HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 HoCh: Jurnal Holistic Christianity e-ISSN:- https://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/HoCh p-ISSN:Vol. 1 No. 1 (Maret 2. hlm:50-68 DOI: https://doi. org/10. 34081/HoCh. Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu Berkat Leluhur: Kritik Teologis Terhadap Tradisi Mangongkal Holi di Sumatera Utara Krisnawati Napitupulu,1 Andi Audi Lukito. * 1,. Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu. Indonesia Email: teologist3@gmail. Diterima: 31 Jan. Direvisi: 16 Maret 2026 Disetujui: 18 Maret 2026 Abstract Mangongkal Holi is a traditional cultural practice of the Toba Batak community involving the exhumation and relocation of ancestral remains as an expression of respect, preservation of genealogical lineage, and reinforcement of clan identity. Within the context of Toba Batak Christians, this tradition raises theological concerns when ancestral respect is interpreted as spiritual reliance, particularly in understanding ancestors as sources of blessing and protection. This study aims to critically examine the Mangongkal Holi tradition from a Christian theological perspective, focusing on the concepts of blessing, hope, and the role of Christ as the sole mediator. Employing a qualitative approach with a library research method, this study analyzes theological literature, cultural studies on the Toba Batak tradition, and relevant previous research. The findings indicate that Mangongkal Holi possesses legitimate social and cultural values, especially in strengthening family solidarity and communal identity. However, interpreting ancestors as sources of blessing is inconsistent with Christian theology, which affirms God as the sole source of blessing and Christ as the only mediator of Therefore, the church is called to respond to this tradition through a critical and contextual approach by clearly distinguishing cultural respect from theological reliance, in order to avoid syncretism while remaining faithful to Christian doctrine and respectful of local cultural heritage. Keywords: Ancestors. Mangongkal Holi. Blessing. Christian Theology. Contextualization. CopyrightA2026. Penulis. License: This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International (CC BY-SA 4. | 50 Abstrak Tradisi Mangongkal Holi merupakan praktik budaya masyarakat Batak Toba yang berkaitan dengan penggalian dan pemindahan tulang-belulang leluhur sebagai bentuk penghormatan, pemeliharaan silsilah keluarga, dan penguatan identitas Dalam konteks umat Kristen Batak Toba, tradisi ini menimbulkan persoalan teologis ketika pemaknaan penghormatan terhadap leluhur berkembang menjadi pengharapan spiritual, khususnya dalam memahami leluhur sebagai sumber berkat dan perlindungan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis tradisi Mangongkal Holi dalam perspektif teologi Kristen, dengan fokus pada konsep berkat, pengharapan, dan peran Kristus sebagai satu-satunya pengantara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, melalui analisis terhadap literatur teologi, kajian budaya Batak Toba, serta penelitian terdahulu yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Mangongkal Holi memiliki nilai sosial dan budaya yang sah, terutama dalam memperkuat solidaritas keluarga dan identitas komunitas. Namun, pemaknaan leluhur sebagai sumber berkat tidak sejalan dengan ajaran iman Kristen yang menegaskan Allah sebagai satu-satunya sumber berkat dan Kristus sebagai satu-satunya pengantara keselamatan. Oleh karena itu, gereja perlu menyikapi tradisi ini secara kontekstual dan kritis, dengan membedakan antara penghormatan budaya dan pengharapan teologis, guna menghindari praktik sinkretisme sekaligus tetap menghargai warisan budaya lokal. Kata-kata kunci: Berkat. Kontekstualisasi. Leluhur. Mangongkal Holi. Teologi Kristen. Pendahuluan Indonesia merupakan sebuah Negara Kepulauan yang dikenal dengan kekayaan suku bangsa akan ragam budayanya, dan tradisi. Setiap Provinsi di Indonesia memiliki banyak keunikan yang tersendiri yang terlihat dalam pola dan gaya hidup masyarakatnya walaupun terdapat berbagai perbedaan semuanya tetap tergabung dalam satu kesatuan sebagaimana tercermin dalam semboyan Negara. Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. 1 Diantara begitu banyak budaya di Indonesia, salah satu budaya yang menarik untuk dikaji adalah Mangongkal Holi. Mangongkal Holi merupakan suatu tradisi yang turuntemurun di masyarakat Batak Toba. Mangongkal Holi adalah tradisi penggalian tulang-tulang yang dilakukan masyarakat Batak Toba yang merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur mereka yang telah meninggal. Ritual Masfi SyaAofiatul Ummah. AuPerkembangan Tradisi Petik Laut Di Pesisir Pantai TPI (Tempat Pelelangan Ika. Paiton Probolinggo 2000-2016,Ay Sustainability (Switzerlan. 11, no. : 1Ae HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Mangongkal Holi ini merupakan cara untuk menjaga silsilah keluarga Batak Toba tetap hidup dengan cara menggali tulang-belulang nenek moyang dan meletakkannya ditempat yang baru yang biasa juga disebut dengan tugu atau Dalam kepercayaan masyarakat Batak Toba, tradisi Mangongkal Holi diyakini bermula ketika arwah leluhur menyampaikan pesan kepada keturunannya melalui mimpi atau penglihatan tertentu. Pengalaman tersebut dipahami sebagai isyarat dari leluhur yang mendorong keluarga untuk melaksanakan ritual Mangongkal Holi. Selain karena pesan dari leluhur, pelaksanaan penggalian tulang-belulang juga dilatarbelakangi oleh keinginan keluarga untuk memindahkan makam anggota keluarga agar lebih dekat dengan makam kerabat lainnya atau untuk membangun tambak atau tugu keluarga. Upacara ini dilakukan dengan mempersembahkan makanan atau sesajen yang diletakkan di atas pangombari yang berfungsi sebagai Selanjutnya, salah seorang tetua adat memimpin doa yang ditujukan kepada Setelah rangkaian awal ini, keluarga besar mengadakan musyawarah untuk menentukan waktu pelaksanaan penggalian tulang-belulang serta menyepakati rencana pembangunan tugu. Apabila seluruh keluarga telah mencapai kesepakatan, pembahasan dilanjutkan dengan menentukan siapa saja tulang-belulang yang akan dipindahkan, susunan acara ritual, bentuk dan ukuran tugu, serta perencanaan anggaran biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan tugu dan pelaksanaan upacara Mangongkal Holi. Upacara ini tidak hanya bersifat sosial dan budaya, tetapi juga mengandung unsur spiritual. banyak keluarga percaya bahwa roh leluhur masih memiliki kuasa untuk memberkati atau melindungi keturunan mereka. Kepercayaan ini diwujudkan melalui doa, permohonan, atau bentuk penghormatan yang pada dasarnya mengarah kepada pengharapan kepada orang meninggal. Dengan adanya Tradisi Mangongkal Holi dengan fungsi menghormati leluhur yang dimana ada sebuah nilai dan bertentang dengan Alkitab, maka ini dapat menjadi sebuah peluang bahkan wadah bagi Gereja ataupun para penginjil untuk mengembangkan misi yang besar untuk menyampaikan kebenarannya dan disandingkan dengan Injil serta dapat Lothar Schreiner. Adat Dan Injil(Perjumpaan Adat Dengan Iman Kristen Di Tanah Bata. , 7th ed. kwitang 22-23, jakarta: Gunung Mulia, 2. Pendidikan Agama Kristen,AuMenampilkan Kristen Yang Ramah Terhadap Adat Roh Nenek Moyang Di Tanah Batak Dengan PendekatanAy 2 . : 50Ae58. mengkontekstual akan pemahaman tradisi dari Mangongkal Holi keselamatan bagi semua orang melalui setiap Budaya. Sejumlah penelitian terdahulu telah membahas tradisi Mangongkal Holi dari berbagai perspektif. Herman dalam artikelnya membahas Mangongkal Holi dalam kerangka kontekstualisasi Injil, dengan fokus pada bagaimana gereja melakukan dialog antara iman Kristen dan budaya Batak Toba. Penelitian ini menekankan aspek ritual dan pendekatan misiologis gereja dalam menghadapi tradisi tersebut, namun tidak secara khusus mengkaji pemaknaan berkat leluhur dalam perspektif teologis. Penelitian lain oleh Butarbutar. Milala, dan Paunganan membahas sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu dalam masyarakat Batak Toba dari perspektif teologi Kekristenan. Dalam tulisan ini Dalihan Na Tolu dipahami bukan hanya sebagai adat, tetapi dijadikan bahan refleksi teologis tentang persahabatan dan kasih Kristiani, dengan menekankan bahwa sistem kekerabatan Batak idealnya menampilkan kasih, pengorbanan, dan relasi egaliter yang sejalan dengan ajaran kasih Kristus. Namun praktik sosialnya sering disalahpahami atau dipandang hanya sebagai hierarki adat sehingga perlu direkonstruksi agar sesuai teologi persahabatan Kristen. Sementara itu. Tobing meneliti Mangongkal Holi dari sudut pandang relasi kuasa antara adat dan agama. Penelitian ini menyoroti dinamika simbolik dan negosiasi otoritas antara lembaga adat dan institusi keagamaan dalam praktik Mangongkal Holi. Fokus penelitian lebih diarahkan pada aspek sosial-budaya dan politik identitas, tanpa membahas secara khusus konsep berkat leluhur dalam terang iman Kristen. 7 Berdasarkan telaah terhadap penelitian-penelitian terdahulu tersebut, dapat disimpulkan bahwa Mangongkal Holi telah banyak dibahas dari sisi ritual, sosial, dan relasi adat agama. Namun, belum ditemukan penelitian yang secara khusus mengkaji pemaknaan Mangongkal Holi sebagai sarana memperoleh berkat dari leluhur dan menilainya secara kritis dalam perspektif teologi Kristen. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis tradisi Mangokal Holi dalam terang teologi Kristen, khususnya terkait dengan Samuel Herman. AuKontekstualisasi Injil Dalam Tradisi Mangokal Holi,Ay Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi 4, no. : 1Ae15. Yekholya Tamahiwu and Yanto Paulus Hermanto. AuKharisma : Jurnal Ilmiah Teologi Metode Konseling Yesus Dan Implementasinya Pada Masa Kini Berdasarkan Yohanes 4 : 1-42Ay 5, 2 . : 14Ae25. Rut Debora Butarbutar. Raharja Milala, and Dina Datu Paunganan. AuDalihan Na Tolu Sebagai Sistem Kekerabatan Batak Toba Dan Rekonstruksinya Berdasarkan Teologi Persahabatan Kekristenan,Ay Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama Dan Kebudayaan 20, no. : 21Ae28. Suzen Tobing. AuMangongkal Holi Dan Relasi Kuasa Apparatus Adat Dan Agama,Ay Jurnal Seni Nasional Cikini 6, no. : 45Ae50. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 konsep berkat dan peran leluhur. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan, penelitian ini berupaya menegaskan bahwa penghormatan terhadap leluhur dapat dipahami sebagai nilai budaya yang tidak bertentangan dengan iman Kristen, sejauh tidak dimaknai sebagai sumber berkat atau perantara keselamatan. Dengan demikian, kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teologis bagi gereja dalam menyikapi tradisi Mangokal Holi secara kontekstual, kritis, dan setia pada ajaran Alkitab. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi Data penelitian diperoleh melalui kajian terhadap buku-buku teologi, jurnal ilmiah terindeks, serta dokumen-dokumen yang relevan dengan tradisi Mangongkal Holi dan teologi Kristen. Pendekatan ini dipilih untuk memungkinkan peneliti memahami secara mendalam makna tradisi Mangongkal Holi. Dalam penelitian ini yang dimana lebih mengarah kepada pemahaman akan suatu konteks pembahasan dari Tradisi Mangokal Holi melalui ataupun menurut pandangan, pemikiran, bahkan pendapat dari orang yang akan di wawancarai. 8 Mengungkapkan atau memahami fenomena di balik fenomena atau fakta secara holistik- kontekstual melalui ungkapan dari hasil wawancara sesuai dengan pembahasan melalui artikel Hasil dan Pembahasan Sejarah Mangongkal Holi Masuknya agama Kristen membawa perubahan signifikan terhadap praktik keagamaan masyarakat Batak Toba. Sejak awal abad ke-20 gereja dan para misionaris menolak Mangongkal Holi karena dianggap mengandung unsur pemujaan roh leluhur yang bertentangan dengan iman Kristen. Namun, seiring waktu, gereja khususnya HKBP mulai mengambil sikap yang lebih terbuka dengan melakukan penyaringan dan penyesuaian terhadap praktik-praktik adat tersebut. Beberapa unsur ritual yang dianggap tidak sejalan dengan ajaran Kristen dihilangkan atau dimaknai ulang, sementara aspek sosial dan kulturalnya tetap dipertahankan. Sri Yona. AuPenyusunan Studi Kasus,Ay Jurnal Keperawatan Indonesia 10, no. : 76Ae80 Muhammad Rijal Fadli. AuMemahami Desain Metode Penelitian KualitatifAy 21, no. 33Ae54. Marojahan S. Sijabat. AuPenggalian Tulang-Belulang : Sebuah Kritik Injili Terhadap Pembangunan Tugu Di Tapanuli Utara,Ay Veritas: Jurnal Teologi Dan Pelayanan 4, no. : 67Ae dalam Sinode tahun 1952, gereja mulai menerima kembali tradisi Mangongkal Holi dengan beberapa syarat. Tradisi upacara ulaon Mangongkal Holi pertama kali muncul di Desa Palipi. Upacara ini dilakukan oleh keluarga yang sudah lama merantau dari tanah kelahiran mereka . ona pasogi. dan tidak lagi mengenal seluruh sanak keluarga atau sesama marga. Karena itu, keluarga yang berada di perantauan berinisiatif untuk pulang kampung dan melaksanakan tradisi ini sebagai cara untuk mempererat hubungan keluarga dan mengenal kembali sesama marga . ongan tub. Upacara seperti Mangongkal Holi memiliki dua tujuan yang saling Pertama, untuk meningkatkan martabat atau kedudukan . orang tua yang telah meninggal di alam roh. Masyarakat percaya bahwa arwah leluhur membutuhkan doa dan tindakan dari keturunannya agar bisa mendapatkan tempat yang lebih baik di alam sana. Kedua, bagi keturunan yang masih hidup, upacara ini dipercaya dapat membawa berkat dari roh orang tua yang dihormati melalui ritual tersebut. Mangongkal Holi bertentangan dengan ajaran Injil karena bersumber dari kepercayaan bahwa roh leluhur bisa memberikan berkat kepada keluarga yang masih hidup. Meski begitu, pandangan ini perlahan mulai berubah karena Gereja HKBP kemudian mulai menerima ritual ini secara bertahap. Pembangunan tugu didirikan pada eranya salah satunya didorong oleh patung Sisingamangaraja di Soposurung pada 1953, hingga akhirnya tokoh Batak itu diberi gelar Pahlawan Nasional pada November 1961. Karena marga-marga lain merasa bahwa Sisingamangaraja hanya sebagai pahlawan Sinambela, maka mereka mulai membangun patung-patung untuk pahlawan . endiri marg. mereka masing-masing. Makna tugu sebenarnya adalah jauh daripada fungsi bangunan itu sendiri Bagi sebagian orang Batak selalu memesankan kepada keturunannya agar kelak ia tua dan meninggal, jenazahnya dikuburkan ke kampung halamannya, walaupun ia berada jauh di tanah rantau. 12 Tugu dalam pemakaman yang dibangun oleh keluarga itu akan menjadi identitas keluarga besar yang dimana ketika semakin megah bangunan pemakaman maka semakin tinggi derajat keluarga. Tugu merupakan simbol kebatakan marga dan simbol untuk kebatakan adat. Melalui tugu, orang batak membentuk kebatakannya, mempersatukan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, mempersatukan kota dan kampung. Pada saat acara Mangongkal Holi atau pesta tugu tersebut pastinya ada tata tertib acara yang dilakukan yaitu yang Tobing. AuMangongkal Holi Dan Relasi Kuasa Apparatus Adat Dan Agama. Ay Yerniman Gulo and Merry Mita. AuStudi Budaya Batak,Ay Jurnal Hukum. Politik. Dan Ilmu Sosial (JHPIS) 1, no. : 111Ae25. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 pertama kata sambutan, pentingnya kata-kata sambutan ini sama dengan pentingnya daging kurban tadi, maka acara kata-kata sambutan disebut juga hak untuk berbicara . andok hat. Tetapi karena tidak mungkin semua orang dapat menyampaikan katakata sambutan maka suatu kelompok memilih orang yang berhak dan pantas untuk hal itu. Dalam AuMangongkal HoliAy ini masih sangat dilestarikan hingga saat ini dan diwariskan secara turun-temurun. 13 Tradisi AuMangongkal HoliAy dulunya berasal dari pra-kristen. 14 yang dimana dianggap sebagai salah satu bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap leluhur tetapi dengan cara meninggikan posisi tulang belulang diatas tanah. Masyarakat Batak Toba ketika melakukan tradisi AuMangongkal HoliAy mereka mempercayai bahwa mereka akan mendapatkan Hagabeon . Hasangapon . , dan Hamoraon . tradisi ini tidak akan berubah dan tetap masih di pertahankan hingga saat ini. 15 di balik semua makna sosial dan budaya yang terkandung dalam Mangongkal Holi, terdapat juga aspekaspek spiritualistik yang dalam beberapa hal menimbulkan perdebatan, terutama bila dikaitkan dengan ajaran agama Kristen. Beberapa praktik yang biasa dilakukan dalam upacara ini, seperti pemujaan roh nenek moyang, doa-doa khusus yang ditujukan kepada arwah leluhur, serta persembahan atau sesaji sebagai bentuk penghormatan spiritual, mengandung unsur keyakinan yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip Alkitab. Dalam pandangan Kristen, keselamatan dan kehidupan kekal serta pengharapan hanya dapat diperoleh melalui Iman kepada Yesus Kristus, bukan melalui hubungan spiritual dengan arwah leluhur. Oleh karena itu, sebagian umat Kristen memandang bahwa unsur-unsur tersebut perlu disikapi secara kritis agar tradisi budaya tidak melunturkan kemurnian iman. Dalam tradisi AuMangongkal HoliAy ada tiga yang terlibat dalam setiap acara yaitu penutur pembawa acara. atu keturuna. biasa ini orang terdekat keluarga, lalu penutur istri . ula-hul. keluarga dari pihak keluarga istri, dan penutur istri penerima . oru/bere/ibaber. dapat disimpulkan bahwa ketika membawa acara harus berbicara kepada Hula-Hula dengan rendah hati dan dengan sopan yang menunjukkan sikap yang baik agar HulaHula dapat menerima permohonan atau permintaan dari tuan rumah. Tradisi Mangongkal Holi masih dilakukan oleh umat Kristiani sampai dengan saat ini, baik di desa maupun diperkotaan dikarenakan sudah menjadi kebudayaan yang menetap Herman. AuKontekstualisasi Injil Dalam Tradisi Mangokal Holi. Ay AuUpacara Adat Mangongkal Holi,Ay n. , 1Ae12. AuUpacara Adat Mangongkal Holi. Ay di suku Batak Toba, yang dimulai dari leluhur yang terdahulu kemudian di wariskan kepada generasi berikutnya. Tradisi AuMangongkal HoliAy di Sumatera Utara diselenggarakan setelah seorang anggota keluarga meninggal dunia dan telah berlalu 5-10 tahun lebih. Dapat dikatakan bahwa semua orang Batak itu bersaudara karena pada dasarnya orang Batak berasal dari satu nenek moyang yang menurunkan orang Batak. Penghormatan dilakukan bukan berarti menyembah leluhur sebagai Ilah atau dewa, melainkan lebih kepada mengenang jasa-jasa mereka dan menjaga warisan budaya yang telah ditinggalkan. Biasanya, bentuk penghormatan terhadap leluhur ini diwujudkan melalui berbagai cara, seperti upacara adat, perayaan tertentu, atau ritual-ritual khas yang berbeda antara satu budaya dengan budaya lainnya. Dalam konteks ini, penghormatan terhadap leluhur tidak dimaksudkan untuk melanggar iman Kristen, tetapi lebih kepada menunjukkan rasa syukur dan menghargai sejarah keluarga dan komunitas. 17 AuMangongkal HoliAy ini bukan saja menghormati para leluhur tetapi sebagai tempat juga untuk membahagiakan orang tua dan sebagai wadah untuk berkumpulnya marga-marga dan dari segala generasi, dan dari itu dapat memicu untuk saling mengenal. ari silsilah keluarg. 18 Melalui dari tradisi AuMangongkal HoliAy masyarakat batak toba dapat menyadari bahwa keluarga ingin menyatakan bahwa mereka mencapai impian serta tujuan setiap hidup yang diyakini oleh masyarakat Batak Toba yaitu Hamoraon . Hagabeon . , dan Hasangapon . dari ketiga ini seperti ada tertulis di Alitab tertulis di Amsal 22:4 yang berisi yaitu Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan. Pelaksanaan AuMangongkal HoliAy Pemuka agamalah yang akan membuka acara di pemakaman dan memanjatkan doa serta mengangkat setiap puji-pujian untuk melancarkan penggalian. Setelah acara ibadah yang dilakukan pemuka agama yang akan pertama kali mencangkul makam yang akan digali. Lalu paman dari pihak mendiang yang akan menggali sebagai pembuka dalam penggalian tersebut. Setelah itu berdirilah dari pihak paman Bab IIAuTinjauan Pustaka 2 . 1 Asal Usul Dan Sejarah Masyarakat Batak Toba,Ay n. , 15Ae46. Nurjannah Sintya Sihotang. Megawati Manullang, and Warseto Freddy Sihombing. AuPenghormatan Terhadap Leluhur: Perspektif Masyarakat Batak Kristen Terhadap Ritual Mangongkal Holi Di Desa Sinom Hudon Tonga,Ay Lumen: Jurnal Pendidikan Agama Katekese Dan Pastoral 2, no. : 65Ae79. Herman. AuKontekstualisasi Injil Dalam Tradisi Mangokal Holi. Ay Theodoros Theodoridis and Juergen Kraemer. AuTradisi Mangongkal Holi,Ay n. , 1Ae12. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 untuk menyangkul sebanyak 3 kali, lalu pihak mertua ikut berdiri dan ikut mencangkul sebanyak 3 kali, setelah pihak anak barulah ke pihak anak kandung atau anak terakhir dan mencangkul makam sebanyak 3 kali, lalu dari pihak anak menyampaikan kepada pihak boru . eturunan perempuan atau suami dari keturunan perempua. yang dimana akan dilanjutkan sampai tulang belulang ditemukan dan ketika tulang belulangnya ditemukan maka akan diberitahu kepada pihak boru hasuhuton . nak perempuan kandun. untuk mengangkat tulang belulangnya. Namun di makam itu sudah bersedia dari keturunan laki-laki yang nantinya siap menerima tulang belulang disiapkan air bercampur karbol, setelah proses pembersihan maka anak tertua dari pihak keluarga akan memberitahu atau mengumumkan bahwa penggalian telah selesai dan acara makam telah selesai, setelah semuanya selesai pihak dari anak akan menyampaikan sepatah kata kepada pihak paman serta memberikan ulos timpus . ain khas batak yang membungkus tulang belulang. Setelah acara penggalian semua sudah selesai dengan baik dan lancar maka akan dilanjutkan acara serah terima tulang belulang dari pihak paman kepada pihak keturunan dan dilanjutkan ke acara memasukkan ke dalam tugu yang telah disiapkan sebagai bentuk penghormatan. Mandok hata di tugu merupakan salah satu bagian penting dari rangkaian acara setelah proses inti Mangongkal Holi, yang berfungsi sebagai puncak dari upacara Setelah tulang belulang leluhur (Hol. dimasukkan ke dalam tugu atau makam keluarga yang baru dan lebih layak, keluarga besar Batak Toba akan berkumpul di sekitar tugu tersebut. Di sinilah prosesi mandok hata yang akan menyampaikan kata-kata. Setelah ritual utama ditugu selesai, rangkaian acara dilanjutkan dengan acara penutupan yang melibatkan seluruh keluarga besar dan masyarakat yang hadir. Adanya tari tor-tor dan musik gondang dan acara akan dimeriahkan dengan tarian tradisional Batak (Tor-to. yang diiringi musik Gondang Batak. Dalam Alkitab. Ulangan 18:10-12 berbicara tentang larangan Allah terhadap segala bentuk praktik okultisme, khususnya usaha manusia untuk mencari petunjuk, perlindungan, atau kuasa rohani melalui ramalan, sihir, dan komunikasi dengan arwah orang mati. Teks ini menegaskan bahwa umat Allah tidak boleh bergantung pada roh, leluhur, atau kekuatan gaib apa pun, karena tindakan tersebut dianggap sebagai kekejian di hadapan Tuhan dan menunjukkan ketidaksetiaan kepada Allah sebagai satu-satunya sumber tuntunan hidup. 21 Selain itu. Perjanjian Baru dalam 1 AuUpacara Adat Mangongkal Holi. Ay Arifianto Yonatan Alex. AuPraktik Okultisme Dalam Terang Alkitab Dan Implikasinya Bagi Iman Kristen. ,Ay Teologi Gracia Deo 3 1 . : 28Ae46. Timotius 2:5 menegaskan bahwa Yesus Kristus sebagai satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia. Ayat ini menegaskan bahwa relasi manusia dengan Allah, termasuk doa, keselamatan, dan penerimaan berkat, hanya dapat berlangsung melalui Kristus, bukan melalui perantara lain seperti manusia, leluhur, atau makhluk Secara keseluruhan, kedua teks ini menegaskan bahwa dalam iman Kristen, manusia dilarang mencari pertolongan rohani kepada orang mati dan dipanggil untuk menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Allah melalui Yesus Kristus sebagai satu-satunya pengantara. Ini menjadi dasar teologis untuk membedakan antara penghormatan budaya kepada leluhur dan praktik religius yang bertentangan dengan iman Kristen. Kritik Teologis Terhadap Pengharapan Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, telah membuka jalan bagi umat manusia untuk memperoleh hidup yang kekal. Pengharapan Kristen akan masa depan tidak terletak pada relasi spiritual dengan leluhur, melainkan sepenuhnya pada karya penebusan yang telah digenapi oleh Kristus. Kritik teologis utama dalam hal ini adalah bahwa pengalihan pengharapan kepada leluhur dianggap sebagai bentuk penyimpangan dari iman yang eksklusif kepada Allah. 24 Kebangkitan Kristus menjadi dasar keyakinan bahwa semua orang yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan dan hidup bersama-Nya dalam kekekalan. Dengan demikian, dalam perspektif teologis, segala bentuk penghormatan kepada leluhur harus dilandaskan pada kasih dan penghargaan, bukan pada unsur-unsur spiritualistik yang berpotensi menyimpang dari kebenaran Injil. Kristus tetap menjadi satu-satunya Dalam tradisi adat Suku Batak Toba ini sering sekali menimbulkan pertanyaan tentang perpaduan antara tradisi dan ajaran Kristen. tradisi ini yang merupakan melibatkan penggalian dan pemindahan tulang belulang leluhur, dan bisa di interpretasikan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, sekaligus sebagai Natonis Harun Y. AuKristus Sebagai Satu-Satunya Mediator: Tinjauan Teologis 1 Timotius 2:5-6. ,Ay Teologi El-Shadday 8 1 . : 45Ae60. Sijabat. AuPenggalian Tulang-Belulang : Sebuah Kritik Injili Terhadap Pembangunan Tugu Di Tapanuli Utara. Ay Hia Alisatman. AuEksklusivitas Kristus Sebagai Jalan Keselamatan: Tinjauan Teologis Terhadap Tradisi Lokal,Ay Cultivation:Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 7, no. : 12Ae Butar-butar Robinson. AuReinterpretasi Teologis Terhadap Budaya Batak Toba,Ay Epigraphe: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 5, no. : 180Ae95. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 bentuk doa dan permohonan kepada Tuhan. Dalam pandangan teologi Kristen, penghormatan kepada orang tua dan leluhur merupakan nilai yang memiliki tempat penting dan bahkan dianjurkan dalam kehidupan iman Kristen. Hal ini selaras dengan perintah Tuhan dalam Kitab Keluaran 20:12, yang memerintahkan umat untuk menghormati ayah dan ibu mereka sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan etika. Menghormati leluhur berarti mengakui peran mereka dalam pewarisan iman, budaya, dan kehidupan, serta menghargai kontribusi mereka terhadap keberlangsungan generasi. Namun, penghormatan ini memiliki batas yang jelas dan tidak boleh disalah artikan atau dikembangkan menjadi bentuk penyembahan atau pemujaan kepada roh leluhur. Kitab Suci secara tegas melarang praktik-praktik yang melibatkan komunikasi atau penyembahan kepada arwah, sebagaimana tertulis dalam Ulangan 18:10Ae12 yang merupakan untuk tidak terlibat dalam praktik-praktik Dalam konteks iman Kristen, segala bentuk hubungan spiritual dengan roh orang meninggal dianggap bertentangan dengan kehendak Allah, karena hanya kepada Tuhan sajalah umat diperbolehkan menyembah dan memohon petunjuk. Dalam ajaran Kristologi yang dimana ajaran tentang Kristus kematian manusia tidak di pandang sebagai akhir dari kehidupan, tetapi sebagai pintu gerbang menuju kehidupan kekal. Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, telah membuka jalan bagi umat manusia untuk memperoleh hidup yang kekal. Pengharapan Kristen akan masa depan tidak terletak pada relasi spiritual dengan leluhur, melainkan sepenuhnya pada karya penebusan yang telah digenapi oleh Kristus. Kebangkitan Kristus menjadi dasar keyakinan bahwa semua orang yang percaya kepada-Nya akan di bangkitkan dan hidup bersama-Nya dalam kekekalan. Dengan demikian, dalam perspektif teologis, segala bentuk penghormatan kepada leluhur harus dilandaskan pada kasih dan penghargaan, bukan pada unsur-unsur spiritualistik yang berpotensi menyimpang dari kebenaran Injil. Kristus tetap menjadi satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia, dan kepada-Nya saja pengharapan umat diarahkan. Dalam Alkitab, sebenarnya tidak ada ayat yang secara langsung atau terangterangan menyatakan bahwa tradisi AuMangongkal HoliAy itu dilarang, di sisi lain tidak ada juga ayat yang secara khusus menyatakan bahwa tradisi ini benar atau Jadi. Alkitab tidak memberikan pernyataan eksplisit tentang boleh atau tidaknya tradisi tersebut. Jika kita mencoba membandingkan tradisi Binsar H. Siregar, "Mangongkal Holi:Makna Dan Kontroversinya Dalam Masyarakat Kristen Batak. Sosio-Humaniora. Alkitab Te, vol. 13, 1974. AuMangongkal HoliAy dengan kisah pemindahan tulang belulang Yusuf dalam Alkitab, memang ada sedikit kemiripan yaitu keduanya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang sudah meninggal khususnya leluhur. Namun, ada perbedaan penting27 antara keduanya dalam kisah Yusuf pemindahan tulang belulangnya tidak melibatkan ritual-ritual adat atau upacara khusus yang berkaitan dengan roh leluhur atau kepercayaan spiritual lainnya. Tulang-tulang Yusuf di pindahkan karena ia sendiri yang berpesan agar kelak, saat bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka membawa tulangnya dan menguburkannya di tanah perjanjian, sebagai bagian dari penggenapan janji Allah. Berbeda hal nya dengan tradisi Mangongkal Holi, yang biasanya dilakukan dengan berbagai ritual adat yang cukup Dalam tradisi tersebut, sering kali ada unsur-unsur yang berhubungan dengan kepercayaan kepada roh leluhur, termasuk permohonan restu atau penghormatan khusus kepada arwah. Jadi, meskipun tujuannya terlihat mirip yaitu menghormati orang tua atau leluhur yang telah meninggal cara dan maknanya bisa sangat berbeda jika dilihat dari sudut pandang iman Kristen. Dalam perjanjian lama, leluhur merupakan penghormatan bukan menjadi Kepercayaan terhadap nenek moyang tersebut dalam Allah Abraham. Ishak. Yakub mereka adalah leluhur bangsa Israel. Allah sendiri yang meminta untuk disebut sebagai Allah Abraham. Ishak. Yakub. Keluaran 3:15 selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa:Aybeginilah kau katakan kepada orang Israel: Tuhan. Allah nenek moyangmu. Allah Abraham. Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah Nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun yang merupakan ini sebagai tanda bukti perjanjian bahwa Allah akan memberkati Abraham. Ishak, dan Yakub. Dalam penyebutan ini merupakan sebuah penghormatan kepada para leluhur dan tidak melakukan pemujaan atau penyembahan kepada leluhur melainkan penyembahan kepada Allah para leluhur. dalam Alkitab khususnya di perjanjian lama ada menjelaskan mengenai penggalian tulang belulang dan pendirian tugu sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Kejadian 50:24-25 Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: AuTidak lama lagi aku akan mati. tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham. Ishak dan YakubAy. Di ayat 25 berkata bahwa: Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: AuTentu Allah akan memperhatikan kamu. pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari siniAy. Wawancara Dengan JN. Tradisi Mangongkal Holi, 15 Oktober 2024. Pukul 19:00 Wib HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Di perjanjian lama ini dikatakan bahwa satu-satunya bidang tanah di Kanaan yang dimiliki Abraham sebagai penggenapan injil Allah adalah tanah kuburan, ketika iman Yusuf bertahan dalam janji Allah bahwa Kanaan akan menjadi tanah air bagi Oleh karena itu Yusuf pada waktu itu meminta kepada keturunannya agar tulang belulangnya dibawa ke tanah yang dijanjikan itu. Empat ratus tahun kemudian, ketika orang Israel meninggalkan Mesir untuk pergi ke Kanaan dan mereka membawa tulang-tulang Yusuf dan di kuburkan mereka di Sikhem di tanah milik yang dibeli Yakub dengan harga seratus keping perak. pada waktu itu Yusuf menyuruh orang Israel untuk bersumpah dan membawa tulang-tulang Yusuf. sebuah tanda penghormatan yang dilakukan oleh Bangsa Israel terhadap Yusuf dikarenakan mereka melakukan atau melaksanakan apa yang dikatakan oleh Yusuf, mereka membawa tulang belulang Yusuf ke tanah Kanaan ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, inilah sebagai bentuk penghormatan yang dilakukan bangsa Israel kepada leluhur. Makna dari keduanya antara budaya Batak AuMangongkal HoliAy dengan pemindahan tulang belulangnya Yusuf memiliki ada kesamaan makna dari keduanya ini yaitu jika dalam Budaya Batak Toba ketika melakukan acara AuMangokal HoliAy bukan hanya sekedar hanya acara saja yang dilakukan tetapi makna tersendirinya adalah sebagai tanda penghormatan kepada leluhur walau sudah meninggal lebih Masyarakat Batak Toba mempercayai bahwa ketika menghormati leluhur akan di berkati dan diberikan dalam segala kelimpahan serta maknanya yaitu untuk mengeratkan tali kekrabatan di antara keluarga dan marga, upacara AuMangongkal HoliAy ini dilakukan untuk mempertahankan silsilah dalam garis keturunan suatu marga, melalui upacara AuMangongkal HoliAy ini dapat menunjukkan eksistensi dan taraf hidup keluarga. Begitu juga dengan cerita tulang belulangnya Yusuf. Tulang belulang Itu sebenarnya sebagai identitas Yusuf, begitu juga di suku batak toba itu menjadi sebuah identitas bagi mereka sehingga dapat diketahui dan itu menjadi tanda penghormatan bagi setiap bapa leluhur dan nantinya akan dikenalkan dari generasi ke generasi. Pada waktu itu Yusuf meminta agar ketika Ia mati tulang belulangnya itu dapat di pindahkan ke tanah Kanaan /Israel. Yusuf percaya bahwa Allah akan melawat sampai ketanah perjanjian dan ia meminta kepada saudara-saudara atau keluarga-keluarga bahkan orang Israel untuk bersumpah kepada Abraham. Ishak, dan Yakub sebagai tanda penghormatan mereka memindahkan tulang belulangnya Yusuf Ruth Anugrah Olivia and Kata Kunci. AuDialog Kristen Dengan Ritus Mangongkal Holi Dalam Budaya Batak Toba Theology Of Respect Missiological Efforts Through Christian Dialogue With The Mangongkal Holi Rites in Toba Batak Culture,Ay no. : 53Ae63. ke tanah Kanaan dan tulangnya diberikan atau dibaluti dengan rempah-rempah. Begitu juga dalam Suku Batak Toba ketika masa penggalian tulang belulang, tulangnya itu juga akan dibaluti rempah-rempah yang sudah disediakan. Jadi, pemaknaan keduanya ada sebuah kesamaan antara AuMangongkal HoliAy dengan pemindahan tulang belulangnya Yusuf. Orang yang sudah mengalami kematian yang pastinya Roh, jiwanya kembali kepada Allah. Segala acara pemakaman atau peringatan orang yang lebih dulu meninggal dan tidak difokuskan kepada orang yang sudah meninggal, melainkan di fokuskan kepada acara penghiburan atau penguatan iman kepada setiap keluarga yang ditinggalkan. Tradisi ini masih terus berkembang dan disini lah para misi serta Gereja dapat menjelaskan dan berkontekstual terhadap Mangokal Holi. Dalam mengkontekstualkan budaya Mangokal Holi ditengah-tengah gereja yang dimana gereja saat ini diperhadapkan dengan adanya suatu keharusan yang harus dilakukan dalam merancang kreativitas yang baru dalam melakukan pengkonstektualan misi terhadap budaya. Yang mengharuskan untuk dapat menguasai dengan baik sehingga ketika bermisi gereja dapat memberikan inovatif dan dapat mengkontekstualkan terhadap budaya dengan memanfaatkan atau dengan menggunakan kesempatan yang ada Juga gereja tidak hanya sekedar hanya dituntut begitu saja tetapi harus dituntut memiliki sumber daya manusia untuk melakukan segala rancangan program misi dan dapat dipergunakan di semua teknologi mana pun yang adalah itu menjadi sebuah sarana dalam melakukan penginjilan terhadap suku Batak Toba yang di kontekstualisasikan dengan Mangongkal Holi. Kajian teologis terhadap Mangongkal holi ini perlu dilakukan dengan hati-hati dengan mempertimbangkan aspek budaya, sejarah, ajaran Kristen yang relevan dan pemahaman yang tepat mengenai tradisi ini sehingga dapat membantu jemaat Batak Toba untuk dapat memahami dan menghargai warisan leluhur mereka yang dimana sambil tetap setia dengan ajaran Kristen. Seperti dijelaskan sebelumnya, selain itu perlu diketahui Teologi Kristen mengajarkan bahwa segala berkat berasal dari Allah. dalam Yakobus 1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang. pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. bukan dari makhluk ciptaan, apalagi yang telah meninggal. Berharap kepada orang meninggal berarti mengabaikan kedudukan Allah sebagai satu-satunya sumber berkat. John Calvin menekankan bahwa manusia pada dasarnya tidak layak menerima berkat karena kondisinya yang berdosa, namun Allah memberikan anugerah-Nya semata-mata AuMuh Mastury Hellenisme. Pdf,Ay n. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 karena kasih-Nya yang besar dan kedaulatan-Nya. Konsep ini menegaskan bahwa berkat bukanlah hasil dari usaha manusia atau ritual adat, melainkan pemberian cuma-cuma dari Allah . yang diterima melalui iman kepada Kristus. Selain itu, dapat menggantikan Peran Kristus yang adalah permintaan berkat kepada arwah berpotensi menggantikan peran Kristus sebagai perantara satusatunya. Dalam Ibrani 7:25 Kristus adalah satu-satunya pengantara antara manusia dan Allah. Dalam Mangongkal Holi, peran ini secara tidak langsung digantikan oleh arwah leluhur, yang mengarah pada penolakan tidak langsung terhadap otoritas Kristus. Ketika unsur-unsur non-Kristiani dibiarkan masuk ke dalam praktik iman, hal ini membuka jalan bagi sinkretisme. Gereja harus waspada agar tidak mengaburkan garis antara penginjilan dan pelestarian budaya. Dalam konteks ini, tradisi Mangongkal Holi dapat dijadikan sebagai "jembatan" untuk memperkenalkan pemahaman baru yang selaras dengan ajaran Kristen, tanpa menghapuskan unsur Budaya yang sudah mengakar. Dengan demikian, makna dari tradisi Mangongkal Holi diubah secara perlahan bukan lagi sebagai ritual yang mengarah pada roh orang yang telah meninggal, tetapi menjadi sebuah bentuk ibadah penghormatan yang sesuai dengan iman Kristen. Hal ini sangat membantu umat Kristen di Batak Toba agar tidak merasa bingung atau mengalami konflik batin dalam menjalankan tradisi tersebut. Mereka tetap bisa menghargai budaya lokal, namun dengan pemaknaan yang baru dan berdasarkan firman Tuhan. Melalui pendekatan ini, umat Kristen di Sumatera dapat memiliki pemahaman iman yang lebih teguh dan sesuai dengan ajaran Alkitab. Mereka di ajak untuk percaya bahwa kematian adalah akhir dari kehidupan biologis manusia, di mana tubuh akan kembali ke tanah seperti semula. Tradisi Mangongkal Holi jika dipahami sebagai pertemuan sosial untuk mengenang orang yang meninggal dan mempererat hubungan antar keluarga serta masyarakat, sesungguhnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Kristen. 32 Dalam bentuknya yang seperti itu, tradisi tersebut bahkan bisa menjadi momen yang baik untuk membangun relasi, saling menguatkan, dan menabur kasih di tengah komunitas. Jhon Calvin. Institutes of the Christian Religion, ed. Translator: Henry Beveridge (Grand Rapids: Wm. Eerdmans Publishing, 1. Hikman Sirait. AuMangongkal Holi Kajian Terhadap Tradisi Batak Toba Berdasarkan Iman Kristen,Ay 2018. Siregar, "Mangongkal Holi:Makna Dan Kontroversinya Dalam Masyarakat Kristen Batak. Marisi et al. Au"Etika Teologis Dalam Memandang Tanggung Jawab Kristen Terhadap Kelestarian Budaya Nusantara,Ay 2021. Etika Teologis Dalam Memandang Tanggung Jawab Kristen Terhadap Kelestarian Budaya Nusantara Dalam pandangan masyarakat Batak Toba, kematian bukan berarti putusnya hubungan sosial dan spiritual, melainkan hanya sebuah transisi ke alam lain di mana para leluhur tetap dihormati dan diakui eksistensinya. Oleh karena itu. Mangongkal Holi juga menjadi sarana penting untuk memelihara ikatan antar-generasi serta menunjukkan rasa hormat kepada asal-usul. Ada begitu banyak jawaban atau alasan yang positif ketika melakukan tradisi Mangongkal Holi ini. Namun, banyak kasus ketika melakukan ritual tradisi ini berharap agar roh leluhur memberkati keturunannya dan memberikan pengharapan dan juga menjamin akan keselamatan yang ada di dunia. Praktik ini menggeser fokus iman dari Allah kepada roh manusia yang sudah meninggal, suatu bentuk kepercayaan yang bertentangan dengan iman Kristen. Relevansi Bagi Gereja Dalam konteks Mangongkal Holi, terdapat berbagai peluang dan strategi yang dapat dikembangkan untuk menjadikan tradisi ini sebagai sarana pewartaan Injil yang bermakna dan membangun: Pertama, gereja dapat memanfaatkan momentum pelaksanaan Mangongkal Holi sebagai kesempatan untuk mengajarkan doktrin kebangkitan tubuh dan pengharapan akan kehidupan kekal sebagaimana diajarkan dalam 1 Korintus 15. Dengan pendekatan ini, umat diajak untuk memahami kembali makna kematian dan kehidupan setelah kematian secara Kristosentris, yaitu dengan memusatkan pengharapan kepada kebangkitan Kristus dan janji hidup kekal yang diberikan kepada orang percaya. Kedua, gereja dapat mengarahkan umat untuk melakukan reinterpretasi . enafsirkan kembali apa yang sudah ada dengan adanya elemen-elemen kebaruan, tanpa menghilangkan makna asliny. terhadap unsur-unsur dalam tradisi yang dianggap bermasalah secara teologis. Misalnya, daripada melakukan persembahan atau doa kepada roh leluhur, umat dapat diajak untuk menggantinya dengan doa-doa syukur kepada Allah dan penyembahan kepada Tritunggal Mahakudus, sebagai ungkapan iman dan pengakuan bahwa hanya Tuhanlah yang layak dipuji dan Ketiga, gereja juga bisa berperan dalam merancang bentuk liturgi keluarga atau ibadah bersama yang relevan dengan momen tersebut, namun tetap berlandaskan pada ajaran iman Kristen. Ibadah ini bisa berisi pembacaan Firman Tuhan, nyanyian pujian, doa syafaat, dan penguatan iman yang menekankan kasih Kristus dan pentingnya hidup sebagai komunitas yang bersandar kepada Allah. HoCh: Jurnal Holistic Christianity. Vol. No. Maret 2026 Simpulan Tradisi Mangongkal Holi tidak hanya mencerminkan penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial, historis, dan spiritual yang telah di wariskan secara turun-temurun. Leluhur bukan lah sebagai pusat penyembahan atau menjadi tempat untuk meminta segala berkat. Melainkan sebagai tanda penghormatan yang dilakukan terhadap leluhur. Namun, bagi umat Kristen yang hidup dan bertumbuh di tengah masyarakat Batak, pelaksanaan tradisi ini kerap menghadirkan tantangan tersendiri, khususnya dalam hal spiritualitas yang mungkin mengandung unsur-unsur yang tidak sejalan dengan ajaran Iman Kristen. Dalam AuMangongkal HoliAy juga sebenarnya adalah bentuk penghormatan yang dilakukan kepada leluhur, hanya saja kadang kala masyarakat Suku Batak Toba yang selalu salah dalam mengambil pemaknaan dalam ritus dengan melakukan pemujaan dan doa terhadap leluhur. Tetapi di sini mendapatkan sebuah pemaknaan atau pemahaman bahwa pemikiran mengenai Teologi penghormatan yang dimana ini menjadi bentuk berteologi yang benar. Sebenarnya penghormatan yang dilakukan kekristenan yaitu penghormatan terhadap orang tua yang masih ada atau yang masih hidup itu menjadi budi yang baik terhadap orang tua dan tidak melakukan suatu budi atau sikap kepada orang yang sudah lebih dulu meninggal kecuali ketika masa penguburan dengan cara yang layak dan itu menjadi bentuk wujud tanda penghormatan kepada leluhur. Budaya yang dipercayai oleh masyarakat Suku Batak Toba memaknai sebagai simbol kehidupan manusia yang dimana menjelaskan bahwa semakin tinggi tugu dibangun artinya semakin dekat dengan Allah. Nenek moyang atau orang tua yang sudah meninggal dan semakin meningkat Seharusnya pengertian ini dibalik yaitu semakin tinggi tugu dibangun akan semakin dekat dengan Allah dan semakin meningkat akan kehidupan. Tingkat tinggi kehidupan manusia adalah hidup serupa dengan Kristus. Daftar Pustaka