Prosiding Seminar Nasional Peternakan. Kelautan, dan Perikanan I (Semnas PKP I) AuOptimalisasi Peran Sektor Peternakan. Kelautan, dan Perikanan dalam Mendukung Kemajuan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dan Menyongsong Indonesia Emas 2045Ay Persepsi Masyarakat terhadap Pengembangan Wisata Edukasi Hutan Mangrove (EHM) di Pantai Baluno Kecamatan Sendana Kabupaten Majene Sulawesi Barat (Public Perception of the Development of Educational Mangrove Forest Tourism at Baluno Beach. Sendana District. Majene Regency. West Sulawes. Sakinah1*. Nurjirana2. Firmansyah3. Luthfiah3 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Universitas Hasanuddin Pusat Penelitian Biosistematika dan Evolusi. Badan Riset dan Inovasi Nasional Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Hasanuddin *Corresponding author: sakinahahmad994@gmail. ABSTRACT Ecotourism refers to tourism activities that are professionally organized, well-managed, and include educational components. As an economic sector, it prioritizes cultural heritage, community participation, the welfare of local residents, and the conservation of natural resources and the environment. This study aims to identify the characteristics of the community surrounding Baluno Beach, assess community perceptions regarding the development of the Baluno Beach Mangrove Forest Educational Tourism, and explore the factors influencing these perceptions. The study population consisted of residents living near Baluno Beach, with a sample size of 41 respondents. Data collection was carried out using observation, interviews, and documentation techniques, and the results were analyzed descriptively. The findings reveal that community perceptions of the development of mangrove forest educational tourism are generally positive. Those who strongly agree with the initiative are predominantly long-term residents who have lived in the area for five or more years. Additionally, individuals who agree with the initiative highlight its potential to create job The development of mangrove forest educational tourism has not caused any negative impacts so far. Conversely, those who expressed uncertainty or disagreement were primarily newer residents who have lived in the area for less than four years and are less familiar with the mangrove forest's development. Overall, community perceptions of the mangrove forest educational tourism development indicate a positive outlook, with an average perception score of 55. 7, placing it within the "agree" category. Keywords: Educational tourism, mangrove. West Sulawesi ABSTRAK Ekowisata merupakan kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi, dan kesejahteraan penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumberdaya alam dan Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik masyarakat di sekitar pantai baluno, persepsi masyarakat tentang pengembangan wisata edukasi hutan mangrove (EHM) pantai baluno, serta faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pengembangan kawasan. Penelitian melibatkan 41 responden dari masyarakat sekitar pantai baluno. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Pengambilan atau pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal yang telah tinggal lebih dari lima tahun cenderung sangat setuju terhadap pengembangan wisata ini. Mereka melihat peluang lapangan kerja sebagai dampak positifnya. Sebaliknya, masyarakat yang tinggal kurang dari empat tahun lebih cenderung ragu atau tidak setuju, karena belum menyaksikan perkembangan kawasan. Secara umum, tidak ada dampak negatif dari keberadaan wisata EHM. Persepsi masyarakat terhadap pengembangan kawasan ini bersifat positif, dengan skor analisis data sebesar 55,7 yang masuk dalam kategori setuju. Kata Kunci: Mangrove. Sulawesi Barat. Wisata Edukasi AProsiding Seminar Nasional PKP I 2024 e-ISSN: 3090-305X Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 Pendahuluan merupakan daerah yang terdapat di wilayah antara pesisir dan pegunungan. Pantai baluno merupakan salah satu pantai yang terdapat di pesisir Kecamatan Sendana yaitu salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Majene yang menawarkan panorama alam berupa hutan Luas area yang menjadi cakupan hutan mangrove di daerah ini pada tahun 2005 hanya sekitar 5 ha yang terus mengalami konservasi hingga pada tahun 2015 kawasan yang merupakan daerah hutan mangrove mencapai 60 ha. Adapun konsep yang di angkat pada pariwisata di pantai baluno yaitu berbasis edukasi atau pendidikan. Wisata pantai baluno yang mengusung konsep memberikan fungsi ganda baik untuk lingkungan maupun kepada masyarakat dalam hal ini kelestarian lingkungan dan juga di bidang ekonomi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melihat sejauh mana penerapan dan keberhasilan wisata edukasi yang terdapat di pantai baluno dari persepsi masyarakat sekitar tentang kegiatan wisata edukasi pantai baluno yang telah berumur puluhan tahun, maka perlu adanya penelitian mengenai persepsi terhadap kegiatan wisata edukasi di pantai baluno. Penelitian ini akan membahas mengenai persepsi dan sikap masyarakat sekitar Wisata pantai baluno terhadap 3 . variabel dasar ekowisata, yaitu: ekonomi . , sosial . , . , dari kegiatan wisata pantai Persepsi dan sikap masyarakat ini yang nantinya dijadikan sebagai rekomendasi perencanaan pengelolaan wisata pantai baluno ke depannya untuk mencapai pembangunan ekowisata yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik masyarakat di sekitar pantai baluno. Kecamatan Sendana. Kabupaten Majene dan persepsi masyarakat tentang pengembangan wisata EHM pantai baluno. Ekowisata perjalanan wisata yang dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan . Ekowisata diberi batasan sebagai bentuk dan kegiatan wisata yang bertumpu pada lingkungan dan bermanfaat secara ekologi, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat lokal serta bagi kelestarian sumberdaya alam dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Lima aspek utama untuk berkembangnya ekowisata adalah: . adanya keaslian lingkungan alam dan budaya, . keberadaan dan daya dukung masyarakat, . pendidikan dan pengalaman, . berkelanjutan, dan . kemampuan manajemen dalam pengelolaan ekowisata . Berdasarkan penjelasan tersebut bahwa keterlibatan masyarakat dalam hal ini terkait dengan peran dan partisipasi merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan Masyarakat harus dilibatkkan dan diperhatikan persepsinya karena masyarakat merupakan obyek yang harus menikmati hasil pengelolaan secara adil dan merata dan juga meningkatkan dan ditingkatkan kualitasnya agar dapat menjadi pengelola yang baik. Persepsi penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas adalah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau . Persepsi memberikan suatu makna terhadap hal-hal dan persepsi membuat suatu arahan dalam perilaku Tanpa proses organisasi pada persepsi, kita tidak akan melihat objek, ruang, kejadiankejadian, gerakan, orang, atau hubunganhubungan, dan akan mengarahkan kita pada suatu dunia yang tidak bermakna, sensasisensasi yang acak . Kabupaten Majene merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Sulawesi Barat yang memiliki beberapa objek wisata. salah satu wisata yang mendominasi di Kabupaten Majene adalah wisata bahari. Ini dikarenakan karena Kabupaten Majene Metode Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Januari hingga April 2016 di kawasan wisata Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 EHM pantai baluno. Dusun Binangan. Desa Puttada. Kecamatan Sendana. Kabupaten Majene. Provinsi Sulawesi Barat (Gambar . Gambar 1. Peta lokasi kawasan wisata EHM pantai baluno. Prosedur Penelitian menggambarkan dan menjelaskan keadaan atau gejala yang terdapat di lapangan, dan selanjutnya di analisis. Untuk mengetehui persepsi masyarakat tentang pengembangan edukasi, diajukan pertanyaanpertanyaan yangakan dihitung dalam bentuk Pertanyaan yang akan diajukan selanjutnya diukur dengan memakai skala Likert, jawaban-jawaban pertanyaan tersebut diberi skor. Untuk pertanyaan positif diberi skor 5, 4, 3, 2, 1, pertanyaan negatif dengan skor 1, 2, 3, 4, 5. Pengkategorian skor memakai jawaban sangat tidak setuju, tidak setuju, ragu-ragu, setuju, sangat setuju. Teknik penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan dalam bentuk tabel. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik deskriptif . Teknik analisis statistik deskriptif dapat ditulis dengan menggunakan analisis deskriptif sesuai dengan rumus 1. Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu persepsi dalam hal ini adalah persepsi masyarakat terhadap pengembangan kawasan hutan mangrove sebagai kawasan wisata edukasi dan faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pengembangan kawasan wisata EHM. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu: Observasi Teknik ini dilakukan dengan cara pengamatan terlebih dahulu dilokasi penelitian sebelum melakukan wawancara dengan Hal ini bertujuan untuk memperoleh gambaran umum ttentang lokasi Wawancara Teknik wawancara meerupakan cara pengumpulan data secara langsung dengan Pada teknik ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner yang disusun berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian. Daftar pertanyaan disusun dengan bentuk tertulis untuk memperoleh data kualitatif maupun kuantitatif. P = n y 100 Keterangan: P = Nilai persentase f = Banyaknya responden n = Jumlah sampel Teknik Analisis Data Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk Hasil dan Pembahasan Kawasan wisata EHM merupakan salah satu destinasi wisata alam yang terdapat di Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 Kabupaten Majene. Kawasan mangrove terletak memanjang dari arah Selatan ke Utara perairan Kecamatan Sendana. Pusat wisata ini terdapat di Desa Binanga. Kelurahan Mosso. Kecamatan Sendana, berjarak sekitar kurang lebih 40 km dari pusat Kota Majene. Kawasan wisata EHM di pantai baluno merupakan daerah wisata yang dikelola oleh YPMMD SULBAR (Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Des. yang di ketuai oleh Bapak Aziil Anwar. Wisata EHM ini diberi nama Mangrove Learning Centre yang terdiri dari 17 Kegiatan konservasi mangrove di pantai baluno rutin dilakukan sejak awal berdirinya YPMMD SULBAR, sehingga area tersebut dijadikan sebagai kawasan wisata EHM hingga saat ini. Pendleton et al. menyatakan bahwa kegiatan konservasi harus dilakukan untuk ekosistem mangrove agar tidak terjadi Lebih lanjut. Setiawan . menyatakan bahwa pemulihan ekosistem mangrove adalah salah satu tujuan kegiatan Hutan mangrove banyak ditemukan hidup di daerah estuari atau zona yang masih dipengaruhi oleh aktivitas pasang surut perairan . Kehidupan mangrove juga dipengaruhi oleh karakteristik substrat. Jenis mangrove, karena mangrove biasanya tumbuh di area estuari dengan substrat berlumpur . Kondisi mangrove di pantai baluno dapat dikatakan subur. Tanaman mangrove di pantai baluno selain tumbuh di tempat yang berlumpur juga tumbuh di atas karang yang telah mati. Basyuni . menyebutkan bahwa vegetasi mangrove umumnya dapat tumbuh di substrat lumpur, tetapi juga dapat tumbuh di substrat berpasir dan di atas karang yang telah Distribusi vegetasi mangrove untuk tumbuh dan berkembang dapat dipengaruhi oleh karakteristik substrat yang baik . Beberapa jenis mangrove baik yang tumbuh secara alami maupun mangrove yang dibawa dari tempat lain sudah berhasil ditanam di kawasan pantai baluno (Gambar . Adapun jenis-jenis mangrove yang tumbuh di Kawasan pantai baluno yaitu jenis Aegiceras corniculatum. Avivennia marina. Barringtonia Bruguiera Camptostemon philippinense. Ceriops tagal. Ipomea pes-caprae. Morinda citrifolia, nypa fruticans. Phemphis acidula. Rhizophora apiculate. Rhizophora mucronata. Rhizophora Scaevola Sesuvium portulacastrum. Sonneratia alba. Terminalia catappa, dan Thespesia populnea. Gambar 2. Kawasan wisata EHM pantai baluno. A = area pembibitan mangrove. B = bibit mangrove. C = area penanaman bibit mangrove. D = pohon mangrove yang berhasil tumbuh melalui kegiatan penanaman. Variasi salinitas dan kemampuan adaptasi masing-masing jenis mangrove berkorelasi erat dengan pola pertumbuhan dan penyebarannya . , . Mangrove tumbuh lebih cepat di tempat dengan tingkat salinitas rendah daripada di tempat dengan tingkat salinitas tinggi . Adanya perbedaan kondisi lingkungan dapat mengakibatkan dominansi jenis mangrove tertentu yang menyebabkan adanya diferensiasi habitat . Selain Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 mangrove, kawasan pantai baluno juga ditumbuhi berbagai macam jenis lamun yang hidup secara alami dan juga terdapat lamun yang ditanam sendiri. Tidak hanya flora, beberapa jenis fauna juga terdapat di kawasan hutan mangrove ini. Sendana berjumlah 22. 577 jiwa yang terdiri 818 jiwa laki-laki, dan 11. 759 jiwa Berdasarkan data tersebut maka diperoleh jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada jumlah penduduk laki-laki . Letak Geografis dan Administratif Karakteristik Masyarakat Secara administratif lokasi Wisata EHM pantai baluno berada di dusun Binanga. Desa Puttada. Kecamatan Sendana yang merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Majene yang memiliki luas 82,23 kmA atau sekitar 8,68 % dari luas keseluruhan Kabupaten Majene, berjarak sekitar 35 Ae 40 km di utara pusat kota Majene. Secara astronomis Kecamatan Sendana terletak antara 3A 21A 45A - 3A 23A 22A LS dan 118A 50A 43A 118A 52A 47A BT. Secara geografis Kecamatan Sendana berbatasan dengan: Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan TammeroAodo. Kabupaten Polewali Mamasa di sebelah Timur. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pamboang. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar. Adapun karakteristik masyarakat yang dimaksud antara lain: jenis kelamin, umur, status pekerjaan, lamanya berdomisili, dan tingkat pendidikan masyarakat di sekitar pantai baluno Kecamatan Sendana Kabupaten Majene. Pada data yang diperoleh dari hasil olahan kuisioner bahwa 30 responden di sekitar pantai baluno dapat dikelompokkan seperti pada uraian berikut: Jenis Kelamin Jenis kelamin dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah atau perbandingan banyaknya laki-laki dan perempuan yang menjadi responden disekitar pantai baluno. Tabel 1. Jenis kelamin masyarakat di sekitar kawasan wisata EHM pantai baluno Kondisi Fisik Dari aspek topografi. Kecamatan Sendana memiliki wilayah yang kondisinya relatif bervariasi yakni, pada sisi selatan merupakan daerah pesisir yang relatif datar sedangkan pada sisi utara merupakan daerah pegunungan. Berdasarkan data statistik tahun 2015 luas wilayah yang memiliki kemiringan 0 Ae 10 % adalah 125,72 km2, sedangkan sisanya memiliki kemiringan lebih besar dari 10 %. Kondisi iklim wilayah Kabupaten Majene dan sekitarnya secara umum ditandai dengan hari hujan dan curah hujan yang relatif tinggi dan sangat dipengaruhi oleh angin musim, hal ini dikarenakan wilayahnya berbatasan dengan laut lepas (Selat Makassar dan Teluk Manda. Berdasarkan catatan Stasiun Meteorologi, rataan temperatur suhu udara di Kabupaten Majene dan sekitarnya sepanjang tahun 2015 berkisar 27,13 AC, dengan suhu minimum 22,53 AC dan suhu maksimum 30,8 AC. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Frekuensi Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Adapun perbandingan jenis kelamin lakilaki dan perempuan terdiri dari 43 % laki-laki dan 57 % perempuan. Hal ini berarti responden dengan jenis kelamin laki-laki lebih sedikit dibanding responden dengan jenis kelamin perempuan (Tabel . Status Pekerjaan Status pekerjaan masyarakat di sekitar pantai baluno masih bergantung dari hasil laut karena Dusun Binanga terletak disepanjang garis pantai. Selain itu, pekerjaan masyarakat di sekitar pantai baluno sebagian besar sangat berhubungan dengan keberadaan hutan mangrove khususnya wisata edukasi yang telah lama berdiri. Status pekerjaan responden yang ditemui di lokasi penelitian paling banyak berstatus wiraswasta sebanyak 12 responden yang Demografi Secara keseluruhan menurut data tahun 2015 penduduk yang ada di Kecamatan Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 mengatakan sangat cocok berwiraswasta di sekitar pantai baluno (Tabel . Tabel 4. Lamanya masyarakat berdomisili di sekitar kawasan wisata EHM pantai baluno. Tabel 2. Status pekerjaan masyarakat di sekitar kawasan wisata EHM pantai Lama (Tahu. <18 18 - 36 > 36 Jumlah Frekuensi Persentase (%) Pekerjaan Frekuensi Nelayan Wiraswasta Pengusaha Ibu rumah Mahasiswa Pegawai negeri Jumlah Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Kelompok Umur Kelompok umur di lokasi penelitian menunjukkan bahwa kelompok umur responden yang berada di sekitar pantai baluno bervariasi yang dibagi menjadi 3 kelas yaitu antara interval 18 Ae 36 tahun sebanyak 25 responden atau sekitar 77 %, usia interval 37 Ae 55 tahun terdiri dari 5 responden atau sebnayak 33 % responden (Tabel . Sumber: Data primer hasil penelitian . Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang dilalui responden mulai dari yang tidak sekolah sampai pada perguruan tinggi. Tabel 5. Kelompok umur masyarakat di sekitar kawasan wisata EHM pantai Tabel 3. Tingkat pendidikan masyarakat di sekitar kawasan wisata EHM pantai Pekerjaan Frekuensi SLTP SLTA Perguruan tinggi Jumlah Persentase (%) Umur (Tahu. 18 Ae 36 37 Ae 55 Jumlah Frekuensi Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Sumber: Data primer hasil penelitian . Status Perkawinan Sebanyak 13 % telah menyelesaikan pendidikannya di tingkat SD, 10% telah menyelesaikan pendidikannya di tingkat SLTA, pendidikannya di tingkat SLTA, dan 20 % ditingkat perguruan tinggi (Tabel . Status perkawinan masyarakat di sekitar Kawasan wisata EHM pantai baluno disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Status perkawinan masyarakat di sekitar kawasan wisata EHM pantai Lamanya Masyarakat Berdomisili di Sekitar Kawasan Wisata EHM Pantai Baluno Status Kawin Belum kawin Jumlah Lamanya masyarakat berdomisii di sekitar Kawasan wisata EHM pantai baluno disajikan pada Tabel 4. Adapun mengenai lamanya masyarakat berdomisili menunjukkan bahwa terdapat 84 % masyarakat yang sudah berdomisili sebelum adanya wisata EHM, sedangkan selebihnya merupakan masyarakat yang berdomisili setelah adanya wisata EHM (Tabel . Frekuensi Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Status perkawinan yang ada di sekitar pantai baluno dari 30 jumlah responden, sebanyak 53 % responden sudah berstatus kawin dan 47 responden berstatus tidak kawin (Tabel . Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 Persepsi Masyarakat Pengembangan Kawasan Wisata EHM Persepsi positif yang dimaksud adalah pernyataan persepsi sangat setuju dan setuju, dimana responden yang sangat setuju sebanyak 12 orang . %), setuju sebanyak 17 orang . %), sedangkan tidak ada pandangan yang negatif . urang bai. yaitu mereka yang menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju . %), selebihnya yaitu 1 orang yang menyatakan ragu-ragu . %). Ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap adanya objek wisata EHM adalah baik . Persepsi Masyarakat tentang Kawasan Hutan Mangrove Pantai Baluno Lebih Cocok Dijadikan Tempat Wisata yang Berbasis Wisata Edukasi Dibandingkan Tempat Wisata Biasa Berdasarkan hasil olah data pada Tabel 7, persepsi masyarakat tentang kawasan hutan mangrove pantai baluno lebih cocok dijadikan tempat wisata yang berbasis wisata edukasi dibandingkan tempat wisata biasa. Tanggapan masyarakat tentang pernyataan ini sangat beragam karena tidak semua responden mengerti tentang wisata edukasi itu sendiri. Sebanyak 3 atau 10 % responden mengatakan sangat setuju yang semuanya adalah Sedangkan yang menyatakan setuju sebanyak 14 atau 47 % responden yang merupakan pegawai negeri dan pengusaha yang paham mengenai wisata pendidikan atau Sisanya masyarakat dengan latar belakang pekerjaan sebagai nelayan, wiraswasta, ibu rumah tangga, dan lain-lain. Persepsi Masyarakat tentang Kesesuaian Kawasan Pantai Baluno sebagai Kawasan Wisata Edukasi Berdasarkan hasil olahan data pada Tabel 8, menunjukkan bahwa persepsi masyarakat tentang kesesuaian kawasan pantai baluno sebagai kawasan wisata edukasi yang paling banyak adalah sangat setuju dengan frekuensi 15 atau 50 %, setuju dengan frekuensi 14 atau 47 % dan paling sedikit adalah ragu-ragu dengan frekuensi 1 atau 3 %. Hal ini menunjukkan bahwa masih lebih banyak responden yang meyatakan persepsi positif (Tabel . Tabel 7. Persepsi masyarakat dengan adanya Objek wisata EHM. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Tabel 8. Nilai setiap responden dari nilai keseluruhan pernyataan. Responden Sumber: Data primer hasil penelitian . Persepsi Masyarakat dengan Adanya Objek Wisata EHM Berdasarkan menunjukkan bahwa 29 atau 97 % responden memiliki persepsi positif terhadap adanya objek wisata EHM, 2 responden . %) menyatakan ragu-ragu dan tidak ada responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju (Tabel . Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai persepsi yang baik . terhadap adanya objek wisata EHM. Skor Responden Sumber: Data primer hasil penelitian . Skor Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 Tabel 9. Persepsi kesesuaian kawasan pantai baluno sebagai kawasan wisata edukasi. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Tabel 11. Persepsi masyarakat tentang objek wisata EHM akan membuka lapangan kerja Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Sumber: Data primer hasil penelitian . Persepsi Masyarakat tentang Kawasan Wisata EHM Diterima secara Adat Istiadat Persepsi Masyarakat tentang Wisata EHM sebagai Tempat Mencari Nafkah Nilai persepsi masyarakat tentang kawasan wisata EHM diterima secara adat istiadat disajikan pada Tabel 10. Pada Tabel 10 terlihat bahwa pernyataan positif Aukawasan EHM diterima secara adat istiadatAy sebanyak 12 . %) responden menyatakan sangat setuju, 11 . %) responden menyatakan setuju, dan 7 . %) menyatakan ragu-ragu (Tabel . Nilai persepsi masyarakat tentang kawasan wisata EHM sebagai tempat mencari nafkah disajikan pada Tabel 12. Pernyataan positif selanjutnya yaitu Auwisata EHM sebagai tempat mencari nafkahAy jawaban terbanyak adalah aspek sangat setuju dengan frekuensi 15 . %), selanjutnya setuju sebanyak 13 . %), ragu-ragu 1 . %), dan tidak setuju sebanyak 1 . %) (Tabel . Tabel 10. Persepsi kawasan wisata EHM diterima secara Adat Istiadat. Tabel 12. Persepsi kawasan wisata EHM tempat mencari nafkah. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Sumber: Data primer hasil penelitian . Persepsi Masyarakat tentang Objek Wisata EHM akan Membuka Lapangan Kerja Persepsi Masyarakat tentang Pengelolaan Wisata EHM Harus Melibatkan Masyarakat Persepsi masyarakat tentang AuWisata edukasi hutan hangrove Pantai baluno akan membuka lapangan kerjaAy masih meupakan pernyataan positif, dengan frekuensi sangat setuju sebanyak 14 . %), 15 . %) responden menyatakan setuju, dan sisanya menyatakan ragu-ragu dengan frekuensi 1. %) (Tabel . Penyataan positif selanjutnya yaitu pengelolaan wisata EHM harus melibatkan Pada umumnya, responden menjawwab sangat setuju sebanyak 20 . %), disusul pada aspek setuju sebanyak 9 . %) responden, dan pernyataan ragu-ragu sebanyak 1 . %) responden (Tabel . Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 Tabel 13. Persepsi pengelolaan wisata EHM harus melibatkan masyarakat. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Tabel 14. Persepsi Masyarakat Tentang Wisata Edukasi Hutan Mangrove Mengganggu Aktifitas Masyarakat. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Sumber: Data primer hasil penelitian . Kunjungan wisatawan pada objek wisata ini tidak hanya dilakukan pada hari libur, tapi juga dilakukan pada hari kerja tergantung pada kebutuhan wisatawan. Selain itu objek wisata ini juga ramai dikunjungi ada hari-hari besar seperti: hari pendidikan, hari bumi dan harihari nasional lainnya. Selain belajar, pengunjung biasanya melakukan kegiatan melakukan penanaman mangrove (Gambar . Persepsi Masyarakat tentang Wisata EHM Mengganggu Aktifitas Masyarakat Pernyataan Persepsi Auwisata EHM mengganggu aktifitas masyarakatAy merupakan penyataan negatif dimana, sebanyak 4 . %) responden menyatakan ragu-ragu, 19 . %) responden menyatakan tidak setuju, dan 7 . %) menyatakan sangat tidak setuju (Tabel . Gambar 3. Kegiatan penelitian di kawasan wisata EHM pantai baluno. A = observasi hutan mangrove bersama B = wawancara bersama pengelola. C = kegiatan penanaman bibit mangrove bersama pelajar dan mahasiswa setempat. D = proses pembersihan bibit mangrove. Berdasarkan hasil wawancara bersama pihak pengelolah wisata EHM jumlah pengunjung setiap minggu mencapai 100 orang dengan tujuan yang berbeda. Untuk berkunjung ke kawasan wisata EHM tidak dipungut biaya. Adapun kegiatan rutin yang dilakukan adalah pembersihan sekaligus kegiatan pembelajaran setiap 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Kegiatan lain seperti peringatan hari bumi, hari pendidikan, dan hari nasional lain juga rutin dilaksanakan seiap Objek kawasan wisata EHM ini resmi terdaftar di Dinas Pariwisata pada tanggal 6 Juli 2015. Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 Persepsi Masyarakat tentang Wisata EHM Dapat Menjaga Kelestarian Lingkungan Persepsi Masyarakat Tentang Perlu Adanya Keterlibatan Pihak Lain Selain Masyarakat Sekitar dan Pemerintah di Kawasan Wisata EHM Persepsi pernyataan positif. Dimana, sebanyak 21 . %) responden menyatakan sangat setuju, 7 . %) responden menyatakan setuju, dan 2 . %) menyatakan ragu-ragu (Tabel . Persepsi masyarakat mengenai Auperlu adanya keterlibatan pihak lain selain masyarakat sekitar dan pemerintah di Kawasan Wisata EHMAy menunjukkan bahwa 13 . %) menyatakan sangat setuju, kemudian sebanyak 9 . %) menyatakan setuju, 1 . %) menyatakan ragu-ragu, tidak setuju sebanyak 6 . %), dan 1 . %) menyatakan sangat tidak setuju (Tabel . Tabel 15. Persepsi masyarakat tentang wisata EHM dapat menjaga kelestarian Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Tabel 17. Persepsi Masyarakat Tentang Perlu Adanya Keterlibatan Pihak Lain Selain Masyarakat Sekitar dan Pemerintah di Kawasan Wisata Edukasi Hutan Mangrove. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Persepsi Masyarakat tentang Perlu Adanya Pendamping dari Instansi Terkait di Kawasan Wisata EHM Pada pernyataan selanjutnya yaitu Auperlu adanya pendamping dari instansi terkait di kawasan wisata EHMAy dapat diketahui bahwa sebanyak 50 % atau 15 frekuensi menyatakan sangat setuju, 14 . %) responden menyatakan setuju, dan 1 . %) menyatakan ragu-ragu. Sumber: Data primer hasil penelitian . Persepsi Masyarakat tentang Wisata EHM akan Mengganggu Mata Pencaharian Masyarakat di Sekitar Kawasan Hutan Mangrove Tabel 16. Persepsi Masyarakat Tentang Perlu Adanya Pendamping dari Instansi Terkait di Kawasan Wisata Edukasi Hutan Mangrove. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Hasil penelitian tentang persepsi masyarakat tentang Wisata EHM akan mengganggu mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan hutan mangrove disajikan pada Tabel 18. Pernyataan negatif kedua yang diajukan mengenai persepsi masyarakat tentang Auwisata EHM akan mengganggu mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan hutan mangroveAy sebanyak 8 . %) responden menyatakan ragu-ragu, 18 . %) menyatakan tidak setuju, dan sebanyak 4 . %) menyatakan sangat tidak setuju. Dapat disimpulkan persepsi masyarakat dari pernyataan ini yaitu bernilai positif (Tabel . Pada pernyataan ini dapat disimpulkan pernyataan Auperlu adanya pendamping dari instansi terkait di kawasan wisata EHMAy bernilai positif (Tabel . Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 Tabel 18. Persepsi masyarakat tentang Wisata EHM akan mengganggu mata pencaharian masyarakat di sekitar kawasan hutan mangrove. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Berdasarkan hasil rataan 55,7 berarti rataan persepsi responden adalah berada pada nilai/skor AusetujuAy. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa pada dasarnya persepsi masyarakat terhadap pengembangan objek kawasan wisata EHM pantai baluno cukup baik . Kenyataan ini terbukti dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa nilai rata-rata persepsi responden berada pada angka 55,7 atau berada pada skor AusetujuAy. Meskipun demikian, pengetahuan masyarakat tentang apa itu wisata edukasi sangat minim dan hanya sebagian responden yang mengerti maksud dari wisata pendidikan/ wisata edukasi. Hal ini tidak berdampak negatif pada persepsi masyarakat terhadap pengembangan wisata EHM karena melihat dari beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu tingkat pendidikan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap pemahaman tentang objek wisata itu sendiri. Selain itu status peekerjaan dan lamanya berdomisili disekitar pantai baluno merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada persepsi masyarakat terhadap pengembangan wisata EHM pantai Menurut pendapat beberapa responden terkait dengan jenis pekerjaannya, kawasan wisata seperti ini sangat cocok untuk Selain menguntungkan pihak pengelola masyarakat sekitar objek wisata juga pasti sangat diuntungkan dari segi ekonomi. Persepsi Masyarakat tentang Perlu Adanya Penyuluhan Wisata EHM Persepsi masyarakat tentang Auperlu adanya penyuluhan wisata EHMAy sebanyak 21 . %) responden menyatakan sangat setuju, 8 . %) menyatakan setuju, dan yang paling sedikit adalah menyatakan ragu-ragu yaitu sebanyak 1 . %) responden (Tabel . Tabel 19. Persepsi masyarakat tentang perlu adanya penyuluhan wisata EHM. Kriteria Frekuensi Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak Jumlah Persentase (%) Sumber: Data primer hasil penelitian . Hasil olah data, nilai persepsi responden terhadap pengembangan kawasan wiata EHM pantai baluno dibagi atas tiga yaitu: nilai keseluruhan responden dari semua pernyataan, nilai keseluruhan responden perbutir atau tiap butir pernyataan dan setiap responden dari semua pernyataan. Pada Tabel 19 hasil nilai persepsi merupakan nilai keseluruhan responden tiap butir pernyataan. Selanjutnya akan disajikan nilai setiap responden dari semua pernyataan dan nilai keseluruhan responden dari semua pernyataan. Jumlah skor dari 30 responden adalah 897 sehingga dari skor Tabel 19 didapatkan nilai rataan sebagai berikut: = 55,7 Sumber: Data primer hasil penelitian . Wawancara pengunjung dan pengelola Wisata EHM Hasil wawancara terhadap 10 responden yang datang ke tempat wisata EHM, mengenai informasi adanya objek wisata EHM diperoleh dari teman dan internet. Rata-rata pengunjung yang datang di kawasan wisata ini memang melakukan wisata pendidikan. Dimana, pengunjung melakukan kegiatan belajar terkait dengan mangrove, lamun dan lain-lain (Gambar . Selama penelitian berlangsung, hanya ada satu responden yang melakukan kunjungan pada objek wisata ini hanya untuk Begitupun jika dilihat pada buku Skor total seluruh responden Jumlah seluruh responden Sakinah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 251 Ae 264 kunjungan wisatawan yang rataan pengunjung melakukan wisata pendidikan (Gambar . Mangrove memiliki peran ekologis dan Salah satu studi kasus di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat. Secara ekologi, mangrove memiliki peran sebagai penyimpan karbon . , sebagai habitat berbagai jenis organisme akuatik, seperti ikan . , kepiting bakau . , bivalvia dan gastropoda . , . , dan sebagai ekowisata . , . Sama halnya pada kawasan wisata hutan mangrove TongkeTongke Kabupaten Sinjai. Sulawesi Selatan, hasil retribusi pengunjung pada tahun 2018 di kawasan wisata tersebut menyumbang sebanyak 69,4 % pendapatan asli daerah (PAD) sektor pariwisata di Kabupaten Sinjai . Pendampingan pembuatan profil kawasan ekowisata mangrove telok berdiri. Desa Sungai Kupah. Kecamatan Sungai Kakap. Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara. 3, 2 . , 513Ae519. Ucapan Terima Kasih