JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Pengaruh Pemikiran Etis. Relativiseme dan Idealisme terhadap Sensitivitas Etis mahasiswa Akuntansi (Studi Empiris di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Pattimur. Angel Merlyn Pattimahu Jurusan Akuntansi. Politeknik Negeri Ambon angelpattimahu25@gmail. ABSTRACT Each accounting student is expected to have knowledge, understanding, and applying ethics adequately in the learning process so that later can be applied in the implementation of his professional work. This study aims to identify and empirically test the influence of ethical thinking, idealism, and relativism, on sensivity of accounting students. Data from this study were collected from accounting students S1, faculty of Economic. Pattimura University with criteria accounting students who passed the course of auditing 1 and auditing 2 with an A or B. Data obtained by distributing directly to the students asa much as 150 questionnaires and 127 questionnaires were used as samples for analysis. Data analysis using XLSTAT-PLS applications. The results showed that ethical thinking positive effect on ethical sensivity. Next idealism positive effect on ethical sensivity. Which follows relativism has no effect on ethical sensivity. Keywords : ethical thinking, idealism, relativism, ethical sensivity. ABSTRAK Pemahaman, dan menerapkan etika secara memadai dalam proses belajar agar nantinya dapat diterapkan dalam pelaksanaan pekerjaan profesionalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji secara empiris pengaruh pemikiran etis, idealisme, dan relativisme, terhadap sensitivitas etis mahasiswa akuntansi. Data dari penelitian ini dikumpulkan dari mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Pattimura dengan kriteria mahasiswa akuntansi yang telah lulus mata kuliah auditing 1 dan auditing 2 dengan nilai A atau B. Data diperoleh dengan membagikan secara langsung kepada mahasiswa sebanyak 150 kuesioner dan 127 kuesioner digunakan sebagai sampel untuk analisis. Analisis data dengan menggunakan aplikasi PLS-XLSTAT. Hasil menunjukkan bahwa pemikiran etis berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis. Berikutnya idealisme berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis. Yang berikut relativisme tidak berpengaruh terhadap sensitivitas etis. Kata kunci : Pemikiran etis, idealisme, relativisme, sensitivitas etis. e-ISSN: 0000-0000 Halaman 135 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Di masa sekarang dan masa mendatang profesi akuntan mendapat tantangan yang sangat berat, oleh karena itu kesiapan menyangkut profesi ini sangat mutlak diperlukan. Profesi akuntan dituntut untuk selalu berperilaku etis karena ini menentukan kredibilitasnya di tengah masyarakat pengguna jasa Etika belakangan ini menjadi isu dan pembahasan yang sangat menarik dilihat dari fenomena Ae fenomena kecurangan yang marak terjadi Di mana fenomena ini kemudian membuat masyarakat selalu menanyakan bahkan meragukan sikap dan profesionalisme dari profesi akuntan ini. Akuntan adalah profesi yang sepenuhnya harus dituntut untuk selalu profesional dalam keadaan apapun dan pekerjaan seorang professional harus dikerjakan dengan sikap profesional dengan sepenuhnya berlandaskan pada standar etika yang telah ditetapkan. Dengan profesionalnya akuntan diharapkan akan mampu mengahadapi berbagai tekanan yang dapat muncul dari dalam dirinya sendiri ataupun dari pihak eksternal. Hal ini sangat penting mengingat profesi akuntansi terutama akuntan publik merupakan profesi yang didasarkan atas tingkat kepercayaan masyarakat. Sehubungan dengan posisi tersebut, maka setiap akuntan publik dituntut menerapkan etika secara memadai dalam pelaksanaan pekerjaan profesionalnya. Banyak kasus yang terjadi di dunia bisnis saat ini misalnya kasus enron yang telah melibatkan profesi akuntansi. Pelanggaran etika yang terjadi dalam kasus enron telah menimbulkan pertanyaan penting tentang pengembangan etika profesi akuntan publik serta meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap profesi akuntan. Sorotan yang ditujukan kepada profesi akuntansi ini disebabkan beberapa faktor diantaranya adanya praktik-praktik profesi akuntansi yang melanggar aturan atau standar akuntansi yang telah ditetapkan. Kasus ini telah banyak menarik perhatian dikalangan dunia bisnis sebagai kasus yang melanggar aturan atau standar akuntansi serta melanggar etika profesi akuntan Dunia pendidikan juga menjadi sorotan yang sangat penting dalam pengembangan pengetahuan, dan pemahaman tentang nilai Ae nilai etika akuntan. Ini sangat jelas berpengaruh besar bagi perilaku auditor nanti pada lingkungan pekerjaan. Pernyataan diatas sangat mengisyaratkan bahwa sikap dan perilaku e-ISSN: 0000-0000 moral auditor dapat terbentuk melalui proses pendidikan yang terjadi dalam lembaga pendidikan tinggi akuntansi. Mahasiswa sebagai input, sedikit banyak akan memiliki keterkaitan dengan akuntan yang dihasilkan sebagai output. Pada kenyataannya mahasiswa yang dijadikan sebagai input juga telah melakukan beberapa pelanggaran etik dalam berbagai hal kecurangan. Ini diharapkan tidak terjadi bila dunia pendidikan telah mengajarkan pendidikan yang baik dan benar terhadap calon Ae calon akuntan. Sebagai implementasi dari harapan yang semakin meluas ini dikalangan praktisi dan akademisi pada pendidikan akuntansi mewajibkan agar mata - mata kuliah yang bermuatan ajaran moral dan etika sangat baik dimuat dalam kurikulum untuk disampaikan kepada peserta Dunia pendidikan yang baik akan mencetak mahasiswa menjadi calon akuntan yang mempunyai sikap profesional dan berlandaskan pada standar moral dan etika. Sebagai pemasok tenaga profesional ke dunia usaha dan bisnis, perguruan tinggi mempunyai peran yang sangat strategis untuk mengantarkan dan mempersiapkan para mahasiswa menjadi calon-calon pertimbangan etis, sensitivitas etis, dan karakter etis yang baik. Pendidikan akuntansi di Indonesia bertujuan menghasilkan lulusan yang beretika dan bermoral Berbagai memperkenalkan nilai-nilai profesi dan etika akuntan kepada mahasiswa. Dalam upaya pengembangan pendidikan akuntansi yang berlandaskan etika ini dibutuhkan adanya umpan balik mengenai kondisi yang ada sekarang, yaitu apakah pendidikan akuntansi telah cukup membentuk nilai-nilai positif mahasiswa akuntansi (Yulianti dan Fitriany, 2. Di Indonesia berbagai bentuk perilaku tidak etis juga banyak ditemukan di lingkungan akademik. Sebagaimana yang diberitakan oleh Media Indonesia . /04/. Survey Litbang Media Group menyatakan bahwa: Mayoritas anak didik, baik di bangku sekolah dan perguruan tinggi melakukan kecurangan akademik dalam bentuk menyontek. Hasil survey juga menyebutkan, bahwa hampir tujuh puluh persen dari empat ratus delapan puluh responden yang ditanya apakah pernah menyontek ketika masih sekolah atau kuliah menjawab pernah. Berarti, mayoritas responden penelitian pernah melakukan kecurangan akademik berupa menyontek. Budaya tidak etis di lingkungan mahasiswa pemahaman serta kemauan untuk menerapkan nilainilai moral yang sudah mereka dapatkan dari keluarga maupun pendidikan formal di kampus. Mahasiswa Halaman 136 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 akuntansi yang akan dipersiapkan menjadi seorang auditor seharusnya lebih memiliki sensitivitas etis, pertimbangan, dan motivasi untuk dapat mengerti dan peka serta mengetahui permasalahan etika yang Kepekaan mahasiswa terhadap perilaku etis atau tidak etis sangat penting dan mutlak harus Karena kepekaan seorang mahasiswa atau calon akuntan terhadap permasalahan etis merupakan awal dari sikap dan etika mereka nanti di dunia Kepekaan etis dimungkinkan akan dipengaruhi oleh faktor-faktor individu dan Mahasiswa akuntansi harus memiliki kemampuan dalam melihat persoalan - persoalan etis. Rumusan Masalah Berdasarkan Latar Belakang diatas makan perumusan masalah yang diambil adalah: Apakah Pemikiran Etis berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis? Apakah Idealisme berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis? Apakah Relativisme berpengaruh positif terhadap sentitivitas etis? Tujuan Penelitian Menguji dan menganalisis secara empiris pengaruh pemikiran etis terhadap sensitivitas Menguji dan menganalisis secara empiris pengaruh Idealisme terhadap sensitivitas Menguji dan menganalisis secara empiris pengaruh relativisme terhadap senstivitas Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bacaan dalam memahami pentingnya nilai-nilai etika serta masukan dan pertimbangan dalam hal pentingnya memasukkan nilai-nilai etis baik dalam kurikulum pendidikan akuntansi maupun dalam proses belajar mengajar dalam upaya untuk menciptakan sumber daya manusia dalam hal ini para calon akuntan yang beretika dan profesional. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Etika dan Moral Dalam banyak hal, pembahasan mengenai etika tidak terlepas dari pembahasan mengenai moral. Suseno . mengungkapkan bahwa etika merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Sedangkan mengutip pendapat Karl Barth. Madjid e-ISSN: 0000-0000 . dalam Marwanto . mengungkapkan bahwa etika . adalah sebanding dengan moral . , dimana keduanya merupakan filsafat tentang adat kebiasaan . Adat kebiasaan yang baik ini kemudian menjadi sistem nilai yang berfungsi sebagai pedoman dan tolak ukur tingkah laku yang baik dan Sitte dalam perkataan Jerman menunjukkan arti moda . tingkah laku manusia, suatu konstansi . tindakan manusia. Karenanya secara umum etika atau moral adalah filsafat, ilmu atau disiplin tentang moda-moda tingkah laku manusia atau konstansi-konstansi Etika merupakan suatu prinsip moral dan perbuatan yang menjadi landasan bertindak seseorang sehingga apa yang dilakukannya dipandang oleh masyarakat sebagai perbuatan terpuji dan meningkatkan martabat dan kehormatan seseorang (Munawir, 1. dalam Rianto . Etika sangat erat kaitannya dengan hubungan yang mendasar antar manusia dan berfungsi untuk mengarahkan kepada perilaku moral. Socrates menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tindakan etis adalah tindakan yang didasarkan pada nilai-nilai kebenaran. Benar dari sisi cara, teknik, prosedur, maupun dari sisi tujuan yang akan dicapai (Syafruddin, 2. Dalam praktik hidup sehari-hari, teoritisi di bidang etika menjelaskan bahwa dalam kenyataannya, ada dua pendekatan mengenai etika ini, yaitu pendekatan deontological dan pendekatan Pada pendekatan deontological, perhatian dan fokus perilaku dan tindakan manusia lebih pada bagaimana orang melakukan usaha . dengan sebaik-baiknya dan mendasarkan pada nilai-nilai kebenaran untuk mencapai tujuannya. Pada pendekatan teleological, perhatian dan fokus perilaku dan tindakan manusia lebih pada bagaimana mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya, dengan kurang memperhatikan apakah cara, teknik, ataupun prosedur yang dilakukan benar atau salah (Syafruddin, 2. Moral adalah sikap mental dan emosional yang dimiliki oleh individu sebagai anggota kelompok sosial dalam melakukan tugas-tugas atau fungsi yang diharuskan kelompoknya serta loyalitas pada kelompoknya (Sukamto, 1991. dalam Falah, 2. Moral dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia . ada dua pengertian yaitu: Ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban, dan Kondisi mental yang membuat orang tetap Secara Etimoligis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan, adat. Sedangkan Halaman 137 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu etika dari bahasa Yunani dan moral dari bahasa Latin. Sensitivitas Etis Sensitivitas etis merupakan kemampuan mahasiswa akuntansi untuk menyadari nilai-nilai etika atau moral dalam suatu keputusan etis (Rustiana. Sensitivitas etis dalam penelitian ini dikaitkan dengan kegiatan akademis mahasiswa selama dalam proses mendalami pengetahuan akuntasi serta direfleksikan dalam tindakan akademis yang berdampak pada perilaku etis setelah menjadi seorang Ratdke . mengemukakan bahwa sensitivitas etis merupakan gambaran atau proksi dari tindakan etis mahasiswa setelah lulus. Sensitivitas merupakan ciri-ciri tindakan yang mendeteksi kemungkinan lulusan dalam berperilaku etis. Apabila sebagai calon akuntan, mahasiswa telah berperilaku tidak etis maka kemungkinan setelah lulus akan berperilaku tidak etis. Hal ini perlu dideteksi sejak awal sebagai awal untuk mencegah perilaku tidak etis melalui cakupan atau muatan kurikulum etika dalam mata kuliah akuntansi, sehingga sebagai akuntan mampu bersaing dan dan bertindak secara profesional. Keputusan etika menjadi rumit untuk dinilai terutama karena peraturanperaturan yang ada tidak secara sempurna dapat menjadi sarana terwujudnya keputusan yang etis. Seringkali terjadi bahwa keputusan yang legal tidak selalu etis. Keadaan yang bias ini seringkali menjadi pemicu adanya masalahmasalah etika. Pemikiran Etis Pemikiran etis mengacu pada penggunaan beberapa alasan untuk menilai suatu kegiatan sebagai kegiatan beretika atau bukan. Suatu teori etika membantu manusia untuk mengambil keputusan moral dan menyediakan justifikasi untuk keputusan tersebut (Rianto, 2. Ada beberapa teori etika yang mendasari gaya pemikiran yang mencerminkan hirarki dari pengembangan moral, yang mengingatkan apa tujuan pengembangan moral (Lutz, 1. Teori etika yang melandasi gaya pemikiran tersebut adalah deontological, teleological, egois atau conventional (Harris dan Sutton, 1. Pada pendekatan deontological, perhatian tidak hanya pada perilaku dan tindakan, namun lebih pada bagaimana orang melakukan usaha dengan sebaik-baiknya dan mendasarkan pada nilai-nilai kebenaran untuk mencapai tujuannya. Pemikiran teleological menekankan dalam maksimalisasi yang bermanfaat untuk masyarakat. Pada pendekatan teleological, perhatian tidak hanya pada perilaku dan tindakan, namun lebih pada bagaimana mencapai e-ISSN: 0000-0000 sebaik-baiknya. Pemikiran conventional mengacu pada penyesuaian hukum, norma, dan kode etik professional. Pemikiran egois memperoleh kebaikan dari kepentingan untuk dirinya Oleh karena itu, hirarki akan memberikan tingkatan dari pengembangan etika dari egois ke conventional lalu ke teleological dan akhirnya ke Orientasi Etis Forsyth . dalam Marwanto . memuat bahwa orientasi Etika adalah dikendalikan oleh dua karakteristik, yaitu idealisme dan Idealisme mengacu pada luasnya seseorang individu percaya bahwa keinginan dari konsekuensi dapat dihasilkan tanpa melanggar petunjuk moral. Mahasiswa dengan tingkat idealisme yang tinggi, akan menemukan adanya masalah etika dan dalam memutuskan suatu tindakan lebih mengarah pada pedoman atau aturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan mahasiswa dengan idealisme yang rendah, mengakui bahwa adanya prinsip moral tersebut dapat mengakibatkan konsekuensi negatif. Relativisme adalah orientasi etika yang mengacu pada penolakan terhadap nilai-nilai . moral universal yang membimbing perilaku, lawannya adalah non relativisme. Dalam kata lain Relativisme adalah suatu sikap penolakan terhadap nilai-nilai moral yang absolut dalam mengarahkan perilaku Sedangkan idealisme mengacu pada suatu hal yang dipercaya oleh individu dengan konsekuensi yang dimiliki dan diinginkannya tidak melanggar nilai-nilai moral. Kerangka Konseptual dalam penelitian ini seperti yang digambarkan dibawah ini: Pemikiran Etis Idealisme Relativisme Sensitivitas Etis Hipotesis Penelitian: H1: Pemikiran Etis berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis H2: Idealisme Berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis H3: Relativiseme berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis Halaman 138 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 METODOLOGI Penelitian empiris dalam penelitian ini menggunakan data kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada mahasiswa Akuntansi Fakultas ekonomi dan bisnis. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Pattimura Ambon. Universitas ini dipilih karena dianggap sebagai salah satu pilihan utama di Maluku yang memiliki akreditas baik. Sampel Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi yang telah lulus mata kuliah auditing 1 dan auditing 2 dengan nilai A dan B. Metode Pengumpulan data Penelitian ini menggunakan survey method, data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui pengumpulan data dengan cara menyebarkan Kuesioner adalah satu set pertanyaan yang telah dirumuskan untuk mencatat jawaban dari para responden (Sekaran, 2. Identifikasi dan pengukuran variabel Variabel independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu pemikiran etis, orientasi etis yang dalam hal ini adalah idealisme, dan relativisme. Pemikiran Etis. Pemikiran etis dalam penelitian ini berkenaan dengan penggunaan beberapa alasan oleh mahasiswa dalam menilai suatu kegiatan bisnis yang ada dalam skenario pada kuesioner sebagai perbuatan yang beretika atau bukan. Pemikiran etis diukur dikembangkan oleh Welton et al. , . dalam Skenario diikuti oleh 12 item pertanyaan dengan skala likert 1 sampai 5. Skala menyatakan tingkat kepentingan dengan kriteria 1= Tidak Penting (TP) yang berarti kurang memiliki pemikiran moral dan 5= Penting (P) yang berarti memiliki pemikiran moral dalam berperilaku moral. Idealisme. Idealisme dalam penelitian ini mengacu pada suatu hal yang dipercayai mahasiswa bahwa konsekuensi dari tindakan yang dilakukan dapat terjadi tanpa melanggar nilai-nilai moral. Idealisme diukur dengan menggunakan 10 item yang dikembangkan oleh Forsyth . dalam Falah . Setiap item pertanyaan merupakan sikap idealisme seseorang terhadap nilai-nilai moral. Skala likert 1 sampai 5 digunakan untuk menunjukkan e-ISSN: 0000-0000 respon dari kriteria sifat-sifat idealisme . sangat tidak setuju sampai 5 sangat setuj. Semakin tinggi nilai skala menunjukkan semakin tinggi idealisme seseorang dan semakin sensitif. Relativisme. Relativisme dalam penelitian ini mengacu pada penolakan terhadap nilai-nilai . moral universal yang mengarahkan perilaku. Relativisme juga diukur dengan menggunakan 10 item yang dikembangkan oleh Forsyth . dalam Falah . Setiap item pertanyaan merupakan sikap relativisme mahasiswa terhadap nilai-nilai moral. Skala 1 sampai 5 digunakan untuk menunjukkan respon dari kriteria sifat-sifat relativisme . - sangat tidak setuju sampai 5 Ae sangat setuj. Semakin tinggi nilai skala menunjukkan semakin tinggi relativisme seseorang dan semakin tidak sensitif. Variabel Dependen Variabel dependen yang digunakan adalah sensitivitas Sensitivitas etis Sensitivitas etis adalah kemampuan untuk mengetahui masalah-masalah etis yang terjadi (Shaub, 1989. Hebert et al. , 1. Sensitivitas moral didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengetahui bahwa suatu situasi memiliki makna etika ketika situasi itu dialami individu-individu (Shaub, 1. , yaitu kemampuan untuk mengetahui masalah-masalah etika (Hebert et , 1. Terdapat 6 item pernyataan yang digunakan untuk mengukur sensitivitas moral dengan skala likert 1 sampai 7. Skala likert 1 menyatakan tingkat kepentingan dengan criteria 1 = sangat tidak penting (STP) yang berarti kurang sensitif dan 7 = sangat penting (SP) yang berarti sangat sensitif. Teknik Analisis Data Uji Statistik Deskriptif Menurut Ghozali dan hengky . , statistik deskriptif merupakan gambaran dari data yang digunakan dengan jumlah observasi dan nilai minimum, maksimum, mean serta standar deviasi untuk masing Ae masing indicator kontruk variabel. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Partial Least Square (PLS). PLS adalah model persamaan Struktural Equation Modelling (SEM) yang berbasis komponen atau varian. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Objek Penelitian Data menyebarkan kuesioner secara langsung kepada mahasiswa Akuntansi Universitas Pattimura Ambon. Halaman 139 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Jumlah sampel yang dapat digunakan adalah 127 orang mahasiswa. Rincian penyebaran dan pengembalian kuesioner dapat dilihat pada table 4. Tabel 4. Rincian Penyebaran dan pengembalian Kuesioner No. Penjelasan Jumlah Kuesioner yang 150 eksemplar Kusioner yang kembali 141 eksemplar Kuesioner yang tidak 14 eksemplar dapat diolah Kuesioner yang dapat 127 eksemplar Persentase kuesioner 84,67% yang dapat diolah Sumber: Data primer yang diolah, 2022 Karakteristik Responden Pada penelitian ini menggunakan data demografi responden yang telah menyajikan informasi mengenai jenis kelamin, dan semester. Jenis kelamin responden dari 127 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini 71 orang berjenis kelamin perempuan sedangkan sisanya 56 orang lagi berjenis kelamin laki Ae laki. Persentase keikutsertaan perempuan dalam penelitian ini sebanyak 55,90% dan laki Ae laki 44,09%. Artinya responden dalam penelitian ini lebih didominasi oleh perempuan. Selanjutnya responden berdasarkan semester adalah dari semester 6 berjumlah 46 orang dengan persentase 36,65%, semester 8 berjumlah 75 orang dengan persentase 59,05% dan semester 10 berjumlah 6 orang dengan persentase 4,72%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden dalam penelitian ini didominasi olah mahasiswa pada semester 8. Statistik Deskriptif Menurut Ghozali dan hengky . , statistik deskriptif merupakan gambaran dari data yang digunakan dengan jumlah observasi 127 dan nilai minimum, maksimum, mean serta standar deviasi untuk masing Ae masing indikator kontruk variabel. Berikut adalah ringkasan hasil deskripsi statistik dapat dilihat dalam tabel 4. 2 berikut : Tabel 4. Hasil Deskriptif statistik Variabel Mean Pemikiran etis Idealisme 4,14 4,18 e-ISSN: 0000-0000 Std. Deviasi 1,14 1,20 Relativisme 1,68 Sensitivitas etis 5,35 Sumber: output program XLSTAT, 2022 1,05 1,77 Hasil pengolahan pada tabel 4. 2 diatas ini menjelaskan bahwa sebagian besar jawaban responden mengenai pemikiran etis dengan nilai rata-rata . sebesar 3,14, yang berarti mahasiswa akuntansi universitas pattimura telah memiliki pemikiran etis yang tinggi. Kemudian jawaban responden mengenai idealisme dengan nilai rata Ae rata 4,18 termasuk memilki nilai yang tinggi, ini berarti mahasiswa akuntansi memiliki perilaku idealis yang tinggi dalam mematuhi aturan yang ada. Selanjutnya Relativisme dengan nilai rata rata 1,68 yang berarti relativisme mahasiswa akuntansi berada dibawah nilai idealisme, maka dapat disimpulkan mahasiswa cendrung lebih idealis dari pada relativisme. Selanjutnya nilai rata Ae rata dari variabel senstivitas etis berada pada nilai rata Ae rata 5,35, nilai yang cukup tinggi maka dapat disimpulkan mahasiswa akuntansi universitas pattimura sudah memiliki sensitivitas etis. Pengujian Model Struktural Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel, nilai signifikansi dan R-square dari model penelitian. Model struktural dievaluasi dengan menggunakan Rsquare untuk variabel dependen dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural. Penilaian model dengan PLS dimulai dengan melihat R-square untuk setiap variabel laten Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah menpunyai pengaruh yang substantif. Tabel 4. berikut ini merupakan hasil estimasi R-square dengan menggunakan XLSTAT. Tabel 4. Nilai R-Square Variabel Sensitivitas Etis R-Square Sumber: output Program XLSTAT, 2022 Berdasarkan nilai R-square di atas, maka:Secara bersama-sama, variabel Pemikiran Etis, idealisme, relativisme berpengaruh sebesar 96,7% terhadap Senstitivitas Etis sedangkan sisanya 3,3% dipengaruhi oleh variebel lain diluar model penilitian ini. Semakin tinggi nilai R-square, maka semakin besar kemampuan variabel independen tersebut dapat Halaman 140 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 menjelaskan variabel dependen sehingga semakin baik persamaan struktural. Setelah menilai R-Square, selanjutnya uji t untuk pengujian hipotesis yang diajukan, dapat dilihat dari besarnya nilai T-statistik. Signifikansi parameter yang diestimasi memberikan informasi yang sangat berguna mengenai hubungan antar variabel Ae variabel Batas untuk menolak dan menerima hipotesis yang diajukan adalah A1,96 dengan tingkat signifikan 0,05, dimana apabila nilai t berada pada rentang nilai -1,96 dan 1,96 maka hipotesis akan ditolak atau dengan kata lain menerima hipotesis nol (H. Tabel 4. 4 memberikan output estimasi Path coefficients sensitivitas etis untuk pengujian model Tabel 4. Path coefficients Sensivitas Etis Latent variabel Value Pr>. Pemikiran Etis Idealisme Relativisme Sumber: output program XLSTAT, 2022 Berdasarkan pengujian secara individu tiap variabel terhadap sensitivitas Etis, diketahui bahwa ada dua konstrak yang berpengaruh signifikan terhadap sensitivitas etis yaitu Pemikiran etis. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t-statistik >1,96 atau nilai p-value <0,05. Nilai statistik untuk pemikiran etis . dengan p-value 0,000, nilai statistik untuk idealisme . dengan p-value 0,006 dan nilai statistik. Besarnya pengaruh setiap konstruk terhadap sentitivitas etis ditunjukkan oleh nilai koefisien jalur . olom valu. Pemikiran etis mempunyai pengaruh tertinggi 0,718 atau 71,8%, konstrak idealisme mempunyai pengaruh 0,246 atau 24,6% terhadap sentivitas etis. Sedangkan konstrak Relativisme tidak signifikan pada alpha 5%. Pembahasan Pemikiran Etis terhadap sensitivitas Etis Pengujian pengaruh Pemikiran Etis terhadap Sensitivitas Etis dengan menggunakan XLSTAT menunjukkan hasil yang positif dan signifikan. Hasil uji terhadap koefisien jalur menunjukkan adanya pengaruh positif sebesar 71,8% . aitu berdasarkan nilai value 0,. dengan nilai t statistik sebesar 7,964 dan signifikan pada nilai p-value 0,000. Nilai t e-ISSN: 0000-0000 statistik tersebut berada diatas nilai kritis 1,96, dengan demikian hipotesis H1 diterima. Hasil penelitian ini konsiten dan mendukung hasil penelitian Marwanto . dan Iswarini dan Mustmainah . yang menyatakan bahwa ada pengaruh signifikan antara pemikiran etis dengan sentivitas etis, namun tidak konsiten dengan hasil penelitian Chan dan Leung . yang menyatakan tidak ada pengaruh antara pemikiran etis dengan sensitivitas etis. Secara teoritis hasil penelitian ini telah sesuai dengan teori perkembangan moral kognitif Kohlberg. Kohlberg telah mengembangkan sebuah teori tentang pemikiran moral yang fokus pada proses kognitif yang digunakan oleh individu-individu dalam menuntun mereka untuk memutuskan benar dan salah (Welton et , 1. Teori Kohlberg . dalam Lismawati. menyatakan bahwa personal value diperoleh melalui suatu proses berpikir dan berpendapat. Sebuah kejadian penting akan menolong masyarakat untuk meningkatkan kemampuan moralnya dan ini tercermin dari pengalaman konfliknya dalam menjelaskan opini mereka ketika mereka berinteraksi dengan seseorang yang mempunyai tingkatan pemikiran etis lebih tinggi. Seseorang yang terbiasa dan berani mengungkapkan alasan-alasan pemikirannya mengenai suatu kejadian atau situasi lebih dapat mengidentifikasi dan mengetahui perilaku yang kurang pantas. Idealisme terhadap sensitivitas Etis Pengujian Idealisme Sensitivitas Etis dengan menggunakan XLSTAT menunjukkan hasil yang positif dan signifikan. Hasil uji terhadap koefisien jalur menunjukkan adanya pengaruh positif sebesar 24,6% . aitu berdasarkan nilai value 0,. dengan nilai t statistik sebesar 2,782 dan signifikan pada nilai p-value 0,006. Nilai t statistik statistik tersebut berada diatas nilai kritis 1,96, dengan demikian hipotesis H2 diterima. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Chan dan Leung . Marwanto . , dan Iswarini dan Mutmainah . yang menyatakan ada pengaruh positif antara idealisme terhadap sensitivitas Namun tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Falah . yang menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara Idealisme dengan sensitivitas etis. Idealisme mengacu pada luasnya seorang individu percaya bahwa keinginan dari konsekuensi dapat dihasilkan tanpa melanggar petunjuk moral sedangkan sensitivitas etis merupakan kemampuan mahasiswa akuntansi untuk menyadari nilai-nilai etika atau moral dalam suatu keputusan etis. Ini dapat diartikan bahwa mahasiswa akuntansi universitas pattimura dengan tingkat idealisme yang tinggi, akan Halaman 141 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 menemukan adanya masalah etika dan dalam memutuskan suatu tindakan lebih mengarah pada pedoman atau aturan yang telah ditetapkan Aturan-aturan ini berkaitan dengan nilainilai etika yang sudah ditetapkan. Jadi mereka berpikir segala susuatu tidak boleh melanggar aturan yang ada meski dengan alasan apapun. Hasil penelitian ini mendukung teori menyatakan bahwa, semakin seseorang memiliki idealisme yang tinggi, maka akan semakin sensitif terhadap persoalanpersoalan yang menyangkut perilaku etis atau tidak. Relativisme terhadap sensitivitas etis Pengujian pengaruh Relativisme terhadap Sensitivitas Etis dengan menggunakan XLSTAT menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Hasil uji terhadap nilai t-statistik sebesar -1,116 dan tidak signifikan pada nilai p-value 0,267. Nilai t-statistik tersebut berada dibawah nilai kritis 1,96, dengan demikian hipotesis H3 ditolak. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Chan dan Leung . Iswarini dan Musmainah . yang menyatakan tidak ada hubungan positif antara relativisme dengan sensitivitas etis. Namun hasil penelitian ini juga tidak konsisten dengan hasil penelitian Marwanto . yang menyatakan relativisme berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis. Relativisme adalah suatu sikap penolakan terhadap nilai-nilai moral yang absolut dalam mengarahkan perilaku etis, sedangkan sensitivitas etis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya adalah kemampuan mahasiswa akuntansi untuk menyadari nilai-nilai etika atau moral dalam suatu keputusan etis. Ini artinya sikap ponalakan seperti yang diartikan dalam relativisme berarti menolak nilai Ae nilai moral yang ada. Orang yang mempunyai tingkat pemikiran relativisme cenderung lebih berpikir bahwa suatu tindakan itu dapat dinilai beretika atau tidak selalu dapat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang ada dalam arti selalu berubah Ae rubah sesuai dengan kondisi atau lingkungan. Kondisi tersebut akan menjadikan sesorang menjadi kurang sensitif terhadap masalah etika. Adanya relativisme dalam diri seseorang akan menjadi penghambat seseorang untuk melakukan tindakan yang dinilai etis. Dan dalam penelitian ini relativisme tidak berpengaruh terhadap senstivitas etis dalam arti tingkat relativismenya Ini diduga karena mahasiswa akuntansi di universitas pattimura ambon lebih memiliki idealisme yang tinggi. Sikap idealisme yang tinggi ini dibuktikan dengan mahasiswa yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi menolak bekerja sama dalam ujian dengan teman-temannya. Sikap kekerasan hati untuk mematuhi sebuah aturan ini cendrung lebih kuat e-ISSN: 0000-0000 sehinga mahasiswa tidak terpengaruh dan sensitif terhadap keadaan dan lingkungan disekitar. Secara teoritis hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori menyatakan bahwa seseorang yang memiliki relativisme tinggi akan lebih memberi toleransi dalam menemukan masalah moral serta dalam melaksanakan nilai-nilai . moral universal yang berlaku atau yang membimbing perilaku mereka. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil pengujian statistik Pemikiran etis, idealisme, relativisme terhadap sensitivitas etis, mahasiswa akuntasi dengan menggunakan XLSTATPLS dapat ditarik kesimpulan bahwa bahwa faktorfaktor personal yang berpengaruh secara signifikan terhadap sensitivitas etis adalah pemikiran etis. Secara parsial faktor Ae faktor personal yang mempengaruhi sensitivitas etis dapat disimpulkan sebagai berikut : Pemikiran etis berpengaruh positif terhadap senstivitas etis. Semakin seseorang atau dalam hal ini mahasiwa memiliki pemikiran etis yang tinggi memberikan alasan-alasan atau argumen terhadap suatu kejadian yang menyangkut perilaku etis atau tidak etis maka semakin sensitif orang tersebut terhadap kejadian atau perilaku etis atau tidak etis. Idealisme berpengaruh positif terhadap sensitivitas etis. Artinya mahasiswa dengan tingkat idealisme yang tinggi, akan lebih sensitif dalam menemukan adanya masalah etika dan dalam memutuskan suatu tindakan lebih mengarah pada pedoman atau aturan yang telah ditetapkan Relativisme tidak berpengaruh terhadap senstivitas etis. Ini diduga karena mahasiswa akuntansi di Universitas Pattimura ambon lebih memiliki idealisme yang tinggi. Sikap idealisme yang tinggi ini dibuktikan dengan mahasiswa yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi menolak bekerja sama dalam ujian dengan teman-temannya. Sikap kekerasan hati untuk mematuhi sebuah aturan ini cendrung lebih kuat sehinga mahasiswa tidak terpengaruh dan sensitif terhadap keadaan dan lingkungan disekitar. Saran Untuk Jurusan Akuntansi harus lebih banyak memasukkan nilai-nilai etis baik dalam kurikulum jurusan akuntansi maupun dalam proses belajar mengajar dengan memperbanyak mata Ae mata kuliah Halaman 142 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 1. NO. SEPTEMBER 2022 Ini penting dilakukan dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang baik. Bila penelitian ini dilakukan kembali maka diharapkan objek penelitian diperluas bukan saja pada satu perguruan tinggi saja, tapi diperluas kebeberapa perguruan tinggi agar dapat mencerminkan karakteristik dari seluruh mahasiswa akuntansi yang ada diberbagai perguruan tinggi dan juga diharapkan dapat menguji faktor-faktor personal yang bersifat eksteren yang mungkin berpengaruh terhadap sensitivitas etis seperti pendidikan etis, lingkungan akademik, budaya dan organisasi serta aspek profesional. DAFTAR PUSTAKA Chan. dan Leung. P, 2006. The Effect of Accounting StudentAos Ethical Reasoning and Personel Factors on Their Ethical Sensitivity. Managerial and Auditing Journal. Vol. No. 4, pp. Crismastuti dan Purnamasari, 2006. Au Dampak Reinforcement Contingency Machiavellian Simposium Nasional Akuntansi IX Padang. Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka