JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 9 Nomor 1. Januari 2026 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA GELARWANGI KECAMATAN CIDAUN KABUPATEN CIANJUR MELALUI BUDIDAYA IKAN BAWAL Iis1. Agus Hasbi Noor2. Ema Aprianti3 1,2,3 Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Siliwangi. Cimahi. Jawa Barat. Indonesia 198812132019032009@mail. Received: Desember, 2025. Accepted: Januari, 2026 Abstract This study examines efforts to empower the economy of Gelarwangi Village through pomfret farming as a response to the potential of natural resources that have not been optimally utilized. Although the village has adequate land and mountain water sources, limited human resources and low technical knowledge of farming are the main obstacles. The challenges faced include difficulties in accessing fish feed, the use of unsuitable alternative feeds, fluctuations in fish prices, limited market absorption, and a lack of community understanding of aspects such as hatchery, nursery, grow-out, feed nutrition, fish health, the environment, and good farming practices. This study uses a qualitative approach with a case study method to explore the dynamics of the empowerment program and its impact on the community. Data were collected through semi-structured interviews, documentation studies, and field observations. The results showed that during the four-month production period, the average income of the group reached IDR 17,000,000. 00, with individual income contributions of around IDR 560,000. 00, thus having a positive impact on improving the community's economy, especially the Seni Gentra Parahiangan Group. Keywords: Community empowerment, cultivation. Pomfret Abstrak Penelitian ini mengkaji upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Gelarwangi melalui kegiatan budidaya ikan bawal sebagai respons terhadap potensi sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal. Meskipun desa memiliki lahan dan sumber air pegunungan yang memadai, keterbatasan sumber daya manusia dan rendahnya pengetahuan teknis budidaya menjadi hambatan utama. Tantangan yang dihadapi meliputi kesulitan akses pakan ikan, penggunaan pakan alternatif yang tidak sesuai, fluktuasi harga ikan, keterbatasan daya serap pasar, serta minimnya pemahaman masyarakat mengenai aspek pembenihan, pendederan, pembesaran, nutrisi pakan, kesehatan ikan, lingkungan, dan praktik budidaya yang baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menggali dinamika program pemberdayaan dan dampaknya terhadap masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, studi dokumentasi, dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode produksi empat bulan, rata-rata pendapatan kelompok mencapai Rp17. 000,00 dengan kontribusi pendapatan individu sekitar Rp560. 000,00, sehingga memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya Kelompok Seni Gentra Parahiangan. Kata Kunci: Pemberdayaan masyarakat, budidaya, ikan bawal How to Cite: Iis. Noor. & Aprianti. Pemberdayaan Masyarakat Desa Gelarwangi Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur Melalui Budidaya Ikan Bawal. Comm-Edu (Community Education Journa. , 9 . , 42-47. PENDAHULUAN Pembangunan pedesaan berbasis potensi lokal menjadi strategi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Badan Pusat Statistik Volume 9. No. Januari 2026 pp 42-47 menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi sumber mata pencaharian utama penduduk perdesaan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, dengan kontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja namun masih dihadapkan pada persoalan rendahnya produktivitas dan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (BPS. Kondisi tersebut tercermin di Desa Gelarwangi. Kecamatan Cidaun. Kabupaten Cianjur, yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, pedagang kecil, dan pekerja jasa konstruksi dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Secara geografis. Desa Gelarwangi memiliki potensi sumber daya perairan yang memadai untuk pengembangan budidaya ikan air tawar, ditunjang oleh ketersediaan lahan dan sumber air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan pengetahuan teknis budidaya, rendahnya akses terhadap pakan dan sarana produksi, serta minimnya pengalaman masyarakat dalam pengelolaan usaha Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kegagalan pemanfaatan potensi lokal di pedesaan sering kali disebabkan oleh lemahnya kapasitas manusia dan kurangnya pendampingan berbasis pemberdayaan (Putri et al. , 2. Sebagai respons atas kondisi tersebut. Pemerintah Desa Gelarwangi menginisiasi program budidaya ikan bawal yang dilaksanakan melalui kelompok seni Gentra Parahiangan. Pendekatan ini sejalan dengan teori pemberdayaan masyarakat yang menekankan pentingnya partisipasi aktif, penguatan kapasitas, dan pemanfaatan modal sosial lokal dalam proses pembangunan (Zimmerman, 2. Selain itu, kegiatan ini relevan dengan teori penghidupan berkelanjutan . ustainable livelihood. yang menempatkan aset alam, manusia, dan sosial sebagai fondasi peningkatan kesejahteraan masyarakat (Scoones, 2. Dari perspektif pendidikan masyarakat, program ini mencerminkan prinsip andragogi dan pembelajaran kontekstual, di mana masyarakat belajar melalui pengalaman langsung dan praktik sosial yang relevan dengan kebutuhan hidupnya (Knowles et al. , 2. Penelitian ini memiliki nilai kebaruan karena mengkaji pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui budidaya ikan bawal yang dilaksanakan oleh kelompok seni sebagai aktor nonekonomi, suatu pendekatan yang masih jarang ditelaah dalam kajian pendidikan masyarakat. Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi empiris mengenai integrasi program bantuan desa dengan proses pembelajaran masyarakat berbasis potensi lokal. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah desa dan praktisi pendidikan masyarakat dalam merancang model pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan, partisipatif, dan kontekstual dengan karakteristik sosial budaya masyarakat pedesaan. METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2025 di Desa Gelarwangi Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mengeksplorasi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Metode studi kasus dipilih karena kemampuannya dalam memberikan investigasi mendalam terhadap dinamika program, dengan fokus pada pengalaman dan dampak yang lebih luas terhadap masyarakat lokal. Hasil dan pembahasan berasal dari berbagai literatur, seperti artikel jurnal, buku, website dan sumber lainnya yang terkait dengan materi yang dibahas. Pendekatan ini menawarkan pemahaman komprehensif tentang bagaimana inisiatif budidaya ikan bawal berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan kohesi sosial. Iis. Noor & Aprianti. Pemberdayaan Masyarakat Desa Gelarwangi Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur Melalui Budidaya Ikan Bawal Penelitian ini melibatkan 10 partisipan yang dipilih secara acak dan terlibat langsung dalam program budidaya ikan bawal. Para peserta ini mewakili berbagai peran dalam masyarakat, termasuk 5 orang dari kelompok seni, 3 orang pemerintah desa, dan 2 anggota masyarakat. Dengan memilih peserta yang memiliki tingkat keterlibatan yang berbeda, studi ini mampu mengumpulkan berbagai perspektif mengenai dampak program terhadap ekonomi sosial, sehingga memastikan adanya analisis yang menyeluruh. Data diperoleh dengan wawancara semi terstruktur, studi dokumen, dan observasi lapangan. Wawancara semi terstruktur memberikan wawasan rinci dari informan utama, seperti pembudidaya ikan bawal, pemimpin lokal, dan pelaku pasar dengan fokus terhadap dampak program pada kondisi ekonomi, hubungan sosial dan tantangan yang dihadapi. Selain itu, observasi lapangan dilakukan untuk mendokumentasikan praktik pengelolaan, dan interaksi masyarakat sehingga memberikan data kontekstual yang berharga untuk melengkapi wawancara dan diskusi kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian mengenai analisis biaya dan pendapatan pada kegiatan budidaya ikan bawal di Desa Gelarwangi diperoleh melalui instrumen wawancara mendalam dan observasi lapangan yang dilakukan secara sistematis. Wawancara dilakukan dengan pengelola kelompok budidaya, aparatur pemerintah desa, serta anggota kelompok yang terlibat langsung dalam proses produksi. Sementara itu, observasi difokuskan pada aktivitas budidaya, pengelolaan sarana produksi, serta praktik pencatatan biaya dan hasil usaha. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran empiris mengenai struktur biaya, mekanisme pembiayaan, serta capaian ekonomi yang dihasilkan dari program budidaya ikan bawal sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa seluruh biaya budidaya ditanggung oleh pemerintah desa sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi lokal. Skema pembiayaan ini dirancang untuk meminimalkan risiko ekonomi yang harus ditanggung oleh masyarakat pada tahap awal usaha. Biaya yang dikeluarkan terbagi ke dalam biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap meliputi pemeliharaan kolam, peralatan dasar budidaya, serta kebutuhan operasional rutin yang relatif tidak terpengaruh oleh jumlah produksi. Rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp300. 000,00 per bulan. Informan menyampaikan bahwa biaya tetap tersebut bersifat stabil dan dapat diprediksi, sehingga memudahkan perencanaan kegiatan budidaya dalam jangka menengah. Sementara itu, biaya variabel terutama berkaitan dengan kebutuhan pakan, benih, serta pengeluaran tambahan yang bergantung pada intensitas produksi. Hasil observasi menunjukkan bahwa komponen pakan menjadi pengeluaran terbesar dalam struktur biaya Rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp500. 000,00 per bulan. Dalam wawancara, beberapa anggota kelompok menyatakan bahwa fluktuasi harga pakan sering kali menjadi tantangan tersendiri, karena berpengaruh langsung terhadap efisiensi biaya Meskipun demikian, dukungan pembiayaan dari pemerintah desa dinilai mampu menjaga keberlanjutan kegiatan budidaya agar tetap berjalan secara konsisten. Analisis penerimaan dan pendapatan menunjukkan bahwa kegiatan budidaya ikan bawal memberikan hasil ekonomi yang relatif signifikan bagi kelompok. Berdasarkan data hasil Volume 9. No. Januari 2026 pp 42-47 wawancara dan catatan produksi kelompok, rata-rata pendapatan yang diterima mencapai sekitar Rp17. 000,00 per kelompok dalam satu periode produksi. Pendapatan tersebut diperoleh dari hasil penjualan ikan bawal yang dipasarkan di tingkat lokal dan regional. Observasi lapangan menunjukkan bahwa kualitas ikan yang dihasilkan cukup baik, sehingga memiliki daya saing di pasar meskipun harga ikan cenderung berfluktuasi. Jika pendapatan kelompok tersebut dibagi kepada anggota, maka rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap individu mencapai sekitar Rp560. 000,00. Meskipun nilai ini belum sepenuhnya menjadi sumber pendapatan utama bagi seluruh anggota, hasil wawancara menunjukkan bahwa tambahan penghasilan tersebut dirasakan cukup berarti dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Anggota kelompok juga mengungkapkan bahwa keterlibatan dalam budidaya ikan bawal tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam pengelolaan usaha perikanan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur biaya yang relatif terkendali dan dukungan pembiayaan dari pemerintah desa berkontribusi positif terhadap pencapaian pendapatan kelompok. Temuan ini menegaskan bahwa budidaya ikan bawal berpotensi menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan dan didukung oleh peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pembahasan Analisis biaya merupakan aspek fundamental dalam menilai efisiensi dan keberlanjutan usaha budidaya perikanan, karena biaya merepresentasikan seluruh pengorbanan sumber daya ekonomi yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan produksi dan pendapatan optimal. Dalam konteks usaha budidaya ikan air tawar, pembagian biaya ke dalam biaya tetap dan biaya variabel lazim digunakan untuk menggambarkan struktur pengeluaran secara sistematis dan akurat (Rahayu & Wulandari, 2. Pembagian ini memungkinkan pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk memahami komponen biaya yang bersifat konstan serta biaya yang dipengaruhi langsung oleh volume produksi. Berdasarkan hasil penelitian di Desa Gelarwangi, biaya tetap dalam kegiatan budidaya ikan bawal terutama berasal dari penyusutan alat produksi. Kepemilikan lahan secara mandiri oleh kelompok budidaya menyebabkan tidak adanya pengeluaran biaya sewa lahan, sehingga biaya tetap difokuskan pada peralatan penunjang seperti cangkul, sabit, ember, waring, saringan ikan, pipa paralon, dan selang buang. Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa peralatan tersebut digunakan secara berulang dalam setiap siklus produksi, sehingga perhitungan penyusutan menjadi relevan sebagai komponen biaya tetap. Rata-rata biaya penyusutan alat yang dikeluarkan sebesar Rp300. 000,00 per produksi mencerminkan skala usaha kecil yang masih mengandalkan peralatan sederhana namun fungsional. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa penyusutan alat merupakan komponen biaya tetap utama pada usaha budidaya ikan skala rakyat (Lestari et al. , 2. Sementara itu, biaya variabel dalam kegiatan budidaya ikan bawal di Desa Gelarwangi terdiri atas biaya benih dan biaya pakan. Biaya ini bersifat fluktuatif karena sangat bergantung pada jumlah ikan yang dibudidayakan serta lama waktu pemeliharaan. Hasil wawancara dengan anggota kelompok budidaya mengungkapkan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam biaya variabel, mengingat kebutuhan nutrisi ikan bawal yang relatif tinggi untuk mencapai pertumbuhan optimal. Total biaya variabel yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp500. 000,00 per produksi. Kondisi ini memperkuat temuan penelitian sebelumnya yang Iis. Noor & Aprianti. Pemberdayaan Masyarakat Desa Gelarwangi Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur Melalui Budidaya Ikan Bawal menyebutkan bahwa biaya pakan mendominasi struktur biaya variabel pada usaha budidaya ikan air tawar, terutama pada fase pembesaran (Sari et al. , 2. Analisis penerimaan dan pendapatan dilakukan untuk menilai tingkat keuntungan usaha budidaya ikan bawal. Secara ekonomi, usaha dikatakan menguntungkan apabila selisih antara penerimaan dan biaya total bernilai positif. Dalam penelitian ini, penerimaan dihitung berdasarkan hasil penjualan ikan bawal pada akhir siklus produksi. Data menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan yang diperoleh mencapai Rp17. 000,00 per produksi. Nilai ini diperoleh dari kuantitas ikan yang dihasilkan dan harga jual yang berlaku di pasar lokal. Hasil observasi menunjukkan bahwa kualitas ikan yang dihasilkan cukup baik, sehingga dapat diterima oleh pasar meskipun harga ikan cenderung berfluktuasi. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian lain yang menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap stabilitas penerimaan usaha budidaya ikan (Pratama & Nugroho, 2. Pendapatan bersih yang diperoleh kemudian dibagi kepada anggota kelompok, sehingga ratarata pendapatan per orang mencapai sekitar Rp560. 000,00 per produksi. Meskipun jumlah tersebut belum menjadi sumber pendapatan utama, hasil wawancara menunjukkan bahwa tambahan pendapatan ini dirasakan cukup signifikan dalam membantu pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Selain manfaat ekonomi, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan budidaya juga meningkatkan pemahaman mengenai manajemen biaya dan produksi. Dengan demikian, budidaya ikan bawal di Desa Gelarwangi tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan ekonomi produktif, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas dan kemandirian ekonomi, sebagaimana ditegaskan dalam studi-studi pemberdayaan ekonomi berbasis perikanan skala komunitas (Putri et al. , 2. Adapun program pemberdayaan melalui budidaya ikan bawa di desa Gelarwangi memiliki nilai penting dalam mengembangkan kapasitas masyarakat sesuai dengan potensi di tengah masyarakat, ini menjadi poin penting dalam upaya pemberdayaan, dimana masyarakat memahami peran dan fungsinya dalam program yang akan dilaksanakan (Pratama, et. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa program pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan budidaya ikan bawal di Desa Gelarwangi merupakan bentuk pemanfaatan potensi lokal yang strategis dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pedesaan. Secara empiris. Desa Gelarwangi memiliki sumber daya alam yang mendukung pengembangan budidaya perairan, khususnya ketersediaan lahan dan sumber air yang berkelanjutan. Namun demikian, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dan rendahnya pengetahuan teknis budidaya menjadi faktor penghambat optimalisasi potensi tersebut. Melalui intervensi program yang diinisiasi oleh pemerintah desa dan dilaksanakan secara partisipatif oleh kelompok seni Gentra Parahiangan, masyarakat memperoleh ruang belajar yang kontekstual dan berbasis pengalaman dalam mengelola usaha budidaya ikan air tawar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur biaya budidaya ikan bawal relatif terkendali, dengan biaya tetap yang didominasi oleh penyusutan alat dan biaya variabel yang terutama berasal dari pengadaan benih dan pakan. Dukungan pembiayaan dari pemerintah desa berperan penting dalam meminimalkan risiko ekonomi pada tahap awal usaha. Dari sisi ekonomi, kegiatan budidaya ini mampu menghasilkan penerimaan yang bernilai positif dan memberikan tambahan pendapatan bagi anggota kelompok, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi rumah tangga meskipun belum sepenuhnya menjadi sumber penghidupan utama. Volume 9. No. Januari 2026 pp 42-47 Lebih jauh, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam kajian keilmuan pendidikan Kegiatan budidaya ikan bawal berfungsi sebagai wahana pembelajaran orang dewasa yang bersifat partisipatif, kontekstual, dan berbasis potensi lokal. Proses pemberdayaan yang berlangsung menunjukkan bahwa pendidikan masyarakat tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada penguatan kapasitas, kemandirian, dan kesadaran kritis masyarakat dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya perspektif pendidikan masyarakat dengan menghadirkan praktik pemberdayaan ekonomi sebagai medium pembelajaran sosial yang relevan, aplikatif, dan berkelanjutan dalam konteks pembangunan pedesaan. DAFTAR PUSTAKA