ISSN 2656-7733 Volume 5 No. 1 (April, 2. id/index. php/JKIKT HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS ) IBU DENGAN KEJADIAN DIARE BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER The Relationship Between Mother's Clean And Healthy Lifestying Behavior (PHBS) With The Incidence Of Diarrhea Under Children In The Work Area Of Puskesmas Sumbersari. Jember District Hendro Prasetyo1. Muhammad Yahya2. Trisna Vitaliati3. Dony Setiawan Hendyca Putra4 Program Studi D4 Kebidanan Jember. Politeknik Kementerian Kesehatan Malang Program Studi S1 Keperawatan. Stikes Dr. Soebandi Jember Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan. Politeknik Negeri Jember *Email: dony_shp@polije. ABSTRACT Behavior clen and healthy lifestyle (PHBS) greatly affects the occurrence of diarrhea and the diarrhea on children under five possibly causing negative impact specifically the clildren growth process that lead to decrease the life qruality of clildren. The environment and behavior are the of diarrhea. To determine existing realition between hygienic and healthy moter behavior with diarrhea on children under five in puskesmas destrisct sumbersari. The research are using the observation method with the survey analitik with cross sectional design approach. The research conducted in Sumbersari Public Health Center Working Area. The sample are 47 respondent, obtained by using Purposive Sampling. The research variables the hygienic and healthy mothe behavior and the diarrhea ncident on children under five years old. The hygienic and healthy mother behavour obtained with healthy life and health behavior of housewifery The diarrhea incident data obtained by seeing report in posyandu. The statistical test usng the chi square test. The population of mother with hygienic life and health behavior on bad category 25 . ,19%), good moderate 7 . ,89%), and good 15 . ,91%). Further, the data are analyzed with chi square and the results is P with the amount 0,000 . < 0,. which means the correlation between the hygienic life and healthy behavior mother on diarrhea incident at toddler in Public Health Center working area. It s recommended in this research for mother with diarrhea history of toddler to always care and responsibility for the hygienic life and healthy behavior so that the diarrhea problem can be prevent. Keywords : Relationship Behavior Clen And Healthy Lifestyle, diarrhea ABSTRAK Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sangat berpengaruh terhadap kejadian diare dan Penyakit diare pada balita dapat menyebabkan dampak negatife yaitu menghambat proses tumbuh kembang balita sehingga dapat menurunkan kualitas hidup balita. Faktor resiko lingkungan dan perilaku merupakan penyebab terjadinya diare. Untuk mengetahui ada atau tidak ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat ibu dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja puskesmas sumbersari kabupaten jember. Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di wilayah kerja puskesmas sumbersari kabuapten jember. Besar sampel adalah 47 responden, diambil ISSN 2656-7733 Volume 5 No. 1 (April, 2. id/index. php/JKIKT dengan menggunakan purposive sampling. Variabel penelitian meliputi : perlaku hidup bersih dan sehat ibu dan kejadian diare pada balita. Data perilaku hidup bersih dan sehat ibu diperoleh dengan kuesioner perilaku hidup bersih dan sehat . Data kejadian diare diperoleh dengan melihat laporan di posyandu. Uji statistic digunakan adalah uji Chi square. Populasi ibu degan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat kategori kurang baik 25 . ,19%), cukup baik 7 . ,89%), dan baik 15 . ,91%). Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan Chi squase dan didapatkan Nilai p sebesai 0,000 . <0,. yang artinya terdapat hubugan antara perilaku hidup bersih dan sehat ibu dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja puskesmas sumbersari kabupaten jember. Disarankan pada penelitian ini bagi para ibu dengan balita riwayat diare untuk selalu peduli dan tanggung jawab terhadap perilaku hidup bersih dan sehat agar masalah diare pada balita dapat dicegah dengan baik. Kata kunci : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Ibu. Diare PENDAHULUAN Diare didefinisikan sebagai perubah konsistensi feses dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasanya, dimana seseorang yang buang air besar tidak normal dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering . iasanya tiga kali atau lebi. dalam sehari, biasanya diare akut berlangsung . urang dari 14 har. , namun bila diare berlanjut dan berlangsung 14 hari atau lebih maka di golongkan dalam diare persisten, yang selanjutnya dapat menyebabkan kematian pada anak (Depkes RI. Menutu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO. Penyakit diare merupakan penyebab utama kedua kematian pada anak-anak di bawah lima tahun. Kebanyakan anakanak yang meninggal akibat diare sebenarnya meninggal karena dehidrasi parah dan kehilangan cairan, serta diare bertanggung jawab untuk membunuh sekitar 760 000 anak setiap Berdasarkan data dari UNICEF pada tahun 2015 untuk kejadian diare terutama anak anak dibawah 5 tahun dimana 1. 400 anak-anak meninggal setiap hari, atau sekitar 526. anak pertahun, meskipun ketersediaan pengobatan yang efektif dan sederhana (UNICEF. Penyakit diare di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, jumlah penemuan kasus diare di Indonesia pada tahun 2015 berjumlah 5. 235 kasus diare (Kemenkes RI 2015, . Berdasarkan data hasil survey (Dinkes Jatim, 2015:. jumlah penderita diare di provinsi jatim masih cukup tinggi berjumlah 831. 338 kasus diare yang di temukan, untuk wilayah/kota Kabupaten jember masih lebih banyak ditemukan angka kejadian diare yakni sebesar 6. 19% atau 51. 512 kasus diare. Dibandingkan dengan Wilayah/Kota yang terdapat di Jatim, khususnya dari Wilayah/Kota yang berdekatan dengan Kabupaten Jember misalnya Kabupaten Banyuwangi sebesar 4. 10% atau 34 kasus. Kabupaten Lumajang sebesar 65% atau 22. 046 kasus diare. Kabupaten Bondowoso sebesar 1. 95% atau 16. 290 kasus Berdasarkan data hasil survey (LB3 Diare Jember: 2. angka kasus kejadian Diare Balita yang di temukan 22590 kasus. Terdapat beberapa puskesmas yang masih tinggi angka balita diare pada tahun 2016, yang pertama puskesmas sumbersari terdapat 5,55% balita Diare atau 1256 kasus diare. Selanjutnya dipuskesmas jenggawah 5,40% balita Diare atau 1221 kasus diare. Dan terakhir puskesmas pakusari 4,14% balita Diare atau 937 kasus diare. Hasil studi pendahuluan, jumlah kasus diare pada balita di wilayah kerja puskesmas sumbersari pada bulan februari-april 2017 sebanyak 105 kasus. Wilayah kerja puskesmas sumbersari terdiri dari kelurahan sumbersari, kelurahan kebonsari, kelurahan wirolegi, kelurahan karangrejo, klurahan tegalgede, kelurahan wirolegi, kelurahan antirogo. Dari 10 balita diare yang di observasi, terdapat 6 balita yang mengalami diare karena disebabkan Perilaku hudup bersih dan sehat (PHBS) Ibu buruk dan 4 balita lainnya tidak mengalami diare karena perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) ibu baik. ISSN 2656-7733 Volume 5 No. 1 (April, 2. id/index. php/JKIKT Diare yang tidak ditangani dengan cepat dan kurang tepat akan mengakibatkan dehidrasi. Dehidrasi adalah suatu gangguan keseimbangan air yang disebabkan pengeluaran dari dalam tubuh melebihi pemasukan dari dalam tubuh sehingga jumlah air pada tubuh berkurang. Meskipun yang hilang adalah cairan tubuh, tetapi dehidrasi juga dapat disertai gangguan dehidrasi dapat terjadi karena kekurangan air atau kekurangan natrium atau kekurangan air dan natrium secara bersama-sama (Maulana,N. Dehidrasi yang dialami balita memerlukan penanganan yang tepat karena mengingat bahaya yang disebabkan dehidrasi cukup fatal yaitu kehilangan cairan yang dapat berujung pada kematian. Untuk mencegah agar balita tidak mengalami dehidrasi akibat diare perlu dilakukan salah satu upaya pokok yang berupa pengobatan dan perawatan penderita (Christy,M. Upaya pencegahan dan penanggulangan kasus diare dilakukan melalui pemberian oralit, penggunaan infus, penyuluhan ke masyarakat dengan maksud terjadinya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari, karena secara umum penyakit diare sangat berkaitan dengan hygiene sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat. Peningkatan kasus diare merupakan cerminan dari perbaikan kedua faktor tersebut (Kemenkes RI. Perilaku merupakan faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, karena sehat atau tidak sehatnya lingkungan, individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Perilaku sendiri terutama tentang perilaku hidup sehat serta perilaku yang positif akan berdampak positif pula bagi kesehatan individu, perilaku yang sehat sangat mempengaruhi kualitas dan taraf hidup seseorang agar dapat menjadi lebih baik dan Di samping itu, juga dipengaruhi oleh kebiasaan, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, pendidikan sosial ekonomi, dan perilaku-perilaku lain yang melekat pada dirinya (Notoatmodjo. Perilaku kesehatan dapat diwujudkan dengan perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran,yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri . dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Dengan demikian perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus dipraktekkan dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya. Dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit, serta untuk penyehatan lingkungan harus dipraktekkan perilaku mencuci tangan dengan sabun, pengelolahan air minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggukan air bersih, menggunakan jamban sehat, pengelolahan limbah cair yang memenuhi syarat, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di dalam ruangan (Kemenkes RI. Setiap tahunnya sekitar 2,2 juta orang di negara-negara berkembang terutama anak-anak meninggal dunia akibat berbagai penyakit yang disebabkan oleh kurangnya air minum yang bersih, sanitasi tidak memadai serta hygiene yang buruk. Selain itu, terdapat bukti bahwa pelayanan sanitasi yang memadai, persediaan air bersih, sistem pembuangan sampah serta pendidikan hygiene dapat menekan angka kematian akibat diare sampai 65%, serta penyakitpenyakit lainnya sebanyak 26% (Astuti,Y. Dkk. 2013: 6-. METODE PENELITIAN Desain penelitian merupakan suatu strategi untuk mencapai atau tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman penentu penelitian pada seluruh proses penelitian (Nursalam, 2009. Penelitian ini dilakukan dengan metode Survei Analitik, karena peneliti mencoba menganalisis adanya hubungan antar variable. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross sectional yaitu suatu penelitian yang menekankan waktu pengukuran atau observasi data variable independen dan dependen hanya satu kali pada satu (Notoatmodjo, 2012:. Sehingga penguji dapat menguji hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) ibu dengan kerjadinya Diare pada balita. ISSN 2656-7733 Volume 5 No. 1 (April, 2. id/index. php/JKIKT Hasil pengumpulan data pada peneltian ini sebagai berikut. Tabel 5. 1 Data distribusi karakteristik ibu berdasarkan umur di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember tahun 2017 Umur Ibu < 20 tahun 20 Ae 35 tahun >35 tahun Total Jumlah . Presentase (%) 4,3% 89,4% 6,4% Tabel 5. 2 Data distribusi karaktristik ibu berdasarkan pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember tahun 2017 Pendidikan SMP SMA Total Jumlah . Presentase (%) 23,4% 29,8% 40,4% 6,4% Tabel 5. 3 Data distribusi karaktristik ibu berdasarkan tingkat pendapatan/penghasilan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember tahun 2017 Pendapatan Rendah Sedang Tinggi Total Jumlah . Presentase (%) 27,7% 55,3% 17,0% Tabel 5. 4 Data distribusi karaktristik ibu berdasarkan pekerjaan di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten jember tahun 2017 Pekerjaan Tidak bekerja Pegawai negeri Wiraswasta Petani Total Jumlah . Presentase (%) 48,9% 8,5% 25,5% 17,0% Tabel 5. 5 Data distribusi karakteristi usia balita riwayat diare di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember tahun 2017 Usia Balita 0 Ae 1 tahun 2 Ae 3 tahun 4 Ae 5 tahun Total Jumlah . Presentase (%) 31,9% 53,2% 14,9% Tabel 5. 6 Data perilaku hidup bersih dan sehat ibu di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember tahun 2017 Perilaku Baik Cukup baik Kurang baik Total Jumlah . Presentase (%) 48,93% 19,14% 31,91% Tabel 5. 7 Data riwayat kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember tahun 2017 Riwayat diare Diare dalam satu bulan Tidak diare dalam satu Total Jumlah . Presentase (%) 38,29% 61,70% ISSN 2656-7733 Volume 5 No. 1 (April, 2. id/index. php/JKIKT Tabel 5. 8 Data hubungan tingkat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Ibu dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Jember tahun 2017 PHBS Ibu Baik Cukup Baik Kurang Baik Jumlah Riwayat Diare Balita Tidak Diare dalam Diare dalam satu bulan satu bulan 72,41 11,11 6,89 38,88 20,68 50,00 Value 0,000 PEMBAHASAN Perilaku hidup bersih dan sehat Ibu Berdasarkan hasil pelitian menunjukkan bahwa ibu yang memliki balita di wilayah kerja puskesmas sumbersari kabupaten jember memiliki Perilaku Hidup Bersih dan Sehat kurang baik adalah 15 responden . ,91%), cukup baik 9 responden . ,14%), dan PHBS baik 23 responden . ,93%). Ibu dikatakan memiliki PHBS baik apabila jumlah nilai kuesioner 76 Ae 100, sedangkan ibu dikatakan PHBS cukup bail apabila jumlah dilai kuesioner 56 Ae 75, dan ibu yang dikatakan PHBS kurang baik apabila jumlah nilai <55. Notoatmodjo . mengungkapkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor dari dalam diri . aktor intrinsi. , yaitu usia, tingkat pendidikan, pengetahuan, kepuasan, keyakinan dan faktor dari luar . aktor ektrinsi. , yaitu iklim, manusia, social, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya. Sehubungan dengan tingkat pendapatan keluarga atau social ekonomi keluarga yang telah diteliti oleh (Yuliandari D W 2. menyatakan tingkat social ekonomi keluarga kategori rendah memiliki peluang untuk tidak berperilaku hidup bersih dan sehat sebesar 5 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan social ekonomi keluarga dengan pendapatan tinggi. Sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh kusumawati . mengungkapkan bahwa adanya keterikatan antara pendidikan dengan PHBS mempunyai hubungan dengan tingkat kesehatan, diamana pendidikan juga mempengaruhi perilaku yang akan dilakukan ibu tentang PHBS. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah ibu menerima konsep hidup sehat secara mandiri,kreatif dan Pada penelitian ini dari 47 responden didapatkan bahwa sebagian besar ibu berpendidikan SMA dan SMP. Pendidikan ibu yang rendah mengakibatkan kurannya pengetahuan dalam menghadapi dan mencegah masalah. Orang yang berpendidikan tinggi cenderung berkeinginan tinggi dan akses informasi yang luas, karena orang yang berpendidikan tinggi lebih ingin mencari tahu informasi tertentu, termasuk tentang perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan setiap hari. Demikian juga halnya dalam pemahaman akan manfaat perilaku hidup bersih dan sehat untuk balita, ibu yang mempunyai tingkat pendidikan lebih, akan suka membaca atau mengikuti acara televise yang bertema kesehatan sehingga mudah memperoleh hal-hal positif contohnya tentang perilaku hidup bersih dan sehat Tingkat pendapatan keluarga memungkinkan ibu untuk memperoleh kebutuah Ae kebutuhan untuk perilaku hidup bersih dan sehat yang lebih baik, sehingga perilaku ibu dalam keseharianya untuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi lebih mudah, umur ibu yang di bawah 20 tahun mampu untuk meningkatkan pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat serta ibu yang berusia 22 Ae 35 tahun dapat memperluas pengetahuan, sikap dan tindakan serta ibu mampu meningkatkan kualita kesehatan baik lingkungan, keluarga terutama kesehatan balita dan ibu dapat menjadi contoh bagi balita agar balita melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. ISSN 2656-7733 Volume 5 No. 1 (April, 2. id/index. php/JKIKT Riwayat kejadian diare pada balita Hasil penelitian tentang distribusi riwayat kejadian diare pada balita di wilayah kerja puskesmas sumbersari adalah 18 balita terjadi diare dalam satu bulan terakhir . ,29%) dan balita yang tidak mengalami diare dalam satu bulan terakhir adlah 29 balita . ,70%). Ibu memberikan tambahan makanan seperti memberikan tambahan makanan lunak sebelum 6 bulan, memberikan susu formula dan air untuk kebutuhan minum sehingga system pencernaan terganggu. Hal ini dilakukan karena tidak keluarnya ASI sehingga menyebabkan pemberian asi esklusif tidak dilakukan dengan baik. Factor yang mempengaruhi kejadian diare yaitu factor gizi, factor jamban dan factor sumber air (Simatupang, 2. Perilaku masyarakat yang negatife misalnya membuang tinja/kotoran balita di kebun, sawah atau sungai, minum air yang tidak dimasak dan melakukan pengobatan sendiri dengan cara yang tidak tepat ( Artini. Teori tersebut juga didukung dari enelitian Adisasmito . yang menggungkapkan bahwa banyak factor yang menimbulkan penyakit diare antara lain factor lingkungan, factor balita, factor ibu dan factor sosiodemografi Balita yang mengalami diare kemungkinan terjadi karena tidak diberi ASI secara eksklusif, buruknya penggunaan jamban, buruknya pengunaan air bersih dan tidak mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Ibu yang tidak memiliki jamban melakukan buang air besar disungai, hal ini dikarenakan letak rumah berdekatan dengan sungai. Higine dan sanitasi yang buruk mempermudah penularan diare baik melalui makanan, air minum yang tercemar kuman penyebab diare maupun air sungai. Factor sosial budaya berupa kebiasaan, pendidikan, pekerjaan dan kepercayan masyarakat membentuk perilaku positif amaupun negative terhadap berkembangnya diare. Kejadian diare pada balita apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat menimbulkan kematian, tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan ibu yang baik, dapat mencegah terjadinya diare pada balita sehingga pencegahan dapat dilakukan. Budaya negative dimasyarakat yang masih membuang sampah, mandi serta buang air besar disungai adalah beberapa factor yang menyebabkan terjadinya diare, tingkat pendidikan ibu yang tinggi dapat merubah perilaku yang kurang baik menjadi lebih baik. Sehingga kejadian diare pada balita dapat diobati dengan pengobatan yang benar dan dapat dicegah agar tumbuh kembang balita tidak terganggu. Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Ibu dengan kejadian Diare pada Balita Dapat diketahui bahwa perilaku hidup bersi dan sehat ibu Pada tabel 5. 5 responden perilaku hidup bersih dan sehat kurang baik yaitu 15 . ,91%) responden, cukup baik 9 . ,14%), dan PHBS baik 23 . ,93%) serta tabel 5. 6 riwayat kejadian diare balita dalam satu bulan terakhir yaitu 18 . ,29%) balita, tidak diare dalam satu bulan 29 . ,70%) balita. Berdasarkan hasil uji chi square dengan p-value sebesar 0,000. Pengambilan keputusan dilakukan dengan melihat derajat kesalahan ( = 0,. dank arena p value < 0,05 , maka H0 ditolak dan HA diterima, yang dapat diartikan bahwa ada hubungan perilaku hidup bersih dan sehat ibu dengan kejadian diare balita di wilayah kerja puskesmas sumbersari. Hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Ratna Diani Kusumasari . dengan uji chi square nilai p sebesar 0,001 . <0,. yang artinya terdapat hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ibu dengan kejadian diare pada usia 3 bulan Ae 2 tahun di desa pulosari kecamatan kebakkramat kabupaten karanganyar. Sejalan dengan hasil penelitian oleh (Amaliah. berpendapat bahwa hubungan dengan factor budaya sangat mendukung untuk terjadinya diare, karena banyak perilaku dan persepsi yang keliru terhadap diare, antara lain minum air mentah, berak tidak di jamban, persepsiyang keliru terhadap diare, dan kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan maupun sesudah berak Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh mahariani. et al,. bahwa seseorang yang mempunyai pola hygine ibu yang baik maka kejadian diare turun dan juga sebaliknya apabila seseorang ibu mempunyai pola hygiene yang sangat tidak baik maka ISSN 2656-7733 Volume 5 No. 1 (April, 2. id/index. php/JKIKT kejadian diare naik yang mana pola hygiene ibu dalam pengolahan makan harus memperhatikan kebersihan individu ada hubungannya dengan penyebab diare yang berasal dari factor makanan yang terkontaminasi. upaya pencegahan penyakit diare salah satunya dengan mencuci tangan. Tangan merupakan pembawa kuman penyebab penyakit. Dengan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat ibu, serta pendidikan ibu yang tinggi sehingga dapat menurunkan resiko penuralan penyakit diare pada balita. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki ibu akan berpengaruh dengan meningkatnya pengelolaan makan serta memperhatiakan pengelolaan kebersihan invidu maupun kelurga sehinnga taraf kesehatan dapat meningkat. Diare terjadi karena pola hidup atau tingkahlaku yang kurang baik misalnya mengkonsumsi air yang belum dimasak, berak disungai, membuang kotoran bayi dan sampah disugai. Sesuai dengan penelitian yang sudah/pernah dilakukan, terbukti ada hubungan yang bermakna antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu dengan kejadian diare pada balita. Hal tersebut dikarenakan pada sample yang memiliki riwayat diare pada balita kebanyakan memiliki Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu yang kurang baik serta juga disebabkan factor pendidikan yang rendah, semakin tinggi pendidikan ibu maka semakin mudah ibu menerima serta memahami kosep perilaku sehat dan ekonomi yang kurang mencukupi. Salah satu tindakan tenaga kesehatan yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah dengan melakukan kunjungan rumah dan memberikan informasi secara berkala, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah ibu untuk mendapatkan informasi tentang perilaku sehat serta ibu dapat meningkatkan polahidup yang lebih baik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja puskesmas sumbersari yang dilakukan pada tanggal 8 Ae 15 juni 2017 dapat ditarik kesimpulan sebagai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu dengan balita di wilayah kerja puskesmas sumbersari kabupaten jember mayoritas memiliki PHBS baik. Balita yang mempunyai riwayat diare diwilayah kerja puskesmas sumbersari sebagian besar terjadi tidak dalam satu bulan terakhir. Terdapat hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu dengan kejadian diare pada balita di di wilayah kerja puskesmas sumbersari kelurahan antirogo kabupaten SARAN Bagi Masyarakat Diharapkan masyarakat khususnya ibu balita yang mempunyai riwayat diare harus lebih peduli dan tanggung jawab terhadap Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sehingga kejadian diare pada balita yang disebabkan oleh Perilaku Hidup Brsih dan Sehat (PHBS) Ibu berkurang Bagi Program Studi Ilmu Keperawatan Mengadakan praktek belajar di lapangan keperawatan keluarga dalam bentuk melatih ibu dalam berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat(PHBS) khususnya terkait dengan pencegahan Bagi Peneliti Hasil penelitian menunjukkan masih terdapat factor lain yang dapat berhubungan dengan kejadian diare pada balita, sehingga perlu adanya penelitian dan pengkajian lebih lanjut mengenai factor lain yang dapat mempengaruhi kejadian diare yaitu : Hubungan social ekonomi keluarga dengan kejadian diare pada balita Hubungan budaya pemberian makan pada balita dengan kejadian diare ISSN 2656-7733 Volume 5 No. 1 (April, 2. id/index. php/JKIKT Hubungan social budaya keluarga dengan kejadian diare pada balita DAFTAR PUSTAKA