JURNAL RISET MAHASISWA AKUNTANSI (JRMA) Volume 13. No. Tahun 2025 https://doi. org/10. 21067/jrma. Analisis Pengaruh Indikator Risiko Fraud (Faktor Segitiga Kecuranga. terhadap Opini Audit Pada Perusahaan Publik di Sektor Jasa Keuangan Sri Wahyuni HSa1*. Sultan Iskandara2. Jordan Tiblolab3 STIE YPUP Makassar. Indonesia STIE Bukit Zaitun Sorong. Indonesia 1wahyunihusain060397@gmail. *Sri Wahyuni HS1 Received: 31 Oktober 2025. Revised: 4 November 2025. Accepted: 13 November 2025 Abstrak Studi ini didesain untuk mengevaluasi dampak dari elemen-elemen risiko kecurangan, yang meliputi Tekanan. Peluang, dan Rasionalisasi, terhadap opini audit pada entitas publik di sektor jasa Pendekatan metodologi yang diterapkan adalah kuantitatif, memanfaatkan teknik analisis Partial Least Squares (PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS. Data dikumpulkan dari 50 partisipan yang terdiri dari auditor eksternal dan internal pada perusahaan publik di industri jasa Temuan studi mengindikasikan bahwa Tekanan. Peluang, dan Rasionalisasi memiliki pengaruh yang positif dan substansial terhadap Opini Audit. Koefisien determinasi (RA) sebesar 0,612 menunjukkan bahwa ketiga variabel prediktor secara kolektif mampu menerangkan 61,2% dari variabilitas dalam Opini Audit. Sisanya sebesar 38,8% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam kerangka penelitian ini. Temuan ini menegaskan pentingnya peran pengendalian internal, pengelolaan tekanan organisasi, serta pembinaan budaya etis dalam meminimalkan risiko kecurangan yang dapat memengaruhi hasil audit. Kata kunci - tekanan. fraud triangle. opini audit. sektor jasa keuangan Abstract This study was designed to evaluate the impactof fraud risk elements, which include Pressure. Opportunity, andRationalization, on audit opinions in public entities in the financial services sector. The methodological approach applied was quantitative,utilizing Partial Least Squares (PLS) analysis techniques with the help ofSmartPLS software. Data were collected from 50 participants consisting ofexternal and internal auditors at public companies in the financial servicesindustry. The study findings indicate that Pressure. Opportunity, andRationalization have a positive and substantial effect on Audit Opinions. The coefficient of determination (RA) of 0. 612 indicates that the threepredictor variables collectively explain 61. 2% of the variabilityin Audit Opinions. The remaining 38. 8% is influenced by other variablesnot included in this research These findings emphasizethe importance of internal control, organizational pressure management, andthe fostering of an ethical culture in minimizing the risk of fraud that couldaffect audit results Keywords - pressure. fraud triangle. audit opinion. financial services sector How to Cite : HS. Iskandar. , & Tiblola. Analisis Pengaruh Indikator Risiko Fraud (Faktor Segitiga Kecuranga. terhadap Opini Audit Pada Perusahaan Publik di Sektor Jasa Keuangan. Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi, 13. , https://doi. org/10. 21067/jrma. Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 279 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 HS. Iskandar. Tiblola PENDAHULUAN Kecurangan . dalam pelaporan keuangan merupakan salah satu permasalahan serius dalam dunia bisnis dan akuntansi yang berdampak langsung pada kualitas informasi keuangan dan kepercayaan publik terhadap entitas bisnis, khususnya perusahaan publik (Preicilia. Wahyudi, and Preicilia 2. Kasus-kasus fraud yang mencuat seperti Enron dan WorldCom menjadi bukti bahwa tindakan manipulatif terhadap laporan keuangan dapat terjadi dalam skala besar dan sistematis, bahkan pada perusahaan yang telah diaudit oleh auditor eksternal (Rizkiawan and Subagio 2. Indonesia, sektor jasa keuangan menjadi sektor yang cukup rentan terhadap praktik fraud, mengingat tingginya volume transaksi, kerumitan produk dan layanan, serta tingginya ekspektasi investor dan regulator terhadap kinerja keuangan perusahaan (Putra 2. Salah satu pendekatan teoretis yang banyak digunakan dalam memahami dan menganalisis potensi terjadinya fraud adalah Fraud Triangle Theory yang dikembangkan oleh Donald Cressey (Syamsuri and Lutfiah 2. Teori ini menyatakan bahwa kecurangan terjadi apabila terdapat tiga elemen utama yang saling berkaitan, yaitu: tekanan . , peluang . , dan rasionalisasi . (Rahman. Deliana, and Rihaney 2. Tekanan dapat berasal dari kebutuhan pribadi, tuntutan pencapaian target kinerja, atau tekanan eksternal lainnya (Tianawati. Priantinah, and Malau 2. Peluang muncul akibat lemahnya sistem pengendalian internal atau pengawasan manajemen. Sedangkan rasionalisasi merupakan proses pembenaran diri atas tindakan tidak etis yang dilakukan (Hakim and Suryatimur 2. Dalam konteks perusahaan publik sektor jasa keuangan, tekanan untuk mempertahankan reputasi, mencapai target laba, atau memenuhi harapan pemegang saham sering kali menjadi pendorong utama munculnya potensi fraud (Karmila and Wahad 2. (Natasia et al. Selain itu, kelemahan dalam sistem pengendalian internal atau adanya celah regulasi menciptakan peluang bagi individu dalam organisasi untuk melakukan manipulasi laporan keuangan (Christian et al. Rasionalisasi juga dapat berkembang dalam bentuk justifikasi bahwa tindakan tersebut dilakukan demi Aukepentingan perusahaanAy atau untuk mempertahankan keberlangsungan operasional (Lubis and Budiwitjaksono 2. Opini audit yang diberikan oleh auditor independen menjadi salah satu indikator penting bagi para pengguna laporan keuangan dalam menilai kewajaran penyajian informasi keuangan perusahaan (Nurhidayah and B 2. Namun demikian, terdapat fenomena di mana laporan keuangan yang mendapat opini wajar ternyata tetap mengandung unsur fraud (Naili and Primasari 2. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana auditor mampu mendeteksi indikasi fraud berdasarkan indikator yang dapat diidentifikasi sejak awal, seperti faktor-faktor yang terdapat dalam segitiga kecurangan. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji hubungan antara indikator risiko fraud dan jenis opini audit yang diterbitkan (Widhiastuti and Putu Diah Kumalasari 2. Selain opini audit, aspek lain yang tidak kalah penting adalah probabilitas deteksi fraud oleh auditor (Amami and Triani 2. Auditor memiliki tanggung jawab profesional untuk mendeteksi salah saji material yang disebabkan oleh fraud, namun tugas ini sering kali sulit dilakukan mengingat sifat fraud yang tersembunyi dan dirancang sedemikian rupa agar tidak terdeteksi (Wicaksono and Prabowo 2. Dalam praktiknya, auditor lebih fokus pada pengujian substantif dan analisis risiko, sehingga indikator-indikator fraud yang bersifat kualitatif seperti tekanan atau rasionalisasi terkadang tidak mendapatkan perhatian yang memadai (Tianawati. Priantinah, and Malau 2. Sektor jasa keuangan sebagai objek penelitian memiliki karakteristik unik, di antaranya adalah regulasi yang ketat, kompleksitas transaksi, serta paparan risiko yang tinggi terhadap kecurangan. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki urgensi yang tinggi untuk dilakukan. Dengan menganalisis pengaruh indikator risiko fraud berdasarkan Fraud Triangle terhadap opini audit dan probabilitas deteksi fraud, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai efektivitas prosedur audit dalam menghadapi indikasi fraud, khususnya di perusahaan sektor jasa keuangan. Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 280 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 HS. Iskandar. Tiblola Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara empiris bagaimana faktor tekanan, peluang, dan rasionalisasi sebagai bagian dari segitiga kecurangan memengaruhi opini audit serta probabilitas deteksi kecurangan oleh auditor pada perusahaan publik di sektor jasa keuangan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap praktik audit yang lebih responsif terhadap risiko fraud dan memperkuat sistem pengendalian internal perusahaan serta kepercayaan publik terhadap transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif kausal yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh indikator risiko fraud berdasarkan Fraud Triangle Theory . ekanan, peluang, dan rasionalisas. terhadap opini audit dan probabilitas deteksi kecurangan. Objek penelitian difokuskan pada perusahaan publik sektor jasa keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2023Ae2025. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu, yaitu perusahaan yang secara konsisten menerbitkan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit dan memiliki data lengkap terkait variabel penelitian. Variabel independen terdiri dari tekanan yang diukur melalui leverage dan target keuangan, peluang yang diukur dari struktur kepemilikan dan pengendalian internal, serta rasionalisasi yang diidentifikasi melalui auditor switching dan kebijakan akuntansi agresif. Variabel dependen meliputi opini audit . ikategorikan berdasarkan jenis opin. dan probabilitas deteksi fraud . iukur berdasarkan audit delay, kualitas auditor, dan audit tenur. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan, laporan audit, dan situs resmi perusahaan maupun BEI. Teknik analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik untuk opini audit dan regresi linear berganda untuk probabilitas deteksi fraud. Pengujian dilakukan dengan bantuan software statistik smartPLS. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami faktor-faktor risiko fraud dan keterkaitannya dengan hasil audit serta efektivitas auditor dalam mendeteksi kecurangan pada sektor jasa keuangan. Gambar 1 Analisis Jalur Penelitian PEMBAHASAN Model luar atau model pengukuran adalah langkah pertama dalam analisis Structural Equation Modeling yang menggunakan Partial Least Squares (SEM-PLS). Tahap ini dimaksudkan untuk menilai hubungan antara konstruk laten dan indikator-indikator yang bertugas mengukurnya. Uji ini dilakukan guna memastikan bahwa setiap indikator dapat mewakili variabel laten dengan benar, sahih, dan stabil. Dalam rangka mengevaluasi model eksternal, terdapat sejumlah komponen krusial yang memerlukan pertimbangan, yaitu validitas konvergen, validitas diskriminan, dan reliabilitas konstruk. Validitas konvergen secara umum dinilai melalui pemeriksaan nilai loading factor, average variance extracted (AVE), serta communality. Sementara itu, validitas diskriminan dikaji dengan melakukan Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 281 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 HS. Iskandar. Tiblola perbandingan antara akar kuadrat AVE dengan matriks korelasi antar konstruk atau melalui analisis cross-loading. Di samping itu, reliabilitas konstruk dapat ditetapkan berdasarkan nilai composite reliability (CR) dan CronbachAos Alpha. Tahap ini memiliki peranan penting sebelum dilakukan pengujian pada inner model, karena apabila indikator yang digunakan tidak valid atau tidak reliabel, maka hasil interpretasi hubungan antar konstruk laten pada tahap berikutnya dapat menimbulkan bias. Oleh karena itu, outer model menjadi dasar yang menentukan keakuratan serta kekuatan model struktural secara keseluruhan. Tabel 1 Uji Validitas Konstruk Indikator Tekanan (X. Loading Factor X1. X1. X1. X2. X2. X2. Rasionalisasi (X. X3. X3. X3. Peluang (X. Opini Audit (Y) AVE CR CronbachAos Alpha Data diolah 2025 Hasil dari evaluasi model eksternal menunjukkan bahwa seluruh nilai loading factor untuk setiap indikator melebihi 0,70. Kondisi ini mengindikasikan adanya korelasi yang signifikan antara setiap indikator dengan konstruk yang diwakilinya, yang memenuhi kriteria validitas konvergen. Selanjutnya, nilai Average Variance Extracted (AVE) untuk seluruh konstruk juga melampaui ambang batas 0,50. Hal ini menunjukkan bahwa setiap konstruk mampu menjelaskan lebih dari 50% varians dari indikator-indikatornya, sehingga validitas konvergen dapat dipastikan. Selain itu, nilai Composite Reliability (CR) dan CronbachAos Alpha yang seluruhnya melebihi 0,70 menunjukkan bahwa setiap konstruk memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi. Dengan demikian, indikator-indikator yang membentuk konstruk tersebut dinilai konsisten dan stabil dalam mengukur konsep yang sama. Tabel 2 Uji R-quare Opini Audit S-square 0. Data diolah 2025 Pengujian model dalam mengungkapkan bahwa nilai RA untuk variabel Opini Audit adalah 0,612. Ini menunjukkan bahwa variabel Tekanan. Peluang, dan Rasionalisasi secara bersama dapat menjelaskan 61,2% variasi pada Opini Audit, sementara 38,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di luar model penelitian ini. Apabila model pengukuran eksternal telah memenuhi standar validitas dan reliabilitas, tahap selanjutnya adalah mengevaluasi model struktural internal. Model internal ini berfungsi untuk menganalisis korelasi di antara variabel laten yang telah ditentukan dalam kerangka konseptual studi. Fokus utama dari evaluasi ini adalah untuk menentukan sejauh mana variabel independen dapat Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 282 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 HS. Iskandar. Tiblola menerangkan dan memengaruhi variabel dependen, baik melalui jalur kausal langsung maupun tidak Dalam pengujian inner model, beberapa indikator evaluasi yang umum digunakan antara lain koefisien determinasi (RA) untuk menilai kemampuan prediktif model, koefisien jalur . ath coefficien. untuk mengukur besarnya pengaruh antar variabel, nilai t-statistic atau p-value untuk menguji Melalui tahapan ini, peneliti dapat menarik kesimpulan terkait keterkaitan antar konstruk sesuai dengan hipotesis yang diajukan. Tabel 3 Path Coefficient Koefisien Jalur t-Statistics Tekanan (X. Ie Opini Audit (Y) Signifikan Peluang (X. Ie Opini Audit (Y) Signifikan Rasionalisasi (X. Ie Opini Audit (Y) Signifikan Hubungan p-Value Keterangan Data diolah 2025 Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa Tekanan (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Opini Audit, yang berarti semakin tinggi tingkat tekanan, maka semakin besar potensi memengaruhi opini yang diberikan auditor. Variabel Peluang (X. memiliki pengaruh paling kuat terhadap Opini Audit, di mana peluang melakukan kecurangan yang tinggi dapat memengaruhi penilaian auditor. Sementara itu. Rasionalisasi (X. juga terbukti berpengaruh signifikan, yang mengindikasikan bahwa pembenaran diri oleh manajemen dapat berdampak terhadap opini yang diberikan auditor. Pengaruh tekanan terhadap opini audit Analisis riset mengindikasikan bahwa variabel Tekanan (X. memiliki korelasi yang positif dan substansial terhadap Opini Audit (Y). Observasi ini menyiratkan bahwa peningkatan tekanan yang dihadapi oleh pihak manajemen atau anggota staf, akan berpotensi meningkatkan kemungkinan dampaknya terhadap opini audit yang dikeluarkan. Tekanan dapat timbul dari beragam sumber, seperti penetapan target kinerja yang ambisius, tuntutan finansial personal, atau ekspektasi dari para pemegang saham dan pihak eksternal lainnya. Situasi tersebut dapat mengarahkan manajemen untuk melaksanakan manipulasi terhadap laporan keuangan demi pencapaian target atau pemeliharaan reputasi korporat. Auditor yang mendeteksi adanya indikasi tekanan semacam itu cenderung meningkatkan tingkat kekritisannya dalam melaksanakan pemeriksaan dan penerapan pertimbangan profesional, yang pada gilirannya dapat memengaruhi putusan final mengenai pemberian opini. Temuan ini konsisten dengan kerangka teori Segitiga Kecurangan (Fraud Triangl. yang dipublikasikan oleh Cressey . Temuan ini juga konsisten dengan penelitian (Solikhin and Parasetya 2. yang menunjukkan bahwa tekanan yang tinggi dalam lingkungan organisasi meningkatkan risiko salah saji material, baik yang disengaja maupun tidak, sehingga auditor perlu mempertimbangkannya dalam proses penentuan opini audit. Pengaruh peluang terhadap opini audit Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Peluang (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Opini Audit (Y). Hal ini berarti semakin besar peluang yang dimiliki manajemen atau pihak terkait untuk melakukan kecurangan, semakin besar pula kemungkinan hal tersebut memengaruhi opini yang diberikan auditor. Peluang kecurangan biasanya timbul akibat lemahnya sistem pengendalian internal, minimnya pengawasan, tidak adanya pemisahan tugas yang memadai, atau akses yang terlalu luas terhadap aset dan informasi perusahaan. Kondisi ini memberikan ruang bagi individu untuk melakukan manipulasi laporan keuangan tanpa terdeteksi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi persepsi auditor terhadap kewajaran Copyright A JRMA 2020 e-ISSN. Hal | 283 Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi (JRMA), 13. , 2025 HS. Iskandar. Tiblola penyajian laporan tersebut. Auditor yang menemukan adanya kelemahan pengendalian internal dan peluang terjadinya fraud cenderung lebih berhati-hati dan mempertimbangkan risiko salah saji material dalam menentukan opini audit. Temuan ini mendukung kerangka Fraud Triangle yang menyatakan bahwa peluang merupakan salah satu elemen kunci yang memungkinkan kecurangan terjadi, sebagaimana diungkapkan oleh Cressey . Hasil ini juga sejalan dengan penelitian (Sitanggang and Parasetya 2. yang menegaskan bahwa semakin besar peluang kecurangan, semakin tinggi risiko terjadinya pelaporan keuangan yang tidak wajar, sehingga auditor lebih mungkin memberikan opini dengan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi. Pengaruh rasionalisasi terhadap opini audit Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Rasionalisasi (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Opini Audit (Y). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin kuat rasionalisasi yang dilakukan oleh manajemen, semakin besar potensi terjadinya penyajian laporan keuangan yang tidak sesuai standar, yang pada akhirnya dapat memengaruhi opini auditor. Rasionalisasi merupakan proses pembenaran diri oleh pelaku kecurangan untuk meyakinkan dirinya bahwa tindakan yang dilakukan dapat diterima secara moral atau tidak merugikan pihak lain. Bentuk rasionalisasi dapat berupa anggapan bahwa tindakan tersebut hanya bersifat sementara, bahwa semua orang juga melakukan hal serupa, atau bahwa perusahaan mampu menanggung kerugian yang timbul. Kondisi ini dapat mengaburkan penilaian etis dan mendorong manajemen melakukan manipulasi laporan keuangan, yang berdampak pada meningkatnya risiko salah saji Auditor yang mengidentifikasi adanya indikasi rasionalisasi cenderung menilai laporan keuangan dengan tingkat skeptisisme profesional yang lebih tinggi. Temuan ini konsisten dengan teori Fraud Triangle yang dikemukakan oleh Cressey . , yang menyatakan bahwa rasionalisasi menjadi faktor psikologis penting yang memungkinkan seseorang melakukan kecurangan. Sejalan dengan penelitian sebelumnya, adanya rasionalisasi yang tinggi di lingkungan manajemen meningkatkan risiko laporan keuangan tidak wajar, sehingga auditor perlu mempertimbangkannya secara serius dalam penentuan opini audit. KESIMPULAN Berdasarkan temuan studi, dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel prediktor, yakni Tekanan (X. Peluang (X. , dan Rasionalisasi (X. , memiliki korelasi positif dan signifikan dengan Opini Audit (Y). Hasil ini mengindikasikan bahwa peningkatan intensitas tekanan, peluang, dan rasionalisasi dalam suatu organisasi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya tindakan yang memengaruhi keandalan laporan keuangan, yang selanjutnya berimplikasi pada opini auditor. Hasil analisis model struktural menunjukkan koefisien determinasi (RA) sebesar 0,612, yang mengartikan bahwa gabungan ketiga variabel independen tersebut berkontribusi sebesar 61,2% terhadap variabilitas Opini Audit. Sisa variasi sebesar 38,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam kerangka penelitian ini. Dengan demikian, studi ini selaras dengan teori Segitiga Kecurangan (Fraud Triangl. yang diajukan oleh Cressey . , yang menyatakan bahwa tekanan, peluang, dan rasionalisasi adalah elemen krusial yang mendorong terjadinya kecurangan dan berpotensi memengaruhi hasil pemeriksaan audit. Temuan ini juga memberikan implikasi praktis bagi auditor dan pihak manajemen untuk memperkuat pengendalian internal, mengurangi tekanan yang tidak realistis, serta membangun budaya etis guna meminimalkan risiko kecurangan yang dapat memengaruhi opini audit. Daftar Pustaka