BELAJAR DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN AGAMA Chandra Dewi Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Serdang (STAIS) Lubuk Pakam Jln. Negara Km. 27 - 28 No. 16 Telp. 7952252 - Lubuk Pakam Kab. Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Kode Pos: 20525 email: dewichandra226@gmail. Abstract: Learning is a process of activity and is a very fundamental element in the implementation of each type and level of education. Simply stated, learning is the process of finding one's identity for character building so that individuals are able to position themselves and be accepted in the social environment. Learning, of course, is inseparable from the utilization of the work of the brain related to memory or reception, storage and application of learning outcomes. Understanding of learning every child must be different, influenced by various Of the various aspects that affect the learning process, the important thing to remember parents and teachers is how to create a learning atmosphere that does not burden the child or even learning to be fun for all children. With this background, the author takes the title "Learning in Perspective of Psychology and Religion" which discusses learning, problems in learning, and looks for ways how learning activities can be fun activities for children viewed from a psychological and religious perspective. Keywords: Learning. Psychological and Religious Perspectives. PENDAHULUAN Rasulullah SAW bersabda: AuMencari ilmu . wajib hukumnya bagi setiap orang IslamAy. Hadis tentang belajar dan yang terkait dengan pencarian ilmu banyak disebut dalam Al qurAoan dan Hadist. Hal ini merupakan indikasi, bahwa belajar dan mencari ilmu itu sangat penting artinya bagi umat manusia. Dengan belajar manusia dapat mengerti akan dirinya, lingkungannya dan juga Tuhan-nya. Dengan belajar pula manusia terlepas dari kebodohan dan mampu menciptakan kreasi unik dan spektakuler yang berupa teknologi. Kebodohan merupakan salah datu perkara yang amat dibenci oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana perkara yang lain seperti penyakit hati. Betapa kebodohan dapat menjadi sebuah pedang yang tajam karena pada dasarnya kebodohan merupakan sifat yang amat disukai oleh iblis dan setan, sebab kebodohan biasanya senantiasa bersama dengan orang yang malas, sedangkan ketidaktahuan disebabkan karena memang belum belajar dan tidak mengerti mengenai perkara tersebut. Telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu Aoalaihi wa sallam: a a ca e a a a a ae (A (ON EOA Aau aO a c a eE eI a auEO eO a eN aE aN AN a a a EA Artinya: AyApabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah Ay (HR Al-Bukhari dari Abi Huraira. Rasulullah SAW telah dapat memperediksi bahwa kelak akan datang masa dimana orang-orang yang bodoh yang lebih banyak berbicara. Sehingga ia berbicara mengenai ilmu yang tidak ada dasarnya, orang bodoh akan selalu ingin terlihat pintar sehingga ia akan berbicara tanpa paham makna yang ia bicarakan. Sebagaimana hal tersebut telah diperingatkan dalam Hadits: Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 ae aa ca a a a ca a a a a ca ca a sa AEAC aOA a a ca a AA acC aA aON EE a aO as acOI aA aONA a ca A aU O Ay I II EE OOI UE aA aONA e a e a e a ca a ca a a a a a e a a a e a a a e e a A Ay E a aU a a aN e aI aO aO aU eEO aOE a ac aO a aON a acOA AeE aIOI OsII aAON E aI OsEEI aAON EOs aA ae ca a ca AE aEA a AE aO esA a A aOI eEN aE eI aIA, a A aCA a A eN aI eI a aU aO aN aes a aO aA aON Ay aCA ca AEA ca AOE aO aIA AE aAN aU aEEI aAO IA a a a )AE a acI Au( A EOA Artinya: Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan Aedi mana saat ituAe orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu Aoalaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu Aoalaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh . berbicara mengenai urusan orang banyak/ umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad. Abu YaAola, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84 ). Berdasarkan fakta tersebut di atas, sungguh Islam sangat menganjurkan dan mewajibkan umatnya untuk belajar agar terhindar dari kebodohan yang menyesatkan. Dalam ruang lingkup pendidikan, semua aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas belajar. Walau pakar psikologi saling berbeda pendapat dalam mendefinisikan dan menjabarkan konteks belajar, akan tetapi di lihat dari prosesnya, belajar yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang terbentuk dari pola pikir dan berbuat. Dengan demikian, bisa dijabarkan bahwa aktivitas belajar bertujuan memperoleh kesuksesan dalam pengembangan potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologis aktivitas belajar itu misalnya: motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan kejiwaan dan pemecahan masalah. Proses belajar terjadi di setiap lini kehidupan seseorang , baik disengaja atau tidak, disadari maupun tidak disadari. Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut sebagai hasil belajar. Untuk memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja dan terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas dasar ini, maka proses belajar mengandung makna: proses internalisasi yang mengarah pada diri subyek didik. dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap panca indera ikut Beberapa orang berpendapat bahwa belajar hanya mengumpulkan atau menghafalkan materi pelajaran. Orangtua yang berpendapat demikian akan merasa bangga saat anaknya mampu menyebutkan kembali secara lisan pelajaran baik itu dari buku atau yang diajarkan oleh guru. Pendapat lain dari beberapa orang, memandang belajar sebagai pelatihan saja seperti membaca atau menulis. Berdasarkan persepsi itu, biasanya orangtua merasa cukup puas bila anak-anak mereka mampu memperlihatkan ketrampilan tertentu tanpa mengetahui mengenai arti, hakikat, dan tujuan ketrampilan tersebut. Biggs dalam pendahuluan Teaching for Learning (AuThe Role of Metalearning Study ProcessAy British Journal of Educational Psychology 55, 185-. mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu: rumusan kuantitatif, rumusan institusional, rumusan Secara kuantitatif . itinjau dari sudut jumla. , belajar merupakan kegiatan pengembangan kemampuan kognitif dipandang dari sudut banyaknya materi yang dikuasai siswa. Secara institusional . injauan kelembagaa. , belajar adalah proses validasi atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi yang telah dipelajari. Bukti Chandra Dewi . Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 institusional dapat dilihat seusai proses mengajar dengan standar semakin baik mutu guru, semakin baik pula mutu perolehan siswa dalam bentuk skor atau nilai. Sedangkan secara kualitatif . injauan mut. , belajar ialah proses mengerti, memahami cara-cara menafsirkan lingkungan sosial yang difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa. Dengan latar belakang pengertian belajar secara kuantitatif, institusional, dan kualitatif, sangat besar pengaruh dan peran memori anak dalam mengerti, memahami dan mengolah sumber belajar tersebut. Tentunya stimulus yang diberikan guru pada saat belajar juga sangat berperan penting agar mendapat respon dari anak, sehingga tercipta kondisi belajar dua arah, antara guru dengan siswa. Stimulus yang diberikan, jika mendapat respon yang baik dari siswa, pastinya sudah mulai jadi ingatan atau tersimpan di memori anak. Oleh karena itu, haruslah diingat dan menjadi catatan bagi para orangtua dan guru, bahwa memberikan stimulus yang salah, pastinya akan berdampak negative terhadap respon anak yang bisa dilihat dari perilaku dan akhlaknya. Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dilihat dari berbagai aspek wajib diketahui oleh para pendidik khususnya guru. Kekeliruan, ketidaklengkapan persepsi dan pemahaman tentang arti dan makna belajar sesungguhnya akan membuat para pendidik menyalahkan siswanya jika materi ajar yang disampaikan tidak dapat terpahami oleh anak didiknya. Hal fatal yang bisa saja terjadi adalah, kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik yang berimbas pada perilaku yang anti sosial dan akhlak tidak terpuji yang diperlihatkan anak didik. PEMBAHASAN Pengertian Belajar Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, pengertian belajar yaitu berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Seseorang dikatakan belajar jika dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Beberapa pengertian belajar antara lain: Menurut Gagne . Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar terus menerus, bukan hanya disebabkan proses pertumbuhan saja. Menurut Cronbach AuLearning is how by change in behavior as result of experienceAy yang artinya belajar adalah suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Syah, 2010: . Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat praktik dan pengalaman. Belajar juga sebuah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya pelatihan khusus (Chaplin J. P 1972: . Sedangkan Wittig . 1: . mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala macam tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. Suryabrata . 3: . menjelaskan pengertian belajar dengan mengidentifikasikan ciri-ciri yang disebut belajar, yaitu: AuBelajar adalah aktivitas yang dihasilkan perubahan pada diri individu yang belajar . alam arti behavioral change. baik aktual maupun perubahan itu pada pokoknya adalah diperolehnya kemampuan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama. perubahan itu terjadi karena usahaAy. Menurut Begge . 2:1-. , belajar adalah suatu perubahan yang berlangsung dalam kehidupan individu sebagai upaya perubahan dalam pandangan, sikap, pemahaman atau motivasi dan bahkan kombinasi dari semuanya. Belajar selalu menunjukkan perubahan 126 | Belajar Dalam Perspektif Psikologi dan Agama Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 sistematis dalam tingkah laku yang terjadi sebagai konsekwensi pengaalaman dalam situasi Bertolak dari pemahaman di atas dapatlah ditegaskan, bahwa belajar senantiasa merupakan perbuatan tingkah laku dan penampilah dengan serangkaian aktivitas misalnya: membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Dengan demikian, belajar juga bisa dilihat secara makro dan mikro, luas dan khusus. Dalam arti makro, luas, belajar dapat diartikan sebagai aktivitas rohani-jasmani menuju perkembangan pribadi yang utuh. Seperti yang dijelaskan oleh Bloom . , bahwa belajar itu mencakup tiga ruang lingkup, yaitu cognitive domain yang berkaitan dengan pengetahuan hapalan dan pengembangan intelektual, affective domain, yang berkaitan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan apresiasi dan penyesuaian, psychomotor domain, yang berkaitan dengan prilaku yang menuntut koordinasi syaraf. PERSPEKTIF PSIKOLOGI Para pakar banyak membuat teori atau paradigma yang saling berbeda mengenai belajar ataupun pendidikan, merumuskan teori atau konsepnya. Pada umumnya para pakar psikologi pendidikan khususnya mereka yang tergolong cognitive . hli sains kogniti. sepakat bahwa hubungan antara belajar, memori, dan pengetahuan itu sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan. (Syah, 2005: . Memori biasanya kita artikan sebagai ingatan itu sesungguhnya adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, merupakan stronge system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Memori adalah proses mental yang meliputi pengkodean, penyimpanan dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan. Bagaimana hubungannya dengan belajar? Apabila seorang siswa menerima stimulus dalam bentuk pelajaran, maka informasi tersebut akan masuk ke dalam short term memory atau working memory . emori jangka pende. melalui indera mata atau telinga siswa. Kemudian informasi tersebut diolah ke dalam bentuk pengkodean dan simbol-simbol. Setelah selesai pengkodean . , informasi atau stimulus itu akan masuk dan tersimpan di dalam long term memory atau permanent memory yakni memori jangka panjang atau permanen. Suatu saat, jika siswa memerlukan informasi mengenai stimulus tersebut, maka memorinya akan kembali bekerja atau berproses mencari respon dari kumpulan-kumpulan informasi dan pengetahuan dalam salah satu skema yang relevan dengan stimulus yang Skema . kema kogniti. adalah semacam file yang berisi informasi dan pengetahuan sejenis seperti linguistic schema untuk memahami kalimat. cultural schema untuk menafsirkan mitos dan kepercayaan adat. Skema-skema tersebut berada dalam sebuah kumpulan yang tersimpan dalam subsistem akal permanen manusia. Jika dianalogikan, skema itu kurang lebih setara dengan hard disk yang berisi file-file yang memiliki kodekode dan isi yang berbeda satu dengan lainnya. Proses pencarian respon untuk mencari jawaban, disebut sebagai peristiwa kognitif yang disebut recall atau retrieval, yakni hal memperoleh kembali informasi/pengetahuan yang terstruktur dalam skema yang terdapat dalam otak manusia. Menurut Best . setiap informasi yang kita terima sebelum masuk dan diproses oleh subsistem akal pendek . hort term memor. terlebih dahulu disimpan sesaat atau tepatnya lewat, karena hanya dalam waktu sepersekian detik, dalam tempat penyimpanan sementara yang disebut sensory memory alias sensory register yakni subsistem Chandra Dewi . Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 penyimpanan pada syaraf indera penerima informasi. Syaraf sensori juga berfungsi mengirimkan impuls ke otak. (Syah, 2005: 72-. Struktur sistem akal manusia terdiri atas tiga subsistem, yakni: sensory register, short term memory, dan long term memory. Istilah memori disebut juga AustrongeAy atau tempat penyimpanan informasi. Dilihat dari sifat dan cara penerapannya, ilmu pengetahuan terdiri dari dua macam, yakni : declarative knowledge dan procedural knowledge (Best, 1989 dan Anderson, 1. Pengetahuan deklaratif . eclarative knowledg. disebut juga proposional pengetahuan (Evan, 1. ialah: pengetahuan mengenai informasi faktual yang pada umumnya bersifat statis normative dan dapat dijelaskan secara lisan/verbal. Pengetahuan ini berupa konsep-konsep dan fakta yang dapat ditularkan kepada orang lain melalui ekspresi tulisan atau lisan. Kesimpulannya adalah, pengetahuan deklaratif . nowing tha. atau Aumengetahui bahwaAy bersifat verbal dan dapat diuraikan dengan kalimat-kalimat statemen . maka ia juga disebut stateable concept and fact, yaitu konsep dan fakta yang dinyatakan melalui ekspresi lisan. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan yang mendasari kecakapan atau keterampilan perbuatan jasmaniah yang cenderung bersifat dinamis. Namun pengetahuan ini sangat sulit, bukan mustahil diuraikan secara lisan, meskipun mudah didemonstrasikan dengan perbuata nyata. Pengetahuan prosedural disebut juga sebagai knowing how atau Aumengetahui caraAy melakukan sesuatu perbuatan, pekerjaan dan tugas tertentu. Dalam hal ini, meskipun pengetahuan tersebut tersimpan dalam memorinya, siswa tersebut memerlukan pengetahuan normative jika hendak menjelaskannya pada orang lain. Ditinjau dari sudut jenis informasi dan pengetahuan yang disimpan, memori manusia terdiri dari dua hal, yaitu: . semantic memory . emori semanti. , yaitu memori khusus yang menyimpan arti-arti atau pengertian-pengertian, dan . episodic memory . emori episodi. , yaitu memori khusus yang menyimpan informasi tentang peristiwa-peristiwa. Menurut Reber . , dalam memori semantic, informasi ditransformasikan dan diberi kode arti, lalu disimpan atas dasar arti itu. berdasarkan hal tersebut, informasi yang kita simpan tidak dalam bentuk aslinya, tetapi dalam bentuk kode yang memiliki arti. Seseorang yang memiliki informasi hasil proses semantik dapat mempertahankan dan mendayagunakannya dalam waktu yang lebih lama dan dalam situasi yang lebih kompleks. Memori episodik adalah memori yang menerima dan menyimpan peristiwaperistiwa yang terjadi atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu yang berfungsi sebagai referensi otobiografi (Daehler dan Bukatko, 1. Best . berpendapat bahwa antara pengetahuan episodik dan pengetahuan semantik terdapat hubungan yang memungkinkan bergabungnya item dalam episodik dalam memori semantic. Dalam hal ini, item pengetahuan dalam memori episodik dapat diproses oleh sistem akal kita menjadi item-item yang berbentuk arti-arti sehingga memperoleh akses ke memori semantik. PERSPEKTIF AGAMA Belajar dalam pandangan Islam memiliki arti yang sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa bisa dilihat dari seberapa banyak mereka menggunakan rasio, akal pikiran untuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Hingga dalam Al-QurAoan dituliskan. Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur (QS. Al-Mujadilah: . Dalam konsep Islam sangat ditegaskan, bahwa belajar merupakan kewajiban dan berdosa bagi yang meninggalkannya. Keyakinan demikan ini begitu membentuk dalam diri umat yang beriman, sehingga mereka memiliki etos belajar yang tinggi dan penuh semangat agar umat Islam terbebas dari kebodohan yang menyesatkan. 128 | Belajar Dalam Perspektif Psikologi dan Agama Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 Tidak ada satu agama pun, termasuk Islam yang menjelaskan secara rinci dan operasional mengenai proses belajar, proses kerja sistem memori . , dan proses dikuasainya pengetahuan dan keterampilan oleh manusia. Namun Islam menekankan pada signifikasi fungsi kognitif . dan fungsi sensori . sebagai alat penting dalam Kata kunci, seperti : yaAoqilun, yatafakkarun, yasmaAoun dan sebagainya yang terdapat dalam Al QurAoan, merupakan bukti betapa pentingnya penggunaan fungsi penalaran, pemahaman dan tindakan manusia dalam belajar. Menurut Al-Qardhawi . Islam adalah akidah yang berdasarkan ilmu pengetahuan, bukan berdasarkan penyerahan diri secara membabi buta. Hal ini tersirat dala firman Allah: AuMaka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan kecuali AllahAy (QS. Muhammad:. Berikut beberapa kutipan firman-firman Allah dan Hadist Nabi Muhammad SAW yang mewajibkan manusia untuk belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Allah berfirmanA. apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya, hanya orang-orang yang barakallah yang mampu menerima pelajaran (Al Zumar: . Allah berfirman. Dan janganlah kamu membiasakan diri pada apa yang kamu tidak ketahui (Al IsraAo: . Dalam hadist riwayat Ibnu AoAshim dan Thabrani. Rasulallah SAW bersabda. Wahai sekalian manusia, belajarlah! Karena ilmu pengetahuan hanya didapat melalui belajar (Qardhawi, 1. Manusia dilahirkan dalam keadaan kosong, tidak berilmu. Akan tetapi. Allah memberi potensi yang bersifat jasmaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia. Potensi tersebut ada di dalam organ fisio dan psikis manusia yang berfungsi sebagai alat penting untuk melakukan kegiatan belajar. Ragam alat tersebut adalah: . Indera penglihatan . , yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual. Indera pendengar . , yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi Akal, yakni potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan/ranah kognitif. (Syah, 2010: 99-. Dalam surah Al Nahl 78 Allah berfirman: a a e e a a a e a a ca a a AE eI a aO ea eA ca A OI a acI aN a aE eI aaE a e aE aI O aI a eO U aO a a aE aE aE aIA AA aA a AOacEE E I aI I A a AaO ea eA a a o aE a acE aE eI a e aE aA AOIA Artinya: AuDan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumudalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan af idah . aya nala. , agar kamu bersyukur. Ay Bagaimana pula fungsi kalbu . bagi kehidupan psikologis manusia? Kata kalbu . yang dikaitkan dengan aktivitas AumemahamiAy ayat -ayat Allah . tidak bisa diartikan secara fisik. Aktivitas memahami sama dengan aktivitas berpikir kritis yang hanya dapat dilakukan oleh sistem memori atau akal manusia yang bersifat abstrak. Arti kalbu yang lebih realistis aialah akal atau sistem memori yang tempatya di dalam otak, bukan di dalam jantung atau di dalam hati manusia. Sehubungan degan hal tersebut, perlu diketahui, bahw a hati dalam perspektif disiplin ilmu apapun tidak memiliki fungsi mental seperti otak. Oleh kareanya, pengetahuan, ketrampilan dan nilai -nilai moral yang terkandung dalam bidang studi yang bersangkutan harus ditanamkan sebaik -baiknya ke dalam sistem memori siswa, bukan ke dalam hati mereka. Chandra Dewi . Jurnal Al-Fikru Thn. Xi. No. Juli Ae Desember 2019 A ISSN 1978-1326 Dalam Islam, belajar itu memiliki dimensi tauhid, yang tidak berbeda dengan belajar pada umumnya, tidak terpisahkan dengan pengembangan sains dan teknologi . enggali, memahami dan mengembangkan ayat-ayat Alla. Dalam kaitan inilah, lalu pendidikan hati . sangat dituntut agar membawa manfaat yang besar bagi umat manusia dan juga Belajar dalam perspektif Islam juga mencakup lingkup kognitif . omain cognitiv. , lingkup efektif . omain affectiv. dan lingkup psikomotor . omain motor-skil. Tiga ranah atau lingkup tersebut sering diungkapkan dengan istilah : Ilmu amaliah, amal ilmiah dalam jiwa imaniah. SIMPULAN Al-QurAoan adalah kalam suci Tuhan yang berfungsi sebagai: tanda, petunjuk, rahmat dan shafaat bagi manusia, berdasarkan penegasan Al QurAoan, (QS. AlAeIsraAo: 29 : Ar-Rum: . SyafiAoi MaAoarif, seperti dikutip dari Ismail R. Faruqi, menjelaskan, bahwa manusia adalah karya Tuhan yang terbesar dan terindah dengan struktur mental yang sophisticated dan spektakuler (QS. At-Tin: . Manusia dianugrahi rasio oleh Tuhan yang bisa menciptakan kreasi canggih berupa sains dan teknologi. Kelebihan intelektual inilah yang membuat manusia lebih unggul dari makhluk lainnya. Tetapi ia pun juga bisa menjadi tidak beretika, bahkan lebih hina dari binatang, jika ia berbuat destruktif, melepaskan imannya . ihat : Qs. At-Tin : 5-6 dan QS. AlAAoraf : . Oleh sebab itu, maka ia dituntut agar dengan sadar bersedia memikul tanggung jawab moral bagi tegaknya suatu tatanan kehidupan sosial politik yang beretika dan Tuntutan itu tercermin dalam beberapa ayat Al-QuraAoan surat An-Nahl : 90 . AliImron : 104, 114 . Al-Hajj : 41 . Al-Ahzab : 72. Dalam sistem kepercayaan Islam, iman memberikan fondasi moral yang kokoh, dan di atas fondasi inilah manusia bisa menciptakan hidup secara imbang (MaAoarif. 1997: . Dalam Islam, strategi pengembangan ilmu juga harus didasarkan pada perbaikan dan kelangsungan hidup manusia dengan tetap memegang amanah besar dari Allah SWT. Oleh sebab itu ilmu harus berlandaskan keimanan. Ilmu dan iman menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam diri manusia. Dengan begitu, teknologi, yang lahir dari ilmu, akan menjadi barang yang bermanfaat bagi umat manusia di sepanjang masa. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab umat Islam. DAFTAR PUSTAKA