Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 GAMBARAN SAFETY CULTURE DALAM KEJADIAN DAN PENANGANAN KECELAKAAN KERJA PADA DEPARTEMEN FOOD AND BEVERAGE DI HOTEL X Ni Luh Putu Yasinta Suryaningtyas*1. Ni Kadek Ayu Suarningsih1. Meril Valentine Manangkot1. Ni Ketut Guru Prapti1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: yasitasurya31@gmail. ABSTRAK Keperawatan pariwisata mengkaji berbagai aspek terkait dengan kesehatan wisatawan, kesehatan masyarakat setempat, dan penyedia layanan pariwisata, dengan sektor perhotelan sebagai layanan pariwisata terpopuler. Salah satu departemen yang krusial dalam industri perhotelan adalah Departemen Food and Beverage (F&B), yang bertanggung jawab menyediakan makanan dan minuman berkualitas. Akan tetapi, departemen ini juga menghadapi risiko tinggi terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K. Untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja, penting untuk meningkatkan safety culture di sektor perhotelan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan safety culture dalam kejadian dan penanganan kecelakaan kerja pada Departemen F&B di Hotel Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner SCART yang telah dimodifikasi kepada 121 pegawai Departemen F&B dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan, mayoritas pegawai adalah laki-laki . ,2%) dengan usia 26-35 tahun . ,1%). Mayoritas pegawai memiliki latar pendidikan SMA/SMK . ,0%) dan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun . ,0%). Terdapat 14,0% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan kuliner/hospitality dan sebanyak 22,3% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan K3. Insiden paling sering terjadi akibat benda tajam yaitu sebesar 30,6%, dengan mayoritas kecelakaan dikategorikan sebagai ringan . ,2%). Evaluasi safety culture Departemen F&B mendapatkan skor 739,25 yang mendapatkan kategori B. Pelatihan K3 secara konsisten dan berkala perlu dilakukan sehingga penyedia layanan pariwisata dapat mengoptimalkan kualitasnya. Kata kunci: departemen F&B, kecelakaan kerja, safety culture ABSTRACT Tourism nursing investigates different elements of the health of tourists, local communities, and tourism service providers, with the hotel industry being an important component of tourism services. Within the hotel sector, the Food and Beverage (F&B) Department is critical to supplying high-quality food and beverages. However, this department faces severe occupational health and safety risks (K. To reduce workplace accidents, it is critical to improve safety culture in the hotel industry. The purpose of this study is to illustrate the safety culture surrounding occurrences and the management of workplace accidents in The X Hotel's F&B Department. The study uses a quantitative approach, with an analytical descriptive design. The study uses a quantitative approach, with an analytical descriptive design. Primary data is gathered through a modified SCART questionnaire distributed to 121 F&B Department employees using total sampling. Data analysis applies descriptive statistical methodologies. According to the study's findings, the majority of employees . 2%) are male and 33. 1 percent are between the ages of 26 and 35. The majority of employees have a high school or practical school education . 0%) and more than five years of work experience . 0%). Notably, 14. 0% of employees have never attended culinary/hospitality training, while 22. 3% have not had K3 training. Sharp objects are the most common cause of incidents . 6%), with minor accidents accounting for the majority . 2%). The F&B Department's safety culture is rated as 'B', with a score of 739. Consistent and periodic K3 training is crucial to improve the quality of tourism service Keywords: F&B department, safety culture, workplace accidents Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Bali merupakan salah satu destinasi wisata terpopuler di Indonesia dan dunia, dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 2,1 juta orang dan wisatawan domestik sebanyak 8 juta orang pada tahun 2022 (Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2. Meskipun sempat mengalami penurunan drastis akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020, kunjungan wisatawan ke Bali meningkat kembali pada tahun 2022. Bali menarik wisatawan dengan berbagai daya tarik seperti pantai, gunung, pura, festival, kuliner, dan budaya (Tenaya & Salma. Untuk memastikan wisatawan dapat menikmati daya tarik tersebut dengan aman dan nyaman, pelayanan kesehatan yang berkualitas dari keperawatan pariwisata menjadi sangat penting. Keperawatan perkembangan dalam ilmu keperawatan yang berdasarkan kearifan lokal dan nilainilai kebudayaan (Swedarma et al. , 2. Bidang ini mengkaji kesehatan wisatawan, masyarakat setempat, dan pihak-pihak dalam industri pariwisata (Wirawan, 2. Keperawatan edukasi kesehatan kepada wisatawan dan membantu mengidentifikasi serta menangani risiko kesehatan yang mungkin timbul di destinasi wisata (Fadli & Subekti, 2. Kebutuhan akan akomodasi atau hotel meningkat seiring bertambahnya jumlah wisatawan (Nathania & Susetya, 2. Tingkat okupansi kamar hotel berbintang di Indonesia pada November 2023 mencapai 56,72%, dan mengalami peningkatan sebesar 2,31 poin dari November 2022 (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, 2. Hotel adalah organisasi jasa yang melayani tamu dengan pelayanan berkualitas, menyediakan tempat istirahat, menginap, makan dan minum, meeting, serta aktivitas lain selama berwisata (Solihin et al. , 2. Departemen Food and Beverage (F&B) dalam hotel memiliki peran penting karena berinteraksi langsung dengan tamu dan menjadi sumber pendapatan terbesar kedua setelah kamar. Tugas utama departemen ini adalah menyediakan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 makanan dan minuman sesuai dengan standart operational product (Wulansari & Hakim, 2. Departemen F&B juga memastikan penerapan protokol kesehatan yang ketat, termasuk sanitasi, hygiene, dan K3, untuk tamu dan karyawan (Kasmin et , 2. Departemen F&B berbagai tantangan dan risiko terkait K3. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan RI . menunjukkan bahwa sektor perdagangan dan jasa, termasuk perhotelan, memiliki 21,4% kasus kecelakaan kerja, 152 kasus yang terus Di Nilai Springs Resort Hotel pada 2016, terdapat 52 kejadian kecelakaan kerja, termasuk keseleo, patah tulang, memar, tertusuk, terbakar, tergelincir, dan luka oleh benda tajam (Indrawati, 2. Hotel X Jakarta dilaporkan terjadi kebakaran pada Oktober 2015 berdasarkan informasi hasil wawancara dengan mantan pegawai dan hotelier berpengalaman, dipublikasikan secara luas di media (Istriarto, 2. Tantangan keamanan di F&B masih kompleks, menunjukkan program K3 belum efektif dalam pencegahan kecelakaan kerja. Peningkatan safety culture di sektor perhotelan adalah upaya penting untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja. Safety culture merupakan nilai, sikap, dan perilaku terkait K3 dalam organisasi (Kharismasari. Safety culture meningkatkan kewaspadaan, kesadaran keselamatan, kepatuhan prosedur, dan dorongan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman (Ristayani & Listyowati, 2. Hotel X di Nusa Dua. Bali, memiliki program pelatihan K3 rutin untuk seluruh karyawan, termasuk Departemen F&B. Pelatihan mencakup berbagai aspek seperti Security & Awareness. Fire Safety, dan Crisis Management Plan, melibatkan instruktur internal dan eksternal. Meski demikian, insiden kecelakaan kerja masih terjadi, seperti kebakaran kompor pada September 2023 yang menyebabkan cedera ringan pada pegawai, serta masih ada Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 pegawai Departemen F&B yang belum mengikuti pelatihan K3. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah studi kuantitatif yang termasuk dalam jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan crosectional. Penelitian ini juga sudah dilakukan uji kelayakan etik dengan nomor surat 0831/UN14. VII. 14/LT/2024, serta telah memenuhi prinsip etika penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode total sampling, di mana sampelnya adalah seluruh pegawai Departemen F&B yang berjumlah 121 responden. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara menyebarkan kuesioner dengan dua jenis item, yaitu kuesioner data demografi dan kuesioner Safety Culture Assessment Review Team (SCART) yang telah dimodifikasi oleh Instrumen SCART yang digunakan merupakan adaptasi dari Miranda et al . dengan penyesuaian redaksi sesuai konteks kerja Departemen F&B tanpa mengubah konstruk dan dimensi aslinya. Kuesioner terdiri dari 37 pernyataan yang mencerminkan lima karakteristik safety culture dan diukur menggunakan skala Likert 5 poin . = buruk hingga 5 = sangat Skor dihitung dengan sistem pembobotan menggunakan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP), kemudian diklasifikasikan ke dalam peringkat A-E . entang skor 0-1. Uji dilakukan pada 22 responden dengan karakteristik serupa dengan sampel Seluruh item dinyatakan valid . hitung > r tabel 0,423. = 0,. dan memiliki reliabilitas sangat tinggi dengan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,980. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Karakteristik Umum Pegawai Departemen F&B Hotel X (N=. Karakteristik Pegawai Departemen Frekuensi . F&B Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Usia 17-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun 56-65 tahun Total Tingkat Pendidikan SMA/SMK Total Pengalaman Pelatihan Hospitality atau Kuliner Tidak Pernah 1-2 kali 3-4 kali Ou 5 kali Total Lama Bekerja 0-2 tahun Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Persentase (%) Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Karakteristik Pegawai Departemen F&B 3-5 tahun Ou 5 tahun Total Bidang/Departemen F&B F&B Culinary F&B Service Total Pengalaman Pelatihan K3 Tidak Pernah 1-2 kali 3-4 kali Ou 5 kali Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui mayoritas pegawai Departemen F&B adalah laki-laki, dengan jumlah 68 orang . ,2%). Sebagian besar pegawai Departemen F&B berusia 26-35 tahun . ewasa awa. , yaitu sebanyak 40 orang . ,1%). Mayoritas pegawai Departemen F&B memiliki latar belakang pendidikan SMA/SMK yaitu sebanyak 46 orang . %). Sebanyak 7 orang . %) pegawai Departemen F&B tidak pernah mengikuti pelatihan di bidang hospitality atau kuliner. Mayoritas pegawai Departemen F&B telah bekerja selama lebih dari 5 tahun yaitu sebanyak 75 orang . %). Bagian F&B Culinary memiliki jumlah pegawai yang lebih banyak yaitu sebesar 68 orang . ,2%) dibandingkan dengan bagian F&B Service. Sebanyak 27 orang . ,3%) responden tidak pernah mengikuti pelatihan K3. Tabel 2. Jenis dan Tingkat Keparahan Kecelakaan Kerja yang Dialami Pegawai Departemen F&B Hotel X (N=. Karakteristik Pegawai Frekuensi . Persentase (%) Departemen F&B Kecelakaan Kerja yang Pernah Dialami Tidak Pernah Kecelakaan karena Benda Tajam Kecelakaan Terjatuh Kecelakaan Terbakar Kecelakaan karena Benda Tumpul Kecelakaan Listrik Total Keparahan Kecelakaan Kerja Tidak Pernah Kecelakaan Ringan Kecelakaan Sedang Kecelakaan Berat Total Berdasarkan tabel 2 mayoritas responden mengalami kecelakaan kerja akibat benda tajam yaitu sebanyak 37 orang responden . ,6%). Dari segi keparahan kecelakaan kerja, mayoritas responden mengalami kecelakaan ringan sebanyak 51,2%, yaitu cedera yang tidak berdampak serius dan hanya memerlukan perawatan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Sebanyak 42,1% responden menyatakan tidak pernah mengalami kecelakaan kerja, 5,8% mengalami kecelakaan sedang yang memerlukan pengobatan tanpa dampak permanen, dan 0,8% mengalami kecelakaan berat yang membutuhkan perawatan medis intensif. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 3. Gambaran Proporsi Bidang Departemen F&B dan Kecelakaan Kerja yang Pernah dialami oleh Pegawai Departemen F&B (N=. Kecelakaan Kerja Kecelakaan Kecelakaan Bidang Tidak Kecelakaan Departemen Terjatuh Terbakar Total Pernah Benda Benda Listrik F&B Tajam Tumpul F&B 23 33,8 29 7 10,3 Culinary F&B 28 52,8 8 Service Total 51 86,6 37 Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa kecelakaan kerja yang paling sering terjadi pada pegawai F&B Culinary adalah karena benda tajam, yaitu mencapai 42,6%. Sedangkan pada pegawai F&B Service, kecelakaan paling dominan adalah karena benda tumpul, yaitu mencapai 18,9%. Tabel 4. Safety Culture dalam Kejadian dan Penanganan Kecelakaan Kerja pada Pegawai Departemen F&B Karakteristik Safety Culture Mean A SD Minimum-Maksimum Keselamatan sebagai Nilai yang Diakui dan Dipahami 178,94 A 44,438 Kepemimpinan dalam Keselamatan 248,54 A 60,028 Akuntabilitas Keselamatan 99,20 A 26,029 Keselamatan Terintegrasi 119,74 A 28,165 Keselamatan sebagai Penggerak Pembelajaran 92,83 A 22,838 Total Skor Safety Culture 739,25 Tabel 4 menunjukkan bahwa setelah menggabungkan rata-rata dari berbagai karakteristik nilai keselamatan, ditemukan bahwa skor Safety Culture terkait dengan Kejadian dan Penanganan Kecelakaan Kerja di Departemen F&B Hotel X mencapai PEMBAHASAN Berdasarkan mayoritas pegawai Departemen F&B adalah laki-laki, dengan jumlah 68 orang . ,2%). Menurut penelitian Yasa et al . , jumlah laki-laki dibandingkan perempuan pada bidang F&B karena dalam bidang operasional atau pada bagian F&B Product/Kitchen, karyawan laki-laki dianggap memiliki kekuatan fisik yang lebih dibandingkan dengan karyawan Kondisi ini secara historis dapat terkait dengan persepsi tradisional tentang peran gender dalam industri perhotelan, di mana pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik cenderung lebih sering diisi oleh lakilaki. Selain itu, faktor-faktor budaya dan sosial juga dapat memengaruhi pilihan karier individu, yang mungkin mengarah pada Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 739,25. Jika klasifikasi peringkat safety culture yang sebelumnya oleh Purwaningsih et al . , skor ini masuk dalam kategori B. dominasi laki-laki dalam bidang seperti F&B di industri perhotelan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pegawai Departemen F&B berada dalam rentang usia 26-35 tahun . ewasa awa. , dengan jumlah sebanyak 40 orang . ,1%). Menurut penelitian Widiastari et al . , sebagian besar karyawan service berada dalam rentang usia Karyawan di rentang usia produktif ini diharapkan memberikan kontribusi positif dalam hal energi, stamina, dan fokus dalam menjalankan tugas-tugas Usia produktif ini sering dianggap sebagai periode di mana individu memiliki keseimbangan yang baik antara pengalaman dan kebugaran fisik, yang dapat mendukung kinerja mereka dalam lingkungan kerja yang Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 dinamis seperti layanan tamu. Diharapkan bahwa keunggulan ini dalam hal energi dan fokus akan memberikan dampak positif bagi kualitas layanan yang diberikan kepada tamu Mayoritas pegawai Departemen F&B pada penelitian ini memiliki latar belakang pendidikan SMA/SMK yaitu sebanyak 46 orang . %). Menurut penelitian Vivianie et al . , sebagian besar karyawan dari hotel bintang 4 di kawasan Malioboro yang diambil sebagai sampel memiliki tingkat SMA/SMK. Perusahaan cenderung lebih memilih tenaga kerja yang memiliki latar belakang pendidikan menengah atas atau kejuruan untuk posisiposisi operasional. Keputusan ini didasarkan pada kebutuhan akan keterampilan praktis menengah atas atau kejuruan, yang dianggap sesuai dengan tuntutan pekerjaan di lingkungan operasional hotel. Selain itu, menurut penelitian Widhiastuti et al . , mayoritas responden dari Jimbaran Lestari Hotel dan Residence Spa memiliki latar belakang pendidikan SMA/SMK. Hal ini dikarenakan, dalam kebijakan penerimaan karyawan. Jimbaran Lestari Hotel dan Residence Spa membuka peluang bagi lulusan SMA/SMK maupun perguruan tinggi asalkan jurusan yang ditempuh terkait dengan bidang perhotelan. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 7 orang . %) pegawai Departemen F&B tidak pernah mengikuti pelatihan di bidang hospitality atau kuliner. Pelatihan merupakan suatu kegiatan atau proses pembelajaran dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap karyawan untuk mendukung peningkatan kinerja mereka (Kosali, 2. Menurut penelitian Yulius & Koamesah . , pelatihan di bidang hospitality dan kuliner diperlukan untuk mengatasi dua masalah utama di SwissBelinn Kristal Kupang yaitu, kurangnya pengetahuan produk dan keterampilan interpersonal pada staf departemen F&B Service. Hal ini dikarenakan, kurangnya pengetahuan produk dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidangan, sementara kurangnya keterampilan interpersonal dapat menghambat interaksi positif dengan tamu. Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Pelatihan yang tepat, seperti kelas, roleplay, dan on-the-job training, dapat meningkatkan pengetahuan produk dan keterampilan interpersonal staf. Pelatihan hospitality dan kuliner dapat menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan meningkatkan kepuasan tamu. Menurut penelitian Sebayang . , pelatihan hospitality atau kuliner di Departemen F&B The Hill Hotel & Resort Sibolangit berdampak signifikan pada kinerja karyawan karena dapat meningkatkan kinerja karyawan di industri perhotelan. Oleh karena itu, investasi dalam pelatihan di bidang hospitality atau kuliner merupakan strategi yang penting bagi The Hill Hotel & Resort Sibolangit untuk memperbaiki kinerja karyawan dan meningkatkan pengalaman tamu. Sebagian besar pegawai Departemen F&B pada penelitian ini telah bekerja selama lebih dari 5 tahun yaitu sebanyak 75 orang . %). Menurut penelitian yang dilakukan Prabowo . , ditemukan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara masa kerja dan pencegahan kecelakaan kerja pada karyawan. Semakin lama masa kerja seseorang, semakin besar pula pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki, sehingga meningkatkan kinerja mereka dan kemampuan dalam mencegah kecelakaan kerja. Menurut penelitian Dasril et al . , masa kerja mempunyai keterkaitan erat dengan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan tugas-tugas dan lingkungan kerja yang ada. Para pekerja yang telah memiliki masa kerja yang panjang cenderung lebih terampil dan memahami prinsip-prinsip kerja yang aman, karena mereka telah berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan tugas-tugas yang dihadapi selama ini. Berdasarkan hasil penelitian, bagian F&B Culinary memiliki jumlah pegawai yang lebih banyak yaitu sebesar 68 orang . ,2%) dibandingkan dengan bagian F&B Service. Menurut Soekresno dan Pendit . dalam Widyaningrum . Departemen F&B merupakan bagian dari hotel yang bertanggung jawab atas penyediaan serta pelayanan makanan dan Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 minuman kepada tamu yang menginap maupun yang hanya berkunjung, serta segala kebutuhan terkait lainnya. Dalam industri perhotelan, jumlah pegawai di F&B Culinary seringkali lebih banyak dibandingkan dengan F&B Service. Hal ini dikarenakan F&B Culinary melibatkan proses produksi makanan dan minuman yang kompleks, mulai dari persiapan bahan baku hingga penyajian akhir. Proses ini membutuhkan berbagai spesialisasi dan tenaga kerja yang lebih banyak untuk memastikan kualitas dan keberagaman produk. Sementara itu. F&B Service fokus pada interaksi langsung dengan pelanggan dan penyajian produk, yang mungkin tidak memerlukan jumlah pegawai sebanyak di produksi (Lafifa & Sandy. Namun, jumlah pegawai di setiap departemen dapat bervariasi tergantung pada ukuran dan jenis operasi hotel atau restoran. Beberapa faktor yang memengaruhi termasuk ukuran properti, jenis layanan yang ditawarkan, dan kebijakan manajemen (Solihin et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 27 orang . ,3%) responden tidak pernah mengikuti pelatihan K3. Meskipun ada sebagian kecil yang belum pernah mengikuti pelatihan, mayoritas telah mengambil langkah untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang K3 melalui partisipasi dalam pelatihan tersebut, dengan beberapa bahkan mengikuti pelatihan lebih dari sekali, sebagai upaya untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam memastikan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Wangi et al . menyatakan, penerapan standar kebersihan, sanitasi, dan pelatihan keselamatan kerja menjadi indikator yang efektif dan efisien untuk mengukur komitmen pihak hotel dalam menjaga kesejahteraan dan keselamatan karyawan serta tamu hotel dari potensi risiko yang dapat membahayakan mereka sendiri atau orang lain. Selain itu, penerapan standar timbulnya risiko berbahaya bagi karyawan dan tamu hotel, sekaligus menciptakan rasa aman bagi mereka. Pelatihan K3 dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan potensi bahaya di lingkungan kerja serta Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 menghadapi situasi di lingkungan kerja. Khususnya pada industri makanan, pelatihan K3 penting dilakukan karena makanan memiliki tingkat kecelakaan kerja yang cenderung tinggi. Industri makanan juga memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat karena produknya dikonsumsi oleh banyak orang, sehingga penting untuk meningkatkan kesadaran akan K3 dalam industri tersebut (Wahyuningsih et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, sebanyak 37 orang responden . ,6%) mengalami kecelakaan kerja akibat benda tajam dan jenis kecelakaan lainnya yang dialami oleh responden meliputi kecelakaan terjatuh . ,3%), kecelakaan terbakar . ,4%), kecelakaan akibat benda tumpul . ,7%), dan kecelakaan listrik . ,8%). Dari segi keparahan kecelakaan kerja, mayoritas responden mengalami kecelakaan ringan sebanyak 51,2%, sebanyak 42,1% responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengalami kecelakaan kerja, 5,8% mengalami kecelakaan sedang, dan hanya 0,8% yang mengalami kecelakaan berat. Penelitian yang dilakukan oleh Kusuma et al . , menemukan bahwa di CV. Nutri Health Kota Madiun, ditemukan dari 30 karyawan, 28 mengalami kecelakaan kerja dalam tiga bulan terakhir. Jenis kecelakaan yang terjadi meliputi teriris, tersayat, tersandung, terpotong, terciprat minyak panas, dan tersengat arus listrik, dengan frekuensi kejadian bervariasi mulai dari bulanan, mingguan, hingga harian. Hal ini menunjukkan bahwa ada masalah serius dalam penerapan prosedur K3. Kurangnya penerapan perilaku K3 di kalangan karyawan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja, yang dapat merugikan baik pekerja maupun perusahaan melalui peningkatan biaya perawatan kesehatan, kehilangan waktu kerja, dan potensi klaim Menurut Hoffman et al . dalam Kuo et al . , pekerja pada bagian dapur dihadapkan pada risiko kecelakaan seperti terjatuh, tergelincir, terluka, dan Faktor lingkungan kerja seperti suhu, kebisingan, pencahayaan, dan Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 ventilasi sangat mempengaruhi kesehatan dan keselamatan pekerja. Hasil tabulasi data menunjukkan bahwa kecelakaan kerja yang paling sering terjadi pada pegawai F&B Culinary adalah karena benda tajam, yaitu mencapai 42,6%. Sedangkan pada pegawai F&B Service, kecelakaan paling dominan adalah karena benda tumpul, yaitu mencapai 18,9%. Menurut penelitian Harnum . pada bagian F&B Culinary, kecelakaan yang sering terjadi yaitu cedera akibat pisau tajam saat memasak dalam situasi terburu-buru karena kepadatan tamu. Kecelakaan kerja karena benda tumpul, seperti terbentur peralatan atau furniture disebabkan karena tata letak yang kurang baik, kurangnya tanda peringatan, dan kepadatan tamu yang menyebabkan pegawai terburu-buru saat melayani tamu (Azizah & Faras, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety culture dalam kejadian dan Departemen F&B di Hotel X berada dalam peringkat B, dengan skor total 739,25. Peringkat ini menunjukkan bahwa kinerja persyaratan yang ditetapkan dan tidak menimbulkan risiko pelanggaran terhadap standar keselamatan yang berlaku. Peringkat B menunjukkan bahwa program penilaian telah mencapai tujuan dan ekspektasi kinerja. Tetapi, penyimpangan minor dari persyaratan atau pelaksanaan program, hal ini tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan, keselamatan, keamanan, lingkungan, atau kepatuhan dengan standar keselamatan (Purwaningsih et al. , 2. Meskipun kategori B menandakan kinerja yang baik, namun perlu dicatat bahwa beberapa indikator penilaian masih mendapat skor Oleh karena itu, organisasi dapat meningkatkan aspek-aspek tersebut agar mencapai klasifikasi peringkat A, yang merupakan kategori paling tinggi dalam safety culture. Safety culture pada Departemen F&B dinilai baik, akan tetapi masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki untuk mencapai tingkat safety culture yang optimal. Salah satunya adalah kurang meratanya pelatihan Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 K3 pada pegawai Departemen F&B, yaitu sebanyak 22,3% pegawai tidak pernah mengikuti pelatihan K3 yang direncanakan oleh hotel. Dalam industri makanan, yang memiliki tingkat kecelakaan kerja tinggi dan berhubungan langsung dengan manusia, pelatihan K3 sangat penting untuk mengurangi kecelakaan kerja serta memastikan keselamatan dan kualitas Selain itu, sebanyak 7 orang . %) pegawai Departemen F&B tidak pernah mengikuti pelatihan di bidang hospitality Pelatihan rangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuan individu secara sistematis, sehingga pegawai dapat bekerja secara profesional dalam bidangnya (Hendra, 2. Proses pelatihan ini merupakan pembelajaran yang melaksanakan tugas mereka saat ini sesuai dengan standar yang ditetapkan sehingga pegawai mampu meningkatkan safety culture dalam perusahaan tersebut. Pada penelitian ini, pernyataan B tentang peran pemimpin dalam keselamatan saat terjadi kecelakaan kerja di Departemen F&B sebagian besar mendapatkan respon AyKurangAy. Kepemimpinan pemimpin yang menekankan pentingnya keselamatan melalui komunikasi sehari-hari dan rapat. Pemimpin yang memahami tugas dan tanggung jawabnya memberikan keteladanan, seperti melakukan inspeksi rutin dan melibatkan pegawai dalam meningkatkan keselamatan. Pemimpin juga berkomunikasi tentang perubahan dan dampaknya terhadap keselamatan kepada seluruh pegawai (Muharromah & Pujiono. Melihat pernyataan B yang paling banyak mendapatkan tanggapan "Kurang," terlihat bahwa kepemimpinan dalam keselamatan di Departemen F&B dinilai kurang memadai, khususnya dalam hal penanganan kecelakaan kerja. Hal ini mencerminkan kurangnya perhatian atau tindakan yang efektif dari pihak pemimpin terkait aspek keselamatan di tempat kerja. Kondisi ini menekankan pentingnya peran Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 melakukan inspeksi rutin, serta melibatkan karyawan secara aktif dalam upaya komunikasi yang efektif dan transparan. Angka kecelakaan kerja yang tinggi serta minimnya pelatihan dan edukasi di bidang perhatian terhadap aspek keselamatan kerja, yang seharusnya menjadi tanggung jawab kepemimpinan untuk diatasi. Pemimpin yang kurang proaktif dalam mendorong budaya keselamatan dapat mengakibatkan pegawai tidak memiliki kesadaran dan keterampilan yang memadai untuk menangani risiko keselamatan di tempat kerja (Amrulloh et al. , 2. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya pegawai yang tidak pernah mengikuti pelatihan K3 sehingga tidak mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang pentingnya keselamatan di tempat kerja. Tanpa adanya inisiatif dari pemimpin untuk meningkatkan kompetensi pegawai melalui pelatihan dan memastikan implementasi standar keselamatan, risiko kecelakaan kerja tetap tinggi dan sulit diatasi. Ketidakpuasan terhadap peran pemimpin dalam aspek keselamatan kerja sejalan SIMPULAN Mayoritas pegawai Departemen F&B Hotel X adalah laki-laki . ,2%) berusia 2635 tahun . ,1%) dengan latar belakang pendidikan SMA/SMK . %). Sebagian besar telah bekerja lebih dari 5 tahun . %) dan sebagian kecil tidak pernah mengikuti pelatihan di bidang hospitality atau kuliner . %). Bagian F&B Culinary memiliki jumlah pegawai yang lebih banyak . ,2%) dibandingkan F&B Service, dan 22,3% responden tidak pernah mengikuti pelatihan K3. Mayoritas kecelakaan kerja di Departemen F&B disebabkan oleh benda tajam . ,6%) dengan sebagian besar kecelakaan bersifat ringan . ,2%). Skor safety culture dalam kejadian dan dengan tingginya angka kecelakaan kerja dan kurangnya pelatihan K3. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan dalam peningkatan pelatihan keselamatan kerja sangat diperlukan untuk mengurangi insiden kecelakaan dan meningkatkan keselamatan di Departemen F&B. Safety culture dalam keperawatan meningkatkan keselamatan pasien dan staf keperawatan (Marselina et al. , 2. Komunikasi yang baik antara klien dan petugas medis adalah kunci dalam mengurangi kecelakaan kerja di layanan keperawatan dan kesehatan (Saputri, 2. Konsep ini juga relevan dalam keperawatan pariwisata, di mana penerapan komunikasi efektif, pelaporan insiden tepat waktu, dan pelatihan keselamatan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan yang aman bagi wisatawan, serta mengurangi risiko kecelakaan kerja (Fadli & Subekti, 2. Dengan demikian, penerapan safety culture yang baik dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan pengalaman industri pariwisata secara keseluruhan. penanganan kecelakaan kerja di Departemen F&B Hotel X mencapai 739,25 dan mendapatkan peringkat B. Berdasarkan diperlukan upaya tindak lanjut berupa pelaksanaan pelatihan K3 yang lebih konsisten dan berkala bagi seluruh pegawai, khususnya yang belum pernah mengikuti pelatihan, serta penguatan implementasi budaya keselamatan dalam aktivitas kerja sehari-hari. Evaluasi rutin terhadap penerapan safety culture juga perlu dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja keselamatan kerja di Departemen F&B. DAFTAR PUSTAKA