PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA e-ISSN: 2798-8244 Gereja yang Sehat, 1 Maret 2021 Vol. No. 1, 2021 Adapt or Perish: Pelayanan Gereja yang Relevan dalam Masa dan Pasca Pandemi Fibry Jati Nugroho Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala fibryjatinugroho@gmail. Abstract:The Covid 19 pandemi has changed the face of the world, including in church services. using a qualitative approach, and assisted by data collection through a group discussion forum, then the existing data was carried out by descriptive analysis, and elaborated with Talcott Parson's social system theory, it was found that the pattern of church services in the midst of this pandemi needs to be transformed from a church centre to a God Centre. God is the centre of the church, no longer the facilities and excitement in the church. This essence needs to be instilled in the pattern of church service through education in the church which is for the laity, so that the church is no longer centred on the Pastor (Pastor Centr. but is centred on God and God's work. The church is no longer just a place of fellowship, but has turned into a training place that trains the laity to become an extension of the church to serve its congregations. The pattern of church services during and after the pandemi needs to adapt from analog to digital patterns. In the midst of the existing situation, a healthy church always offers experiences of faith, not just a discourse on faith, so that the congregation can still feel God is present and nearby, even in digital media. Keywords : Pandemi Covid 19. Church. Relevant. Adaptation. Parson. Abstrak:Pandemi Covid 19 telah merubah wajah dunia, termasuk di dalamnya pelayanan gereja. Dengan memakai pendekatan kualitatif, dan dibantu dengan pengumpulan data melalui Forum group discussion, kemudian data yang ada dilakukan analisis deskriptif, serta dielaborasikan dengan teori sistem sosial dari Talcott Parson didapati bahwa Pola pelayanan gereja di tengah pandemi ini perlu ditransformasi dari church centre menjadi God Centre. Tuhan menjadi pusat dari gereja, bukan lagi fasilitas dan gegap gempita dalam gereja. Esensi ini perlu ditanamkan dalam pola pelayanan gereja melalui pendidikan di dalam gereja yang diperuntukan bagi kaum awam, sehingga gereja bukan lagi terpusat pada Pendeta (Pastor Centr. tetapi terpusat pada Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Gereja bukan lagi hanya sebagai tempat persekutuan, tetapi berubah menjadi tempat pelatihan yang melatih kaum awam menjadi kepanjangantangan gereja melayani jemaat-jemaatnya. Pola pelayanan gereja di masa dan pasca pandemi perlu beradaptasi dari pola analog ke digital. Di tengah situasi yang ada, gereja yang sehat selalu menawarkan pengalaman iman, bukan hanya wacana tentang iman, sehingga jemaat tetap dapat merasakan Tuhan yang hadir dan berada di dekatnya, meskipun dalam media digital. Kata Kunci : Pandemi Covid 19. Gereja. Relevan. Adaptasi. Parson. Pendahuluan Pandemi Covid-19 telah merubah wajah dunia. Hampir semua bagian kehidupan manusia mengalami dampak yang signifikan. (Widiyani 2. Berbagai negara di dunia mengalami banyak tekanan, mulai dari ekonomi, sosial. Pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat. Diperkirakan terjadi banyak pengangguran yang disebabkan oleh Pandemi Covid 19. (Faiza 2. Hampir semua sektor bisnis mengalami dampak yang besar. Pun demikian dalam bidang Pendidikan dan keagamaan. Sekolah yang dipaksa untuk mengadakan kelas secara daring dan tidak memungkinkan untuk mengadakan tatap muka menjadi sebuah kegagapan tersendiri. Kegiatan keagamaan pun juga dituntut untuk PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA e-ISSN: 2798-8244 Gereja yang Sehat, 1 Maret 2021 Vol. No. 1, 2021 menyesuaikan diri dengan kondisi pandemi ini. Ibadah dipaksa untuk dilakukan secara daring, sekolah minggu juga mengikuti pola yang sama, tidak diperbolehkan diadakan secara tatap Keadaan ini membuat para penggiat keagamaan, mulai dari pemuka agama, pelayan keagamaan dan pengajar sekolah minggu dituntut untuk adaptif menerima perubahan (Karnawati and Mardiharto 2. Gereja yang tidak memungkinkan mengadakan ibadah secara tatap muka mulai beralih ke dalam ibadah daring. (Dwiraharjo 2. Beragam respon muncul dari pemuka ibadah dan para penggiat keagamaan disebabkan kegagapan dalam menghadapi situasi pandemi yang tidak menentu. Ada yang mulai merubah bentuk ibadahnya dengan mengikuti pola para rasul melalui praktik gereja rumah,(Widjaja et al. sampai dengan menelaah konsep ibadah daring dan spiritualitas digital. (Sopacoly and Lattu 2. Respon apapun yang dilakukan oleh gereja menandakan bahwa tugas dan panggilan gereja tidak boleh terhenti meski dalam situasi yang tidak menguntungkan sekalipun. Dalam keadaan pandemi, dunia yang sedang AusakitAy, mengalami banyak krisis, namun Gereja tetap harus dalam keadaan Sehat. Gereja sebagai mandataris Tuhan di tengah dunia tidak boleh berhenti menjadi terang dan garam dunia. Membahas gereja yang sehat, tidak dapat terlepas dari dua dimensi yaitu dimensi teologis dan biologis. Gereja yang sehat harus selalu berpadanan dengan ketetapan Ae ketetapan Firman Tuhan. Dasar teologis dan biblis sangat diperlukan dalam menjaga ajaran dan panggilan gereja di tengah dunia ini. Gereja yang tidak mendasarkan dirinya ke dalam kebenaran Firman Tuhan akan menjadi organisasi keagamaan saja, tanpa menghidupi panggilannya sebagai utusan Tuhan di tengah dunia ini. Di sisi yang lain, gereja yang sehat selalu berpadanan fungsi biologisnya. Artinya gereja tersebut mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dapat dianalogikan dengan dimensi biologis seorang manusia. Kondisi biologis manusia selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan jika kondisinya sehat. Tanpa perlu didoakan, jika asupan gizinya baik maka pertumbuhan dan perkembangan secara otomatis akan berjalan. Demikian pula dengan gereja, selama ajarannya sehat, dan pola pelayanannya sehat maka pertumbuhan dan perkembangan gereja menjadi sebuah dampaknya. Namun, bagaimana caranya menjaga kesehatan gereja di masa pandemi ini? Tulisan ini hendak menyajikan perihal pelayanan yang relevan di masa dan pasca pandemi yang berasal dari uraian para praktisi di gereja-gereja yang tergabung dalam Sinode Jemaat Kristen Indonesia. II. Metode Penelitian Dalam membedah dan mendedah perihal pelayanan yang relevan di masa dan pasca pandemi, pendekatan kualitatif digunakan sebagai sarana membantu memetakan dan menelisik ke dalam pokok permasalahan dan mngkonstruksi jawabannya. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis dipakai dalam penelitian ini guna mencari jawaban yang mendalam serta memperjelas sesuatu yang masih samar Ae samar, sehingga mendapatkan sebuah gambaran yang jelas. (Moleong 2. Dengan meminjam teori sistem sosial dari Talcott Parsons, dan menggunakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai alat pengumpulan data dari sumber data yang berasal dari Para Pendeta di lingkup Sinode Gereja PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA e-ISSN: 2798-8244 Gereja yang Sehat, 1 Maret 2021 Vol. No. 1, 2021 Jemaat Kristen Indonesia. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan analisis deskriptif, sehingga dapat disajikan secara komprehensif. (Sugiyono 2. Hasil dan Pembahasan Pandemi Covid 19 telah merusak tatanan kehidupan sosial. Kehidupan sosial keagamaan telah berubah untuk dapat beradaptasi dengan tatanan kehidupan sosial yang baru. Dalam dimensi sosial, tatanan kehidupan sosial merupakan sebuah sistem yang tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya. Sistem sosial yang ada di dalam masyarakat seperti organisme yang hidup dan tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Sistem sosial yang rusak akibat pandemi covid 19, akan menyesuaikan kembali daya tahan dan daya juangnya melalui masyarakat sendiri. Dalam kacamata Talcott Parson, seorang tokoh sosial yang mengamati perihal sistem sosial di dalam masyarakat mengemukakan, bahwa sistem sosial akan survive jika menjalankan empat fungsinya, yaitu : Adaptation. Goal Attainment. Integration, dan Latent. Empat hal tersebut biasa disingkat AGIL, atau dalam Bahasa lain ada yang menyebutnya dengan Skema AGIL. (Tualeka 2. Adaptation atau dalam bahasa sederhana disebut dengan adaptasi, merupakan sebuah sistem di dalam masyarakat yang mempunyai kekuatan beradaptasi dengan lingkungan, baik eksternal maupun internal. Adaptasi dari sebuah sistem sosial untuk menyesuaikan diri dengan tantangan, baik yang berasal dari dalam, ataupun dari luar merupakan kekuatan yang ada dan dimiliki oleh sistem sosial di dalam masyarakat. Sistem sosial tersebut kemudian dapat beradaptasi dan menyesuaikan dengan kebutuhan (Jones 2. Hal yang kedua yang ada di dalam sistem sosial adalah Goal Attainment atau biasa dikenal dengan pencapaian tujuan. Sistem sosial di dalam masyarakat selain beradaptasi dengan lingkungan dan kebutuhan sistuasionalnya, ia mempunyai sebuah tujuan yang akan didefinisikan dalam mencapai tujuan tersebut. Tujuan yang didefinisikan oleh kelompok sosial menjadi sebuah sistem yang hendak dicapai sebagai tujuan bersama. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan sebuah Integrasi yang mengatur hubungan antar komponen dalam sebuah sistem sosial. Integrasi ini diperlukan untuk menjadi sebuah pengikat dari pola-pola yang dikembangkan dalam proses adaptasi, pencapaian tujuan dan keterpeliharaan pola yang telah tersusun. Latency atau pemeliharaan pola yang ada memberikan bekal dalam memberikan motivasi, arahan, nilai baru baik secara individu maupun kelompok, yang dapat membentuk pola baru, serta mempertahankan sistem sosial untuk bersama menciptakan dan memelihara serta mempertahankan keberlangsungannya mencapai tujuan bersama. (Ritzer and J 2. Dalam situasi Pandemi Covid 19, tatanan sistem sosial keagamaan mengalami banyak tekanan, baik dari luar dan dari dalam. Apabila memakai kacamata sistem sosial yang dikembangkan oleh Talcott Parson di atas, maka sistem sosial di dalam gereja perlu mengembangkan skema AGIL dalam mempertahankan keberlangsungan komunitasnya sebagai organisme sosial. Dalam skema AGIL yang dikembangkan oleh Parson, dan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA e-ISSN: 2798-8244 Gereja yang Sehat, 1 Maret 2021 Vol. No. 1, 2021 dielaborasikan dengan hasil Forum Group Disscusion dengan para pendeta di lingkungan gereja Jemaat Kristen Indonesia, didapati bahwa secara tidak langsung teori sistem sosial dilakukan dalam pengembangan pelayanan di gerejanya dalam menghadapi terpaan Pandemi Covid 19. Peraturan pemerintah dalam menghadapi bencana non alam Covid 19 mengharuskan masyarakat tidak boleh mengadakan kerumunan dan perkumpulan. Gereja yang notabene selalu berkumpul dalam setiap ibadahnya, tidak diperkenankan melakukan ibadah secara Tantangan ini membuat para pengelola gereja harus mampu beradaptasi dengan situasi yang ada. Adaptasi yang lain para pelayan gereja diperhadapkan dengan ancaman kesehatan yang ada di depannya, yang dapat sewaktu-waktu ada bagi dirinya, keluarganya maupun Tantangan ibadah yang tidak diperbolehkan secara tatap muka serta ancaman kesehatan membuat pergumulan tersendiri bagi para pelayan gereja. Di sisi lain, ada beberapa tantangan yang mengintai yaitu konflik dalam keluarga dan krisis ekonomi dalam (JKI 2. Pola pelayanan gereja yang terbiasa tatap muka secara langsung terkendala dengan pandemi Covid 19, sehingga layanan konseling pun tidak dapat dilakukan secara langsung. Konflik dan krisis keuangan dalam keluarga mengancam para jemaat, ini merupakan tantangan tersendiri dalam pelayanan gereja dalam menghadapi Pandemi Covid Situasi ini menjadi dasar para pengelola gereja melakukan penyesuaian terhadap pola pelayanannya kepada jemaat, sehingga jemaat dapat tetap terlayani dengan baik. Di tengah situasi yang mengharuskan beradaptasi dengan Pandemi Covid 19, tujuan mulia dari gereja ada di tengah Ae tengah dunia ini untuk menghadirkan Tuhan bagi semua (JKI 2. Pandemi Covid 19 tidak dapat menghalangi gereja untuk dapat tetap melakukan ibadah. Di sisi lain, ibadah yang harus tetap jalan membuat fungsi gereja yang lain yaitu pastoral harus tetap ada dan jemaat terlayani juga secara holistik. Hal yang tidak kalah penting dalam tujuan gereja di tengah dunia ini yaitu untuk menyampaikan kabar baik bagi semua orang. Tantangan Pandemi Covid 19 yang ada telah mengharuskan pelayanan gereja mengalami adaptasi, namun tujuan utama untuk tetap dapat menyajikan ibadah, pelayanan pastoral dan penyampaian kabar baik kepada semua orang tetap menjadi sasaran (JKI 2. Dalam skema Parson, bagian ini merupakan sebuah Pencapaian Tujuan yang harus diusahakan bersama oleh seluruh pengelola pelayanan gereja. Tujuan yang telah ditetapkan tidak dapat tercapai tanpa integrasi dari setiap bagian atau unsur yang ada di dalam penatalayanan gereja. Integrasi yang dilakukan dengan cara menanamkan nilai-nilai terkait dengan esensi gereja kepada setiap unsur yang ada. Nilai esensial dari gereja inilah yang menjadi sebuah pola untuk menyatukan kembali semangat serta motivasi untuk kembali membangun penatalayanan gereja yang esensial dan holistik. Pernyataan esensial gereja yang tidak berbicara perihal Gedung, tetapi orang menjadi sebuah pelecut semangat bagi semua unsur yang terlibat dalam pelayanan gereja. Gereja yang dipanggil untuk menjadi anugrah serta tanda dan alamat bagi manusia, sebagai garam dan terung dunia dan sebagai mandataris Tuhan di tengah dunia menjadi sebuah pemersatu bagi semua pelayan di dalam gereja. Nilai esensial yang ada inilah yang menjadi sebuah sistem pemersatu bagi para pelayan di dalam gereja untuk kembali mengatasi tantangan yang ada di depannya, dan dapat kembali melayani jemaat dengan baik. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA e-ISSN: 2798-8244 Gereja yang Sehat, 1 Maret 2021 Vol. No. 1, 2021 Nilai esensial gereja perlu dipelihara polanya (Latenc. dalam menggerakkan seluruh unsur dan elemen di dalam gereja. (JKI 2. Pola yang dikembangkan yaitu mengembalikan jemaat untuk dapat berpusat kepada Tuhan, bukan kepada gereja. Nilai yang selama ini berkembang dari Church Experience dirubah kepada God Experience, sehingga jemaat dapat merasakan kehadiran Tuhan di dalam rumahnya, tanpa hingar bingar yang disuguhkan oleh (JKI 2. Penanaman nilai ini perlu dibangun dengan melakukan Pendidikan bagi pelayan gereja dan jemaat terkait dengan cara dan pola membaca alkitab, sehingga dapat membangun kehidupan rohaninya dengan baik. Pemeliharaan pola ini dikembangkan dalam menghadapi penyesuaian di tengah Pandemi Covid 19. Dari paparan tersebut di atas, di dapati bahwa gereja harus beradaptasi dan membangun kembali relevansi pelayanan di masa Pandemi, dan juga memproyeksikan pelayanan pasca pandemi di masa yang akan datang. Pola pelayanan gereja perlu ditransformasi guna dapat melayani jemaat secara relevan sesuai dengan situasi dan perkembangan zaman yang ada. masa Pandemi yang mengharuskan ibadah dilakukan dari rumah, dan tidak memungkinkan untuk melakukan pertemuan mengharuskan gereja mengubah pengalaman jemaat dari church experience kepada God Experience. Perubahan mendasar ini perlu dibarengi dengan pola Pendidikan di dalam gereja yang bukan hanya terpusan pada Pendeta, tetapi pelayanan kaum awam menjadi sebuah keharusan. Kaum awam atau jemaat yang dilatih untuk dapat membaca alkitab dengan baik dapat membantu gereja dalam melayani keluarga dan layanan pastoral secara holistik. Pola pelayanan gereja di masa Pandemi perlu berubah, gereja yang selama ini hanya digunakan sebagai tempat persekutuan dapat ditransformasikan menjadi tempat pelatihan. Gereja yang selama ini hanya sebagai tempat untuk bersekutu bagi orang percaya, perlu diadaptasikan dengan tantangan di tengah Pandemi ini untuk menjadi tempat pelatihan yang melatih kaum awam dalam melayani keluarganya, baik dalam layanan ibadah mingguan, maupun pendalaman alkitab. Di sisi lain, gereja perlu melatih jemaat untuk dapat mempunyai keahlian, keterampilan dan mental yang kuat dalam menghadapi ketidakpastian di tengah Gereja yang berfungsi sebagai tempat pelatihan dapat memperkuat iman dan imun jemaat, sehingga jemaat dapat terlayani bukan hanya secara rohani atau particular, tetapi secara holistik. Pola pelayanan misi gereja perlu ditransformasikan dalam menghadapi situasi dan perkembangan zaman yang ada. Apabila selama ini gereja hanya mengenal misi secara personal dan secara langsung, pandemi ini merubah pola yang ada, sehingga harus bertransformasi ke dalam dunia digital. Pelayanan misi harus berubah dari analog ke digital. Misi harus tetap menjadi esensi gereja, baik atau tidak baik waktunya. Injil harus tetap diberitakan sampai ke ujung bumi. Media digital menjadi alat yang efektif dalam memberitakan kabar baik di tengah pandemi ini. Apabila gereja selama ini hanya terkungkung dengan tembok dan teritori gereja saja, maka dunia digital menjadi sebuah jawaban untuk dapat menyebarkan injil kepada banyak orang. Pola pelayanan misi gereja perlu bertransformasi dari analog ke dalam dunia digital. Oleh sebab itu, para pelayan gereja perlu beradaptasi dalam merancangkan model dan kemasan yang cocok dalam melayankan misi ke dalam dunia digital. Pola ini akan menjadi efektif, terutama di tengah pandemi yang serba PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA e-ISSN: 2798-8244 Gereja yang Sehat, 1 Maret 2021 Vol. No. 1, 2021 tidak pasti. Gereja perlu hadir dalam memberitakan kabar baik di dunia digital, sehingga fungsi dan esensi gereja tidak hilang di tengah situasi pandemi ini. IV. Kesimpulan Pandemi Covid 19 telah merubah sistem sosial, termasuk di dalamnya gereja dan Virus Covid 19 bukan hanya merusak kesehatan jasmani masyarakat di seluruh dunia, tetapi juga berdampak pada kesehatan gereja. Oleh sebab itu, gereja harus beradaptasi dengan pola pelayanan yang baru, guna tetap sehat dan relevan di tengah tantangan Pandemi Covid 19. Gereja yang sehat perlu membangun pelayanan yang adaptif dengan perubahan dan perkembangan zaman. Esensinya tidak berubah, tetap alkitabiah namun kemasannya perlu disesuaikan dengan perubahan dan tantangan zaman yang ada. Gereja yang mampu menghadirkan Tuhan di tengah situasi yang tidak pasti, membuat jemaat tetap dapat merasakan kehadiran pelayanan gereja dari rumahnya. Pola pelayanan gereja di tengah pandemi ini perlu ditransformasi dari church centre menjadi God Centre. Tuhan menjadi pusat dari gereja, bukan lagi fasilitas dan gegap gempita dalam gereja. Esensi ini perlu ditanamkan dalam pola pelayanan gereja melalui Pendidikan di dalam gereja yang diperuntukan bagi kaum awam, sehingga gereja bukan lagi terpusat pada Pendeta (Pastor Centr. tetapi terpusat pada Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Gereja bukan lagi hanya sebagai tempat persekutuan, tetapi berubah menjadi tempat pelatihan yang melatih kaum awam menjadi kepanjangantangan gereja melayani jemaat-jemaatnya. Dengan melatih kaum awam, pelayanan pastoral gereja dapat terbantu, sehingga jemaat dapat tetap melayani jemaatnya secara holistik. Pola pelayanan gereja di masa dan pasca pandemi perlu beradaptasi dari pola analog ke digital. Gereja yang sehat mampu tetap mengembangkan pelayanan yang relevan dan menjawab kebutuhan jemaat di tengah tantangan dan situasi yang ada. Di tengah situasi yang ada, gereja yang sehat selalu menawarkan pengalaman iman, bukan hanya wacana tentang iman, sehingga jemaat tetap dapat merasakan Tuhan yang hadir dan berada di dekatnya, meskipun dalam media digital. Referensi