Heriansah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 134 Ae 141 Prosiding Seminar Nasional Peternakan. Kelautan, dan Perikanan I (Semnas PKP I) AuOptimalisasi Peran Sektor Peternakan. Kelautan, dan Perikanan dalam Mendukung Kemajuan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dan Menyongsong Indonesia Emas 2045Ay Pakan Maggot pada Akuakultur Multi-Trofik untuk Biomassa Hewan Akuatik: Sebuah Eksprimen Skala Laboratorium (Maggot Feed in Multi-Trophic Aquaculture for Aquatic Animal Biomass: A Laboratory Scale Experimen. Heriansah1*. Frida Alifia2. Arnold Kabangnga3. Sri Rukmini Kustam2. Reski Wastuti Asnur2 Program Studi Sumber Daya Akuatik. Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa Program Studi Budidaya Perairan. Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa *Corresponding author: heriansah. bd@gmail. ABSTRACT This experiment aims to evaluate the impact of different maggot feed variations on the biomass of Nile tilapia (Oreochromis niloticu. , freshwater mussels (Pilsbryoconcha exili. , and freshwater crayfish (Cherax quadricarinatu. cultured in a multi-trophic aquaculture system. Three types of maggot feed . ive, dried, and supplemente. and a commercial feed . , each with three replicates, were applied four times daily over a 4-week cultivation period. The initial biomasses of the three aquatic species, which were not significantly different, were randomly distributed across 12 tanks containing 50 L of water, with a stocking density of 10 individuals per tank. The results showed that the final biomass of tilapia fed live maggots, dried maggots, supplemented maggots, and commercial feed were 77. 4 g, 97. 4 g, 93. 2 g, and 9g, respectively. The final biomass of mussels was 147. 2 g, 144. 0 g, 146. 0 g, and 143. 4 g, respectively, while the final biomass of freshwater crayfish was 20. 1 g, 17. 3 g, 19. 8 g, and 17. 6 g, respectively. significant effect (P<0. of maggot feed type on the increase in biomass of the aquatic species was observed in the multi-trophic system. The findings of this experiment suggest that maggot-based feeds could contribute to waste reduction and enhanced income to sustainable aquaculture practices. Keywords: Aquatic animals. Biomass. Maggot feed. Multi-trophic Aquaculture ABSTRAK Eksperimen ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi pakan maggot terhadap biomassa ikan nila (Oreochromis niloticu. , kerang kijing (Pilsbryoconcha exili. , dan lobster air tawar (Cherax quadricarinatu. yang dipelihara melalui sistem akuakultur multi-trofik. Tiga tipe maggot . idup, kering, dan suplementas. dan pakan komersil . masing-masing dengan tiga ulangan diaplikasikan 4 kali sehari selama 4 minggu pemeliharaan. Biomassa awal ketiga hewan akuatik tersebut yang tidak berbeda signifikan distribusikan secara acak ke 12 bak berisi 50 L air dengan kepadatan masing-masing 10 individu. Hasil penelitian menunjukkan biomassa akhir ikan nila pada pakan maggot hidup, maggot kering, maggot suplementasi, dan pakan komersil masing-masing 77,4 g, 97,4 g, 93,2 g, dan 80,9 g. Biomassa akhir kerang kijing masing-masing 147,2 g, 144,0 g, 146,0 g, dan 143,4 g. Sementara itu, biomassa akhir lobster air tawar masing-masing 20,1 g, 17,3 g, 19,8 g, dan 17,6 g. Ada efek signifikan (P<0,. dari tipe pakan maggot terhadap peningkatan biomassa hewan akuatik pada sistem multi-trofik. Temuan eksperimen ini mengarah pada pengurangan limbah dan peningkatan pendapatan untuk praktik akuakultur yang Kata Kunci: Akuakultur multi-trofik. Biomassa. Hewan akuatik. Pakan maggot AProsiding Seminar Nasional PKP I 2024 e-ISSN: 3090-305X Heriansah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 134 Ae 141 Pendahuluan Manajemen pakan merupakan faktor kunci keberhasilan akuakultur komersil karena efeknya terhadap aspek biologis, ekonomis, dan ekologi. Produksi sangat tergantung pada tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan organisme kultivan dan kedua faktor biologi ini sangat dipengaruhi oleh nutrien yang disuplai dari pakan buatan . Namun, proporsi pakan buatan lebih dari 50 % dari biaya produksi yang dapat berimplikasi terhadap profitabilitas . , . Selain itu, limbah nutrien dari pakan buatan merupakan sebuah keniscayaan . Dampak ekologisnya berupa beban limbah telah banyak Nutrisi pakan dilaporkan hanya diasimiliasi oleh ikan nila 35 Ae 40 % N dan 28 Ae 31 % P, selebihnya menjadi sisa pakan dan feses yang berdampak negatif terhadap kualitas air . , 23, . Fenomena trade-off pemanfaatan pakan ini mendorong riset pengelolaan pakan menjadi menarik sejalan dengan paradigma akuakultur berkelanjutan . , . Kompleksitas dampak ekologi dan ekonomi penggunaan pakan buatan perlu diatasi melalui strategi menggabungkan praktik baik sistem akuakultur dengan memanfaatkan pakan alternatif yang relatif murah . Beberapa tinjauan tentang praktik akuakultur berkesimpulan bahwa sistem Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) merupakan solusi untuk meminimalisir limbah pakan . , . Sistem ini mengintegrasikan beberapa spesies dengan level trofik berbeda. Limbah nutrien yang dihasilkan dari spesies yang diberi pakan dapat dimanfaatkan oleh spesies ekstraktif nutrien organik dan spesies ekstraktif nutrien anorganik . , . Oleh karena itu, sistem akuakultur ini merupakan salah satu praktik baik dalam koridor akuakultur yang ramah ekologi dan Perhatian terhadap serangga sebagai bahan pakan alternatif semakin populer dan menjadi solusi untuk sumber protein yang mahal . Pakan berbasis serangga khususnya larva dari Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucen. atau maggot telah dipelajari sebagai sumber protein hewani alternatif pengganti tepung ikan. Serangga ini berkembangbiak di Indonesia yang beriklim tropis . Selain itu, beberapa hasil riset menunjukkan bahwa maggot memiliki kandungan protein yang tinggi, profil asam amino serupa dengan tepung ikan, dan kaya akan karbohidrat, asam lemak, vitamin, dan mineral . , . Beberapa hasil riset terkait pemanfaatan maggot sebagai pakan melaporkan bahwa kandungan nutrisi maggot sangat dipengaruhi oleh tipe atau cara pengolahannya menjadi pakan, seperti dalam bentuk segar, kering, dan suplementasi . , . Maggot juga dilaporkan menghasilkan variasi pertumbuhan kultivan berdasarkan tipe maggot . , . Selain itu, kandungan lemak dan energinya yang tinggi dapat mengurangi laju konsumi ikan . sehingga menghasilkan limbah dalam bentuk sisa pakan. Beberapa riset terdahulu ini dipraktikkan pada sistem monokultur. Eksperimen skala laboratorium ini mempraktikkan sistem IMTA yang melibatkan ikan nila (Oreochromis niloticu. sebagai spesies yang diberi pakan, lobster air tawar (Cherax quadricarinatu. dan kerang air tawar (Pilsbryoconcha exili. sebagai spesies ektraktif nutrien organik, serta padi (Oryza sativ. sebagai spesies ekstraktif nutrien Khusus untuk tanaman padi. Beberapa tipe maggot . idup, kering, dan bahan suplementas. diuji sebagai pakan pada eksperimen ini. Sejauh saat ini belum membangun model riset seperti ini. Eksperimen ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tipe maggot terhadap biomassa hewan akuatik yang dipeliharan menggunakan sistem IMTA. Metode Penelitian Materi Penelitian Bahan eksperimen meliputi maggot, pakan buatan, rockwool, air tawar, spesies akuatik . kan nila, lobster air tawar, dan kerang air tawa. , dan spesies tanaman . Maggot hidup dan kering stadi pre pupa, pakan buatan (MS Preo . , dan rockwool diperoleh secara komersil masing-masing dari produsen maggot (UA Makassar. Indonesi. , produsen pakan (Matahari Sakti. Indonesi. , dan Heriansah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 134 Ae 141 produsen rockwool (Cultilene. Indonesi. Air tawar disuplai dari sumber alami terdekat. Benih ikan nila diperoleh dari Balai Benih Ikan (BBI) Belapunranga. Gowa. Benih lobster air tawar bersumber dari peternakan komersial LAT Manggala Makassar. Kerang air tawar dikumpulkan dari tangkapan petani di irigasi Garanta Bulukumba. Sementara itu, benih semaian padi diperoleh dari petani di Kabupaten Bone (Gambar . Pakan suplemen maggot ini kemudian dijemur dengan sinar matahari. Pemeliharaan Tangki plastik diisi air tawar sebanyak 50 Shelter ditempatkan di setiap tangki untuk tempat berlindung lobster. Selanjutnya masingmasing 10 individu ikan nila, kerang, dan lobster didistribusikan secara acak ke dalam 12 Empat rumpun padi ditempatkan di nampan menggunakan netpot dan rockwool dan selanjutnya diapungkan di permukaan tangki air. Padi ditebar setelah 7 hari penebaran hewan akuatik untuk memastikan tersedianya nutrien terlarut. Ilustrasi desain tangki eksperimen ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 1. Organisme kultivan: . ikan nila, . lobster air tawar, . kerang air tawar, . Peralatan eksperimen meliputi bak plastik berukuran 50 y 50 y 55 cm (Gator. Indonesi. , pompa udara (Resun LP60. Chin. , timbangan digital (WH-B28. Chin. , netpot D10 cm (Agnis Indonesi. , dan alat ukur kualitas air . in 1 AZ 86031. Chin. Sementara itu, peralatan lainnya, seperti nampan . y 25 c. dikonstruksi dari pipa PVC 1 inci dan shelter panjang 2,5 inci didesain dari pipa PVC 2,5 yang diisi 35 sedotan plastik bubble. Prosedur Penelitian Persiapan Pemeliharaan Benih ikan nila . obot awal rata-rata 4,1A0,2 . , lobster air tawar . erat awal ratarata 1,5A0,2 . , kerang air tawar . erat awal rata-rata individu 13,2A0,2 . , dan semaian padi . inggi awal rata-rata 10,3A0,2 . diadaptasikan terlebih dahulu selama 5 hari sebelum eksperimen. Diet maggot hidup (MH) dan maggot kering (MK) serta pellet komersil (PK) dari produsen disimpan pada tempat yang sejuk pada boks plastik sampai digunakan. Untuk diet suplemen maggot (SM) diramu mengikuti metode riset kami sebelumnya . , yaitu maggot kering diblender lalu diayak . hingga berbentuk tepung. Selanjutnya 40 g tepung maggot diaduk dalam 100 mL air kemudian dicampur dengan 1 kg pellet komersil menggunakan 2 g putih telur sebagai Gambar 2. Ilustrasi desain tangki eksperimen. Ikan nila selama 4 minggu pemeliharaan diberikan diet perlakuan empat kali sehari . ukul 07:00, 11:00, 15:00, dan 19:00 waktu setempa. sebanyak 10 % dari bobot biomassa. Sisa pakan dan feses tidak dikeluarkan dari tangki agar dapat dimanfaatkan oleh kultivan lain dalam sistem. Aerasi dijalankan secara terus menerus untuk mensuplai oksigen. Parameter kualitas air . uhu, oksigen terlarut, pH, dan amonia. dipantau untuk menjaga nilai yang sesuai untuk setiap organisme kultivan. Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui penimbangan satu per satu hewan akuatik pada hari ke- 0, 7, 14, 21, dan 28 eksprimen. Penimbangan juga dimaksudkan untuk menyesuaikan jumlah pakan yang diberikan setiap minggu berdasarkan pertambahan biomassa. Rancangan Penelitian Empat kelompok diet eksperimen dirancang secara acak dalam rangkap tiga, yaitu diet maggot hidup (MH), maggot kering Heriansah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 134 Ae 141 (MK), suplemen maggot (SM), dan pellet komersil (PK) sebagai kontrol (Gambar . asumsi statistik parametrik. ANOVA satu arah dilanjutkan dengan uji post hoc Tukey (P<0,. digunakan untuk menganalisis data pada eksperimen ini. Perangkat lunak SPSS yang digunakan adalah SPSS 25. 0 (SPSS Inc. Chicago. IL. USA) . Gambar 3. Diet perlakuan. Maggot hidup (MH), maggot kering (MK), suplemen maggot (SM), dan pakan komersil (PK). Variabel yang Diamati Variabel yang diamati pada eksperimen ini adalah pertambahan biomassa (PB) hewan Formula 1 digunakan untuk menghitung variabel PB . PB = Bt-Bo Keterangan: PB = Pertambahan mutlak biomassa . Bo = Biomassa awal pemeliharaan . Bt = Biomassa akhir pemeliharaan . Analisis Data Distribusi normal data dan homogenitas varians diverifikasi melalui Shapiro-Wilk-test dan Levene-test dan hasilnya memenuhi Hasil dan Pembahasan Parameter kualitas air selama eksperimen merupakan faktor awal yang penting menjelaskan efek perlakuan. Sistem IMTA yang dipraktikkan pada eksperimen ini nampaknya berperan dalam menghasilkan kondisi kualitas air yang optimal melalui kemampuan setiap spesies ekstraktif untuk menyerap limbah. Selain itu, wadah terapung tanaman padi dapat mengurangi paparan panas di kolom air serta aerasi yang terus menerus dan kemampuan fotosintesis padi dapat menyediakan oksigen. Penjelasan ini terkonfirmasi dari hasil pengukuran suhu, oksigen terlarut, pH, dan amoniak selama eksperimen yang menunjukkan hasil yang relatif sama di setiap perlakuan dan berada pada kisaran yang optimal untuk kehidupan setiap hewan akuatik . , . (Tabel . Dengan demikian, wajar untuk disebutkan bahwa variasi biomassa hewan akuatik pada eksperimen ini terutama dipengaruhi oleh diet perlakuan yang diberikan. Tabel 1. Nilai pengukuran parameter kualitas air setiap diet perlakuan selama pemeliharaan Parameter Suhu (AC) Oksigen terlarut . g/L) Amoniak . g/L) Diet perlakuan Suplemen Maggot kering 25,4Ae27,6 25,2Ae27,9 5,4Ae7,0 5,4Ae7,1 6,5Ae7,0 6,4Ae7,0 0,01Ae0,19 0,01Ae0,12 Maggot 25,2Ae27,8 5,3Ae7,1 6,4Ae7,0 0,01Ae0,13 Pakan 25,4Ae27,8 5,4Ae6,9 6,5Ae6,9 0,01Ae0,13 Sumber: Data promer hasil penelitian . Biomassa representasi dari bobot dan jumlah kultivan merupakan target akhir usaha akuakultur karena menentukan volume produksi. Sistem IMTA pada eksprimen ini mengintegrasikan tiga hewan akuatik . kan nila, kerang, dan lobste. dan tanaman padi. Biomassa hewan akuatik selama empat minggu pemeliharaan menunjukkan pertambahan berdasarkan diet perlakuan (Gambar 4, 5, dan . Secara umum, tipe diet pakan yang berbasis maggot diterima dengan baik oleh ikan nila dan lobster air tawar sebagai spesies omnivora . , . Demikian pula dengan kerang, sebagai spesies yang bersifat filter feeder, dapat menyaring partikel yang tersuspensi, termasuk maggot . Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa diet perlakuan berpengaruh signifikan (P<0,. terhadap biomassa ketiga hewan Hasil uji tukey mengindikasikan bahwa perbedaan biomassa bervariasi berdasarkan spesies dan karakteristik diet Hasil yang bervariasi tersebut adalah temuan penting pada eksperimen ini. Heriansah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 134 Ae 141 Gambar 4. Pertambahan biomassa ikan nila. Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P < 0,. Gambar 5. Pertambahan Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P < 0,. Gambar 6. Pertambahan Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P < 0,. Protein merupakan nutrien penting untuk biomassa organisme kultivan . Publikasi kami sebelumnya melaporkan bahwa kandungan protein maggot hidup 33,6 %, maggot kering 31,2 %, suplemen maggot 14,9 %, dan pakan komersil 13,2 % yang berbeda signifikan diantara diet perlakuan. Hasil uji proksimat ini membuktikan bahwa kandungan protein maggot dipengaruhi oleh cara pengolahannya . , . Meskipun kandungan protein sangat mempengaruhi biomassa organisme kultivan, kinerjanya juga tergantung dari karakteristik Pengamatan untuk setiap diet perlakuan menunjukkan bahwa diet maggot kering dan suplemen maggot serta pakan komersil cenderung lama dipermukaan air sehingga memudahkan ikan nila sebagai pemakan Sementara itu, untuk maggot hidup cenderung bergerak di air kemudian mati dan tenggelam di dasar. Ikan nila diamati sering membiarkan maggot hidup bergerak dan tenggelam. Saat maggot hidup tenggelam, maka kerang melalui mekanisme filtrasi mengkonsumsi maggot di kolom air, sedangkan maggot yang di dasar dikonsumsi oleh lobster sebagai spesies pemakan di dasar. Penjelasan ini mungkin relevan dengan kinerja biomassa hewan akuatik setiap diet perlakuan dalam eksperimen ini. Hasil eksperimen ini memberikan pengetahuan penting bahwa menggabungkan pakan alternatif . dengan sistem IMTA memiliki beberapa atribut yang Misalnya, menyediakan diet maggot yang mengandung protein yang relatif tinggi tidak memerlukan biaya yang tinggi. Selain itu, terdapat sinergitas yang positif antar kultivan dalam hal pemanfaatan limbah dan manajemen kualitas Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peningkatan jumlah spesies dengan trofik yang berbeda dapat meningkatkan produktivitas dan stabilitas ekosistem . Lebih dari itu, memelihara organisme multi spesies pada waktu dan tempat yang sama mengarah pada peningkatan hasil panen. Oleh karena itu, hasil eksperimen ini dapat menjadi informasi awal untuk mengatasi kompleksitas yang terkait dengan penggunaan pakan buatan untuk akuakultur berkelanjutan. Demikian pula dapat memberikan solusi terhadap Heriansah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 134 Ae 141 mahalnya harga pakan yang menjadi permasalahan klasik para pembudidaya selama Kesimpulan Eksperimen laboratorium ini memberikan wawasan yang penting terkait pemanfaatan pakan berbasis maggot pada sistem akuakultur Penggunaan pakan berbasis maggot melalui sistem IMTA berpotensi meningkatkan biomassa, menurunkan biaya produksi, dan meminimalkan dampak limbah Penelitian lebih lanjut, termasuk eksperimen lapangan, diperlukan untuk mendukung hasil eksperimen laboratorium ini. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih kepada Institut Akuakultur Moncongloe menyediakan fasilitas eksperimen. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Panitia Seminar Nasional Peternakan. Kelautan, dan Perikanan I Universitas Sulawesi Barat serta seluruh pihak yang telah berkontribusi pada penyusunan dan publikasi artikel ini. Daftar Pustaka