LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . PENINGKATAN KAPASITAS KADER DAN IBU HAMIL MELALUI EDUKASI KOMPLEMENTER UNTUK PERAWATAN IBU HAMIL DAN NIFAS Nelly Nugrawati1. Nur Ekawati2. Ayu Wijaya3. Andi Muhammad Adam4 Program Studi Di Kebidanan STIKes Amanah Makassar Program Studi Di Gizi STIKes Amanah Makassar Email: nellystikesamanah@gmail. Ekha. nurekawati@gmail. Ayuwijayadam@gmail. Andimuhammadadam546@gail. ABSTRAK Kesehatan ibu selama kehamilan dan masa nifas memerlukan perhatian khusus, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan seperti Kecamatan Patimpeng. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dan memberdayakan ibu hamil melalui edukasi praktik komplementer. Metode kegiatan meliputi sosialisasi, penyuluhan, pelatihan praktik langsung, serta monitoring dan evaluasi. Pelatihan mencakup teknik pijat oksitosin, penggunaan aromaterapi lavender, dan pengolahan herbal laktagogum. Peserta terdiri dari 20 kader posyandu dan 15 ibu hamil. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta, dari 11% menjadi 74% yang berada pada kategori baik, serta peningkatan keterampilan dari 14% menjadi 66% pasca pelatihan. Logbook kader menunjukkan keberlanjutan implementasi praktik di komunitas. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader serta kenyamanan ibu hamil melalui pendekatan non-farmakologis yang aplikatif, murah, dan berkelanjutan. Kata Kunci: Aromaterapi. Edukasi Komplementer. Ibu Hamil. Kader Posyandu. Pijat Oksitosin ABSTRACT Maternal health during pregnancy and the postpartum period requires special attention, particularly in areas with limited access to health services such as Patimpeng Subdistrict. This community service program aimed to improve the capacity of health cadres and empower pregnant women through education on complementary care The methods included socialization, counseling, hands-on training, as well as monitoring and evaluation. The training covered oxytocin massage techniques, the use of lavender aromatherapy, and the preparation of herbal galactagogues. Participants consisted of 20 health cadres and 15 pregnant women. The results showed an increase in participantsAo knowledge, from 11% to 74% in the "good" category, and in skills, from 14% to 66% after training. Cadre logbooks indicated sustained implementation of the practices in the community. This activity proved effective in enhancing the knowledge and skills of cadres and providing comfort to pregnant women through applicable, lowcost, and sustainable non-pharmacological approaches. Keywords: Aromatherapy. Complementary education. Health cadres. Oxytocin massage. Pregnant women Corresponding Author:Nelly Nugrawati. mail: nellystikesamanah@gmail. Hertasning Baru Street. Kassi-Kassi. Rappocini District. Makassar City. South Sulawesi LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 40 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . Received 27 June 2025. received in revised from 25 July 2025, accepted 30 July LATAR BELAKANG Kesehatan ibu selama masa kehamilan dan nifas merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan kualitas layanan kesehatan suatu negara. Secara global, banyak negara berkembang masih menghadapi angka kematian ibu dan bayi yang tinggi akibat kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang komprehensif. Salah satu strategi yang banyak digunakan dalam menurunkan angka komplikasi pascapersalinan adalah penerapan praktik komplementer seperti pijat oksitosin. Pijat ini tidak hanya berfungsi untuk merangsang produksi ASI, tetapi juga memberikan relaksasi fisik dan psikologis pada ibu, terutama dalam mengatasi nyeri payudara dan stres setelah Penelitian menunjukkan bahwa rangsangan pada area punggung selama pijat oksitosin dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin yang berperan dalam ejeksi ASI. Hal ini menjadikan praktik ini sebagai salah satu intervensi sederhana, murah, dan efektif yang dapat dilakukan oleh tenaga nonmedis seperti kader, jika diberi pelatihan yang memadai. Kecamatan Patimpeng merupakan salah satu wilayah dengan jangkauan layanan kesehatan yang terbatas, terutama pada komunitas pedesaan. wilayah ini, kader posyandu berperan besar dalam mendampingi ibu hamil dan Namun, berdasarkan observasi awal dan hasil wawancara dengan beberapa kader, ditemukan bahwa sebagian besar belum memiliki keterampilan dalam memberikan edukasi dan layanan praktik komplementer. Padahal, praktik seperti pijat oksitosin, penggunaan aromaterapi, dan pemanfaatan herbal tradisional sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan ibu selama masa kehamilan dan pasca persalinan. Kader cenderung masih terpaku pada peran administratif atau pendampingan umum, belum optimal sebagai agen perubahan perilaku kesehatan ibu. Keterbatasan akses pelatihan serta kurangnya modul edukasi yang sesuai menjadi penghambat utama dalam meningkatkan kapasitas Penelitian oleh Romzalina dan rekan-rekannya . membuktikan bahwa pijat oksitosin yang dikombinasikan dengan minyak esensial lavender memiliki dampak yang signifikan dalam meningkatkan produksi ASI. Dalam studi tersebut, ibu yang menerima intervensi pijat selama tiga hari berturut-turut menunjukkan peningkatan volume ASI hingga 28,7% dibandingkan kelompok Lavender diketahui memiliki efek relaksasi yang kuat, membantu menurunkan ketegangan dan kecemasan yang sering menghambat refleks letdown pada proses menyusui. Ini menunjukkan bahwa penggabungan pendekatan komplementer tidak hanya berdampak fisiologis, tetapi juga psikologis, yang keduanya sangat penting dalam keberhasilan pemberian ASI. Studi ini menjadi rujukan penting untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam pelatihan kader, khususnya di daerah yang sulit akses ke fasilitas kesehatan LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 41 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . Selain itu, temuan lain memperkuat manfaat pijat oksitosin dalam mendukung pemberian ASI pada ibu postpartum. Dalam penelitian tersebut, ibu yang mendapatkan pijat oksitosin dua kali sehari selama masa nifas menunjukkan peningkatan produksi ASI yang signifikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapat intervensi. Penelitian ini juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga atau tenaga pendamping seperti kader dalam memberikan terapi ini secara berkelanjutan. Dengan kata lain, praktik ini tidak memerlukan alat atau bahan yang mahal, namun memerlukan edukasi dan keterampilan praktis yang mudah diajarkan. Hal ini mempertegas bahwa kader kesehatan desa dapat dijadikan ujung tombak dalam menerapkan terapi ini di tingkat komunitas. Program pengabdian masyarakat ini dirancang sebagai upaya peningkatan kapasitas kader dan pemberdayaan ibu hamil melalui pelatihan praktik komplementer. Beberapa materi utama dalam pelatihan ini meliputi: . teknik pijat oksitosin dan endorphin untuk membantu stimulasi ASI dan relaksasi. penggunaan aromaterapi lavender sebagai terapi untuk menurunkan kecemasan dan membantu kenyamanan emosional. pelatihan pengolahan herbal laktagogum alami dari daun katuk, kelor, dan pepaya muda. manajemen kecemasan selama kehamilan dan nifas dengan pendekatan nonfarmakologis. Pelatihan ini akan dilaksanakan dalam bentuk ceramah interaktif, simulasi langsung, dan pendampingan praktik lapangan oleh bidan. Modul pelatihan disusun berbasis literatur ilmiah terbaru dan dirancang agar mudah dipahami oleh kader, dengan fokus pada praktik langsung yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, setelah pelatihan, kader dapat secara mandiri melakukan edukasi kepada ibu hamil dan nifas di wilayah kerjanya. Tujuan dari program pengabdian ini adalah: Meningkatkan pengetahuan kader Kesehatan dan ibu hamil mengenai praktik komplementer berbasis bukti dalam perawatan kehamilan dan masa Meningkatkan keterampilan praktis kader dan ibu hamil dalam melakukan pijat oksitosin, aromaterapi, dan pemanfaatan herbal lokal yang aman bagi Memberdayakan ibu hamil agar lebih mandiri dan tenang dalam menjalani masa kehamilan dan pemulihan pasca persalinan. Mendukung pencapaian ASI eksklusif dan kesejahteraan ibu-bayi melalui layanan berbasis komunitas yang berkelanjutan dan murah biaya. METODE Deskripsi Singkat Mitra Mitra dalam pengabdian masyarakat ini adalah para kader posyandu dan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Patimpeng. Kabupaten Bone. Sulawesi Selatan. Para kader memiliki peran penting sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar di masyarakat, khususnya dalam pendampingan ibu hamil dan masa nifas. Namun, keterbatasan pelatihan mengenai praktik komplementer seperti pijat oksitosin, aromaterapi, dan pengolahan herbal LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 42 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . menyebabkan pelayanan yang diberikan belum optimal. Dengan meningkatkan kapasitas kader, diharapkan kualitas pelayanan kehamilan dan nifas berbasis komunitas dapat ditingkatkan secara signifikan. Lokasi Kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat ini akan dilaksanakan di Balai Desa dan Puskesmas Kecamatan Patimpeng. Kabupaten Bone. Langkah-Langkah Kegiatan Berikut adalah langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pengabdian masyarakat ini akan dilaksanakan di Balai Desa dan Puskesmas Kecamatan Patimpeng. Kabupaten Bone: Koordinasi Identifikasi Peserta Pretest Penyusunan Materi Evaluasi Program Posttest Pelatihan Sosialisasi dan Penyuluhan Koordinasi Awal: Tahap awal kegiatan diawali dengan koordinasi bersama pihak Puskesmas dan aparatur desa untuk menyampaikan maksud dan tujuan program. Koordinasi ini juga membahas teknis pelaksanaan kegiatan, penjadwalan, serta identifikasi dukungan logistik dan SDM yang diperlukan. Identifikasi dan Rekrutmen Peserta: Setelah koordinasi, dilakukan pendataan kader posyandu aktif dan ibu hamil yang akan menjadi peserta. Rekrutmen dilakukan melalui kerja sama dengan bidan desa dan Puskesmas untuk memastikan peserta benar-benar berada dalam masa kehamilan atau nifas serta bersedia mengikuti rangkaian kegiatan. Pre-test Pengetahuan: Peserta diberikan pre-test berupa kuesioner pengetahuan berupa pilihan ganda untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka terhadap praktik komplementer. Hasil pre-test ini akan menjadi dasar evaluasi untuk mengukur efektivitas pelatihan. Penyusunan dan Pencetakan Modul: Tim pelaksana menyusun modul edukasi yang berisi materi teori dan praktik tentang pijat oksitosin, aromaterapi, dan pengolahan herbal. Modul disusun secara sederhana, interaktif, dan dilengkapi gambar agar mudah dipahami oleh kader. Sosialisasi dan Penyuluhan: Kegiatan dimulai dengan sesi sosialisasi mengenai pentingnya praktik komplementer dalam mendukung kesehatan LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 43 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . ibu hamil dan nifas. Dilanjutkan penyuluhan interaktif yang membahas dasar ilmiah, manfaat, dan keamanan praktik yang akan diajarkan. Pelatihan Praktik Langsung: Sesi inti berupa pelatihan praktik pijat oksitosin dan endorfin, penggunaan aromaterapi lavender, serta pembuatan ramuan herbal laktagogum dari bahan lokal. Kegiatan ini melibatkan demonstrasi dan praktik langsung oleh peserta dengan bimbingan instruktur. Post-test dan Evaluasi: Setelah pelatihan, peserta diberikan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Evaluasi juga dilakukan terhadap keterampilan praktik melalui lembar observasi dan penilaian langsung oleh tim pelatih. Monitoring dan Pendampingan Lanjutan: Setelah pelatihan selesai, dilakukan kunjungan lapangan secara berkala untuk melihat implementasi praktik komplementer oleh kader. Monitoring ini juga menjadi wadah umpan balik dan pendampingan lanjutan agar kader tetap termotivasi menerapkan Metode yang Digunakan Metode yang Digunakan dalam Kegiatan dalam pengabdian masyarakat ini akan dilaksanakan di Balai Desa dan Puskesmas Kecamatan Patimpeng. Kabupaten Bone: Identifikasi & Seleksi Peserta Tahap awal dilakukan dengan mendata kader posyandu aktif dan ibu hamil yang memenuhi kriteria, yaitu berada pada trimester kedua hingga ketiga. Proses ini dilakukan melalui kerja sama dengan bidan desa dan petugas Puskesmas. Sosialisasi & Persiapan Dilakukan sosialisasi kepada peserta mengenai pentingnya pelatihan ini dalam mendukung perawatan kehamilan dan nifas. Tahapan ini juga mencakup penyusunan jadwal, penyediaan perlengkapan pelatihan seperti modul, minyak aromaterapi, bahan herbal, serta penyiapan tempat kegiatan. Pelatihan Teori dan Praktik Komplementer Peserta diberikan materi teori tentang manfaat dan teknik praktik komplementer, dilanjutkan dengan pelatihan langsung pijat oksitosin, penggunaan aromaterapi, dan pengolahan herbal. Kegiatan ini difasilitasi oleh tenaga kesehatan dan narasumber ahli. Dokumentasi & Analisis Data Seluruh kegiatan didokumentasikan melalui absensi, foto, video, serta pencatatan hasil pre-test dan post-test. Data yang terkumpul akan dianalisis untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 44 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . Intervensi dan Konseling Peserta yang membutuhkan pendalaman tambahan akan diberikan sesi konsultasi atau pendampingan lebih lanjut. Ibu hamil dengan masalah psikologis atau kecemasan akan diberikan konseling oleh tenaga profesional. Monitoring & Tindak Lanjut Monitoring dilakukan melalui kunjungan rumah atau posyandu untuk menilai penerapan praktik komplementer oleh kader kepada ibu hamil dan nifas. Tindak lanjut dilakukan dengan sesi bimbingan tambahan jika diperlukan. Evaluasi Program Evaluasi dilakukan di akhir kegiatan melalui analisis hasil post-test dan observasi praktik. Peserta juga diminta mengisi kuesioner kepuasan. Hasil evaluasi akan digunakan untuk perbaikan program dan pelaporan ke mitra. Instrumen Instrumen yang Digunakan dalam Kegiatan dalam pengabdian masyarakat Kuesioner Pre-test dan Post-test: Instrumen ini digunakan untuk menilai perubahan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan. Isi Kuesioner: pertanyaan tentang pengertian praktik komplementer, manfaat pijat oksitosin, kegunaan aromaterapi pada kehamilan, serta pengetahuan dasar tentang herbal penambah ASI. Data ini digunakan untuk mengukur seberapa besar peningkatan pengetahuan peserta setelah intervensi edukatif dilakukan. Lembar Observasi Keterampilan: Lembar ini digunakan untuk menilai keterampilan praktik peserta dalam melakukan pijat oksitosin, penggunaan aromaterapi, dan pengolahan bahan herbal secara langsung. Observasi dilakukan oleh fasilitator atau tenaga kesehatan menggunakan checklist Data ini digunakan untuk menilai efektivitas pelatihan praktis. Formulir Evaluasi Kepuasan Peserta: Instrumen ini digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan peserta terhadap materi, fasilitator, dan efektivitas pelatihan. Isi Formulir: penilaian terhadap kejelasan materi. LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 45 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . keterlibatan peserta, manfaat kegiatan, dan sarana-prasarana yang Formulir ini juga memuat kolom saran dan masukan dari peserta. Logbook Kader: Logbook digunakan oleh kader untuk mencatat kegiatan pasca pelatihan, seperti penerapan teknik pijat, penyuluhan tentang aromaterapi kepada ibu hamil, atau pemanfaatan herbal. Logbook mencakup tanggal kegiatan, jenis intervensi, serta catatan respons atau perkembangan yang dicatat kader. Data dari logbook akan digunakan sebagai indikator keberlanjutan program setelah pelatihan selesai. Evaluasi Kegiatan Evaluasi dilakukan melalui perbandingan hasil pre-test dan post-test peserta untuk melihat peningkatan pengetahuan. Lembar observasi digunakan untuk menilai keterampilan praktik secara langsung. Evaluasi kepuasan peserta dilakukan menggunakan kuesioner skala Likert. Monitoring pasca kegiatan dilakukan dengan kunjungan lapangan serta pendokumentasian aktivitas kader melalui logbook untuk menilai sejauh mana praktik komplementer diterapkan secara berkelanjutan di komunitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2025. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam menerapkan praktik komplementer untuk perawatan kehamilan dan masa nifas. Peserta kegiatan ini terdiri dari 20 kader posyandu aktif dan 15 ibu hamil dengan usia kehamilan trimester kedua dan ketiga. Tim pelaksana terdiri dari dosen dan mahasiswa STIKes Amanah Makassar yang berperan sebagai fasilitator pelatihan, penyuluh, serta pengamat keterampilan praktik. Peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini digambarkan pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Identifikasi Peserta berdasarkan Status dan Usia Kehamilan Kategori Peserta Frekuensi Persentase Kader Posyandu Ibu Hamil Trimester II Ibu Hamil Trimester i Total Berdasarkan Tabel 1, peserta terdiri dari 35 orang, yang sebagian besar adalah kader posyandu . %). Sementara itu, ibu hamil yang menjadi peserta LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 46 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . terbagi dalam dua kategori, yakni trimester kedua sebanyak 9 orang . %) dan trimester ketiga sebanyak 6 orang . %). Komposisi ini dipilih karena kader memiliki peran penting sebagai fasilitator komunitas dan ibu hamil merupakan sasaran utama dari praktik perawatan komplementer. Tabel 2. Pengetahuan Peserta Sebelum dan Sesudah Pelatihan Komplementer Pengetahuan Sebelum Pelatihan Frekuensi Persentase Baik Cukup Kurang Total Pengetahuan Setelah Pelatihan Frekuensi Persentase Baik Cukup Kurang Total Berdasarkan Tabel 2, terlihat peningkatan yang signifikan dalam tingkat pengetahuan peserta setelah diberikan pelatihan. Sebelum pelatihan, hanya 11% peserta yang memiliki pengetahuan baik tentang praktik komplementer dalam perawatan kehamilan dan nifas, sementara sebagian besar berada pada kategori cukup . %) dan kurang . %). Namun setelah pelatihan, sebanyak 74% peserta memiliki pengetahuan yang baik dan sisanya . %) berada pada kategori cukup. Tidak ada peserta yang memiliki pengetahuan kurang. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman peserta secara efektif. Tabel 3. Keterampilan Peserta Sebelum dan Sesudah Pelatihan Komplementer Keterampilan Sebelum Pelatihan Frekuensi Persentase Baik Cukup Kurang Total Keterampilan Setelah Pelatihan Frekuensi Persentase Baik Cukup Kurang Total Tabel 3 menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterampilan peserta dalam praktik komplementer sebelum dan sesudah pelatihan. Sebelum pelatihan, mayoritas peserta . %) berada pada kategori keterampilan kurang, 29% cukup, dan hanya 14% yang tergolong baik. Namun, setelah mengikuti pelatihan, terjadi pergeseran besar di mana 66% peserta menunjukkan keterampilan yang baik, 29% cukup, dan hanya 5% yang masih dalam kategori Hasil ini mengindikasikan bahwa pelatihan yang diberikan dalam pengabdian masyarakat ini efektif dalam meningkatkan keterampilan peserta. LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 47 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . khususnya dalam praktik pijat oksitosin, aromaterapi, dan pengolahan herbal, yang merupakan materi utama kegiatan. PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar peserta adalah kader posyandu . %), sementara ibu hamil trimester II dan i masing-masing berjumlah 26% dan Komposisi ini dipilih dengan mempertimbangkan bahwa kader posyandu merupakan perpanjangan tangan tenaga kesehatan di masyarakat, sementara ibu hamil adalah kelompok sasaran utama praktik komplementer seperti pijat oksitosin dan aromaterapi. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan peningkatan kapasitas kader serta pemberdayaan ibu hamil terhadap pengetahuan dan keterampilan perawatan komplementer yang aman dan Setelah pelatihan dilaksanakan, hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta. Sebelum pelatihan, sebagian besar peserta berada pada kategori cukup . %) dan kurang . %), namun setelah pelatihan sebanyak 74% peserta berada pada kategori baik dan sisanya berada di kategori cukup. Hal ini sejalan dengan penelitian Lestari . yang menyatakan bahwa pelatihan berbasis praktik langsung mampu memberikan dampak yang lebih besar dalam pembentukan pengetahuan dan kepercayaan diri kader di tingkat komunitas. 6 Penelitian oleh Marpaung & Hutagalung . menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran yang interaktif dan berbasis praktik nyata berperan penting dalam keberhasilan proses edukasi di komunitas. Kader yang terlibat secara langsung dalam simulasi praktik memperlihatkan peningkatan signifikan dalam retensi pengetahuan dan keterampilan. Selain peningkatan pengetahuan, keterampilan peserta juga mengalami peningkatan signifikan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3. Sebelum pelatihan, 57% peserta berada dalam kategori kurang, sementara setelah pelatihan, keterampilan baik meningkat menjadi 66%. Mayoritas peserta mampu melakukan teknik pijat oksitosin dan penggunaan aromaterapi dengan benar berdasarkan hasil lembar observasi praktik. Hasil ini mendukung temuan Yuliana et al. yang menyatakan bahwa pelatihan interaktif yang disertai praktik langsung dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran keterampilan motorik dan emosional. 8 Penelitian dari Ariani et al. juga menegaskan bahwa praktik komplementer seperti aromaterapi dan pijat dapat meningkatkan kualitas interaksi antara kader dan ibu hamil, yang berdampak pada meningkatnya kepercayaan diri dan rasa nyaman emosional selama kehamilan. Kegiatan monitoring menunjukkan bahwa implementasi pasca pelatihan berjalan dengan cukup baik. Berdasarkan logbook kader, sebagian besar peserta telah mencoba menerapkan minimal satu praktik komplementer dalam satu minggu setelah pelatihan. Ini menunjukkan adanya keberlanjutan dalam praktik serta transfer ilmu yang dilakukan oleh kader kepada ibu hamil lainnya. Studi oleh Rosyidah et al. mendukung temuan ini, menyatakan bahwa kader yang telah dibekali pelatihan teknis dan teori cenderung lebih aktif dalam LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 48 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . penerapan di lapangan serta berperan dalam menurunkan angka komplikasi ringan selama kehamilan dan nifas di komunitas. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat ini terbukti memberikan dampak positif dalam meningkatkan kapasitas kader dan kenyamanan ibu hamil melalui pendekatan komplementer. Hal ini sejalan dengan strategi pelayanan kesehatan promotif dan preventif berbasis masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Permenkes No. 75 Tahun 2020 tentang Puskesmas, yang menekankan penguatan peran serta kader dan pengembangan inovasi layanan ramah keluarga di tingkat desa (Kemenkes RI. Evaluasi Tindakan Evaluasi Hasil Evaluasi hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan kader serta ibu hamil mengenai praktik komplementer dalam perawatan kehamilan dan masa nifas. Hal ini terlihat dari perbandingan hasil pre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan skor pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan. Selain itu, lembar observasi keterampilan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mampu melakukan praktik pijat oksitosin dan penggunaan aromaterapi dengan baik. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa pendekatan pelatihan langsung yang disertai praktik dapat memperkuat pemahaman dan kepercayaan diri peserta dalam menerapkan pengetahuan di lapangan. 12 Program ini berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kapasitas kader dalam memberikan layanan berbasis komplementer yang aman dan sesuai dengan kebutuhan ibu hamil dan nifas. Evaluasi Respon Evaluasi terhadap respon peserta menunjukkan antusiasme dan kepuasan yang tinggi. Berdasarkan hasil kuesioner kepuasan, sebagian besar peserta menyatakan bahwa materi yang diberikan sangat bermanfaat dan dapat langsung diterapkan dalam kegiatan posyandu maupun praktik sehari-hari. Peserta juga aktif bertanya, berdiskusi, serta terlibat dalam simulasi praktik secara maksimal. Respon positif ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif dan partisipatif dalam pelatihan telah berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan membangun kepercayaan diri peserta untuk mencoba intervensi non-farmakologis dalam perawatan ibu hamil dan 13 Respons yang konstruktif ini diharapkan dapat mendorong keberlanjutan praktik komplementer di komunitas secara mandiri oleh para kader dan ibu hamil. Kendala dan Solusi Kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak terlepas dari berbagai tantangan di lapangan. Beberapa kendala yang dihadapi beserta solusi yang diusulkan adalah sebagai berikut: Variasi Latar Belakang Pengetahuan Peserta LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 49 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . Salah satu kendala yang muncul adalah perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman peserta, khususnya para kader. Beberapa peserta belum pernah mendapatkan pelatihan tentang praktik komplementer sebelumnya, sehingga membutuhkan penjelasan lebih Solusi untuk kendala ini adalah membagi peserta dalam kelompok kecil saat pelatihan, sehingga pelatih dapat memberikan pendampingan yang lebih personal dan menjelaskan materi sesuai tingkat pemahaman masing-masing peserta. Keterbatasan Waktu Pelaksanaan Durasi kegiatan yang terbatas menjadi tantangan dalam menyampaikan seluruh materi teori dan praktik secara menyeluruh. Pelatihan praktik seperti pijat oksitosin dan pengolahan herbal membutuhkan waktu dan pendampingan intensif agar peserta benar-benar memahami dan menguasai teknik yang diajarkan. Sebagai solusi, tim pelaksana memberikan modul tertulis dan video tutorial yang dapat dipelajari kembali secara mandiri oleh peserta pasca pelatihan. Keterbatasan Fasilitas dan Alat Praktik Beberapa alat dan bahan praktik seperti minyak pijat, diffuser aromaterapi, serta bahan herbal tidak tersedia dalam jumlah banyak, sehingga harus digunakan bergantian oleh peserta. Hal ini dapat memperlambat jalannya pelatihan praktik. Solusinya adalah melakukan koordinasi lebih awal dengan Puskesmas dan desa untuk menyiapkan perlengkapan, serta mendorong kader untuk membawa bahan pelatihan sendiri dari rumah apabila memungkinkan. Kesulitan dalam Monitoring Pasca Kegiatan Setelah kegiatan pelatihan selesai, masih terdapat kendala dalam memantau implementasi praktik komplementer oleh kader di lapangan, khususnya di wilayah yang terpencil atau memiliki akses komunikasi yang Untuk mengatasi kendala ini, tim pelaksana membuat logbook kader dan membentuk grup komunikasi berbasis WhatsApp sebagai media untuk pelaporan kegiatan secara berkala dan pendampingan jarak jauh oleh tim dosen. Resistensi terhadap Praktik Baru Beberapa kader dan ibu hamil awalnya menunjukkan keraguan terhadap efektivitas pijat oksitosin dan aromaterapi, karena belum terbiasa dengan pendekatan non-farmakologis dalam perawatan kebidanan. Untuk mengatasi hal ini, tim pengabdian menekankan pentingnya bukti ilmiah yang mendukung efektivitas praktik komplementer serta memberikan testimoni atau studi kasus yang relevan selama sesi pelatihan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat yang berjudul AuPemberdayaan Kader melalui Edukasi Praktik Komplementer dalam Perawatan Kehamilan dan NifasAy di LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 50 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . Kecamatan Patimpeng. Kabupaten Bone, telah terlaksana dengan baik dan menunjukkan hasil yang positif. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta, khususnya dalam penerapan praktik komplementer seperti pijat oksitosin, aromaterapi, dan pengolahan herbal. Evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada hasil post-test dibanding pretest, serta respons positif dari peserta terhadap materi dan metode pelatihan yang digunakan. Selain itu, pelaksanaan monitoring menunjukkan bahwa sebagian kader telah mulai mengimplementasikan teknik yang diperoleh di posyandu atau saat kunjungan rumah, menandakan dampak berkelanjutan dari kegiatan ini dalam meningkatkan kualitas pelayanan ibu hamil dan masa nifas di Saran: Untuk meningkatkan efektivitas program pengabdian masyarakat ini ke depannya, beberapa saran yang dapat diberikan adalah: Peningkatan Frekuensi Pelatihan: Disarankan agar pelatihan praktik komplementer dilakukan secara berkelanjutan dalam beberapa sesi terpisah, guna memberikan waktu yang cukup bagi peserta untuk menguasai teori dan praktik secara optimal. Penyediaan Media Belajar Mandiri: Penting untuk menyediakan bahan ajar tambahan berupa video tutorial dan modul cetak yang lebih interaktif, agar peserta dapat melakukan praktik ulang secara mandiri di rumah. Kolaborasi Multisektor: Dianjurkan untuk memperluas kerja sama dengan Dinas Kesehatan. Puskesmas, dan organisasi profesi kebidanan untuk mendukung keberlanjutan pelatihan dan pengadaan alat/bahan praktik yang diperlukan oleh kader. Monitoring Jangka Panjang: Evaluasi lanjutan perlu dilakukan dalam kurun waktu 1Ae3 bulan setelah pelatihan guna menilai penerapan praktik oleh kader di lapangan serta dampaknya terhadap kesejahteraan ibu hamil dan ibu nifas secara lebih objektif dan komprehensif. Peningkatan Kapasitas Fasilitator: Sebaiknya para fasilitator, termasuk dosen dan mahasiswa pendamping, diberikan pelatihan terlebih dahulu agar mampu mengajarkan praktik komplementer dengan pendekatan pedagogis yang tepat bagi kader dan ibu hamil dengan latar belakang pendidikan yang beragam. UCAPAN TERIMAKASIH Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan memberikan dedikasi terbaik dalam kegiatan pengabdian masyarakat AuPemberdayaan Kader melalui Edukasi Praktik Komplementer dalam Perawatan Kehamilan dan Nifas di Kecamatan Patimpeng. Ay Kepada pihak Puskesmas Patimpeng, pemerintah desa, para kader posyandu, serta ibu hamil yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini, kami LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. 2 Tahun 2. 51 LENTERA (Jurnal Pengabdia. Ae Vol. No. SSN 2774-9274 . ISSN 2774-812X . menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja sama yang terjalin dan antusiasme dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Dengan semangat kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil dan masa nifas melalui pendekatan komplementer seperti pijat oksitosin, aromaterapi, dan pengolahan herbal, kami berharap kegiatan ini memberikan dampak positif dan dapat diterapkan secara berkelanjutan di komunitas. Semoga hasil dari kegiatan ini bermanfaat bagi peningkatan kapasitas kader dan kesejahteraan ibu hamil di wilayah Patimpeng. Kami juga berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dalam pengembangan program kesehatan berbasis masyarakat di masa mendatang. Terima kasih atas segala dukungan, kepercayaan, dan komitmen yang telah diberikan. DAFTAR PUSTAKA