekonomis penting yang menjadi target utama penangkapan bagi nelayan pesisir di Kabupaten Nabire. Bagi nelayan Orang Asli Papua (OAP), hasil tangkapan cakalang menjadi sumber utama pendapatan rumah tangga, namun masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam pengembangan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pengembangan usaha nelayan OAP penangkap ikan cakalang di Kampung Sanoba. Kabupaten Nabire. Penelitian dilaksanakan pada 20 Januari 2026 hingga 11 Februari 2026 dengan fokus pada nelayan OAP yang secara aktif melakukan penangkapan cakalang. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-analitis dengan kombinasi data kualitatif dan kuantitatif. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan SWOT, serta matriks IFAS dan EFAS untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penangkapan cakalang masih terkonsentrasi di wilayah pesisir yang relatif sempit akibat keterbatasan armada dan teknologi. Pendapatan nelayan bersifat fluktuatif, dipengaruhi oleh musim, kondisi cuaca, ketersediaan sumber daya ikan, harga pasar, dan biaya operasional. Analisis SWOT menunjukkan bahwa strategi pengembangan usaha perlu mengoptimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan ancaman. Nilai matriks IFAS menunjukkan kondisi internal berada pada kategori cukup kuat, sedangkan matriks EFAS menunjukkan kondisi eksternal yang relatif menguntungkan. Dengan demikian, strategi kesejahteraan nelayan, memperkuat kelembagaan usaha, serta mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan. Copyright A 2026. Authors Article History: Received 10/01/2026 Revised 15/02/2026 Accepted 25/03/2026 Published 30/03/2026 Kata Kunci: A Ikan Cakalang. A Nelayan OAP. A Strategi Usaha. A Nabire Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 ABSTRACT Skipjack tuna is an economically significant fishery commodity and constitutes the primary target species for coastal fishermen in Nabire Regency. For Indigenous Papuan (OAP) fishermen, skipjack tuna catches represent the main source of household income. however, business development remains constrained by various structural limitations. This study aims to examine business development strategies for Indigenous Papuan skipjack tuna fishermen in Sanoba Village. Nabire Regency. The research was conducted from 20 January to 11 February 2026, focusing on OAP fishermen actively engaged in skipjack tuna fishing. A descriptiveanalytical approach was employed, integrating both qualitative and quantitative data. Analytical tools included SWOT analysis, along with the Internal Factor Analysis Summary (IFAS) and External Factor Analysis Summary (EFAS) matrices to identify key internal and external factors. The results indicate that fishing activities remain concentrated in relatively narrow coastal areas due to limited fishing fleets and technological constraints. FishermenAos income is highly fluctuating, influenced by seasonal variability, weather conditions, resource availability, market prices, and operational costs. The SWOT analysis suggests that effective business development strategies should leverage internal strengths and external opportunities while mitigating weaknesses and The IFAS results indicate moderately strong internal conditions, whereas the EFAS results reflect relatively favorable external conditions. In conclusion, the proposed strategies are expected to enhance fishermenAos welfare, strengthen institutional capacity, and support the sustainability of fisheries resources. Key Words: A Skipjack Tuna. A Indigenous Papuan Fishermen. A Business Strategy. A Nabire PENDAHULUAN Ikan cakalang (Katsuwonus pelami. merupakan salah satu komoditas perikanan pelagis kecil yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian sektor perikanan, baik pada skala lokal, nasional, maupun global. Spesies ini tergolong ikan yang bersifat highly migratory dan schooling, dengan distribusi yang luas di perairan tropis dan subtropis (Food and Agriculture Organization, 2. Karakteristik biologis tersebut menyebabkan pola sebaran ikan cakalang bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh kondisi oseanografi, seperti arus laut, suhu permukaan laut, dan zona frontal (Kiyofuji et al. , 2. Selain itu, individu dalam satu kelompok umumnya memiliki ukuran yang relatif seragam karena berasal dari cohort yang sama (Hidayat et al. , 2. Perilaku bergerombol ini memberikan keuntungan bagi nelayan dalam proses deteksi dan penangkapan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi usaha perikanan tangkap. Selanjutnya, distribusi dan ketersediaan sumber daya ikan cakalang bersifat fluktuatif dan musiman, seiring dengan perubahan kondisi lingkungan perairan serta ketersediaan pakan (Andrade & Garcia, 1999. MUGO et al. , 2. Tingginya permintaan pasar terhadap ikan cakalang, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor, menjadikan komoditas ini sebagai salah satu target utama dalam kegiatan perikanan tangkap. Produksi ikan cakalang di Indonesia tahun 2024 sebesar 7. 880 ton, menunjukkan kontribusinya yang signifikan Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 terhadap sektor perikanan nasional (Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 2. Namun demikian, intensitas penangkapan yang tinggi tanpa pengelolaan yang memadai berpotensi menimbulkan tekanan terhadap sumber daya dan mengancam keberlanjutan stok ikan (Pauly et al. , 2. Dalam konteks lokal. Teluk Cenderawasih, khususnya wilayah pesisir Kabupaten Nabire, memiliki potensi sumber daya ikan cakalang yang cukup besar dan menjadi salah satu daerah penangkapan utama bagi nelayan setempat. Aktivitas penangkapan yang berlangsung secara intensif, bahkan cenderung sepanjang tahun, mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat pesisir terhadap sumber daya tersebut. Meskipun demikian, kondisi ini juga dihadapkan pada berbagai permasalahan, antara lain keterbatasan armada penangkapan, penggunaan teknologi yang masih sederhana, rendahnya akses terhadap permodalan, serta lemahnya sistem pemasaran dan rantai nilai perikanan (Damayanti et al. Satria, 2. Permasalahan tersebut berdampak pada rendahnya efisiensi usaha serta lemahnya posisi tawar nelayan, khususnya nelayan skala kecil, dalam sistem ekonomi Lebih lanjut, pada nelayan Orang Asli Papua (OAP) di Kampung Sanoba, ketergantungan terhadap hasil tangkapan ikan cakalang sebagai sumber utama pendapatan rumah tangga menjadi isu yang sangat krusial. Hingga saat ini, strategi pengembangan usaha yang berbasis pada analisis komprehensif terhadap faktor internal dan eksternal nelayan masih relatif terbatas. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang mampu mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman secara sistematis. Berdasarkan teori keunggulan kompetitif, perumusan strategi usaha yang efektif harus didasarkan pada integrasi faktor internal dan eksternal guna menciptakan keberlanjutan usaha (Porter, 2. Berdasarkan uraian tersebut, terdapat kesenjangan penelitian terkait belum optimalnya strategi pengembangan usaha nelayan OAP berbasis pendekatan analitis yang komprehensif di wilayah ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pengembangan usaha nelayan OAP penangkap ikan cakalang di Kampung Sanoba. Kabupaten Nabire, melalui analisis potensi usaha, kendala, serta peluang yang ada. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan nelayan, memperkuat kelembagaan usaha, serta mendukung keberlanjutan pengelolaan sumber daya perikanan. Selain itu, secara akademik, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan kajian strategi usaha perikanan berbasis masyarakat lokal. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20 Januari hingga 11 Februari 2026 di Kampung Sanoba. Kabupaten Nabire. Papua (Lokasi tergambar pada gambar . Lokasi penelitian dipilih secara purposif karena merupakan salah satu permukiman nelayan yang cukup padat dan didominasi oleh nelayan Orang Asli Papua (OAP), khususnya dari Suku Ambai, yang menjadikan penangkapan ikan cakalang sebagai mata pencaharian utama. Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Gambar 1. Lokasi penelitian Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal usaha perikanan tangkap serta merumuskan strategi pengembangan usaha nelayan secara sistematis. Unit analisis dalam penelitian ini adalah nelayan OAP penangkap ikan cakalang di Kampung Sanoba. Responden dan Teknik Penentuan Sampel Responden dalam penelitian ini berjumlah 18 nelayan OAP yang secara aktif melakukan penangkapan ikan cakalang. Penentuan responden dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria: . nelayan aktif, . memiliki pengalaman dalam penangkapan cakalang, dan . bersedia menjadi responden penelitian. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam menggunakan panduan kuesioner terstruktur, serta observasi langsung di lapangan. Wawancara dilakukan terhadap nelayan OAP, pelaku usaha perikanan, serta pemangku kepentingan terkait, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan dan tokoh masyarakat setempat. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang dirancang untuk menggali informasi terkait kondisi usaha nelayan, meliputi aspek produksi, permodalan, teknologi, pemasaran, serta kelembagaan. Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Data sekunder diperoleh dari laporan statistik perikanan, dokumen kebijakan, serta literatur yang relevan dengan pengelolaan perikanan tangkap dan pengembangan usaha Prosedur Penelitian Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: Identifikasi masalah dan penentuan lokasi penelitian Pengumpulan data primer dan sekunder melalui wawancara, kuesioner, dan observasi Identifikasi faktor internal dan eksternal usaha nelayan berdasarkan hasil pengumpulan data. Pengolahan dan analisis data menggunakan pendekatan SWOT. IFAS, dan EFAS Perumusan strategi pengembangan usaha berdasarkan hasil analisis Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi usaha nelayan penangkap ikan cakalang. Faktor internal yang terdiri atas kekuatan dan kelemahan dianalisis menggunakan Matriks IFAS (Internal Factor Analysis Summar. , sedangkan faktor eksternal yang meliputi peluang dan ancaman dianalisis menggunakan Matriks EFAS (External Factor Analysis Summar. Setiap faktor diberikan bobot . ,0Ae1,. berdasarkan tingkat kepentingannya, serta rating . Ae. berdasarkan tingkat pengaruhnya terhadap keberhasilan usaha. Nilai bobot dan rating kemudian dikalikan untuk memperoleh skor masing-masing faktor. Selanjutnya, total skor IFAS dan EFAS digunakan untuk menentukan posisi strategis usaha nelayan dan menyusun Matriks SWOT guna menghasilkan alternatif strategi pengembangan usaha yang sesuai (David & David, 2017. Ginting et al. , 2020. Gyrel & Tat. HASIL DAN PEMBAHASAN Daerah Penangkapan Ikan Cakalang Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penangkapan . ishing groun. ikan cakalang (Katsuwonus pelami. di Kabupaten Nabire masih terkonsentrasi pada wilayah pesisir dengan jangkauan operasi yang relatif terbatas. Nelayan Orang Asli Papua (OAP) umumnya melakukan aktivitas penangkapan di perairan dekat pantai dan belum memanfaatkan wilayah perairan lepas . secara optimal. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan sumber daya ikan belum dilakukan secara maksimal dari sisi spasial. Selain itu, hasil penelitian sebelumnya di wilayah Nabire menunjukkan bahwa ukuran ikan cakalang yang tertangkap berkisar antara 25Ae52 cm, yang mencerminkan dominasi ukuran tertentu dalam hasil tangkapan nelayan. Konsentrasi aktivitas penangkapan di wilayah pesisir berimplikasi pada meningkatnya tekanan eksploitasi pada area tertentu, yang dalam jangka panjang berpotensi menurunkan produktivitas stok ikan lokal. Menurut FAO . , tekanan penangkapan yang terfokus pada wilayah tertentu dapat menyebabkan penurunan stok secara lokal meskipun secara Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 keseluruhan sumber daya masih tersedia pada skala yang lebih luas. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam distribusi upaya penangkapan, yang dapat berdampak pada keberlanjutan sumber daya ikan apabila tidak dikelola dengan baik. Keterbatasan jangkauan fishing ground tersebut erat kaitannya dengan kapasitas armada dan teknologi penangkapan yang masih sederhana. Nelayan dengan perahu berukuran kecil dan mesin berdaya rendah cenderung membatasi aktivitas penangkapan di sekitar wilayah pesisir, sehingga tidak mampu mengikuti pola distribusi ikan yang bersifat Secara ekologis, ikan cakalang merupakan spesies pelagis migratori yang pergerakannya dipengaruhi oleh berbagai faktor oseanografi, seperti suhu permukaan laut, arus, dan ketersediaan pakan (Fonteneau et al. , 2013. Lehodey et al. , 2. Oleh karena itu, keterbatasan akses terhadap wilayah penangkapan yang lebih luas menyebabkan nelayan belum dapat memanfaatkan potensi sumber daya secara optimal. Temuan ini sejalan dengan (Amri et al. , 2. ) yang menyatakan bahwa nelayan skala kecil di Indonesia umumnya terkonsentrasi di wilayah pesisir akibat keterbatasan teknologi, modal, dan akses informasi. Lebih lanjut. Hilborn et al. , . menunjukkan bahwa diversifikasi daerah penangkapan dapat meningkatkan efisiensi usaha sekaligus mengurangi tekanan terhadap stok ikan pada wilayah tertentu. Hal serupa juga dikemukakan oleh Byny, , . , yang menegaskan bahwa keterbatasan akses terhadap fishing ground merupakan salah satu faktor utama yang membatasi produktivitas nelayan skala kecil, khususnya di negara berkembang. Secara ilmiah, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan spasial dalam pengelolaan perikanan tangkap, terutama dalam mengurangi tekanan eksploitasi di wilayah pesisir dan menjaga keseimbangan ekosistem. Pendekatan berbasis ekosistem . cosystembased fisheries managemen. menjadi relevan untuk memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya ikan dilakukan secara berkelanjutan. Secara praktis, pengembangan fishing ground yang lebih luas perlu didukung melalui peningkatan kapasitas armada dan teknologi penangkapan, penyediaan informasi oseanografi seperti suhu permukaan laut dan potensi daerah penangkapan, serta penguatan kebijakan dari pemerintah daerah. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha penangkapan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya ikan cakalang di perairan Nabire (Food and Agriculture Organization, 2020. Lehodey et al. , 2. Armada Penangkapan dan Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga Nelayan OAP Hasil penelitian menunjukkan bahwa armada penangkapan nelayan Orang Asli Papua (OAP) di Kampung Sanoba masih didominasi oleh perahu kayu tradisional berukuran relatif kecil dengan panjang sekitar 4Ae5 meter dan menggunakan motor tempel berkekuatan 15Ae40 PK. Pola operasi penangkapan umumnya bersifat harian . hort tri. dengan jangkauan yang terbatas pada wilayah perairan pesisir. Teknik penangkapan yang digunakan adalah metode aktif, yaitu mengejar gerombolan ikan cakalang. Secara rinci, karakteristik armada penangkapan nelayan OAP di Sanoba disajikan pada Tabel 1. Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Tabel 1. Karakteristik Armada Penangkapan Nelayan OAP di Sanoba Komponen Deskripsi Jenis perahu Kayu . Panjang perahu 4Ae5 meter Mesin Motor tempel 15Ae40 PK Pola operasi Harian . hort tri. Metode penangkapan Mengejar gerombolan ikan Jangkauan operasi Perairan pesisir Kondisi armada yang relatif kecil dengan kapasitas mesin terbatas menyebabkan nelayan OAP memiliki keterbatasan dalam menjangkau daerah penangkapan yang lebih luas. Hal ini berdampak pada rendahnya fleksibilitas nelayan dalam mengikuti pergerakan ikan cakalang yang bersifat migratori, sehingga peluang memperoleh hasil tangkapan yang optimal menjadi terbatas. Selain itu, penggunaan metode penangkapan aktif dengan mengejar gerombolan ikan menyebabkan konsumsi bahan bakar relatif tinggi, meskipun durasi trip cenderung pendek. Kondisi ini meningkatkan biaya operasional dan pada akhirnya menekan margin keuntungan yang diperoleh nelayan. Apabila dibandingkan dengan nelayan pendatang, terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam hal kapasitas armada, teknologi, serta pola operasi penangkapan. Nelayan pendatang umumnya memiliki armada yang lebih besar dengan dukungan modal yang lebih kuat, sehingga mampu melakukan trip penangkapan yang lebih panjang dan menjangkau daerah penangkapan yang lebih luas. Hal ini memberikan keunggulan dalam efisiensi operasional dan stabilitas produksi, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tingkat Dari aspek sosial ekonomi, rumah tangga nelayan OAP di Sanoba menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap hasil tangkapan sebagai sumber utama Pendapatan yang diperoleh bersifat fluktuatif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti musim penangkapan, kondisi cuaca, ketersediaan sumber daya ikan, harga pasar, serta biaya operasional, terutama bahan bakar. Kondisi ini mencerminkan tingkat kerentanan ekonomi yang tinggi, terutama pada saat musim paceklik atau ketika terjadi gangguan aktivitas penangkapan akibat cuaca ekstrem. Untuk menghadapi kondisi tersebut, rumah tangga nelayan umumnya menerapkan strategi adaptif, seperti menyesuaikan pola konsumsi dan pengeluaran rumah tangga berdasarkan siklus musim penangkapan. Temuan ini sejalan dengan Allison & Ellis, . yang menyatakan bahwa nelayan skala kecil cenderung menghadapi risiko ekonomi yang tinggi akibat ketergantungan pada sumber daya alam yang tidak menentu. Pada studi lain juga menegaskan bahwa rumah tangga nelayan di Indonesia memiliki karakteristik pendapatan yang fluktuatif dan rentan terhadap perubahan lingkungan maupun dinamika pasar (Satria, 2. Lebih lanjut. FAO . mengemukakan bahwa keterbatasan akses terhadap teknologi, modal, dan informasi merupakan faktor utama yang membatasi produktivitas dan daya saing perikanan skala OECD . menambahkan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia nelayan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efisiensi usaha serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan teknologi dan pasar. Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa keterbatasan kapasitas armada dan tingginya kerentanan ekonomi merupakan karakteristik utama usaha perikanan tangkap skala kecil, khususnya pada komunitas nelayan OAP di wilayah pesisir. Oleh karena itu, diperlukan intervensi kebijakan yang terintegrasi, meliputi peningkatan kapasitas armada dan teknologi penangkapan untuk memperluas jangkauan operasi, penguatan akses terhadap pembiayaan guna mengatasi keterbatasan modal, serta pengembangan kelembagaan ekonomi nelayan seperti koperasi untuk meningkatkan posisi tawar dalam rantai pemasaran. Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan manajemen usaha dan literasi keuangan, serta pengembangan rantai nilai perikanan melalui pengolahan hasil tangkapan, menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah. Implementasi strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan stabilitas pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga nelayan OAP secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing usaha perikanan tangkap di wilayah pesisir Kabupaten Nabire. Strategi Pengembangan Usaha Nelayan Cakalang OAP Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan usaha nelayan penangkap ikan cakalang oleh Orang Asli Papua (OAP) di Kampung Sanoba memiliki potensi yang cukup besar, namun masih dihadapkan pada berbagai keterbatasan struktural. Berdasarkan identifikasi faktor internal dan eksternal melalui pendekatan SWOT, ditemukan bahwa kekuatan utama nelayan terletak pada ketersediaan sumber daya ikan serta pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Sebaliknya, kelemahan utama mencakup keterbatasan modal, teknologi, serta kapasitas manajerial. Dari sisi eksternal, peluang berupa permintaan pasar dan dukungan kebijakan pemerintah cukup signifikan, namun diimbangi oleh berbagai ancaman seperti tekanan eksploitasi sumber daya, perubahan iklim, serta fluktuasi harga ikan. Analisis SWOT terpapar pada gambar 2. Kekuatan (Strengt. Ketersediaan sumber daya ikan cakalang yang cukup Pengalaman nelayan OAP dalam penangkapan ikan Biaya operasioanl relatif Solidaritas dan kerja sama Peluang (Opportunitie. Program afirmasi ekonomi OAP dari pemerintah Permintaan pasar ikan cakalang tinggi Potensi pengembangan pengolahan hasil perikanan Potensi koperasi nelayan OAP dan kemitraan usaha Kelemahan (Weaknese. Armada dan alat tangkap masih tradisional Akses permodalan terbatas Manajemen usaha dan pencatatan keuangan lemah Rantai pemasaran masih dikuasai tengkulak Ancaman (Threat. Fluktuasi harga ikan dan biaya operasional (BBM) Dampak perubahan cuaca Persainagn dengan armada Marginalisasi sosial dan ekonomi nelayan OAP Gambar 2. Analisis SWOT Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Secara lebih rinci, hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa nelayan OAP memiliki keunggulan dalam bentuk ketersediaan sumber daya ikan cakalang yang relatif melimpah, pengalaman melaut yang kuat, serta solidaritas sosial dalam komunitas pesisir. Kondisi ini menunjukkan bahwa modal sosial dan pengetahuan lokal . ocal ecological knowledg. merupakan faktor kunci dalam mendukung keberlanjutan usaha perikanan. Hal ini sejalan dengan beberapa studi yang menegaskan bahwa pengetahuan lokal memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan (Berkes, 2012. Johannes. Selain itu, praktik penangkapan yang masih bersifat tradisional cenderung lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan perikanan skala industri (FAO, 2. , sehingga berkontribusi terhadap keberlanjutan sumber daya. Namun demikian, kekuatan tersebut belum mampu dimanfaatkan secara optimal karena adanya berbagai kelemahan internal. Keterbatasan modal, penggunaan alat tangkap sederhana, ukuran armada yang kecil, serta minimnya fasilitas rantai dingin berdampak langsung pada rendahnya produktivitas dan kualitas hasil tangkapan. Kondisi ini konsisten dengan Allison dan Ellis . yang menyatakan bahwa nelayan skala kecil umumnya menghadapi keterbatasan aset produksi dan akses pembiayaan. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan dan literasi manajemen usaha menyebabkan nelayan kurang optimal dalam mengelola keuangan dan mengembangkan usaha. Ketergantungan terhadap tengkulak juga memperlemah posisi tawar nelayan dalam rantai nilai perikanan, sebagaimana dikemukakan oleh Byny . dan Coulthard et al. , . Di sisi eksternal, hasil penelitian menunjukkan adanya peluang yang cukup besar dalam pengembangan usaha nelayan OAP. Dukungan kebijakan pemerintah melalui program pemberdayaan nelayan, bantuan sarana produksi, serta akses pembiayaan memberikan ruang bagi penguatan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya di wilayah Papua Tengah (KKP, 2. Selain itu, meningkatnya permintaan pasar terhadap ikan cakalang, baik di tingkat domestik maupun internasional, membuka peluang pengembangan usaha berbasis nilai tambah. Produk olahan seperti ikan asap, abon, dan produk beku dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan. Hal ini sejalan dengan OECD . dan FAO . yang menekankan pentingnya pengembangan rantai nilai perikanan dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan skala kecil. Meskipun demikian, peluang tersebut dihadapkan pada berbagai ancaman yang Tekanan dari armada penangkapan berskala besar dapat mengurangi akses nelayan tradisional terhadap wilayah tangkap (Bardey, 2. Selain itu, perubahan iklim dan variabilitas oseanografi turut memengaruhi distribusi ikan pelagis seperti cakalang, sehingga meningkatkan ketidakpastian hasil tangkapan (Illahi et al. , 2. Fluktuasi harga ikan dan kenaikan biaya operasional, khusus asn bahan bakar, juga menjadi faktor risiko yang dapat menurunkan pendapatan nelayan. Sebuah studi menegaskan bahwa nelayan kecil merupakan kelompok yang paling rentan terhadap tekanan ekonomi dan lingkungan secara bersamaan (Cinner et al. , 2. Integrasi antara faktor internal dan eksternal menunjukkan bahwa posisi strategis nelayan OAP berada dalam kondisi yang potensial untuk berkembang, namun masih rentan. Artinya, nelayan memiliki kekuatan dan peluang yang cukup besar, tetapi belum mampu dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan internal. Temuan ini sejalan dengan FAO Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 . yang menyatakan bahwa perikanan skala kecil di negara berkembang umumnya memiliki potensi sumber daya yang besar, namun terkendala oleh aspek teknologi, akses pasar, dan kelembagaan. Berdasarkan kondisi tersebut, strategi pengembangan usaha nelayan OAP perlu dirumuskan secara terintegrasi, meliputi penguatan aset produksi melalui modernisasi armada dan teknologi penangkapan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen usaha, pengembangan kelembagaan ekonomi seperti koperasi nelayan, serta diversifikasi usaha berbasis nilai tambah. Pendekatan ini sejalan dengan konsep keunggulan kompetitif yang dikemukakan oleh Porter . , yang menekankan pentingnya integrasi faktor internal dan eksternal dalam mencapai keberlanjutan usaha. Secara ilmiah, hasil penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan perikanan skala kecil tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga ditentukan oleh faktor sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Sementara itu, secara praktis, pengembangan usaha nelayan cakalang OAP di Sanoba perlu difokuskan pada modernisasi teknologi, peningkatan akses pasar dan pembiayaan, penguatan kelembagaan nelayan, serta pengembangan produk olahan perikanan. Selain itu, diperlukan kebijakan pengelolaan berbasis ekosistem serta perlindungan terhadap nelayan kecil melalui pengaturan zona tangkap untuk menjaga keberlanjutan sumber daya. Secara keseluruhan, strategi pengembangan usaha nelayan cakalang OAP harus bersifat integratif dan adaptif, dengan mengoptimalkan kekuatan lokal dan peluang eksternal, serta meminimalkan kelemahan dan Pendekatan berbasis kearifan lokal yang didukung oleh intervensi kebijakan dan penguatan kelembagaan menjadi kunci dalam mewujudkan perikanan yang berkelanjutan dan berdaya saing di Papua. Analisis Faktor Internal (Matriks IFAS) Hasil analisis Matriks IFAS menunjukkan bahwa kondisi internal usaha nelayan penangkap ikan cakalang Orang Asli Papua (OAP) di Kampung Sanoba berada pada kategori cukup kuat dengan nilai total sebesar 2,60. Nilai ini mengindikasikan bahwa secara umum nelayan telah memiliki modal internal yang relatif memadai dalam menjalankan aktivitas penangkapan, meskipun dalam praktiknya masih dijumpai berbagai keterbatasan yang memengaruhi kinerja usaha secara keseluruhan. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan analisis yang dilakukan, kekuatan utama nelayan terletak pada ketersediaan sumber daya ikan cakalang yang masih cukup melimpah di perairan sekitar, dengan skor tertinggi sebesar 0,60. Kondisi ini menjadi faktor penting yang secara langsung menopang keberlanjutan usaha penangkapan. Selain itu, pengalaman melaut yang dimiliki nelayan . turut memberikan kontribusi signifikan, terutama dalam memahami pola musim, lokasi penangkapan, serta kondisi oseanografi yang berubah-ubah. Biaya operasional yang relatif rendah . , yang umumnya disebabkan oleh penggunaan alat tangkap sederhana dan skala usaha yang kecil, juga menjadi keunggulan Di samping itu, hubungan sosial yang kuat antar nelayan dalam bentuk solidaritas dan kerja sama . masih terlihat jelas dalam aktivitas sehari-hari, misalnya dalam berbagi informasi daerah penangkapan maupun saling membantu saat menghadapi kendala di laut. Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Namun demikian, kekuatan tersebut belum sepenuhnya mampu mendorong peningkatan kinerja usaha secara optimal. Hal ini terlihat dari masih dominannya beberapa kelemahan internal yang dihadapi nelayan. Penggunaan alat tangkap yang masih tradisional . kor 0,. menjadi salah satu faktor yang membatasi jangkauan penangkapan dan efisiensi Keterbatasan akses terhadap modal . juga menjadi kendala klasik yang memengaruhi kemampuan nelayan dalam meningkatkan skala usaha maupun mengadopsi teknologi yang lebih modern. Selain itu, aspek manajemen usaha yang masih lemah . tercermin dari belum adanya pencatatan keuangan yang baik serta perencanaan usaha yang Kondisi ini berdampak pada ketidakstabilan pendapatan nelayan dari waktu ke Ketergantungan terhadap tengkulak . semakin memperkuat posisi tawar nelayan yang cenderung lemah, terutama dalam penentuan harga hasil tangkapan. Tabel 2. Matriks IFAS Nelayan Cakalang OAP (Simulas. Faktor Internal Bobot Rating Kekuatan Sumber daya ikan cakalang melimpah 0,15 Pengalaman nelayan 0,12 Biaya operasional relatif rendah 0,10 Solidaritas dan kerja sama komunitas kuat 0,08 Subtotal Kekuatan 0,45 Kelemahan Alat tangkap masih tradisional 0,15 Akses modal terbatas 0,15 Manajemen usaha lemah 0,13 Ketergantungan pada tengkulak 0,12 Subtotal Kelemahan 0,55 TOTAL IFAS 1,00 Skor 0,60 0,36 0,30 0,24 1,50 0,30 0,30 0,26 0,24 1,10 2,60 Jika dilihat dari nilai totalnya, posisi internal nelayan sebenarnya sudah cukup menguntungkan, namun belum berada pada kondisi yang benar-benar kuat. Pengalaman melaut dan pengetahuan lokal yang dimiliki nelayan menjadi modal penting yang selama ini membantu mereka bertahan, bahkan dalam kondisi sumber daya dan teknologi yang Pengetahuan ini umumnya diperoleh secara turun-temurun dan terbukti efektif dalam menentukan waktu serta lokasi penangkapan yang tepat. Di sisi lain, keterbatasan dalam aspek teknologi dan permodalan masih menjadi penghambat utama. Alat tangkap yang sederhana tidak hanya membatasi jangkauan operasi, tetapi juga memengaruhi jumlah dan kualitas hasil tangkapan. Kondisi ini semakin diperparah oleh lemahnya pengelolaan usaha, sehingga nelayan cenderung menjalankan aktivitas penangkapan secara rutin tanpa perencanaan yang matang. Ketergantungan pada tengkulak dalam pemasaran hasil tangkapan juga membuat nelayan sulit memperoleh harga yang lebih kompetitif. Temuan ini tidak berbeda jauh dengan karakteristik umum perikanan skala kecil di berbagai wilayah. Allison dan Ellis . menyebutkan bahwa nelayan tradisional umumnya memiliki keunggulan pada pengalaman dan pengetahuan lokal, namun terbatas dalam akses Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 terhadap aset produktif dan pembiayaan. Hal yang sama juga ditegaskan oleh FAO . , bahwa perikanan skala kecil di negara berkembang sering kali memiliki potensi sumber daya yang besar, tetapi belum didukung oleh kapasitas teknologi dan kelembagaan yang memadai. Dalam konteks analisis strategis. David . dan Rangkuti . menjelaskan bahwa nilai IFAS di atas 2,5 menunjukkan bahwa suatu usaha memiliki kondisi internal yang relatif kuat dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, penguatan kapasitas internal menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Upaya peningkatan kemampuan manajemen usaha, seperti pencatatan keuangan sederhana dan perencanaan operasional, dapat membantu nelayan dalam mengelola pendapatan secara lebih stabil. Selain itu, dukungan terhadap akses permodalan dan pemanfaatan teknologi penangkapan yang lebih efisien juga diperlukan agar produktivitas dapat meningkat. Penguatan kelembagaan ekonomi, seperti kelompok atau koperasi nelayan, menjadi salah satu alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak sekaligus meningkatkan posisi tawar nelayan di pasar. Secara keseluruhan, hasil analisis ini menunjukkan bahwa nelayan cakalang OAP di Kampung Sanoba telah memiliki dasar internal yang cukup baik untuk mendukung pengembangan usaha. Namun demikian, tanpa adanya upaya perbaikan pada aspek manajemen, teknologi, dan akses ekonomi, potensi yang ada belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu, pendekatan pengembangan yang lebih terarah dan berbasis pada kondisi nyata di lapangan menjadi kunci dalam meningkatkan keberlanjutan dan daya saing usaha perikanan tangkap di wilayah ini. Analisis Faktor Eksternal (Matriks EFAS) dan Formulasi Strategi SWOT Hasil analisis Matriks EFAS menunjukkan bahwa lingkungan eksternal usaha nelayan penangkap ikan cakalang Orang Asli Papua (OAP) di Kampung Sanoba berada pada kategori relatif menguntungkan, dengan nilai total sebesar 2,72. Nilai ini mengindikasikan bahwa peluang eksternal yang tersedia lebih dominan dibandingkan ancaman yang dihadapi, sehingga memberikan ruang yang cukup luas bagi pengembangan usaha perikanan tangkap. Kondisi ini mencerminkan bahwa faktor-faktor di luar kendali nelayan, seperti dinamika pasar, kebijakan pemerintah, dan ketersediaan sumber daya, secara umum masih memberikan dukungan terhadap keberlanjutan usaha, meskipun tetap memerlukan respons strategis agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Secara lebih rinci, komponen peluang memiliki total skor sebesar 1,80, jauh lebih tinggi dibandingkan ancaman yang hanya mencapai 0,92. Hal ini menunjukkan bahwa usaha perikanan cakalang di wilayah ini masih memiliki prospek yang cukup baik untuk Permintaan pasar yang tinggi terhadap ikan cakalang menjadi faktor paling dominan dengan skor 0,72, yang secara langsung membuka peluang peningkatan produksi dan perluasan akses pemasaran. Kondisi ini diperkuat oleh adanya program bantuan pemerintah di sektor perikanan tangkap yang dalam beberapa tahun terakhir difokuskan pada peningkatan kapasitas nelayan skala kecil, baik melalui bantuan armada, alat tangkap, maupun akses pembiayaan. Selain itu, potensi pengembangan usaha pengolahan hasil perikanan serta mulai berkembangnya koperasi nelayan turut memberikan peluang tambahan dalam meningkatkan nilai tambah produk dan efisiensi distribusi hasil tangkapan. Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Dalam konteks ini, penguatan kelembagaan ekonomi nelayan menjadi aspek yang semakin penting, terutama dalam memperbaiki rantai pemasaran dan mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak. Kemampuan dalam mengelola rantai nilai secara lebih efektif akan sangat menentukan daya saing usaha nelayan, sebagaimana dikemukakan oleh Porter . , bahwa keunggulan kompetitif suatu usaha tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh efisiensi sistem distribusi dan kelembagaan pendukung. Hal ini juga sejalan dengan temuan Byny et al. yang menekankan bahwa penguatan aspek kelembagaan merupakan salah satu faktor kunci dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun demikian, meskipun peluang yang tersedia cukup besar, nelayan tetap dihadapkan pada berbagai ancaman eksternal yang berpotensi menghambat perkembangan Fluktuasi harga ikan . dan kondisi cuaca ekstrem . merupakan faktor utama yang memengaruhi ketidakstabilan pendapatan nelayan. Selain itu, keberadaan kapal penangkap ikan skala besar dari luar daerah . menimbulkan tekanan kompetitif yang tidak seimbang, mengingat keterbatasan armada yang dimiliki nelayan tradisional. Ancaman lain yang bersifat struktural adalah marginalisasi sosial dan ekonomi . , yang berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap sumber daya ekonomi, informasi, dan kebijakan. Temuan ini konsisten dengan laporan FAO . yang menyebutkan bahwa nelayan skala kecil di negara berkembang sering menghadapi tekanan eksternal yang kompleks, meskipun memiliki potensi sumber daya yang besar. Tabel 3. Matriks EFAS Nelayan Cakalang OAP (Simulas. Faktor Eksternal Bobot Rating Skor Peluang Permintaan pasar tinggi 0,18 0,72 Program bantuan pemerintah 0,14 0,42 Potensi pengembangan pengolahan 0,12 0,36 Koperasi nelayan berkembang 0,10 0,30 Subtotal Peluang 0,54 1,80 Ancaman Fluktuasi harga 0,15 0,30 Cuaca ekstrem 0,12 0,24 Kapal besar luar daerah 0,11 0,22 Marginalisasi sosial dan ekonomi 0,08 0,16 Subtotal Ancaman 0,46 0,92 TOTAL EFAS 1,00 2,72 Berdasarkan kondisi internal dan eksternal yang telah dianalisis melalui Matriks IFAS dan EFAS, selanjutnya dirumuskan strategi pengembangan usaha nelayan cakalang OAP melalui pendekatan SWOT. Integrasi kedua matriks tersebut menghasilkan beberapa alternatif strategi yang dapat diterapkan secara kontekstual sesuai dengan kondisi lapangan. Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Tabel 4. Strategi SWOT dan Rasional Strategis Strategi Alternatif Strategi Rasional Strategis Memanfaatkan kekuatan internal dan Modernisasi armada melalui bantuan (StrengthAe Pengembangan koperasi meningkatkan produktivitas dan daya Opportunit. nelayan berbasis pemasaran kolektif Pelatihan (WeaknessAe Peningkatan akses modal Opportunit. (StrengthAe Threa. Mengatasi kelemahan internal melalui pemanfaatan peluang eksternal Penguatan regulasi zona tangkap Mengurangi tekanan dari ancaman kekuatan internal Meminimalkan Diversifikasi usaha pengolahan hasil (WeaknessAe kelemahan dan Threa. Dari keempat alternatif strategi tersebut, strategi SO yang menekankan modernisasi armada dan penguatan koperasi nelayan dinilai paling relevan untuk diterapkan dalam jangka pendek. Kondisi nelayan OAP yang masih didominasi oleh armada kecil dan teknologi sederhana menjadikan dukungan pemerintah sebagai faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha. Pada saat yang sama, penguatan koperasi nelayan dapat memperbaiki sistem pemasaran dan meningkatkan posisi tawar nelayan dalam rantai Hal ini sejalan dengan temuan Nuraini et al . yang menunjukkan bahwa penguatan kelembagaan lokal di Papua berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan Strategi WO berfokus pada peningkatan kapasitas manajerial dan akses pembiayaan. Keterbatasan dalam pengelolaan usaha masih menjadi kendala utama dalam pengembangan usaha nelayan, sehingga pelatihan berbasis komunitas dan pendampingan berkelanjutan menjadi penting. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia terbukti berpengaruh terhadap efisiensi usaha dan stabilitas pendapatan nelayan, sebagaimana dikemukakan oleh Anggraeni et al . Selanjutnya, strategi ST menekankan pentingnya penguatan regulasi zona tangkap untuk melindungi nelayan kecil dari tekanan armada skala besar. Dalam konteks perairan Nabire, pengaturan zonasi berbasis kearifan lokal menjadi pendekatan yang relevan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya sekaligus mengurangi konflik pemanfaatan ruang laut (Jentoft, 2. Sementara itu, strategi WT melalui diversifikasi usaha merupakan langkah adaptif dalam menghadapi ketidakpastian eksternal, terutama fluktuasi harga dan musim tangkap. Pengembangan produk olahan seperti ikan asap, abon, atau produk beku tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga membantu menjaga stabilitas pendapatan nelayan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi usaha dapat meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan serta mengurangi risiko kerugian (Abdullah et al. , 2. Copyright A 2026. Authors Maruanaya. Mistina. Tuhumena, & Pattiradjawane / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 6. , 2025 Secara keseluruhan, integrasi analisis IFAS dan EFAS dalam kerangka SWOT menghasilkan pendekatan perencanaan strategis yang lebih komprehensif dan berbasis kondisi nyata di lapangan. Pendekatan ini tidak hanya membantu dalam mengidentifikasi posisi usaha nelayan, tetapi juga dalam merumuskan strategi yang realistis dan aplikatif. Dengan demikian, strategi yang dihasilkan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan OAP, memperkuat kelembagaan usaha, serta mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan di wilayah Nabire. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan cakalang oleh nelayan Orang Asli Papua (OAP) di Kampung Sanoba masih terbatas pada wilayah perairan sempit akibat keterbatasan armada, teknologi, dan infrastruktur. Meskipun nelayan memiliki kekuatan berupa pengalaman dan pengetahuan lokal serta didukung potensi sumber daya yang tersedia, kelemahan dalam aspek modal, teknologi, dan kelembagaan masih menjadi kendala utama. Hasil analisis IFAS dan EFAS mengindikasikan bahwa kondisi internal cukup kuat dan lingkungan eksternal relatif mendukung, sehingga peluang pengembangan usaha masih terbuka. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan perikanan skala kecil memerlukan pendekatan terintegrasi yang mencakup aspek ekonomi, teknologi, dan kelembagaan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan intervensi yang berfokus pada peningkatan kapasitas produksi nelayan melalui dukungan sarana penangkapan dan penguatan kelembagaan ekonomi. Kebijakan perlindungan nelayan skala kecil serta perluasan akses pembiayaan juga menjadi penting. Secara akademik, pendekatan SWOT berbasis IFASAeEFAS dapat dikembangkan dengan memasukkan dimensi keberlanjutan, sementara penelitian lanjutan perlu mengkaji rantai nilai, kesejahteraan nelayan, serta aspek bioekonomi dan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis berterima kasih kepada Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala atas motifasi dan dukungan yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Dekan dan para dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan yang memberikan input dalam penyusunan naskah. Penghargaan khusus ditujukan kepada para nelayan OAP di Kampung Sanoba, yang membantu memberikan informasi, sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA