Institut Riset dan Publikasi Indonesia (IRPI) MALCOM: Indonesian Journal of Machine Learning and Computer Science Journal Homepage: https://journal. id/index. php/malcom Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 76-82 ISSN(P) 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 Implementation of Analytic Hierarchy Process Method for Riau Oil Palm Plantation Land Selection Implementasi Metode Analytic Hierarchy Process untuk Pemilihan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Riau Moh. Erkamim1*. Sepriano2. I Gede Iwan Sudipa3. Khoirun Nisa4. Ali Zainal Abidin Alaydrus5. Legito6 Program Studi Sistem Informasi Kota Cerdas. Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Indonesia Program Studi Sistem Informasi. Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Indonesia Program Studi Teknik Informatika. Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia. Indonesia Program Studi Informatika. Universitas Harapan Bangsa. Indonesia Program Studi Agroekoteknologi. Universitas Mulawarman. Indonesia Jurusan Teknik Informatika. Sekolah Tinggi Teknologi Sinar Husni Deliserdang Sumatera Utara. Indonesia E-Mail: 1erkamim@lecture. id, 2sepriano@uinjambi. id, 3iwansudipa@instiki. khoirunnisa@uhb. id, 5alizainal@faperta. id, 6legitostt@gmail. Received Mar 21th 2023. Revised Jun 2nd 2023. Accepted Aug 04th 2023 Corresponding Author: Moh. Erkamim Abstract This research aims to provide alternatives to the selection of Riau Palm Oil plantation land with the Analytic Hierarchy Process (AHP) Method. With the number of criteria is 5 consisting of rainfall, height above sea level, base material content, peat thickness and soil acidity. Alternatives are 12 consisting of 12 districts in Riau. Riau Province is one of the provinces that has the most extensive oil palm plantations in Indonesia, the growth of oil palm plantation area is very rapid. The search for alternatives using the AHP method with the number of criteria is 5 consisting of rainfall, height above sea level, base material content, peat thickness and soil acidity. The number of alternatives is 12 consisting of 12 districts in Riau. So that the ranking results obtained that Kuantan is the first priority and Bengkalis is the 12th priority with a consistency ratio value of 2. Keyword: Analytic Hierarchy Process (AHP). Palm Oil. Consistence Ratio. Plantation. Riau Province Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif pada pemilihan lahan perkebunan Kelapa Sawit Riau dengan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Dengan jumlah kriteria adalah 5 yang terdiri dari curah hujan, ketinggian diatas permukaan laut, kandungan bahan dasar, ketebalan gambut dan keasaman tanah. Alternatif adalah 12 yang terdiri dari 12 kabupaten di Riau. Provinsi Riau merupakan salah satu provinsi yang memiliki perkebunan kelapa sawit yang paling luas di indonesia, pertumbuhan luas area kebun kelapa sawit sangat pesat. Pencarian alternatif menggunakan metode AHP dengan jumlah kriteria adalah 5 terdiri dari curah hujan, ketinggian diatas permukaan laut, kandungan bahan dasar, ketebalan gambut dan keasaman tanah. Jumlah alternatif adalah 12 yang terdiri dari 12 Kabupaen di Riau. Sehingga didapatkan hasil perankingan bahwa Kuantan merupakan prioritas pertama dan Bengkalis merupakan prioritas ke-12 dengan nilai konsitensi rasio adalah 2,6% Kata Kunci: Analytic Hierarchy Process (AHP). Kelapa Sawit. Konsistensi Rasio. Perkebunan. Provinsi Riau PENDAHULUAN Provinsi Riau merupakan salah satu provinsi yang memiliki perkebunan kelapa sawit yang paling luas di indonesia, pertumbuhan luas area kebun kelapa sawit sangat pesat . Pada tahun 2001, luas area perkebunan kelapa sawit adalah 1,05 juta ha dengan jumlah produksi 2,03 juta ton. Pada tahun 2009 luas area perkebunan sawit meningkat menjadi 1,9 juta ha dengan produksi 5,9 juta ton (BPS, 2. Usaha perkebunan merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani . Selain berfungsi sebagai pelestarian lingkungan hidup serta sebagai instrument pemerataan DOI: https://doi. org/10. 57152/malcom. ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 pembangunan rakyat. Sesuai dengan kultur dalam Provinsi Riau, pembukaan lahan pekebiman seyogyanya juga mampu untuk mencapai tujuan-tujuan pembangiman disubsektor perkebunan. Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri penting penghasi minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar . dan berbagai jenis turunannya seperti minyak alkohol, margarin, lilin, sabun, industri kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit, dan industri farmasi. Sisa pengolahannya dapat dimanfaatkan menjadi kompos dan campuran pakan ternak. Lahan subur merupakan unsur yang penting bagi terciptanya kualitas kelapa sawit yang baik untuk kriteria lahan ialah data sample lahan yang akan di ambil seperti curah hujan, ketinggian diatas permukaan laut, kandungan bahan kasar, ketebalan gambut dan keasaman tanah . Adapun Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan krieria pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ainun Jariah Tahun 2011 tentang penentuan lokasi perkebunan kelapa sawit dengan menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) . Penelitian lainnya yang dilakukan Maratullatifah dan kawan-kawan tahun 2022 bahwa membandingkan metode SAW dan AHP dalam pemilihan supplier pada restoran berdasar euclidean distance metode AHP yang paling baik digunakan dalam penelitian ini dengan nilai rata-rata 0,19 sedangkan SAW nilai rata-rata 0,90 . Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Firnando dan Kurniawan perbandingan AHP dan SAW dalam Pemilihan Lahan Kelapa Sawit memperlihatkan bahwa metode yang paling cocok AHP dimana metode ini lebih detail dalam perhitungannya . Membuka lahan pertanian kelapa sawit perlu melakukan evaluasi lahan yang bertujuan untuk ketepatan lokasi lahan sebagai syarat tumbuhnya kelapa sawit nantinya, tidak menimbulkan banyak masalah pada waktu mendatang yang akan mengakibatkan meningkatnya biaya pengelolaan kebun . Apabila kondisi lokasi lahan dari wilayah tersebut tidak sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman kelapa sawit, maka lokasi lahan tersebut dikategorikan sebagai lokasi lahan petensial untuk dikembangkan bagi perkebunan kelapa sawit . Hasil evaluasi lokasi lahan nantinya akan memberikan informasi tentang kelayakan suatu lokasi lahan untuk budidaya tanaman kelapa sawit, cara pengelolaannya dan gambaran produktivitas yang dhasilkan yang nantinya akan menentukan keuntungan secara financial. Sebelumnya telah ada penelitian SPK untuk menentukan lokasi perkebunan kelapa sawit dengan menggunakan metode SAW oleh Ainun Jariah Tahun 2011 . , untuk penelitan ini penulis mencoba membuat dengan metode yang berbeda. Salah satu metode SPK yang digunakan untuk penentuan lokasi perkebunan kelapa sawit adalah metode. Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem, dimana pengambil keputusan berusaha memahami suatu kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi dalam mengambil keputusan . Agar mempermudah dan memberikan solusi petani perkebunana sawit dalam membantu pemilihan lahan terbaik diperlukan sistem pendukung keputusan yang diharapkan mampu memberikan rekomendasi dalam pemilihan alternatif dalam pemilihan lahan perkebunan kelapa sawit dengan menggunakan metode AHP. METODOLOGI Metodologi yang diterapkan dalam melakukan penelitian ditunjukkan pada Gambar 1. Studi Literatur Mendefenisikn Perbandingan Kritria Perbndingan Berpasangan Menentukan Nilai Eigen Menghitung Nilai Konsistnsi Anaisa Hasl Kesimpulan Gambar 1. Metodologi Penelitian MALCOM - Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 76-82 MALCOM-03. : 76-82 Sistem Pendukung Keputusan Sistem Pendukung Keputusan didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan baik kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi-tersetruktur . Secara khusus. Sistem Pendukung Keputusan didefinisikansebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer dalam memecahkan masalah semi-terstruktur dengan cara memberikan informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu . Fuzzy Multiple Attribute Decision Making (FMADM) FMADM adalah suatu metode yang digunakan untuk mencari alternatif optimal dari sejumlah alternatif dengan kriteria tertentu . Inti dari FMADM adalah menentukan nilai bobot untuk setiap attribute, kemudian dilanjutkan dengan proses perangkingan yang akan menyeleksi alternatif yang sudah diberikan . Pada dasarnya, ada tiga pendekatan untuk menentukan nilai bobot attribute, yaitu pendekatan subjektif, pendekatan objektif dan pendekatan integrasi antara subjektif dan objektif . Masig-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kelemahan. Pada pendekatan subjektif, nilai bobot ditentukan berdasarkan subjektifitas dari para pengambil keputusan, sehingga beberapa faktor dalam proses perangkingan alternatif biasa ditentukan secara Pada pendekatan objektif, nilai bobot dihitung secara matematis dari pengambilan keputusan. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untk menyelesaikan masalah FMADM yaitu . : . Simple Additive Weightting (SAW), . Weighted Product (WP), . ELECTRE, . Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS),dan . Analytic Hierarchy Process (AHP). Analitytical Hierarchy Process Metode AHP dikembangkan awal tahun 1970-an oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika dari Universitas Pittsburg . AHP banyak digunakan pada keputusan untuk banyak kriteria, perencanaan, alokasi sumberdaya dan penentuan prioritas dari strategi-strategi yang dimiliki pemain dalam situasi konflik. Jadi. AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem, dimana pengambil keputusan berusaha memahami suatu kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi dalam mengambil keputusan . AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut . Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan. Memperhitungkan daya tahan Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya . Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya E1. E2. E3. E4. E5. Melakukan Mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [. buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. Matriks Perbandingan berpasangan juga dapat dipresentasikan sebagai berikut . yc1/yc1 ya=[ U ycycu/yc1 U yc1/ycycu yc1 U ]y U =ycu U ycycu/ycycu ycycu Dimana A adalah matriks perbandingan, w adalah vektor eigendan n adalah dimensi dari matriks. Skala perbandingan perbandingan berpasangan dan penjelasannya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan Saaty Intensitas Keterangan Kedua elemen sama Salah satu elemen sedikit lebih penting Salah satu elemen jelas lebih penting Salah satu elemen sangat jelas lebih Penjelasan Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya Suatu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek Implementasi Metode Analytic Hierarchy Process untuk Pemilihan. (Erkamim et al, 2. ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 Intensitas Keterangan Salah satu elemen paling lebih penting 2,4,6,8 Kebalikan Penjelasan Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen yang lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan Jika untuk akivitasi mendapat suatu angka dibandingkan dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara dua pilihan HASIL DAN PEMBAHASAN Mendefinisikan Kriteria Permaslahan pada penelitian ini adalah bagaimana mengambil pilihan untuk memilih satu lahan perkebunan kelapa sawit yang cocok dan efisien di 12 Kabupaten di Riau yang didasarkan pada 5 Kriteria. Kriteria dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Kriteria Kriteria Curah Hujan Ketinggian DPL Kandungan Bahan Dasar Ketebalan Gambut Keasaman Tanah Singkatan CHN DPL KBD KGT KTH Perbandingan Kriteria Unsur - unsur matriks perbandingan tersebut diperoleh dengan membandingkan satu kriteria dengan kriteria lainnya. Hasil Perbandingan Kriteria dapat dilihat pada tabel 3. Perbandingan ini didasarkan darimatrik perbandingan berpasangan yang dikemukakan oleh Thomas Saaty. Dalam melakukan perbandingan, proses ini dilakukan oleh pakar, dalam hal ini dinas Perkebunan. Tabel 3. Perbandingan Kriteria Kriteria CHN DPL KBD KGT KTH CHN 1,00 0,20 0,33 3,00 0,33 DPL 5,00 1,00 3,00 7,00 3,00 KBD 3,00 0,33 1,00 5,00 1,00 KGT 0,33 0,14 0,20 1,00 0,20 KTH 3,00 0,33 1,00 5,00 1,00 Perbandingan Berpasangan Setelah melakukan perbandingan kriteria langkah selanjutnya adalah mengalikan matriks berpasangan, matriks perrbandingan berpasangan kriteria dan alternatif menjadi bagian penting dalam proses AHP. Perkalian dari hasil penentuan oleh pakar Dinas Perkebunan menjadi acuan dalam pemilihan nantinya baik secara umum maupun jika dikembangkan kedalam aplikasi. Nilai ini menjadi dasar dalam menentukan eigen kriteria maupun eigen alternatif. 1,00 0,20 0,33 3,00 0,33 5,00 1,00 3,00 7,00 3,00 3,00 0,33 1,00 5,00 1,00 0,33 0,14 0,20 1,00 0,20 3,00 0,33 1,00 5,00 1,00 1,00 0,20 0,33 3,00 0,33 5,00 1,00 3,00 7,00 3,00 3,00 0,33 1,00 5,00 1,00 0,33 0,14 0,20 1,00 0,20 3,00 0,33 1,00 5,00 1,00 Dari Perbandingan Matriks diatas, maka diperoleh nilai Eigen dari perbandingan kriteria yang ditentukan oleh pakar, penentuan ini eigen adalah dengan melakukan normalisasi jumlah pada masing-msaing Nilai eigen kriteria dapat dilihat berikut ini: MALCOM - Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 76-82 MALCOM-03. : 76-82 4,970 1,038 2,190 10,700 2,190 30,310 4,960 12,050 59,000 12,050 Nilai Eigen Kriteria adalah: Curah Hujan Ketinggian DPL Kandungan Bahan Dasar Ketebalan Gambut Keasaman Tanah 12,300 2,290 4,980 26,310 4,980 2,560 0,478 1,129 4,970 1,129 12,300 2,290 4,980 26,310 4,980 62,440 11,056 25,329 127,290 25,329 251,444 0,248 0,044 0,101 0,506 0,101 1,000 = 0,248 = 0,044 = 0,101 = 0,506 = 0,101 Mendefenisikan Alternatif Setelah mendapatkan nilai Eigen dari kriteria langkah selanjutnya adalah membandingkan Alternatif pada setiap Kriteria. Defenisi alternatif yang dimaksudkan adalah wilayah-wilayah yang menjadi objek penilaian yang memiliki kelima kriteria sebelumnya. Objek ini akan dipilih berdasakan beberapa aturan dari metode AHP. Alternatif wilayah pada penelitian ini terdiri dari 12 Kabupaten/ Kota yang berada di Provinsi Riau, secara detail ditunjukkan pada tabel 4. Tabel 4. Mendefinisikan Alternatif Alternatif Indragiri hilir Indragiri hulu Bengkalis Pelalawan Meranti Kuantan Singingi Kampar Siak Pekanbaru Dumai Rokan hilir Rokan hulu Singkatan INH IHU BKL PLW MRT KTN KPR Siak PKU DMI RHI RHU Perbandingan Alternatif Perbandingan Alternatif terhadap semua kriteria yang terdiri dari Curah Hujan. Ketinggian DPL. Kandungan Bahan Dasar. Ketebalan Gambut dan Keasaman Tanah. Masing-masing wilayah yang akan dinilai dilakukan proses penilaian perbandingan terhadap masing-masing kriteria. Sebagai simulasi perbandingan berpasangan yang digunakan adalah Curah Hujan. Secara detail dapat ditunjukkan pada tabel 5. Tabel 5. Perbandingan Alternatif Berdasarkan Kriteria Curah Hujan INH IHU BKL PLW MRT KTN KPR Siak PKU DMI RHI RHU INH 1,00 3,00 1,00 3,00 3,00 9,00 7,00 1,00 5,00 3,00 5,00 3,00 IHU 0,33 1,00 0,33 1,00 1,00 7,00 5,00 0,33 3,00 5,00 3,00 1,00 BKL 1,00 3,00 1,00 3,00 2,00 7,00 7,00 1,00 5,00 1,00 5,00 3,00 PLW 0,33 1,00 0,33 1,00 0,33 7,00 5,00 0,33 5,00 0,33 3,00 1,00 MRT 0,33 1,00 1,00 3,00 1,00 7,00 5,00 0,33 5,00 1,00 3,00 1,00 KTN 0,11 0,14 0,14 0,14 0,14 1,00 0,33 0,14 0,33 0,20 0,33 0,20 KPR 0,14 0,20 0,14 0,20 0,20 3,00 1,00 0,14 0,33 0,20 0,33 0,20 SIAK 1,00 3,00 1,00 3,00 3,00 7,00 7,00 1,00 5,00 2,00 5,00 3,00 PKU 0,20 0,33 0,20 0,20 0,20 5,00 3,00 0,20 1,00 0,33 1,00 3,00 DMI 0,33 1,00 1,00 3,00 1,00 7,00 5,00 1,00 3,00 1,00 5,00 3,00 RHI 0,20 0,33 0,20 0,33 0,33 5,00 3,00 0,20 1,00 0,20 1,00 0,33 RHU 0,33 1,00 0,33 1,00 1,00 7,00 5,00 0,33 3,00 0,33 3,00 1,00 Selanjut nya mengalikan Matriks tersebut secara berpasangan seperti halnya perbandingan berpasangan kriteria dan di peroleh nilai Eigen Kriteria Curah hujan yang ditunjukkan pada tabel 6. Implementasi Metode Analytic Hierarchy Process untuk Pemilihan. (Erkamim et al, 2. ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 11,920 29,960 16,210 34,830 81,280 49,850 6,630 15,930 10,860 17,630 51,910 34,360 10,710 26,680 12,930 31,430 67,620 42,450 8,370 20,610 9,920 17,360 52,610 31,040 2,472 5,280 2,977 5,728 12,600 8,650 5,089 11,260 6,190 12,960 28,560 20,350 74,479 179,582 95,258 194,194 475,879 310,964 Selanjutnya melakukan hal yang sama pada kriteria-kriteria yang lain yaitu Ketinggian DPL. Kandungan Bahan Dasar. Ketebalan Gambut dan Keasaman Tanah. Sehingga secara keseluruhan memperoleh nilai eigen alternatif pada kriterai yang dapat ditunjukkan pada tabel 6. Tabel 6. Nilai Eigen Alternatif Wilayah Indragiri hilir Indragiri hulu Bengkalis Pelalawan Meranti Kuantan Singingi Kampar Siak Pekanbaru Dumai Rokan Hilir Rokan Hulu CHN 0,017 0,041 0,021 0,052 0,035 0,292 0,186 0,019 0,115 0,044 0,107 0,070 DPL 0,154 0,077 0,207 0,067 0,207 0,011 0,044 0,053 0,025 0,070 0,075 0,009 KBD 0,107 0,055 0,021 0,022 0,049 0,049 0,201 0,312 0,015 0,017 0,107 0,045 KGT 0,081 0,076 0,013 0,010 0,111 0,245 0,141 0,038 0,039 0,015 0,023 0,208 KTH 0,171 0,088 0,017 0,135 0,038 0,071 0,081 0,200 0,015 0,040 0,098 0,046 Setelah dilakukan ranking maka hasil akhir dari Pendukung keputusan pemilihan lahan sawit adalah ditunjukkan pada gambar 2. Pemilihan ini menjadi rekomendasi kepada dinas terkait, investor atau perusahaan yang ingin mengembangkan usaha berbasis kelapa sawit seperti Crud Palm Oil (CPO), pembangan pabrik kelapa sawit, olahan kelapa sawit, hingga pegembangan energi alternatif dari limbah sawit. 0,25 0,209 0,148 0,15 0,132 0,083 0,08 0,05 0,078 0,066 0,062 0,053 0,037 0,027 0,025 Gambar 2. Hasil Perankingan Berdasarkan AHP Menghitung Nilai Konsistensi Setelah itu menentukan Konsistensi Rasio. Setelah di hitung Konsistensi Rasio Maka Nilai Rasio yang di hasilkan adalah 0,026 atau 2,6 %. Dengan demikikan perbandingan berpasangan yang di lakukan di nyatakan Konsisten. Dari hasil penelitian ini yang dilakukan dengan metode AHP maka didapatkan rangking dari pendukung keputusan pemilihan lahan kelapa sawit. Dengan Nilai Konsistensi Rasio yang di hasilkan adalah 0,026 atau 2,6 %. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan, pencarian alternatif menggunakan metode AHP dengan jumlah kriteria adalah 5 terdiri dari curah hujan, ketinggian diatas permukaan laut, kandungan bahan dasar, ketebalan gambut dan keasaman tanah. Jumlah alternatif adalah 12 yang terdiri dari 12 kabupaen di Riau. Sehingga MALCOM - Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 76-82 MALCOM-03. : 76-82 didapatkan hasil perankingan bahwa Kuantan merupakan prioritas pertama dan bengkalis merupakan prioritas ke-12 dengan nilai konsitensi rasio adalah 2,6%. Dengan demikikan perbandingan berpasangan yang di lakukan di nyatakan Konsisten. REFERENSI