KIRANA : Social Science Journal Volume 2. Number 2, 2025 pp. E-ISSN : 3062-780X DOI https://doi. org/10. 61579/kirana. Open Access: https://ejournal. id/index. php/kirana Ragam Bahasa Dalam Komentar Netizen Terhadap Publik Figur Laura Meizani Mawardi (Loll. di Platform Media Sosial Instagram Desiana Ayu Yulianti*1. Nesya Sekar Nugrahaningtyas2. Nur Wahid3. Zhafran Ramadhan4. Nuke Ladyna 5 1,2,3,4Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur. Indonesia 5Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda'wah. Jawa Timur. Indonesia Corresponding Email: desiana_ayu@gmail. ARTICLEINFO Article history: 26 February 2025 Received in revised form 10 March 2025 Accepted 08 April 2025 Available online 27 April Kata Kunci: Bahasa, netizen, aplikasi Instagram Keywords: Language. Netizen. Instagram ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ragam bahasa yang digunakan dalam komentar netizen terhadap figur publik Laura Meizani Mawardi (Loll. di platform media sosial Instagram. Penelitian difokuskan pada identifikasi ragam bahasa, karakteristik, dan konteks sosiolinguistik yang melatarbelakangi komentar Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi dan observasi terhadap komentar akun Instagram Lolly. Analisis data dilakukan dengan mengkaji aspek kebahasaan, meliputi ragam bahasa informal, penggunaan bahasa prokemik, campur kode, dan ragam bahasa lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komentar netizen menunjukkan kompleksitas penggunaan bahasa yang dipengaruhi oleh faktor sosial, usia, latar belakang budaya, dan konteks interaksi di media sosial. Ragam bahasa yang dominan adalah bahasa gaul, ditandai dengan singkatan, emotikon, dan ungkapan yang cenderung bebas dan tidak terbatas. Penelitian ini memberikan kontribusi untuk memahami dinamika komunikasi di media sosial dan fenomena bahasa yang berkembang di kalangan pengguna ABSTRACT This study aims to analyze the language varieties used in netizen comments on public figure Laura Meizani Mawardi (Loll. on the Instagram social media platform. The research focuses on identifying the language variety, characteristics, and sociolinguistic context behind the comments. The research method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques through documentation and observation of LollyAos Instagram account comments. Data analysis was conducted by examining linguistic aspects, including informal language varieties, the use of prokemic language, code mixing, and other linguistic variations. The results show that netizen comments show the complexity of language use influenced by social factors, age, cultural background, and the context of interaction on social media. The dominant language variety is slang, characterised by abbreviations, emoticons, and expressions that tend to be free and limitless. This research contributes to understanding the dynamics of communication on social media and the language phenomenon that develops among internet users. This is an open access article under the CC BY-SA license. * Corresponding Author: Desiana Ayu Yulianti: desiana_ayu@gmail. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 2 Juli 2025, pp. eISSN 3062-780X INTRODUCTION Dalam era digital yang semakin terhubung, media sosial telah menjadi ruang utama untuk interaksi antara public figure dan masyarakat. Salah satu platform yang sering digunakan untuk menjalin hubungan tersebut adalah Instagram, di mana netizen dapat dengan mudah memberikan respons melalui kolom komentar. Laura Meizani Mawardi, atau Lolly, putri dari Nikita Mirzani, menjadi salah satu sosok yang kerap menjadi perhatian di Instagram. Setiap unggahan atau pernyataan yang ia bagikan sering kali memicu ragam respons dari netizen yang mencerminkan berbagai sikap dan gaya komunikasi. Interaksi antara netizen dan Laura . ikenal sebagai Loll. dalam media sosial Instagram telah dipenuhi dengan diskusi dan reaksi yang luas terkait dengan perilakunya yang marah-marrah di media sosial. Isu ini tidak hanya menyebabkan kejadian online tetapi juga menyebutkan topik penting tentang pola pengasuhan dan bagaimana anak-anak mereplikasi perilaku orang dewasa mereka. Lolly dikenal karena tabiat marah-marahnnya di media sosial, hal ini membuat para netizen menghubungkannya dengan seorang artis bernama Nikita Mirzani yang memiliki reputasi serupa. Video-lawas Nikita Mirzani marah-marah di acara televisi kemudian dibandingkan dengan perilaku Lolly di media sosial, menunjukkan bahwa Lolly mungkin telah mengcopy perilaku ibunya secara subliminal. Para netizen sangat aktif dalam memberikan respon terhadap perilaku Lolly. Mereka mengkritik pola asuh yang diduga kurang efektif dan potensi kesalahan yang dimiliki oleh orang tua Lolly dalam mengajarkan nilai-nilai moral kepada anaknya. Contohnya, satu komentar mengatakan bahwa "marahnya ortu ke si anak waktu kecil bakalan terus diingat dan akan di-copy paste sama si anak," menunjukkan bahwa perilaku orang tua sering direplikasi oleh anak-anak tanpa sadar. Ragam bahasa dalam komentar netizen terhadap Lolly sangat bervariasi, tergantung pada isu atau konten yang dibahas. Ketika Lolly memutuskan mengenakan hijab, misalnya, banyak komentar yang menggunakan bahasa positif dan mendukung, seperti doa dan pujian, yang memperlihatkan empati dan apresiasi netizen terhadap perubahan dirinya. Sebaliknya, saat ia berbicara tentang konflik dengan ibunya. Nikita Mirzani, komentar yang muncul sering kali berisi kritik atau bahkan cibiran, menggunakan bahasa yang sarkastik, tajam, atau penuh emosi. Hal ini menunjukkan bahwa netizen sering menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan sikap atau opini mereka terhadap isu tertentu. Selain itu, gaya bahasa dalam komentar juga mencerminkan keberagaman latar belakang netizen. Beberapa komentar menggunakan bahasa santai dengan penggunaan istilah gaul atau slang yang lazim di kalangan anak muda, sementara komentar lain ditulis dengan nada formal, terutama jika berisi nasihat atau pandangan yang lebih serius. Ragam ini menggambarkan kompleksitas interaksi digital, di mana setiap pengguna media sosial membawa identitas linguistiknya masing-masing ke ruang publik maya. Menariknya, pola komunikasi ini juga menunjukkan bagaimana netizen memanfaatkan media sosial sebagai medium untuk mengekspresikan diri dan membangun narasi bersama. Dukungan terhadap Lolly, misalnya, sering kali menggunakan bahasa persuasif yang bertujuan memberikan semangat atau memotivasi dirinya. Sebaliknya, kritik terhadap tindakan atau pernyataan tertentu sering kali mengandung elemen sindiran, yang tidak hanya berfungsi sebagai komentar tetapi juga sebagai bentuk performa sosial di hadapan audiens yang lebih luas. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 2 Juli 2025, pp. eISSN 3062-780X Media sosial seperti Instagram juga memfasilitasi munculnya fenomena Auperbincangan kolektifAy dalam kolom komentar. Setiap komentar tidak hanya ditujukan kepada Lolly, tetapi juga kepada netizen lainnya yang membaca. Hal ini menciptakan ruang dialog yang dinamis, di mana pengguna dapat saling mendukung, berdebat, atau memperluas diskusi yang dimulai oleh unggahan Lolly. Dalam konteks ini, ragam bahasa tidak hanya mencerminkan individu, tetapi juga dinamika sosial yang terjadi dalam komunitas digital. Namun, tidak semua interaksi bersifat konstruktif. Sebagian netizen menggunakan bahasa kasar atau ujaran kebencian untuk menyerang Lolly, terutama dalam isu yang Fenomena ini menunjukkan sisi lain dari media sosial, di mana anonimitas sering kali digunakan untuk menyampaikan komentar negatif tanpa konsekuensi langsung. Meskipun demikian, keberadaan komentar-komentar positif yang mendukung tetap menjadi penyeimbang yang penting dalam ruang interaksi tersebut. METHOD Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain deskriptif, fokus pada analisis konten, interaksi, dan dampak audiens. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap postingan dan cerita selama periode tertentu, dengan pencatatan jenis konten, frekuensi postingan, serta gaya visual dan caption. Selain itu, alat analisis media sosial akan digunakan untuk mengukur statistik keterlibatan, seperti jumlah like dan Metode penelitian kualitatif adalah pendekatan yang berfokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial, menggunakan data deskriptif seperti narasi dan wawancara (Sugiyono, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan makna dan pengalaman subjek dalam konteks alami mereka, berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang lebih berorientasi pada angka. Metode ini mencakup teknik pengumpulan data seperti observasi dan wawancara mendalam, serta analisis yang bersifat induktif. RESULT AND DISCUSSION Writing Instagram juga memiliki berbagai fitur yang memudahkan pengguna untuk mengeksplorasi konten baru dan menarik. Fitur "Explore" memungkinkan pengguna menemukan postingan yang sesuai dengan minat mereka, berdasarkan aktivitas dan akun yang diikuti. Instagram juga mendukung fitur live streaming, di mana pengguna bisa melakukan siaran langsung untuk berinteraksi secara real-time dengan pengikut merekabahasa berfungsi sebagai alat komunikasi yang mencerminkan identitas sosial Discussion Interaksi antara netizen dan figur publik seperti Laura di media sosial Instagram biasanya bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh konten yang diunggah serta kepribadian Laura di platform tersebut. Lolly, anak sulung Nikita Mirzani, dikenal aktif berinteraksi dengan pengikutnya di Instagram. Ia sering menggunakan platform tersebut untuk berbagi cerita hidupnya, baik melalui unggahan maupun sesi Q&A di Instagram Story. Salah satu momen yang mendapat perhatian besar adalah keputusannya mengenakan hijab, yang menuai banyak dukungan dan pujian dari pengikutnya. Banyak netizen yang mendoakan agar Lolly tetap istiqomah dan KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 2 Juli 2025, pp. eISSN 3062-780X merasa penampilannya kini lebih elegan dan memesona. Selain membagikan perubahan dalam hidupnya. Lolly juga membahas hal-hal personal, seperti hubungannya dengan keluarga dan pengalaman hidup. Dalam sesi tanya jawab, ia kerap menjawab pertanyaan dengan jujur, yang membuat pengikutnya merasa lebih dekat dengannya. Kejujuran dan keterbukaannya ini menjadikan interaksinya terasa autentik, meskipun beberapa topik yang dibahas sering kali menjadi perhatian media dan publik. Namun, interaksi Lolly dengan followers tidak selalu berjalan mulus. Hubungannya yang sedang renggang dengan ibunya. Nikita Mirzani, sering kali menjadi sorotan. Beberapa pengakuannya, seperti ketegangan dengan sang ibu dan kedekatannya dengan Antonio Dedola . antan suami Nikit. , memicu beragam komentar dari pengikutnya, baik yang mendukung maupun mengkritik. Di sisi lain. Lolly tetap berusaha memanfaatkan media sosialnya sebagai ruang untuk menunjukkan sisi positif dan perjuangannya. Ia sering mendapatkan dukungan moral dari pengikutnya, yang mengapresiasi bagaimana dirinya tetap kuat menghadapi berbagai tantangan hidup. Hal ini menciptakan hubungan yang lebih erat antara dirinya dan komunitas pengikutnya di Instagram. Keseluruhan interaksi Lolly dengan pengikutnya mencerminkan kepribadian yang terbuka dan ingin membangun hubungan positif dengan orang-orang yang mendukungnya. Meskipun ada beberapa kontroversi, ia tetap aktif berbagi, menunjukkan perjalanan hidupnya, serta menerima berbagai masukan dari penggemarnya. Ini menunjukkan perannya yang semakin menonjol sebagai figur publik yang menarik perhatian generasi muda. Contoh-contoh ragam bahasa yang digunakan netizen dalam kolom komentar Lolly, terkait dengan isu yang sedang dihadapi saat ini. Kasihan hijabnya jadi tameng pasti diserang netizen, outfit doang yg ditutup attitudenya kureng bgt. Pembahasannya berdasarkan ragam bahasa: Ragam Bahasa Non formal Kalimat ini termasuk dalam ragam bahasa informal karena: Penggunaan bahasa yang santai, seperti kata "kureng" . entuk slang dari "kurang"). Tidak ada penggunaan tata bahasa baku atau struktur kalimat formal. Pemilihan kosakata menunjukkan nada percakapan sehari-hari, seperti "tameng" dan "diserang . Penggunaan Bahasa Gaul Frasa "outfit doang yang ditutup attitudenya kureng bgt" menggunakan gaya bahasa gaul yang sering ditemukan di kalangan anak muda. Singkatan seperti "bgt" . dan penggunaan "kureng" menunjukkan tren adaptasi bahasa di media sosial yang mempermudah penyampaian . Ragam Bahasa Sindiran Kalimat ini bersifat menyindir atau mengkritik seseorang secara tidak langsung. Contohnya: "Hijabnya jadi tameng" menyiratkan kritik terhadap penggunaan hijab yang dianggap tidak sejalan dengan sikap atau perilaku, "Outfit doang yang ditutup" mempertegas kritik terhadap fokus penampilan tanpa mendukungnya dengan akhlak yang baik. Penggunaan Kata Tidak Baku KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 2 Juli 2025, pp. eISSN 3062-780X Dalam kalimat tersebut, terdapat beberapa kata tidak baku, yaitu: "kasihan", yang seharusnya ditulis "kasihanlah" sesuai dengan tata bahasa baku. Kata "hijabnya" lebih tepat jika diganti dengan "jilbabnya" karena "jilbab" adalah istilah baku dalam bahasa Indonesia. "Tameng" adalah kata tidak baku yang seharusnya diganti dengan "perisai". Selain itu, "netizen" adalah serapan dari bahasa Inggris yang dalam bahasa baku seharusnya ditulis sebagai "warganet". Kata "outfit", sebagai istilah asing, lebih baku jika diganti dengan "pakaian". Selanjutnya, "doang" adalah kata tidak baku yang seharusnya diganti dengan "saja". Kata "yg", singkatan dari "yang," harus ditulis lengkap sesuai dengan aturan bahasa baku. "Kureng", yang merupakan bentuk slang, seharusnya ditulis "kurang". Terakhir, "bgt", singkatan dari "banget," harus ditulis secara lengkap dalam bahasa baku. Tim yang liat video klarifikasi kapan selesainya ini anak ngomong . Ragam Bahasa Non Formal Kalimat ini termasuk ragam bahasa informal karena menggunakan gaya bahasa santai tanpa memperhatikan struktur kalimat baku. Bentuk percakapan ini lebih dekat dengan cara orang berbicara sehari-hari dibandingkan dengan cara menulis . Ragam Bahasa Gaul Kata-kata populer: Penggunaan istilah seperti "tim yang lihat video klarifikasi" menunjukkan tren bahasa gaul, di mana pengguna sering membagi dirinya ke dalam "tim" berdasarkan reaksi atau pendapat tentang suatu hal. Nada santai: Kalimat ini bernada ringan dan terkesan bercanda, meskipun secara implisit ada unsur sindiran. Tidak ada subjek atau struktur formal yang lengkap, seperti "kapan selesainya ini anak ngomong", yang lebih bersifat langsung dan tidak terikat aturan tata bahasa. Ragam Bahasa Sindiran Kalimat ini memiliki nada sindiran yang halus terhadap seseorang yang dianggap berbicara terlalu panjang atau bertele-tele dalam video klarifikasinya. Ungkapan "kapan selesainya ini anak ngomong" secara tidak langsung menyampaikan rasa jenuh atau bosan terhadap isi pembicaraan yang dianggap tidak kunjung selesai. Penggunaan Kata Tidak Baku Dalam kalimat tersebut, terdapat beberapa kata yang tidak baku. Kata "tim" merupakan istilah serapan dari bahasa Inggris dan lebih baku jika diganti dengan "kelompok" atau "tim kerja", tergantung konteks. Kata "liat" merupakan bentuk tidak baku dari "lihat". Kemudian, "video" sebenarnya sudah menjadi kata serapan resmi, sehingga tetap dianggap baku. Kata "kapan" dan "selesainya" adalah baku. Namun, frasa "ngomong" merupakan bahasa informal dan lebih baku jika diganti dengan "berbicara" atau "berujar". Udah Loly mendingan lu tinggal sama Ema lu lagi nurut ajh sama Ema lu duit Ema lu banyak kurang apa lagi coba . Ragam Bahasa Non Formal Kosakata santai dan tidak baku: Kata-kata seperti "lu," "ema," dan "ajh" adalah kosakata yang tidak baku dan lazim digunakan dalam bahasa percakapan. Kalimat ini langsung mengungkapkan pendapat atau saran tanpa memperhatikan tata bahasa baku. Penggunaan Bahasa Gaul KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 2 Juli 2025, pp. eISSN 3062-780X Kependekan dan penyederhanaan kata: "ajh" adalah bentuk singkatan atau variasi dari kata "saja". "ema" adalah kata informal yang dipengaruhi bahasa daerah . Sund. , yang berarti "ibu. Pengaruh Bahasa Daerah Kata "ema" mencerminkan pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Sunda, di mana istilah ini digunakan untuk menyebut "ibu. " Hal ini menunjukkan bahwa ragam bahasa nonformal ini dapat bersifat lokal atau regional, tergantung latar belakang budaya penuturnya. Ragam Bahasa Sindiran Frasa "duit ema lu banyak, kurang apalagi coba" dapat dianggap sebagai sindiran untuk menekankan bahwa pendengar memiliki banyak keuntungan yang tidak . Penggunaan Kata Tidak Baku Dalam kalimat tersebut, terdapat beberapa kata tidak baku yang perlu diperbaiki agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kata "udah" adalah bentuk tidak baku dari "sudah". Kata "lu" merupakan bentuk informal dari "kamu" atau "Anda". Kemudian, "mendingan" adalah bentuk tidak baku yang lebih tepat diganti dengan "lebih baik". Selanjutnya, "ajh" adalah bentuk singkatan tidak baku dari "saja". Kata "Ema" tampaknya merupakan istilah keluarga yang informal, yang dapat diganti dengan istilah formal seperti "ibu" jika konteksnya lebih resmi. Akhirnya, "coba" dalam kalimat ini lebih sesuai diganti dengan kata "pikirkan" untuk menyesuaikan struktur formal. Nama baik elu? Lu ga sadar seindonesia keknya udh nyumpahin elu, cuma ditulisnya msh sopan aja nyuruh elu SADAR DIRI . Ragam Bahasa Non Formal Kata "elu" menggantikan "kamu" dan merupakan bentuk tidak baku yang sering digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari. Kalimat ini tidak mengikuti aturan tata bahasa formal, misalnya penggunaan frasa langsung seperti "nama baik elu?" yang lebih menonjolkan ekspresi emosional dibanding struktur yang lengkap. Penggunaan Nada Kritik dan Sindiran Kalimat ini memiliki nada kritik yang jelas, terutama pada frasa seperti "lu gak sadar se-Indonesia kayaknya udah nyumpahin elu. " Kritikan ini disampaikan secara gamblang tanpa basa-basi. Frasa "cuma ditulisnya masih sopan aja nyuruh elu sadar diri" menyiratkan bahwa meskipun kritik yang diterima bersifat sopan, esensinya tetap keras. Penggunaan Bahasa Gaul Kata "nyumpahin" dan "elu" mencerminkan ragam bahasa gaul yang biasa digunakan dalam percakapan informal atau di media sosial. Bahasa ini lebih menonjolkan keakraban atau kekesalan secara lugas. Kalimat ini mencerminkan emosi penutur yang mungkin kesal atau frustrasi, misalnya dengan penggunaan frasa seperti "lu gak sadar. Penggunaan Kata Tidak Baku Dalam kalimat tersebut, terdapat beberapa kata tidak baku yang perlu diperbaiki agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kata "elu" dan "lu" adalah bentuk tidak baku dari "kamu" atau "Anda". Kata "keknya" adalah bahasa slang yang tidak baku, dan seharusnya diganti dengan "sepertinya". Kemudian, "udh" adalah bentuk KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 2 Juli 2025, pp. eISSN 3062-780X singkatan tidak baku dari "sudah". Kata "nyumpahin" merupakan bentuk tidak baku dari "mengutuk" atau "mendoakan buruk. " Selain itu, "msh" adalah singkatan tidak baku dari "masih. " Semua kata ini perlu diubah agar lebih sesuai dengan bahasa Tinggal ngmng iya gua hamil di luar nikah ribet bgt lu loly segala ngatain mak elu . Ragam Bahasa Non Formal Kalimat ini tidak mematuhi aturan tata bahasa resmi, seperti penggunaan tanda baca atau struktur subjek-predikat yang lengkap. Kalimat ini disampaikan dalam gaya santai tanpa formalitas, sesuai dengan konteks nonformal. Penggunaan Bahasa Gaul Kata seperti "ngmng" dan "bgt" adalah bentuk pemendekan yang sering digunakan untuk mempercepat komunikasi dalam teks atau pesan singkat. Penggunaan Nada Kritik dan Emosional Kalimat ini mengandung kritik terhadap seseorang yang dianggap terlalu rumit atau emosional dalam situasi tertentu. Frasa seperti "ribet bgt lu" menyiratkan frustrasi terhadap pendengar. Penggunaan frasa seperti "segala ngatain Mak elu" menunjukkan adanya ketegangan emosional yang sedang terjadi, kemungkinan dalam konteks konflik. Penggunaan Kata Tidak Baku Dalam kalimat tersebut, terdapat beberapa kata tidak baku yang perlu diperbaiki agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kata "elu" dan "lu" adalah bentuk tidak baku dari "kamu" atau "Anda". Kata "keknya" adalah bahasa slang yang tidak baku, dan seharusnya diganti dengan "sepertinya". Kemudian, "udh" adalah bentuk singkatan tidak baku dari "sudah". Kata "nyumpahin" merupakan bentuk tidak baku dari "mengutuk" atau "mendoakan buruk. " Selain itu, "msh" adalah singkatan tidak baku dari "masih. " Semua kata ini perlu diubah agar lebih sesuai dengan bahasa Gamalu sekarang laura? Klarifikasi nya masih ada nih, tautau semua omongan ini berbalik dari omongan lu sendiri . Ragam Bahasa Non Formal Kata-kata seperti "gak" . dan "lu" . adalah bentuk tidak baku yang lazim digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari. Kalimat ini cenderung langsung ke intinya tanpa mengikuti struktur tata bahasa formal, seperti penggunaan tanda baca yang minimal. Penggunaan Bahasa Gaul Kata seperti "gak" dan "nih" adalah bagian dari bahasa gaul yang sering digunakan dalam interaksi santai atau di media sosial. Bahasa ini bertujuan menciptakan kedekatan atau menyampaikan emosi secara lugas. Kalimat ini memiliki elemen sindiran halus, terutama pada frasa "gak malu sekarang Laura?" dan "semua omongan ini berbalik dari omongan lu sendiri. Penggunaan Kata Tidak Baku Dalam kalimat tersebut, terdapat beberapa kata yang tidak baku dan perlu diperbaiki agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kata "ngmng" adalah singkatan tidak baku dari "ngomong", yang seharusnya diganti dengan "berbicara". Kata "iya" sebenarnya baku, tetapi dalam konteks formal bisa diganti dengan "ya". Kata "gua" adalah bentuk tidak baku dari "saya" atau "aku. " Kemudian, "bgt" adalah KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 2 Juli 2025, pp. eISSN 3062-780X singkatan dari "banget", yang harus ditulis lengkap. Kata "lu" juga tidak baku dan lebih sesuai jika diganti dengan "kamu" atau "Anda. " Kata "ngatain" merupakan bahasa informal, yang dapat diganti dengan "menghina" atau "menyebut buruk. Terakhir, "mak" adalah istilah informal yang sebaiknya diganti dengan "ibu" untuk penggunaan baku. Ragam bahasa yang digunakan netizen, termasuk dalam ciri-ciri ragam bahasa formal atau non formal. Ragam bahasa yang digunakan netizen termasuk dalam ciri-ciri ragam bahasa non Ragam bahasa nonformal sering digunakan dalam percakapan sehari-hari atau situasi yang tidak resmi. Ciri utama dari ragam bahasa nonformal adalah penggunaan kata-kata yang lebih santai, ekspresif, dan terkadang tidak mengikuti aturan tata bahasa yang baku. Pada contoh yang diberikan, banyak ditemukan kata-kata yang disingkat atau tidak baku, seperti "gamalu" . , "udah" . , "bgt" . , dan "ajh" . Kata-kata ini mencerminkan gaya berbicara yang lebih santai dan tidak terikat oleh aturan formal. Selain itu, dalam ragam bahasa nonformal juga sering ditemui ungkapan yang langsung dan emosional. Misalnya, pada kalimat "tinggal ngomong iya gua hamil di luar nikah ribet bgt," penggunaan kalimat ini sangat langsung dan informal, menunjukkan kekesalan atau frustrasi, yang tidak lazim ditemukan dalam bahasa formal. Terdapat juga penggunaan slang atau kata-kata gaul yang lebih akrab dan dekat dengan pembicaraan sehari-hari. Dengan demikian, bahasa nonformal lebih fleksibel dan berfokus pada efisiensi komunikasi, tanpa terlalu memedulikan kaidah tata bahasa yang ketat. Kalimat-kalimat ini lebih mengutamakan ekspresi pribadi, menunjukkan sikap atau perasaan si pembicara terhadap situasi atau orang lain, yang merupakan salah satu karakteristik utama dari ragam bahasa nonformal. CONCLUSION Ragam bahasa yang digunakan oleh netizen di kolom komentar Instagram Lolly mencerminkan dominasi ragam bahasa nonformal. Ciri-cirinya meliputi penggunaan kata-kata santai, tidak baku, dan emosional yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari atau media sosial. Contohnya adalah istilah gaul seperti gamalu, bgt, ngomong, dan lu, serta ungkapan langsung yang mengandung nada sindiran atau kritik. Bahasa ini juga sering kali dipengaruhi oleh tren populer dan budaya daerah, seperti penggunaan kata "ema" yang dipengaruhi bahasa Sunda. Ragam bahasa nonformal ini menunjukkan fleksibilitas dan efisiensi dalam menyampaikan emosi atau pendapat, terutama di media sosial yang bersifat spontan. Namun, penggunaan ragam bahasa ini sering kali tidak mengikuti aturan tata bahasa formal, seperti struktur kalimat atau pemilihan kosakata yang baku. Dalam konteks media sosial, ragam bahasa nonformal menjadi sarana utama untuk mengekspresikan perasaan, kritik, atau dukungan dengan gaya yang lugas dan terkadang bernada humor, meskipun tetap dapat memunculkan unsur sindiran atau konflik. REFERENCES