Moderasi Beragama sebagai Landasan Toleransi dalam Kehidupan Masyarakat Majemuk Antonius Berito Doko Stakat Negeri Pontianak Antonius. doko83@gmail. Abstrak: Moderasi beragama berarti penguasaan diri dari sikap sangat berlebihan dan kekurangan serta mengurangi kekerasan dan menghindari hal yang berlebihan. Moderasi beragama kemudian dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Dalam konteks beragama, sikap moderat sebagai pilihan untuk memiliki cara pandang, sikap dan perilaku di tengah-tengah di antara pilihan ekstrem yang ada, sedangkan ekstremisme beragama adalah cara pandang, sikap, dan perilaku melebihi batasbatas moderasi dalam pemahaman dan praktik beragama. Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, terutama dalam kehidupan masyarakat Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama adalah kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya kedamaian. Dengan cara ini kehidupan masyarakat majemuk dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni. Tujuan dari pemaparan ini adalah mengetahui sejauh mana, masyarakat memahami tentang moderasi beragama serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui wawancara terhadap masyarakat yang beragam. Maka dengan ini moderasi beragama sebagai landasan tolerasi untuk kehidupan beragama di masyarakat sangat penting untuk menjaga kesimbangan dalam memandang dan menyikapi praktik kehidupan beragama. Kata Kunci: Moderasi. Landasan. Toleransi. Kehidupan. Agama Abstract Religious moderation means controlling oneself from excessive and deficient attitudes as well as reducing violence and avoiding excesses. Religious moderation can then be understood as a perspective, attitude and behavior that always takes a middle position, always acts fairly and is not extreme in religion. In a religious context, moderation is a choice to have a perspective, attitude and behavior in the middle between the existing extreme options, while religious extremism is a perspective, attitude and behavior that exceeds the limits of moderation in religious understanding and Religious moderation is actually the key to creating tolerance and harmony, especially in the life of a pluralistic society. The choice of moderation by rejecting extremism and liberalism in religion is the key to balance, for the maintenance of civilization and the creation of peace. In this way, a pluralistic society can treat other people with respect, accept differences, and live together in peace and The aim of this presentation is to find out to what extent the public understands religious moderation and its application in everyday life. The method used is a qualitative method through interviews with diverse communities. So, religious moderation as a basis for tolerance for religious life in society is very important to maintain balance in viewing and responding to the practice of religious A. PENDAHULUAN Moderasi beragama ini menjadi penguat toleransi dan menciptakan kerukunan, baik di tingkat lokal, maupun global. Pilihan pada moderasi ini yaitu menolak ekstremisme dan liberalisme beragama menjadi kunci keseimbangan. Maka dari itu umat beragama memiliki cara untuk bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik, menerima perbedaan tanpa memandang status sosial, suku, ras dan agamanya. Dapat juga dikatakan sebagai landasan karena merupakan hasil dari moderasi ini dapat diterapkan demi kebaikan bersama. Dasar dalam moderasi beragama mengandung dua prinsip, yaitu menjaga kesimbangan dan keadilan. Pertama, menjaga keseimbangan antara akal dan wahyu, jasmani dan rohani, hak dan kewajiban, antara kepentingan individual dan kepentingan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta keseimbangan masa lalu dan masa depan. Kedua, keadilan, artinya tidak memihak sebelah dan tidak berat sebelah. Keadilan merupakan sikap untuk berdiri di tengah dalam memandang, menyikapi dan mempraktikkan konsep moderasi beragama. Prinsip moderasi dalam keseimbangan yaitu diistilahkan untuk menggambarkan bagaimana cara pandang dan sikap dan memiliki komitmen untuk selalu berpihak pada keadilan pada Keseimbangan ini juga cara pandang kita untuk mengerjakan sesuatu secukupnya tidak kurang dan tidak berlebihan. Di dalam moderasi terdapat hal-hal kebajikan seperti keterbukaan antarumat beragama dalam menciptakan keharmonisan. Sikap moderat dalam beragama selalu memilih jalan tengah, hal ini akan lebih mudah bila kita memiliki pengetahuan agama yang luas dan memadai. Untuk itu keseimbangan dan keadilan harus dilandasi karakter dalam diri seseorang yakni kebijaksanaan, ketulusan dan keberanian. Moderasi dijadikan sebagai cara pandang . dalam seluruh praktik kehidupan beragama. Perlu langkah-langkah yang harus ditempuh untuk melakukan penguatan dan implementasi moderasi beragama, sosialisasi gagasan, pengetahuan dan pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk dapat secara terstruktur dijadikan landasan dan pedoman bagi setiap kehidupan setiap individu maupun lembaga. Strategi struktural dapat dilakukan untuk melengkapi dan memperkuat langkah-langkah yang selama ini sudah ditempuh, dan semakin diperkuat, yakni memfasilitasi ruang-ruang perjumpaan antarkelompok masyarakat, untuk memperkuat nilai-nilai toleransi terutama dalam bentuk dialog lintas-iman. Moderasi harus dipahami sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang baik, di mana setiap warga masyarakat, apa pun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya harus mau saling mengerti dan memahami satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan di antara sesama manusia. Jadi jelas moderasi beragama sangat erta kaitannya dengan menjaga kebersamaan dengan memiliki sikap tenggang rasa. Sikap ini merupakan warisan leluhur yang mengajak kita untuk saling memahami dan ikut serta merasakan satu sama lain yang berbeda dengan kita. Bagi bangsa Indonesia, keragaman diyakini sebagai sebuah kekayaan yang harus disyukuri dari Tuhan Yang Maha Mencipta, bukan untuk ditawar tapi untuk diterima. Indonesia adalah negara dengan keragaman etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama yang nyaris tiada tandingnya di dunia. Selain enam agama paling banyak dipeluk oleh masyarakat, ada ratusan bahkan ribuan suku, bahasa aksara daerah, serta kepercayaan lokal di Indonesia. Meski agama yang paling banyak dipeluk dan dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat Indonesia berjumlah enam agama, yakni: Islam. Kristen. Katolik. Hindu. Budha dan Konghucu, namun keyakinan dan kepercayaan keagamaan sebagian masyarakat Indonesia tersebut juga diekspresikan dalam ratusan agama leluhur dan penghayatan kepercayaan. Jumlah kelompok penghayat kepercayaan, atau agama lokal di Indonesia bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Dengan kenyataan beragamnya masyarakat Indonesia itu, dapat dibayangkan betapa beragamnya pendapat, pandangan, keyakinan, dan kepentingan masing-masing warga bangsa termasuk dalam beragama. Beruntung kita memiliki satu bahasa persatuan, bahasa Indonesia, sehingga berbagai keragaman keyakinan tersebut masih dapat dikomunikasikan, dan karenanya antarwarga saling memahami satu sama lain. Meski begitu, gesekan akibat kekeliruan mengelola keragaman itu tak urung kadang terjadi. Dari sudut pandang agama, keragaman adalah anugerah dan kehendak Tuhan. jika Tuhan menghendaki, tentu tidak sulit membuat hamba-hamba-Nya menjadi seragam dan satu jenis saja. Tapi Dia memang Maha Menghendaki agar umat manusia beragam, bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dengan tujuan agar kehidupan menjadi dinamis, saling belajar, dan saling mengenal satu sama lain. Dengan begitu, bukankah keragaman itu sangat indah? Betapa kita harus bersyukur atas keragaman bangsa Indonesia ini. Selain agama dan kepercayaan beragam, dalam tiap-tiap agama pun terdapat juga beragam penafsiran atas ajaran agama, khususnya ketika berkaitan dengan praktik dan ritual Umumnya, masing-masing penafsiran ajaran agama itu memiliki penganutnya, yang meyakini kebenaran atas tafsiran yang dipraktikkannya. Pengetahuan tentang hal yang tidak dapat berubah dan hal yang mungkin berubah dalam ajaran setiap agama itu sungguh amat penting bagi pemeluk agama masing-masing, karena pengetahuan atas agama itulah memungkinkan seorang pemeluk agama akan bisa mengambil jalan tengah . jika satu pilihan kebenaran tafsir yang tersedia tidak memungkinkan dijalankan. Sikap ekstrem biasanya muncul manakala seorang pemeluk agama tidak mengetahui adanya alternatif kebenaran tafsiran lain yang bisa ia tempuh. Dalam konteks inilah moderasi beragama menjadi sangat penting untuk dijadikan sebuah cara pandangan . dalam beragama. Di Indonesia, dalam era demokrasi yang serba terbuka, perbedaan pandangan dan kepentingan di antara warga negara yang sangat beragam itu dikelola sedemikian rupa, sehingga semua aspirasi dapat tersalurkan sebagaimana mestinya. Demikian halnya dalam beragama, konstitusi kita menjamin kemerdekaan umat beragama sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya masing-masing. Ideologi negara kita. Pancasila, sangat menekankan terciptanya kerukunan antarumat beragama. Indonesia bahkan menjadi contoh bangsa-bangsa di dunia dalam hal keberhasilan mengelola keragaman budaya dan agamanya, serta dianggap berhasil dalam hal menyandingkan secara harmoni bagaimana cara beragama sekaligus bernegara. Konflik dan gesekan sosial dalam skala kecil memang masih kerap terjadi, namun kita selalu berhasil keluar dari konflik, dan kembali pada kesadaran atas pentingnya persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa besar, bangsa yang dianugerahi keragaman oleh Sang Pencipta. Namun demikian, kita harus tetap waspada. salah satu ancaman terbesar yang dapat memecah belah kita sebagai sebuah bangsa adalah konflik berlatar belakang agama, terutama disertai dengan aksi-aksi kekerasan. Mengapa ? Karena agama, apa pun dan di mana pun, memiliki sifat dasar keberpihakan yang sarat dengan muatan emosi, dan subjektivitas tinggi, sehingga hampir selalu melahirkan ikatan emosional pada pemeluknya. Bahkan bagi pemeluk fanatiknya, agama merupakan AubendaAy suci yang sakral. Alih-alih menuntun pada kehidupan yang tentram dan menentramkan, fanatisme ekstrem terhadap kebenaran tafsiran agama tak jarang menyebabkan permusuhan dan pertengkaran di antara mereka. Konflik berlatar belakang agama ini dapat menimpa berbagai kelompok dalam satu agama yang sama, atau terjadi pada beragam kelompok dalam agama-agama Biasanya, awal terjadinya konflik berlatar belakang agama ini disulut oleh sikap saling menyalahkan tafsir dan paham keagamaan, merasa benar sendiri, serta tidak membuka diri pada tafsir dan pandangan keagamaan orang lain. METODE Pendekatan penelitan yang digunakan dengan metode kualitatif. Teknik yang akan digunakan yaitu melalui wawancara serta melalui survei untuk menunjang penelitian. Melalui wawancara, peneliti yang disiapkan sedemikian rupa terutama untuk mendapatkan hasil terutama sebagai landasan pemahaman moderasi dalam masyarakat majemuk. Kemudian peneliti akan mengadakan survei terhadap proses pelaksanaan moderasi di masyarakat majemuk. Sasaran penelitian adalah tokohtokoh lintas agama yang ada di Kecamatan Nanga Taman dalam upaya mereka menjaga toleransi di wilayah ini. Subjek penelitiannya adalah tokoh-tokoh agama baik yang beragama Islam. Katolik. Kristen Protestan dan Konghucu yang ada di wilayah Kecamatan Nanga Taman. Mereka inilah yang sering mengadakan pertemuan lintas agama sebagai landasan moderasi beragama. HASIL DAN PEMBAHASAN Moderasi berasal dari kata moderatio (Lati. yang berarti sedang . idak kelebihan dan tidak Kata ini juga berarti penguasaan diri dari sikap sangat berlebihan dan kekurangan. Jadi, sikap moderat berarti bersikap yang wajar. Moderasi adalah ibarat gerak dari pinggir yang selalu cenderung menuju pusat atau sumbu. Dalam konteks beragama, sikap moderat dengan demikian adalah pilihan untuk memiliki cara pandang, sikap dan perilaku di tengah-tengah di antara pilihan ekstrem yang ada, sedangkan ekstrisme beragama adalah cara pandang, sikap, dan perilaku melebihi batas-batas moderasi dalam pemahaman dan praktik beragama. Karenanya, moderasi beragama kemudian dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama. Perlu adanya ukuran, batasan, dan indikator untuk menentukan apakah sebuah cara pandang, sikap, dan perilaku beragama tertentu itu tergolong moderat atau ekstrem. Ukuran tersebut tentunya sesuai dengan kesepakatan Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengalaman beragama dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan. Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama ini niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan, fanatisme dalam beragama. Moderasi beragama merupakan solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub kanan dan kutub kiri. Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan. Pilihan pada moderasi, menolak ekstremisme dalam beragama adalah kunci kesimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan Dengan cara inilah masing-masing umat beragama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini, moderasi beragama merupakan keharusan. Moderasi beragama menjadikan umat beragama lebih terbuka, melebur, beradaptasi, bergaul serta belajar dari satu sama lain. Tabel 1. 1 : Total Umat Yang Ada di Kecamatan Nanga Taman Cidayu dalam persen Dalam % Cina Jumlah Dayak Wilayah Populasi Melayu Dari tabel tersebut memang belum menunjukkan keseluruhan masyarakat yang ada di Kecamatan Nanga Taman. Tulisan ini hanya mewakili populasi terbesar yang ada, tanpa mengecualikan ras, suku dan etnis yang ada. Dengan kehadiran tiga etnis terbesar ini, ditandai dengan adanya Tugu Cidayu di Kecamatan Naga Taman menjadi simbol toleransi bagi masyarakat Nanga Taman. KESIMPULAN Masyarakat di Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau ini adalah masyarakat yang majemuk dari sudut agama, ras, suku, bahasa dan kebudayaan. Tiga suku terbesar adalah Cina. Dayak, dan Melayu. Hingga saat ini belum ditemukan konflik karena perbedaan suku maupun agama. Perbedaan-perbedaan itu menjadi indah ketika setiap agama saling menghormati dan saling memahami. Sikap toleransi dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan didorong oleh kesadaran bersama sebagai satu bangsa. Moderasi beragama sebagai landasan toleransi dalam masyarakat telah dilaksanakan mereka pada zaman Kehadiran forum dialog lintas agama sangat bermanfaat guna mencegah terjadinya tindakan radikalisme agama. Terutama pula, masyarakat di wilayah ini sudah hampir satu ikatan karena tindakan UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur pada Tuhan Yang Mahakuasa atas segala rahmat-Nya yang telah diberikan. Ucapan terima kasih kepada pihak Kampus Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, terutama Program Magister Teologi, para dosen pembimbing dan teman-teman seangkatan yang telah memberi suport dalam pembuatan makalah ini demi terciptanya Moderasi Beragama sebagai Landasan Toleransi bagi Masyarakat Majemuk. DAFTAR PUSTAKA