JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1827 - 1833 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Kesiapan Guru Sekolah Dasar terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Proses Pembelajaran Riza Aulia1A. Neza Safira Adelia2. Yones Castri3. Rita Kurnia4 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Indonesia1,2,3,4 E-mail: riza. aulia7264@student. id1, neza. safira7912@student. castri0885@student. id3, rita. kurnia@lecturer. Abstrak Kurikulum Merdeka mengharuskan guru memiliki tingkat kesiapan yang tinggi untuk mendukung pembelajaran mandiri Namun, kesiapan guru yang terbatas di sekolah dasar (SD) menjadi hambatan utama dalam implementasinya, berbeda dengan studi sebelumnya yang lebih fokus pada tingkat menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kesiapan guru dalam implementasi kurikulum merdeka di sekolah dasar, dengan penekanan pada dimensi literasi pedagogis, profesional, sosial, dan digital. Mengadopsi pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi kasus, penelitian ini dilakukan di SD Negeri 1 Ulak Kedondong. Kabupaten Ogan Komering Ilir. Sumatera Selatan, pada tanggal 14 Desember Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap lima informan kunci . epala sekolah dan gur. , kemudian dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang secara konseptual dan praktis siap mampu menerapkan pembelajaran diferensiasi, penilaian formatif berkelanjutan, dan menciptakan lingkungan kelas yang aktif, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran hingga 70% berdasarkan pengamatan lapangan. Kesimpulan menekankan bahwa kesiapan guru berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan kurikulum, sehingga memerlukan program pengembangan berkelanjutan. Studi ini memberikan kontribusi empiris dengan memetakan kesiapan guru sekolah dasar sebagai dasar untuk strategi pengembangan profesional nasional, mengisi celah dalam studi sebelumnya yang kurang spesifik pada tingkat sekolah dasar. Kata Kunci: Kesiapan Guru. Kurikulum Merdeka. Sekolah Dasar. Implementasi Pembelajaran. Kompetensi Profesional Abstract The Merdeka Curriculum requires teachers to have a high level of readiness to support student independent learning. However, the limited readiness of teachers in elementary schools (SD) is a major obstacle to its implementation, in contrast to previous studies that focused more on the secondary level. This study aims to examine the role of teacher readiness in the implementation of the merdeka curriculum in elementary schools, with an emphasis on the dimensions of pedagogical, professional, social, and digital literacy. Adopting a qualitative descriptive approach through case studies, this research was conducted at SD Negeri 1 Ulak Kedondong. Ogan Komering Ilir Regency. South Sumatra, on December 14, 2022. Data were obtained through in-depth interviews and observations of five key informants . rincipals and teacher. , then analyzed interactively through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that teachers who are conceptually and practically prepared are able to implement differentiated learning, continuous formative assessment, and create an active classroom environment, thereby improving the quality of learning by up to 70% based on field observations. The conclusion emphasizes that teacher readiness contributes significantly to curriculum success, thus requiring ongoing development programs. This study provides empirical contributions by mapping the readiness of elementary school teachers as a basis for national professional development strategies, filling a gap in previous studies that were less specific at the elementary school level. Keywords: Teacher Readiness. Merdeka Curriculum. Elementary School. Learning Implementation. Professional Competence Copyright . 2025 Riza Aulia. Neza Safira Adelia. Yones Castri. Rita Kurnia A Corresponding author : Email : riza. aulia7264@student. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1828 Kesiapan Guru Sekolah Dasar terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Proses Pembelajaran Ae Riza Aulia. Neza Safira Adelia. Yones Castri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses transfer pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Aspek ini memainkan peran penting dan berpengaruh dalam pengembangan kemampuan berpikir dan bertindak, yang tidak boleh diremehkan. Hal ini menunjukkan manfaat positif yang timbul dari sistem pendidikan yang efektif (Regina Putri Novia Rani et al. , 2. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah telah memperbarui kurikulum sebagai strategi utama untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat nasional. Di antara berbagai inovasi pendidikan terbaru, kurikulum merdeka muncul sebagai perbaikan dari kurikulum 2013, dengan penekanan utama pada metode pembelajaran yang berfokus pada siswa sebagai subjek utama, yang dikenal sebagai pembelajaran berpusat pada siswa. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada struktur pembelajaran berpusat pada guru dan bahan ajar yang standar, sementara kurikulum merdeka memberikan fleksibilitas dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian, memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan sesuai minat, bakat, dan keterampilan mereka sambil menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari (Yunita et al. , 2. Prinsip dasar kurikulum ini meliputi pembentukan karakter siswa melalui Profil Kemampuan Siswa Pancasila, di mana guru berperan sebagai fasilitator yang dapat diandalkan dalam membangun proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan bermakna. Keunikan studi ini terletak pada penilaian kesiapan guru dalam aspek non-teknis, seperti aspek afektif . dan budaya reflektif, yang jarang dieksplorasi secara mendalam di sekolah dasar di daerah non-urban seperti Ogan Komering Ilir, meskipun studi sebelumnya seperti (Romadhon et al. , 2. menyoroti peran guru sebagai elemen kunci dalam implementasi. Namun, implementasi kurikulum merdeka menghadapi berbagai hambatan dalam praktiknya, terutama yang terkait dengan kesiapan guru. Sebagai aktor utama dalam kurikulum, tingkat kesiapan guru merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Kesiapan ini meliputi pemahaman komprehensif tentang konsep kurikulum, kemampuan merancang alat pembelajaran berdasarkan Hasil Belajar (CP), dan penguasaan teknologi untuk penilaian formatif dan sumatif (Romadhon et al. , 2. Beberapa studi sebelumnya telah mengungkap kesenjangan antara visi ideal kurikulum mandiri dan kondisi nyata di sekolah. Seperti yang disampaikan oleh (Rizki Septiana & Hanafi, 2. ,banyak guru di sekolah dasar belum sepenuhnya mahir dalam menerapkan literasi digital dan alat bantu pengajaran mandiri. Hal ini menciptakan hambatan dalam implementasi pembelajaran yang disesuaikan dan penilaian autentik sesuai dengan persyaratan kurikulum baru. Selain itu, kurangnya dukungan pelatihan berkelanjutan dan kebijakan sekolah memperparah situasi. Oleh karena itu, analisis dampak kesiapan guru diperlukan untuk mengevaluasi sejauh mana faktor ini mendukung implementasi kurikulum merdeka, terutama di sekolah dasar. Studi ini mengeksplorasi berbagai dimensi kesiapan guru, termasuk aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta bagaimana aspek-aspek tersebut memengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Temuan studi ini sejalan dengan hasil penelitian Ansumanti . dan (Rizki Septiana & Hanafi, 2. , yang menegaskan bahwa kesiapan guru merupakan komponen krusial dalam memastikan implementasi kurikulum mandiri yang efektif. Namun, studi ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih fokus pada unsur teknis implementasi kurikulum dengan menekankan dimensi motivasi guru dan budaya reflektif sebagai bagian penting dari kesiapan ini. Dimensi-dimensi ini mempengaruhi cara guru mengelola pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan penilaian formatif berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini memperluas pemahaman teoretis tentang kesiapan guru, tidak hanya sebagai kemampuan teknis tetapi juga sebagai sikap profesional dan reflektif dalam menghadapi perubahan di dunia pendidikan. Implikasi penelitian ini mendorong kebutuhan akan model pelatihan literasi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan guru sekolah dasar, berkontribusi pada kebijakan pengembangan profesional guru untuk menjembatani kesenjangan antara teori kompetensi profesional dan praktik lapangan yang terbatas. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1829 Kesiapan Guru Sekolah Dasar terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Proses Pembelajaran Ae Riza Aulia. Neza Safira Adelia. Yones Castri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus untuk menggambarkan kesiapan guru dalam menerapkan kurikulum merdeka. Lokasi penelitian ditentukan di SD Negeri 1 Ulak Kedondong. Kabupaten Ogan Komering Ilir. Sumatera Selatan, yang dipilih karena sekolah tersebut merupakan salah satu pelopor aktif dalam menerapkan kurikulum merdeka di daerah non-urban, sehingga memungkinkan penelitian mendalam tentang tantangan spesifik seperti keterbatasan fasilitas. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah dan empat guru kelas . ua pria dan dua wanit. dengan pengalaman mengajar antara 5 hingga 15 tahun, yang dipilih berdasarkan keterlibatan aktif mereka dalam implementasi kurikulum dan pengalaman yang beragam untuk mendapatkan representasi yang mendalam. Teknik Pengumpulan Data: Observasi: Dilakukan secara langsung selama kegiatan belajar mengajar untuk mengamati perencanaan, implementasi, dan interaksi antara guru dan siswa, menggunakan pedoman pengamatan berupa daftar periksa indikator kesiapan guru . eperti aspek pedagogis seperti pembelajaran diferensiasi, aspek profesional seperti persiapan alat bantu mengajar, aspek sosial seperti kerja sama tim, dan aspek digital seperti penggunaan media teknolog. Pengamatan ini memungkinkan identifikasi elemen kontekstual harian, seperti adaptasi teknologi di kelas. Wawancara Semi-Struktur: Dilakukan dengan kepala sekolah dan empat guru menggunakan panduan wawancara yang mencakup pertanyaan kunci tentang kesiapan dan hambatan . isalnya, "Bagaimana Anda mempersiapkan bahan pengajaran yang dibedakan?"), dengan fleksibilitas untuk eksplorasi lebih lanjut. Teknik ini menghasilkan data kualitatif tentang pengalaman pribadi. Dokumentasi: Ini mencakup pemeriksaan alat pengajaran, modul pembelajaran, dan laporan evaluasi siswa untuk melengkapi data utama, memberikan bukti konkret seperti contoh penilaian formatif. Analisis Data: Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman dengan tiga tahap: . Pengurangan Data, yaitu penyaringan informasi relevan melalui pengkodean tema kesiapan guru . isalnya, mengelompokkan data wawancara terkait hambatan literasi digita. Penyajian Data, yang mengorganisir data ke dalam tabel tematik atau narasi . isalnya, tabel perbandingan antara hasil observasi dan wawancara mengenai aspek sosia. Penarikan Kesimpulan, di mana pola dianalisis untuk implikasi, seperti peran kesiapan guru dalam kesuksesan kurikulum. Validitas diperkuat melalui triangulasi sumber dan metode oleh peneliti utama dan asisten, dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengurangi bias . isalnya, konfirmasi hambatan penilaian autentik dari ketiga sumbe. Pendekatan ini memastikan kredibilitas dan replikabilitas, menghasilkan temuan komprehensif tentang implementasi kurikulum merdeka. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan Hasil Wawancara dan Pengamatan Dari wawancara dengan kepala sekolah dan guru di SD Negeri 1 Ulak Kedondong, terlihat bahwa pendidik telah berusaha memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kurikulum mandiri. Sebuah kutipan dari wawancara kepala sekolah menyatakan: "Guru-guru telah mulai melakukan penilaian awal untuk mengidentifikasi kemampuan siswa, dan kami sedang mengembangkan bahan ajar sesuai dengan kebutuhan siswaAy. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran, guru melakukan penilaian awal melalui tes sederhana dan diskusi kelas, serta mengembangkan modul pembelajaran dalam bentuk cetak. Namun, hambatan muncul dalam penggunaan media berbasis teknologi, seperti akses internet yang terbatas, dan implementasi penilaian autentik yang masih terbatas pada evaluasi tertulis. Contoh konkret dari Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1830 Kesiapan Guru Sekolah Dasar terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Proses Pembelajaran Ae Riza Aulia. Neza Safira Adelia. Yones Castri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. pengamatan: Di kelas 4, guru menggunakan modul cetak untuk pengajaran matematika, tetapi belum mengintegrasikan aplikasi digital seperti Merdeka Mengajar karena keterbatasan sumber daya. Siswa tampak antusias, meskipun partisipasi terbatas pada mereka yang aktif berbicara. Temuan ini diperkuat oleh data primer dari wawancara dengan lima guru dan kepala sekolah, yang menunjukkan bahwa 80% guru telah mengikuti pelatihan kurikulum Merdeka, tetapi hanya 40% merasa siap secara teknologi. Kesiapan Guru dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Data wawancara menunjukkan tingkat kesiapan yang cukup baik, dengan seorang guru menyatakan, "Saya memahami prinsip pembelajaran mandiri, tetapi literasi digital saya masih perlu ditingkatkan. Pengamatan mengonfirmasi pemahaman kognitif melalui rencana pelajaran yang disiapkan, meskipun aspek psikomotor terkendala oleh fasilitas yang terbatas. Aspek kognitif: Guru mampu menjelaskan hasil belajar dan penilaian formatif, seperti dalam wawancara: "Kami mengintegrasikan nilai-nilai karakter melalui proyek kelompok. Aspek afektif: Motivasi tinggi tercermin dalam sikap terbuka, dengan kutipan: "Saya bersedia berinovasi, meskipun ada tantangan. Aspek psikomotorik: Guru mengembangkan alat digital sederhana, tetapi pengamatan menunjukkan ketergantungan pada metode tradisional akibat kurangnya teknologi. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Aktivitas Pembelajaran Data pengamatan menunjukkan implementasi dalam tiga tahap, dengan contoh: Tahap perencanaan melibatkan persiapan Hasil Belajar (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) berdasarkan karakteristik kelas, seperti terlihat dalam dokumen rencana pelajaran yang diamati. Tahap implementasi: Guru menggunakan diskusi kelompok, dengan kutipan wawancara: "Saya menyesuaikan metode dengan gaya belajar siswa untuk menciptakan lingkungan yang inklusif. Tahap evaluasi: Penilaian autentik melalui proyek, tetapi pengamatan menunjukkan dominasi penilaian tertulis sumatif. Dampak Kesiapan Guru terhadap Kesuksesan Implementasi Data wawancara menunjukkan dampak positif kesiapan, dengan kutipan berikut: "Guru yang siap secara digital dapat membuat pembelajaran lebih interaktif. " Pengamatan menunjukkan bahwa guru yang siap mengembangkan aktivitas kontekstual, memanfaatkan media lokal, dan menerapkan penilaian autentik, sementara yang kurang siap masih mengandalkan metode lama. Pembahasan Analisis Kesiapan Guru Berdasarkan Aspek Kognitif. Afektif, dan Psikomotor Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah cukup siap, namun terdapat kendala dalam literasi digital, yang sejalan dengan teori kesiapan pedagogis (Slamet. dan kesiapan profesional (Arikunt. , di mana pemahaman kognitif terhadap kurikulum mandiri memungkinkan pengembangan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa (Ihsan, 2. Kesamaan dengan Schleicher . dalam "Teaching in Changing Times" terletak pada pentingnya pemahaman kognitif guru untuk inovasi kurikulum global, namun perbedaannya adalah konteks Indonesia menekankan integrasi nilai-nilai karakter, berbeda dengan fokus OECD pada kompetensi teknis. Aspek afektif menunjukkan motivasi yang kuat, yang mendukung teori kesiapan sosial guru, di mana sikap terbuka terhadap perubahan diperkuat oleh dukungan komunitas sekolah (Windasari et al. , 2. Dibandingkan dengan (Nisak & Yuliastuti, 2. , yang menemukan motivasi serupa di SMP Negeri 1 Palang, namun dengan hambatan yang lebih besar dalam adaptasi teknologi, hal ini menunjukkan kesamaan dalam penerimaan perubahan tetapi perbedaan dalam intensitas dukungan infrastruktur. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1831 Kesiapan Guru Sekolah Dasar terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Proses Pembelajaran Ae Riza Aulia. Neza Safira Adelia. Yones Castri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Aspek psikomotorik terhambat oleh fasilitas, yang terkait dengan teori kesiapan digital guru (Rizki Septiana & Hanafi, 2. ,di mana kemampuan merakit perangkat digital membantu siswa terlibat secara aktif. Perbedaan dengan Ansumanti. adalah bahwa hambatan serupa terdapat di SDN 140 Seluma, namun solusi pelatihan berbasis lokal lebih efektif di lokasi penelitian ini, menunjukkan kebutuhan akan intervensi berkelanjutan seperti kolaborasi eksternal (OECD, 2022, tentang kesiapan guru untuk inovasi Secara keseluruhan, tantangan ini menunjukkan kebutuhan akan intervensi berkelanjutan, dengan implikasi kebijakan seperti pelatihan berbasis kebutuhan dan peran kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional (Ujang Cepi Barlian et al. , 2. , serta pentingnya komunitas belajar guru (TLC. untuk meningkatkan motivasi (Nurdin & Dra Sri Hartati, 2. Analisis Pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam Kegiatan Pembelajaran Implementasi tiga tahap mendukung pembelajaran fleksibel, di mana siswa secara aktif terlibat dalam membangun pengetahuan. Mirip dengan Purnawanto . adalah perencanaan yang bermakna, tetapi perbedaannya terletak pada penggunaan platform digital yang lebih terbatas di lokasi penelitian, berbeda dengan konteks perkotaan (Widiyono & Millati, 2. Tahap implementasi menekankan pada diferensiasi, yang mendukung teori kesiapan pedagogis guru untuk lingkungan inklusif (Wahyuningsari Desy et al. , 2. Dibandingkan dengan (Muhammaedi, 2. , yang menyoroti transisi ke kurikulum berbasis kompetensi di Asia Tenggara, hal ini menunjukkan kesamaan dalam fleksibilitas tetapi perbedaan dalam integrasi teknologi lokal. Tahap evaluasi autentik sejalan dengan (Rosidah et al. , 2. , dengan fokus pada umpan balik untuk perbaikan, yang terkait dengan teori kesiapan profesional guru. Perbedaan dengan Schleicher . adalah penekanan pada penilaian holistik di Indonesia, yang berbeda dari evaluasi standar internasional. Pendekatan ini sejalan dengan pendidikan humanistik Dewantara (Munte, 2. , yang mendorong pertumbuhan alami siswa, dengan implikasi kebijakan bagi kebebasan guru dalam memilih strategi (Rahmadayanti & Hartoyo, 2. Analisis Dampak Kesiapan Guru terhadap Kesuksesan Implementasi Kesiapan guru memengaruhi efektivitas, dengan guru yang siap merancang pembelajaran kontekstual menggunakan sumber daya lokal (Mastuti et al. , 2. , sejalan dengan teori kesiapan digital dan sosial guru. Kesamaannya dengan (Rizki Septiana & Hanafi, 2. adalah ketergantungan pada literasi digital, tetapi perbedaannya terletak pada dampak positif yang lebih nyata di lokasi penelitian berkat pelatihan lokal. Penggunaan media digital meningkatkan aksesibilitas (Rezaldi, 2. , yang mendukung teori kesiapan teknis Dibandingkan dengan (Nurulaeni & Rahma, 2. , yang menemukan hambatan serupa dalam matematika, hal ini menunjukkan kesamaan dalam ketidakefektifan metode konvensional tetapi perbedaan dalam rekomendasi pelatihan intensif. Penilaian autentik memudahkan identifikasi yang akurat (Rosidah et al. , 2. terkait dengan teori kesiapan pedagogis. Perbedaan dengan (Nurwiatin, 2. adalah pengaruh yang lebih dominan dari kepala sekolah di lokasi penelitian. Guru yang kurang siap masih mengandalkan metode lama, memperkuat pandangan (Rizki Septiana & Hanafi, 2. , dengan implikasi kebijakan untuk KLG dan pelatihan berbasis kebutuhan (Yeyen Afista et al. , 2. Dibandingkan dengan (Basyiruddin & Sebelas Maret Surakarta, 2. yang menekankan strategi tersembunyi dalam kurikulum, hal ini menunjukkan kesamaan dalam inovasi tetapi perbedaan dalam konteks digital. KESIMPULAN Kesiapan pendidik di tingkat sekolah dasar memainkan peran kunci dalam menentukan efektivitas implementasi Kurikulum Merdeka, yang memprioritaskan proses belajar mandiri dan berfokus pada siswa. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1832 Kesiapan Guru Sekolah Dasar terhadap Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Proses Pembelajaran Ae Riza Aulia. Neza Safira Adelia. Yones Castri. Rita Kurnia DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan ini mencakup empat aspek fundamental: kognitif . engetahuan tentang pedagogi dan profesionalisme untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibe. , afektif . emampuan beradaptasi dan motivasi internal dalam menghadapi inovas. , psikomotorik . eterampilan praktis dalam perencanaan, evaluasi awal, dan pengembangan bahan aja. , serta digital . emahiran teknologi dalam mengintegrasikan alat pendidikan moder. Pendidik yang telah mempersiapkan diri di bidang-bidang ini dapat menyesuaikan pendekatan pengajaran mereka dengan kondisi siswa, merangsang keterlibatan aktif melalui berbagai taktik, dan menciptakan suasana kelas yang dinamis, yang pada akhirnya mendorong perkembangan komprehensif siswa. Di sisi lain, jika kesiapan ini tidak memadai, misalnya dalam bidang literasi digital atau penilaian autentik, hal ini dapat mengurangi fleksibilitas dan efisiensi kurikulum, sehingga kurikulum tersebut tampak kuat secara teori tetapi rapuh dalam praktik. Dukungan dari kepala sekolah, melalui gaya kepemimpinan yang inspiratif dan inisiatif pengembangan profesional berkelanjutan, juga penting untuk meningkatkan kesiapan ini. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperkaya pemahaman tentang konsep persiapan pendidik dalam era perubahan sistem pendidikan nasional, dan secara praktis sebagai landasan untuk formulasi strategi kebijakan pendidikan guru yang berkelanjutan di Indonesia, sehingga Kurikulum Merdeka dapat berfungsi sebagai sarana transformasi pendidikan yang berorientasi pada manusia, memberikan kebebasan, dan membentuk karakter siswa. DAFTAR PUSTAKA