Identitas Mamanda Banjarmasin dalam Sejarah Teater Tradisional di Kalimantan Selatan . 0 Ae 2. Aminuddin1. Een Herdiani2. Retno Dwimarwati3 Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 aminuddinjxi@gmail. com, 2eenherdiani@yahoo. com, 3rdwimarwati@gmail. ABSTRACT Mamanda Theatre is a traditional South Kalimantan theatre which has existed since 1897. This study aims to explain the history and identity of Banjarmasin version of Mamanda in South Kalimantan from 1970-2021. The historical method was used to collect data which was analyzed using Stuart Hall cultural identity approach. The concept of cultural identity is formulated as a process of being . nternal factor. and as a process of becoming . xternal factor. Internal factors can be seen in the innovations and adaptations combining Mamanda Periuk and Tubau, as well as the creations on the use of modern theatre elements in the performances. The external factor is the demand from the community, especially in Banjarmasin, to package MamandaAos performances in a short duration, and in terms of content highlight humor and up-to-date plays. In its development. Mamanda Theatre in Banjarmasin has been more dominated by the structure of modern theatre performances. These elements of modern theatre enable Mamanda in Banjarmasin, which was previously a traditional theatre, to develop into a popular theatre. Keywords: History. Identity. Mamanda, theatre. ABSTRAK Teater Mamanda merupakan teater tradisional khas Kalimantan Selatan yang sudah ada semenjak tahun 1897. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplanasi sejarah dan identitas Mamanda versi Banjarmasin di Kalimantan Selatan dari tahun 1970-2021. Metode sejarah digunakan untuk mengumpulkan data yang dianalisis menggunakan pendekatan identitas budaya Stuart Hall. Konsep identitas budaya dirumuskan sebagai proses wujud . aktor interna. dan sebagai proses menjadi . aktor eksterna. Faktor internal tampak pada inovasi dan adaptasi yang menggabungkan Mamanda Periuk dan Tubau, serta kreasinya pada penggunaan unsur-unsur teater modern dalam pemanggungannya. Faktor eksternal merupakan permintaan masyarakat terutama di Banjarmasin untuk mengemas pertunjukan Mamanda dengan durasi pendek, serta secara konten menonjolkan humor dan cerita lakon yang kekinian. Dalam perkembangannya Teater Mamanda di Banjarmasin lebih banyak didominasi oleh struktur pertunjukan teater modern. Unsur-unsur teater modern tersebut yang kemudian menjadikan Mamanda di Banjarmasin yang sebelumnya merupakan teater tradisional kemudian berkembang menjadi teater populer. Kata Kunci: Sejarah. Identitas. Teater. Mamanda. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 PENDAHULUAN Latar Belakang tapi dilakukan oleh orang kebanyakan. (Huda, 2014: . Latar istana sentris yang selalu diangkat dalam cerita sebenarnya bukanlah untuk mengeksploitasi keluarga kerajaan atau bangsawan, melainkan untuk mengungkap segala bentuk interaksi antara kelompok masyarakat di satu sisi dan kaum bangsawan di sisi lain. Dalam cerita yang dibawakan Mamanda tidak menutup mata terhadap penyelewengan atau menyalah gunakan jabatan yang telah dilakukan oleh aparat pemerintah seperti penyimpangan sosial, ketidakadilan, penegakkan hukum, nepotisme, dan lain-lain. Cerita-cerita tersebut kadang-kadang dibawakan secara Di samping itu, kesenian Mamanda sangat kritis pula terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik yang dianggap mereka aneh. Kondisi seperti ini sering disindir dalam lakon Mamanda sebagai bentuk penolakan terhadap perilaku angkuh dan semena-mena. Dengan demikian Mamanda mengusung beberapa persoalan dan dilema kehidupan sosial dan merupakan indikasi bahwa teater rakyat ini memang peduli dengan kondisi sosial masyarakat tanpa membedakan ke arah lapisan mana sentilan itu diarahkan. Kritik yang disampaikan tidak pernah berpihak kepada kekuatan sosial maupun selain berpihak pada keadilan, kejujuran, kebenaran, dan kerendahan hati dari mana pun nilai-nilai itu berasal (Jarkasi, 2002: Pada mulanya perkembangan Mamanda ini banyak mengambil tema pada hikayat lama seperti Syair Siti Jubaidah. Abdul Muluk. Hikayat si Miskin, dan Cerita 1001 Malam lainnya, namun kisah-kisah tersebut telah dimodifikasi sesuai dengan zamannya, namun demikian tidak merusak gaya dan basis dari Mamanda itu sendiri. Sehingga dapat pula menampilkan cerita- Teater Tradisional Mamanda merupakan salah satu teater yang sangat digemari oleh masyarakat di Kalimantan Selatan. Mamanda adalah sebuah wujud komunikasi antar manusia, manusia dengan alam dan Konsepsi dan ide-ide cerita yang diangkat dalam pergelaran Mamanda dipandang mampu memberikan arah dalam pencapaian tata perilaku interaksi Orientasi cerita yang bersifat istana sentris menunjukkan bahwa karakter masyarakat Banjar masih memiliki bobot kuat dalam gaya interaksi paternalistik. Seseorang yang mampu menjadi panutan dan memiliki pengaruh di masyarakat, dalam sikap militan yang heroik akan menjadi tokoh idaman masyarakat. Tokoh idaman seperti ini bisa muncul di kalangan bangsawan atau masyarakat biasa. Persepsi demikian sering memanifestasikan dalam aktivitas masyarakat hingga saat ini (Jarkasi, 2002: . Pergelaran Mamanda bercerita tentang istana sentris, dengan tokoh utamanya adalah seorang Raja atau Sultan. Para pembantunya terdiri dari Wajir. Mangkubumi. Perdana Menteri. Panglima Perang atau Kepala Pertanda serta Harapan Pertama dan Harapan Kedua yang merupakan staf Selain itu ada Khadam dan Inang yang merupakan lambang kerakyatan. Sebagai pelengkap cerita ditampilkan pula tokoh antagonis seperti Jin atau Rampok. Meskipun Mamanda ini bercerita tentang istana sentris, namun tidak melulu cerita tentang keadaan dalam istana saja, tapi cerita yang dibawakan sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya pada saat ini ramai dibicarakan tentang korupsi maka Mamanda juga berbicara masalah Korupsi bukan hanya dilakukan oleh orang-orang atau para penjabat saja Aminuddin. Herdiani. Dwi Marwati : Identitas Mamanda Banjarmasin dalam Sejarah Teater Tradisional di Kalimantan Selatan . Hingga saat ini terdapat dua versi dalam bentuk pertunjukan Mamanda dalam perkembangannya di Kalimantan Selatan, yaitu: Mamanda Periuk dan Mamanda Tubau. Pemilihan versi ini dikarenakan Mamanda versi Banjarmasin merupakan hasil adaptasi dari versi Periuk dan versi Tubau yang telah melakukan perubahan dalam kemasan-kemasannya seperti yang dalam kemasan tema, penokohan, tata pentas, dan kemasan pergelarannya untuk menyesuaikan perkembangan zaman, dan selera pasar, yang pada akhirnya membuat Mamanda ini berubah dari yang sebelumnya merupakan kesenian tradisional menjadi kesenian populer dengan tetap mempertahankan tradisinya. cerita modern yang diambil dari kisah novel atau roman baik dari Timur maupun Barat (Huda, 2014: . Mamanda Tubau lebih sering menggelar carang kanda, yaitu narasi yang digarap oleh sutradara, meskipun sebenarnya alur cerita yang dibawakan sudah dikenal oleh masyarakat. Misalnya Bergetarnya Tiang Aras yang merupakan legenda di Hulu Sungai Tengah, pernah digelar oleh grup Pancar Rindang Banawa untuk memeriahkan pesta 17 Agustusan tahun 2001 di Kecamatan Batu Benawa. Desa Pagat. Mamanda Pariuk maupun Tubau mempunyai setting yang sama, yaitu Hal ini mudah dipahami karena daerah tempat kedua bentuk Mamanda itu muncul adalah bekas kerajaan. Kerajaan Tanjung Pura yang berpusat di Kota Tanjung . ama saat in. adalah kerajaan tertua . bad ke-. yang wilayahnya mencakup bagian utara Kalimantan Selatan, kerajaan Negara Dipa . bad ke-. Candi Agung di daerah Amuntai, dan Negara Daha yang berhubungan dengan Majapahit di Jawa. Itu semua merupakan tempat Mamanda Tubau dikenal. Sedangkan, daerah bekas kerajaan Candi Laras adalah wilayah Mamanda Pariuk. Kedua versi Mamanda tersebut mempunyai cara yang berbeda untuk membuka pertunjukan. Teater Mamanda Pariuk menggunakan tokoh Ladon. Ladon digunakan sebagai kata benda, sedangkan kata kerjanya adalah baladon, yakni yang dilakukan oleh tiga orang seniman . isa juga lima Dalam baladon, tokoh-tokohnya berdialog tentang narasi yang akan dibawakan dalam pagelaran. Di Kecamatan Batu Benawa. Desa Pagat (Kabupaten Hulu Sungai Tenga. , pagelaran Mamanda tidak menggunakan Ladon. Sebaliknya, ada seseorang, biasanya pimpinan grup, yang menceritakan kisah yang akan dibawakan dalam pagelaran. Metode Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah, yang tahapannya terdiri atas: Heuristik Heuristik merupakan tahapan proses menemukan dan menghimpun sumber, informasi, jejak masa lampau (Herlina, 2020: . Di antaranya sumber tertulis, sumber lisan, dan Artefak, teknik yang dilalui: . Observasi . adalah salah satu alat penting untuk pengumpulan data dalam penelitian kualitatif. Observasi ini merupakan acuan dalam menentukan fokus penelitian. Mengamati berarti memperhatikan fenomena di lapangan melalui kelima indra peneliti, sering kali dengan instrumen atau perangkat, dan merekamnya dengan tujuan ilmiah (Creswell, 2014: . Observasi ini dilakukan ke sekretariat dari Teater Banjarmasin. Yayasan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Sanggar Lawang Banjarmasin. Yayasan Sanggar Seni Pusaka Saijaan Kota Baru. Taman Budaya Kalimantan Selatan. Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Kalimantan Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 Analisis dilakukan untuk dapat menjawab rumusan masalah berdasarkan teori yang digunakan, dianalisis sudut pandang Dalam penelitian ini teknik analisis yang digunakan adalah berisi uraian objektif mengenai kapan terciptanya Mamanda versi Banjarmasin dan latar belakang dibuatnya versi Banjarmasin. Dalam Metode sejarah. Kritik sumber dibagi menjadi dua macam, yaitu yang pertama Kritik Eksternal adalah cara melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek luar sumber sejarah (Sulasman, 2014: . , pengujian sumber tersebut seperti kertas, tinta, gaya tulisan, kata-kata, dan huruf-hurufnya, yang kedua Kritik Internal menekankan kepada aspek dalam, yaitu isi dari sumber: kesaksian . Kritik Internal dilakukan untuk menilai kredibilitas data dalam sumber dan penilaian terhadap kesaksian dari isi Selatan dan Museum Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengamati penelitian dari berbagai sumber data dokumentasidokumentasi dari hasil pementasan pentaspentas Mamanda, catatan harian, maupun arsip-arsip. Wawancara adalah proses antara pewawancara (Interviewe. dengan yang diwawancarai . melalui komunikasi langsung atau dapat juga dikatakan sebagai proses percakapan tatap muka . ace to fac. antara interviewer dengan interviewe di mana pewawancara bertanya langsung tentang sesuatu aspek yang dinilai dan telah dirancang sebelumnya jenis wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara langsung. Dalam wawancara ini peneliti bertanya langsung pada narasumber yaitu keturunan langsung ataupun murid dan teman sejawat dari Bakhtiar Sanderta, dan beberapa tokoh budaya yang memiliki keterkaitan langsung . aksi sejara. Dokumen dan Bahan Audiovisual merupakan sesuatu yang tertulis, tercetak atau terekam yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan. Dalam penelitian ini pendokumentasiannya dengan menggunakan alat perekam suara Hand phone, dan kamera foto. Dari datadata observasi, wawancara, dokumen dan bahan audiovisual ini digunakan peneliti sebagai acuan untuk mengetahui kapan lahirnya Mamanda versi Banjarmasin. Interpretasi Interpretasi atau penafsiran sering disebut sebagai biang subjektivisme. Interpretasi ada dua macam, yaitu analisis . dan sintesis . (Kuntowijoyo, 2013: 78-. Pada tahap interpretasi dilakukan pengolahan, penyusunan dan penafsiran terhadap faktafakta yang telah teruji kebenarannya. Berbagai fakta yang berbeda antara satu dengan lainnya tersebut kemudian dirangkaikan dan dihubungkan sehingga menjadi satu kesatuan yang selaras, di mana peristiwa yang satu dimasukkan ke dalam keseluruhan konteks peristiwaperistiwa lain yang melingkupinya. Dari data-data yang diperoleh seperti foto, manuskrip, catatan harian dari Mamanda versi Banjarmasin, media cetak dan rekaman video diinterpretasi dengan cara menafsirkan, menetapkan dan keterkaitan antara data-data tersebut. Kritik Sumber Setelah melakukan kegiatan pengumpulan sumber, tahap selanjutnya adalah kritik sumber. Kritik sumber dimaksudkan untuk menyeleksi, menilai, atau menguji semua sumber yang telah berhasil dikumpulkan, baik segi otentisitas . esejatian, ketulenan, keaslia. maupun kredibilitas . ebenaran, keabsahan, kesahiha. sumber (Kuntowijoyo, 2005: . Tahapan kritik untuk memilih sumbersumber asli dari data yang diperoleh dari kegiatan penelitian kemudian dianalisis. Aminuddin. Herdiani. Dwi Marwati : Identitas Mamanda Banjarmasin dalam Sejarah Teater Tradisional di Kalimantan Selatan . tampak berbeda. Hal ini dapat berarti juga, selain dari kesamaan sejarah dan kodekode budaya yang menyatukan mereka, sudut pandang ini melihat bahwa ciri fisik atau lahiriah mengidentifikasikan mereka sebagai suatu kelompok. Apabila ditinjau dari definisi yang diuraikan oleh Stuart Hall, maka identitas budaya memiliki dua faktor yang menentukan dan saling berpengaruh dalam pembentukan dari identitas budaya itu sendiri, yaitu faktor internal merupakan suatu hal yang muncul di kalangan pelaku seni untuk melakukan kegiatan berkesenian dari pengalaman pribadi ataupun pengamatan dilingkungan sekitar, sehingga menghasilkan karya dari hasil proses kreasi dan inovasi yang dilakukan oleh para seniman Mamanda. Dan faktor eksternal merupakan suatu hal yang muncul dari luar pelaku seni itu tinggal, misalnya masyarakat dan jaringan luar sebagai pembeli . , dianalisis berdasarkan bagaimana permintaan pasar dan perkembangan zamannya, hal tersebut yang mempengaruhi terhadap perubahanperubahan pada bentuk pertunjukan Mamanda yang dihasilkan. Historiografi Historiografi . enulisan sejara. akan dikemukakan dari setiap periode para penulis sejarah dan sebab-sebab penulisan sejarah mengalami perubahan (Kuntowijoyo, 2013: . Melalui proses menguji dan menganalisis data yang diperoleh dari peninggalan masa lampau seperti foto, manuskrip, arsip-arsip dari Mamanda versi Banjarmasin, media cetak dan rekaman video diseleksi dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan terciptanya Mamanda versi Banjarmasin, perkembangan Mamanda versi Banjarmasin, bentuk dan struktur pertunjukan, dan identitas Mamanda Banjarmasin pada sejarah Mamanda yang menjadi versi ke tiga dari Mamanda. Landasan Teori Kemudian untuk menemukan identitas Mamanda Banjarmasin, maka digunakanlah teori identitas budaya. Stuart Hall dalam karyanya Cultural Identity and Diaspora . 0: . menjelaskan bahwa identitas budaya . tau juga disebut sebagai identitas etni. sedikitnya dapat dilihat dari dua cara pandang, yaitu identitas budaya sebagai sebuah wujud . dentity as bein. dan identitas budaya sebagai proses menjadi . dentity as becomin. Dalam cara pandang pertama diuraikan bahwa, identitas budaya dilihat sebagai suatu kesatuan yang dimiliki bersama, atau yang merupakan Aubentuk dasar/ asliAy seseorang dan berada dalam diri banyak orang yang memiliki kesamaan sejarah dan leluhur. Sedangkan dalam cara pandang ke dua, identitas budaya sebagai proses menjadi artinya semakin berdialog dengan waktu, kebutuhan, eksploitasi ataupun adanya suatu pengulangan dalam berkarya. Identitas budaya adalah cerminan kesamaan sejarah dan kode-kode budaya yang membentuk sekelompok orang menjadi satu walaupun dari luar mereka HASIL DAN PEMBAHASAN Periode perkembangan Mamanda di Banjarmasin dibagi menjadi tiga periode, periode pertama adalah periode perintis dari tahun 1970 sampai dengan tahun 1999, pemilihan kurun waktu ini berdasarkan dari mulainya Bakhtiar Sanderta bersama Teater Banjarmasin saat mengikuti Festival Teater Tradisional yang mana hal ini menjadi titik mula perubahan versi dalam sejarah Mamanda. Periode kedua adalah periode perkembangan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2019, pemilihan kurun waktu ini berdasarkan dari mulanya perkembangan dan persebaran Mamanda versi Banjarmasin di luar Kota Banjarmasin. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 terpelajar yang bekerja di instansi-instansi di Banjarmasin, yang kemudian menjadi perbedaan dalam cara mengembangkan Mamanda dibandingkan daerah lain di Kalimantan Selatan. Mamanda di periode ini mulai perlahan mengalami perkembangan dan perubahan, namun belum begitu tampak berbeda jika dibandingkan dengan Mamanda Periuk. Jejak di periode ini merupakan kiat untuk membangun landasan dalam perkembangan Mamanda. ditandai dengan berdirinya Yayasan Sanggar Seni Pusaka Saijaan di Kota Baru oleh Rudi Nugraha dan kawan-kawan, yang mana Rudi Nugraha ini merupakan anak ke empat dari Bakhtiar Sanderta. Periode ketiga adalah periode Mamanda virtual dari tahun 2020 sampai dengan tahun 2021, pemilihan kurun waktu ini berdasarkan dari Mamanda yang disajikan secara virtual yang dilatar belakangi oleh pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan Mamanda dipentaskan dengan menghadirkan penonton seperti Periode Perkembangan 2000 - 2020 Periode pengembangan dalam kurun waktu 20 tahun dari 2000 sampai dengan tahun 2020, mengalami perkembangan yang baik. Dengan semakin banyaknya acara-acara hari besar, festival, pelatihan dan pergelaran dari berbagai instansi di Kalimantan Selatan membuat teater Mamanda mengalami perubahan menjadi lebih modern mengikuti dengan perkembangan zaman di Banjarmasin. Tempat pertunjukan Mamanda di periode tahun ini menjadi lebih sering di pentaskan di panggung Unsur-unsur modern di dalam pertunjukan juga sudah mulai banyak masuk hal ini bisa diperkuat dengan terbitan koran di Banjarmasin Post yang pada 30 November 2012. Periode Perintis 1970 - 2000 Perkembangan Mamanda pada periode Perintis dalam kurun waktu 30 tahun di Banjarmasin masih berfokus kepada riset pelatihan, dan penyebaran. Pada periode ini struktur pertunjukan menggunakan Mamanda Periuk dan untuk lagu tokoh Dua Raja menggunakan lagu dari Mamanda Tubau. Dalam hasil wawancara bersama Abdul Rasyid pada 12 Mei 2022 di Banjarmasin: AuMamanda di Banjarmasin ini menggunakan Mamanda Periuk 75%, dan Mamanda Tubau 25%Ay. Penggabungan dua versi Mamanda ini dilakukan oleh Bakhtiar Sanderta bersama Teater Banjarmasin untuk mempermudah seniman-seniman Mamanda di Banjarmasin dalam mementaskan Mamanda. konteks ini adalah anggota-anggota Teater Banjarmasin periode pertama yang juga merupakan seniman-seniman Mamanda dari Periuk dan Tubau. Dalam hasil wawancara bersama He Benyamin pada 2 Juni 2022, di Gambar 1. Banjarbaru, anggota-anggota Ulasan dari pertunjukan Mamanda di tahun 2012, yang suTeater Banjarmasin di periode dah memiliki bentuk / perubahan menjadi modern (Sumber: Banjarmasin Post, 30 November 2. awal ini merupakan orang-orang Aminuddin. Herdiani. Dwi Marwati : Identitas Mamanda Banjarmasin dalam Sejarah Teater Tradisional di Kalimantan Selatan . Pusaka di Kotabaru. Sanggar Seni di Kabupaten Tanah Bumbu, dan grup-grup teater kampus dan sekolah di Banjarmasin yang juga menggunakan Mamanda versi Banjarmasin yang dipopulerkan oleh Teater Banjarmasin. Dikutip dari koran tersebut, tertulis: AuPenampilan Mamanda mereka malam itu sedikit dipoles dengan nuansa kekinian atau tidak murni bertema tradisi. Ada unsur moderenisasi di penokohan dan artistik Audari segi properti ada barangbarang modern, tak murni bernuansa tradisi seperti biasanyaAy. Periode Virtual 2020 - 2021 Periode virtual ini ditandai dengan mulainya pertunjukan Mamanda secara virtual yang disebabkan oleh Pandemi Covid-19 di Banjarmasin. Mamanda dalam periode ini merupakan Mamanda dengan sajian virtual. Di tahun 2020 Taman Budaya Kalimantan Selatan bersama Forum Apresiasi Seni Fakultas Hukum ULM, menggadakan Parade Mamanda Keliling di 4 tempat dan 4 komunitas yang berbeda, sebagai berikut: Geliat pertunjukan Mamanda yang berkembang ke arah modern sudah mulai tampak jelas di periode ini. Penggunaan trap sebagai tempat berdirinya para staf kerajaan dan penggunaan trap untuk meninggikan meja persidangan sebagai tempat singgasana raja sudah mulai sering digunakan baik di pertunjukan Mamanda dalam skala regional maupun nasional. Penggunaan tata cahaya di teater modern juga sudah mulai masuk di periode ini, yang mana pada masa periode perintis, tata cahaya hanya berfungsi sebagai penerangan saja. Unsur tata cahaya sebagai pendukung suasana, pada pertunjukan Mamanda oleh Yayasan Sanggar Seni Pusaka Saijaan, di ISI Padang Panjang, dipergunakan dalam Penggunaan fog machine sebagai pembantu suasana dengan mengeluarkan asap juga dipergunakan dalam Unsur-unsur panggung modern sebagai pendukung suasana mulai sering dipergunakan dalam pertunjukan Mamanda dalam periode ini. Periode perkembangan selama 20 tahun ini menjadikan Mamanda di Banjarmasin tidak bisa lagi murni tradisional seperti Mamanda pada awalnya. Mamanda di periode perkembangan ini sudah berkembang menjadi teater Populer, dengan masuknya unsur-unsur teater modern ke dalam pertunjukannya. Perkembangan Mamanda di periode ini juga turut disebabkan mulainya versi Mamanda di Banjarmasin ini tersebar dan digunakan oleh sanggar-sanggar lain di Banjarmasin dan daerah sekitarnya. Di awal periode ini seperti lahirnya Yayasan Sanggar Seni 7 Maret Nama Komunitas Sanggar Budaya Kalimantan Selatan Maret Sanggar Kariwaya Balangan Maret Sanggar Pusaka Tabalong Maret Sanggar Lawang Banjarmasin No. Jadwal Tempat Pentas Desa Pemangkih Darat. Tatah Makmur. Kab. Banjar. Halaman Koramil Banjarmasin Selatan. Jl. Tubun. Kelayan Barat. Komp. Purnama Permai 3. RT. Kel. Sungai Andai Museum Wasaka. Sungai Jingah. Kec. Banjarmasin Utara. Tabel. Jadwal Pertunjukan Mamanda Keliling Selain pergelaran Mamanda juga menampilkan Tari Radap Rahayu. Madihin, dan Musikalisasi Puisi. Di setiap tempat juga diadakan pelatihan Mamanda sebagai sosialisasi Mamanda kepada masyarakat setempat dengan narasumber oleh: Mukhlis Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 Maman. Abdullah S. dan Abdul Rasyid. Dampak Pandemi Covid-19 di Banjarmasin, pertunjukan Mamanda Keliling dari Sanggar Pusaka Tabalong dan Sanggar Lawang di sajikan secara online lewat kanal youtube Taman Budaya Kalimantan Selatan. Gambar 2. Mamanda di periode Mukhlis Maman dan M. Syahriel M. Noor virtual ini merupakan (Sumber: Kanal Youtube Taman Budaya Kalsel. Diakses pada 13 Juni 2022. Pukul: 10. 00 WITA) hasil kreativitas Sanggar Lawang Banjarmasin struktur dan penyajiannya dibandingkan dan Forum Apresiasi dengan Mamanda yang ada di wilayah Seni Fak. Hukum ULM, pada saat acara Periuk dan Tubau. Mamanda Keliling tahun 2020 yang terkendala dengan protokol dan larangan Identitas Budaya Sebagai Sebuah mengadakan keramaian di Banjarmasin Wujud semenjak pertengahan Maret 2020. Identitas budaya sebagai sebuah wujud Mamanda dengan sajian virtual ini artinya dilihat sebagai suatu kesatuan yang sama seperti Mamanda seperti biasanya dimiliki bersama, atau yang merupakan hanya saja cara penyajiannya yang menjadi bentuk dasar/asli seseorang dan berada Hal ini juga disampaikan oleh dalam diri banyak orang yang memiliki Mukhlis Maman dan M. Syahriel M. Noor kesamaan sejarah dan leluhur. Faktor sebagai MC pada saat Mamanda Keliling internal merupakan suatu hal yang muncul dalam kanal Youtube Taman Budaya di kalangan pelaku seni untuk melakukan Kalimantan Selatan. kegiatan berkesenian dari pengalaman pribadi ataupun pengamatan dilingkungan Identitas Mamanda Banjarmasin sekitar, sehingga dapat menghasilkan karya Perjalanan Mamanda di Banjarmasin dari hasil proses inovasi dan kreasi yang dimulai dari tahun 1970 sampai dengan dilakukan oleh para seniman Mamanda. 2021, dalam kurun waktu lima puluh satu tahun mengalami perjalanan yang panF. Inovasi Seniman Mamanda jang dan memiliki intensitas pergelaran. Hasil inovasi yang terjadi selama tiga pelatihan, dan festival yang banyak. Perperiode perkembangan Mamanda di kembangan masyarakat penonton dan Banjarmasin hanya dilakukan oleh generasi kesenian di Banjarmasin yang semakin pertama Mamanda dari Teater Banjarmasin, tahun menjadi lebih modern menjadi orang-orang pada generasi pertama ini sebab utama perkembangan Mamanda di merupakan kumpulan dari senimanBanjarmasin menjadi lebih modern dalam seniman Mamanda Periuk dan Tubau Mamanda di Banjarmasin yang berpindah domisili ke Banjarmasin sekarang ini menjadi berbeda dalam bentuk dikarenakan pekerjaan, generasi pertama Aminuddin. Herdiani. Dwi Marwati : Identitas Mamanda Banjarmasin dalam Sejarah Teater Tradisional di Kalimantan Selatan . generasi selanjutnya yakni generasi pewaris melakukan penyesuaian-penyesuaian sebagai bentuk penyempurnaan dalam bentuk sajiannya. Hasil kreasi ini dapat dilihat dari gaya keaktoran para pemain Mamanda yang unsur-unsur teater modern, dalam hal olah vokal, olah tubuh, olah rasa dan hukum panggung . asil wawancara bersama Firhansyah pada 10 April 2022, di Banjarmasi. Kreasi ini disebabkan oleh perpindahan tempat pertunjukan menjadi di panggung prosenium dan semakin maraknya seniman-seniman dari teater modern yang menjadi pemain Mamanda. Kreasi yang dihasilkan dalam tata rupa pentas berkembang menjadi semakin sempurna dengan masuknya unsur modern, terutama dalam unsur tata cahaya yang menggunakan lighting modern, yang sebelumnya unsur tata cahaya hanya berfungsi sebagai penerangan kemudian dengan penggunaan lighting modern menjadi dapat menambahkan unsur pendukung suasana dan adegan dengan menambahkan pewarnaan dan strobo. Juga penggunaan fog machine sebagai pendukung suasana dalam pertunjukan. Seiring dengan perkembangan Mamanda di Banjarmasin, kreasi yang terjadi terhadap naskah yang dipertunjukkan kemudian mengadaptasi naskah klasik seperti Romeo & Juliet, hal-hal kebaharuan ini dilakukan untuk tetap menjaga pertunjukan Mamanda memiliki penonton, yang mana penonton Mamanda juga berkembang menjadi masyarakat yang lebih modern. Majunya teknologi dan masyarakat di Banjarmasin khususnya juga dapat dilihat ketika pandemi Covid-19 melanda, pertunjukkan yang sebelumnya disajikan secara langsung kemudian menjadikan sajian secara virtual. Di periode virtual juga lahirnya kreasi dari seniman ini yakni Bakhtiar Sanderta berasal dari Juai. Tubau. Ismail Efendi dan Abdul Rasyid berasal dari Margasari. Periuk. Abdan Kahanissa dari Kandangan, dan kawan-kawan lainnya pada tahun 1970 di Banjarmasin . asil wawancara dengan Mukhlis Maman pada 30 Mei 2022, di Banjarmasi. Inovasi yang mereka hasilkan adalah menggabungkan kedua versi Mamanda dari Periuk dan Tubau sebagai bentuk penyempurnaan dari gaya sebelumnya dengan menyesuaikan selera penonton seperti humor, durasi, dan cerita. Penyempurnaan yang mereka lakukan ini berlatar belakang dari riset yang telah mereka lakukan diperiode perintis dari tahun 1970 sampai dengan 1980-an . asil wawancara dengan Abdul Rasyid pada 12 Mei 2022, di Banjarmasi. , bentuk penyempurnaan ini tidak terbentuk secara instan, tetapi dilakukan secara perlahan disesuaikan dengan perkembangan zaman di Banjarmasin. Hal pertama yang dihasilkan adalah meresmikan penggunaan kata Mamanda sebagai bentuk dari nama kesenian teater tradisional dari Kalimantan Selatan pada saat Festival Teater Tradisional di TIM. Jakarta pada tahun 1970. Kemudian membakukan pakem Mamanda yang bersifat istana sentris, dalam pakem ini juga meliputi dari struktur pertunjukan, naskah, tata rupa pentas, penggunaan bahasa, dan humor pada saat Sarasehan Mamanda di Banjarmasin pada tahun 1977. Kreasi Seniman Mamanda Hasil kreasi seniman Mamanda dalam tiga periode perkembangan dilakukan oleh generasi selanjutnya. Generasi inilah yang lebih banyak memberikan pengaruh modern ke dalam Mamanda di Banjarmasin terutama pada periode Berlandaskan dari inovasi yang telah dilakukan oleh para generasi seniman Mamanda di generasi pertama. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 untuk memeriahkan hajatan seperti pesta perkawinan sudah jarang dapat ditemui . asil wawancara dengan Ely Rahmi pada 15 Mei 2022, di Banjarmasi. Hal ini juga yang membuat inisiatif para seniman Mamanda di periode perkembangan melaksanakan program Mamanda keliling sebagai bentuk pelestarian dan pengenalan Mamanda terhadap masyarakat sekarang. Pada periode perkembangan Mamanda lebih sering dipinta oleh instansi-instansi pemerintah untuk memeriahkan hari-hari besar dan sebagai sosialisasi pemerintahan terhadap masyarakat. Peranan instansi pemerintahan seperti UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan yang memiliki peranan besar terhadap perkembangan dan pelestarian Mamanda. Grup-grup Mamanda jarang melaksanakan pergelaran tunggal, hidup dan berkembangnya grupgrup Mamanda memiliki kecenderungan bertahan dari satu permintaan pergelaran ke permintaan pergelaran berikutnya. Sebagai bentuk untuk tetap menjaga dan melestarikan Mamanda, senimanseniman Mamanda telah melakukan inovasi dan berbagai macam kreasi. Inovasi yang telah dilakukan Bakhtiar Sanderta pada periode perintis juga disebabkan dari permintaan pasar dari kalangan muda, dikarenakan Mamanda pada sebelumnya memiliki durasi empat sampai enam jam, dalam durasi tersebut penonton yang dapat bertahan menonton Mamanda sampai selesai kecenderungan dari mayoritas orang tua, yang kemudian pada akhirnya Mamanda berhasil di bentuk dengan durasi yang lebih pendek . asil wawancara dengan Rudi Nugraha pada 06 April 2022, di Kota Bar. Kegemaran masyarakat pada periode tahun 1990-an yang memiliki kegemaran terhadap sesuatu yang bersifat humor maka kemudian Mamanda di Banjarmasin menjadi lebih memiliki unsur humor dibandingkan dengan Mamanda Mamanda yang berkolaborasi dengan komunitas film yang akhirnya memberikan bentuk baru dalam Mamanda. Identitas Budaya Sebagai Proses Menjadi Identitas budaya sebagai proses menjadi artinya semakin berdialog dengan waktu, kebutuhan, eksploitasi adanya suatu pengulangan dalam berkarya. Faktor eksternal merupakan suatu hal yang muncul dari luar pelaku seni itu tinggal, misalnya masyarakat dan jaringan luar sebagai pembeli . , dianalisis berdasarkan yang mempengaruhi terhadap perubahan-perubahan bentuk pertunjukan Mamanda yang dihasilkan. Permintaan Pasar Salah satu fungsi utama Mamanda adalah sebagai hiburan yang tidak terlepas dari permintaan pasar. Permintaan pasar terhadap Mamanda menjadi hal penting sebagai salah satu yang mempengaruhi perkembangan Mamanda, jika melihat ke pada Mamanda versi Periuk dan Tubau, permintaan pasar yang terjadi pada ke dua versi tersebut terlihat lebih kerakyatan, sebagaimana hadirnya pergelaran-pergelaran Mamanda pada ke dua versi tersebut dari hiburan saat panen raya dan hajatanhajatan lainnya. Hiburan yang bersifat kerakyatan ini dapat marak terlaksana disebabkan masyarakat pada saat itu belum memiliki banyak jenis hiburan lainnya. Perubahan minat pasar terjadi ketika mulai masuknya hiburan-hiburan modern. Seiring berkembangnya masyarakat di Banjarmasin, permintaan pasar pada saat panen raya dan hajatan mengalami Selama periode perintis Mamanda masih memiliki intensitas yang tinggi untuk mengisi hiburan-hiburan pada acara hajatan, namun ketika memasuki periode perkembangan di Banjarmasin, permintaan masyarakat terhadap Mamanda Aminuddin. Herdiani. Dwi Marwati : Identitas Mamanda Banjarmasin dalam Sejarah Teater Tradisional di Kalimantan Selatan . asil wawancara dengan Firhansyah pada 10 April 2022, di Banjarmasi. Perkembangan zaman terutama di Banjarmasin yang semakin tahun menjadi lebih modern, membuat kesenian di Banjarmasin turut bergerak dan berkembang ke arah modern, tidak terkecuali Mamanda. Pada periode perintis, terjadinya persaingan karya antara Teater Banjarmasin dengan Sanggar Budaya turut menjadi sebab dari bentuk Mamanda sekarang ini. Persaingan antara kedua grup tersebut menjadikan Teater Banjarmasin dengan teater Mamandanya menjadi beradaptasi dengan idiom-idiom teater modern, dan Sanggar Budaya dengan teater modern menjadi beradaptasi dengan idiom-idiom lokal atau tradisional. Selain itu juga dampak persaingan tersebut menjadikan kedua grup besar di Banjarmasin ini memiliki intensitas pergelaran yang tinggi . asil wawancara Abdi Rahmat pada 02 Mei 2022, di Banjarmasi. Semenjak memasuki periode perkembangan intensitas persaingan keduanya mulai menurun dan menjadi berjalan sendiri-sendiri. Di periode perkembangan ini seniman-seniman Mamanda dari Teater Banjarmasin banyak migrasi ke berbagai daerah lain di Kalimantan Selatan dan kemudian mulai melestarikan Mamanda di daerah-daerah di luar Banjarmasin, dari sinilah mulainya penyebaran Mamanda versi Banjarmasin. Masa ketika periode virtual yang disebabkan pandemi Covid-19, senimanseniman Mamanda yang masih bisa untuk melakukan pergelaran hanya di Banjarmasin. Hal tersebut dapat terlaksana dikarenakan adanya peranan instansi pemerintahan setempat untuk keperluan sosialisasi terkait pandemi Covid-19. Program-program dari UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan kemudian mengundang seniman-seniman Mamanda versi Periuk dan Tubau . asil wawancara dengan Y. Agus Suseno pada 13 Mei 2022, di Banjarmasi. Permintaan pasar akan kegemarannya tersebut yang turut mempengaruhi perkembangan Mamanda, jika dilihat pada periode sebelum tahun 1980-an, penonton Mamanda dalam konteks ini masyarakat Banjar menyenangi hal-hal yang bersifat pamer akan keahlian dalam bahasa Banjar disebut beharat-haratan. Mamanda yang memiliki durasi panjang memiliki kesempatan untuk seniman Mamanda untuk beharat-haratan dalam menyanyi, menari, bela diri, dan pemeranan . asil wawancara Mukhlis Maman pada 30 Mei 2022, di Banjarmasi. Hal tersebut yang menyebabkan Mamanda memiliki durasi lama, sedangkan pada Mamanda dengan durasi yang lebih pendek, salah satu faktornya disebabkan oleh minat masyarakat yang mulai bergerak menyenangi pesan dan cerita yang ditampilkan. Hal tersebut juga yang menjadikan Mamanda dapat disajikan dengan durasi yang lebih pendek. Perkembangan Zaman Mamanda di Banjarmasin banyak mendapat pengaruh modernitas yang ada di Banjarmasin, lahir dan berkembang melalui dari berbagai macam festival regional maupun nasional. Semenjak tahun 1970 dimulai dari Festival Teater Tradisional di TIM. Jakarta. Mamanda mulai mengalami perkembangan ke arah modern. Penelitian Mamanda yang dilakukan pada era tahun 1970 sampai dengan 1980, hingga terlaksananya Sarasehan Mamanda pada tahun 1977 menjadi latar belakang yang memberikan potensi lebih besar untuk Mamanda menjadi bentuk yang lebih sempurna sebagai teater tradisional Kalimantan Selatan. Akhirnya pada 2016 Mamanda akhirnya berhasil di perjuangkan masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 jadi yaitu dilihat melalui permintaan pasar dan perkembangan zaman di Banjarmasin, maka ciri khas atau identitas yang terbentuk untuk Mamanda di Banjarmasin sebagai berikut: di luar Banjarmasin untuk melakukan pergelaran melalui virtual yang kemudian di siarkan melalui kanal youtube Taman Budaya Kalimantan Selatan. SIMPULAN Perjalanan teater Mamanda di Banjarmasin semenjak tahun 1970 sampai dengan 2021 yang kemudian di bagi menjadi tiga periode yaitu: periode perintis, periode perkembangan, dan periode virtual, mengalami perjalanan yang panjang dan menjadi perjalanan sejarah yang penting untuk dilakukan pencatatan. Jika dilihat dari cikal bakal kesenian ini lahir yaitu semenjak tahun 1897 yang ditandai dengan datangnya ke Banjarmasin rombongan kesenian Indra Bangsawan dengan membawakan kesenian berbentuk tonil dengan nama Abdul Muluk. Kesenian Abdul Muluk ini kemudian diserap dan diadaptasi dengan kesenian lokal Banjar berupa nyanyian dan tarian menjadi bentuk kesenian baru yang dikenal dengan nama Mamanda Periuk atau juga disebut badamuluk yang bentuknya menjadi opera . asil wawancara dengan Agus Suseno pada 13 Mei 2022, di Banjarmasi. Di tahun 1937. Badamuluk ini kemudian diadaptasi dengan unsur-unsur tonil yang pada periode tersebut populer di daerah Barabai dan sekitarnya, menjadi Mamanda Tubau atau juga disebut Batubau. Kemudian pada tahun 1970 di Banjarmasin. Bakhtiar Sanderta bersama rekannya di Teater Banjarmasin dalam mengadaptasi Mamanda Periuk dan Mamanda Tubau menjadi satu kesatuan bentuk yang baru, yang kemudian versi ini berkembang dari Banjarmasin ke berbagai daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Apabila dilihat melalui identitas budaya Stuart Hall, identitas budaya sebagai sebuah wujud yaitu dilihat melalui hasil inovasi dan kreasi para seniman Mamanda dan identitas budaya sebagai proses men- Struktur Pertunjukan Struktur pertunjukan Mamanda di Banjarmasin sebagai berikut: . Ladon, seperti pembukaan dalam versi Periuk Mamanda di Banjarmasin juga menggunakan Ladon sebagai pembuka dari pertunjukan. Ladon adalah atraksi salam berupa tarian sambil bersyair dengan aktor yang menari berjumlah ganjil. Di Banjarmasin para aktor sering mensyairkan satu atau dua bait saja, sedangkan di Periuk biasanya menggunakan tujuh bait syair untuk setiap . Perkenalan Staf Kerajaan, biasanya urutannya dimulai dari masuknya tokoh Harapan Pertama dan Kedua. Perdana Menteri, tokoh Raja yang didampingi oleh Wajir. Mangkubumi. Permaisuri. Perdana Menteri, kemudian tokoh Panglima Perang dan yang terakhir Hadam dan Inang. Sidang Kerajaan dimulai dari sini cerita dimulai, yang terakhir adalah. Babujukan. Naskah Naskah di Mamanda Banjarmasin terbagi menjadi empat jenis tipe cerita: . Cerita Sejarah yang bersumber dari kisahkisah sejarah dari perang Banjar, kisah perjuangan rakyat melawan penjajah, dan refleksi kepemimpinan para tetua adat pada masa lalu. Contoh naskahnya seperti Amuk Hantarukung. Bapalas Darah. Cerita Romantis pada umumnya bercirikan kisah percintaan antara dua anak manusia. Perjalanan kasih sayang antara dua orang ini sering mengalami tantangan dan cobaan dari berbagai sisi. Contoh naskahnya seperti Kambar Kemanikan. Kamarul Zaman. Cerita Kritik Sosial bersumber dari segala hal yang bertentangan dengan aturan atau etika yang sudah disepakati oleh masyarakat, perilaku tokoh atau siapa Aminuddin. Herdiani. Dwi Marwati : Identitas Mamanda Banjarmasin dalam Sejarah Teater Tradisional di Kalimantan Selatan . pikiran asosiatif terhadap hal-hal yang berbau sex. Kontekstual sex, ini dikemas sedemikian rupa sehingga tidak terkesan Pertunjukan Mamanda di Banjarmasin adalah hasil adaptasi dari Mamanda Periuk dan Tubau dengan mempertimbangkan selera masyarakat kota (Banjarmasi. , yang akhirnya menjadikan bentuk versi baru dalam Mamanda yang memiliki unsur-unsur teater modern ke dalam Unsur-unsur teater modern yang ada di Mamanda Banjarmasin ini adalah: Tempat pertunjukan yang berada di panggung prosenium. Berkembangnya pengarah laku menjadi sutradara. Berkembangnya ide cerita menjadi naskah. Gaya keaktoran yang kemudian mengenal hukum panggung dan teknik Tata cahaya yang menggunakan lighting pertunjukkan modern dan mengikut fungsi pencahayaan seperti di teater saja yang bertentangan dengan komitmen adil, kolusi jabatan, dan perilaku yang bertentangan dengan budaya lokal. Contoh naskahnya seperti Watun Kita. Batu Jilatan. Raja Tuli. Karisis Manitir. Andung Basimbar. Tampurung Bulu, dan Sarawin Dituntut. Cerita Penerangan adalah kisah-kisah berisi pesan pembangunan atau pesanpesan sponsor pemerintah yang berbentuk Contoh naskahnya seperti Hampadal Ganal. Kambang Katubawati. Tahta Batu Bini Batu Laki. Tampurung Bulu. Nagara Dipa Menuju Tatanan Kehidupan Baru. Banua Batuah. Tata Rupa Pentas Tata Rupa Pentas, untuk Mamanda di Banjarmasin penggunaan tata rupa pentas yang menjadi pembeda utama adalah tempat pertunjukan yang berada di panggung prosenium dan penggunaan trap sebagai level. Penggunaan meja, kursi, tongkat tokoh Raja sebagai properti cenderung sama. Sedangkan untuk musik dan tarian juga cenderung sama. Terkecuali untuk tata busana dan rias yang memiliki perkembangan menjadi memiliki aksesoris yang lebih banyak dan antara tokoh satu dan tokoh lainnya menjadi lebih berbeda. Lima unsur teater modern tersebut yang juga menjadi ciri dari teater Mamanda di Banjarmasin menjadikannya berbeda dengan dua versi Mamanda sebelumnya. Mamanda di Banjarmasin adalah Mamanda yang sudah beradaptasi dengan modernitas yang berada di Kota Banjarmasin. Seringnya seniman-seniman Mamanda di Banjarmasin yang mengikuti acaraacara berskala nasional seperti festival, temu taman budaya, dan parade-parade lainnya baik sebagai eksistensi maupun sosialisasi memberikan pengaruh terhadap perkembangan Mamanda secara internal di Kalimantan Selatan. Jika mengacu pada pembagian teater tradisional di Indonesia dalam buku Kasim Ahmad . , teater dibagi ke dalam 4 kategori yaitu: Humor Unsur humor yang diadaptasi ke dalam Mamanda di Banjarmasin dapat dikategorikan menjadi empat kategori yaitu: . Humor Bahasa adalah kelucuankelucuan yang disebabkan oleh penutur kalimat atau ungkapan-ungkapan bahasa. Humor Tingkah Laku adalah perilaku dan sikap tokoh yang sengaja dibuat-buat untuk menimbulkan kelucuan. Humor Pergunjingan adalah ciri pribadi atau juga predikat yang dimiliki seseorang, seperti yang memiliki bentuk badan besar, kecil dan . Humor pornografi adalah kelucuan-kelucuan yang ditimbulkan oleh Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 7 No. 2 Desember 2022 Melihat dari hal tersebut, teater Mamanda Periuk dan Tubau pada saat ini masih tetap dengan identitasnya yang berbentuk teater Tradisional, sedangkan Teater Mamanda di Banjarmasin sudah berkembang menjadi teater Populer, hal ini dapat dilihat dari ciri khas yang melekat pada Mamanda di Banjarmasin saat ini. Melalui hasil analisis dari teori Identitas Budaya Stuart Hall dalam sejarah Mamanda, akhirnya menemukan versi ke tiga Mamanda dengan identitas baru yakni teater populer yang mana teater Mamanda dengan masuknya unsur-unsur teater modern ke dalam pertunjukannya. Jika mengacu kepada kategori dari dua versi Mamanda sebelumnya, yakni Mamanda Periuk dan Tubau yang menggunakan kategori wilayah sebagai nama, maka Mamanda dengan versi ketiga adalah Mamanda yang bermula tumbuh dan berkembang di Banjarmasin semenjak tahun 1970 sampai dengan sekarang yakni Mamanda Banjarmasin. Secara umum bentuk Mamanda yang populer dikenal di nasional maupun lokal Kalimantan Selatan adalah Mamanda dengan versi Banjarmasin ini dan jika dilihat lebih dalam konteks sejarahnya Mamanda di Kalimantan Selatan ini memiliki tiga versi yang berbeda secara bentuk yakni Mamanda Banjarmasin. Mamanda Tubau, dan Mamanda Periuk. Teater Rakyat adalah teater yang hidup di tengah kehidupan masyarakat di pedesaan. Lahir, tumbuh, dan berkembang serta didukung masyarakat Teater Istana adalah teater di lingkungan kraton, istana, disponsori oleh para raja, khusus untuk keperluan istana dan lingkungannya. Teater Populer adalah teater yang tidak masuk keduanya, namun mempunyai karakteristik tersendiri, dan terutama hidup di kota-kota dan didukung oleh masyarakat kalangan menengah. Teater Barat, merupakan produk teater saat sekarang yang didukung oleh masyarakat terpelajar di Asia Tenggara. Bentuk drama yang dipertunjukkan adalah model drama barat. Teater populer ini dalam buku Brandon . , tradisi teater populer di Asia Tenggara memiliki kesamaan dengan sandiwara bangsawan di Indonesia, yaitu bentuk teater tradisional yang berbeda dengan teater rakyat ataupun teater istana, namun masih dalam kelompok teater Bentuk teater ini terdapat di kota-kota dengan pendukung masyarakat menengah, yang bersifat hiburan dan mulai berkenalan dengan pengaruh teater barat. Daftar Pustaka