PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Volume 1 November 2023 . PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN BUDAYA LITERASI DI SMAN 6 KUPANG Iin Padu Lemba lembaiinpadu@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah: . Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan budaya Literasi di SMAN 6 Kupang, . faktor pendukung dan faktor penghambat dari Peran Kepala Sekolah dalam meningkatkan budaya Literasi di SMAN 6 Kupang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah meteode metode penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari kepala sekolah, kepala perpustakaan, guru dan siswa SMAN 6 Kupang. Sedangkan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat di uraikan sebagai berikut, pertama peran kepala sekolah dalam meningkatkan budaya literasi yaitu, adanya upaya yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan budaya literasi di SMAN 6 Kupang adalah memperkenalkan kebiasaan membaca 15 menit sebelum memulai pembelajaran di kelas dan membuat lingkungan belajar yang kondusif dan aman bagi peserta didik, dengan adanya kebiasaan membaca 15 dapat menyukseskan gerakan literasi sekolah yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SMAN 6 Kupang, kedua peran kepala sekolah dalam meningkatkan minat membaca peserta didik kepala sekolah memberikan penghargaan kepada peserta didik yang rajin membaca sehingga memotivasi siswa untuk budaya literasi, ketiga peran kepala sekolah juga memberikan motivasi atau mendorong guru untuk mengikuti program-program literasi sekolah sehinga guru dapat meningkatkan budaya literasi siswa dengan meminta siswa untuk rajin membaca buku, serta mendukung gerakan literasi sekolah dengan kunjungan perpustakaan secara rutin. Kata Kunci: Peran Kepala Sekolah. Gerekan literasi ABSTRACT The aims of this study were: . the role of the principal in enhancing the literal culture at SMAN 6 Kupang, and . The supporting factors and inhibiting factors of the principalAos role in enhancing the literal culture at SMAN 6 Kupang. The research method used in this study was a qualitative research The subjects of this study consisted of school principals, librarians, teachers and students of SMAN 6 Kupang. Data collection techniques included observation, interviews and documentation, and data analysis techniques through data reduction, data presentation and drawing conclusions. The research results can be described as follows. First, the role of the principal in improving literacy culture is made by the principal to improve literal culture at SMAN 6 Kupang and to introduce the habit of reading 15 minutes before starting learning in class and creating a conducive learning environment and safe for students, in order to succeed in the school literacy movement which can improve student learning outcomes at SMAN 6 Kupang. Second, the role of the principal in increasing interest in reading the principal gives awards to students who are diligent in reading so as to motivate students for a culture of literacy. Third, the role of the head schools also provide motivation or encourage teachers to take part in school literacy programs so that teachers can improve students' literacy culture by asking students to read books diligently, as well as support the school literacy movement with regular library Keywords: The Role of the School Principal. School Literacy Movement. PENDAHULUAN Pendidikan suatu proses berkembangnya seseorang dalam bentuk pola pikir, sikap, karakter, bahasa, dan juga bagaimana kontribusinya dalam kehidupan bermasyarakat tentu ditentukan oleh pendidikan. Jadi pendidikan merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara sistematisdan sadar untuk mengembangkan potensi individu, maka dengan pendidikan dapat E-ISSN: 3026-6416 Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. mempersiapkan diri setiap individu dalam kemampuan untuk berperan dalam suatu lingkungan masyarakat. Pratomo,et al, 2021. (Adur, 2022. Dupyry et al. , 2018. Rika & Nurdin, 2. Kondisi awal yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk meningkatkan budaya literasi di Sman 6 Kupang yaitu memperkenalkan kebiasaan membaca 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran di mulai tetapi tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah belum terlaksanakan dengan optimal karena masih banyak siswa yang masih kurang berliterasi, oleh karena itu perlu di integrasikan literasi karena budaya literasi sangat berperan penting dalam peningkatan pendidikan karakter pada setiap manusia. Karakter merupakan iri khas yang dimiliki oleh tiaptiap orang yang menyangkut hal kebribadian, sikap, dan tingkah laku terhadap lingkungan Kepala sekolah memiliki peran yang sangat besar terhadap kemajuan budaya literasi melalui perpustakaan sekolah untuk mewujudkan siswa yang gemar membaca. Tetapi pada kenyataanya banyak kepala sekolah yang melupakan pentingnya keberadaan sebuah Hal ini didukung oleh pendapat mulyadi, dkk 2014. Yang menyatakan bahwah fungsi perpustakaan sekolah bergantung pada komitmen warga sekolah mulai dari guru, siswa dan dukungan dari kepala seolah bagaimana menyikapinya. Selama ini kepala sekolah cenderung lebih fokus pada membangun fasilitas sekolah seperti lapangan, membuat sekolah lebih luas atau membeli pendingin runagan, sehingga pengadaan dan pemeliharaan perpustakaan dikesampingkan selanjutnya menurut wahjosumidjo, 2011. Berpendapat bahwa kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah, maju mundurya suatu sekolah terletak pada kepemimpinan kepala sekolah karena kepala sekolah merupakan kunci dari keberhasilan suatu sekolah. Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas Budaya literasi siswa, sekolah melakukan pengembangan literasi. Dalam hal ini kepala sekolah harus berperan aktif agar upaya pengembangan Budaya literasi agar dapat berjalan dengan baik dan kualitas literasi siswa semakin meningkat. Menurut Andang, 2020. Peran merupakan segala rancangan yang disusun oleh organisasi secara komprehensif dan disatukan untuk mencapai tujuan organisasi. Maka, dengan adanya peran kepala sekolah rancangan untuk meningkatkan literasi melalui organisasi yang dilakukan atau yang dilaksanakan oleh sekolah dapat berjalan dengan efisien. Upaya yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan budaya literasi di SMAN 6 Kupang yaitu memperkenalkan kebiasaan membaca 15 menit sebelum memulai pembelajaran di kelas dan membuat lingkungan belajar yang kondusif dan aman bagi peserta didik. PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Mengingat demikian pentingnya peran literasi dalam kehidupan sehari-hari, maka Budaya litarasi diperlukan untuk mengembangkan kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, dan mencerna informasi selain itu, adapun yang menjadi faktor pendukung dan factor penghambat budaya literasi yaitu yang menjadi factor pendukung budaya literasi adanya gerakan literasi sekolah yang dapat meningkatkan budaya membaca pada siswa. Selanjutnya yang menjadi faktor penghambat budaya literasi di kalangan SMAN 6 Kupang ketika peserta didik tidak melaksanakan literasi mereka di tegur atau diberi sanksi oleh kepala dan guru untuk melaksanakan literasi selanjutnya kepala sekolah memberi penghargaan atau hadiah yang rajin berliterasi atau yang rajin berkunjung ke perpustakaan sehingga dapat memotivasi peserta didik sehingga meningkatkan budaya literasi dan dapat di contohi temanya yang tadi malas membaca menjadi rajin maka peneliti memberikan saran untuk memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan kualitas program gerakan literasi sekolah sehingga dapat meningkatkan budaya literasi di SMAN 6 Kupang. Selain itu Kepala Sekolah sebagai salah satu kunci untuk keberhasilan suatu penyelenggaraan budaya literasi di sekolah. Menurut Kral 2012 peran dan sikap kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhi apa yang akan di capai di sekolah, yang biasanya terjadi saat akan melakukan suatu perubahan budaya sekolah. Dalam upaya melakukan perubahan tersebut, seorang pemimpin akan membutuhkan anggotanya untuk terlibat dalam pencapaian tujuan yaitu guru dan staf serta turut terlibat orang tua/wali siswa sehingga dari adanya rasa membutuhkan tersebut diperluhkan suatu kerja sama antara kepala sekolah dengan anggotanya dan pihak eksternal untuk berproses dan melaksanakan rencana atau kebijakan sekolah secara konsisten sehingga tujuan sekolah menengah dapat tercapai dengan kualitas yang semakin baik. Penelitian ini dilakukan berdasarkan beberapa penelitian terdahulu yang membahas tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan literasi yaitu penelitian yang dilakukan oleh Erly Falentin . dengan judul peran kepemimpinan kepala sekolah dalam mengembangkan budaya literasi di sekolah menengah atas. Menunjukan bahwa upaya pengembangan budaya literasi sekolah melalui program-program sekolah memerlukan adanya peran kepemimpinan Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh. Ainur Rifki . , dengan judul strategi kepala sekolah dalam mengembangkan budaya literasi di sekolah. Menunjukan bahwa terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan oleh kepala sekolah dalam mengembangkan budaya literasi sekolah yaitu strategi penguatan tata kelola, strategi kerja sama, strategi pembelajaran, strategi pemberdayaan sumber daya manusia, strategi pen program dan strategi saran prasarana. PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Berdasarkan permasalah tersebut, pentingnya penelitian ini dilakukan karena peran literasi sangat penting dalam pengembangan kemampuan belajar peserta didik dan literasi juga suatu pengembangan dalam kemampuan berkomunikasi, membaca, berbicara, menyimak maupun menulis maka dari itu peneliti tertarik ingin mengetahui lebih mendalam tentang peran kepala sekolah dalam meningkatkan literasi pada siswa. (Maswi et al. , 2022. Syahrul, 2018. Syahrul. Zahrawati, et al. , 2023. Syahrul. Yusuf, et al. , 2023. Zahrawati et al. , 2. METODE Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono, 2018. Penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dimana peneliti sebagai instrumen atau kunci. Dalam metode penelitian kualitatif ini peneliti ini mendeskripsikan semua hasil peneliti secara rinci yang didasarkan pada pengamatan selama penelitia, semua catatan-catatan serta dokumentasi selama proses penelitian. Peneliti memilih metode penelitian ini untuk mendeskripsikan bagaimana peran kepala sekolah dalam meningkatkan budaya literasi di SMAN 6 Kupang dan dampak literasi budaya Tempat Dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian Sesuai dengan judul penelitian ini, maka lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMAN 6 Waktu penelitian Waktu pelakanaan penelitian ini dilakukan pada jangka waktu selama 3 bulan. Februari-April 2023. Subjek Penelitian Menurut, sugiyono, 2013. Subjek penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variabel tertentu yang ditetapkan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, kepala perpustakaan, guru, dan siswa yang melaksanakan budaya literasi di SMAN 6 Kupang. Teknik Pengumpulan Data Menurut, sugiyono, 2005. Teknik pengumpulan data adalah langkah strategis dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian yaitu untuk mendapatkan data. Data yang PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. dikumpulkan dalam penelitian ini akan digunakan sebagai dasar dalam pembambilan kesimpulan atau keputusan. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang di gunakan Observasi/Pengamatan Menurut, sugiyono, 2018. observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. Observasi juga tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain. Melalui kegiatan observasi peneliti dapat belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut. Menurut, yusuf, 2014. Kunci keberhasilan dari observasi sebagai teknik dalam pengumpulan data sangat banyak ditentukan oleh peneliti itu sendiri, karena peneliti melihat dan mendengarkan suatu objek penelitian dan kemudian peneliti menyimpulkan dari apa yang diamati. Peneliti yang memberi makna tentang apa yang diamatinya dalam realitas dan dalam konteks yang alami, ialah yang bertanya dan juga melihat begaimana hubungan antara satu aspek dengan aspek yang pada objek yang Wawancara Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Menurut sutrisno, 2000. wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berdasarkan kepada tujuan penyelidikan. Untuk memudahkan peneliti, maka disiapkan lembar wawancara agar kegiatan wawancara terstruktur. Dokumentasi Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya dari seseorang. Menurut, sugiyono, 2018. dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian. Studi dokumen merupakan perlengkapan dari penggunaan metode observasi atau wawancara akan lebih dapat dipercaya atau mempunyai kreadibilitas yang tinggi jika didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik yang sudah ada. Teknik Analisi Data Menurut sugiyono 2018. analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan tahap-tahap Reduksi Data,Display Data. Dan Penarikan Kesimpulan/Verivikasi. Sugiyono 2018. Reduksi Data Menurut, sugiyono2018. Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok memfokuskan pada hal-hal yang penting yang sesuai dengan topik penelitian, mencari tema dan polanya, pada akhirnya memberikan gambaran yang lebih jels dn mempermudah untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Dalam mereduksi data dipandu oleh tujuan yang akan dicapai dan telah ditentukan sebelumnya. reduksi data juga merupakan suatu proses berpikir kritis yang memerlukan kecerdasan dan kedalaman wawancara yang tinggi. Penyajian Data Setelah mereduksi data, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk table, grafik, flowchart, pictogram dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, dan tersusun sehingga akan semakin mudah dipahami, sugiyono, 2018. Penarikan Kesimpulan Langkah terakhir dalam menganalisis penelitian kualitatif adalah penarikan kesimpulan. Menurut sugiyono, 2018. kesimpulan dalam penelitian kualitatif dapat menjawab rumusan masalah sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan perumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada dilapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapata berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih belum jelas sehingga setelah diteliti menjadi HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Budaya Literasi Kepala sekolah yang berhasil adalah mereka yang memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang komplek dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai pemimpin yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Berbicara tentang peran kepala sekolah pada masing-masing lembaga pendidikan yang berbeda. Kepala PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. sekolah harus memiliki kemampuan untuk memotivasi seluruh sumber daya manusia yang ada di sekolah dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Berikut merupakan hasil temuan penelitian berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, kepala perpustakaan, guru dan siswa di SMAN 6 Kupang yaitu: Peran Kepala Sekolah Sebagai Manajer Kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu kepala sekolah mampu menyusun perencanaan yang berkaitan dengan meningkatkan mutu pendidikan dalam pengolahan manajemen sekolah, berhasil tidaknya tujuan sekolah dapat dipengaruhi bagaimana kepala sekolah menjalankan fungsi-fungsi manajemen. Sebagai manager salah satu peran kepala sekolah yaitu merencanakan program mutu pendidikan, membuat perencanaan sekolah, serta menjadi pemimpin di sekolah. Hasil wawancara dengan Hendrikus Hati sebagai kepala sekolah SMAN 6 Kupang menyatakan bahwa: Sebagai kepala sekolah tentunya saya memiliki peran sebagai manager, yaitu sebagai Dalam merencanakan program gerakan literasi yang ada di SMAN 6 Kupang saya sebagai kepala sekolah sudah menyusun program-program dan perencanaanperencanaan kerja yang akan kami lakukan. Dari perencanaan inilah kemudian bagaimana rencana tersebut dapat berjalan seefektif dan seefisien mungkin. Hasil wawancara di atas didukung oleh hasil observasi yang peneliti dapatkan di SMAN 6 Kupang Peran Kepala sekolah adalah pimpinan pendidikan yang mempunyai peranan penting dalam mengembangkan lembaga pendidikan, yaitu sebagai pemegang kendali di lembaga Dalam hal ini peran kepala sekolah harus digerakan sedemikian rupa sesuai dengan perannya dalam meningkatkan budaya literasi yaitu sebagai manajer sehingga dapat mempengaruhi kalangan staf guru, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Di samping itu, kepala sekolah juga mempunyai peranan yang sangat besar dalam meningkatkan budaya Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, keberhasilan suatu lembaga pendidikan sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah. Karena kepala sekolah sebagai pemimpin di lembaganya, maka dia harus mampu membawa lembaganya ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan, dia harus mampu melihat adanya perubahan serta melihat masa depan dalam kehidupan globalisasi yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Sagala Syaiful, 2006. Menyatakan bahwa kepala sekolah adalah orang yang diberi tugas dan tanggung jawab mengelola sekolah, menghimpun, memanfaatkan, dan mengerakan seluruh potensi sekolah seara optimal untuk mencapai tujuan PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. termasuk mengembangkan budaya literasi. Selanjutnya Hasibuan, 2006. menyatakan bahwa manajer adalah sumber aktivitas dan mereka harus merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengendalikan semua kegiatan, agar tujuan tercapai. Selanjutnya Yogi dkk. Menyatakan kepala sekolah sebagai manajer sekolah mengatur dan mengelola segenap potensi atau sumber daya sekolah melalui tahapan merencanakan, mengorganisasikan, mengerakkan dan mengawasi potensi-potensi yang ada guna mendukung tercapainya tujuan pendidikan disekolah. Dari pendapat para ahli diatas yang dapat mendukung terkait peran kepala sekolah sebagai manajer di SMAN 6 kupang dapat disimpulkan bahwah kepala sekolah harus mampu menghimpun dan mengkoordinasikan sumber daya manusia dan sumber-sumber material sekolah sebab keberhasilan sekolah sangat bergantung pada kecakapan kepala sekolah dalam mengatur dan mendayagunkan berbagi sumber dalam mencapai tujuan. Peran Kepala Sekolah Sebagai Administrator Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu untuk melaksankan tugasnya dengan baik, kepala sekolah hendaknya memahami menguasai dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkenan dengan tugasnya sebagai administrator. Sebagai seseorang administrator kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan mengembangkan semua fasilitas sekolah. Hasil wawancara dengan Kepala sekolah Hendrikus Hati, menyatakan bahwa: Sebagai seorang kepala sekolah dapat menyediakan sarana prasarana yang dapat mendukung program budaya literasi. Seperti membuat pojok literasi atau pohon literasi di setiap kelas sehingga program gerakan literasi berjalan dengan baik. Dan juga setiap guru bertanggung jawab di masing-masing bidangnya sehingga dapat melaksanakan budaya literasi sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Hasil wawancara diatas di dukung oleh hasil observasi yang peneliti dapatkan di SMAN 6 Kupang Perencanaan layanan administrasi kepala sekolah sebagai administrator, yang sejatinya ada guru terkualifikasi yang diberi tanggung jawab untuk menjalankan tugas sekolah, merupakan pengendali dan penetu arah yang hendak ditempuh oleh sekolah yang dipimpinnya menuju tujuannya. Selaku pengendalian dan penetu arah sekolah maka sendirinya dituntut dari sekolah sebagai administrator untuk membuat suatu perencanaan yang baik dari seluruh proses proses layanan administrator di sekolah yang dipimpinya. Perencanaan yang dimaksudkan PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. adalah suatu aktivitas untuk menetapkan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada saat melaksanakan layanan administrator, supaya di dalam melakasanakan layanan administrasi kepala sekolah sebagai administrator beran-benar siap dan terarahkan, sehingga tingkat efektifitas tertinggi dari seluruh proses layanan administrasi yang diharapkan dapat terwujud. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, peran kepala sekolah sebagai administrator dalam meningkatkan efektifitas layanan administrasi budaya literasi di SMAN 6 Kupang telah menyusun perencanaan layanan admnistrasi dan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan perencanaan administrasi dilakukan melalui rapat dewan guru yang diadakan sepanjang tahun pelajaran baik pada akhir kegiatan maupun pada saat kegiatan layanan Hal ini sesuai dengan penelitian Purwanto, 2012. Kepala sekola sebagai administrator pendidikan bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan dan pengajaran disekolahnya. Oleh karena itu untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, kepala sekolah hendaknya memahami, menguasai, dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkenan dengan perannya sebagai administrator pendidikan. Selanjutnya Mulyasa, 2005. Menyatakan Kepala Sekolah sebagai administrator memiliki hubungan sangat erat dengan berbagai aktifitas pengelolaan administrasi yang bersifat penatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program sekolah secara spesifik. Selanjutnya suhardan dkk, 2012. Mutu pendidikan merupakan fungsi dari mutu besar kelas, kualifikasi guru, gedung, rungan, perlengkapan, buku, perpustakaan dan labotarium. Diantara faktor-faktor tersebut kepala sekolah sebagai administrator memegang peranan sangat penting. Dari pendapat para ahli diatas yang dapat mendukung terkait peran kepala sekolah sebagai administrator di SMAN 6 kupang dapat menyimpulkan bahwah peran kepala sekolah mengkoordinasikan, dan mendorong keberhasilan pekerjaan bagi semua orang staf dengan cara mengidentifikasi tujuan mengevaluasi kinerja, dan mengelola sumber organisasi. Dengan demikian, peran kepala sekolah sebagai administrator sekolah yaitu melakukan perubahan kearah yang lebih berkualitas dan kompetensi terhadap sekolah yang dipimpinnya. Peran Kepala Sekolah Sebagai Leader Kepala sekolah sebagai leader merupakan salah satu kunci keberhasilanya dalam meningkatkan mutu sekolah. Kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan pengerak kehidupan sekolah. Cara-cara ini sering dilakukan oleh seorang pemimpin PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. dalam mendorong motivasi rekan kerja agar mereka berbuat baik dan bertindak kerah tujuan yang diharapakn. Hal ini yang diungkapkan oleh Kepala Sekolah Hendrikus Hati, sebagai kepala sekolah SMAN 6 Kupang Aububungan kerja kepala sekolah dengan staf dan guru-guru sudah terjalin dengan baik dapat dilihat dengan saling memberi motivasi dan mendorong guru-guru untuk mengikuti program-program yang berkaitan dengan literasi sekolah sehingga gerakan literasi sekolah dapat meningkatkan budaya membaca siswa di SMAN 6 kupangAy. Hasil wawancara diatas di dukung oleh hasil observasi yang peneliti dapatkan di SMAN 6 Kupang peran Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan tingkat satuan pendidikan yang harus memiliki dasar kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan pendidikan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif. Dalam hal ini, perilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Perilaku kepala sekolah yang positif dapat mendorong dan mengarahkan seluruh warga sekolah untuk bekerja sama dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan sekolah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa. Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memimpin sekolah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah secara optimal. Dalam upaya menggerakkan potensi tersebut, kepala sekolah dituntut untuk menerapkan prinsip-prinsip dan metode-metode kepemimpinan yang sesuai dengan mengedepankan keteladanan, memotivasi, dan pemberdayaan guru serta staf. Hal ini sesuai dengan penelitian Hanafiah, 2018. menyatakan Sebagai seorang leader kepala sekolah harus mampu dalam memimpin, melaksanakan, mampun merencanakan, mengawasi hubungan antara anggotaanggota, memberikan sanksi terhadap para pelanggaran, menindik dan bertanggung jawab apa yang dipimpinnya. Selanjutnya Purwanto, 2002. Dengan demikian, adanya keterampilan dan kecakapan yang dimiliki, maka akan dapat meningkatkan kualitas kepemimpinan kepala sekola menjadi lebih baik, berkompoten dan berdampak positif terhadap pelaksanaan proses pendidikan yang ada disekolah. Selanjutnya mulyasa, 2008. Kepala sekolah leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas. Gaya mendelegasikan dapat digunakan oleh kepala sekolah, jika tenaga kependidikan telah memiliki PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. kemampuan yang tinggi dalam menghadapi suatu persoalan, demikian pula kemampuan untuk meningkatkan profesionalismenya. Dari pendapat para ahli diatas yang dapat mendukung terkait peran kepala sekolah sebagai leader di SMAN 6 kupang dapat menyimpulkan bahwah Kepala sekolah memiliki kedudukan tertinggi yaitu sebagai leader . dimana membawah dan mengayomi semua sumber daya manusia di sekolah. Dalam peran ini kepala sekolah adalah penanggung jawab terhadap pelaksanaan keseluruhan proses pendidikan disekolah yang dilakukan oleh seluruh unsur warga sekolah. Dan kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan. Kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan komunikasi dua arah. Pembahasan Setelah penelitian mengumpulkan data dari hasil penelitian yang di peroleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi maka selanjutnya peneliti akan melakukan analisis data untuk menjelaskan lebih lanjut dari hasil penelitian. Sesuai dengan teknik analisis data yang dipilih oleh peneliti yaitu dengan mengunakan jenis penelitian kualitatif dengan menganalisa data yang telah dikumpulkan selama peneliti melakukan penelitian di SMAN 6 Kupang. Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara maka peneliti memperoleh informasi sebagai berikut: Menurut Sadli, 2019. Budaya literasi merupakan sesuatu kebiasaan yang dilakukan warga masyarakat yang meliputi seluruh usaha individu yang meliputi adanya aktivitas membaca serta menulis. Komponen yang utama dalam penyusunan budaya literasi yakni aktivitas membaca, menulis serta berpikir kritis. Tujuan budaya literasi yakni menghasilkan tradisi berpikir yang diiringi oleh proses membaca serta menulis sehingga bisa menghasilkan karya tulis ilmiah yang berdaya guna. Selain itu ada beberapa peran kepala sekolah juga untuk meningkatkan budaya literasi yang pertama kepala sekolah sebagai manajeman yaitu kepala sekolah yang mempunyai fungsi untuk menyusun perencanaan, mengkoordinasikan kegiatan, melakukan pengawasan, melakukan evaluasi terhadap kegiatan, mengambil keputusan, mengatur tata usaha,siswa dan sarana dan prasarana keuangan. Teori sunarto, 2011. Menjelaskan bahwa peran kepala sekolah sebagai manajer dituntut memiliki kesiapan untuk mengelola sekolah, kemampuan dan PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. kemauan munul manakala para pemimpin sekolah dapat membuka diri secara luas untuk menyerap sumber-sumber yang dapat mendorong perubahan manajerial. Dalam era desentralisasi dan otonomi, kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer yang efektif. Seorang manajer atau seorang kepala sekolah pada hakikatnya adalah seorang perencana, organisator, dan seorang pengendali. Keberadaan manajer pada suatu organisasi sangat diperlukan, karena organisasi sebagai alat mencapai tujuan organisasi dimana di dalamnya berkembang berbagai macam pengetahuan, serta organisasi menjadi tempat membina dan mengembangkan karir-karir sumber daya manusia. Oleh sebab itu, diperlukan kepala sekolah yang mampu merencanakan, mengorganisasikan, dan mengendalikan agar organisasi dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kedua kepala sekolah sebagai administrator yaitu kepala sekolah yang bertangung jawab atas kelancaran segala pekerjaan dan kegiatan adminsitrasi di sekolahnya. Artinya Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, administrasi personalia, administrasi sarana dan prasarana, administrasi kearsipan dan administrasi keuangan. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah. sama seperti yang di ungkapankan oleh Purwanto, 2004. Kepala sekolah sebagai administrator adalah membuat perencanan, menyusun organisasi seklah, coordinator dan pengarah untuk melaksanakan pengelolaan kepegawaian. Salah satu fungsi utama yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah adalah membuat atau menyusun perenanaan. Ketiga kepala sekolah sebagai leader merupakan salah satu factor yang dapat mendorong sekolah dapat mewujudkan visi,misi,tujuan dan sarana sekolah melauli program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai kewenangan dalam pembuat keputusan sekolah. Maka, kepala sekolah harus mampu bekerjasama dengan stafnya . untuk membuat keputusan yang inovatif dalam kerangka mencapai tujuan yang efektif dan efisien dan akuntabel. Peranan pokok kepala terdapat dalam keanggupannya untuk mempengaruhi lingkungan melalui kepemimpinan yang dinamis. Seorangpemimpin dalam melaksanakan fungsi kepemimpinanya, seperti persuasive, mempengaruhi atau dengan kekerasan atau dengan menggunakan kewenangan yang Cara-cara ini sering dilakukan oleh seorang pemimpin dalam mendorong motivasi PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. bawahanya agar mereka berbuat atau bertindak kearah tujuan yang diharapkan. Cara-cara demikian sering digunakan kepala sekolah didalam melaksanakan kepemimpinanya dalam rangka melaksanakan kurikulum disekolahnya Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi orang lain atrau kelompok agar mereka berbuat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Selain itu juga ada factor pendukung dan factor penghambat budaya literasi. Berdasarkan hasil observasi faktor pendukung budaya literasi adalah, kesadaran warga sekolah akan pentingnya budaya literasi dan peran sekolah dalam pelaksanaan budaya literasi dengan menyediakan sarana prasarana untuk mendukung budaya literasi dalam meningkatkan minat membaca siswa seperti perpustakaan, buku-buku pelajaran/non pelajaran, pojok-pojok bacaan setiap kelas, media karya . dan kegiatan pembelajaran seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran. Tidak hanya itu peran orang tua dalam mengontrol siswa, meyediakan fasilitas belajar siswa dirumah seperti buku dan memotivasi dalam belajar terutama dalam kegiatan membaca. Adanya e-library yaitu perpustakaan berbasis online untuk membantu siswa mendapatkan buku dimana saja, dapat dibawa kemana saja, dan dapat diakses kapan saja secara Sedangkan factor penghambat budaya literasi itu terjadinya faktor penghambat karena Sikap orang tua anak yang tidak peduli dengan pentingnya membaca menjadi penghambat lain Gerakan Literasi Sekolah. Solusinya adalah dengan mengikutsertakan orang tua siswa tersebut sebagai donatur buku. Pilihan lain adalah untuk mendorong siswa yang berkinerja buruk pada penilaian harian untuk membawa satu buku dari rumah pada akhir semester untuk berkontribusi pada sekolah untuk digunakan dalam mempromosikan literasi di kalangan pembaca muda. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan sebagai berikut, peran kepala sekolah dalam meningkatkan budaya literasi yaitu, adanya upaya yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan budaya literasi di SMAN 6 Kupang adalah memperkenalkan kebiasaan membaca 15 menit sebelum memulai pembelajaran di kelas dan membuat lingkungan belajar yang kondusif dan aman bagi peserta didik, dengan adanya kebiasaan membaca 15 dapat menyukseskan gerakan literasi sekolah yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SMAN 6 Kupang, adapun yang menjadi faktor pendukung dan factor penghambat budaya literasi yaitu yang menjadi factor pendukung budaya literasi adanya gerakan literasi sekolah yang dapat PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. meningkatkan budaya membaca pada siswa. Selanjutnya yang menjadi faktor penghambat budaya literasi di kalangan SMAN 6 Kupang ketika peserta didik tidak melaksanakan literasi mereka di tegur atau diberi sanksi oleh kepala sekolah dan guru untuk melaksanakan literasi. DAFTAR PUSTAKA