Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 Edukasi Penerapan Finger Hold Dan Terapi Musik Klasik Mozart Dalam Menurunkan Skala Nyeri Pada Pasien Pasca Operasi Laparatomi Weny Amelia1. Ria Desnita2 . Lola Despitasari3. Fitria Alisa4. Lenni Sastra5. Zulham Efendi6. Wispa7. Muhammad Fajri Ananda Surya8. Ririn Yulia Putri9. Difa Maysafitri10. Dina Gustina Putri11. Uswatun Hasanah12. Putri Malina Risraroy13. Miche Yuldaniati14. Latifa Salsabila15. Livia Latifah16 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15 ,16 Prodi S1 Keperawatan/Fakultas Kesehatan dan Sains/Universitas Mercubaktijaya E-mail korespondensi: wenyamelia. wa@gmail. Abstrak: Latar Belakang: Pasien pasca operasi laparatomi umumnya mengalami nyeri akut akibat luas dan dalamnya sayatan pembedahan, yang dapat mengganggu kenyamanan, mobilisasi, dan proses pemulihan. Manajemen nyeri masih didominasi pendekatan farmakologis, sementara pemanfaatan intervensi nonfarmakologis berbasis keperawatan belum optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menurunkan skala nyeri pasien pasca operasi laparatomi melalui edukasi penerapan kombinasi teknik relaksasi finger hold dan terapi musik klasik Mozart sebagai intervensi nonfarmakologis yang aman dan mudah diaplikasikan. Metode: Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan pendekatan edukatifAepartisipatif melalui edukasi, demonstrasi, dan pendampingan langsung kepada 10 pasien pasca operasi laparatomi dan keluarga di Ruang Bedah RS Dr. Djamil Padang pada 2 Oktober 2025. Evaluasi dilakukan dengan pengukuran skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan setelah intervensi, serta observasi kemampuan pasien dalam menerapkan terapi secara mandiri. Hasil: Sebelum intervensi, 60% pasien berada pada kategori nyeri berat . kala 7Ae. dan 40% pasien berada pada kategori nyeri sedang . kala 4Ae. Setelah intervensi, 70% pasien berada pada kategori nyeri ringan . kala 1Ae. dan 30% pasien berada pada kategori nyeri sedang . kala 4Ae. , serta tidak ditemukan lagi pasien dengan nyeri berat. Selain itu, 100% pasien mampu menerapkan teknik finger hold dan terapi musik klasik Mozart secara mandiri sebagai bagian dari manajemen nyeri pasca operasi laparatomi. Kata Kunci: finger hold, laparatomi, nyeri pasca operasi, terapi musik klasik mozart Abstract: Background: Post-laparotomy patients commonly experience acute pain due to the extent and depth of the surgical incision, which can interfere with comfort, mobility, and the recovery process. Pain management is still dominated by pharmacological approaches, while the utilization of nursing-based non-pharmacological interventions is not optimal. This community service activity aims to reduce the pain scale of post-laparotomy patients through education on the combination of finger-hold relaxation techniques and Mozart classical music therapy as a safe and easy-toapply non-pharmacological intervention. Methods: The community service activity was implemented using an educational-participatory approach through education, demonstrations, and direct assistance to 10 post-laparotomy patients and their families in the Operating Room of Dr. Djamil Padang Hospital on October 2. Evaluation was conducted by measuring the pain scale using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention, as well as observing the patients' ability to apply therapy ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 Results: Before the intervention, 60% of patients were in the severe pain category . cale 7Ae. and 40% were in the moderate pain category . cale 4Ae. After the intervention, 70% of patients experienced mild pain . cale 1Ae. and 30% experienced moderate pain . cale 4Ae. , with no further patients experiencing severe pain. Furthermore, 100% of patients were able to independently apply the finger hold technique and Mozart classical music therapy as part of post-laparotomy pain management. Keywords: laparotomy, post-surgical pain, finger hold, mozart classical music therapy Pendahuluan Pembedahan merupakan prosedur medis invasif yang dilakukan dengan membuat sayatan pada tubuh untuk mengakses dan menangani area yang membutuhkan perawatan. Setelah tindakan selesai, luka sayatan tersebut ditutup kembali melalui proses penjahitan (Istianah et al. , 2. Salah satu jenis pembedahan adalah laparatomi. Laparatomi merupakan salah satu tindakan pembedahan besar yang banyak dilakukan di rumah sakit untuk menangani berbagai kondisi serius, seperti perdarahan, perforasi, kanker, dan sumbatan Prosedur ini melibatkan sayatan yang luas dan dalam pada dinding perut sehingga hampir seluruh pasien pasca operasi laparatomi mengalami nyeri akut yang signifikan dan membutuhkan penanganan intensif (Rais & Alfiyanti, 2020. Sugara et al. , 2. Menurut World Health Organization (WHO), total pasien yang menjalani laparatomi mengalami peningkatan konsisten sebesar 10 % secara global (Krismanto & Jenie, 2. Jumlah pasien laparatomi telah meningkat secara signifikan, dengan total 90 juta orang dirawat di rumah sakit di seluruh dunia pasca operasi ini. Di Indonesia, laparatomi menempati peringkat kelima sejak tahun 2018, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, sekitar 42% dari 1,2 juta orang telah menjalani operasi tersebut (Aprilianto, 2. Berdasarkan data Kemenkes RI . angka kejadian laparatomi di Sumatera Barat berjumlah 1. 409 pasien. Sedangkan berdasarkan data dari RS Dr. Djamil Padang dari tahun 2023- 2024 terdapat kurang lebih 126 kasus tumor intraabdomen yang dilakukan prosedur operasi laparatomi dimana semua pasien mengalami masalah keperawatan nyeri akut (RS Dr. Djamil Padang, 2. Berdasarkan kondisi lapangan di Ruang Bedah RS Dr. Djamil Padang, seluruh pasien pasca operasi laparatomi masih mengalami nyeri akut dengan keluhan nyeri seperti tersayat dan tertusuk-tusuk. Penanganan nyeri yang dilakukan selama ini masih didominasi oleh pendekatan farmakologis, yaitu pemberian analgesik, serta teknik relaksasi napas dalam sebagai satu-satunya intervensi nonfarmakologis. Permasalahan mitra tidak hanya terletak pada tingginya keluhan nyeri pasien, tetapi juga pada keterbatasan pengetahuan dan keterampilan perawat serta pasien dalam menerapkan intervensi nonfarmakologis yang sederhana, aman, dan dapat dilakukan secara mandiri. Akibatnya, pasien sangat bergantung pada obat pereda nyeri, sementara upaya peningkatan kemandirian pasien dalam mengelola nyeri belum optimal. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kenyamanan pasien, proses ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 pemulihan, serta kualitas pelayanan keperawatan pasca operasi. Teknik relaksasi finger hold ialah salah satu cara untuk mengendalikan emosi dan mengembangkan kecerdasan emosional. Pada bagian jari ada saluran energi atau meridian yang tersambung ke bermacam organ dan emosi. Relaksasi alami memicu pelepasan endorfin, atau hormon pereda nyeri alami, dari tubuh, sehingga meredakan nyeri (Wati & Ernawati, 2. Selain finger hold, terapi musik juga dapat membuat seseorang yang kesakitan merasakan relaks. Musik memberi pengalihan dan mengikat opiat endogen di berbagai tempat di otak, termasuk sistem limbik dan hipotalamus. Salah satu musik yang dapat meredakan nyeri yaitu musik Mozart klasik dengan ciri musik pelan membuat tubuh rileks (Rais & Alfiyanti, 2. The New Zealand Society for Music Therapy (NZSMT) menyebutkan bahwa terapi musik telah terbukti efektif dalam bidang kesehatan karena musik dapat meredakan kecemasan, rasa sakit dan stres serta menciptakan suasana yang positif (Wati & Ernawati, 2. Keuntungan dari kombinasi dua terapi ini musik klasik sebagai teknik distraksi membantu menurunkan presepsi nyeri melalui aktivas sistem saraf otonom dan limbik saat mendengarkan musik memicu perasaan tenang. Saat seseorang mengalami stres, mendengarkan musik akan mengaktivasi sistem saraf otonom dan limbik, yang kemudian memicu pelepasan zat kimia yang berkaitan dengan perasaan senang dan nyaman. Dengan menggabungkan rangsangan fisik melalui teknik Finger Hold dan relaksasi mental melalui terapi musik, terapi kombinasi terbukti mampu meningkatkan kenyamanan pasien serta menurunkan nyeri secara efektif. Pendekatan ini memberikan efek yang lebih menyeluruh, karena tidak hanya menurunkan intensitas nyeri, tetapi juga meredakan kecemasan yang kerap menyertai kondisi post operasi akibat nyeri yang dirasakan pada setiap pasien (Widyani & Siregar, 2. Menurut hasil penelitian Lutfitawaliyah & Aprina . untuk mengetahui pengaruh kombinasi finger hold dan classical music therapy mozart terhadap skala nyeri pada pasien pasca operasi laparatomi didapatkan didapatkan rata-rata skala nyeri sebelum dan setelah intervensi yaitu dari 5. 28 menjadi 3. 65 dengan p-value = . < . Penelitian lain dilakukan oleh Rislanniyata & Setiyowati . untuk melihat perbandingan antara terapi finger hold dengan terapi kombinasi finger hold dan musik klasik terhadap penurunan nyeri pasca operasi laparatomi yang dilakukan selama 15 menit menunjukkan bahwa terapi kombinasi lebih efektif dalam menurunkan skala nyeri dan memberikan efek relaksasi dibandingkan terapi finger hold tunggal. Berbagai studi diatas menunjukkan bahwa teknik relaksasi finger hold dan terapi musik klasik mozart efektif dalam menurunkan nyeri pasca operasi melalui mekanisme relaksasi fisik dan psikologis. Namun, hasil-hasil penelitian tersebut belum diimplementasikan secara nyata dalam praktik pelayanan keperawatan di ruang bedah, khususnya di RS Dr. Djamil Padang. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada transfer pengetahuan dan keterampilan kepada perawat dan pasien dalam menerapkan terapi kombinasi ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 finger hold dan musik klasik mozart sebagai bagian dari intervensi nonfarmakologis manajemen nyeri pasca operasi laparatomi. Berdasarkan survey di ruangan bedah RS Dr. Djamil Padang didapatkan dari 10 pasien post laparatomi, semuanya mengatakan merasakan nyeri seperti tersayat dan tertusuk-tusuk. Penanganan yang mereka lakukan yaitu 7 orang mengatasinya dengan cara melapor pada perawat meminta obat pereda nyeri, dan 3 orang lainnya mengatasinya dengan istirahat. Hasil wawancara dengan perawat ruangan bedah didapatkan hasil bahwa belum pernah dilakukan terapi kombinasi finger hold dan musik klasik mozart untuk manajemen nyeri pada pasien pasca operasi laparatomi. Perawat ruangan menyampaikan yang dilakukan pada pasien pasca operasi laparatomi terkait manajemen nyeri adalah relaksasi napas dalam. Melalui program pengabdian ini, diharapkan permasalahan mitra berupa tingginya keluhan nyeri, keterbatasan variasi intervensi nonfarmakologis, serta rendahnya kemandirian pasien dalam mengelola nyeri dapat diatasi secara berkelanjutan melalui penerapan terapi kombinasi yang mudah, aman, dan berbasis keperawatan. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan selama satu minggu di RS Dr. Djamil Padang. Peserta kegiatan berjumlah 10 pasien pasca operasi laparatomi yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria Kriteria inklusi: Pasien pasca operasi laparatomi pada hari ke-2 hingga ke-4 pasca operasi Kondisi umum stabil secara hemodinamik Usia 18Ae65 tahun Mengalami nyeri pasca operasi dengan skala nyeri 4Ae10 Mampu berkomunikasi secara verbal Bersedia mengikuti kegiatan pengabdian. Kriteria eksklusi: pasien dengan gangguan pendengaran pasien dengan gangguan kesadaran atau kognitif pasien dengan komplikasi pasca operasi pasien yang mendapatkan analgesik farmakologis tambahan dalam 1 jam terakhir sebelum intervensi. Kegiatan inti pengabdian dilaksanakan secara tatap muka pada Kamis, 2 Oktober 2025, pukul 10. 00Ae12. 00 WIB. Metode pelaksanaan meliputi edukasi, demonstrasi, dan praktik langsung kepada pasien dan keluarga. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 Prosedur Teknik Relaksasi Finger Hold Teknik finger hold dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Pasien berada dalam posisi setengah duduk atau berbaring nyaman pasien menggenggam satu jari tangan secara lembut menggunakan tangan Setiap jari digenggam selama 1Ae2 menit, dimulai dari ibu jari hingga Aelama menggenggam jari, pasien diarahkan melakukan napas dalam secara perlahan dan teratur Total durasi pelaksanaan teknik finger hold adalah A10 menit dalam satu Teknik dilakukan satu kali dalam sesi intervensi. Prosedur Terapi Musik Klasik Mozart Terapi musik klasik dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: Musik yang digunakan berupa musik klasik instrumental Musik diputar selama 15 menit Media pemutaran menggunakan telepon genggam yang dihubungkan ke Volume musik diatur pada tingkat nyaman dan tidak mengganggu pasien Terapi dilakukan di ruangan yang relatif tenang Pasien tidak menggunakan headset untuk menjaga kenyamanan dan komunikasi dengan lingkungan sekitar. Kedua intervensi dilakukan secara berurutan dalam satu sesi, diawali dengan teknik finger hold dan dilanjutkan dengan terapi musik klasik Mozart. Kontrol Faktor Perancu Untuk meminimalkan pengaruh faktor perancu terhadap penilaian nyeri, pelaksanaan intervensi dilakukan minimal satu jam setelah pemberian analgesik farmakologis, serta pada waktu yang relatif sama bagi seluruh peserta. Kondisi lingkungan ruangan dijaga tetap tenang dan stabil selama intervensi berlangsung. Evaluasi Skala Nyeri Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Skala nyeri diukur menggunakan skala nyeri numerik 0Ae10. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 Tahap Pelaksanaan Kegiatan Koordinasi dan Persiapan Pelaksanaan Edukasi Demonstrasi Intervensi Praktik dan Pendampingan Evaluasi Kegiatan Tindak Lanjut Tabel 1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Uraian Pelaksanaan Kegiatan Partisipasi Mitra (Perawat/Pasie. Koordinasi antara tim pengabdian dengan perawat dan manajemen Ruang Bedah RS Dr. Djamil Padang untuk menentukan sasaran kegiatan, jadwal pelaksanaan, serta kesiapan ruangan dan pasien. Penyusunan materi edukasi dan media pendukung berupa leaflet dan bahan Pemberian edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai nyeri pasca operasi laparatomi dan manajemen nyeri Demonstrasi teknik relaksasi finger hold dan terapi musik klasik Mozart oleh tim pengabdian sesuai prosedur yang telah Perawat dan manajemen ruangan memberikan data kondisi pasien, menyepakati waktu dan lokasi kegiatan, serta memastikan kesiapan ruangan dan pasien. Pasien dan keluarga mengikuti memfasilitasi kondisi pasien selama kegiatan berlangsung. Perawat mendampingi pasien selama demonstrasi. memperhatikan dan memahami langkah-langkah Praktik langsung penerapan teknik finger Pasien mempraktikkan terapi hold selama A10 menit dan terapi musik secara aktif. perawat dan klasik Mozart selama 15 menit dalam satu keluarga mendampingi serta sesi, dilakukan minimal satu jam setelah membantu memastikan pemberian analgesik farmakologis. kenyamanan pasien. Pengukuran skala nyeri sebelum dan Pasien memberikan respon sesudah intervensi menggunakan skala perawat membantu nyeri NRS . Ae. proses pengukuran dan Pemberian arahan kepada pasien agar Perawat mendukung dapat menerapkan terapi secara mandiri penerapan terapi sebagai selama masa pemulihan pasca operasi. bagian dari asuhan keperawatan pasca operasi Hasil Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dievaluasi berdasarkan pengukuran skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) 0Ae10. Pengukuran dilakukan pada seluruh peserta untuk menilai perubahan tingkat nyeri pasca operasi laparatomi setelah penerapan kombinasi teknik finger hold dan terapi musik klasik mozart. Pada pengukuran sebelum intervensi, sebagian besar peserta masih mengalami nyeri pada tingkat sedang hingga berat. Sebanyak 60% peserta berada pada kategori nyeri berat . kala 7Ae. dan 40% peserta berada pada kategori nyeri sedang . kala 4Ae. Kondisi ini menunjukkan bahwa nyeri pasca operasi laparatomi masih menjadi keluhan utama yang dirasakan pasien sebelum diberikan intervensi nonfarmakologis. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 Setelah dilakukan intervensi berupa penerapan teknik finger hold selama A10 menit yang dilanjutkan dengan terapi musik klasik mozart selama 15 menit, terjadi perubahan pada tingkat nyeri peserta. Hasil pengukuran sesudah intervensi menunjukkan bahwa 70% peserta mengalami nyeri ringan . kala 1Ae. dan 30% peserta berada pada kategori nyeri sedang . kala 4Ae. Pada tahap ini, tidak ditemukan lagi peserta dengan nyeri berat, yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat nyeri setelah pelaksanaan intervensi. Perbandingan skala nyeri berdasarkan NRS sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan adanya penurunan skala nyeri pada seluruh peserta, yang ditandai dengan pergeseran kategori nyeri dari sedangAeberat menjadi ringanAesedang. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi teknik finger hold dan terapi musik klasik mozart berpotensi memberikan kontribusi positif dalam pengelolaan nyeri pasca operasi laparatomi sebagai intervensi nonfarmakologis berbasis keperawatan. Selain perubahan skala nyeri, hasil observasi keterampilan menunjukkan bahwa seluruh peserta mampu menerapkan teknik finger hold dan mengikuti terapi musik klasik Mozart secara mandiri, sehingga intervensi ini dapat diaplikasikan oleh pasien selama masa pemulihan pasca operasi. Untuk menjamin keberlanjutan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, hasil kegiatan ini direncanakan untuk diintegrasikan ke dalam asuhan keperawatan pasca operasi laparatomi di Ruang Bedah RS Dr. Djamil Padang. Materi edukasi dan leaflet mengenai penerapan teknik finger hold dan terapi musik klasik Mozart direkomendasikan menjadi bagian dari edukasi keperawatan dan discharge planning, sehingga pasien dan keluarga dapat menerapkan manajemen nyeri nonfarmakologis secara mandiri selama masa pemulihan di Perawat Ruang Bedah berperan sebagai penanggung jawab utama dalam keberlanjutan program, khususnya dalam memberikan edukasi ulang kepada pasien pasca operasi laparatomi serta memantau penerapan terapi nonfarmakologis selama perawatan. Leaflet yang telah disusun dapat digunakan sebagai media edukasi standar yang diberikan kepada pasien menjelang kepulangan, serta ditempatkan di ruang perawatan sebagai bahan rujukan bagi pasien dan keluarga. Selain itu, direncanakan adanya jadwal edukasi singkat yang terintegrasi dengan kegiatan keperawatan rutin, terutama pada pasien pasca operasi laparatomi hari ke-2 hingga ke-4, yang difasilitasi oleh perawat ruangan. Dengan adanya integrasi ini, diharapkan terapi finger hold dan musik klasik Mozart dapat diterapkan secara konsisten sebagai intervensi nonfarmakologis pendamping terapi farmakologis dalam manajemen nyeri pasca operasi laparatomi, serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi pasien dan tenaga keperawatan. Tabel hasil skla nyeri peserta berdasarkan adalah sebagai berikut : Tabel 1. Skala Nyeri Pasien Pasca Operasi Laparatomi . = . Waktu Pengukuran Sebelum Intervensi (Pr. Kategori Skala Nyeri (NRS) Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Rentang Skor 1Ae3 Jumlah . Persentase (%) 4Ae6 7Ae10 ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 Sesudah Intervensi (Pos. Total Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri berat Total 1Ae3 4Ae6 7Ae10 Hasil dokumentasi kegiatan yang sudah dilakukan dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Diskusi Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa penerapan kombinasi teknik finger hold dan terapi musik klasik mozart memberikan dampak utama berupa penurunan skala nyeri pada pasien pasca operasi laparatomi. Berdasarkan pengukuran menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), terjadi pergeseran tingkat nyeri dari kategori sedangAeberat sebelum intervensi menjadi ringanAesedang setelah intervensi, serta tidak ditemukan lagi pasien dengan nyeri berat. Temuan ini menegaskan bahwa intervensi nonfarmakologis berbasis keperawatan dapat berperan sebagai terapi pendamping dalam manajemen nyeri pasca operasi. Tindakan pasca pembedahan sering menimbulkan masalah seperti proses inflamasi akut dan rasa sakit yang mengakibatkan pergerakan menjadi terbatas. Nyeri sehabis operasi bisa dipengaruhi oleh fisik, psikososial ataupun emosional, orang serta sosial budaya dan pengalaman di masa lalu. Nyeri ialah stressor yang bisa memunculkan ketegangan. Respon fisik terhadap nyeri meliputi perubahan keadaan umum, ekspresi wajah, detak jantung, pernapasan, postur tubuh dan suhu. Rasa sakit yang parah dapat menyebabkan syok dan gangguan kardiovaskular. Respon psikologis terhadap nyeri dapat memicu stres yang akan menekan sistem imun dan inflamasi sehingga dapat mencegah pemulihan (Kadri & Fitrianti, 2. Terapi musik juga dapat membuat seseorang yang kesakitan merasakan relaks. Musik memberi pengalihan dan mengikat opiat endogen di berbagai tempat di otak, termasuk sistem limbik dan Salah satu musik yang dapat meredakan nyeri yaitu musik Mozart klasik dengan ciri musik pelan membuat tubuh rileks (Rais & Alfiyanti, 2. Teknik relaksasi finger hold ialah salah satu cara untuk mengendalikan emosi dan mengembangkan kecerdasan emosional. Pada bagian jari ada saluran energi atau ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 meridian yang tersambung ke bermacam organ dan emosi. Relaksasi alami memicu pelepasan endorfin, atau hormon pereda nyeri alami, dari tubuh, sehingga meredakan nyeri (Wati & Ernawati, 2. Terapi musik juga dapat membuat seseorang yang kesakitan merasakan relaks. Musik memberi pengalihan dan mengikat opiat endogen di berbagai tempat di otak, termasuk sistem limbik dan hipotalamus. Salah satu musik yang dapat meredakan nyeri yaitu musik Mozart klasik dengan ciri musik pelan membuat tubuh rileks (Rais & Alfiyanti, 2. Keuntungan dari kombinasi dua terapi ini musik klasik sebagai teknik distraksi membantu menurunkan presepsi nyeri melalui aktivas sistem saraf otonom dan limbik saat mendengarkan musik memicu perasaan tenang. Saat seseorang mengalami stres, mendengarkan musik akan mengaktivasi sistem saraf otonom dan limbik, yang kemudian memicu pelepasan zat kimia yang berkaitan dengan perasaan senang dan Dengan menggabungkan rangsangan fisik melalui teknik Finger Hold dan relaksasi mental melalui terapi musik, terapi kombinasi terbukti mampu meningkatkan kenyamanan pasien serta menurunkan nyeri secara efektif. Pendekatan ini memberikan efek yang lebih menyeluruh, karena tidak hanya menurunkan intensitas nyeri, tetapi juga meredakan kecemasan yang kerap menyertai kondisi post operasi akibat nyeri yang dirasakan pada setiap pasien (Widyani & Siregar, 2. Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini memperkuat bahwa kombinasi teknik finger hold dan terapi musik klasik Mozart merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif, aman, dan mudah diterapkan dalam membantu menurunkan nyeri pasca operasi Integrasi intervensi ini ke dalam asuhan keperawatan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengelolaan nyeri dan kenyamanan pasien selama masa Kesimpulan dan Saran Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan kombinasi teknik finger hold dan terapi musik klasik mozart pada pasien pasca operasi laparatomi menunjukkan adanya penurunan skala nyeri berdasarkan pengukuran menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Sebelum intervensi, sebagian besar pasien berada pada kategori nyeri sedang hingga berat, sedangkan setelah intervensi terjadi pergeseran skala nyeri menjadi kategori ringan hingga sedang, serta tidak ditemukan lagi pasien dengan nyeri berat. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi teknik finger hold dan terapi musik klasik mozart merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif, aman, dan mudah diterapkan sebagai terapi pendamping dalam manajemen nyeri pasca operasi laparatomi. Berdasarkan hasil tersebut, penerapan kombinasi teknik finger hold dan terapi musik klasik mozart disarankan untuk diintegrasikan ke dalam asuhan keperawatan pasca operasi, khususnya sebagai intervensi nonfarmakologis pendamping terapi farmakologis pada pasien dengan nyeri sedang hingga berat. Pelayanan keperawatan di rumah sakit juga disarankan untuk menyediakan panduan atau leaflet sebagai media edukasi dan pendukung penerapan terapi secara konsisten oleh perawat dan pasien. Selain itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat selanjutnya disarankan untuk ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/w0z2n376 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 124 Ae 134 melibatkan jumlah peserta yang lebih besar serta melakukan pemantauan skala nyeri secara berulang pada beberapa waktu pengukuran pasca intervensi guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai efektivitas dan keberlanjutan penurunan nyeri melalui intervensi ini. Ucapan Terimakasih