Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Sistem Pemujaan Soroh Nyuwung Di Desa Abianbase Kabupaten Gianyar (Kajian Teologi Hind. Hari Harsanananda*. I Nyoman Yoga Segara. I Wayan Wastawa Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia *hariharsananda@uhnsugriwa. Abstract This research discusses one Soroh . ineage grou. in Abianbase Village. Gianyar Regency, which has a different worship system compared to other Sorohs in Bali. Therefore, this study aims to map the subsystems that form part of a complete worship These include the beliefs held by Soroh Nyuwung, the presence of the Dukuh figure as a religious leader for Soroh Nyuwung, and the structuring of sacred places that serve as media for worship for Soroh Nyuwung in Abianbase Village. Gianyar Regency. This research is qualitative with an ethnographic approach. Data was obtained through observation at the location, interviews with religious leaders of Soroh Nyuwung, and document studies in the form of copies of the Soroh Nyuwung inscription which contains the rules of life for Soroh Nyuwung. The data was analyzed through data reduction, classification, and display processes, as well as conclusion drawing and verification, ultimately being presented descriptively and narratively. The research results show that the Soroh Nyuwung worship system contains three subsystems: belief in Hyang Sinuhun Kidul, who for Soroh Nyuwung is closely affiliated with Bhatara Brahma and is believed to be the ancestor who created the descendants of Soroh Nyuwung. Furthermore, there is the existence of a figure titled Dukuh as the sole leader in every ceremony. Dukuhs are stratified into two types: Dukuh Pengarep and Dukuh Pengabih. There are also sacred places or places of worship for Sang Hyang Sinuhun Kidul called Gedong Sinapa, located in Pura Panti and Sanggah Pamerajan, which are known to have existed since ancient Balinese times. These three subsystems synergize to form a rigid system, creating a systemic pattern of worship by Soroh Nyuwung towards the entity they sanctify, namely Sang Hyang Sinuhun Kidul. Keywords: Worship. Soroh Nyuwung Abstrak Penelitian ini membahas salah satu Soroh di Desa Abianbase. Kabupaten Gianyar yang memiliki sistem pemujan yang berbeda dengan sistem pemujaan yang dilakukan oleh Soroh lainnya di Bali sehingga penelitian ini berupaya untuk memetakan bagian subsistem yang menjadi bagian dari satu kesatuan sistem pemujaan yang utuh antara lain keyakinan dimiliki oleh Soroh Nyuwung,kehadiran sosok Dukuh sebagai pemuka dan pemimpin agama bagi Soroh Nyuwung serta strukturasi tempat suci yang menjadi media pemujaan bagi Soroh Nyuwung di Dersa Abianbase Kabupaten Gianyar. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan pendekatan etnografi, data diperoleh melalui observasi ke lokasi, wawancara terhadap pemuka agama bagi Soroh Nyuwung serta studi dokumen berupa salinan prasasasti Soroh Nyuwung yang memuat tentang aturan hidup Soroh Nyuwung serta dianalisis melalui proses reduksi data, klasifikasi dan display data serta pengambilan kesimpulan dan verifikasi dan pada akhirnya data disajikan secara deskripsi dan naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam sistem pemujaan Soroh Nyuwung memuat tiga subsistem yaitu keyakinan terhadap Hyang Sinuhun Kidul yang bagi Soroh Nyuwung terafiliasi erat dengan Bhatara Brahma yang diyakini hadir sebagai leluhur yang menciptakan keturunan dari Soroh Nyuwung tersebut, selanjutnya terlihat adanya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH eksistensi sosok yang bergelar Dukuh sebagai pemimpin tunggal dalam setiap pelaksanaan upacara. Dukuh terstratifikasi dalam dua jenis yaitu Dukuh Pengarep dan Dukuh Pengabih. Serta terdapat pula tempat suci atau tempat pemujaan bagi Sang Hyang Sinuhun Kidul yang disebut dengan Gedong Sinapa yang berada di Pura Panti dan Sanggah Pamerajan yang dikenal telah ada sejak jaman Bali Kuna, ketiga subsistem ini bersinersi menjadi sebuah sistem yang rigid membentuk suatu pola sistemik pemujaan Soroh Nyuwung terhadap entitas yang mereka sucikan yaitu Sang Hyang Sinuhun Kidul. Kata Kunci : Pemujaan. Soroh Nyuwung Pendahuluan Sistem keagamaan masyarakat Hindu di Bali hingga masa kini mayoritas dikenal dalam bentuk harmonisasi antara paksa Siwa dan Buddha. Hal ini terlihat jelas dari beragam praktik keberagamaan serta studi sastra yang memuat hal tersebut, namun pada realitasnya tidak semua daerah di Bali mengikuti pola keberagamaan di bawah Paksa Siwa-Buddha ini. Terdapat beberapa daerah seperti desa-desa tua atau kerapkali dikenal dengan desa Bali Aga yang memiliki sistem kepercayaannya tersendiri. Berdasarkan pada hal tersebut, maka Penelitian ini akan membahas salah satu kelompok masyarakat yang memiliki sistem pemujaan yang unik dan tentu saja tidak hadir dalam arus utama sistem keberagamaan Hindu di Bali. Kelompok masyarakat ini disebut dengan Soroh Nyuwung. Soroh yuwung berdasarkan hasil penelusuran penelitian sebelumnya merujuk pada sekelompok masyarakat yang berada di bawah paksa Brahmana, yang minim dalam penggunaan Mantra. Yantra Mudra dan Aksara (Harsananda, 2. selain hal tersebut terdapat beberapa keunikan yang terlihat dari sistem keberagamaan Soroh Nyuwung ini antara lain pertama kehadiran Soroh Nyuwung sebagai salah satu klan di Bali yang tidak terafiliasi secara geneologis dengan Soroh atau klan lainnya di Bali. Kedua ketiadaan Palinggih Kamulan yang lazim dibuat oleh masyarakat Hindu di Bali, yang ketiga sistem pemujaan yang terpusat pada pura Panti Panyuwungan sebagai epicentrumnya dan tidak melaksanakan pemujan pada pura lainnya, yang keempat adanya sosok bernama Dukuh yaitu pemuka agama yang hadir khusus untuk Soroh Nyuwung serta memiliki pakem di luar konsep Tri Sadhaka dan Berdasarkan uraian di atas maka dirasa sangat perlu hasil penelitian ini untuk terpublikasikan guna menambah khazanah pengetahuan umat Hindu tentang varietas yang berbeda baik dalam dimensi keyakinan, ideologi ketuhanan, jenis-jenis praktik keberagamaan yang berbeda hingga sistem pemujaan yang berbeda pula dengan harapan penelitian ini dapat berkontribusi dalam meluruskan tafsir-tafsir yang salah terhadap tradisi dan budaya yang terkesan liyan debandingkan dengan tradisi agama dan budaya yang berada dalam arus utama keyakinan umat Hindu di bali yaitu Paksa Siwa-Buddha. Metode Penelitian ini merupakan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan dengan judul Sistem Pemujaan Soroh Nyuwung di Desa Abianbase. Kabupaten Gianyar yang merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Fokus kajiannya adalah sistem pemujaan yang dilaksanakan oleh Soroh Nyuwung di Desa Abianbase Kabupaten Gianyar. Beberapa informan merupakan pewaris kebudayaan aktif atau pewaris kebudayaan yang aktif menggerakkan dan menjadi aktor dalam proses kebudayaan tersebut yaitu DukuhAserta beberapa Prajuru maupun pewaris kebudayaan pasif yang dalam penelitian ini adalah masyarakat umum dari Soroh Nyuwung yang melaksanakan roses upacara secara turun temurun dari Soroh Nyuwung. Para informan ini dipilih melalui metode Purposive sampling yang didasarkan pada kemampuan dari informan untuk https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menjelaskan perihal aktivitas keberagamaan Soroh Nyuwung, ide-ide teologis yang ada di balik pelaksan aktivitas keberagamaan tersebut. Selain bersumber dari informan, data juga didapatkan melalui penelusuran teks yang terkait dengan Soroh Nyuwung untuk meningkatkan validitas data. Data yang diperoleh melalui metode wawancara kemudian diklasifikasikan, diverifikasi dan direduksi untuk mendapatkan data valid dan rigid dalam perumusan hasil penelitian ini. Hasil dan Pembahasan Berbicara mengenai sistem pemujaan maka harus dipahami terlebih dahulu bahwa sistem adalah adalah kumpulan hal-hal yang secara koheren dan konsisten terkait antara satu bagian dengan bagian lainnya dan dapat dijelaskan secara rasional. Terdapat sebuah konsep dalam teori sistem yang merumuskan bahwa suatu sistem merupakan suatu kesatuan dari beberapa subsistem yang bersinergi dan menjalin suatu kesatuan yang tidak terpisahkan satu dengan lainnya (Amirin, 2. Berdasarkan pada hal tersebut maka setidaknya terdapat tiga subsistem yang membentuk sistem pemujaan Soroh Nyuwung di Desa Abianbase Kabupaten Gianyar secara utuh yaitu: Keyakinan Soroh Nyuwung di Desa Abianbase kabupaten Gianyar Keyakinan sesungguhnya menjadi hal yang sifatnya esential bagi tiap agama yang hadir di Indonesia, guna merumuskan keyakinan dari Soroh Nyuwung maka dilaksanakan suatu studi dokumen dari Babab atau Pyagem. Menurut (Teeuw, 1. Babad dapat dipahami sebagai teks historik atau geneologis yang mengandung unsur kesastraan yang terdiri dari peristiwa sejarah hingga silsilah keturunan serta perkembangannya di Bali. Adapun beberapa karya sastra yang tergolong dalam jenis babad yaitu Pamacangah, uwug . , pyagem, purana, prasasti (Bakta et al. , 2. dan berdasarkan babad Pandhya Bang yang ditemukan salinanya di desa Abianbase serta memiliki kesamaan dengan Babad Pandhya Bang yang ditemukan di Puri Sibang Kaja ditemukan fakta bahwa Soroh Nyuwung juga dikenal dengan nama lain yaitu Soroh Pandhya Bang yang merupakan Soroh dengan dasar keyakinan untuk menyembah entitas yang bergelar Sang Hyang Sinuhun Kidul. Entitas suci inilah yang diyakini memunculkan entitas awal bagi Soroh Nyuwung di Bali yang asal mulanya berasal dari Jawa namun akhirnya pergi ke Bali dan mentap di seputaran Giri Kehen . aerah Bangl. relasi yang paling dekat dengan Sang Hyang Sinuhun Kidul adalah relasinya dengan Dewa Brahma yang diyakini menjadi Dewa yang menciptakan Soroh Nyuwung ini. Hal ini menjadi menarik karena jika merujuk kata Kidul yang artinya selatan maka keyakinan terhadap Sang Sinuhun Kidul yang identik dengan Dewa Brahma menjadi valid disebabkan dalam konstrukis Dewata Nawa Sayga, stana atau wilayah mandala yang didiami oleh Dewa Brahma terletak di arah selatan seperti kutipan teks Bhuana Sangksepa sloka 11-13 berikut ini: Iya purvantu vijyeyah, agneya tu myheyvaray Brahmypi dakyinajyeyah, nairityam rudra evaca Paycimantu myhadevay, vayabhyam sangkars tatha. Viyyu uttara vijyeyay, airyanyamsambhur evaca Adohara itijyeyah, madhyo cypi sadayivah Urde paramayivypi, iti devo pratiyyhitay (Bhuana Sangksepa 11-. Terjemahannya: Demikianlah dewata yang membuat hidup dalam hati. Iya di timur. Mahesora di tenggara. Brahma di selatan. Rudra di barat daya. Mahadewa di barat. Sangkaradi barat laut. Wisnu di utara. Sambhu di Timur laut. Siwatma di di bawah. Sadasiwa di tengah. Paramasiwa di atas (Rai Armita et al. , 1. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Validitas sosok Dewa Brahma sebagai dewa yang utama yang menciptakan Soroh Nyuwung ini juga termuat secara spesifik dalam kutipan prasasti Pande Bang yang ditemukan di Puri Ngurah Sibang Kaja yang memuat secara terperinci proses penciptaan Soroh Nyuwung ini dari awal sampai akhirnya menetap di Desa Abianbase. Kabupaten Gianyar yang akan tergambarkan dalam struktur silsilah di bawah ini: Gambar 1. Silsilah Soroh Nyuwung Sumber: Prasasti Pandhya Bang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menurut Dukuh Suprapta . awancara, 12 Juli 2. secara spesifik. Soroh Nyuwung dapat dikatakan sebagai Soroh Pandhya Bang jika ditelusuri dari nama leluhur yang menjadi awal keberadaan Soroh ini, namun dalam kutipan prasasti yang diyakini. Soroh Pandya Bang mendapatkan nama lain sebagai Soroh Nyuwung atau Panyuwungan yang diyakini diambil dari sosok leluhur Mpu Sandang Suwungan. Jika menilik sejarahnya, dapat diketahui bahwa keberadaan Soroh Pandhya Bang di Bali sudah ada sejak zaman kerajaan Bali kuno. Hal ini didapat dari penelusuran nama Giri Kehen. Kehen sendiri sebenarnya memiliki 3 buah prasasti yang menurut Goris dalam (Ardika et al. , 2. masing Ae masing berangka tahun 804Ae836 Saka, 938Ae971 serta prasasti ketiga berangka tahun 1126 Saka. Pada prasasti pertama yang berangka tahun 804-836 masehi, nama kehen belum termuat, yang termuat itu adalah nama Hyang Api. Termuatnya nama Kehen baru terlihat pada prasasti ketiga dengan angka tahun 1126 saka, jika merujuk pada prasasti Pandhya Bang yang memuat bahwa kedatangan Pandhya Bang atau Bang Bali Bangsul di Bali yang kemudian menetap pada sebelah timur Giri Kehen maka patut diduga, sekitar tahun 1126 Saka atau sekitar tahun 1204 M yang notabena tergolong dalam masa Bali Kuna Pandhya Bang tiba di Bali yang saat itu Bali tengah di kuasai oleh Bhatara Guru Sri Adikuntiketana (Harsananda, 2018. Lebih lanjut lagi ada hal yang menarik jika melihat penyematan nama Pandhya pada leluhur Soroh Nyuwung yaitu Pandhya Bang, hal ini disebabkan karena di bali sendiri, memang ada Soroh atau kelompok warga geneologis yang dikenal dengan Soroh Pande. Menanggapi hal ini. Dukuh Suprapta dalam wawancaranya menegaskan bahwa sampai saat ini, tidak ada sumber literatur yang menegaskan keterkaitan antara Soroh Nyuwung dengan Soroh Pande lainnya di Bali, bahkan Prapen . lat menempa loga. dan aktivitas memande . enempa loga. sebagai identitas lokal Soroh Pande pun tidak ditemukan dalam tradisi turun-temurun Soroh Nyuwung ini. Penelusuran lebih jauh sesungguhnya dapat ditelusuri dengan metode komparasi terhadap beberapa Babad Pande yang memang menunjukkan ketiadaan relasi secara geneologis antara Soroh Pandhya Bang dengan Soroh Pande yang hari ini eksis di Bali. Selain itu pula untuk Soroh Pande sendiri, menurut Purna Jiwa di awali oleh kedatangan Mpu Brahma Raja dari Madura yang datang ke Bali atas undangan dari Raja Bali kala itu yaitu Dalem Ketut Ngulesir (Jiwa, 2. jika merujuk pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir sendiri, maka dapat diperkirakan kedatangan dari leluhur Soroh Pande ada pada rentang tahun 1401 Masehi sampai 1460 Masehi (Ardika et al. , 2. , namun karena masa dari Mpu Brahma Raja sendiri berada pada rentang tahun 1385-1455 M, maka secara spesifik dapat dikatakan bahwa kedatangan Mpu Brahma Raja ke Bali ada pada rentang tahun 1041-1455, sehingga jika dihitung akan ada selisih tahun kedatangan antara leluhur Soroh Nyuwung yaitu kira-kira 163 tahun lebih awal dibandingkan dengan leluhur Soroh Pande. Dukuh Sebagai Pemuka Agama Bagi Soroh Nyuwung di Desa Abianbase Gianyar. Bagi masyarakat Hindu di Bali, pemuka agama bagi masyarakat dikenal dalam dua varietas yaitu Pinandita atau Pamangku dan Pandita atau Sulinggih atau Sadhaka. Kata Pamangku berasal dari kata AypangkuAy yang memiliki arti sama dengan AymenyanggaAy. Aumemikul bebanAy atau Aumemikul tanggung jawabAy yang dalam hal ini memikul tanggung jawab sebagai pelayan atau perantara antara umat dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pamangku ini pula dapat di golongkan dalam eka jati (Suhardana, 2. Sedangkan Pandita atau Sulinggih adalah tahap lanjutan dari Pamangku atau telah melalui proses Diksa hingga menjadi Dwijati yaitu terlahir dua kali, yaitu yang pertama terlahir dari rahim Ibu, yang kedua terlahir dari rahim pengetahuan Sang Guru Nabe. Secara etimologi kata. Sulinggih berasal dari dua kata yaitu Su yang berarti baik dan Linggih yang artinya kedudukan, dalam hal ini Sulinggih adalah sosok yang disucikan dan diberi kedudukan yang baik oleh masyarakat Hindu (Suhardana, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Secara umum di Bali pada masa dahulu. Sulinggih atau Sadhaka dapat dikatakan dimonopoli oleh satu soroh atau klan yaitu Soroh Brahmana dengan Ida Pedanda sebagai gelar atau Abhyseka Sulinggihnya namun sejak upacara Panca Walikrama di Besakih pada tahun 1999 terjadi perubahan dengan menggunakan konsep Sarwa Sadhaka yaitu Sulinggih dari beragam Soroh maupun Wangsa dengan Abhisekanya masing-masing yang dipercaya untuk Muput atau menyelesaikan upacara saat itu (Suhardana, 2. Hal ini dilakukan untuk memberikan hak-hak yang sama pada setiap Soroh di Bali untuk diakui keberadaan Sulinggihnya masing-masing. Untuk gelar Abhiseka bagi seorang Sulinggih dari masing-masing Soroh akan dijabar sebagai berikut: Pedanda adalah gelar untuk keluarga Brahmana. Bhagawan adalah gelar untuk keluarga ksatria. Resi Bhujangga adalah gelar auntuk bhujangga wesnawa. Empu adalah gelar untuk keluarga pande atau pasek. Dukuh adalah gelar untuk sulinggih yang berasal dari masyarakat Bali Aga (Sukrawati, 2. Meski memiliki gelar Abhiseka yang beragam, namun pada dasarnya, sistem Kasulinggihan di Bali selalu terbagi dalam tiga pola struktur ajaran atau Agem-Ageman yang sering di sebut dengan Tri Sadhaka yaitu Pandita Siwa yang memiliki wewenang untuk menghaturkan Yajya atau korban suci dengan upasaksi sanggar Surya guna menyucikan alam atas dan menurunkan kekuatan Tuhan, kemudian Pandita Bhuda berwenang untuk menghaturkan Yajya guna menyucikan alam tengah dan mempertemukan kekuatan suci Tuhan dengan kekutan Bhutakala yang telah somia dan Pandita Bhujangga yang berwenang untuk menghaturkan Yajya guna membersihkan alam bawah serta mengharmonisasi Bhuta Kala . (Suhardana, 2. Pendapat dari Sukrawati yang memuat bahwa Dukuh adalah gelar atau sebutan untuk Sulinggih atau Pandita yang memiliki latar belakang geneologis dari masyarakat Bali Aga. Menanggapi hal ini Dukuh Suprapta dalam wawancara tanggal 12 Juli 2023 menegaskan sosok Dukuh bagi Soroh Nyuwung adalah sosok yang sentral dalam proses keberagamaan,dan beliau setuju dengan pendapat Sukrawati yang merumuskan bahwasanya gelar Dukuh adalah gelar yang merujuk pada pemuka agama bagi masyarakat Bali Aga meski menurut beliau, istilah Bali Aga bagi Soroh Nyuwung kurang tepat lebih tepat jika disebut sebagai Bali Mula atau masyarakat yang datang lebih dulu dibandingan Soroh lainnya mengingat kedatangan leluhur Soroh Nyuwung memang berada pada masa Bali Kuna di Bali. Proses inisiasi yang dilalui untuk menjadi Dukuh juga memiliki perbedaan dengan soroh lainnya di Bali yaitu dengan prosesi upacara bernama Mabersih Dukuh tidak menggunakan istilah Diksa seperti klan lainnya. Untuk gelar Dukuh sendiri, bagi Dukuh Suprapta berasumsi bahwa gelar tersebut pertama kali digunakan oleh leluhur dari Soroh Nyuwung yaitu Sang Pandhya Bang atau disebut juga Bang Bali Bangsul sesuai dengan kutipan prasasti. Lebih lanjut berdasarkan menurut Dukuh Suprapta . awancara 12 Juli 2. Soroh Nyuwung memiliki sistem hierarkis pada Dukuh itu sendiri, dalam artian ada dua jenis Dukuh dihormati oleh Soroh Nyuwung yaitu Dukuh Pengaryp dan Dukuh Pengabih. Dukuh Pengaryp adalah dukuh yang secara hierarkis memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan Dukuh Pengabih dan sampai hari ini, sistem pengangkatan seorang Dukuh Pengaryp masih didasarkan pada sistem keturunan langsung dalam artian, seorang Dukuh Pengaryp akan mewariskan gelar Dukuh Pengaryp ini kepada keturunan langsungnya. Hal yang berbeda berlaku bagi Dukuh Pengabih yang menurut Dukuh Suprapta, pengangkatan seorang Dukuh Pengabih dapat dilakukan dalam tiga kondisi yaitu: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH a. Keturunan: Seorang dapat menjadi Dukuh Pengabih jika memiliki garis keturunan Dukuh Pengabih sebelumnya Tuntutan warga: Perkembangan kuantitas Soroh Nyuwung yang semakin meningkat menimbulkan krisis pada aspek jumlah Dukuh Pengabih yang dapat memenuhi tuntutan Yajya masyarakat. Dalam hal ini, seorang Dukuh pengabih dapat diusulkan oleh warga untuk melalui proses inisiasi mabersih Dukuh dan menjadi Dukuh Pengabih. Pawisik: selain dua kondisi di atas, seseorang dapat menjadi Dukuh Pengabih ketika dirinya dan Dukuh Pengaryp saat itu mendapat Pawisik yang sama bahwa orang tersebut harus diinisiasi. Menurut Dukuh Suprapta, dalam dimensi religiusitas. Dukuh Pengaryp adalah Hal tersebut disebabkan karena hanya Dukuh Pengaryp yang memiliki hak otoritatif untuk memutuskan waktu serta mekanisme upacara yang akan diselenggarakan dan hanya Dukuh Pengaryp yang memiliki hak utama dan pertama untuk Muput atau memimpin upacara. Adapun hadirnya Dukuh Pengabih secara khusus memiliki fungsi sebagai Support system atau sebagai unsur pendukung dari proses upacara yang sedang berlangsung, namun disebabkan kuantitas Dukuh yang sedikit serta aturan bahwa ssang Pamuput hanyalah Dukuh Pengaryp ada kalanya dalam siatuasi tertentu seorang Dukuh Pengabih dapat muput atau memimpin suatu upacara jika Dukuh Pengaryp dalam kondisi tidak mampu untuk Muput, maka dalam kondisi demikian, pemimpin upacara akan dilimpahkan dari Dukuh Pengaryp kepada Dukuh Pengabih atas rekomendasi serta penugasan dari Dukuh Pengaryp kepada Dukuh Pengabih. Tempat Suci Bagi Soroh Nyuwung Kehadiran tempat suci bagi umat beragama sangatlah penting, tempat suci adalah tempat sakral yang menjadi media manusia untuk terkoneksi dengan Tuhannya. Hal ini bahkan dijabarkan dengan jelas oleh Eliade yang merumuskan bahwa tempat suci adalah sebuah Hierophany, sebuah istilah dalam bahasa Yunani yang berarti Aupenampakan suciAy, hieros dan phaineien (Pals, 2. Tentu saja penggunaan istilah ini selaras dengan fungsi tempat suci sebagai lokasi yang diyakini AudikunjungiAy entitas suci. Bagi umat Hindu di Indonesia. Pura menjadi sebuah nama resmi untuk menunjuk tempat suci bagi pemeluk agama Hindu, meski dalam berbagai wilayah, terdapat istilah berbeda untuk hal ini, semisal Balai Basarah yang menjadi nama untuk menunjukkan tempat suci sekaligus tempat peribadatan bagi suku dayak dan penganut Hindu Kaharingan (Paramarta, 2. hingga nama-nama seperti Pak Buaran. Penammuan, hingga Pak Pesungan/Inan Pemalaran yang menjadi nama-nama tempat suci bagi masyarakat Hindu Alukta (Segara, 2. Pengertian Pura sendiri sesungguhnya berasal dari kata AuPurAy yang artinya kota, benteng, atau kota yang berbenteng dalam artian bahwa pura adalah suatu kesatuan wilayah yang memiliki benteng yang mengelilingi guna menjaga kesakralan yang dimiliki oleh bangunan tersebut (Netra. , 1. Bagi umat Hidu secara umum mengenal beberapa jenis Pura berdasarkan karakteristiknya yaitu: Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura yang difungsikan sebagai media pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam aneka Prabhawa atau manifestasiNya contohnya adalah pura Sad Kahyangan dan Pura Dang Kahyangan Pura Kahyangan Desa . yaitu pura yang disungsung . ipuja dan dipelihar. oleh kesatuan masyarakat dalam satu wilayah tertentu seperti desa pakraman atau desa adat Pura Swagina . ura fungsiona. , yaitu pura yang disungsung . ipuja dan dipelihar. oleh sekelompok masyarakat yang memiliki kesamaan dibidang profesi atau mata pencaharian seperti Pura Subak yang disungsung oleh para petani dan pura Melanting yang disungsung oleh para pedagang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH d. Pura Kawitan, yaitu pura yang disungsung oleh warga masyarakat yang memiliki satu ikatan keturunan . sehingga memiliki satu AuwitAy atau memiliki satu asal kelahiran yang bmembentuk suatu pemujaan kepada entitas leluhur yang Adapun bentuk pura ini seperti sanggah. Pamerajan. Panti. Dadya hingga Pedharman (Titib, 2. Bagi Soroh Nyuwung tempat suci yang dimiliki dan diyakini secara esensial ada dua macam yang tergolong dalam jenis Pura Kawitan. Menurut hasil wawancara dengan Dukuh Suprapta. Soroh Nyuwung memang mengutamakan pemujaan kepada leluhur yang dalam hal ini termanifestasikan melalui dua media tempat suci yaitu Sanggah dan Pura Panti. Sanggah adalah tempat pemujaan bagi keluarga pribadi sedangkan Pura Panti Panyuwungan adalah tempat pemujaan dalam skala geneologis yang lebih besar yaitu Soroh Nyuwung itu sendiri. Bagi Soroh Nyuwung keberadaan Pura Panti Panyuwungan sangatlah penting dikarenakan segala aktivitas keberagamaan dapat dilakukan dan Puput atau selesai di Pura Panti Panyuwungan (Wawancara, 12 Juli 2. Bagi Soroh Nyuwung sendiri, untuk sanggah atau Merajan wajib memiliki beberapa Palingih atau sthana Ida Bhatara sebagaimana yang telah termuat dalam kutipan prasasti Pandya Bang sebagai berikut: Inilah bangunan suci yang wajib ada di Mrajan, yaitu Palinggih Kawitan. Palinggih Bhatara Agniswara, terutama Palinggih Gedong Sinapa, perhatikan dengan baik, jangan melanggar aturan dalam tata cara pembuatan bangunan suci. perhatikan dengan baik rupa dan bentuk masing-masing bangunan, lihat dengan pasti agar tidak samar-samar. Ada pesanku kepadamu sekalian, janganlah kalian lupa kepada kewajiban . dan jatidiri . kalian, yakni memuja Bhatara Kasuhun yang bersemayam di Gedong Sinapa, sesuaikanlah tata pelaksanaan upacaranya sebagaimana dijelaskan dalam prasasti, baik untuk kehidupan maupun kematian, jangan melanggar. Jika kalian lupa melakukan pemujaan di Kahyangan, melanggar kewajiban dan tatakrama, pastilah kalian terkena kutukan Bhatara Kasuhun, selama hidupmu tidak akan menemukan keselamatan dan selalu menderita kesakitan, hidup boros, menjadi orang miskin. Sebab tidak menjadi pewaris namanya (Bakta et al. , 2. Pada kutipan Prasasti di atas nampak jelas bahwa yang menjadi Palinggih utama bagi Soroh Nyuwung adalah Gedong Sinapa yang menjadi media bagi Soroh Nyuwung dalam memuja Bhatara Kasuhunan (Kidu. disertai dengan Palinggih kawitan dan Agniswara hal ini dibenarkan oleh Dukuh Suprapta dan mengatakan bahwa sejatinya. Pelinggih utama yang menjadi media Soroh Nyuwung dalam mengkoneksikan dirinya dengan Bhatara Kasuhunan Kidul adalah Gedong Sinapa baik dalam skala sanggah atau Merajan hingga Palinggih yang utama di Pura Panti Panyuwungan pun disebut dengan Gedong Sinapa hanya saja, jika di Pura Panti akan ditemukan jumlah palinggih yang lebih banyak (Wawancara, 12 Juli 2. Menelisik lebih dalam tentang Gedong Sinapa, dapat ditemukan beberapa Pura dengan Palinggih yang bernama sama, menurut Jero Mangku Nyoman Putra selaku Pamangku Jan Banggul di Pura Durga Kutri. Palinggih Gedong Sinapa sejauh ini ditemukan pada Pura Durga Kutri. Pura Kahyangan Tiga di Desa Pakraman Kutri serta seluruh Sanggah Gede milik warga di Desa Pakraman Kutri Kecamatan Blahbatuh, namun hingga saat ini belum diketahui mengenai entitas suci yang puja melalui medium Palinggih Gedong Sinapa tersebut, baik Gedong Sinapa yang hadir pada wilayah Pura Durga Kutri. Kahyangan desa hingga Sanggah Pamerajan tersebut. Selain daftar pura yang telah disebut serta terdapat dua pura lainnya yang memiliki Palinggih Gedong Sinapa ini yaitu Pura Natar Pande yang disungsung oleh keturunan Pande Mas yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH berlokasi di Banjar Pande Blahbatuh serta Sanggah Gede Pande Beratan di Banjar Pokas Blahbatuh (Wawancara, 21 Agustus 2. Menurut Jero Mangku Pande Yasa (Wawancara, 21 Agustus 2. , yang merupakan Pamangku Jan Banggul di Pura Natar Pande menuturkan bahwa keberadaan Gedong Sinapa di Pura Natar Pande telah ada sejak dahulu, namun tidak diketahui angka tahun spesifiknya serta tidak ada penuturan baik secara lisan maupun tulisan mengenai hal tersebut. Mengenai fungsi dari keberadaan Palinggih Gedong Sinapa tersebut juga tidak diketahui sehingga dalam aktivitas keseharian pemujaan sehari-hari Palinggih Gedong Sinapa difungsikan sebagai tempat menyimpan Pratima atau Arca Ida Bhatara. Pada awalnya kehadiran Palinggih Gedong Sinapa di beberapa pura yang berkaitan dengan Soroh Pande membuka kemungkinan bahwa ada relasi antara Soroh Nyuwung dengan Soroh Pande, namun berdasarkan buku Soroh Pande di Bali karya Guermonprez yang memuat beberapa denah Pura kawitan yang berkaitan dengan Soroh Pande seperti Pura Pande Mas Kamasan yang berada di banjar sangging, kamasan. Klungkung, tidak terdapat Pelinggih Gedong Sinapa seperti pura kawitan Pande lainnya di wilayah Blahbatuh. Berdasarkan dari data ini, patut diasumsikan, keberadan Gedong Sinapa baik di wilayah Blahbatuh maupun pada Soroh Nyuwung memiliki keterkaitan dalam dimensi sama-sama merupakan Palinggih dari jaman Bali Kuna mengingat Pura Durga Kutri sebagai pura yang dibangun sebagai percandian dari Gunapriyadharmapatni yang mangkat pada tahun 929 saka atau 1001 Masehi (Ardika et al. , 2. yang berselisih sekitar 203 tahun dari kedatangan pertama Pandhya Bang ke Bali pada tahun 1204 M selaku leluhur dari Soroh Nyuwung itu sendiri, hanya saja pada Soroh Nyuwung. Palinggih Gedong Sinapa hadir secara spesifik dan fungsional untuk memuja Hyang Sinuhun Kidul. Selain sisi historis dari Gedong Sinapa yang menarik, terdapat pula sisi menarik lainnya yaitu aturan yang mengatur tatacara membangun Gedong Sinapa di areal merajan pribadi bagi Soroh Nyuwung. Berdasarkan hasil wawancara dengan Dukuh Suprapta tanggal 12 Juli 2023, dijelaskan bahwa, sistem membangun sanggah atau merajan bagi Soroh Nyuwung tidak sama dengan umat Hindu di Bali secara umum, bagi mereka yang Ngarangin atau membangun sanggah pamerajan ditempat yang baru, maka ada aturan bahwa gedong Sinapa baru boleh dibangun di areal tersebut, jika warga dari Soroh Nyuwung ini sudah menikah, jika belum menikah hanya membangun Panungun Karanng saja di rumahnya. Saat telah menikah, maka warga dari Soroh Nyuwung ini wajib membangun satu Pelinggih Gedong Sinapa dengan Rong satu di sebelah utara dari sikut Merajan wilayah kaja-kangin (Timur lau. dalam sikut pekarangan rumah. Pelinggih Gedong Sinapa ini difungsikan untuk memuja Ida Bhatara Kawitan/ Dewa Brahma sebagai Dewa yang ditakini menciptakan mereka. Pelinggih ini akan bertambah jika keturunan dari warga pertama yang Ngarangin ini telah melalui upacara Pawiwahan atau menikah, karena bagi keturunan yang telah menikah, keturunannya ini wajib membuat Palinggih Rong satu yang baru di sebelah timur sikut sanggah sebagai sanggah anten tempat mereka juga memuja kawitan mereka tersendiri, sehingga dalam hal ini, baik generasi pertama maupun generasi kedua sama-sama memiliki Palinggih pamujaannya tersendiri. Tradisi ini kemudian akan berlanjut ke generasi berikutnya, generasi ketiga setelah menikah juga akan melakukan hal yang sama dengan generasi kedua, hanya saja letak Palinggihnya akan berjejer ke sebelah barat atau selatan dari Palinggih milik generasi kedua, dan untuk palinggih atau sanggah anten milik generasi ketiga dapat digabung menjadi satu dengan Palinggih generasi kedua yang berada di sebelah timur sehingga Palinggih yang dimiliki oleh generasi kedua akan berubah bentuk menjadi sebuah palinggih gedong dengan satu pintu/ Rong namun memiliki tiga sekat dan saat ini https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dilakukan maka di Pelinggih milik generasi kedua yang awalnya berstatus sebagai Palinggih Kawitan milik generasi kedua berubah menjadi Palinggih Kamulan yang hadir sebagai media memuja leluhur oleh generasi kedua, ketiga dan seterusnya, sedangkan Palinggih Gedong Sinapa milik generasi pertama tidak berubah posisi dan tetap berada di utara, hanya saja akan ada tambahan palinggih yaitu Palinggih Taksu di sebelah barat Gedong Sinapa milik generasi pertama, serta palinggih Pangrurah disebelah selatan dari Palinggih Kamulan yang dipuja oleh generasi kedua dan seterusnya. Untuk lebih memudahkan dalam mengerti transformasi dari merjan Soroh Nyuwung, maka akan digambarkan sebagai berikut: Gambar 2. Denah Merajan Soroh Nyuwung generasi pertama Sumber: Dokumen Dukuh Suprapta . Keterangan gambar: A : Palinggih Gedong Sinapa ( Rong I) disebut juga dengan Palinggih kawitan Gambar 3. Denah Merajan Soroh Nyuwung untuk generasi pertama dan kedua Sumber: Dokumen Dukuh Suprapta . Keterangan gambar: A : Gedong Sinapa/Gedong Kawitan untuk generasi pertama B : Gedong Sinapa/Gedong kamulan . ong sat. untuk generasi kedua Gambar 4. Denah Merajan Soroh Nyuwung Untuk Generasi Pertama. Kedua dst. Sumber: Dokumen Dukuh Suprapta . https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Keterangan gambar: A : Gedong Sinapa/Gedong kawitan untuk generasi pertama B: Gedong Kamulan dengan satu rong namun terbagi menjadi tiga sekat C: Palinggih Taksu D: Palinggih Pangrurah Untuk Pura kedua yang disucikan oleh Soroh Nyuwung masih berupa pura Kawitan yang disebut dengan Pura Panti Panyuwungan serta disungsung oleh seluruh Soroh Nyuwung di Bali. Hal ini disebabkan karena Pura Panti Panyuwungan di Desa Abianbase Gianyar, adalah satu-satunya Pura yang tersurat di dalam Prasasti Pandya Bang dan disebutkan menjadi pura awal bagi Soroh Nyuwung, sehingga Panyungsung dari Pura ini berasal dari banyak daerah persebaran Soroh Nyuwung seperti daerah Abianbase. Tedung hingga ke desa Gadungan, kabupaten Tabanan. Pura Panti sendiri memiliki sebuah definisi sebagai pura pemujaan leluhur suatu keluarga yang kurang jelas kekerabatannya, dalam artian penyungsungnya sudah termasuk dalam kuantitas yang banyak melebihi Sanggah Pakurenan yang disungsung satu keluarga inti dan Dadya yang disungsung oleh beberapa keluarga inti (Rema, n. Hal ini juga termuat di dalam teks Siwagama sebagai berikut: Asaduluking wwang kawandasa kinon magawaya panti krama, wwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk ibu wangunika, nista sapuluhing sadulung, sanggar prethiwi wangun ika mwang kamulan pamangganya sowangA Terjemahannya: Setiap 40 pekarangan rumah mendirikan panti. Adapun setengah bagian itu yakni 20 pekarangan rumah agar mendirikan palinggih Ibu, sedikitnya 10 pekarangan rumah, supaya mendirikan Palinggih Prethiwi dan Palinggih Kamulan setiap pekarangan rumah sebagai Penghulu nya (Sukada, 2. Meski dalam kutipan teks di atas teruat bahwa untuk membangun Pura Panti harus terdiri dari 40 kepala keluarga, namun dalam sistem Soroh Nyuwung tidak demikian adanya karena Pura Panti panyuwungan adalah tingkatan pura yang paling tinggi yang dimiliki oleh Soroh Nyuwung hal ini terkonfirmasi dalam wawancara dengan Dukuh Suprapta tanggal 12 Juli 2023 yang menjelaskan bahwa pura Panti Panyuwungan adalah pusat dari aktivitas keberagamaan Soroh Nyuwung, baik itu upacara Dewa Yajya seperti Piodalan, upacara Manusa Yajya seperti mapetik, upacara rsi Yajya seperti Mabersih Dukuh hingga upacara Pitra Yajya seperti upacara Pengaskaraan sehingga awal dan akhir semua Puput di Panti dalam artian bahwa, segala macam aktivitas religius berupa ritual keagamaan akan menggunakan Tirtha dari Panti Panyuwungan sebagai sarana penyuciannya dan tidak menggunakan tirtha dari pura lainnya seperti Pura Kahyangan Tiga selayaknya yang lazim dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali. Selain itu pula keberadaan pura Panti Panyuwungan sebagai pura dengan tingkat tertinggi yang dimiliki oleh Soroh Nyuwung menjadikan Soroh ini secara otomatis tidak memiliki dan meyakini pura pada tingkat Pedharman di Besakih. Bagi Dukuh Suprapta, hal ini wajar mengingat entitas Soroh Nyuwung yang memang dipercaya sebagai warga Bali Mula sehingga struktur pura yang muncul belakakangan dari periodenisasi kedatangan mereka tidak di kenal. Untuk struktur dari pura panti panyuwungan pun tergolong unik karena mayoritas berisikan Palinggih dalam model Gedong seperti yang tampak pada gambar berikut ini: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 5. Deretan Palinggih di Pura Panti Panyuwungan Sumber: Dokumentasi Harsananda . Untuk strukturnya sendiri. Pura Panti Panyuwungan hanya memiliki Dwi Mandala yaitu Jaba dan Jeroan, adapun untuk bangunannya di Jaba terdapat 2 Palinggih Apit lawang serta 21 bangungan lainnya berada di jeroan yang terdiri dari 11 Palinggih pemujaan, 2 Bale Piyasan, 1 Bale Patok, 1 Bale Paebatan, 1 Bale pertemuan, 1 Bale Pasimpenan dan 1 dapur, 1 telaga, 1 Bale Kul-Kul dan 1 Bale Panggungan, jika dituangkan dalam bentuk denah akan seperti gambar di bawah ini: Gambar 6. Denah Pura Panti Panyuwungan Beserta Warna Busana Palinggih Sumber: Dokumentasi Harsananda . Keterangan : : Apit Lawang : Bale Kulkul : Bale Mebat : Bale Patok : Bale Piyasan : Dapur/Perantenan : Balai Pertemuan : Bale Piyasan : Bale Pasimpenan : Padma Indrablaka : Palinggih Taksu : Gedong Mahadewa : Gedong Wisnu : Gedong Sinapa : Padmasana : Gedong Kamimitan : Gedong Gunung Agung : Gedong Brahma : Bale Panggungan : Palinggih Tirtha : Telaga : Palinggih Lesung Menurut Dukuh Suprapta (Wawancara, 22 Agustus 2. , keberadaan Pura Panti Panyuwungan hari ini telah melalui banyak perubahan dan adaptasi, beliau menuturkan bahwa Palinggih esensial di Pura Panti tetaplah Palinggih Gedong Sinapa, kemudian berkembang menjadi tiga Palinggih yaitu Gedong Sinapa,Gedong Kamimitan dan gedong Gunung Agung kemudian berkembang menjadi lima Pelinggih dengan menambahkan Gedong Mahadewa dan Gedong Wisnu dan sampai hari ini berkembang menjadi sembilan pelinggih dengan menambahkan Pelinggih Padma Indrablaka, palinggih Taksu. Palinggih Tirtha dan Padmasana. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan penjelasan di atas sesungguhnya terlihat bahwasanya terdapat perbedaan mencolok diantara Soroh Nyuwung dan warga Kramen . ebutan Soroh Nyuwung kepada orang -orang diluar Soroh merek. dalam hal sistem tempat suci yang Ajaran Mpu Kuturan yang diterapkan dalam pola pendirian Pura di Bali dalam bentuk kahyangan Tiga, untuk sebuah desa, sedangkan untuk sebuah keluarga ditetapkan pembangunan sanggah Kemulan Rong Tiga selain juga beliau memperkenalkan bangunan dalam bentuk Gedong dan Meru, hal ini diperkuat dengan beberapa kutipan sloka seperti kutipan dari lontar Catur Lokapala sebagai berikut: A lahya kita manusa kabeh, haywa kita tan enget ri kami, mulaning sariranta kabeh, kami Sang Hyang Guru Reka, angreka sahisining rat kabeh, kami sinanggah Bhatari Hyang Widhi. Dewa Hyang Kawitanta kabeh, kami panunggalanira sanghyang siwa uma kala, kami masarira sanghyang brahma wisnu iswara, mengete kita kabeh, mangke wenang kita samuha, magawe sanggar kawitanta rong tiga sana, apan mabeda beda pawittaning wang, padha wijiling pancasiwa, sadparamartha teka kami, kami utpatti sthiti linantaA Terjemahannya: Asebagai manusia jangan lupa kepadaku, akulah asal semua badanmu, aku adalah Sang Hyang Guru Reka, yang membuat semua isi dunia, aku disebut Bhatari Hyang Widhi. Dewa Hyang Kawitanmu semua, aku menyatu dengan Sang Hyang Siwa Uma Kala, aku berbadan Sang Hyang Brahma Wisnu Iswara, ingatlah semua, sekarang kamu wajib bermufakat, membuat sanggah kawitan rong tiga, karena berbeda-beda asalnya manusia, keluar dari Panca Siwa. Sada Paramasrtha padaku, aku pencipta, pemelihara, pengembalimuA (Sukada, 2. Kemudian ada juga kutipan dari lontar Raja Purana sebagai berikut: Angraris nangun catur agama, catur lokhita bhasa, catur sila, makadi ngewangun sanggah kamulan, kahnyangan tiga pura dalem, puseh mwang bale agungA Terjemahannya: Aselanjutnya diterapkan empat peraturan agama, empat cara berbahasa, empat ajaran daam kesusilaan, termasuk membuat sanggah kemulan, kahyangan tiga pura Dalem. Puseh dan Bale Agung (Sukada, 2. Untuk perbedaan bentuk Kamulan sendiri sesungguhnya dapat dipahami dengan logis, disebabkan periodenisasi kedatangan leluhur dari Soroh Nyuwung dapat dikatakan berada dalam periodenisasi yang sama dengan kedatangan Mpu Kuturan di Bali, meski secara angka tahu, belum dapat ditentukan secara pasti angka tahun kedatangan Mpu Kuturan disebabkan ada banyaknya variasi sumber sastra yang memuat angka tahun kedatangan Mpu Kuturan, namun dapat di generalisir, masa Mpu Kuturan berada dalam rentang angka tahun 1001 MAe1384 M (Ardiyasa, 2. dan angka tahun kedatangan leluhur Soroh Nyuwung yaitu Pandya Bang diperkirakan ada pada angka tahun 1204 M sehingga wajar, warisan ajaran Mpu Kuturan ini tidak diadopsi oleh Soroh Nyuwung disamping perbedaan keyakinan yang dimiliki oleh Soroh Nyuwung itu sendiri. Selain itu pula menurut penelitian Rema. Kamulan pada dasarnya memang memiliki rong satu atau rong tunggal, namun dalam perkembangannya mengalami penyesuaian dengan konsep Tri Murti yang terdiri dari Brahma. Wisnu dan Iswara sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi, sehingga palinggih Rong Telu hari ini memiliki peran ganda yaitu sebagai sarana memuja leluhur dan memuja Tri Murti (Rema, ) berdasarkan hal ini dapat disimpulkan. Palinggih kamulan yang ada pada Soroh Panyuwungan sejatinya memang berfungsi sebagai pemujaan leluhur tanpa keterlibatan keyakinan terhadap Tri Murti yang menyebabkan juga Soroh Nyuwung pada akhirnya tidak terkorelasi dan membangun relasi keyakinan dan peribadatan dengan Pura https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kahyangan Tiga di Desa Abianbase. Kabupaten Gianyar. Untuk Palinggih Padmasana yang ada di Pura Panti panyuwungan sendiri, menurut Dukuh Suprapta juga tergolong baru yang dibangun ekitar tahun 80Aoan dengan fungsi melengkapi palinggih yang ada di panti agar sesuai dengan kemajuan jaman meski dikatakan, padmasana bukanlah Palinggih pokok bagi Soroh Nyuwung hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Guermonprez yang tertuang dalam bukunya AuSoroh Pande di Bali pembentukan Kasta dan Nilai GelarAy yang mengemukakan bahwa terdapat sekelompok warga di Abianbase dan Cemenggawon yang tidak dikenal sebagai Pande namun memiliki panggilan kehormatan Mawang dan Suung atau Panyuwung. Kelompok ini juga memiliki pendeta mereka sendiri yang disebut dengan Dukuh dan di pura mereka tidak terdapat padmasana dan Palinggih yang paling dihormati memiliki nama yang sangat istimewa yaitu Gedong Sinapa (Guermonprez, 2. , namun bukan berarti Soroh Nyuwung tidak mengenal Padmasana. Keberadaan Padmasana pada Soroh Nyuwung tidak dikenal sebagai sebuah Palinggih melainkan hadir sebagai sebuah Wadah saat upacara Ngaben yang digunakan oleh Dukuh Pengaryp saat beliau meninggal dunia, hal ini sejalan dengan tradisi bagi warga kramen yang menggunakan Padmasana sebagai wadah/bade bagi Brahmana warna. Penggunaan Bade untuk Brahmana Warna dalam wujud Padmasana karena diyakini seorang pandita adalah Sang Adi Guru Loka. Ia memiliki tugas untuk memberikan pengabdiannya kepada umat dalam bidang agama (Suyoga, n. Berdasarkan uraian yang telah menjelaskan tentang bagian sub-sistem di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam merumuskan sistem pemujaan Soroh Nyuwung di Desa Abianbase. Kabupaten Gianyar setidaknya terdapat 3 bagian sub- sistem yang menjadi penopangnya yaitu yang pertama sistem keyakinan terhadap leluhur serta Hyang Sinuhun Kidul, kemudian yang kedua sistem Dukuh sebagai entitas orang suci bagi Soroh Nyuwung serta yang ketiga adalah Gedong Sinapa selaku palinggih atau media bagi Soroh Nyuwung dalam melaksakan pemujaan. Ketiga subsistem ini bersinergi dalam suatu relasi yang yang saling terkait satu dengan lainnya, hal ini sejalan dengan teori sistem yang mengemukakan bahwa dalam sebuah sistem terdapat tiga asumsi mendasar yaitu pertama adanya dimensi menyeluruh dari sebuah sistem, yang kedua adanya subsistem yang terorganisir dan yang ketiga sistem dapat bersifat terbuka meski dalam upaya mempertahankan eksitensi keseluruhannya (Bertalanffy, 1. Penggabaran tentang sistem pemujaan ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 7. Ilustrasi Relasi Antara Subsistem Menjadi Suatu Sistem Pemujaan Yang Utuh Sumber: Dokumentasi Harsananda . https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pada gambar ilustrasi di atas dapat dijelaskan bahwasanya dalam sistem pemujaan Soroh Nyuwung terdapat tiga bagian subsistem yaitu keyakinan, orang suci atau dalam hal ini Dukuh kemudian yang ketiga adalah tempat suci yang dalam hal ini meliputi Sanggah dan Pura Panti Panyuwungan. Penggambaran ketiga subsistem dalam tiga lingkaran yang berbeda menunjukkan batas yang jelas diantara masing- masing masing subsistem, lalu satu lingkaran besar yang menggambar bahwa susbsistem yang terpisahpisah tersebut dari menjadi satu kesatuan sistem yang utuh (Wholis. Subsistem keyakinan hadir sebagai subsistem awal dalam perumusan sistem pemujaan, keyakinan Soroh Nyuwung berlandaskan pada Prasasti Pandya Bang yang lejat dengan keyakinan geneologis yang telah diwarisi, keyakinan ini sendiri sebagai subsistem tidak dapat berdiri sendiri dan wajib terkoneksi dengan subsistem lainnya sebagai sebagai bentuk ketergantungan antar subsistem untuk membentuk suatu sistem yang utuh sesuai dengan teori sistem (Amirin, 2. Dalam hal ini Dukuh menjadi subsistem kedua yang hadir dalam sistem pemujaan Soroh Nyuwung dan yang ketiga adalah subsistem tempat suci. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan Dukuh Suprapta sebagai berikut Bagi kami Soroh Nyuwung di Desa Abianbase, dalam proses pemujaan yang kami lakukan memang selalu dilandasi oleh kutipan prasasti sebagai landasan kami, walaupun dalam prosesnya. Kak Dukuh masih ikut belajar dan membandingkan apa yang sebelumnya dipercaya oleh Sorong Nyuwung dengan apa yang diyakini oleh Soroh Kramen, siapa tahu ada penyempurnaan-penyempurnaan yang bisa Kak Dukuh buat meski tidak sempurna sekali dan tidak melenceng dari keyakinan yang selama ini sudah ada, selain itu pula Nini Dukuh selaku Dukuh Pengaryp dan Dukuh -Dukuh Pengiring lainnya selalu berusaha untuk hadir sebagai panglingsir yang memimpin upacara serta membimbing dalam proses pembuatan upakara bebantenan meskipun tidak dipungkiri, beberapa jenis upakara dan bebantenan ada juga penambahan dari apa yang termuat dalam prasasti, karena tidak dipungkiri, dalam perkembangan Soroh ini ada faktor seperti perkawinan yang membuat adanya variasi dari bebantenan Soroh Kramen, dan bukan banten saja. Palinggih palinggih juga ada beberapa penambahan karena dulu ya palinggih nya cuma Gedong Sinapa saja, sekarang sudah ada Padmasana karena mungkin panglingsir terdahulu juga melihat Palinggih di luar Soroh kami, dan karena di panti ada Padmasana jadi ada juga warga lain yang membangun Padma dirumahnya, apalagi bagi mereka memiliki anggota keluarga yang sudah menikah keluar keluarga, tapi itu tidak jadi masalah selama Gedong Sinapa selaku Palinggih pokok tetap ada dan keyakinan mereka tetap menjadikan Pura Panti sebagai pusat upacara karena ada bahasa turun temurun yaitu sami puput ring panti . emua selesai di Pant. dan syukurnya sampai hari ini, tradisi itu tetap berjalan (Wawancara, 12 Juli 2. Berdasarkan dari kutipan wawancara di atas sesungguhnya dapat dilihat ciri- ciri suatu sistem menurut teori sistem itu sendiri yaitu pertama adanya tujuan yang sama dari hadirnya ketiga subsistem yaitu Keyakinan. Dukuh dan tempat suci yaitu terwujudnya suatu pemujaan, yang kedua sistem pemujaan Soroh Nyuwung sejatinya memiliki batasan atau Boundaries yang memisahkan sistem pemujaan Soroh Nyuwung dengan sistem pemujaan yang dilakukan oleh Soroh lainnya, yang ketiga, meskipun memiliki boundaries namun sistem pemujaan Soroh Nyuwung bersifat terbuka dalam artian menerima penyesuaian -penyesuaian yang hadir akibat interaksi dengan sistem pemujaan yang berbeda dalam lingkungannya dan yang terakhir. Dukuh dapat hadir sebagai subsistem yang berfungsi untuk menjadi mekanisme kontrol sehingga dapat mengatur sistem pemujaan yang telah ada hingga transformasi yang hadir akibat dari interaksi sistem pemujaan Soroh Nyuwung dengan sistem pemujaan lainnya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Sistem pemujaan Soroh Nyuwung di Desa Abianbase Kabupaten Gianyar merupakan sebuah sistem pemujaan yang unik dan berbeda jika dibandingkan dengan Soroh lainnya di Bali. Sistem yang unik ini didasarkan pada tiga realitas subsistem yaitu keyakinan Soroh Nyuwung yang menitik beratkankan keyakinannya pada Sang Hyang Sinuhun Kidul yang terafiliasi erat dengan Dewa Brahma. Pewarisan keyakinan ini kemudian dijaga dengan apik oleh kehadiran Dukuh atau pemuka agama bagi Soroh Nyuwung. Melalui sistem Dukuh yang membagi Dukuh dalam dua varian berbeda yaitu Dukuh Pengarep yang memiliki fungsi Dukuh tertingi dan utama serta Dukuh Pengabih yang hadir sebagai Support system bagi Dukuh Pengarep. Selain dua bagian subsistem diatas terdapat pula subsistem ketiga yaitu tempat ibadah yang dikenal dengan Panti Panyuwungan yang di dalamnya terdapat Palinggih yang disebut Gedong Sinapa sebagai media bagi Soroh Nyuwung dalam upaya mendekatkan dirinya dengan leluhur Daftar Pustaka