Al Marhalah Volume. No. 2 November 2025 P-ISSN 0126-043X E-ISSN 27162-400 STRATEGI MANAJEMEN FULL DAY SCHOOL DALAM INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Firdiansyah1. Sadan2 Pendidikan Agama Islam. STAI Haji Agus Salim Cikarang Bekasi Email: firdie@staihas. Pendidikan Agama Islam. STAI Haji Agus Salim Cikarang Bekasi Email: sadanmag@gmail. ABSTRACT The phenomenon of increasing popularity of Integrated Islamic Schools (SIT) with the Full Day School (FDS) system reflects new demands in the world of Islamic education, especially related to the internalization of religious values in a systematic, sustainable, and integrated manner in school life. Schools with the FDS system not only function as learning institutions, but also as a forum for the formation of students' religious character. This study aims to analyze in depth the management strategies applied in FDS in order to internalize the values of Islamic religious education, especially at the junior secondary education level. The method used is a qualitative approach with a case study type. Data collection techniques include in-depth interviews with principals, teachers, and students. participatory observation of religious activities. as well as documentation of work plans and character development programs. The results of the study show that the value internalization strategy is carried out through structured planning based on core values, habituation of daily worship such as prayer and tadarus, teacher role models in attitude and behavior, integration of Islamic values in the national curriculum, and evaluation of students' character involving the role of parents. Factors supporting the success of this strategy include the commitment of the school management, a conducive religious environment, and the active participation of parents. Meanwhile, inhibiting factors include student fatigue due to long learning durations, less supportive family backgrounds, and limited teacher training in character management. This study concludes that the success of internalizing Islamic values in the FDS system is highly dependent on the quality of adaptive, collaborative, and consistent strategic management. Keyword: full day school. Islamic religious education, internalization of values. ABSTRAK Fenomena meningkatnya popularitas Sekolah Islam Terpadu (SIT) dengan sistem Full Day School (FDS) mencerminkan adanya tuntutan baru dalam dunia pendidikan Islam, khususnya terkait internalisasi nilai-nilai agama secara sistematis, berkelanjutan, dan terintegrasi dalam kehidupan sekolah. Sekolah dengan sistem FDS tidak hanya berfungsi sebagai institusi pembelajaran, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter religius peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam strategi manajemen yang 109 | Al Marhalah | Firdiansyah. Sadan diterapkan dalam FDS guna menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan agama Islam, khususnya di tingkat pendidikan menengah pertama. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan siswa. observasi partisipatif terhadap kegiatan keagamaan. serta dokumentasi rencana kerja dan program pembinaan karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi internalisasi nilai dilakukan melalui perencanaan terstruktur berbasis nilai inti . ore value. , pembiasaan ibadah harian seperti salat dan tadarus, keteladanan guru dalam bersikap dan berperilaku, integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum nasional, serta evaluasi karakter siswa yang melibatkan peran orang tua. Faktor pendukung keberhasilan strategi ini meliputi komitmen manajemen sekolah, lingkungan religius yang kondusif, dan partisipasi aktif orang Sementara itu, faktor penghambat mencakup kelelahan siswa karena durasi belajar yang panjang, latar belakang keluarga yang kurang mendukung, dan keterbatasan pelatihan guru dalam manajemen karakter. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan internalisasi nilai-nilai Islam dalam sistem FDS sangat bergantung pada kualitas manajemen strategis yang adaptif, kolaboratif, dan konsisten. Kata Kunci: full day school, pendidikan agama Islam, internalisasi nilai. PENDAHULUAN Pendidikan agama Islam di sekolah memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan nilai-nilai spiritual peserta didik di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Salah satu pendekatan yang semakin populer di Indonesia dalam memperkuat pendidikan agama Islam adalah penerapan sistem Full Day School (FDS). Sistem ini memberikan waktu belajar yang lebih panjang di sekolah, sehingga secara teoritis memberikan ruang lebih luas untuk proses internalisasi nilai-nilai keagamaan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sistem FDS mampu menciptakan lingkungan religius dan mendukung pembiasaan ibadah di sekolah. Penelitian Yanti & Choiri menemukan bahwa FDS di MI Al-Hikmah Ponorogo secara efektif membentuk karakter religius siswa melalui kegiatan rutin seperti tadarus, salat berjamaah, dan bimbingan akhlak (Yanti & Choiri, 2024, p. Demikian pula, hasil temuan Mansur & Nurani mencatat bahwa sistem FDS mempermudah pembiasaan nilai-nilai Islam karena siswa berada lebih lama di lingkungan sekolah yang terkondisikan secara religius (Mansur & Nuraini, 2022. Namun, sebagian besar penelitian yang ada masih berfokus pada aspek pelaksanaan kegiatan keagamaan, bukan pada strategi manajemen yang Padahal, internalisasi nilai tidak akan berjalan efektif tanpa adanya strategi manajerial yang terstruktur dan sistematis. Temuan lain menekankan bahwa transformasi kurikulum religius di sekolah berbasis FDS memerlukan pendekatan manajemen pendidikan yang adaptif dan integratif agar nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan, tetapi benar-benar dihayati oleh peserta didik (Nafis et al. , 2024, p. Lebih jauh lagi, sebagian kajian yang dilakukan masih terbatas pada tingkat sekolah dasar atau taman kanak-kanak, seperti yang dilakukan oleh Fatmawati pada TK Islam Terpadu di Yogyakarta (Fatmawati, 2016, p. , tanpa 110 | Al Marhalah Strategi Manajemen Full Day School Dalam InternalisasiA menggali bagaimana strategi manajemen FDS di jenjang pendidikan menengah pertama mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam semua aspek pembelajaran dan budaya sekolah. Di sisi lain, penelitian oleh Ngadiman pada SMP MaAoarif NU 01 Kemranjen telah menyentuh aspek internalisasi nilai melalui program-program sekolah, tetapi belum secara eksplisit mengupas langkahlangkah manajerial yang digunakan oleh pimpinan sekolah dan guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi internalisasi nilai-nilai agama Islam (Ngadiman, 2024, pp. 61Ae. Oleh karena itu, kajian terbaru dalam penelitian ini terletak pada upaya mengkaji strategi manajemen full day school secara menyeluruh, khususnya dalam konteks internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam di tingkat menengah pertama. Penelitian ini tidak hanya mengamati hasil, tetapi juga menelaah secara sistematis bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi manajemen pendidikan dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam karakter dan perilaku siswa secara berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, diharapkan penelitian dapat memberikan kontribusi teoritik dan praktis terhadap pengembangan manajemen pendidikan Islam, khususnya dalam konteks full day school yang masih terus berkembang di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan memahami secara mendalam strategi manajemen sekolah dalam menginternalisasikan nilai-nilai agama Islam melalui sistem Full Day School. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti mengungkap makna, pola, dan proses yang terjadi secara holistik dan Pendekatan kualitatif digunakan ketika peneliti ingin memahami makna di balik perilaku manusia dan proses sosial yang terjadi di dalamnya (Moleong, 2017, p. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik, yaitu berusaha menggambarkan realitas empiris yang terjadi di lapangan melalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi secara mendalam. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive . , yaitu pada SMPIT Al-Mufid yang merupakan salah satu Sekolah Islam Terpadu (SIT) tingkat menengah pertama yang menerapkan sistem Full Day School di Kabupaten Bekasi. Sekolah ini dipilih karena telah memiliki program internalisasi nilai-nilai keagamaan secara sistematis dan dikenal aktif dalam pembentukan karakter religius peserta didik. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan, guru Pendidikan Agama Islam, serta peserta Mereka merupakan informan yang dapat memberikan informasi kunci terkait strategi manajemen dan praktik internalisasi nilai-nilai Islam di sekolah. Data dikumpulkan dengan tiga teknik utama: Pertama, wawancara mendalam . n-depth intervie. : dilakukan terhadap kepala sekolah dan guru untuk menggali strategi manajerial dalam perencanaan dan pelaksanaan program Kedua. Observasi partisipatif: peneliti mengamati langsung kegiatan pembiasaan ibadah, interaksi guru siswa, serta budaya sekolah secara keseluruhan. Ketiga. Dokumentasi: mengkaji dokumen-dokumen seperti jadwal harian, rencana 111 | Almarhalah | Firdiansyah. Sadan kerja sekolah, program kerja tahunan keagamaan, dan laporan evaluasi kegiatan. Triangulasi metode digunakan untuk mengecek validitas data melalui perbandingan antara hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi (Sugiyono, 2019, p. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahapan: Reduksi data: memilih dan menyederhanakan data relevan dari hasil lapangan. Penyajian data: menyusun data ke dalam bentuk naratif, matriks, atau tabel untuk mempermudah pemahaman. Penarikan kesimpulan dan verifikasi: merumuskan temuan berdasarkan pola atau tema yang muncul secara konsisten. Model analisis data interaktif Miles dan Huberman menekankan proses analisis yang berlangsung terus-menerus sejak pengumpulan data hingga penarikan kesimpulan (Miles. Huberman. , & Saldaya, 2014, p. HASIL PEMBAHASAN Perencanaan Strategi Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan strategi internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam sistem Full Day School dilakukan secara sistematis melalui Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). Kepala sekolah bersama tim manajemen menyusun programprogram keagamaan yang terintegrasi dalam kurikulum maupun kegiatan nonkurikuler. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan akhlakul karimah ditetapkan sebagai nilai inti . ore value. yang harus dibentuk secara AuKami merancang program pembiasaan ibadah, tahfidz, mentoring, dan adab sebagai bagian dari visi pendidikan karakter Islami sekolah,Ay(Wawancara dengan Kepala Sekolah, 2. Lebih lanjut, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menambahkan bahwa penyusunan program dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan perkembangan psikologis siswa usia remaja: AuKami tidak sekadar menyalin program dari sekolah lain. Kami sesuaikan dengan dinamika siswa SMP: mereka butuh pendekatan yang lebih dialogis, tidak menggurui, tapi mendampingi. Ay (Wawancara. Wakasek Kesiswaan, 2. Unsur partisipasi juga menjadi ciri penting dalam perencanaan. Komite sekolah dilibatkan untuk menjembatani kepentingan sekolah dan orang tua agar terbentuk sinergi nilai antara rumah dan sekolah. Hal ini tampak dari penyusunan program parenting, pelatihan wali murid, dan evaluasi karakter secara berkala: AuKami ingin agar orang tua juga menerapkan nilai-nilai yang kami tanamkan di sekolah. Jadi tidak cukup hanya mengandalkan guru. Ada parenting bulanan dan konsultasi perkembangan anak,Ay (Wawancara. Guru PAI, 2. Penjadwalan kegiatan religius dirancang dengan mempertimbangkan ritme keseharian siswa agar tidak membebani tetapi justru menguatkan spiritualitas secara konsisten. Kegiatan rutin yang dijadwalkan meliputi: A Tadarus pagi . etiap hari sebelum pelajara. A Salat Dhuha berjamaah . ua kali semingg. A Mentoring Islam pekanan . engan ustadz/ustadzah pendampin. , 112 | Al Marhalah Strategi Manajemen Full Day School Dalam InternalisasiA Tahfidz klasikal dan individual . erintegrasi dalam jam belaja. Malam bina iman dan takwa . setiap semester. Menurut guru pembina keagamaan, sistem perencanaan ini sudah menjadi AurohAy dari sekolah: AuKalau sekolah umum sibuk dengan akademik, di sini nilai adalah napas Perencanaan program kami hitung agar semua siswa terlibat aktif, bukan hanya sebagai formalitas. Ay (Wawancara. Guru Pembina Keagamaan, 2. Dengan pendekatan terencana, berbasis kebutuhan, serta bersifat partisipatif, strategi internalisasi nilai di tahap perencanaan ini menjadi fondasi penting dalam keberhasilan pendidikan karakter Islami di lingkungan Full Day School. Implementasi Strategi dalam Kegiatan Sekolah Implementasi strategi internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dalam sistem Full Day School berlangsung melalui tiga pendekatan utama, yaitu: pembiasaan harian, keteladanan . , dan penguatan kurikulum integratif. Strategi ini bertujuan agar nilai-nilai Islam tidak hanya diketahui secara kognitif oleh siswa, tetapi dihayati dan diwujudkan dalam perilaku keseharian mereka. Pertama, pembiasaan ibadah dilakukan secara konsisten dalam kehidupan Setiap pagi dimulai dengan tadarus Al-Qur'an bersama, dilanjutkan dengan salat dhuha berjamaah dua kali seminggu, doa sebelum dan sesudah belajar, serta salat dzuhur dan asar berjamaah. Kegiatan ini bukan hanya rutinitas, tetapi dirancang sebagai proses habituasi yang menumbuhkan kesadaran spiritual. Seorang guru agama menjelaskan: "Kami menanamkan bahwa ibadah bukan hanya kewajiban, tapi bagian dari kebiasaan hidup. Siswa dilatih tidak hanya ikut-ikutan, tapi memahami makna di balik ibadah itu sendiri. Ay (Wawancara Guru PAI. Kedua, keteladanan guru merupakan komponen kunci. Seluruh guru dituntut menjadi figur yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam tutur kata, sikap, dan interaksi dengan siswa. Guru bukan hanya mengajarkan nilai, tetapi merepresentasikan nilai itu dalam praktik nyata. Hal ini ditegaskan oleh kepala "Kami menyadari bahwa anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat. Kalau guru bicara santun dan jujur, siswa akan menirunya. Kami punya kode etik guru sebagai panutan. " (Wawancara Kepala Sekolah, 2. Guru bidang studi umum pun dilibatkan dalam proses internalisasi nilai. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa diminta menulis cerpen bertema akhlak Dalam pelajaran IPA, ayat-ayat Al-QurAoan tentang penciptaan alam dijadikan pengantar materi. Ini menunjukkan adanya integrasi kurikulum nasional dengan kurikulum keislaman, yang tidak dilakukan secara formalitas, tetapi dirancang untuk menyentuh aspek afektif siswa. Seorang guru IPA menyatakan: "Saat mengajar tentang sistem pernapasan, saya awali dengan QS. AlMulk ayat 23. Itu membuat anak-anak kagum dan lebih sadar bahwa ilmu itu bagian dari iman. " (Wawancara Guru IPA, 2. Ketiga, penguatan nilai secara kontekstual dilakukan melalui kegiatan non-kelas seperti pesantren kilat, mabit . alam bina iman dan takw. , program mentoring Islam, dan outing class berbasis nilai. Kegiatan ini memberikan ruang 113 | Almarhalah | Firdiansyah. Sadan lebih luas bagi siswa untuk menginternalisasi nilai dalam suasana yang lebih interaktif dan emosional. Seorang siswa menyampaikan: "Saya paling suka waktu mabit, karena ada muhasabah. Di situ saya merasa dekat dengan Allah, dan jadi sadar kalau selama ini masih sering " (Wawancara Siswa Kelas Vi, 2. Seluruh proses implementasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan internalisasi nilai-nilai Islam dalam sistem FDS sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, integrasi lintas bidang, serta keteladanan semua komponen sekolah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yanti & Choiri yang menyatakan bahwa keberhasilan internalisasi nilai religius dalam FDS sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan program dan keteladanan guru (Yanti & Choiri 2024. Evaluasi dan Monitoring Strategi Evaluasi terhadap implementasi strategi internalisasi nilai-nilai agama Islam dalam sistem Full Day School dilakukan secara berkala, menyeluruh, dan berbasis data perilaku siswa, bukan semata-mata prestasi akademik. Evaluasi ini mencakup dimensi afektif, spiritual, dan sosial, yang dijalankan melalui observasi guru, catatan kedisiplinan, jurnal ibadah, laporan wali kelas, serta keterlibatan orang tua dalam forum evaluasi karakter. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menekankan pentingnya keseimbangan antara evaluasi akademik dan kepribadian: AuKami tidak hanya menilai dari aspek akademik, tapi juga perilaku dan kedisiplinan ibadah. Ini yang jadi indikator utama. Kalau siswa cerdas tapi tidak jujur, bagi kami belum berhasil. Ay (Wawancara Wakasek Kesiswaan, 2. Evaluasi dilakukan secara tematik dan berjenjang. Guru PAI, wali kelas, dan pembimbing mentoring melaporkan perkembangan siswa secara periodik dalam rapat guru bulanan. Siswa yang menunjukkan gejala penurunan kedisiplinan atau motivasi ibadah diberikan perhatian khusus melalui pembinaan lanjutan, seperti konseling rohani, bimbingan kelompok kecil, atau kunjungan Guru pembimbing keagamaan menambahkan: AuKadang kami mendeteksi anak-anak yang mulai enggan ikut tadarus atau salat. Dari situ kami ajak diskusi santai, dan ternyata masalahnya bukan di sekolah, tapi ada konflik di rumah. Ini jadi data penting bagi Ay (Wawancara Guru Pembina, 2. Salah satu inovasi evaluasi yang dilakukan sekolah adalah rapor kepribadian, yaitu laporan berkala yang mencakup aspek kejujuran, ketaatan ibadah, kepedulian sosial, dan kerja sama. Rapor ini dibahas dalam forum parenting, agar orang tua mengetahui perkembangan karakter anak secara objektif, dan turut mendukung pembinaan di rumah. Kepala sekolah menambahkan bahwa keterlibatan orang tua menjadi bagian dari strategi monitoring jangka panjang: AuOrang tua kami ajak dalam rapat triwulan untuk membahas karakter anak, bukan hanya nilai akademik. Dengan begitu, ada kesinambungan pendidikan antara rumah dan sekolah. Ay (Wawancara Kepala Sekolah. Evaluasi juga bersifat adaptif dan responsif, artinya sekolah tidak menggunakan satu pola untuk semua siswa. Data hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk menyusun program penguatan karakter yang lebih personal dan 114 | Al Marhalah Strategi Manajemen Full Day School Dalam InternalisasiA kontekstual, termasuk pelatihan guru, pendekatan khusus bagi siswa dengan latar belakang keluarga non-religius, dan penyusunan kembali kegiatan spiritual agar lebih bermakna. Strategi monitoring ini mencerminkan pentingnya kontrol manajemen dalam menjaga keberlanjutan program, sebagaimana disampaikan oleh Nafis et al. bahwa sistem pendidikan Islam yang efektif menuntut evaluasi berkelanjutan dan adaptasi program sesuai kebutuhan siswa (Nafis et al. 2025, hlm. Dengan demikian, strategi evaluasi dan monitoring yang diterapkan dalam FDS ini tidak bersifat reaktif, tetapi proaktif dan transformatif. Evaluasi menjadi bagian integral dari manajemen internalisasi nilai, bukan hanya untuk menilai keberhasilan, tetapi untuk menjaga keberlangsungan dan kualitas proses pendidikan karakter secara berkelanjutan. Faktor Pendukung dan Penghambat Faktor pendukung keberhasilan strategi manajemen internalisasi nilai antara lain: Komitmen kepala sekolah dan guru . Dukungan orang tua . Ketersediaan waktu dalam sistem FDS . Lingkungan sekolah yang kondusif Adapun hambatannya meliputi: Kelelahan siswa karena durasi belajar yang panjang . Perbedaan latar belakang keluarga . erutama yang tidak mendukung pembiasaan ibadah di ruma. Kurangnya pelatihan guru dalam manajemen karakter Hal ini memperkuat temuan Mansur & Nurani bahwa kendala internalisasi nilai religius bukan hanya pada sistem, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan lingkungan sosial siswa (Mansur & Nurani 2022, hlm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi manajemen yang diterapkan dalam Full Day School memiliki peran signifikan dalam proses internalisasi nilainilai pendidikan agama Islam kepada peserta didik. Strategi tersebut tampak dalam perencanaan terstruktur, implementasi kegiatan keagamaan yang sistematis, serta evaluasi berkelanjutan terhadap perkembangan karakter religius siswa. Temuan ini sejalan dengan teori manajemen pendidikan menurut Sagala yang menyatakan bahwa perencanaan pendidikan harus disusun berdasarkan visimisi dan kebutuhan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal (Sagala, 2009, p. Dalam konteks ini, pihak sekolah telah mampu menyusun program-program keislaman yang menyatu dengan struktur kurikulum dan kehidupan harian siswa di sekolah. Strategi internalisasi juga berjalan efektif karena ditunjang oleh pendekatan pembiasaan dan keteladanan, dua pendekatan yang dalam teori internalisasi nilai menurut Lickona . merupakan dasar dari pendidikan karakter: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Guru tidak hanya mengajar, tetapi menjadi figur sentral dalam membimbing perilaku dan sikap Penelitian ini mengonfirmasi temuan Yanti & Choiri yang menyatakan bahwa sistem Full Day School memberikan ruang waktu yang cukup untuk penanaman nilai-nilai agama, tetapi efektivitasnya sangat tergantung pada kualitas manajemen dan keterlibatan semua pihak dalam pelaksanaannya (Yanti & Choiri 2024, hlm. Kegiatan seperti salat berjamaah, tahfidz, mentoring, dan 115 | Almarhalah | Firdiansyah. Sadan parenting menjadi alat internalisasi yang ampuh, terlebih jika dilakukan secara Namun, ditemukan juga beberapa kendala, seperti kelelahan siswa, kurangnya pelatihan guru, serta latar belakang keluarga yang tidak mendukung. Ini memperkuat temuan Mansur & Nurani bahwa keberhasilan internalisasi nilai keagamaan tidak dapat dilepaskan dari faktor eksternal siswa, khususnya keluarga dan lingkungan (Mansur & Nurani 2022, hlm. Dengan demikian, inovasi strategi manajemen yang holistik menjadi hal yang sangat penting. Sekolah perlu terus mengevaluasi pendekatan yang digunakan, termasuk peningkatan kapasitas guru dan sinergi dengan orang tua, agar internalisasi nilai-nilai Islam tidak hanya bersifat kognitif, tetapi menyatu dalam kepribadian siswa secara utuh. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa poin penting sebagai berikut: Strategi manajemen full day school dalam internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang terstruktur, yang terintegrasi dengan kurikulum nasional dan kegiatan keislaman. Implementasi strategi didukung oleh pembiasaan ibadah, keteladanan guru, serta lingkungan sekolah yang religius dan kondusif, yang mendorong terbentuknya karakter Islami peserta didik. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan melalui observasi perilaku siswa, catatan kepribadian, serta keterlibatan orang tua dalam penilaian karakter, sehingga proses internalisasi dapat dimonitor secara komprehensif. Faktor pendukung utama keberhasilan strategi manajemen ini adalah komitmen pimpinan sekolah, kualitas guru, dan sistem FDS itu sendiri. Faktor penghambatnya meliputi kelelahan siswa, latar belakang keluarga, dan keterbatasan pelatihan guru. Penelitian ini menawarkan kebaruan karena tidak hanya melihat aspek kegiatan keagamaan di sekolah, tetapi mengungkap peran manajemen strategis dalam mendesain dan mengarahkan internalisasi nilai-nilai agama secara DAFTAR PUSTAKA