Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Peran Kearifan Lokal dalam Mewujudkan Sekolah Ramah Anak bagi Siswa dari Keluarga Miskin Ekstrem di Balikpapan Sugianto Universitas Balikpapan. Balikpapan. Indonesia sugianto@uniba-bpn. Abstract Balikpapan, as one of the important cities in East Kalimantan, has a wealth of culture and local values originating from various tribes such as Bugis. Banjar. Dayak. Javanese, and others. The purpose of this study is to describe . the conditions of the implementation of child-friendly schools (SRA) for extremely poor students of junior high schools in Balikpapan City, and . local wisdom of Child Friendly Schools in Balikpapan. This type of quantitative description research, with the research period starting from March 2024 to June 2024. The population in this study were all junior high schools in Balikpapan City, the sample of this study was SMPN 2 Balikpapan. SMPN 4 Balikpapan. SMPN 8 Balikpapan, and SMPN 22 Balikpapan. Data collection techniques based on interviews and documentation in the form of questionnaires. The data analysis technique uses a survey method by changing raw data from the survey questionnaire into meaningful information that can be used for decision making. This involves various steps, from data cleaning, statistical analysis, to data visualization to present the research results more clearly. The research results show that . the implementation of childfriendly schools for extremely poor students at Balikpapan Middle Schools was carried out well through a safe environment, mental health and students' cognitive abilities, and . the level of local wisdom at Balikpapan Middle Schools was well integrated into learning activities. In conclusion, it is necessary to improve understanding of local cultural content, the lack of local wisdom-based learning media, and the increasingly dominant influence of foreign culture, with the need to improve content on local wisdom of child-friendly schools so that extreme poor students can maintain their mental health. Keywords: Child Friendly School. Extreme Poor Students. Junior High School Abstrak Balikpapan, sebagai salah satu kota penting di Kalimantan Timur, memiliki kekayaan budaya dan nilai lokal yang berasal dari beragam suku seperti Bugis. Banjar. Dayak. Jawa, dan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan . kondisi penerapan sekolah ramah anak (SRA) bagi siswa miskin ekstrem SMP Negeri di Kota Balikpapan. kearifan lokal Sekolah Ramah Anak di Balikpapan. Jenis penelitian deskripsi kuantitatif, dengan waktu penelitian dimulai bulan Maret 2024 sampai Juni Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh SMP Negeri di kota Balikpapan, sampel penelitian ini SMPN 2 Balikpapan. SMPN 4 Balikpapan. SMPN 8 Balikpapan, dan SMPN 22 Balikpapan. Teknik pengumpulan data berdasarkan wawancara dan dokumentasi berupa pemberian kuisioner. Teknik analisis data metode survei dengan mengubah data mentah dari kuesioner survei menjadi informasi yang bermakna dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Ini melibatkan berbagai langkah, mulai dari pembersihan data, analisis statistik, hingga visualisasi data untuk menyajikan hasil penelitian dengan lebih jelas. Dengan hasil penelitian bahwa . penerapan sekolah ramah anak bagi siswa miskin ekstrem di SMPN Balikpapan terlaksana dengan baik melalui https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH melalui lingkungan aman, kesehatan mental dan kemampuan kognitif siswa, serta . Tingkat kearifan lokal SMP di Balikpapan terintegrasi baik dalam kegiatan pembelajaran. Kesimpulannya perlu ditingkatkan pemahaman konten budaya lokal, minimnya media pembelajaran berbasis kearifan lokal, serta pengaruh budaya luar yang semakin mendominasi, dengan perlu ditingkatnya konten mengenai kearifan lokal sekolah ramah anak sehingga siswa miskin ekstrem dapat menjaga kesehatan mentalnya. Kata Kunci: Sekolah Ramah Anak. Siswa Miskin Ekstrem. SMP Pendahuluan Balikpapan, sebagai salah satu kota penting di Kalimantan Timur, memiliki kekayaan budaya dan nilai lokal yang berasal dari beragam suku seperti Bugis. Banjar. Dayak. Jawa, dan lainnya. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam tradisi gotong royong adat istiadat, bahasa daerah, serta praktik-praktik ramah lingkungan yang relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari (Pamungkas et al. , 2022. Tolapa & Ratnasari, 2. Indonesia kaya akan budaya lokal sehingga siswa SMP mampu mengenal akan budaya lokal Indonesia. Kemajuan akan teknologi terutama pada revolusi industri 4. 0 siswa kurang mengenal akan budaya lokal di Indonesia (Syarifuddin et al. , 2. Siswa SMP lebih mengenal budaya internasional. Budaya lokal perlu diterapkan dalam pembelajaran supaya pembelajarannya menjadi bermakna (Permatasari et al. , 2. Dalam penerimaan peserta didik baru sebagai siklus input dalam proses penyelenggaraan Pendidikan, penerimaan calon siswa pada kelompok Afirmasi melalui jalur keluarga tidak mampu dan anak berkebutuhan khusus (ABK) (Hanifah et al. , 2. Pada penelitian yang menjadi hal perhatian penting adalah kelompok penerima beasiswa kurang mampu Program Indonesia Pintar disingkat (PIP) (Marsidi et al. , 2. Sekolah di SMP Balikpapan Ketika penerimaan peserta didik baru juga membuka jalur afirmasi. Perhatian serius kepada siswa kelompok miskin ekstrem, dari hasil observasi di lapangan, menunjukkan penampilan fisik umumnya berpakaian kumuh, semangat belajar rendah, interaksi sosial yang terhambat, kemampuan koginif rendah, sering menjadi korban bullying baik sesama siswa maupun kelompok lain, dan sering munculnya diskriminasi dalam kegiatan pembelajaran (Yuyun et al. , 2. Guru harus dapat memberikan bimbingan kepada siswamya supaya menerapkan nilai-nilai kearifan lokal. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru SMP bahwa perlu diterapkannya penanaman kearifan lokal untuk siswa miskin ekstrem supaya siswa lebih memahami kearifan lokal mengenai gotong royong, toleransi antar umat beragama dan suku, menghormati guru dan orang tua, dan tradisi lokal. Balikpapan terdiri dari suku seperti Bugis. Banjar. Dayak. Jawa, dan lainnya. Sehingga dalam pembelajaran Sekolah Ramah Anak menggunakan Bahasa Indonesia. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Sekolah SMPN 2 Balikpapan bahwa ada beberapa siswa miskin ekstrem dengan ekonomi sangat rendah misalnya saja hanya dinafkahi oleh ibunya saja, sedangkan pekerjaan ibunya hanya buruh harian. Ada dari keluarga yang broken home, yang tidak dinafkahi oleh kedua orang tuanya. Selain itu wawancara dengan siswa miskin ekstrem di SMPN 2 Balikpapan, bahwa sekolah sudah memfasilitasi kebutuhan siswa miskin ektrem misalnya saja seragam sekolah. Wawancara dengan Kepala Sekolah SMPN 8 Balikpapan bahwa fasilitas sekolah sudah memadai meliputi ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang administrasi, ruang bimbingan konseling, ruang perpustakaan, dan ruang UKS, adapula ruang laboratorium yang fasilitasnya kurang memadai. Hasil wawancara awal dengan Kepala Sekolah SMPN 4 Balikpapan bahwa sekolah kurang tersedia jenset yang cukup karena SMPN 4 Balikpapan sering terjadi pemadaman Listrik apabila semua Listrik dinyalakan, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sedangkan fasilitas jenset di sekolah masih kurang sehingga terkadang pembelajaran tidak menggunakan proyektor atau teknologi. SMPN 4 Balikpapan juga kurang dalam penyediaan CCTV. Berdasarkan wawancara awal dengan Kepala Sekolah SMPN 22 Balikpapan bahwa sekolah kurang dalam sarana CCTV, ada beberapa CCTV di ruang perpustakaan yang rusak dan Lorong ke kelas VII tidak menyala. Pentingnya pengadaan CCTV ini dikarenakan bisa memantau guru dan siswa, sekaligus menghindari tindakan kekerasan yang mengancam siswa. Adapula siswa miskin ekstrem di SMPN 22 Balikpapan yang rumahnya terkena kebakaran sehingga diperlukan nilai-nilai gototng royong untuk membantu siswa tersebut. Berdasarkan wawancara dengan salah satu siswa miskin ekstrem yang bersekolah di SMPN 22 Balikpapan yang rumahnya terkena korban kebakaran, bahwa teman-temannya membantu untuk bergotong royong mengumpulkan dana dan memberikan peralatan sekolah. Dalam konteks pendidikan, khususnya di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Balikpapan, bahwa sekolah sudah menerapkan integrasi kearifan lokal ke dalam kegiatan pembelajaran sangat penting. Hal ini tidak hanya untuk mengenalkan dan melestarikan budaya lokal kepada peserta didik, tetapi juga sebagai upaya membangun karakter positif seperti kerja sama, toleransi, kepedulian terhadap lingkungan, dan tanggung jawab sosial (Syarifuddin et al. , 2. Sekolah di SMP Balikpapan sudah menerapkan sekolah ramah anak tanpa diskriminasi, anti bullying, dan anti kekerasan (Casmudi & Sugianto, 2. Penerapan sekolah ramah anak juga memunculkan nilai-nilai kearifan lokal yang selalu di junjung tinggi setiap sekolah misalnya kerja bakti, kerja kelompok, toleransi, dan tenggang rasa. Selain itu ada adat istiadat yang selalu di laksanakan oleh siswa yaitu tegur, sapa dan Penelitian sebelumnya terkait topik Kota layak anak mengacu kepada penelitian Iqbal Azizi . , bahwa pemenuhan hak anak perlu ditingkatkan oleh pemerintah, masih terdapat hak anak yang belum terpenuhi hak sipilnya, perkawinan anak, terbatasnya sarana prasarana ramah anak, tingginya angka kematian ibu dan bayi, gizi buruk dan stunting, rendahnya angka partisipasi sekolah serta kasus kekerasan anak (Casmudi et al. Dari penelitian di atas menyoroti hak-hak anak sebagai Kota Layak Anak (KLA), sedangkan penelitian ini menyoroti pemenuhan hak-hak anak khususnya anak dengan latar belakang keluarga miskin ekstrem dalam penyelenggaraan Pendidikan di SRA pada jenjang SMP. Penelitian yang relevan berikutnya membahas implementasi dan dampak konsep Madrasah Ramah Anak (MRA) terhadap karakter disiplin siswa. Pembelajaran menggunakan konsep MRA dengan layanan yang aman dan nyaman, berdampak negatif karena melemahnya sikap disiplin siswa adanya perasaan dari hukuman dalam pembelajaran, kontribusi penelitiannya kepada pembentukan karakter disiplin, melalui konsep Madrasah Ramah Anak (Awaluddin, 2. Rumusan penelitian ini yaitu . bagaimana kondisi penerapan sekolah ramah anak (SRA) bagi siswa miskin ekstrem SMP Negeri di Kota Balikpapan. bagaimana kearifan lokal Sekolah Ramah Anak di Balikpapan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan . kondisi penerapan sekolah ramah anak (SRA) bagi siswa miskin ekstrem SMP Negeri di Kota Balikpapan. kearifan lokal Sekolah Ramah Anak di Balikpapan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dikarenakan penelitian ini membahas kearifan lokal sekolah ramah anak bagis siswa miskin ekstrem SMP Balikpapan. Dimana siswa miskin ekstrem terkendala akan sosial ekonomi dalam pembelajaran di sekolah, serta kesehatan dalam mendalami kearifan lokal. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Survei kualitatif digunakan dalam survei ini, dengan waktu penelitian dimulai bulan Maret 2024 sampai Juni 2024. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh SMP Negeri di kota Balikpapan, sampel penelitian ini SMPN 2 Balikpapan. SMPN 4 Balikpapan. SMPN 8 Balikpapan, dan SMPN 22 Balikpapan. Subyek data penelitian yaitu Kepala Sekolah dan Guru. Teknik pengambilan subyek penelitian berdasarkan purposive sampling. Teknik pengumpulan data berdasarkan wawancara dan dokumentasi berupa pemberian kuisioner berupa kuisioner tertutup dengan memberikan pertanyaan langsung kepada kepala sekolah guru dengan indikator . rasa aman dan nyaman, . motivasi belajar, . kemampuan interaksi sosial, . kesehatan mental, . emosi siswa, . perilaku belajar, . kognitif siswa, dan pertumbuhan fisik yang berkaitan dengan siswa miskin ekstrem yang menjunjung kearifan lokal sekolah ramah anak. Teknik analisis data metode survei dengan mengubah data mentah dari kuesioner survei menjadi informasi yang bermakna dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Ini melibatkan berbagai langkah, mulai dari pembersihan data, analisis statistik, hingga visualisasi data untuk menyajikan hasil penelitian dengan lebih jelas. Hasil dan Pembahasan Dalam upaya mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), terdapat sejumlah indikator kunci yang menjadi tolok ukur pencapaian implementasi program. Salah satu indikator utama adalah Rasa Aman dan Nyaman yang dirasakan oleh seluruh warga sekolah, khususnya peserta didik. Indikator ini mencakup aspek fisik, psikologis, serta sosial yang memungkinkan siswa belajar tanpa merasa terancam, baik dari kekerasan, perundungan, diskriminasi, maupun tekanan akademis yang berlebihan. Berikut adalah grafik perbedaan Sekolah Ramah Anak SMP berdasar temuan per indikator: Indikator Rasa Aman dan Nyaman Kelompok SME SMP SRA Kota Balipapan SMPNegeri 22 SMP Negeri 4 SMP Negeri 8 SMP Negeri 2 Grafik 1. Indikator Rasa Aman dan Nyaman Dari grafik 1 dijelaskan bahwa SMPN 22 Balikpapan memberikan fasilitas dan rasa nyaman siswa miskin ekstrem untuk belajar baik. Bisa dilihat bahwa pemberian fasilitas yang baik akan menimbulkan kearifan lokal yang baik pula, siswa miskin ekstrem paham makna gotong royong, cinta lingkungan, toleransi antar agama dan suku. Selaras dengan penelitian Pamungkas et al. , perlunya gotong royong dalam kegiatan pembelajaran akan menimbulkan sekolah yang nyaman. Berdasarkan hasil instrument di SMPN 4 Balikpapan ada beberapa sara sekolah yang kurang mencukupi yaitu CCTV yang masih sedikit sedangkan lingkungan di luar SMPN 4 Balikpapan rawan akan kekerasan sehinggan diperlukan penambahan CCTV baik di luar pintu gerbang dan lorong masing-masing kelas. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Indikator Motivasi Belajar Kelompok SME SMP-SRA Kota Balikpapan SMP Negeri 2 SMP Negeri 8 SMP Negeri 4 SMPNegeri 22 Grafik 2. Indikator Motivasi Belajar Berdasarkan grafik 2 diperoleh bahwa SMPN 8 Balikpapan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Motivasi belajar merupakan dorongan internal maupun eksternal yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan belajar dengan tujuan mencapai suatu hasil. Kearifan lokal sebagai bagian dari budaya lokal mencakup pengetahuan tradisional, nilai moral, kebiasaan, dan praktik sosial yang telah terbukti relevan dalam kehidupan di sekolah. Sejalan dengan Syarifuddin et al. bahwa budaya lokal penting bagi siswa. Di SMPN 4 Balikpapan guru sering memberikan motivasi kepada siswa untuk semangat belajar dan memperoleh nilai yang bagus, hal ini dikarenakan orang tua dari beberapa siswa yang memiliki pekerjaan tidak menetap dan sering terlilit hutang yang menyebabkan anaknya malas untuk sekolah. Indikator Kemampuan Interaksi Sosial Kelompok SME- SMP SRA Kota Balikpapan SMPNegeri 22 SMP Negeri 4 SMP Negeri 8 SMP Negeri 2 Grafik 3. Indikator Kemampuan Interaksi Sosial Grafik di atas menjelaskan bahwa SMPN 8 Balikpapan memperoleh skor tinggi dalam kemampuan interaksi sosial. Siswa miskin ekstrem mampu berinteraksi sosial berarti siswa tersebut memiliki pemahaman menggunakan Bahasa dengan baik dan benar. Bahwa siswa miskin ekstrem mampu berinteraksi dengan siswa lainnya sehingga pembelajaran semakin bermakna dan menambah nilai-nilai kearifan lokal. Sejalan dengan Tolapa & Ratnasari . bahwa pengunaan Bahasa dalam interaksi sosial penting dalam pembelajaran. Kemampuan interaksi sosial siswa miskin ekstrem di SMPN 4 Balikpapan cukup bagus, siswa selalu bekerja sama dalam setiap kegiatan misalnya kegiatan ekstra kuliker atau P5. Sejalan dengan Somawati . bahwa penting bagi setiap orang memiliki etika. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Indikator Kesehatan Mental dlm Pembelajaran Kelompok SME-SMP SRA kota Balikpapan SMP Negeri 2 SMP Negeri 8 SMP Negeri 4 SMPNegeri 22 Grafik 4. Indikator Kesehatan Mental Dalam Pembelajaran Berdasarkan grafik diatas bajwa kesehatan mental SMPN 8 Balikpapan memiliki skor tertinggi berarti kesehatan mental siswa miskin ekstrem bagus, tetapi lain dengan SMPN 2 Balikpapan yang memiliki Kesehatan mental siswa miskin ekstrem yang rendah. Kesehatan mental yang baik sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang untuk belajar, berinteraksi dengan orang lain, serta menghadapi tantangan dalam hidup. Namun, bagi siswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat buruk . iskin ekstre. , masalah kesehatan mental sering kali menjadi hambatan besar dalam proses belajarnya. Sejalan dengan Sholikha . bahwa orang tua berperan penting dalam kesehatan mental siswanya. Berdasarkan wawancara siswa miskin esktrem di SMPN 22 Balikpapan bahwa salah satu rumah siswa miskin ekstrem di SMPN 22 Balikpaan menjadi korban kebakaran, hal ini bisa menyebabkan mental kesehatannya terganggu dikarenakan harus memikirkan tempat tinggal dan masa depan untuk sekolah. Sehingga Guru bersama Siswa SMPN 22 Balikpapan antusias membantu dan saling gotong royong untuk saling Sejalan dengan Parta & Aryasuari . bahwa dalam diri manusia diterapkan profil pelajar Pancasila. Indikator Emosi Siswa Kelompok SME SMP SRA Kota Balikpapan SMP Negeri 2 SMP Negeri 8 SMP Negeri 4 SMPNegeri 22 Grafik 5. Indikator Emosi Siswa Grafik 5 menjelaskan bahwa emosi siswa miskin ekstremSMPN 8 Balikpapan tinggi dalam kegiatan pembelajaran. Tingkat emosi siswa miskin ekstrem yang memengaruhi cara berpikir, bertindak, dan berinteraksinya sehingga diperlukan siswa dapat mengendalikan emosinya baik itu karena kegembiraan, kecemasan, atau bahkan konflik dapat mempengaruhi siswa dalam menghadapi pembelajaran yang berbasis pada kearifan lokal. Sejalan dengan Damanik . diperlukan bimbingan konseling dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mengendalikan kecemasan siswa. Berdasarkan kuisioner bahwa emosi siswa miskin ekstrem di SMPN 4 Balikpapan cukup rendah. Hal ini dikarenakan Lokasi SMPN 4 Balikpapan dekat dengan kawasan preman, sehingga suasana bermain di luar sekolah tidak dapat terkontrol oleh guru. Indikator Perilaku Belajar Kelompok SME SMP-SRA Kota Balikpapan SMPNegeri 22 SMP Negeri 4 SMP Negeri 8 SMP Negeri 2 Grafik 6. Indikator Perilaku Belajar Berdasarkan gambar di atas bahwa SMPN 8 memiliki indikator perilaku belajar yang baik, sedangkan SMPN 2 Balikpapan memiliki indikator belajar kurang baik. Hal ini dipengaruhi karena antusias siswa miskin ekstrem dalam mengikuti pembelajaran di sekolah ramah anak. Siwa aktif berdiskusi atau praktik yang bisa menumbuhkan nilainilai kearifan lokal meliputi kerja kelompok, menyukai semua pelajaran, dan toleransi sehingga terhindar dari perilaku bullying. Sejalan dengan BuAoulolo et al. guru berperan dalam perilaku belajar siswa. Indikator Kognitif Siswa Kelompok SME SMP SRA Kota Balikpapan SMP Negeri 2 SMP Negeri 8 SMP Negeri 4 SMPNegeri 22 Grafik 7. Indikator Kognitif Siswa Gambar 7 menunjukkan bahwa SMPN 8 Balikpapan memiliki kognitif yang tinggi, sedangkan SMPN 2 Balikpapan memiliki kognitif yang rendah. Kemampuan kognitif mengacu pada kemampuan mental siswa miskin ekstrem dalam memahami serta melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Kemampuan ini sangat penting untuk menangkap, mengolah, dan menerapkan informasi meliputi kurangnya nutrisi menyebabkan kemampuan otak kurang dalam memahami informasi di sekolah, stres pada siswa miskin ekstrem mengganggu konsentrasi dan daya ingat. Sejalan dengan Waskitoningtyas . aktivitas kognitif mempengaruhi belajar. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Indikator Pertumbuhan Fisik Kelompok SME SMP SRA Kota Balikpapan SMPNegeri 22 SMP Negeri 4 SMP Negeri 8 SMP Negeri 2 Grafik 8. Indikator Pertumbuhan Fisik Grafik 8 menjelaskan bahwa pertumbuhan fisik siswa miskin ekstrem SMPN 8 Balikpapan baik, sedangkan pertumbuhan fisik siswa miskin ekstrem di SMPN 2 Balikpapan kurang memenuhi. Aspek pertumbuhan fisik sangat penting dalam keberhasil proses belajar. Pertumbuhan fisik mencakup perkembangan motorik kasar dan halus, kekuatan otot, ketahanan tubuh, serta koordinasi gerak misalnya kegiatan gotong royong yang membutuhkan pergerakan fisik, kegiatan olahraga yang membutuhkan kerjasama, serta permainan tradisional dalam meningkatkan pembelajaran. Sehingga kearifan lokal sekolah ramah anak penting dalam pembelajaran Adapun temuan penelitian secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: Kesehatan mental siswa dalam perilaku belajar, menempatkan posisinya sebagai indikator peringkat pertama dari delapan indikator. Tingkat kesehatan mental siswa miskin ekstrem, cukup baik dalam mendukung proses belajarnya. hal ini karena adanya dukungan layanan konseling dari Guru BK cukup efektif di Sekolah ramah anak di Kota Balikapan. Kedudukan peringkat di sokong oleh SMPN 22 Balikpapan tertinggi dan terendah SMPN 2 Balikpapan. Sejalan Hidayah et al. bahwa pembelajaran di sekolah cukup efektif. Keamanan dan kenyamanan belajar di sekolah ramah anak. SMPN 2 Balikpapan. SMN 4 Balikpapan. SMPN 8 Balikpapan dan SMPN 22 Balikpapan memberikan kontribusi ketenangan dalam belajar bagi siswa miskin Ekstrem yang memiliki kedudukan ke 2 dari 8 indikator. SMPN 22 Balikpapan menduduki rasa aman dan nyaman pertama, terakhir SMPN 2 Balikpapan. Sekolah memberikan rasa aman dan nyaman (Lestariningrum et al. Kemampuan kognitif siswa kelompok miskin ekstrem dalam bersosialisasi, kemampuan bersosialisasi pada era globalisasi saat ini sangat penting, kemampuan bersosialisasi rendah disebabkan karena kemampuan komunikasi yang kurang. Dalam komunikasi kelompok SME membutuhkan latihan dengan memiliki kosa kata yang cukup dan kepercayaan diri yang memadahi. Indikator ini paling tinggi SMPN 8 Balikpapan dan terendah SMPN 2 Balikpapan (Damanik, 2. Lokasi SMPN 4 Balikpapan yang berada dalam tingkat kriminalitas dikarenakan adanya anak punk yang seling berkeliaran ketika pukul 9 malam lebih dengan pakaian robek, rambut mohawk, dan berbagai aksesoris yang mencolok. Sehingga guru SMPN 4 Balikpapan harus menerapkan etika dan nilai-nilai pendidikan pada diri siswa. Siswa SMPN 4 Balikpapan harus memiliki sikap toleransi, saling menghormati serta memiliki kerjasama agar terhindar dari pergaulan yang tidak baik. Sejalan dengan Gunawan & Arya . bahwa sikap toleransi, saling menghormati kepercayaan dan budaya yang berbeda, kerjasama serta kepedulian antar sesama. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Penyebab rendahnya indikator kesehatan mental, keamanan dan kenyaman belajar serta kemampuan kognitif siswa miskin ekstrem. SMP Negeri 2 Balikpapan, mengukuhkan dirinya pada peringkat terendah pada indikator rasa aman dan nyaman bagi siswa kelompok miskin ekstrem, dan terendah pada indikator kemampuan bersosialisasi, potret ini tidak berarti sekolah ini mengalami keterbelakangan dari penyelenggaraan SRA, namun karena responden yang diajukan kepada peneliti paling sedikit dibandingkan sekolah lainnya. Penelitian Pamungkas et al. perlunya gotong royong dalam kegiatan pembelajaran akan menimbulkan sekolah yang nyaman. SMP Negeri 8 Balikpapan, kedudukan indikator yang diraih tertinggi pada Kesehatan Kesehatan mental sangat beroengaruh pada rasa aman dan nyaman sebagai prasyarat suasana belajar siswa dudukung sekolah adiwiyata, namun kemampuan bersosialisasi kelompok SME membutuhkan perhatian aspek kemampuan berkomunikasi dan tidak berperilaku menyendiri. SMP Negeri 2 Balikpapan dalam kategori Kesehatan mental rendah. Kelompok ini mengalami hambatan dalam bersosialisasi disebabkan faktor psikologis, dan kemampuan literasi yang didukung praktik pembelajaran berpusat kepada siswa. Penelitian Sholikha . sejalan bahwa orang tua berperan penting dalam kesehatan mental siswanya. SMPN 22 Balikpapan dalam kesehatan mental, keamanan dan kenyaman belajar serta kemampuan kognitif siswa miskin ekstrem. Misalnya saja saat salah satu siswa miskin ekstrem yang bersekolah di SMPN 22 Balikapapan terkena musibah kebakaran, temanteman yang lainnya ikut membantu dan memberikan sumbangan baik berupa dana ataupun moral. Sehingga siswa yang rumahnya terkena kebakaran tidak sedih dan depresi, mental siswanya terjaga dikarenakan banyak siswa yang membantu. Hal ini sesuai dengan profil pelajar Pancasila (Parta & Aryasuari, 2. SMPN 4 Balikpapan yang lokasinya berada di kawasan anak punk sehingga pergaulan siswa miskin ekstrem di luar sekolah tidak bisa di pantau oleh guru. Kekurangan CCTV kendala bagi SMPN 4 Balikpapan dalam memantau siswanya. Dalam hal ini penting siswa miskin ekstrem menerapkan profil pelajar pancasila (Parta & Aryasuari. SMP Negeri 8 Balikpapan memiliki kemampuan kognitif yang baik daripada sekolah yang lain. Sedangkan SMPN 2 Balikpapan memiliki kognitif yang rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya proses berpikir seperti mengingat, memahami, menganalisis, memecahkan masalah, dan membuat keputusan dalam proses belajar. Sejalan dengan Waskitoningtyas . aktivitas kognitif mempengaruhi belajar. Kesimpulan Hasil kesimpulan bahwa tingkat keamanan lingkungan, kesehatan mental dan kognitif siswa miskin ekstrem, cukup baik dalam mendukung proses belajarnya serta keamanan dan kenyamanan belajar di sekolah ramah anak Tingkat SMP bagi siswa miskin ekstrem membuat belajar yang nyaman membuat kognitif siswa miskin ekstrem Di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Balikpapan, integrasi kearifan lokal ke dalam kegiatan pembelajaran sangat penting dalam lingkungan aman, kesehatan mental serta kognitif siswa miskin ekstrem karena dengan adanya kegiatan pembelajaran di lingkungan aman akan mengakibatkan kemampuan kognitif siswa miskin ekstrem bertambah serta dapat mengendalikan kesehatan mentalnya. Dengan mental yang sehat siswa miskin ekstrem dapat menerima pelajaran dan mamahami kearifan lokal yang sudah ditanamkan sejak SMP misalnya gotong royong, toleransi, menghormati orang yang lebih tua, cinta lingkungan dan adat istiadat. Jika penerapan kearifan lokal siswa miskin ekstrem SMP berhasil maka kesadaran pemahaman mengenai konten budaya lokal, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH minimnya media pembelajaran berbasis kearifan lokal, serta pengaruh budaya luar yang semakin mendominasi, dengan perlu ditingkatnya konten mengenai kearifan lokal sekolah ramah anak sehingga siswa miskin ekstrem dapat menjaga kesehatan mentalnya. Daftar Pustaka