https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 20-26 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 MODEL TGT DENGAN CERDAS CERMAT BERKELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER DAN PEMECAHAN PERMASALAHAN MATEMATIKA BANGUN RUANG Diana Setiani1 . Yuliana2*. Nughthoh Arfawi Kurdhi3 Pendidikan Matematika. Universitas Widya Dharma Klaten Matematika. Universitas Sebelas Maret Surakarta Email : yuliana@unwidha. Abstrak Ketika pembelajaran bangun ruang, siswa lebih banyak menyimak penjelasan dari gurunya sehingga pembelajaran menjadi kurang interaktif. Pembelajaran ini tidak dapat menumbuhkan karakter matematis siswa dan kemampuan pemecahan permasalahan Model pembelajaran TGT menjadi salah satu alternatif untuk menumbuhkan karakter matematis siswa dan kemampuan pemecahan permasalahan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan dua siklus yang bertujuan untuk meningkatkan karakter matematis siswa dan kemampuan pemecahan matematika siswa. Tindakan menggunakan model TGT dengan cerdas cermat kelompok dilakukan di SMP Negeri 4 Klaten kelas Vi. Sebelum tindakan kelas dimulai, pretest diberikan kepada siswa untuk menentukan kemampuan awal siswa. Hasil pretest masih tergolong cukup rendah, yaitu hanya 3% siswa yang tuntas. Setelah diberikan tindakan, kemampuan pemecahan masalah matematika siswa mengalami peningkatan, yaitu pada siklus 1 sebanyak 66% siswa tuntas dalam memecahkan permasalahan bangun ruang dan siklus 2 sebanyak 84% siswa tuntas dalam pemecahan masalah bangun ruang. Begitu pula karakter matematis siswa mengalami peningkatan, yaitu pada sklus 1 hanya 59% siswa memiliki karakter matematis berkategori sedang, sedangkan pada siklus 2 sebanyak 78% siswa memiliki karakter matematis berkategori baik. Kata Kunci : bangun ruang, cerdas cermat, karakter matematis, pemecahan permasalahan Abstract When learning to build space, students pay more attention to the teacher's explanations, so that learning becomes less interactive. This learning cannot develop students' mathematical character and mathematical problem-solving abilities. The TGT learning model is an alternative for developing students' mathematical character and problem-solving abilities. This research is classroom action research with two cycles that aims to improve students' mathematical character and students' mathematical solving The action of using the TGT model with group intelligence was carried out at SMP Negeri 4 Klaten, class Vi. Before class action begins, a pretest is given to students to determine their' initial abilities. The pretest results are still quite low, namely, only 3% of students completed it. After being given action, students' mathematical problem-solving abilities increased. namely as many as 66% of students were complete in solving geometric problems in cycle 1, and as many as 84% of students were complete in solving geometric problems in cycle 2. Likewise, students' mathematical character has improved. namely, in cycle 1, only 59% of students have moderate mathematical character, and more than 78% of students have good mathematical character in cycle 2. Keywords : geometry, quiz, mathematical character, problem solving https://journal. id/widyadidaktika PENDAHULUAN Kemampuan pemecahan masalah dapat menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari (Nursyahidah & Albab. Fungsi dari kemampuan pemecahan masalah, yaitu melatih keterampilan serta pengetahuan siswa dalam menentukan solusi dari permasalahan yang muncul (Davita & Pujiastuti, 2. Materi bangun ruang sebelumnya telah dipelajari di SD, namun pada tingkat SMP materi bangun ruang dipelajari lebih luas lagi. Pada tingkat SMP, siswa diarahkan ke dalam pemecahan permasalahan yang lebih luas lagi. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sebagian siswa kelas Vi SMPN 4 Klaten masih beranggapan bahwa pemecahan permasalahan pada bangun ruang tergolong sangatlah sulit menjadi salah satu penyebab sulitnya mencari penyelesaian permasalahan. Kondisi ini diperkuat oleh pernyataan guru matematika di SMPN 4 Klaten bahwa pembelajaran yang dilaksanakan di kelas masih berfokus pada guru. Ketika guru memberikan soal pemecahan masalah dan meminta siswa untuk mengerjakan di depan kelas, tetapi sebagian siswa cenderung tidak memiliki rasa percaya diri untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Menurut Wondo & Meke . sikap percaya diri menjadi faktor penting untuk memecahkan Pembelajaran di kelas akan terasa tidak aktif jika guru masih menjadi pusat sumber belajar dalam pembelajaran, sedangkan siswa hanya menyimak tanpa ingin berkonstribusi di Dalam hal ini, guru dapat ikut serta dalam membantu pembelajaran agar lebih interaktif Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk dapat meningkatkan karakter dan kemampuan pemecahan masalah adalah model pembelajaran Teams Game Tournament (TGT). TGT merupakan model pembelajaran yang salah satu tahapannya terdapat sebuah tournament dan JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 20-26 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 kelompok tournament tersebut terdiri dari siswa yang heterogen berjumlah 5-6 siswa. TGT sebelumnya pernah diteliti oleh Yandari & Nailah . menunjukkan hasil adanya peningkatan pemecahan masalah pada siswa SD. Perbedaan pada penelitian ini terletak pada tahap tournamentnya. Pada penelitian ini, pemilihan kelompok dipilih langsung oleh guru melalui nilai pretest yang diberikan sebelum menerapkan model TGT. Sebelum tournament dimulai, siswa akan diarahkan untuk menjawab soal sederhana terlebih dahulu selanjutnya siswa boleh memilih soal tournament yang telah Soal tersebut dikemas dalam sebuah amplop berwarna warni agar menarik siswa dalam mengikuti tournament. Kelompok yang dapat memenangkan tournament yang dapat dilihat dari perolehan skor diakhir tournament. Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Asdarina & Arwinda . memiliki relevansi dalam pengintegrasian karakter dalam pembelajaran matematika. Metode yang digunakan yaitu diskusi dan model discovery learning dengan pengintegrasian karakter demokratis, memiliki rasa ingin tahu dan tanggung jawab. Pada penelitian ini mengintegrasikan karakter jujur, demokratis, disiplin, memiliki rasa ingin tahu dan tanggung Penelitian ini mengimplementasikan model pembelajaran TGT dengan cerdas cermat berkelompok dalam pengintegrasiannya. METODE PENELITIAN Pada menyusun perangkat pembelajaran, meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar. LKPD, soal pretest, soal tournament, soal tindakan 1, dan angket. Pada tahap tindakan penelitian dimulai dari mendistribusikan soal pretest terlebih dahulu. Hasil pretest akan dijadikan data awal kemampuan pemecahan masalah bangun ruang. Selain dijadikan data awal, peneliti juga menggunakan hasil pretest sebagai acuan dalam menentukan anggota kelomok tournament. Setelah mendistribusikan https://journal. id/widyadidaktika soal pretest, peneliti melanjutkan tahapan berikutnya dengan pemberian materi ajar, tournament, dan pendistribusian soal tindakan 1 serta angket. Pada tahap observasi, observer melakukan pengamatan pada jalannya penelitian dan memberikan kritik serta saran untuk perbaikan pada tindakan berikutnya. Tahap yang terakhir yaitu refleksi. Pada tahap refleksi, kekurangan yang terjadi di dalam tindakan 1 yang menyebabkan kemampuan pemecahan dan karakter matematis siswa belum memenuhi indikator keberhasilan. Pada tindakan kelas 1 yaitu menerapkan model TGT pada bangun ruang . olume kubus dan balo. Setelah selesai pemberian materi, peneliti memberikan kesempatan siswa untuk Tournament yang dilaksanakan pada penelitian ini yaitu tournament cerdas cermat berkelompok. Setiap kelompok memiliki anggota dengan kemampuan pemecahan permasalahan yang berbeda-beda. Setiap berkemampuan rendah, baik, dan sangat baik. Pembentukan kelompok yang anggotanya memiliki kemampuan pemecahan masalah berkemampuan baik dapat membantu siswa yang berkemampuan rendah maupun kurang dalam proses pemecahan permasalahan (Yuliana & Firmansah, 2. , terutama bangun ruang. Prosedur tournament pada penelitian ini meliputi setiap kelompok ditempatkan di meja tournament yang telah disediakan, selanjutnya setiap kelompok diarahkan untuk menjawab soal sederhana terlebih dahulu. Kelompok yang dapat menjawab soal sederhana dengan cepat dapat bermain terlebih dahulu dan dapat memilih amplop soal yang telah disediakan. Soal dikemas di dalam amplop berwarna-warni agar dapat menarik perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran. Apabila kelompok dapat menjawab pertanyaan dengan benar akan mendapatkan poin, tetapi jika kelompok tersebut tidak dapat menjawab soal maka kelompok JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 20-26 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 tersebut boleh melemparkan soal ke kelompok Kelompok dengan poin tertinggi akan memenangkan tournament dan mendapatkan Penghargaan yang diberikan berupa apresiasi tepuk tangan dari seluruh siswa di kelas dan mendapatkan hadiah. Pemberian penghargaan ini diharapkan mampu menarik siswa untuk berlomba-lomba mendapatkan poin saat tournament dan mampu menumbuhkan karakter demokratis pada diri siswa. Tindakan 2 pada penelitian ini memiliki alur yang sama, tetapi yang membedakan yaitu pada tahap refreksi. Pada tindakan 2 ini, peneliti memperbaiki semua kekurangan yang ada pada Perbaikan pada tindakan 2 yaitu memberikan pembimbingan siswa di kelas, memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk bertanya dan memberikan banyak waktu untuk siswa berdiskusi. Pada tindakan 2 ini siswa sudah mulai terbiasa dengan penerapan model TGT sehingga terdapat peningkatan yang signifikan yang mengakibatkan penelitian tidak harus dilanjutkan dan berhenti sampai disini. Karakter kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dikategorikan dalam kategori Tabel 1. Kategori Karakter Matematis Siswa Persentase (%) 0 Ae 30 31 Ae 70 71 Ae 100 Kategori Rendah Kurang Baik HASIL DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian ini adalah siswa kelas Vi SMPN 4 Klaten. Dari subjek tersebut dikumpulkan data melalui angket, tes, dan Angket dipergunakan sebagai alat kemampuan pemecahan masalah matematika. Karakter siswa yang diukur dalam penelitian ini meliputi karakter disiplin dalam menyelesaikan tugas matematika, jujur dalam meyelesaikan pemecahan masalah matematika, tanggung jawab dalam menjawab pertanyaan, dan memiliki rasa ingin tahu atas materi matematika yang dipelajarinya. Tes dipergunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data pemecahan masalah siswa pada bangun ruang. Soal tes berbentuk permasalahan kontekstual bangun https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 20-26 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Tes diberikan sebelum menerapkan model pembelajaran TGT . dan tes pembelajaran TGT . es tindakan 1 dan tes tindakan . Melalui pretest terkumpul data kemampuan awal siswa pada bangun ruang, sedangkan melalui tes tindakan terkumpul data kemampuan pemecahan masalah siswa pada bangun ruang setelah menerapkan model pembelajaran TGT. Observasi digunakan untuk mengamati proses tindakan pembelajaran bangun ruang. Proses pelaksanaan tindakan 1 pada siklus 1 dan tindakan 2 pada siklus 2 terlihat pada Gambar 1. Perencanaan Tindakan 1 Perangkat ajar model TGT LKPD berbasis game cerdas cermat Angket karakter matematis Evaluasi pemecahan kontekstual bangun ruang . alok dan kubu. Pelaksanaan Tindakan 1 E Pretes kemampuan awal bangun ruang E Implementasi TGT dengan game cerdas cermat E Pembelajaran bangun ruang meliputi volume kubus dan Refleksi E Ketuntasan pemecahan permasalahan bangun ruang = E Ketuntasan karakter matematis = 59%. E Guru memberikan pembimbingan siswa di kelas E Guru memberikan lebih banyak kesempatan siswa untuk E Guru memberikan banyak waktu untuk siswa berdiskusi E Perencanaan Tindakan 2 Perangkat ajar model TGT LKPD berbasis game cerdas cermat edisi revisi Angket karakter matematis Evaluasi pemecahan kontekstual bangun ruang dan prism. Observasi E Observasi pembelajaran bangun ruang . ktivitas guru dan E Evaluasi diri karakter matematis siswa melalui angket Siklus 1 imas Refleksi E Ketuntasan pemecahan permasalahan bangun ruang =84%. E Ketuntasan karakter matematis = 78%. E Pembelajaran lebih menyenangkan. E Siswa tertarik dengan game dan tournaments. Pelaksanaan Tindakan 2 Pembelajaran bangun ruang meliputi volume limas dan prisma Guru memberikan pembimbingan siswa, diskusi, dan kesempatan Penghargaan kelompok dan individu Observasi E Observasi pembelajaran bangun ruang limas dan prisma . ktivitas guru dan sisw. E Evaluasi diri karakter matematis siswa melalui angket Siklus 2 Gambar 1. Pelaksanaan tindakan siklus 1 dan siklus 2 Dari serangkaian tindakan yang telah siswa mencapai 59% yang berkategori kurang. dilaksanakan, penelitian ini memberikan hasil Keadaan ini dikarenakan siswa belum terbiasa karakter dan kemampuan pemecahan masalah dengan model TGT dan belum terbiasa belajar matematika siswa dengan rekapitulasinya seperti secara berkelompok. Didasari oleh hasil yang pada Tabel 2. kurang memuaskan pada tindakan 1, tindakan 2 Tabel 2. Rekapitulasi Karakter Matematis diperbai melalui kegiatan refleksi. Refleksi yang Siswa dilakukan pada tindakan 2 meliputi guru Tindakan Persentase Kategori menambah porsi bimbingan siswa di dalam Kurang kelompoknya, memberikan lebih banyak Baik kesempatan siswa untuk bertanya, dan memberikan banyak waktu kepada siswa untuk Dari data di atas terlihat bahwa terjadi Pada tindakan 2, karakter siswa peningkatan hasil siklus 2 terhadap siklus 1. meningkat untuk memecahkan permasalahan Pada tindakan siklus 1, persentase karakter https://journal. id/widyadidaktika bangun ruang menjadi 78% dengan kategori Adapun rekapitulasi data kemampuan pemecahan masalah disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Rekapitulasi Kemampuan Pemecahan Masalah Nilai Kategori Tidak Tuntas 75 Ae 100 Tuntas Jumlah 0 Ae 74 Frekuensi Tes Tes Hasil Tes 1 Tes 2 Dari tabel di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan kemampuan pemecahan masalah bangun ruang pada tindakan siklus 2. Pada tindakan 1, siswa tuntas dalam menyelesaikan pemecahan permasalahan bangun ruang sebanyak 21 siswa dengan persentase ketuntasan Pada tindakan 1 ini, siswa masih belum terbiasa dengan pemecahan permasalahan matematika yang disusun secara rinci. Siswa hanya menuliskan penyelesaian pokok dari permasalahan yang didapat tanpa menyertakan unsur-unsur yang diketahui bahkan ditanyakan. Pada tindakan siklus 2, siswa lebih diarahkan pada penyelesaian pemecahan permasalahan bangun ruang secara rinci sehingga siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 27 siswa dengan persentase ketuntasan 84%. Tindakan 2 ini meningkat dari tindakan 1 dan sudah memenuhi indikator keberhasilan. Melalui model TGT dengan cerdas cermat berkelompok peneliti mengembangkan karakter seperti demokratis, tanggung jawab, memiliki rasa ingin tahu dan disiplin. Hasil dari karakter yang telah dikembangkan disajikan dalam Tabel Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Karakter Matematis Siswa Indikator Demokratis Tanggung Jawab Memiliki Rasa Ingin Tahu Disiplin Tindakan 1 Tindakan 2 JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 20-26 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Masing-masing matematis siswa mengalami kenaikan di setiap Model TGT dengan cerdas cermat berkelompok ini dapat meningkatkan karakter Peningkatan tersebut dapat meningkat pada prosedur tournament yang diterapkan. Sebelum melaksanakan tournament, siswa diarahkan untuk menjawab soal-soal sederhana. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan karakter demokratis pada diri siswa dan rasa tanggung jawab siswa. Dari pembahasan diatas menunjukkan bahwa model TGT dengan cerdas cermat berkelompok dapat meningkatkan karakter Hal ini juga didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Pasani et al. yang mengintegrasikan karakter tanggung jawab dan disiplin pada pembelajaran matematika. Wajar, apabila TGT dengan cerdas cermat dapat meningkatkan karakter matematis dalam terutama pada pemecahan bangun ruang. Selanjutnya matematika juga direkap dalam Tabel 5. Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Indikator Mengidentifikasi unsur yang diketahui dan Merencanakan penyelesaian masalah Menyusun perencanaan penyelesaian masalah Memeriksa kembali hasil yang telah Tindakan 1 Tindakan 2 Pada pemecahan masalah matematika siswa pada bangun ruang masih rendah. Setelah dilakukan perbaikan pada tindakan 2, kemampuan mengalami peningkatan. Model TGT dengan cerdas cermat berkelompok dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Tahapan pembelajaran TGT yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika yaitu tahap tournament. Pada awal tournament, peneliti mengarahkan siswa untuk menjawab soal-soal sederhana terlebih dahulu, bermain https://journal. id/widyadidaktika game lebih awal, dan memilih soal tournament yang telah disediakan. Soal dikemas disajikan dalam amplop yang berwarna-warni. Anggota kelompok dipilih langsung oleh peneliti melalui nilai pretest yang telah dilakukan sebelum menerapkan model pembelajaran TGT. Gambar 2. Pelaksanaan Tournament Cerdas Cermat Penerapan model pembelajaran TGT dengan cerdas cermat kelompok dapat menarik siswa untuk berdiskusi dengan teman kelompok yang anggotanya heterogen, sehingga siswa matematika yang baik dapat membantu siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang rendah untuk memecahkan permasalahan matematika. Disamping itu, permainan yang menarik akan menambah minat siswa untuk belajar siswa meningkat (Diyana et , 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa model TGT dengan cerdas cermat berkelompok dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi bangun Hal ini juga didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Yandari & Nailah . yang menyatakan bahwa penerapan model TGT dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika. SIMPULAN Tindakan TGT dengan cerdas cermat berkelompok yang diberikan kepada siswa SMPN 4 Klaten mampu meningkatkan karakter dan kemampuan pemecahan masalah pada setiap Sebelum menerapkan model TGT dengan cerdas cermat berkelompok, karakter JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2023. PP 20-26 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 dan kemampuan pemecahan masalah siswa masih tergolong cukup rendah. Hasil ini terlihat dari pretest kemampuan awal pemecahan matematika menunjukkan bahwa hanya 3% siswa mencapai ketuntasan dalam memecahkan permasalahan matematika pada materi bangun Setelah diberikan tindakan, karakter dan kemampuan pemecahan masalah meningkat. Karakter siswa pada tindakan 1 yaitu 59% siswa memiliki karakter dengan kategori kurang. Pada tindakan 2, karakter siswa meningkat menjadi 74% siswa memiliki karakter dengan kategori Begitu pula, kemampuan pemecahan masalah pada tindakan 1, sebanyak 66% siswa mengalami ketuntasan. Pada tindakan 2, kemampuan pemecahan masalah meningkat menjadi 84% siswa mengalami ketuntasan. Hasil ini menunjukkan bahwa model TGT meningkatkan karakter dan kemampuan pemecahan masalah siswa pada topik bangun Berdasarkan hasil tindakan yang telah dilakukan, untuk memaksimalkan efektivitas penerapan model TGT dengan cerdas cermat berkelompok, peneliti ini memberikan saran saran, yaitu . dapat mengembangkan model TGT dalam pembelajaran agar siswa dapat berkembang lagi dalam belajar . bagi siswa, mampu menerapkan karakter yang telah dimiliki dalam kehidupan sehai-hari . bagi peneliti selanjutnya, dapat mengembangkan dan meneliti lebih lanjut serta dapat digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan penelitian DAFTAR PUSTAKA