Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pengaruh Ukuran. Profitabilitas. Leverage dan Kinerja Lingkungan terhadap Environmental Disclosure dan Kinerja Keuangan Perusahaan Pertambangan di Indonesia Fajar Noegroho. Endah Susilowati Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur noegroho3@gmail. com, endahs. ak@upnjatim. ABSTRACT The environmental issues caused by the mining industry are often attributed to the lack of environmental information disclosure by mining companies. This leads to a decrease in public and investor trust. Consequently, many mining industries suffer financially due to declining profits and investment levels. Therefore, there is a need for companies to enhance public trust through environmental information disclosure, as well as other factors such as company size, profitability, leverage, and environmental performance, which are considered potential reasons for mining companies to engage in environmental information disclosure. This research adopts a quantitative approach. The population of the study consists of mining companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) from 2017 to 2021. The sampling technique employed is purposive sampling, resulting in 49 companies that meet the criteria, with a total of 195 data The data in this study were analyzed using Partial Least Square (PLS). The findings of this research indicate that only the variable of Company Size has a significant positive influence on Environmental Disclosure, while the variables of Leverage and Profitability have a significant positive impact on Financial Performance. These results suggest that there are still many mining companies that prioritize business interests over environmental concerns. Keywords: Firm Size. Profitability. Leverage. Environmental Performance. Environmental Disclosure. Financial Performance ABSTRAK Permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh industri pertambangan sering kali disebabkan oleh minimnya tingkat pengungkapan informasi lingkungan oleh perusahaan Hal ini berdampak terhadap menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat dan investor. Akibatnya, banyak industri pertambangan terdampak secara finansial dikarenakan penurunan laba dan juga tingkat investasi. Oleh sebab itu, hal ini memunculkan kebutuhan bagi perusahaan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui pengungkapan informasi lingkungan dan juga faktor lain seperti ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan juga kinerja lingkungan yang dinilai bisa menjadi alasan bagi perusahaan pertambangan untuk melakukan pengungkapan informasi lingkungan dan juga dapat berdampak terhadap kinerja keuangan perusahaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Populasi penelitian adalah perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017-2021. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan didapatkan 49 perusahaan yang sesuai kriteria dan data sampel sebanyak 195 data laporan. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya variabel Ukuran Perusahaan yang dapat berpengaruh signifikan positif terhadap Environmental Disclosure, sementara variabel Leverage dan Profitabilitas yang berpengaruh signifikan positif terhadap 1056 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Kinerja Keuangan. Hasil ini menunjukkan bahwa masih banyak perusahaan pertambangan yang peduli terhadap permasalahan lingkungan dan hanya mengutamakan kepentingan Kata Kunci: Ukuran Perusahaan. Profitabilitas. Leverage. Kinerja Lingkungan. Pengungkapan Lingkungan. Kinerja Keuangan PENDAHULUAN Berbagai fenomena kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas operasional perusahaan menjadi penyebab masih minimnya pelaporan tanggung jawab sosial dan lingkungan di Indonesia. Terutamanya permasalahan tersebut sering terjadi pada perusahaan pertambangan. Beberapa kasus tersebut di antaranya PT Fajar Sakti Prima atas dugaan pelanggaran AMDAL karena memindahkan alur pelayaran ponton dari tempat yang disetujui sesuai AMDAL yang mengakibatkan terganggunya ekosistem di kawasan habitat Pesut Mahakam (Kalpostonline. PT VALE Indonesia yang beroperasi di Sulawesi Selatan dengan luas konsesi 566 hektar, terbukti melakukan tindakan pembuangan limbah ke Sungai Timbalo dan telah membuat laju sedimentasi semakin meningkat hingga membentuk daratan baru yang penuh lumpur halus di pinggiran Danau Mahalona Desa Tole. Kecamatan Towuti. Kabupaten Luwu Timur, yang menyebabkan menurunnya Populasi Ikan Butini (Glosogobius Matanensi. yang merupakan ikan endemi di Danau tersebut (Asiatoday. id, 2. Permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh industri pertambangan sering kali disebabkan oleh minimnya tingkat pengungkapan informasi lingkungan oleh perusahaan pertambangan. Pengungkapan informasi lingkungan telah didefinisikan secara luas, yaitu memberikan informasi sehubungan dengan dampak dari kegiatan usaha mereka (Sayuti dkk. , 2. Sebuah sistem rating dikemukakan Sayuti dkk. untuk pengungkapan informasi lingkungan berisikan dua puluh lima item. Kemudian Global Reporting Initiative (GRI) mengungkapkan dengan delapan dimensi yang meliputi bahan, energi, air, keanekaragaman hayati, emisi dan limbah, serta limbah B-3, produk dan jasa, kepatuhan dan transport. Pemahaman yang lebih baik dari kegiatan perusahaan melalui pengungkapan informasi lingkungan dalam laporan keuangan tahunan perusahaan akan mengurangi kritik dari sumber eksternal dan internal yang akhirnya akan dapat meningkatkan reputasi perusahaan (GRI, 2. Peningkatan terhadap reputasi dan kepercayaan oleh masyarakat maupun stakeholder akan dapat meningkatkan tingkat kinerja keuangan perusahaan secara tidak langsung. Publik memberikan perhatian yang besar terhadap kinerja lingkungan perusahaan dan selalu menuntut agar perusahaan lebih peka terhadap isu Perusahaan harus senantiasa meningkatkan kualitas kinerja lingkungan agar dapat menyesuaikan dengan harapan yang diberikan publik (Ermaya & Mashuri. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk melakukan pengungkapan informasi lingkungan dengan baik. Menurut Artamelia dkk. menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan pengungkapan lingkungan ketika termotivasi 1057 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. secara finansial. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Pawitradewi dan Wirakusuma . yang menjelaskan bahwasanya pengungkapan lingkungan memiliki keterkaitan terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Hal ini disebabkan tingkat kepercayaan masyarakat yang meningkat sehingga memberikan image yang baik terhadap investor dan menjadi nilai tambah. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul AuPengaruh Ukuran Perusahaan. Profitabilitas. Leverage dan Kinerja Lingkungan terhadap Environmental Disclosure dan Kinerja Keuangan Perusahaan pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEIAy. Permasalahan terkait lingkungan yang menyebabkan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan membuat adanya tuntutan terhadap perusahaan-perusahaan pertambangan besar agar lebih peduli terhadap dampak limbah dan emisi terhadap TINJAUAN LITERATUR Konsep Triple Bottom Line (TBL) merupakan pendekatan yang mengubah paradigma bisnis dari fokus pada Profit tunggal menjadi tiga dimensi, yaitu Profit. People, dan Planet. Konsep ini pertama kali dicetuskan oleh John Elkington pada tahun Pada awalnya, perusahaan hanya berfokus pada tujuan menciptakan laba tanpa mempertimbangkan dampak yang timbul dari kegiatan bisnis mereka. Namun, dengan munculnya berbagai kasus yang merugikan lingkungan, paradigma ini segera bergeser menuju TBL. TBL didasarkan pada teori legitimasi dan teori stakeholder. Teori legitimasi menyatakan bahwa perusahaan perlu mendapatkan dukungan dan pengakuan dari masyarakat dan stakeholder agar dapat bertahan dalam jangka Panjang (Albertini & Berger-Remy, 2. Dalam konteks lingkungan, perusahaan harus melegitimasi operasionalnya dengan mempertimbangkan dampak yang Dengan mengadopsi pendekatan TBL, perusahaan dapat menunjukkan komitmen mereka terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam kesimpulannya, konsep TBL merupakan respons terhadap tuntutan yang semakin meningkat terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan Dengan mengintegrasikan teori legitimasi, teori stakeholder, dan pendekatan TBL, perusahaan dapat mencapai kinerja yang seimbang dalam dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta memainkan peran aktif dalam pembangunan yang berkelanjutan. Kebutuhan perusahaan untuk menjaga tingkat kepercayaan masyarakat dan kebutuhan untuk keberlanjutan bisnis perusahaan menjadi landasan penggunaan teori legitimasi dan teori stakeholder dalam menjelaskan variabel pengungkapan lingkungan dan kinerja keuangan perusahaan, sementara konsep TBL menjelaskan kebutuhan perusahaan untuk dapat menyeimbangkan antara kebutuhan mencari keuntungan . serta dampak yang dapat ditimbulkan terhadap lingkungan dan sosial . eople dan plane. 1058 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Ukuran Perusahaan Profitabilitas (X. Leverage (X. Kinerja Keuangan Environmental Disclosure Kinerja Lingkungan Gambar 1. Model Kerangka Penelitian Itan dan Jessy . menyatakan Semakin besar ukuran perusahaan akan semakin besar pula dampak lingkungan yang ditimbulkan. Dampak lingkungan tersebut akan menarik perhatian masyarakat karena setiap kebijakan perusahaan akan dinilai sehingga setiap kebijakan yang tidak berpihak ke publik akan rentan menjadi masalah sosial. Perusahaan besar aktivitasnya lebih luas dan sumber daya yang dimiliki juga lebih besar dibandingkan dengan perusahaan kecil sehingga tuntutan dan tekanan dari stakeholder dan masyarakat akan semakin besar (Effendi. H1: Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Enviromental Disclousure Perusahaan dengan kondisi keuangan yang bagus akan dengan mudah mengerahkan kemampuan yang dimiliki untuk membuat environmental disclosure dan lebih baik di dalam melawan tekanan dari luar (Wahyuningsih, 2. Perusahaan dengan profitabilitas tinggi akan mudah untuk menjawab tuntutan dan tekanan dari masyarakat karena perusahaan mempunyai sumber daya yang lebih untuk dapat digunakan dalam mengungkapkan tanggung jawab lingkungan sehingga perusahaan dengan mudah mendapatkan legitimasi dari masyarakat (Sholihah & Suryaningrum, 2. H2: Profitabilitas berpengaruh terhadap Enviromental Disclousure Perusahaan dengan leverage tinggi lebih memilih melunasi kewajiban terhadap kreditur dibandingkan dengan melakukan pengungkapan karena melakukan pengungkapan sukarela hanya akan menambah beban bagi perusahaan (Sholihah & Suryaningrum, 2. Penelitian oleh Sholihah dan Suryaningrum . juga menjelaskan bahwa tingkat leverage yang tinggi akan menyebabkan semakin tinggi kemungkinan perusahaan melanggar perjanjian kredit. Keadaan tersebut membuat perusahaan menyajikan informasi laba yang tinggi. H3: Leverage berpengaruh terhadap Enviromental Disclousure Ali dkk. berpendapat bahwa perusahaan dengan kinerja lingkungan yang baik memiliki insentif untuk lebih proaktif dalam menangani masalah 1059 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Perusahaan berusaha untuk mengungkapkan jenis kinerja mereka melalui pengungkapan sukarela yang tidak dapat dengan mudah ditiru oleh perusahaan lain dengan kinerja lingkungan yang buruk (Maroun & Stadler, 2. Pawitradewi dan Wirakusuma . yang menjelaskan bahwasanya kinerja lingkungan memiliki pengaruh positif pada pengungkapan informasi lingkungan. H4: Kinerja Lingkungan berpengaruh terhadap Environmental Disclosure Erawati dkk. menunjukkan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh positifi signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Ukuran perusahaan dapat berpengaruh pada saat perusahaan akan melakukan pinjaman perusahaan yang besar akan memiliki aktiva yang besar untuk dijadikan sebuah jaminan dalam sumber pendanaan sehingga akan mudah dalam memperoleh Perusahaan dengan ukuran yang besar akan memiliki akses yang mudah ke sumber dana baik pasar modal atau perbankan untuk kegiatan operasional perusahaan dalam rangka peningkatan laba. H5: Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Lutfiana . menjelaskan bahwa profitabilitas memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Indikator yang sangat penting untuk mengevaluasi prospek masa depan suatu perusahaan adalah dengan melihat tingkat pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan, sehingga ROE sering disebut sebagai profitabilitas modal sendiri. Tingkat pengembalian ekuitas yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan keuntungan bagi pemegang saham. H6: Profitabilitas berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Hasil penelitian Mattiara dkk. menyatakan bahwa leverage secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan. Leverage timbul karena perusahaan dalam operasinya menggunakan aktiva dan sumber dana yang menimbulkan beban tetap bagi perusahaan. Jumlah leverage akan mempengaruhi peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Leverage yang rendah akan menjamin kinerja keuangan perusahaan semakin tinggi, ketika perusahaan menggunakan leverage dalam struktur modalnya, mereka dapat mengakses dana tambahan untuk investasi dan pertumbuhan. H7: Leverage berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Shahnia dan Davianti . menyatakan bahwasanya kinerja lingkungan berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Hal tersebut dikarenakan laporan keuangan yang andal akan berpengaruh terhadap kinerja keuangan, di mana investor akan merespons secara positif dengan fluktuasi harga pasar saham yang semakin tinggi, dan begitu pula sebaliknya. Dengan adanya pengungkapan kinerja lingkungan di laporan keuangan ataupun dalam laporan lain seperti PROPER, maka akan menambah kelengkapan dan keandalan laporan keuangan serta nilai perusahaan 1060 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. H8: Kinerja Lingkungan berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Indonesia membuat kebijakan UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta PP RI Nomor 74 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, yang tujuannya membantu perusahaan untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan dengan cara mengelola dan mengendalikan semua bentuk limbah yang dihasilkan. Sehingga menghasilkan efisiensi dan menambah nilai produk. Akhirnya akan berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Wiranty dan Kartikasari . yang menyatakan bahwasanya pengungkapan lingkungan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. H9: Enviromental Disclousure berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti populasi dan sampel dengan pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, pengumpulan data dengan alat-alat penelitian, dan analisa data yang bersifat statistik untuk menguji hipotesis yang telah Penelitian ini menggunakan program pengolahan data analisis regresi parsial (Partial Least Squar. untuk menguji hipotesis yang diajukan. Penelitian kali ini menggunakan perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kriteria sebagai berikut: Perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017-2021. Menerbitkan laporan keuangan lengkap pada tahun 2017-2021. Menerbitkan laporan keberlanjutan/sustainability report dan dapat diakses dari setiap website resmi perusahaan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Ukuran Perusahaan. Profitabilitas. Leverage, dan Kinerja Lingkungan. Ukuran perusahaan menurut Novyanny dan Turangan . didasarkan pada jumlah kapasitas dan variasi atas produksi suatu perusahaan serta jumlah aset yang dimiliki oleh perusahaan. Untuk mengukur variabel Ukuran Perusahaan penelitian ini menggunakan rumus sebagai Ukuran Perusahaan = Ln (Total Asse. Menurut Noordiatmoko . , profitabilitas adalah rasio laba perusahaan yang mencari keuntungan. Untuk mengetahui besarnya total laba setelah pajak di bandingkan dengan total equity. Maka dapat dihitung dengan rumus: 1061 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. ycoycaycayca ycyceycyceycoycaEa ycyycaycycayco ycIycCya = ycycuycycayco yceycycycnycyc ycu100% Menurut Rolanta dkk. yang mengutip Brigham dan Houston . Rasio leverage menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan perusahaan dibiayai melalui hutang. Variabel leverage dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: yayaycI = ycNycuycycayco Eaycycycaycuyci ycycuycycayco ycoycuyccycayco ycU100% Menurut Apip dkk. , kinerja lingkungan diukur menggunakan PROPER. PROPER adalah Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Pengukuran kinerja lingkungan pada penelitian ini adalah menggunakan skala 1 . sampai 5 . sesuai dengan warna pada PROPER. Pengukuran PROPER disajikan dalam tabel seperti berikut: Skala Tabel 1. Skala Pengukuran PROPER Arti Warna Sangat Buruk Hitam Buruk Merah Baik Biru Sangat Baik Hijau Sangat Baik Sekali Emas Sumber: KLHK PROPER . Variabel dependen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Environmental Disclosure dan Kinerja Keuangan. Environmental disclosure menggunakan skor pengungkapan lingkungan pada laporan tahunan perusahaan dengan indeks GRI 4 yaitu dengan memberikan nilai 1 atas setiap pengungkapan yang sesuai dengan indeks 34 poin lingkungan GRI (Apip dkk. , 2. Selanjutnya nilai tersebut dijumlahkan dan di bandingkan dengan total 34 poin pengungkapan lingkungan GRI, cara penghitungannya adalah: Menurut Supriadi . Kinerja keuangan suatu perusahaan biasanya tercermin dalam laporan keuangan. Rasio kinerja keuangan yang digunakan dalam penelitian ini yakni Return on Asset. Untuk mengetahui besarnya persentase laba bersih maka harus dibagikan dengan total asset. Maka perhitungan tersebut dapat dihitung dengan rumus: 1062 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Setelah data diperoleh dan dikumpulkan, ketepatan data . oodness of dat. dinilai melalui uji validitas dan reliabilitas data. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data yang berhasil didapatkan dengan menyesuaikan kriteria purposive sampling dapat dilihat secara rinci pada tabel berikut: Tabel 2. Proses Penentuan Sampel Penelitian No. Keterangan Kriteria Perusahaan sektor pertambangan . yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan tidak mengalami delisting selama tahun 2021-2022. Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan selama periode penelitian Perusahaan yang tidak pernah menerbitkan laporan keberlanjutan . ustainability repor. selama periode penelitian Jumlah Perusahaan Pertambangan yang Terpilih Menjadi Sampel Penelitian JUMLAH TOTAL SAMPEL . x 5 Tahun Periode Penelitia. Jumlah Perusahaan Sumber: Data Diolah . Dari penyeleksian tersebut diperoleh 39 perusahaan yang menjadi sampel atau 195 data observasi yang memenuhi kriteria. Sedangkan 7 perusahaan tidak sesuai kriteria karena pernah tidak menerbitkan laporan keberlanjutan . ustainability repor. selama periode penelitian. Analisis PLS diuji dengan menggunakan dua tahapan pengujian data yaitu tahapan pengujian tingkat ketepatan data . oodness of dat. dinilai melalui uji validitas dan reliabilitas atau bisa disebut dengan tahapan outer model dan tahapan pengujian kecocokan model yang menguji pengaruh hubungan antar variabel dan pengujian hipotesis atau bisa disebut dengan tahapan inner model. Pada tahap pengujian outer model, terdapat analisis mengenai uji validitas dan reliabilitas indikator dari PLS. Validitas indikator terdiri dari pengujian convergent validity dan dicriminant validity, sedangkan reliabilitas dapat dilihat dari nilai pengujian composite reliability. Convergent validity dapat dinilai dengan melihat tabel 1063 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. outer loadings. Batas loading factor sebesar 0. Jika nilai loading factor > 0. 70 maka convergent validity terpenuhi, jika nilai loading factor < 0. 70 maka konstruk harus di drop dari analisis (Hair dkk. , 2019: 112-. Berikut hasil pengujian Convergent Tabel 3. Hasil Perhitungan Nilai Convergent Validity Variabel X1 EVD KNK KNL LVR PFT UPR Sumber: Data Olahan Smart PLS 3. Tabel 3. menunjukkan bahwa nilai convergent validity pada pengujian yang telah dilakukan, variable Ukuran Perusahaan. Profitabilitas. Leverage. Kinerja Lingkungan. Environmental Disclosure dan Kinerja Keuangan memperoleh nilai 1. > 0. 70, sehingga dapat memenuhi batas kriteria yang ditentukan. Tahapan pengujian berikutnya yaitu Discriminant validity dilakukan untuk memastikan bahwa setiap konsep dari masing-masing variabel laten berbeda dengan variabel lainnya (Hair dkk. , 2019: 114-. Kriteria dalam uji ini adalah nilai cross loading harus lebih besar dibandingkan dengan nilai konstruk yang lain. Tabel 4. Hasil Perhitungan Nilai Discriminant Validity Variabel X1 EVD KNK KNL LVR PFT UPR Sumber: Data Olahan Smart PLS 3. Berdasarkan pada Tabel 4. , menunjukkan bahwa setiap variabel laten sudah memiliki discriminant validity yang baik di mana semua variable laten tidak memiliki pengukur yang berkorelasi tinggi dengan konstruk lainnya. Discriminant validity juga dapat diukur dengan membandingkan nilai square root Average Variance Extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antar konstruk lainnya dalam model. Nilai AVE harus lebih besar dari 0. 50 atau memiliki nilai p-value lebih kecil dari taraf signifikansi 5% (Hair dkk. , 2019: 114-. Hasil pengukuran discriminant validity dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel berikut: 1064 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tabel 5. Hasil Perhitungan Nilai AVE Variabel AVE Ukuran Perusahaan (X. Profitabilitas (X. Leverage (X. Kinerja Lingkungan (X. Environmental Disclosure (Y. Kinerja Keuangan (Y. Sumber: Data Olahan Smart PLS 3. Berdasarkan hasil pada Tabel 5. Average Variance Extracted (AVE), seluruh variabel telah memiliki nilai discriminant validity di atas 0. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel adalah valid dan dapat memberikan Pada penelitian ini, reliabilitas dapat diukur dengan melihat nilai composite reliability. Untuk menentukan reliabel atau tidaknya sebuah alat ukur dilakukan melalui koefisien reliabilitas. Koefisien reliabilitas harus lebih besar dari 70 (Hair dkk. , 2019: 111-. Hasil pengukuran composite reliability dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 6. Hasil Perhitungan Nilai Composite Reliability Composite Variabel Reliability Ukuran Perusahaan (X. Profitabilitas (X. Leverage (X. Kinerja Lingkungan (X. Environmental Disclosure (Y. Kinerja Keuangan (Y. Sumber: Data Olahan Smart PLS 3. Berdasarkan Tabel 6. , seluruh variabel memiliki nilai composite reliability lebih besar dari 0. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel dalam penelitian adalah reliabel dan dapat diandalkan untuk digunakan dalam uji analisis lebih lanjut. Pengujian structural model atau inner model dilakukan untuk mengukur hubungan keseluruhan variabel di dalam penelitian ini. Pengukuran inner model untuk menguji pengaruh antar variabel dalam penelitian digunakan nilai R2. R Square (R. sering disebut dengan koefisien determinasi, adalah mengukur kesesuaian model . oodness of fi. Nilai R2 terletak antara 0Ae1, dan kecocokan model dikatakan lebih baik kalau R2 semakin mendekati 1 (Hair dkk. , 2019: 114-. Berdasarkan nilai R2 tersebut, suatu model dapat diklasifikasikan sebagai kuat (O 0,. , menengah (O 0,. dan lemah (O 0,. 1065 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tabel 7. Hasil Perhitungan Nilai R Square (R. Variabel R Square Environmental Disclosure (Y. Kinerja Keuangan (Y. Sumber: Data Olahan Smart PLS 3. Berdasarkan Tabel 7. , perhitungan nilai R2 dapat dilihat bahwa nilai R2 Environmental Disclosure (Y. ,4%). Sementara sisanya sebesar 67,6% dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian. Nilai R2 Kinerja Keuangan (Y. ,7%). Sementara sisanya sebesar 67,3% dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian. Signifikansi hubungan dapat diperoleh dengan prosedur PLS Regression. Nilai yang dihasilkan berupa nilai t-hitung yang kemudian dibandingkan dengan t-tabel. Apabila nilai t-hitung > t-tabel . pada taraf signifikansi ( = 5%) maka nilai koefisien jalur tersebut signifikan (Hair dkk. 2019: . Penelitian ini memiliki sembilan hipotesis pengujian. Adapun hasil masing-masing pengujian tersaji pada tabel berikut ini: Variabel X1 -> Y1 Tabel 8. Hasil Pengujian Hipotesis Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Value Value X2 -> Y1 X3 -> Y1 X4 -> Y1 X1 -> Y2 X2 -> Y2 X3 -> Y2 X4 -> Y2 Y1 -> Y2 KET Diterima Tidak Diterima Tidak Diterima Tidak Diterima Tidak Diterima Diterima Diterima Tidak Diterima Tidak Diterima Sumber: Data Olahan Smart PLS 3. Pembahasan Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Environmental Disclosure Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Ukuran Perusahaan terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap Environmental Disclosure. Perusahaan besar sering kali memiliki sumber daya yang lebih besar untuk mengelola isu-isu Kedua, perusahaan besar juga lebih mungkin menjadi target pengawasan 1066 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dan pemantauan dari lembaga pemerintah dan organisasi non-pemerintah yang berfokus pada isu lingkungan. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Erawati . , dan Wahyuningsih . Perusahaan yang lebih besar cenderung memberikan informasi yang lebih rinci dan komprehensif mengenai isu-isu lingkungan yang mereka hadapi. Pengaruh Profitabilitas terhadap Environmental Disclosure Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Profitabilitas tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Environmental Disclosure. Fokus pada keuntungan finansial dapat mengalihkan perhatian dari isu-isu lingkungan yang mungkin dianggap kurang penting dalam mencapai tujuan keuangan. Kedua, dalam konteks teori stakeholder, profitabilitas yang tinggi dapat menimbulkan tekanan pada manajemen perusahaan untuk memprioritaskan kepentingan pemegang saham dan mencapai keuntungan finansial yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Itan dan Jessy . , dan Wahyuningsih . Hal ini menunjukkan bahwa faktor profitabilitas tidak menjadi faktor utama yang memengaruhi sejauh mana perusahaan mengungkapkan informasi mengenai isu-isu lingkungan. Pengaruh Leverage terhadap Environmental Disclosure Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Leverage tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Environmental Disclosure. Perusahaan mungkin menganggap bahwa tingkat leverage atau tingkat utang yang tinggi tidak relevan dengan isu lingkungan. Kedua, perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi mungkin memiliki keterbatasan dalam sumber daya dan kemampuan mereka untuk melaksanakan praktik manajemen lingkungan yang diperlukan untuk mencapai tingkat pengungkapan yang lebih tinggi. Salah satu studi yang mendukung adalah penelitian Lutfiana . dan Wahyuningsih . Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain, seperti ukuran perusahaan, regulasi, tekanan pemangku kepentingan, mungkin memiliki pengaruh yang lebih besar dalam mempengaruhi keputusan perusahaan dalam mengungkapkan informasi lingkungan. Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Environmental Disclosure Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Kinerja Lingkungan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Environmental Disclosure. Kurangnya tekanan regulasi dan pemangku kepentingan yang kuat mungkin menjadi salah satu alasan mengapa kinerja lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Kedua, kurangnya insentif ekonomi juga dapat menjadi faktor yang Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Maulana dkk. dan Suryarahman dan Trihatmoko . Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa tipe industri memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap praktik pengungkapan lingkungan. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Ukuran Perusahaan terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Kedua, struktur 1067 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. kepemilikan perusahaan yang kompleks dapat mengalami konflik kepentingan yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan mereka. Ketiga, faktor eksternal seperti kondisi pasar, fluktuasi nilai tukar, atau perubahan regulasi juga dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan secara signifikan. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Erawati dan Wahyuni . dan Lutfiana . , juga memberikan dukungan terhadap temuan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Pengaruh Profitabilitas terhadap Kinerja Keuangan Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Profitabilitas terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Tingkat profitabilitas yang tinggi mencerminkan efisiensi operasional dan manajemen yang baik. Kedua, profitabilitas yang tinggi dapat mencerminkan kompetitif perusahaan dalam industri yang mereka operasikan. Perusahaan yang mampu mempertahankan margin keuntungan yang tinggi di tengah persaingan yang ketat menunjukkan keunggulan kompetitif yang kuat dan kemampuan untuk menghasilkan nilai tambah bagi pemegang saham. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Lutfiana . dan Mattiara dkk. Pengaruh Leverage terhadap Kinerja Keuangan Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Leverage terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Penggunaan leverage memungkinkan perusahaan untuk mengakses sumber dana tambahan yang dapat digunakan untuk investasi atau pertumbuhan. Dengan menggunakan dana yang dihutang, perusahaan dapat memperluas operasionalnya, atau memperluas pangsa pasar mereka. Ini dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan dan profitabilitas. Kedua, leverage dapat memberikan keuntungan finansial dalam hal biaya modal. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Mattiara dkk. dan Saputra dan Lisdawati . Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Kinerja Lingkungan terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Praktik lingkungan yang baik mungkin memerlukan investasi awal yang signifikan. Meskipun ini dapat membawa manfaat jangka panjang dalam hal keberlanjutan, dampaknya mungkin tidak langsung terlihat dalam kinerja keuangan dalam jangka pendek. Kedua, dalam industri pertambangan, perubahan harga komoditas seperti harga minyak atau batu bara dapat secara signifikan mempengaruhi pendapatan dan laba perusahaan, melebihi dampak dari praktik lingkungan. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Wiranty dan Kartikasari . dan Shahnia dan Davianti . Pengaruh Environmental Disclosure terhadap Kinerja Keuangan Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwasanya Environmental Disclosure terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Pengungkapan informasi lingkungan mungkin hanya memberikan informasi tambahan kepada para pemangku kepentingan tentang komitmen perusahaan terhadap isu lingkungan, 1068 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1056-1071 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. namun tidak secara langsung mempengaruhi faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan atau profitabilitas perusahaan. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian MarAoati dan Darsono . dan Shahnia dan Davianti . KESIMPULAN Dalam konteks praktis, temuan ini memiliki implikasi yang penting bagi perusahaan-perusahaan, terutama di sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi Environmental Disclosure untuk memastikan pengungkapan informasi lingkungan yang memadai. Terutama, perusahaan harus mengakui pentingnya ukuran perusahaan dalam mempengaruhi praktik pengungkapan lingkungan. Sebagai perusahaan yang lebih besar, mereka diharapkan untuk memberikan laporan lingkungan yang lebih komprehensif dan transparan. Perusahaan juga harus mempertimbangkan tekanan pemangku kepentingan dan regulasi lingkungan yang mungkin mempengaruhi keputusan mereka dalam mengungkapkan informasi Di sisi lain, temuan bahwa faktor-faktor seperti Profitabilitas. Leverage, dan Kinerja Lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap Environmental Disclosure. Meskipun faktor-faktor ini tidak secara langsung mempengaruhi praktik pengungkapan, perusahaan tetap harus mengelola dan mengungkapkan informasi lingkungan dengan baik, mengingat pentingnya transparansi dan akuntabilitas perusahaan terhadap dampak lingkungan mereka. Selain itu, temuan bahwa Environmental Disclosure tidak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan menunjukkan bahwa pengungkapan informasi lingkungan tidak secara langsung berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. DAFTAR PUSTAKA